Badan
Pusat Statistik (BPS) tahun 2013
menyebutkan bahwa orang baca di Indonesia hanya 20 persen. Sementara
hampir 80 persen orang lebih suka nonton TV (televisi) dan mendengarkan radio.
Bahkan indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dalam setiap
1.000 orang Indonesia, hanya ada satu yang mempunyai minat baca. Rendahnya
minat baca tersebut, tentu berdampak terhadap minat menulis, hasil-hasil karya
tulis ilmiah mahasiswa Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN sangat
berbeda jauh.
Berdasarkan
data Indonesian Scientific Journal Database terdata sekitar 13.047 buah
jurnal di Indonesia yang berkategori ilmiah yang masih aktif, sangat tertinggal
jauh dari Malaysia yang sudah 55.211 dan Thailand 58.931. Kepala Balai Bahasa
Bandung, Abdul Khak menuturkan, tradisi menulis di Indonesia jauh lebih rendah
dibandingkan dengan tradisi membaca, terlebih di kalangan anak muda.
(republika.co.id)
Sesungguhnya
membaca dan menulis adalah aktifitas yang tidak asing bagi kaum muslim.
“Bacalah! dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan” adalah terjemah ayat
pertama dari wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan, Allah SWT
menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang yang membaca Al Quran dan
mengajarkan Al Quran, tentunya termasuk mengajarkan cara membacanya. Begitupun
dengan aktifitas menulis, setiap kali Rasulullah saw menyampaikan wahyu yang
diterimanya, para shahabat langsung menjaganya dengan hafalan dan tulisan.
Menuliskan
Al Quran tentu berbeda dengan menulis karya. Menuliskan Al Quran adalah
mencatat apa adanya wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Para shahabat
hanya mencatat apa adanya, semua isi dan urutannya sudah merupakan ketetapan
Allah SWT. Jadi menuliskan Al Quran adalah mencatatnya sebagai input pemahaman,
sedangkan menulis karya adalah menyampaikan informasi melalui media tulisan, atau
output pemahaman. Akan tetapi, yang Penulis soroti adalah aktifitas menulisnya.
Baik yang berupa input pemahaman maupun outputnya.
Dalam
buku Pengantar Ilmu-ilmu Al Quran (Terj. Al Manar fi ‘Ulumil Quran), Dr.
Muhammad Ali Al Hasan menjelaskan tentang peristiwa Jam’ul Quran
(pengumpulan Al Quran). Beliau mengutip perkataan Zaid bin Tsabit r.a. yang
mengatakan bahwa ia (Zaid) mengumpulkan Al Quran dari tulisan-tulisan yang
terdapat pada tulang-tulang ekor, batu-batuan yang tipis dan dari hafalan para
shahabat. Selain itu, para ulama menjelaskan bahwa fase pertama dari Jam’ul
Quran adalah pengumpulan pada masa Rasulullah saw, yang berarti
menghafalkan dan menuliskan setiap kali ada ayat yang turun.
Diriwayatkan
dari Ibnu Abbas r.a., Utsman bin Affan berkata: Jika turun ayat, Nabi saw.
memanggil beberapa orang penulis lalu beliau bersabda, “Letakkan ini di surat
yang di dalamnya disebutkan begini dan begini.” (HR. Abu Ubaid di Fadhâil, Ibn
Abi Syaibah, Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai dalam Al-Kubrâ, Ibn
al-Mundzir, Ibn Hibban, al-Hakim, al-Baihaqi, dll). Pada masa Nabi Muhammad
saw, Al Quran telah berhasil dikumpulkan dengan jalan dihafal dan ditulis.
Muhammad bin al-Hanafiyah ditanya tentang peninggalan Nabi SAW, maka dia
berkata: “Beliau tidak meninggalkan apa-apa kecuali maa baina ad-diffatain
(apa-apa yang ada di antara dua sampul), yaitu al-Quran.” Selain menjelaskan
tentang keterjagaan Al Quran, beberapa riwayat tersebut membuktikan adanya
aktifitas menulis generasi awal kaum muslim.
Begitu
pula generasi emas kaum muslimin selanjutnya, Imam Bukhari menuliskan sebanyak
9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami'al-Shahil yang dikenal sebagai
Shahih Bukhari. Imam Abu Dawud telah menulis 35 kitab, 1.871 bab, dan 4.800
hadis. Ulama pencetus madzhab Syafi’i, Imam Syafi’i, telah menulis
ratusan kitab. Menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 kitab, sedangkan menurut
Al-Marwaziy sebanyak 113 kitab. Sementara Yaqut Al-Hamawi mengatakan jumlahnya
mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu An-Nadim dalam Al-Fahrasat.
Selain
yang telah disebutkan penulis, masih ada jutaan penulis muslim yang terdiri
dari para shahabat, tabi’in, muhaddits, serta para ulama lainnya dengan hasil
yang istimewa. Selain daya hafal yang luar biasa, aktifitas membaca dan menulis
mereka, tentunya menjadi pendukung utama tersusunnya karya-karya monumental
tersebut.
Dalam
masalah sains dan teknologi, salah satu ilmuwan muslim terkenal adalah Ibnu
Sina. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdullah Ibn Sina, ia telah
menulis dalam berbagai bidang termasuk teologi, filologi, matematika,
astronomi, dan fisika. Karya-karyanya berjumlah hampir 450 volume dari berbagai mata pelajaran, 240 volume di
antaranya terselamatkan. Secara khusus, 150 karya berkonsentrasi pada filsafat
dan 40 lainnya berkonsentrasi pada obat-obatan. Karyanya yang paling masyhur
adalah Al Qanun fi al-Tibb ("Kanun"). Buku tersebut telah
diterbitkan di Roma pada tahun 1593 sebelum dialihbahasakan ke dalam bahasa
Inggris dengan judul Precepts of Medicine. Dalam jangka masa tidak
sampai 100 tahun, buku itu telah dicetak ke dalam 15 buah bahasa. Pada abad
ke-17, buku tersebut telah dijadikan sebagai bahan rujukan pokok di beberapa universitas
Italia dan Perancis. Malahan sampai abad ke-19, bukunya masih diulang cetak dan
digunakan oleh para mahasiswa kedokteran.
Seutama-utamanya
membaca, tentu membaca Al Quran, karena merupakan petunjuk bagi umat manusia.
Rasulullah saw bersabda, yang artinya “Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir
membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca
Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka
baginya dua pahala.” (THR. Imam Al-Bukhari, Muslim). Akan tetapi, bukan
berarti tidak ada peluang pahala pada aktifitas membaca selainnya. Bila
aktifitas membaca yang kita lakukan merupakan bagian dari proses belajar, dan yang
kita pelajari adalah tsaqofah Islam dan ilmu yang berguna, tentu kita
akan berpeluang mendapatkan pahala dari kewajiban belajar.
Aktifitas
menulis juga merupakan bagian dari proses belajar. Imam Syafi’i mengatakan
dalam syairnya Al ‘ilmu kash-shoidi
wa- kitabatu qoyyiduhu, qoyyid shuyudaka bil hibali watsiqoh (Ilmu itu
bagaikan binatang buruan dan tulisan itu bagaikan pengikatnya, ikatlah
binatang-binatang buruanmu itu dengan tali yang kokoh). Meskipun banyak orang
yang memiliki daya hafal luar biasa, namun tidak sedikit yang mudah lupa karena
berbagai urusan. Oleh karena itu, tulisan bisa menjadi pengingatnya.
Selain
merupakan bagian dari proses belajar, menulis pun berpeluang menjadi ladang
amal jariah. Pahalanya akan terus mengalir kepada Sang Penulis, hatta
ketika ia sudah wafat sekalipun. Bila kita menuliskan ilmu yang bermanfaat,
sebagaimana yang dilakukan generasi emas kaum muslim, tentu akan menjadi
tabungan pahala yang sangat banyak. Rasulullah saw bersabda, yang artinya : “Jika
seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara
yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang
sholeh” (THR. Muslim). Bisa kita bayangkan, berapa banyak pahala yang
mengalir dari setiap ilmu bermanfaat, yang telah dituliskan oleh para pendahulu
kita. Sungguh merupakan nikmat Allah SWT yang sangat luar biasa.
Membaca
dan menulis merupakan aktifitas kaum muslim. Akan tetapi bukan berarti
semua hal menjadi bebas untuk dibaca dan ditulis, hanya tsaqofah Islam
serta ilmu (sains dan teknologi) yang bermanfaat semata, akan berpeluang
menjadi ladang pahala bagi kaum muslim. Adapun untuk tsaqofah di luar
Islam, kita diperbolehkan membaca hanya untuk mengkritisinya, bukan untuk
menyebarkannya. Walhasil, mari pelajari dan sebarkan ilmu dan tsaqofah
Islam dengan aktifitas membaca dan menulis. InsyaAllah, pahala menanti kita di
hadapan. aamiiin.
(Ary
H. - Pengelola FP Mudah Nulis dan Mentor Kelas Opini di Akademi Menulis Kreatif)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar