Selasa, 28 November 2017

Rangkuman Materi -2 Mudah Menulis Opini

Rangkuman Materi ke-2  “Mudah Menulis Opini” 

Sekali lagi Tentang Mindmapping dan Belajar secara ATM *)

A.        Sekali lagi Tentang Mindmapping

Bagi seorang profesional, munculnya ide-ide yang terus mengalir dari pikiran sangatlah dibutuhkan. Tak terkecuali bagi seorang penulis opini. Bila ide mengalir deras dari pikiran, tulisan pun menjadi lancar tanpa macet. Begitupun sebaliknya, bila tanpa ide-ide baru, tulisan pun akan sulit dikembangkan. Baik menulis puisi, cerpen, artikel, novel, apalagi buku yang berbab-bab bahkan berjilid-jilid.

Sebagai penulis pemula, saya pun sering merasakan kebuntuan ide. Menurut saya sih itu merupakan sesuatu yang wajar. Karena saya yakin, kendala tersebut pasti sering melanda para penulis. Jangankan untuk seorang penulis pemula, para penulis mahir pun pasti pernah merasakannya.

Ide itu terlahir dari sebuah proses berpikir. Sedangkan proses berpikir adalah pencerapan objek oleh indera yang diteruskan ke otak, lalu otak menafsirkan objek tersebut berdasarkan informasi sebelumnya (yang tersimpan di otak. Atau dengan kata lain, tahkim (penghukuman) suatu objek/fakta oleh otak berdasarkan informasi sebelumnya. Karena itulah, lahirnya sebuah ide berhubungan dengan input informasi ke otak dan output informasi dari otak.

Secara input informasi, kebuntuan ide yang dialami para penulis, bisa diurai dengan aktifitas banyak membaca. Bagaikan teko, semakin banyak diisi air maka akan semakin banyak isinya. Potensi kuantitas mengalirnya pun akan semakin besar. Membaca yang serius (deep reading) akan memperbanyak ide secara optimal. Selain itu, banyak menyimak, melakukan, mendengar dan melihat berbagai hal yang bermanfaat dapat memperkaya informasi ke dalam otak. Karena, informasi bisa dicerap oleh otak melalui berbagai alat indera. Namun, hal ini baru terkait input informasi ke dalam otak.

Adapun terkait dengan kelancaran output ide, hal itu bisa dilatih dengan fastwriting dan mindmapping. Terkait fastwriting, saya telah menjelaskannya dalam tulisan sebelumnya. Bila fastwriting bisa membantu melancarkan aliran ide, maka mindmapping bisa membantu memunculkan ide-ide baru yang lebih kreatif.

Berdasarkan pengalaman saya belajar di Akademi Menulis Kreatif binaan Master Apu Indragiry, mindmapping adalah latihan menghubung-hubungkan suatu ide dengan ide-ide yang lain, sebanyak-banyaknya. Mindmapping bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, karena ia hanya membutuhkan kertas kosong, alat tulis dan stopwatch.

Karena kita belajar menulis opini. Mari kita lakukan mindmapping pada istilah-istilah aktual dan momen yang rutin terjadi tahunan.

Sebagai contoh, karena sekarang sedang rame-ramenya hari Guru. Bisa juga kita membuat mindmapping dari kata Guru.






      B.      Belajar Secara ATM

Tak hanya belajar bisnis yang menggunakan rumus ATM (Amati Tiru dan Modifikasi). Belajar menulis pun bisa menggunakan rumus yang sama. Terutama bagi yang sedang belajar menulis opini. Kita bisa mengambil tulisan opini para penulis yang sudah mapan, kemudian kita tuliskan ulang dengan gaya bahasa yang berbeda dengan penulis aslinya. Sebagai contoh, saya mengutip satu paragrap tulisan berkut

-------------
Fenomena gay atau homoseks terus memakan korban. Kalau dahulu hanya anak-anak perempuan yang jadi korban perbudakan seks, kini jaringan prostitusi kaum gay telah memangsa anak laki-laki. Seperti dibongkarnya prostitusi gay di Cipayung, Puncak, Bogor, 30 Agustus lalu.
(Tulisan Kholda Naajiyah dari rubrik Muslimah di Tabloid Media Umat yang berjudul "Gay Perusak Calon Imam")
-------------

Kemudian saya ubah paragrap tersebut menjadi sebagai berikut :

-------------
Perbudakan seks makin menggila. Saat ini, tak hanya anak-anak perempuan yang ditargetkan, anak lelaki pun jadi incaran. Itulah yang terungkap dari terbongkarnya kasus jaringan prostitusi gay di Cipayung, Bogor pada 30 Agustus lalu. Bahkan, sebagian kalangan menganggap bahwa kejadian ini bisa berupa fenomena gunung es. Satu kejadian yang mewakili ribuan fakta.
-------------

Mungkin gaya bahasa saya berbeda dan tidak sebagus penulis aslinya. Tetapi yang penting bagi kita adalah belajar menulis dulu, perkara gaya bahasanya bagus dan tidak, bukan urusan kita. Fokus pada tugas utama, yakni menulis.
Atau bisa juga kita ambil contoh tulisan yang lebih panjang. Semisal tulisan berikut :

----------------------------------
Kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia hanya menghamba kepada Pencipta (Al Khaliq) dan bukan kepada ciptaan (makhluq) apalagi apa yang diciptakan oleh ciptaan.

Dialah Allah SWT, Sebagai Yang Mencipta, tentu Dia-lah yang paling tahu tentang apa yang terbaik dan apa yang terburuk bagi ciptaan-Nya. Tentang pemilikan dan penguasaan Allah terhadap segala sesuatu, Allah berfirman:

Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS. Ali Imrân/3: 109)

Sebagai milik Allah, maka –suka atau tidak suka—semuanya pasti dikembalikan dan berserah diri kepada Allah SWT:

“...kepada-Nya-lah berserah diri siapa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imrân/3: 83)

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. Hûd/11: 123)

Sengaja Allah SWT memilih kalimat pasif: dikembalikan karena memang semua persoalan tanpa kecuali, pasti akan dikembalikan atau dipaksa untuk kembali kepada Allah Sang Pemilik & Sang Penguasa (al-Malik). Atas dasar inilah sehingga tidak ada pilihan lain bagi manusia kecuali berserah diri secara mutlak kepada Allah SWT.

Dan atas dasar ini pula, manusia tidak dibenarkan memisahkan aktivitas hidupnya, sebagian untuk Allah dan sebagiannya lagi untuk yang lain. Semuanya harus total dipersembahkan hanya kepada Allah SWT:

"Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS. Al-An‘âm/6: 162)

(Sumber tulisan : https://web.facebook.com/yukngajiid)
----------------------------

Setelah kita mengamati substansi tulisannya, kita bisa meniru serta memodifikasi tulisan tersebut menjadi sebagai berikut :
---------------------------

Merasa Merdeka

Merasa kadang berbeda dengan fakta. Ada yang merasa miskin, padahal faktanya kaya. Ada juga yang merasa tak bisa padahal faktanya mampu. Atau seperti mayoritas negara berkembang di dunia saat ini, merasa merdeka padahal faktanya terjajah. Mengapa bisa demikian? Semua karena persepsi yang keliru tentang merdeka.

Banyak yang memahami merdeka sekedar bebas. Karena itulah, jika semua manusia dibiarkan bebas maka pasti akan berlaku hukum rimba. Manusia kuatlah yang akan jadi eksploitator, lainnya hanya sebagai korban eksploitasi. Pasti tetap akan berujung penjajahan. Apapun itu modelnya, baik secara militer maupun non militer.

Dikutip dari web official Yuk Ngaji, kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia hanya menghamba kepada Pencipta (Al Khaliq) dan bukan kepada ciptaan (makhluq), apalagi apa yang diciptakan oleh ciptaan. Dialah Allah SWT, Sebagai Yang Mencipta, tentu Dia-lah yang paling tahu tentang apa yang terbaik dan apa yang terburuk bagi ciptaan-Nya. Tentang pemilikan dan penguasaan Allah terhadap segala sesuatu, Allah berfirman: "Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan." (QS. Ali Imrân/3: 109).

Kita adalah milik Allah. Tentunya sebagai milik Allah, kita pasti akan dikembalikan kepada-Nya. Karena itulah berserah diri kepada Allah Swt merupakan sebuah kemestian Karena “…kepada-Nya-lah berserah diri siapa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imrân/3: 83) serta "kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. Hûd/11: 123).

Kata "dikembalikan" menunjukkan bahwa kita berperan sebagai objek. Semua diri kita serta urusan kita pasti akan kembali kepada Allah Yang Maha Kuasa (Al Malik). Tiada sedikit pun ada kuasa kita untuk menolaknya. Kembali kepada Allah merupakan keniscayaan. Sehingga, tiada lagi yang bisa dilakukan manusia selain tunduk dan patuh hanya kepada-Nya.

Kita tentu ingat ikrar kita yang sering diucap ulang, bahwa "sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ Dengan ikrar itulah kita memastikan bahwa hidup kita untuk ibadah, taat sepenuhnya kepada Allah. Seluruh urusan pun dikembalikan kepada Allah.

Tak ada pemisahan antara kehidupan dan ketaatan. Tak ada pemisahan antara kehidupan dan agama. Yang bermakna, tak ada ideologi sekulerisme yang akan kita biarkan bertahta dalam jiwa. Hanya Islam semata, itulah yang mengisi hati, pikiran dan amal kita. InsyaAllah kemerdekaan hakiki kan kita raih bersama. Bukan sekedar merasa.
------------------------------
Kita memang meniru tetapi kita tidak menjadi plagiator tak pula sekedar menyalin, karena yang kita ambil adalah substansi tulisannya atau ide yang terkandung di dalamnya. Substansi tulisan itu kita tangkap kemudian kita tuliskan ulang dengan gaya bahasa kita sendiri. Mudah kan? insyaAllah mudah selama kita mau mencobanya.


*) Disampaikan oleh Ary H. pada Kelas Opini “Akademi Menulis Kreatif”.

2 komentar: