Senin, 16 Maret 2015

Membaca dan Menulis, Aktifitas Kaum Muslim

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013  menyebutkan bahwa orang baca di Indonesia hanya 20 persen. Sementara hampir 80 persen orang lebih suka nonton TV (televisi) dan mendengarkan radio. Bahkan indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu yang mempunyai minat baca. Rendahnya minat baca tersebut, tentu berdampak terhadap minat menulis, hasil-hasil karya tulis ilmiah mahasiswa Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN sangat berbeda jauh.
Berdasarkan data Indonesian Scientific Journal Database terdata sekitar 13.047 buah jurnal di Indonesia yang berkategori ilmiah yang masih aktif, sangat tertinggal jauh dari Malaysia yang sudah 55.211 dan Thailand 58.931. Kepala Balai Bahasa Bandung, Abdul Khak menuturkan, tradisi menulis di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan tradisi membaca, terlebih di kalangan anak muda. (republika.co.id)
Sesungguhnya membaca dan menulis adalah aktifitas yang tidak asing bagi kaum muslim. “Bacalah! dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan” adalah terjemah ayat pertama dari wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan, Allah SWT menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang yang membaca Al Quran dan mengajarkan Al Quran, tentunya termasuk mengajarkan cara membacanya. Begitupun dengan aktifitas menulis, setiap kali Rasulullah saw menyampaikan wahyu yang diterimanya, para shahabat langsung menjaganya dengan hafalan dan tulisan.  
Menuliskan Al Quran tentu berbeda dengan menulis karya. Menuliskan Al Quran adalah mencatat apa adanya wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Para shahabat hanya mencatat apa adanya, semua isi dan urutannya sudah merupakan ketetapan Allah SWT. Jadi menuliskan Al Quran adalah mencatatnya sebagai input pemahaman, sedangkan menulis karya adalah menyampaikan informasi melalui media tulisan, atau output pemahaman. Akan tetapi, yang Penulis soroti adalah aktifitas menulisnya. Baik yang berupa input pemahaman maupun outputnya.
Dalam buku Pengantar Ilmu-ilmu Al Quran (Terj. Al Manar fi ‘Ulumil Quran), Dr. Muhammad Ali Al Hasan menjelaskan tentang peristiwa Jam’ul Quran (pengumpulan Al Quran). Beliau mengutip perkataan Zaid bin Tsabit r.a. yang mengatakan bahwa ia (Zaid) mengumpulkan Al Quran dari tulisan-tulisan yang terdapat pada tulang-tulang ekor, batu-batuan yang tipis dan dari hafalan para shahabat. Selain itu, para ulama menjelaskan bahwa fase pertama dari Jam’ul Quran adalah pengumpulan pada masa Rasulullah saw, yang berarti menghafalkan dan menuliskan setiap kali ada ayat yang turun.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., Utsman bin Affan berkata: Jika turun ayat, Nabi saw. memanggil beberapa orang penulis lalu beliau bersabda, “Letakkan ini di surat yang di dalamnya disebutkan begini dan begini.” (HR. Abu Ubaid di Fadhâil, Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai dalam Al-Kubrâ, Ibn al-Mundzir, Ibn Hibban, al-Hakim, al-Baihaqi, dll). Pada masa Nabi Muhammad saw, Al Quran telah berhasil dikumpulkan dengan jalan dihafal dan ditulis. Muhammad bin al-Hanafiyah ditanya tentang peninggalan Nabi SAW, maka dia berkata: “Beliau tidak meninggalkan apa-apa kecuali maa baina ad-diffatain (apa-apa yang ada di antara dua sampul), yaitu al-Quran.” Selain menjelaskan tentang keterjagaan Al Quran, beberapa riwayat tersebut membuktikan adanya aktifitas menulis generasi awal kaum muslim.
Begitu pula generasi emas kaum muslimin selanjutnya, Imam Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami'al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari. Imam Abu Dawud telah menulis 35 kitab, 1.871 bab, dan 4.800 hadis. Ulama pencetus madzhab Syafi’i, Imam Syafi’i, telah menulis ratusan kitab. Menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 kitab, sedangkan menurut Al-Marwaziy sebanyak 113 kitab. Sementara Yaqut Al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu An-Nadim dalam Al-Fahrasat.
Selain yang telah disebutkan penulis, masih ada jutaan penulis muslim yang terdiri dari para shahabat, tabi’in, muhaddits, serta para ulama lainnya dengan hasil yang istimewa. Selain daya hafal yang luar biasa, aktifitas membaca dan menulis mereka, tentunya menjadi pendukung utama tersusunnya karya-karya monumental tersebut.
Dalam masalah sains dan teknologi, salah satu ilmuwan muslim terkenal adalah Ibnu Sina. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdullah Ibn Sina, ia telah menulis dalam berbagai bidang termasuk teologi, filologi, matematika, astronomi, dan fisika. Karya-karyanya berjumlah hampir 450 volume dari  berbagai mata pelajaran, 240 volume di antaranya terselamatkan. Secara khusus, 150 karya berkonsentrasi pada filsafat dan 40 lainnya berkonsentrasi pada obat-obatan. Karyanya yang paling masyhur adalah Al Qanun fi al-Tibb ("Kanun"). Buku tersebut telah diterbitkan di Roma pada tahun 1593 sebelum dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Precepts of Medicine. Dalam jangka masa tidak sampai 100 tahun, buku itu telah dicetak ke dalam 15 buah bahasa. Pada abad ke-17, buku tersebut telah dijadikan sebagai bahan rujukan pokok di beberapa universitas Italia dan Perancis. Malahan sampai abad ke-19, bukunya masih diulang cetak dan digunakan oleh para mahasiswa kedokteran.
Seutama-utamanya membaca, tentu membaca Al Quran, karena merupakan petunjuk bagi umat manusia. Rasulullah saw bersabda, yang artinya “Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” (THR. Imam Al-Bukhari, Muslim). Akan tetapi, bukan berarti tidak ada peluang pahala pada aktifitas membaca selainnya. Bila aktifitas membaca yang kita lakukan merupakan bagian dari proses belajar, dan yang kita pelajari adalah tsaqofah Islam dan ilmu yang berguna, tentu kita akan berpeluang mendapatkan pahala dari kewajiban belajar.
Aktifitas menulis juga merupakan bagian dari proses belajar. Imam Syafi’i mengatakan dalam syairnya  Al ‘ilmu kash-shoidi wa- kitabatu qoyyiduhu, qoyyid shuyudaka bil hibali watsiqoh (Ilmu itu bagaikan binatang buruan dan tulisan itu bagaikan pengikatnya, ikatlah binatang-binatang buruanmu itu dengan tali yang kokoh). Meskipun banyak orang yang memiliki daya hafal luar biasa, namun tidak sedikit yang mudah lupa karena berbagai urusan. Oleh karena itu, tulisan bisa menjadi pengingatnya.
Selain merupakan bagian dari proses belajar, menulis pun berpeluang menjadi ladang amal jariah. Pahalanya akan terus mengalir kepada Sang Penulis, hatta ketika ia sudah wafat sekalipun. Bila kita menuliskan ilmu yang bermanfaat, sebagaimana yang dilakukan generasi emas kaum muslim, tentu akan menjadi tabungan pahala yang sangat banyak. Rasulullah saw bersabda, yang artinya : “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (THR. Muslim). Bisa kita bayangkan, berapa banyak pahala yang mengalir dari setiap ilmu bermanfaat, yang telah dituliskan oleh para pendahulu kita. Sungguh merupakan nikmat Allah SWT yang sangat luar biasa.
Membaca dan menulis merupakan aktifitas kaum muslim. Akan tetapi bukan berarti semua hal menjadi bebas untuk dibaca dan ditulis, hanya tsaqofah Islam serta ilmu (sains dan teknologi) yang bermanfaat semata, akan berpeluang menjadi ladang pahala bagi kaum muslim. Adapun untuk tsaqofah di luar Islam, kita diperbolehkan membaca hanya untuk mengkritisinya, bukan untuk menyebarkannya. Walhasil, mari pelajari dan sebarkan ilmu dan tsaqofah Islam dengan aktifitas membaca dan menulis. InsyaAllah, pahala menanti kita di hadapan. aamiiin.

(Ary H. - Pengelola FP Mudah Nulis dan Mentor Kelas Opini di Akademi Menulis Kreatif)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar