Kiprah Nyata Persatuan Islam
(Persis)
Ketika tulisan ini sampai kepada para pembaca. Penulis
berharap, Muktamar XV Persatuan Islam (Persis) berlangsung dengan sukses,
menghasilkan para pemimpin terbaik serta berbagai keputusan terbaik yang
bermanfaat untuk umat. Teriring do'a, semoga seluruh pengorbanan terbaik,
berupa harta, tenaga serta waktu, dibalas setimpal oleh Allah dengan
sebaik-baiknya balasan. Aamiin.
Penulis tergugah untuk
menyusun tulisan ini setelah membaca sebuah tulisan di SKH Pikiran Rakyat
(20/11/2015). Tulisan tersebut berjudul "Kiprah Persis Harus Lebih
Nyata". Mengapa judul tersebut cenderung menarik? Karena kebiasaan kita saat
ini, ketika menggunakan istilah nyata, selalu terfokus pada materi yang terukur
dengan rupiah semata. Padahal, tidaklah selalu demikian adanya.
Alhamdulillah, penulis banyak
belajar ilmu dan tsaqofah Islamiyyah di Mts Persis Cempakawarna Kota
Tasikmalaya. Nyata tidaklah mesti hanya terukur dengan hitung-hitungan rupiah,
tetapi ilmu dan pemahaman itu jauh lebih nyata dari itu. Misal, uang 1 milyar
nyata, tetapi apalah artinya jika dipegang oleh orang yang jahil dalam agama?
Negara Indonesia yang kaya raya sumber daya alam merupakan materi yang nyata,
tetapi apalah artinya jika diatur oleh orang-orang yang berpemahaman bahwa
hukum buatan manusia itulah yang terbaik? Kiprah nyata semua pesantren pada
umumnya, termasuk pesantren Persis, telah terbukti sebagai penjaga kelestarian
ilmu dan tsaqofah islamiyyah.
Selama di Ponpes Persis pula penulis memahami urgensi persatuan
kaum muslim seraya berpegang teguh kepada tali (agama) Allah (i’tishom bi hablillah).
Dari sanalah juga tumbuh keyakinan di hati ini akan niscayanya kebangkitan
Islam, sebagai janji Allah Swt yang tidak akan pernah meleset. Ilmu, tsaqofah
islamiyyah, urgensi persatuan kaum muslim serta keyakinan akan kebangkitan
Islam, semuanya tertanam kuat hingga kini.
Penulis sepakat dengan apa yang disampaikan oleh
Kepala Bidang SDM dan organisasi Persis Kabupaten Bandung, Ust. Erry Ridwan
Latief, yang disampaikan kepada Pikiran Rakyat (20/11/2015). Menurut beliau, keberadaan
Persis telah memberikan corak dan warna baru dalam pemikiran dan gerakan Islam
yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, dengan dukungan orang-orang yang
berjuang di jalan Allah demi tetap tegaknya Al Quran dan Assunnah. Beliau pun
menegaskan bahwa Persis harus serius membentuk kader-kader yang memiliki
kemampuan sebagai perekat umat Islam Indonesia, bahkan dunia, yang sedang
mengalami guncangan peradaban. Melahirkan kader yang tidak penakut dan tetap
istiqomah.
Saat ini Indonesia membutuhkan
Islam. Islam yang mampu menjawab berbagai tantangan jaman. Islam yang
diterapkan secara menyeluruh dalam berbagai bidang kehidupan. Itulah solusi
nyata terhadap persoalan negeri ini. Tentunya tiada yang lain, kecuali dengan
penerapan Al Quran dan Assunnah.
Solusi yang dibutuhkan bangsa ini bukanlah sekedar solusi yang
bersifat pragmatis. Kelesuan perekonomian rakyat, bukanlah sekedar karena lemahnya
skill dan permodalan. Tetapi justru lebih mendasar daripada itu, yakni
karena penerapan sistem ekonomi liberal yang kapitalistik. Sistem ekonomi makro
ciptaan para penjajah ini telah menjadikan sebagian manusia ‘memakan’ manusia
yang lain. Negara maju mengeksploitasi negara berkembang. Oleh karena itu, ketika
banyak kalangan berharap Persis semakin berkiprah di dunia pendidikan tinggi,
penulis berharap Persis mampu memperluas penanaman fiqih ekonomi Islam yang
sistemik dan komprehensif. Menanamkan keyakinan akan sistem ekonomi yang
bersumber dari Al Quran dan Assunnah, serta melakukan perang pemikiran terhadap
sistem ekonomi neoliberal.
Pertarungan antara al haq dan al bathil
semakin hari semakin kentara. Penjajahan Amerika Serikat (AS) semakin terlihat faktanya.
Untuk mempertahankan penjajahannya, selain melalui agresi militer, AS terus
menebar racun pemikiran liberalisme, sekulerisme, pluralisme, HAM, demokrasi,
sinkretisme dan isme-isme lainnya yang merusak aqidah umat Islam. Selain itu,
mereka pun merayu para pemikir muslim untuk mengadopsinya. Di sinilah munculnya
kader-kader muslim yang mukhlish dan istiqomah, sangat dibutuhkan. Karena, amal
seseorang tergantung pemikirannya. Jika pemikiran seorang muslim sudah terasuki
paham sekulerisme, penerapan hukum Al Quran dan Assunnah pun tidak akan lagi menjadi
prioritas amalnya. Di sinilah letak bahaya peracunan Barat (westoxication).
Penulis mengenal Persis tangguh dalam menjaga aqidah umat
Islam. Menjaga umat dari tersebarnya pemikiran takhayyul, bid’ah dan khurafat. Jaringan
pesantren yang sudah meng-Indonesia merupakan modal untuk mengcounter
pemikiran-pemikiran Barat.
Penulis pun berharap, Persis tidak
perlu risau bila ada anggapan bahwa Persis terlalu fiqih oriented. Hal itu
bukanlah sesuatu yang mutlak salah, justru yang kurang tepat adalah fakta
oriented. Dalam artian hanya mengikuti fakta, sedangkan fiqih untuk menilai dan
mengatur fakta diabaikan. Ketika banyak terjadi pergaulan bebas, orang yang
fakta oriented akan berkata, "ya gimana lagi, sekarang sudah jamannya
pergaulan bebas". Tetapi tidak begitu bagi orang yang fiqih oriented,
ia tetap akan menganggap bahwa pergaulan bebas itu haram, seraya terpacu untuk
terus berjuang mendakwahkan penerapan syariah Islam, sebagai satu-satunya
solusi yang bisa menghilangkan pergaulan bebas.
Inilah sedikit pengalaman, pandangan dan ekspektasi
penulis, sebagai orang yang merasakan langsung kiprah nyata Persis. Bila
ekspektasi penulis dianggap terlalu melangit, Bisa jadi karena kita terlalu
lama hidup dalam sistem buatan manusia bumi, yang rusak dan merusak. Sehingga, saatnya
mendorong masyarakat kembali kepada sistem Sang Pemilik bumi dan langit, yakni Syariah
Islam. Wallohu a’lamu bishshowwaab.
(Ary Herawan, alumni Mts Persis
Cempakawarna, lulusan tahun 1995)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar