Sabtu, 11 Februari 2017

Vazal

sumber gambar : hr[dot]wikipedia[dot]org

Istilah vazal dituliskan oleh Buya Hamka di lembaran terakhir buku Sejarah Umat Islam jilid IV (1951). Pada bagian penutup, Buya menyampaikan bahwa dengan gagah dan gigih, dalam rentang 100 tahun, bangsa Belanda yang kecil dapat memancangkan kekuatannya di Nusantara. Kerajaan-kerajaan besar Nusantara, seperti Mataram, Banten, Cirebon, Maluku dan Sulawesi dapat dikalahkan dan berangsur-angsur menjadi vazal, yang naik karena dinaikkan Belanda dan hidup karena dihidupi Belanda.1)
Vazal (Slovak); Vazal merupakan sinonim leenman (Belanda), vassal (Inggris) semuanya bermakna pengikut (Indonesia). Dalam KBBI, vasal dimaknai 1. bersifat terikat; dan 2. negara (daerah) taklukan.2) Vasal adalah seseorang yang menjalin hubungan dengan monarki yang berkuasa –biasanya dalam bentuk dukungan militer, perlindungan bersama (mutual protection) atau pembayaran upeti, serta menerima jaminan dan imbalan tertentu sebagai gantinya.3) Adapun negara vasal adalah negara yang sepenuhnya berada di bawah kekuasaan negara lain secara internasional. Jika negara vasal diserang negara lain, maka negara pelindung akan membantu negara vazal tersebut. Saat ini, istilah yang lebih umum adalah negara boneka, protektorat atau negara asosiasi.4)
Dalam sejarah feodalisme Eropa, vazal merupakan sebutan terhadap bangsawan yang memiliki posisi lebih rendah daripada bangsawan penguasa. Para vazal diwajibkan menyetor upeti kepada bangsawan penguasa, yang mereka tarik dari rakyat melalui para anak buahnya.5) Terbentuklah piramida hierarki kekuasaan yang meletakkan rakyat dalam posisi terbawah. Rakyat mesti menanggung beban dan menjadi bahan eksploitasi manusia lain yang berada di atasnya. Mereka diperas tenaganya, hartanya, sumber daya alamnya, hanya untuk memenuhi pundi-pundi kekayaan kaum bangsawan penguasa.
Sejarah seolah berulang. Selama manusia mengatur diri mereka sendiri, selama itu pula penjajahan akan terus berlangsung. Dengan kekuatan modal dan kekuasaannya, segelintir manusia menindas mayoritas manusia lainnya.
Pakar Ekonomi Islam, Dwi Condro, dalam tulisan “Jurus-jurus Kapitalisme Menguasai Dunia” (2012) menjelaskan bahwa perbankan dan saham dijadikan sebagai ‘mesin penyedot uang’ para pengusaha besar. Kemudian dengan modal perbankan dan saham tersebut, para kapitalis menguasai usaha dari hulu hingga ke hilir. Perusahaan-perusahaan kecil pun  lama-kelamaan akan gulung tikar. Tak hanya sampai di sana, para kapitalis pun mencaplok BUMN. Mereka memuluskan langkahnya dengan berlomba-lomba menjadi penguasa. Selanjutnya, mereka melebarkan sayap usahanya ke negara-negara miskin. 6)
Masih menurut Dwi Condro, para kapitalis mendirikan Multi National Corporation untuk mengeruk sumber daya alam negara-negara miskin. Supaya sumber daya alam bisa dibeli dengan murah, kurs mata uang negara jarahan pun dijatuhkan. Liberalisasi pendidikan dijalankan sehingga banyak siswa yang tak bisa melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Sekolah kejuruan pun diperbanyak, tujuannya supaya banyak orang yang memiliki keahlian dan bisa dibayar dengan upah yang lebih murah. Selanjutnya, untuk menjaga daya beli masyarakat, para kapitalis dunia mengembangkan Non Goverment Organization (NGO) atau LSM untuk membina masyarakat negara-negara miskin. Mereka dibina agar bisa mengembangkan industri-industri kecil (rumahan) sehingga masih dapat memiliki penghasilan. Jika krisis ekonomi melanda, para kapitalis memaksa pemerintah untuk mengucurkan dana talangan (bail out) yang bersumber dari pajak rakyat. Begitulah jurus-jurus kapitalisme untuk  menguasai dunia. 7)
Bagaimanakah para kapitalis dunia memuluskan semua jurus tersebut? di sinilah peran para vazal diperlukan. Vazal yang naik karena dinaikkan para kapitalis dan hidup karena dihidupi para kapitalis. Jika dulu penjajahan dilakukan oleh kerajaan Belanda, kini dilanjutkan oleh AS dan sekutunya. Jika dulu AS tanpa saingan, kini Tiongkok mulai menyainginya. Namun tetap saja, mereka membutuhkan para vazal. Vazal-vazal tumbuh bermunculan, dari satu tuan menjadi tuan yang lain serta dari satu pemeran berganti menjadi pemeran yang lain. Wallahu a’lamu bishshowwaab.

Daftar pustaka :  
  1. Sejarah Umat Islam, Hamka.
  2. http://kbbi.web.id/vasal
  3. wikipedia[dot]org
  4. Idem
  5. www.serbasejarah.wordpress[dot]com. Dalam tulisan berjudul “Feodalisme ; Jurus Ampuh Kolonialisasi Hindia Belanda.”
  6. Jurnal Al Waie, Maret 2012.
  7. Idem

Tidak ada komentar:

Posting Komentar