Kamis, 01 September 2016

Sekulerisme Mematikan Cinta

Mungkin judul tulisan ini terlalu melankolis. Tetapi demikianlah faktanya. Sekulerisme yang diemban oleh Barat telah menjadikan manusia laksana binatang-binatang yang berjalan. Atau setidaknya zombie yang hidup tanpa perasaan. Ideologi pemisahan agama dari kehidupan ini membuat slogan-slogan cinta menjadi basi dan mati. Bahkan, hanya menjadi rayuan dan tipuan para penjual kehormatan.

Akibatnya tidak sedikit orang yang menjadikan cinta Allah Swt hanya menjadi slogan. Inilah bahaya utama sekulerisme. Cinta kepada Allah yang seharusnya menumbuhkan cinta kepada-Nya dalam berbagai aspek kehidupan, menaati berbagai perintah dan larangan-Nya, serta mencontoh Rasul-Nya. Tetapi, sekulerisme membuat cinta itu mati. Cinta Allah diucap di bibir, tetapi dalam perilaku tak mau mengacu kepada aturan Allah Swt. Manusia bahkan membuat aturan versi sendiri serta menganggap buatannya itulah yang terbaik. Benar-benar cinta yang telah mati. Bila tak dikatakan cinta palsu. 

Tatkala Allah Swt memberkahi manusia dengan fitrah naluri melestarikan jenis. Maka tumbuh di dalam diri manusia pun cinta akan lawan jenis. Cinta ini akan tumbuh secara fitrah, diberikan Allah demi kelestarian umat manusia. Tanpanya, takkan ada status anak dan istri dan akan terjadi putus generasi. Tetapi sekulerisme telah membuat rasa cinta itu menjadi mati. Gaya hidup yang memisahkan agama meniscayakan liberalisasi pergaulan.

Muda-mudi bergaul bebas, tua muda berganti pasangan, menjadi hal yang tidak tabu lagi. Cinta yang seharusnya tumbuh, hanya menjadi syahwat seksual dan hiburan semata. Dampaknya, aborsi merajalela. Perceraian meningkat luar biasa, penyakit seksual menular pun mewabah. Harga diri manusia jatuh menjadi sekedar lekuk tubuh dan rupiah. Berdasarkan data WHO dan institut Guttmacher satu dari empat perempuan hamil berakhir aborsi, 56 juta janin tak berdosa dibunuh setiap tahunnya. Para pemuda menjadi korban pornografi dan pornoaksi. Ahli Neuropsikologi Saraf, Ihsan Gumilar, menyatakan bahwa adiksi pornografi itu sama dengan narkoba. Kecanduan pornografi membuat otak seseorang kebanjiran dophamine. Hal ini akan membuat seseorang ketagihan yang akan berujung pada kriminalitas serta penyimpangan seksual. Semua terjadi karena liberalisasi.

Tatkala naluri melestarikan jenis menyempit menjadi kenikmatan seksual semata maka pergaulan bebas akan semakin merajalela. Manusia pun akan cenderung enggan menikah dan memiliki anak, kelestarian manusia pun terancam. Fakta tersebut kini melanda banyak negara penganut sekulerisme. Angka kelahiran yang sangat minim, membuat generasi muda mereka terancam punah. Misal Jepang dengan angka kelahiran yang terus menurun drastis sedangkan usia harapan hidup terus meningkat.

Diperkirakan pada tahun 2060, 40% populasi penduduk Jepang adalah orang berusia 65 tahun ke atas (bbc.com). Negara-negara Eropa pun tak jauh berbeda, angka kematian di Eropa lebih banyak dibandingkan angka kelahiran. Sebuah laporan yang dipimpin ahli demografi Texas A & M University mengungkapkan bahwa 58 persen dari 1.391 kabupaten di Eropa memiliki lebih banyak kematian daripada kelahiran. Menurut Profesor Sosiologi Texas A & M, Dudley Poston, penurunan jumlah penduduk usia muda akan berimbas pada ketahanan demografi. (cnnindonesia.com).        

Tak hanya itu, sekulerisme pun telah menjadikan hubungan cinta orang tua dan anak menjadi hampa. Ketika sekulerisme tertanam di benak anak. Orang tua hanya akan dipandang jika bermateri dan berharta, tak ada hormat jika semua itu tak ada. Begitu pula cinta orang tua terhadap anaknya menjadi berbeda, karena keberhasilan yang ditakar berdasar materi semata.

Tatkala Allah Swt memberkahi manusia dengan gharizatul baqo’ (naluri mempertahankan diri), dalam diri manusia pun tumbuh kecintaan pada negeri. Tetapi sekulerisme membuatnya menjadi sekedar slogan hampa tak berarti. Dengan sekulerisme, sinta negeri tak lebih hanya menjadi sekedar ilusi. Tersebab, pengaturan ekonomi kapitalismenya membuat manusia saling menzalimi. Suatu negeri menjajah negeri yang lain. Negara maju berkuasa, negara miskin dan berkembang terinjak tak berdaya.

Negara-negara penjajah membuat jebakan. Mereka mengeruk kekayaan di banyak negeri untuk diri sendiri. Emas, gas, serta SDA lainnya dieksploitasi atas nama investasi. Tak hanya itu, mereka pun mengeluarkan jeratan utang ke banyak negeri. Utang yang tak kan pernah lunas itu melahirkan upeti yang bernama pajak. Pajak pun diekstensifikasi dan diintensifikasi hanya untuk membayar upeti. Bagaimana bisa anak negeri sampai depresi karena tertagih pajak yang tinggi, tetapi tunggakan deviden perusahaan tambang asing mereda sepi sendiri. Pada saat yang sama, SDA dikeruk hingga habis diangkut ke luar negeri. Tak sampai sana saja, jika pajak tetap tak mencukupi, maka aset-aset negeri pun dilelang untuk menutupi pemasukan. Kepada siapa? kepada para kapitalis, terutama asing. Cinta negeri? tak ada lagi. Ia mati seiring pembelaan kepada para penjajah negeri.

Itulah sekulerisme, ideologi yang cacat sejak lahirnya, tak bisa diharapkan karena penuh dengan dusta. Cinta Allah, sesama manusia serta negeri pun menjadi omong kosong belaka.

Hakikat cinta manusia yang sebenarnya hanyalah kepada Allah Swt. Karenanya, cinta lain yang tumbuh secara fitrah pasti akan terjaga. Itu pasti dan bukan hanya sekedar ilusi.

Islam menjaga kecintaan manusia kepada Allah Swt tidak hanya dengan shalat lima waktu. Tetapi ketundukan dalam berbagai aktifitas. Penguasa dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah dengan menerapkan aturan-Nya. Rakyat dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah dengan beramar ma’ruf nahyi munkar. Rakyat dan penguasa dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah Swt dengan membela agama serta negerinya. Cinta pun disemai dalam berbagai bidang kehidupan. Sistem pendidikan diterapkan berbasis aqidah Islam. Sistem pergaulan diterapkan berdasarkan syariah. Begitu pula sistem politik, sanksi, serta kebudayaan.

Islam membuat cinta antara anak dan orang tua menjadi jauh lebih bermakna. Semua tak hanya terkait materi semata. Islam mewajibkan anak untuk berbakti. Islam menjadikan keshalihan sebagai mutiara. Anak shalih yang mendo’akan kedua orang tuanya menjadi amal yang akan terbawa hingga seusai mati. Ukuran keshalihan pun jelas. Yakni, taat kepada perintah dan larangan Allah Swt. Menapaki setiap yang halal dan menjauhi setiap yang haram. Kuantitas materi, sama sekali tidak menjadi ukuran. Bila demikian, semua insan pasti akan berpeluang memiliki cinta ini. Cinta yang melintasi sekat materi, tak terbatas untuk si kaya semata.     

Islam pun mengharamkan menggadai negeri. Jika orang mengaku cinta Allah, ia pasti akan tunduk ketika Allah melarangnya menjual aset negeri. Begitu pula akan patuh tatkala Allah Swt mewajibkannya berjihad menjaga setiap jengkal negeri. Semua dilakoni hanya karena Allah Swt memerintahkannya, bukan yang lain.

Walhasil, sekulerisme telah mematikan cinta. Ia membuat cinta hanya menjadi slogan-slogan semata. Di balik itu tersimpan kerakusan syahwat manusia. Sungguh berbeda dengan Islam, cinta yang terlahir dari Islam adalah cinta yang nyata, tanpa ada kepalsuan. Karena yang membimbingnya adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary H. – Blogger dan Penulis di Akademi Menulis Kreatif) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar