Sabtu, 21 November 2015

KIPRAH NYATA PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

Kiprah Nyata Persatuan Islam (Persis)

Ketika tulisan ini sampai kepada para pembaca. Penulis berharap, Muktamar XV Persatuan Islam (Persis) berlangsung dengan sukses, menghasilkan para pemimpin terbaik serta berbagai keputusan terbaik yang bermanfaat untuk umat. Teriring do'a, semoga seluruh pengorbanan terbaik, berupa harta, tenaga serta waktu, dibalas setimpal oleh Allah dengan sebaik-baiknya balasan. Aamiin.
Penulis  tergugah untuk menyusun tulisan ini setelah membaca sebuah tulisan di SKH Pikiran Rakyat (20/11/2015). Tulisan tersebut berjudul "Kiprah Persis Harus Lebih Nyata". Mengapa judul tersebut cenderung menarik? Karena kebiasaan kita saat ini, ketika menggunakan istilah nyata, selalu terfokus pada materi yang terukur dengan rupiah semata. Padahal, tidaklah selalu demikian adanya.
Alhamdulillah, penulis banyak belajar ilmu dan tsaqofah Islamiyyah di Mts Persis Cempakawarna Kota Tasikmalaya. Nyata tidaklah mesti hanya terukur dengan hitung-hitungan rupiah, tetapi ilmu dan pemahaman itu jauh lebih nyata dari itu. Misal, uang 1 milyar nyata, tetapi apalah artinya jika dipegang oleh orang yang jahil dalam agama? Negara Indonesia yang kaya raya sumber daya alam merupakan materi yang nyata, tetapi apalah artinya jika diatur oleh orang-orang yang berpemahaman bahwa hukum buatan manusia itulah yang terbaik? Kiprah nyata semua pesantren pada umumnya, termasuk pesantren Persis, telah terbukti sebagai penjaga kelestarian ilmu dan tsaqofah islamiyyah.
Selama di Ponpes Persis pula penulis memahami urgensi persatuan kaum muslim seraya berpegang teguh kepada tali (agama) Allah (i’tishom bi hablillah). Dari sanalah juga tumbuh keyakinan di hati ini akan niscayanya kebangkitan Islam, sebagai janji Allah Swt yang tidak akan pernah meleset. Ilmu, tsaqofah islamiyyah, urgensi persatuan kaum muslim serta keyakinan akan kebangkitan Islam, semuanya tertanam kuat hingga kini.
Penulis sepakat dengan apa  yang disampaikan oleh Kepala Bidang SDM dan organisasi Persis Kabupaten Bandung, Ust. Erry Ridwan Latief, yang disampaikan kepada Pikiran Rakyat (20/11/2015). Menurut beliau, keberadaan Persis telah memberikan corak dan warna baru dalam pemikiran dan gerakan Islam yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, dengan dukungan orang-orang yang berjuang di jalan Allah demi tetap tegaknya Al Quran dan Assunnah. Beliau pun menegaskan bahwa Persis harus serius membentuk kader-kader yang memiliki kemampuan sebagai perekat umat Islam Indonesia, bahkan dunia, yang sedang mengalami guncangan peradaban. Melahirkan kader yang tidak penakut dan tetap istiqomah.
Saat ini Indonesia membutuhkan Islam. Islam yang mampu menjawab berbagai tantangan jaman. Islam yang diterapkan secara menyeluruh dalam berbagai bidang kehidupan. Itulah solusi nyata terhadap persoalan negeri ini. Tentunya tiada yang lain, kecuali dengan penerapan Al Quran dan Assunnah.
Solusi yang dibutuhkan bangsa ini bukanlah sekedar solusi yang bersifat pragmatis. Kelesuan perekonomian rakyat, bukanlah sekedar karena lemahnya skill dan permodalan. Tetapi justru lebih mendasar daripada itu, yakni karena penerapan sistem ekonomi liberal yang kapitalistik. Sistem ekonomi makro ciptaan para penjajah ini telah menjadikan sebagian manusia ‘memakan’ manusia yang lain. Negara maju mengeksploitasi negara berkembang. Oleh karena itu, ketika banyak kalangan berharap Persis semakin berkiprah di dunia pendidikan tinggi, penulis berharap Persis mampu memperluas penanaman fiqih ekonomi Islam yang sistemik dan komprehensif. Menanamkan keyakinan akan sistem ekonomi yang bersumber dari Al Quran dan Assunnah, serta melakukan perang pemikiran terhadap sistem ekonomi neoliberal.
Pertarungan antara al haq dan al bathil semakin hari semakin kentara. Penjajahan Amerika Serikat (AS) semakin terlihat faktanya. Untuk mempertahankan penjajahannya, selain melalui agresi militer, AS terus menebar racun pemikiran liberalisme, sekulerisme, pluralisme, HAM, demokrasi, sinkretisme dan isme-isme lainnya yang merusak aqidah umat Islam. Selain itu, mereka pun merayu para pemikir muslim untuk mengadopsinya. Di sinilah munculnya kader-kader muslim yang mukhlish dan istiqomah, sangat dibutuhkan. Karena, amal seseorang tergantung pemikirannya. Jika pemikiran seorang muslim sudah terasuki paham sekulerisme, penerapan hukum Al Quran dan Assunnah pun tidak akan lagi menjadi prioritas amalnya. Di sinilah letak bahaya peracunan Barat (westoxication).
Penulis mengenal Persis tangguh dalam menjaga aqidah umat Islam. Menjaga umat dari tersebarnya pemikiran takhayyul, bid’ah dan khurafat. Jaringan pesantren yang sudah meng-Indonesia merupakan modal untuk mengcounter pemikiran-pemikiran Barat.  
Penulis pun berharap, Persis tidak perlu risau bila ada anggapan bahwa Persis terlalu fiqih oriented. Hal itu bukanlah sesuatu yang mutlak salah, justru yang kurang tepat adalah fakta oriented. Dalam artian hanya mengikuti fakta, sedangkan fiqih untuk menilai dan mengatur fakta diabaikan. Ketika banyak terjadi pergaulan bebas, orang yang fakta oriented akan berkata, "ya gimana lagi, sekarang sudah jamannya pergaulan bebas". Tetapi tidak begitu bagi orang yang fiqih oriented, ia tetap akan menganggap bahwa pergaulan bebas itu haram, seraya terpacu untuk terus berjuang mendakwahkan penerapan syariah Islam, sebagai satu-satunya solusi yang bisa menghilangkan pergaulan bebas.
Inilah sedikit pengalaman, pandangan dan ekspektasi penulis, sebagai orang yang merasakan langsung kiprah nyata Persis. Bila ekspektasi penulis dianggap terlalu melangit, Bisa jadi karena kita terlalu lama hidup dalam sistem buatan manusia bumi, yang rusak dan merusak. Sehingga, saatnya mendorong masyarakat kembali kepada sistem Sang Pemilik bumi dan langit, yakni Syariah Islam. Wallohu a’lamu bishshowwaab. 

(Ary Herawan, alumni Mts Persis Cempakawarna, lulusan tahun 1995)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar