Tidak ada seorang pun yang bisa memilih
ingin terlahir sebagai bangsa atau etnis tertentu. Hal tersebut adalah hak
preogratif Sang Pencipta. Sang Pencipta-lah yang menentukan Si Fulan terlahir
menjadi bangsa Indonesia, Malaysia, Tiongkok, Amerika, Palestina dan
sebagainya. Semua itu adalah ketetapan Allah SWT yang tidak bisa ditawar.
Tetapi, memilih dan mempertahankan Aqidah adalah pilihan. Allah membebaskan manusia untuk
memilih antara keimanan dan kekafiran. Karena itulah, Allah SWT tidak akan
menghisab apa bangsa dan etnis kita, namun Allah SWT pasti akan menghisab
sejauh mana bela dan keteguhan kita memegang keimanan.
Keyakinan itulah yang pasti
tertanam di benak saudara-saudara kita yang berasal dari etnis Rohingya. Mereka
lebih baik wafat dalam keislaman, dari pada menukar keyakinannya dengan sebuah
kenyamanan semu. Mereka lebih memilih terkatung-katung di lautan, mengadu
nasib, serta meninggalkan tanah kelahirannya, daripada hidup di bawah
bayang-bayang rezim bengis dan ancaman para ekstrimis Budha radikalis.
Muslim Rohingya yang tetap
bertahan di Rakhine, terus mendapat tekanan, teror, ancaman dan ketidakadilan
di berbagai bidang kehidupan. Adapun yang pergi, mereka harus menaklukkan ganasnya
ombaklautan lepas. Di antara mereka, ada yang sampai ke daratan, ada pula yang
hilang di lautan. Sebagaimana dilaporkan Reuter.com (15/11), sebanyak 12.000
muslim Rohingya telah meninggalkan Rakhine menuju Malaysia sejak Oktober yang
lalu.
Keluar dari mulut harimau masuk
mulut buaya. Itulah yang menimpa saudara muslim Rohingya. Ribuan hilang di
lautan, tak ada yang peduli karena mereka dianggap etnis stateless
(tidak memiliki kewarganegaraan). Beberapa orang yang sampai ke daratan pun
malah menjadi korban human traficking di Thailand dan
Malaysia. Penemuan kuburan massal di hutan Perlis merupakan salah satu
buktinya. Kaum Perempuan
dan anak-anak Rohingya melarikan diri dari penampungan yang ada di Thailand.
Dikarenakan kamp-kamp pengungsian telah melebihi kapasitas, bahkan kondisinya
lebih mengerikan dibandingkan dengan penjara Thailand. Dikabarkan, mereka tidak
mungkin mampu melarikan diri tanpa bantuan para pelaku perdagangan manusia.
Sehingga, mereka
pun akhirnya menjadi
mangsa sindikat perdagangan manusia.
Bukannya tergerak hati untuk membantu mereka yang masih selamat. Para penguasa negara ASEAN malah ramai-ramai menolak kedatangan manusia perahu Rohingya, yang tiada lain adalah saudara muslim Rohingya. Padahal di antara mereka adalah para perempuan dan anak-anak. Sungguh sangat tidak manusiawi.
Penguasa muslim Indonesia dan Malaysia menolak dan akan mengusir kapal-kapal yang bermuatan migran, angkatan lautnya pun telah disiapkan untuk mencegahnya. Bahkan, para nelayan Indonesia diperingatkan untuk tidak melakukan penyelamatan lagi. Terkecuali, mereka yang terapung bebas di lautan dan tidak ada kapalnya ( bbc.co.uk, 18/5/2015). Padahal, jika kta berpikir normal, untuk orang yang sudah terlatih saja, berapa jam ia bisa bertahan di lautan lepas tanpa perahu atau kapal? Apalagi untuk para imigran Rohingya, termasuk kaum perempuan dan anak-anaknya, yang sudah dalam kondisi kelaparan, lelah dan dehidrasi. Sama saja dengan membiarkan mereka mati di lautan lepas. Sungguh pernyataan yang tidak berhati nurani.
Padahal Allah SWT menegaskan bahwa “Innama al-mu’minuna ikhwatun” (Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara). (QS. Al Hujurat [49]:10). Kata al-mu’minuna ini tidak diikat dengan bangsa dan etnis tertentu. Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa persaudaraan yang dimaksud adalah dalam agama dan kehormatan dan bukan nasab (keturunan). Oleh karena itulah, beliau mengatakan bahwa saudara seagama itu lebih kokoh dibandingkan saudara senasab. Saudara senasab bisa terputus karena perbedaan agama, tetapi saudara seagama tidak akan terputus karena perbedaan nasab.
Islam pun telah mengikat ukhuwwah Islamiyyah dengan ikatan yang kokoh. Kaum mukmin diperintahkan supaya berpegangteguh kepada tali agama Allah secara berjamaah dan dilarang bercerai-berai. Bahkan Allah SWT mengingatkan bahwa Ia-lah yang telah melimpahkan nikmat persaudaraan kepada kaum mukmin. Karena sebelum memeluk Islam, manusia senantiasa bermusuhan dan saling berperang hanya karena egoisme kesukuan, laksana berada di tepi jurang neraka. Allah SWT–lah yang telah menyelamatkan dan mempersaudarakannya dengan Islam(lih. Q.S. Ali Imran[3] : 103). Oleh karena itu, persaudaraan Islam, sungguh merupakan nikmat yang besar. Sangat disayangkan bila kaum muslim malah merobek kembali persaudaraan yang mulia tersebut hanya karena perbedaan bangsa dan etnis semata.
Nu’man bin Basyir mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Perumpamaan orang-orang yang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai dan mengasihi di antara mereka adalah bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (Muttafaqun ‘Alaih). Persaudaraan yang sangat kokoh dan indah.
Tetapi persaudaraan yang kokoh dan indah itu kini tercabik. Kaum muslim seakan kembali tersekat-sekat dalam keangkuhan egoisme kebangsaan. Mereka kini tak peduli terhadap nasib saudaranya, hanya karena mereka tidak satu etnis dan bangsa. Nasionalisme telah ‘membunuh’ persaudaraan Islam yang hakiki. Kaum muslim tercegah membantu saudara seiman, hanya karena sekat batas-batas geografis semu.
Padahal selama kita membutuhkan pertolongan Allah SWT, semestinya kita pun menolong saudara sesama muslim. Karena Rasulullah SAW mengingatkan. “Siapa saja yang meringankan beban seorang Mukmin di dunia, Allah pasti akan meringankan bebannya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, Allah pasti akan memberi dia kemudahan di dunia dan akhirat...” (HR Muslim dan at-Tirmidizi).Kaum muslim Rohingya telah memilih Islam, mereka rela menderita demi membela keyakinannya. Tugas kita sebagai saudara adalah membantunya sepenuh hati dan kemampuan.
Ada dua hal yang bisa kita lakukan. Yang Pertama, pemerintah RI harus mengutuk keras tindakan teror terhadap kaum muslim Rohingya dan mendesak pemerintah Burma untuk menghentikannya. Seraya terus melakukan aksi solidaritas untuk membantu para pengungsi dan menyelamatkan yang masih terkatung-katung di lautan lepas.
Adapun yang kedua, teror terhadap kaum muslim adalah kejadian yang terus berulang. Rohingya hanyalah salah satunya. Oleh karena itu, kaum muslim harus membangun sistem kehidupan yang menjamin ukhuwwah Islamiyyah yang hakiki. Sistem kehidupan yang telah mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar. Sistem kehidupan yang telah menyatukan antara Arab dan non Arab. Sistem kehidupan yang telah mempersaudarakan ribuan etnis selama lebih dari 13 abad. Itulah sistem kehidupan Islam, yang terwujud dalam penerapan syariah Islam secara kaffah oleh seorang khalifah.
(Husnul Aini, ST.)
(sumber : Kabar Priangan (Jumat, 29 Mei 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar