Satu hal yang pasti, bahwa setiap perbuatan memiliki nilai tertentu yang ingin dicapai oleh seseorang, tatkala ia melakukan suatu perbuatan, sebab kalau tidak, tentu perbuatannya akan sia-sia.
Nilai suatu perbuatan ada yang bersifat materi, semisal perdagangan. Maksud dari perbuatan ini adalah mendapatkan materi berupa keuntungan. Ada juga nilai yang bersifat kemanusiaan, semisal menolong orang tenggelam. Dalam hal ini, yang menjadi tujuan adalah menyelamatkan orang tanpa melihat suku, ras dan agamanya. Ada juga nilai yang bersifat moral, semisal jujur, amanah dan sebagainya. Tujuannya adalah memperoleh aspek moralitas semata dan tanpa memperhitungkan keuntungan materi. Ada juga yang bersifat ruhiyah, semisal ibadah. Dalam hal ini, ibadah ditujukan semata hanya untuk beribadah. Kegiatan ibadah tidak dimaksudkan untuk mendapatkan nilai materi, kemanusiaan maupun moral. Karena itulah mesti dijaga pencapaian nilai ruhiyahnya.
Islam membolehkan peraihan keempat nilai perbuatan tersebut oleh manusia. Tentunya dengan catatan peraihan semua nilai tersebut harus sesuai perintah dan larangan Allah Swt.
Namun dalam dunia yang serba materialistis seperti saat ini, tak jarang terjadi disorientasi nilai. Karena semua perbuatan seringkali diukur dengan materi. Misal, didorong jujur supaya sukses berdagang. Banyak menolong supaya sukses berbisnis bahkan beribadah pun ditujukan supaya harta berlimpah. Mengapa semua ujungnya menjadi materi. Tersebab mindset hidup yang dibentuk pandangan hidup sekulerisme adalah hidup ini hanya untuk mencari materi, tak lebih dari itu.
Mari kita simak kisah berikut, bagaimana seorang shahabat menjaga pencapaian nilai ruhiyah dalam perbuatannya.
Sesaat setelah diangkat menjadi khalifah, Umar bin Al Khaththab mengangkat Sa'id bin Amir menjadi Gubenur Syam yang berpusat di Hims. Meskipun pada awalnya menolak, Sa'id akhirnya menerima juga penugasan tersebut.
Sa'id berangkat ke Hims bersama istrinya. Keduanya masih pengantin baru. Istrinya merupakan wanita yang sangat cantik.
Amirul Mukminin membekali mereka dengan harta yang cukup. Ketika keduanya sudah nyaman di Hims, istrinya hendak menggunakan harta tersebut untuk membeli pakaian yang layak, perlengkapan rumah tangga serta menyimpan sisanya.
Mengetahui maksud istrinya, Sa'id berkata, "Maukah kamu aku tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita sekarang berada di negeri yang amat pesat perdagangannya, pasarnya sangat ramai. Harta itu lebih baik kita serahkan kepada seseorang untuk dijadikan modal dagang sehingga harta kita berkembang."
Sang istri bertanya, "Bagaimana jika rugi?"
Sa'id menjawab, "Aku akan sediakan jaminan."
Akhirnya Sang istri pun menyetujui rencana Sa'id. Kemudian Sa'id pergi membeli sebagian keperluan hidup yang bersahaja lalu uang lainnya dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan.
Hari terus berlalu, Sang istri pun selalu menanyakan perdagangan mereka serta keuntungannya. Sa'id menjawab dengan mantap, "Bisnisnya lancar dan keuntungannya terus meningkat."
Suatu saat, Sang istri menanyakan tentang harta tersebut kepada orang lain yang mengetahui kejadian sebenarnya. Orang itu pun tertawa sehingga membuat istri Sa'id curiga. Ia pun menanyakan perihal tersebut kepada suaminya.
Sa'id menjawab, "Semua harta kita aku sedekahkan."
Sang istri langsung menangis dan merasa menyesal karena tidak jadi membeli keperluannya. Sa'id memandangi istrinya yang sedang menangis, butiran air mata yang menetes semakin memesonakan kecantikannya.
Sa'id lalu berkata, "Dinda, kau kan tahu bahwa di Surga terdapat bidadari-bidadari cantik yang bermata jeli. Andai saja satu dari mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang benderanglah seluruh bumi. Cahayanya mengalahkan sinar matahari dan bulan. Mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih utama daripada mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu."
Pembicaraan pun berakhir seperti seolah tak terjadi apa-apa. Tenang, penuh senyum dan kerelaan.
Beginilah salah satu upaya salah seorang shahabat Rasulullah Saw, yang bernama Sa'id bin Amir, dalam menjaga nilai ruhiyah sedekahnya. Ia bandingkan hasilnya dengan pahala, bukan sekedar hitung-hitungan matematis dunia semata.
Bukan berarti nilai materi tak boleh diraih, tetapi raihlah nilai materi pada perbuatan yang memang ditujukan untuk meraihnya. Sedangkan pada perbuatan yang ditujukan untuk meraih nilai ruhiyah, maka mari istiqomah pada nilai ruhiyah. Supaya hati senantiasa terjaga dari disorientasi nilai dalam aktifitas ibadah.
Semoga kita diberi kemudahan dalam meraih nilai-nilai dalam setiap perbuatan kita. Aamiin.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)
Sumber bacaan:
1) Mafahim Islamiyyah, KH. Hafidz Abdurrahman, M.A.
2) Rijal haula Rasul, Khalid Muhammad Khalid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar