Jumat, 21 Oktober 2016

Santri dan Islam, Tak Bisa Dipisahkan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, santri adalah orang yang mendalami agama Islam; 2 orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yg saleh.(1) Santri adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan Ilmu Agama Islam di suatu tempat yang dinamakan Pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. Menurut bahasa, istilah santri berasal dari bahasa Sanskerta, shastri yang memiliki akar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti kitab suci, agama dan pengetahuan. Ada pula yang mengatakan berasal dari kata cantrik yang berarti para pembantu begawan atau resi, seorang cantrik diberi upah berupa ilmu pengetahuan oleh begawan atau resi tersebut. Tidak jauh beda dengan seorang santri yang mengabdi di Pondok Pesantren, sebagai konsekuensinya ketua Pondok Pesantren memberikan tunjangan kepada santri tersebut.(2)

Dari pemaknaan tersebut, jelaslah bahwa santri tak bisa dilepaskan dari Islam. Kemuliaan seorang santri, bukan sekedar pada status dan keilmuannya, namun ada pada Islamnya. Sehingga kebanggaan menjadi santri, sejatinya adalah karena kebanggaan menjadi muslim. Jika tidak demikian -na'udzubillahi min dzalik- maka hilanglah kemuliaan santri.

Apalagi jika merujuk kepada sejarah, penentuan hari Santri merujuk pada seruan Jihad yang dikumandangkan oleh Syaikh Hasyim Asy'ari. Pembelaan terhadap negeri yang dilandasi perintah Allah Swt. Sehingga, lebih baik mulia dalam syahadah daripada hidup 'aman sentosa' tetapi di bawah ketiak para penjajah.

Kecintaan terhadap Allah Swt, Rasul-Nya dan Islamlah yang mendorong kaum para syuhada berjihad membela negeri ini. Semata-mata karena Allah Swt yang menetapkan perintah Jihad. Bukan semata-mata dorongan semangat hidup semata. Sebagaimana yang dikatakan Khalid bin Walid r.a. kepada komandan Persia bahwa kalian akan menghadapi pasukan yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan. Inilah kemuliaan yang diberikan oleh Allah Swt kepada kaum muslim yang berjihad membela negerinya, satu di antara dua kemuliaan, yaitu terusirnya penjajah atau menjemput syahadah.

Saat ini, penjajahan terhadap negeri ini masih berlangsung. Penjajahan yang berlaku saat ini adalah penjajahan non militer. Penjajahan ideologi kapitalisme terhadap negeri-negeri Islam. Penjajahan kapitalisme dilakukan secara pemikiran dan penerapan perundang-undangan. Oleh karena itu, perjuangan melawan penjajahan masih terus berlanjut sampai sistem kapitalisme sekuler hengkang dari negeri ini.

Pembelaan para pendahulu terhadap negeri ini adalah menjaga seluruh potensi dan kekayaan negeri dari jarahan asing. Oleh karena itu, aktualisasi cinta negeri para santri sejatinya bukanlah mempertahankan sekulerisme, tetapi mendorong negeri ini berubah ke arah Islam. Karena hanya Islamlah yang bisa menyelamatkan potensi dan kekayaan negeri ini. Sekulerisme hanya akan membuat negeri ini semakin terpuruk. Tax amnesty, asuransi berkedok jaminan kesehatan, utang luar negeri yang membengkak, kerusakan lingkungan, penguasaan swasta atas 95% hutan Indonesia, semua itu adalah bagian dari penjajahan ala kapitalisme sekuler. Hal ini belum termasuk kerusakan moral, sosial, budaya dan pendidikan. Karena semuanya diarahkan pada peraihan nilai materi semata, bukan ke arah pembentukan ketaqwaan. Sehingga, tiada yang diharapkan selain Islam. Sebagaimana firman Allah Swt :

"Dan barangsiapa yang berharap kepada selain Islam sebagai diin, maka tidak akan diterima darinya. Dan dia di  Akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (TQS. Ali Imran[3] : 85)

Sekulerisme yang diterapkan di negeri ini telah membiarkan orang kafir menjadi pemimpin atas kaum mukmin. Padahal Allah Swt mengharamkannya.  Bahkan, tatkala Al Quran dihina pun, hukum yang ada pun kentara sekali tak berpihak terhadap Islam.

Jika dahulu para ulama dan santri mengemban kemuliaan dengan mengumandangkan seruan jihad mengusir penjajah Belanda, maka saat ini pun kita masih bisa mengemban keutamaan yang setara. Yakni, menyerukan kebenaran Islam kepada para penguasa negeri yang lebih condong kepada penjajah asing. Bukankah Rasulullah Saw bersabda:

"Seutama-utamanya jihad adalah kalimat yang haq di hadapan pemimpin yang jahat." (THR. Abu Dawud)

Inilah jihad kaum santri saat ini, berdakwah untuk menjaga pemikiran Islam serta menjadi katalisator perubahan masyarakat ke arah Islam.

Perubahan ke arah Islam yang dimaksud tiada lain adalah perubahan ke arah penerapan Syariah Islam secara menyeluruh. Sebagaimana yang dirintis oleh Rasulullah Saw di Makkah hingga Islam diterapkan di Madinah, kemudian dilanjutkan oleh para khalifah. Meskipun dilakukan secara pemikiran, tetapi Rasulullah Saw dan para shahabat menjadikan aktifitas dakwahnya sebagai perkara hidup dan mati. Mereka tak pernah gentar dengan aniaya, pun tak tergoda dengan iming-iming harta, tahta dan wanita. Tatkala Rasulullah Saw dirayu untuk menghentikan aktifitas dakwahnya, beliau berkata:  “Demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kanan saya dan bulan ditangan kiri saya, sungguh saya tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan urusan (agama) ini atau saya mati karenanya.”

Kapitalisme saat ini memang makin menggurita. Begitu pula sekulerisme semakin membudaya. Tetapi santri mesti tetap bangga dengan Islam. Biar hujan berbadai, petir menggelegar, bara Islam tetap digenggam sampai mati. Karena, ialah harga mati kaum mukmin, termasuk para santri.  Allah Swt berfirman:

"Wahai sekalian orang-orang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kalian mati terkecuali dalam keadaan muslim." (TQS. Ali Imran[3] : 102).

Wallohu a'lamu bishshowwaab. (Ary H. / 20 Muharram 1437 H)

Sumber:
(1) kbbi.web.id
(2) wikipedia.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar