Beberapa waktu yang lalu saya berdiskusi asyik dengan seorang pejabat di Kota Tasikmalaya. Setelah membahas tentang tema dalam salah satu buletin Islam mingguan, kami pun menyinggung sedikit tentang budaya membaca.
Dalam suatu survey salah satu Perguruan Tinggi AS, dinyatakan bahwa dalam hal budaya baca, Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia hanya setingkat lebih baik dari sebuah negara miskin Botswana di Afrika. Sepertinya bukanlah hal yang aneh.
Saya pernah menempuh perjalanan Tasik - Surabaya dengan kereta. Sepanjang perjalanan semua asyik dengan aktifitas masing-masing, tetapi di antara berbagai macam aktifitas, 3 orang bule asyik dengan bukunya masing-masing.
Sementara waktu, pernah juga berkesempatan untuk menemui saudara di salah satu pulau kecil di daerah NTB, Gili Tarawangan. Ketika sedang mengabadikan momen di pinggir pantai, terlihat turis asing sedang menikmati mentari seraya membaca buku.
Membaca bagi mereka sudah membudaya. Bukan tanpa alasan, hal itu erat kaitannya dengan karya lainnya. Karena semua karya membutuhkan ilmu. Ketika suatu bangsa paham bahwa karya-karyanya sedang dinanti, ia sadar kondisi bahwa umatnya sedang memimpin umat-umat yang lain, maka tumbuh budaya mencari ilmu secara ideologis. Walaupun kita tahu bahwa ideologi yang berasal dari Barat hanya berbuah pragmatisme dan materialisme.
Umat Islam pun demikian. Ketika sadar bahwa sejatinya adalah pemimpin. Diberi amanah oleh Allah Swt untuk mengatur bangsa dan umat Islam yang lain. Dalam diri umat Islam pun tumbuh produktifitas yang sangat hebat. Karya para ulama membuktikan itu semua. Tokoh-tokoh umat Islam dahulu sangat aktif membaca dan menulis, karena sadar diri bahwa umatnya juga umat yang lain membutuhkan kiprah umat Islam.
Karena itulah, membaca dan menulis bagi umat Islam adalah sebuah keniscayaan. Jika umat sadar diri bahwa dirinya adalah pemimpin peradaban.
Atas dorongan inilah saya menyusun buku Menulis Perjuangan dan Dakwah, berharap generasi umat paham akan pentingnya sebuah tulisan dalam memimpin peradaban. Pun, besar harapan saya para penulis muslim dapat berkontribusi besar, meninggalkan era kegagalan serta membangun peradaban barokah bersama Islam.
Semoga Allah Swt melimpahkan keistiqomahan. Aamiin.
(Ary H.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar