Jumat, 03 Agustus 2018

Pisahkan Agama dan Politik

Dalam pandangan sekulerisme, pemisahan agama dan politik merupakan suatu hal yang mutlak. Tak ada tawar menawar lagi, politik harus dibebaskan dari agama. Hal ini disebabkan karena dalam pandangan sekulerisme, politik merupakan perkara dunia. Sedangkan agama merupakan perkara langit.

Mereka beranggapan bahwa ketika perkara dunia memakai doktrin-doktrin agama, maka peracunan pemikiran akan memenuhi benak kaum miskin yang tereksploitasi oleh penguasa dan kaum kaya. Di satu sisi menaati para penguasa akan dianggap sebagai penghambaan terhadap Tuhan. Sedangkan di sisi yang lain mereka diupah dengan 'janji-janji surga' untuk bertahan dari kezaliman penguasa. Sebagaimana yang terjadi pada era kegelapan Eropa.

Trauma historis akan dark age ini sulit dilupakan. Karena sudah mendarah daging menjadi sebuah ideologi tersendiri, yakni sekulerisme. Bahkan ia meng-gebyah uyah semua agama, termasuk ketika mereka memperlakukan agama Islam.

Hanya saja ketika pemikiran sekulerisme ini masuk ke tubuh umat Islam. Banyak perkara yang akhirnya menjadi polemik. Hal ini karena terjaganya Al Quran Al Karim. Meskipun sekulerisme mendera berkali-kali bahkan mengungkung kehidupan kaum muslim, kesempurnaan ajaran Islam tetap tak bisa disembunyikan.

Memang sebagian kaum muslim ada yang memilih dan memilah dalam menyampaikan isi Al Quran, namun berbagai hal mengenai perkara politik di dalamnya tetap akan terbaca. Apalagi Assunnah serta berbagai penjelasan para ulama salaf terhadap Al Quran dan Assunnah pun tetap tertelusur secara keilmuan. Hal ini semakin menyulitkan kaum sekuler untuk menghapus pemikiran politik Islam dari benak kaum muslim.

Bukan sekulerisme namanya kalau tak lihai berkompromi. Bahkan kompromilah yang membuat ideologi ini bertahan lebih lama dibandingkan ideologi komunisme. Selain dibaca sebagai ancaman, sekulerisme membaca semangat Islam politik sebagai peluang. Tentu dengan catatan yang sangat tebal, yakni jangan sampai Islam politik menggugat sekulerisme.

Oleh karena itulah, tidak aneh jika pada satu kesempatan kaum sekuler sering menyerukan pemisahan Islam dan politik. Tetapi pada kesempatan yang lain mereka memanfaatkan semangat Islam politik untuk mempertahankan eksistensinya.

Doktrin ibadah, kesabaran, ketaatan kepada ulil amri seringkali dijadikan sebagai senjata supaya kaum muslim tetap berpegang teguh pada suatu tatanan kehidupan yang sebenarnya mengabaikan penerapan hukum Allah Ta'ala. Ujung-ujungnya tidak sedikit tokoh agama yang  tersedot ke dalam pusaran kekuasaan.

Melihat kondisi masyarakat yang semakin terpuruk meskipun dengan kehadiran para ahli agama dalam kekuasaan, kaum muslim makin apriori. "Tuh kan, kalau agama sudah dibawa ke dalam politik pasti bermasalah!" Semisal kalimat seperti itulah yang seringkali didengar kini. Akhirnya, kaum sekuler pun kembali mengambil keuntungan. Mereka makin aktif untuk mempropagandakan pemisahan agama dan politik.

Padahal Islam politik yang sebenarnya adalah mengatur berbagai sendi kehidupan dengan aturan Islam (Al Quran dan Assunnah). Yang menjadi masalah saat ini, sudahkah para ahli agama yang masuk ke dalam kekuasaan itu menerapkan aturan Islam secara paripurna? Jika belum, jangan salahkan Islam politik karena yang menjadi masalah bukanlah pemikiran Islamnya. Tetapi kita sebagai umat Islam yang belum mampu meyakinkan masyarakat akan Islam politik yang sebenarnya. Wallahu a'lamu bishshawwab.

(AryhMN - Pengelola FP Mudah Nulis)

#Islam #Politik #Ulama #Politisi #Sekulerisme

Tidak ada komentar:

Posting Komentar