Mungkin judul tulisan ini terlalu
melankolis. Tetapi demikianlah faktanya. Sekulerisme yang diemban oleh Barat telah
menjadikan manusia laksana binatang-binatang yang berjalan. Atau setidaknya zombie
yang hidup tanpa perasaan. Ideologi pemisahan agama dari kehidupan ini membuat
slogan-slogan cinta menjadi basi dan mati. Bahkan, hanya menjadi rayuan dan
tipuan para penjual kehormatan.
Akibatnya tidak sedikit orang
yang menjadikan cinta Allah Swt hanya menjadi slogan. Inilah bahaya utama
sekulerisme. Cinta kepada Allah yang seharusnya menumbuhkan cinta kepada-Nya
dalam berbagai aspek kehidupan, menaati berbagai perintah dan larangan-Nya, serta
mencontoh Rasul-Nya. Tetapi, sekulerisme membuat cinta itu mati. Cinta Allah
diucap di bibir, tetapi dalam perilaku tak mau mengacu kepada aturan Allah Swt.
Manusia bahkan membuat aturan versi sendiri serta menganggap buatannya itulah
yang terbaik. Benar-benar cinta yang telah mati. Bila tak dikatakan cinta
palsu.
Tatkala Allah Swt memberkahi
manusia dengan fitrah naluri melestarikan jenis. Maka tumbuh di dalam diri
manusia pun cinta akan lawan jenis. Cinta ini akan tumbuh secara fitrah,
diberikan Allah demi kelestarian umat manusia. Tanpanya, takkan ada status anak
dan istri dan akan terjadi putus generasi. Tetapi sekulerisme telah membuat
rasa cinta itu menjadi mati. Gaya hidup yang memisahkan agama meniscayakan
liberalisasi pergaulan.
Muda-mudi bergaul bebas, tua muda
berganti pasangan, menjadi hal yang tidak tabu lagi. Cinta yang seharusnya
tumbuh, hanya menjadi syahwat seksual dan hiburan semata. Dampaknya, aborsi
merajalela. Perceraian meningkat luar biasa, penyakit seksual menular pun
mewabah. Harga diri manusia jatuh menjadi sekedar lekuk tubuh dan rupiah. Berdasarkan
data WHO dan institut Guttmacher satu dari empat perempuan hamil berakhir
aborsi, 56 juta janin tak berdosa dibunuh setiap tahunnya. Para pemuda menjadi
korban pornografi dan pornoaksi. Ahli Neuropsikologi Saraf, Ihsan Gumilar,
menyatakan bahwa adiksi pornografi itu sama dengan narkoba. Kecanduan
pornografi membuat otak seseorang kebanjiran dophamine. Hal ini akan membuat
seseorang ketagihan yang akan berujung pada kriminalitas serta penyimpangan
seksual. Semua terjadi karena liberalisasi.
Tatkala naluri melestarikan jenis
menyempit menjadi kenikmatan seksual semata maka pergaulan bebas akan semakin
merajalela. Manusia pun akan cenderung enggan menikah dan memiliki anak, kelestarian
manusia pun terancam. Fakta tersebut kini melanda banyak negara penganut
sekulerisme. Angka kelahiran yang sangat minim, membuat generasi muda mereka
terancam punah. Misal Jepang dengan angka kelahiran yang terus menurun drastis
sedangkan usia harapan hidup terus meningkat.
Diperkirakan pada tahun 2060, 40%
populasi penduduk Jepang adalah orang berusia 65 tahun ke atas (bbc.com).
Negara-negara Eropa pun tak jauh berbeda, angka kematian di Eropa lebih banyak
dibandingkan angka kelahiran. Sebuah laporan yang dipimpin ahli demografi Texas
A & M University mengungkapkan bahwa 58 persen dari 1.391 kabupaten di
Eropa memiliki lebih banyak kematian daripada kelahiran. Menurut Profesor
Sosiologi Texas A & M, Dudley Poston, penurunan jumlah penduduk usia muda
akan berimbas pada ketahanan demografi. (cnnindonesia.com).
Tak hanya itu, sekulerisme pun
telah menjadikan hubungan cinta orang tua dan anak menjadi hampa. Ketika
sekulerisme tertanam di benak anak. Orang tua hanya akan dipandang jika
bermateri dan berharta, tak ada hormat jika semua itu tak ada. Begitu pula
cinta orang tua terhadap anaknya menjadi berbeda, karena keberhasilan yang
ditakar berdasar materi semata.
Tatkala Allah Swt memberkahi
manusia dengan gharizatul baqo’ (naluri mempertahankan diri), dalam diri manusia
pun tumbuh kecintaan pada negeri. Tetapi sekulerisme membuatnya menjadi sekedar
slogan hampa tak berarti. Dengan sekulerisme, sinta negeri tak lebih hanya
menjadi sekedar ilusi. Tersebab, pengaturan ekonomi kapitalismenya membuat
manusia saling menzalimi. Suatu negeri menjajah negeri yang lain. Negara maju
berkuasa, negara miskin dan berkembang terinjak tak berdaya.
Negara-negara penjajah membuat
jebakan. Mereka mengeruk kekayaan di banyak negeri untuk diri sendiri. Emas,
gas, serta SDA lainnya dieksploitasi atas nama investasi. Tak hanya itu, mereka
pun mengeluarkan jeratan utang ke banyak negeri. Utang yang tak kan pernah
lunas itu melahirkan upeti yang bernama pajak. Pajak pun diekstensifikasi dan
diintensifikasi hanya untuk membayar upeti. Bagaimana bisa anak negeri sampai
depresi karena tertagih pajak yang tinggi, tetapi tunggakan deviden perusahaan tambang
asing mereda sepi sendiri. Pada saat yang sama, SDA dikeruk hingga habis
diangkut ke luar negeri. Tak sampai sana saja, jika pajak tetap tak mencukupi,
maka aset-aset negeri pun dilelang untuk menutupi pemasukan. Kepada siapa?
kepada para kapitalis, terutama asing. Cinta negeri? tak ada lagi. Ia mati
seiring pembelaan kepada para penjajah negeri.
Itulah sekulerisme, ideologi yang
cacat sejak lahirnya, tak bisa diharapkan karena penuh dengan dusta. Cinta
Allah, sesama manusia serta negeri pun menjadi omong kosong belaka.
Hakikat cinta manusia yang
sebenarnya hanyalah kepada Allah Swt. Karenanya, cinta lain yang tumbuh secara
fitrah pasti akan terjaga. Itu pasti dan bukan hanya sekedar ilusi.
Islam menjaga kecintaan manusia
kepada Allah Swt tidak hanya dengan shalat lima waktu. Tetapi ketundukan dalam
berbagai aktifitas. Penguasa dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah
dengan menerapkan aturan-Nya. Rakyat dituntut untuk membuktikan cintanya kepada
Allah dengan beramar ma’ruf nahyi munkar. Rakyat dan penguasa dituntut untuk
membuktikan cintanya kepada Allah Swt dengan membela agama serta negerinya. Cinta
pun disemai dalam berbagai bidang kehidupan. Sistem pendidikan diterapkan
berbasis aqidah Islam. Sistem pergaulan diterapkan berdasarkan syariah. Begitu
pula sistem politik, sanksi, serta kebudayaan.
Islam membuat cinta antara anak
dan orang tua menjadi jauh lebih bermakna. Semua tak hanya terkait materi
semata. Islam mewajibkan anak untuk berbakti. Islam menjadikan keshalihan
sebagai mutiara. Anak shalih yang mendo’akan kedua orang tuanya menjadi amal
yang akan terbawa hingga seusai mati. Ukuran keshalihan pun jelas. Yakni, taat
kepada perintah dan larangan Allah Swt. Menapaki setiap yang halal dan menjauhi
setiap yang haram. Kuantitas materi, sama sekali tidak menjadi ukuran. Bila
demikian, semua insan pasti akan berpeluang memiliki cinta ini. Cinta yang
melintasi sekat materi, tak terbatas untuk si kaya semata.
Islam pun mengharamkan menggadai
negeri. Jika orang mengaku cinta Allah, ia pasti akan tunduk ketika Allah
melarangnya menjual aset negeri. Begitu pula akan patuh tatkala Allah Swt
mewajibkannya berjihad menjaga setiap jengkal negeri. Semua dilakoni hanya karena
Allah Swt memerintahkannya, bukan yang lain.
Walhasil, sekulerisme telah mematikan
cinta. Ia membuat cinta hanya menjadi slogan-slogan semata. Di balik itu
tersimpan kerakusan syahwat manusia. Sungguh berbeda dengan Islam, cinta yang
terlahir dari Islam adalah cinta yang nyata, tanpa ada kepalsuan. Karena yang
membimbingnya adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Wallohu a’lamu
bishshowwaab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar