Anakku,
Saat engkau membaca surat cinta ini semoga engkau selalu dalam curahan rahmat dan maghfirah Allah Swt. Ayah menulis surat ini di masa-masa penuh fitnah; iman dan kafir menjadi samar; serta perbedaan tauhid dan syirik pun telah mengabur. Umat Islam berada di masa yang seperti digambarkan dalam hadits Rasulullah Saw. Ia bagaikan hidangan lezat di hadapan orang-orang yang lapar. Namun demikian, ayah dan ibumu tetap penuh dengan harapan bahwa masa depan adalah milik Islam dan kaum muslim. Oleh karena itulah, ayah sengaja menulis surat cinta ini sebagai petuah yang diambil dari seorang ahli hikmah ketika mendidik anaknya.
Saat engkau membaca surat cinta ini semoga engkau selalu dalam curahan rahmat dan maghfirah Allah Swt. Ayah menulis surat ini di masa-masa penuh fitnah; iman dan kafir menjadi samar; serta perbedaan tauhid dan syirik pun telah mengabur. Umat Islam berada di masa yang seperti digambarkan dalam hadits Rasulullah Saw. Ia bagaikan hidangan lezat di hadapan orang-orang yang lapar. Namun demikian, ayah dan ibumu tetap penuh dengan harapan bahwa masa depan adalah milik Islam dan kaum muslim. Oleh karena itulah, ayah sengaja menulis surat cinta ini sebagai petuah yang diambil dari seorang ahli hikmah ketika mendidik anaknya.
Anakku,
Janganlah engkau menyekutukan Allah Swt dengan sesuatu apapun, karena sesungguhnya syirik itu kedzaliman yang sangat besar. Ingatlah Nak, manusia bangkit dan terpuruk tergantung kepada pemikiran asasinya, tergantung pada bagaimana ia memandang hidup ini. Yakni tentang dari mana ia, alam semesta dan kehidupan ini berasal, untuk apakah semua ini ada dan akan ke manakah setelah semuanya berakhir.
Janganlah engkau menyekutukan Allah Swt dengan sesuatu apapun, karena sesungguhnya syirik itu kedzaliman yang sangat besar. Ingatlah Nak, manusia bangkit dan terpuruk tergantung kepada pemikiran asasinya, tergantung pada bagaimana ia memandang hidup ini. Yakni tentang dari mana ia, alam semesta dan kehidupan ini berasal, untuk apakah semua ini ada dan akan ke manakah setelah semuanya berakhir.
Seluruh permasalahan yang akan engkau hadapi di dunia ini adalah semata karena engkau hidup. Jika engkau adalah tanah semata, niscaya engkau tidak akan pernah memiliki masalah. Oleh karena itulah, masalah utama yang sebenarnya engkau hadapi adalah masalah tentang hidup ini. Andaikan saja engkau tiba-tiba terbangun di hutan belantara yang asing dengan berbagai fasilitas yang lengkap, tentu engkau akan bertanya “mengapa aku ada disini? Untuk apa aku ada di sini? Dan akan ke manakah aku setelah dari sini?”
Anakku,
Pandanglah dirimu serta segala sesuatu yang ada di sekitarmu. Kita memiliki mata, namun mata kita memiliki keterbatasan dalam memandang; kita memiliki tubuh, namun tubuh kita akan berujung pada kerapuhan, kerusakan dan kematian; bahkan kita memiliki akal, namun akal kita tak mampu konsisten menilai sebuah kebaikan dan keburukan, ia mudah berubah karena manfaat. Pandanglah gunung yang tinggi menjulang, bumi yang terhampar, laut yang membiru, matahari yang cerah bersinar, bulan yang indah merona, bintang-bintang yang gemerlap memesona serta berbagai benda langit di angkasa. Semuanya ternyata memiliki keterbatasan. Gunung bisa mudah terguncang, laut tak pernah bisa melawan angin, bumi tak bisa berputar balik, matahari tak bisa melawan malam, bulan dan bintang pun tak pernah bisa melawan siang, semua benda langit tunduk pada suatu aturan. Jelaslah, semuanya merupakan kumpulan benda-benda yang lemah dan terbatas.
Pandanglah dirimu serta segala sesuatu yang ada di sekitarmu. Kita memiliki mata, namun mata kita memiliki keterbatasan dalam memandang; kita memiliki tubuh, namun tubuh kita akan berujung pada kerapuhan, kerusakan dan kematian; bahkan kita memiliki akal, namun akal kita tak mampu konsisten menilai sebuah kebaikan dan keburukan, ia mudah berubah karena manfaat. Pandanglah gunung yang tinggi menjulang, bumi yang terhampar, laut yang membiru, matahari yang cerah bersinar, bulan yang indah merona, bintang-bintang yang gemerlap memesona serta berbagai benda langit di angkasa. Semuanya ternyata memiliki keterbatasan. Gunung bisa mudah terguncang, laut tak pernah bisa melawan angin, bumi tak bisa berputar balik, matahari tak bisa melawan malam, bulan dan bintang pun tak pernah bisa melawan siang, semua benda langit tunduk pada suatu aturan. Jelaslah, semuanya merupakan kumpulan benda-benda yang lemah dan terbatas.
Begitu pula jika kita berpikir tentang kehidupan, ia selalu terbatas pada satu individu. Kamu adalah kamu, aku adalah aku dan si fulan adalah si fulan. Semuanya memiliki kehidupan sendiri yang terbatas pada dirinya semata. Kehidupan pun lemah dan terbatas.
Jika manusia, kehidupan dan alam semesta ini terbatas, hal itu berarti semuanya menyandarkan keberadaannya pada sesuatu yang bersifat tidak terbatas. Dia-lah Sang Pencipta, yang telah menciptakan semuanya dari tiada menjadi ada. Dan Dia adalah Allah Swt, bukan yang lain.
“Katakanlah: "Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah [adalah Tuhan] yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya". (TQS. Al Ikhlash : 1-4)
Anakku,
Ikrimah menjelaskan bahwa ketika orang-orang Yahudi berkata, "Kami menyembah Uzair anak Allah." Dan orang-orang Nasrani mengatakan, "Kami menyembah Al-Masih putra Allah." Dan orang-orang Majusi mengatakan, "Kami menyembah matahari dan bulan." Dan orang-orang musyrik mengatakan.”Kami menyembah berhala." Maka Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya:
Ikrimah menjelaskan bahwa ketika orang-orang Yahudi berkata, "Kami menyembah Uzair anak Allah." Dan orang-orang Nasrani mengatakan, "Kami menyembah Al-Masih putra Allah." Dan orang-orang Majusi mengatakan, "Kami menyembah matahari dan bulan." Dan orang-orang musyrik mengatakan.”Kami menyembah berhala." Maka Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya:
{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}
Seluruh kehidupan ini diciptakan oleh Allah Swt. Allah Ta’ala, Dia-lah Maha Pencipta yang memiliki sifat Wajibul Wujud dan Azali (tidak berawal dan tidak berakhir).
Semua makhluk bersandar kepada-Nya dan Dia tidak bersandar kepada apapun dan siapapun. Oleh karena itulah, beribadah kepada-Nya merupakan sebuah fitrah insan dan taat kepada-Nya merupakan sebuah kemestian. Ketika hal ini diyakini dan dilaksanakan, akan terurailah semua persoalan hidupmu. Semua masalah hidupmu akan terjawab hanya dengan memutlakkan ketaatan kepada-Nya.
Ketika manusia meyakini ada Pencipta selain-Nya, maka dapat dipastikan bahwa ia berada dalam kesalahan. Sungguh, jika ada dua atau lebih pencipta di dunia ini maka akan hancur dan luluh lantaklah dunia ini. Karena akan terjadi persaingan di antara tuhan-tuhan. Oleh karena itu, Pencipta itu hanyalah satu, Dia-lah Allah Swt Yang Maha Esa. Beribadahlah hanya kepada-Nya dan mengharap perhitungan-Nya, janganlah engkau menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Anakku,
Menyekutukan Allah Swt dengan selain-Nya tidak hanya terjadi pada aktifitas ritual. Ketika manusia meyakini bahwa ada ketetapan lain yang lebih baik daripada ketetapan Allah Swt pun, bisa terjebak dalam perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Sebagaimana ketika Rasulullah Saw membacakan ayat berikut di hadapan Adi bin Hatim (saat belum masuk Islam),
Menyekutukan Allah Swt dengan selain-Nya tidak hanya terjadi pada aktifitas ritual. Ketika manusia meyakini bahwa ada ketetapan lain yang lebih baik daripada ketetapan Allah Swt pun, bisa terjebak dalam perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Sebagaimana ketika Rasulullah Saw membacakan ayat berikut di hadapan Adi bin Hatim (saat belum masuk Islam),
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Adi bin Hatim menyanggah Rasulullah SAW dengan mengatakan :
إنهم لم يعبدوهم. فقال: "بلى، إنهم حرموا عليهم الحلال، وأحلوا (2) لهم الحرام، فاتبعوهم، فذلك عبادتهم إياهم
“Sesungguhnya mereka (Yahudi dan Nasrani) tidak menyembah mereka (para pendeta dan rahib)”. Maka Rasulullah SAW menjawab : “Sesungguhnya mereka (para pendeta dan rahib) mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Kemudian mereka (Yahudi dan Nasrani) mengikutinya, itulah penyembahan mereka terhadap para pendeta dan rahib mereka.”.
Pentahbisan pendeta dan rahib sebagai tuhan-tuhan tidak dalam konteks penyembahan, namun dalam konteks ketaatan mereka kepada pendeta dan rahib mereka dalam penetapan halal dan haram (menetapkan hukum). Mereka menjadikan pendapat pribadi pendeta dan rahib sebagai untuk menetapkan halal dan haram, padahal bertentangan dengan ketetapan Allah Swt.
Sebagaimana yang ditegaskan oleh Asy-Syaukani bahwa sesungguhnya mereka menaati pendeta-pendeta mereka, dalam perintah dan larangannya. Pendeta-pendeta itu menempati kedudukan sebagai tuhan-tuhan karena mereka ditaati sebagaimana layaknya tuhan-tuhan.
Allah SWT mencela orang Yahudi dan Nasrani yang memperlakukan para pendeta dan rahib sebagai pembuat hukum. Tindakan mereka itu dikategorikan menyekutukan Allah Swt. Ditegaskan dalam frasa “Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” Sebab, hanya Allah-lah yang memiliki wewenang untuk menetapkan halal dan haram. Kita sebagai manusia hanya memahami dari apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah Swt.
Allah SWT mencela orang Yahudi dan Nasrani yang memperlakukan para pendeta dan rahib sebagai pembuat hukum. Tindakan mereka itu dikategorikan menyekutukan Allah Swt. Ditegaskan dalam frasa “Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” Sebab, hanya Allah-lah yang memiliki wewenang untuk menetapkan halal dan haram. Kita sebagai manusia hanya memahami dari apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah Swt.
Tiada lagi harapan dalam iman jika telah tercampur dengan syirik. Karena syirik akan menumbuhkan amal yang berpijak bukan karena Allah Swt, namun karena sesuatu yang selain-Nya. Seluruh amal pun akan menjadi rusak. Begitu pula apabila pertimbangan baik dan buruk disandarkan kepada selain perintah dan larangan Allah Swt, akan rusaklah kehidupan manusia. Pertimbangan manfaat dan keuntungan sesaat akan mendominasi setiap keputusan yang diambil, bukan lagi pertimbangan ridla dan murka Allah Swt terhadapnya. Hukum rimba akan berlaku di antara manusia. Maka demi kepentingan sesaat, manusia yang kuat akan mendominasi dan mengeksploitasi orang yang lemah di antara mereka. Karena itulah anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah Swt. Sesungguhnya perbuatan syirik merupakan kezaliman yang sangat besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar