Seorang filosof abad ke-18, John Locke pernah menyatakan
bahwa kaum liberal adalah orang-orang yang memiliki hak untuk hidup, merdeka,
dan sejahtera. Mereka bebas bekerja, bebas mengambil kesempatan apapun, bebas
mengambil keuntungan apapun, termasuk bebas untuk hancur, bebas hidup tanpa
tempat tinggal dan bebas hidup tanpa pekerjaan. Sehingga, wajar bila paham liberalisme
menguasai dunia, akan ada manusia yang sangat sejahtera, ada pula yang sangat terpuruk.
Ada negara penjajah dan ada pula negara terjajah.
Liberalisme terlahir dari aqidah sekulerisme
(pemisahan agama dari kehidupan). Ide tersebut menolak pembatasan yang
dilakukan oleh pemerintah dan agama. Ide liberalisme merasuk ke dalam berbagai
bidang kehidupan, termasuk dalam ‘mazhab’ ekonomi dunia.
Setelah depressi hebat yang mengguncang Wall Street
pada tahun 70-an. Liberalisme di bidang ekonomi sempat dianggap gagal. Namun
hanya selang beberapa tahun, ia menjelma menjadi neoliberalisme. Menurut
neoliberalisme, intervensi negara harus dikurangi supaya individu menjadi lebih
bebas berusaha. Pada prinsipnya, neoliberalisme tidaklah berbeda dengan
liberalisme klasik yang disampaikan oleh John Locke. Yakni, kebebasan usaha dan
kepemilikan secara mutlak.
Berbagai agenda ekonomi neoliberal di Indonesia telah
dimulai sejak tahun 1980-an. Bahkan semakin massif setelah Indonesia dijebak
krisis moneter pada tahun 1997. Seolah tak ada pilihan lain, Pemerintah
Republik Indonesia (RI) mengundang International Monetary Fund (IMF)
untuk memulihkan perekonomian Indonesia. RI pun dijerat untuk melaksanakan
paket kebijakan Konsensus Washington melalui penandatanganan Letter of
Intent (LoI) IMF.
Di antara kesepakatan yang tertuang dalam LoI IMF
adalah penghapusan subsidi BBM, yang sekaligus memberi peluang masuknya
perusahaan multinasional dalam usaha hilir BBM seperti Shell, Total dan
sebagainya. Kemudian kebijakan privatisasi beberapa BUMN, seperti Indosat,
Telkom, Pertamina, PT. Tambang Bukit Asam, Kimia Farma, dan beberapa Bank milik
pemerintah. Secara langsung ataupun tidak, kesepakatan ini telah membiarkan
aset RI dikuras oleh negara-negara besar. Sungguh sebuah pengkhianatan penguasa
terhadap rakyat.
Dampak liberalisasi energi bisa kita rasakan saat
ini. Subsidi premium sudah dicabut total pada awal tahun ini, harganya sudah
mengikuti keinginan pasar. Tak terasa, serasa baru kemarin harga premium turun
ke Rp 6.500/liter, sekarang sudah menjadi Rp 7.400/liter. Saat ini solar masih
disubsidi, namun pencabutan subsidinya hanya tinggal menunggu waktu. Begitu
pula dengan gas 3 kg. Dengan
dalih banyak pengguna gas 12 kg yang beralih ke gas 3 kg ketika gas 12 kg naik,
gas 3 kg pun perlu dinaikkan, dengan cara mengurangi bahkan mencabut
subsidinya. Tarif listrik pun sama, jatah subsidi 1,3 triliun untuk penundaan
tarif pelanggan 1300 VA dan 2200 VA akan habis pada April 2015. Dengan
demikian, dipastikan dipastikan pada Mei 2015, tarif pelanggan rumah tangga
1300 VA dan 2200 VA akan disesuaikan (baca: dinaikkan). Adapun pelanggan
listrik rumah tangga 450 VA dan 950 VA, hanya tinggal menunggu waktu. Karena
pada intinya, semua jenis subsidi harus dihapuskan.
Inilah bukti bahwa rezim Jokowi-Jk yang mengklaim pro
rakyat, tidaklah berbeda dengan rezim sebelumnya. Rezim neoliberal yang rela
menzalimi rakyatnya hanya demi kepentingan negara-negara besar. Akibatnya, rakyat
Indonesia bagaikan numpang dan bekerja di rumah sendiri tetapi untuk
kesejahteraan negara lain (asing). Bila seperti ini, apalah namanya jika bukan
penjajahan gaya baru (Neoimperialisme). Jika dulu Belanda menjajah dengan
pendudukan, kini negara maju menjajah melalui intervensi regulasi dan legislasi. Jika dulu
ada upeti yang harus disetorkan, kini ada pajak yang dibebankan kepada rakyat
untuk membayar cicilan utang yang terus membengkak. Jika dulu ada kerja paksa,
kini generasi muda disiapkan menjadi buruh terampil dengan upah murah. Para
pekerja kita mengeksploitasi sumber daya alam hanya untuk keuntungan
negara-negara besar. Tidak cukup sampai disana, rakyat pun membiayai sendiri
biaya kesehatan dan jaminan hari tuanya.
Selama manusia dibiarkan mengatur dirinya sendiri, serta
melepaskan diri dari aturan Sang Pencipta, neoliberalisme dan neoimperialisme akan
terus mengancam Indonesia. Karena dalam sistem liberal, sebagian manusia akan memangsa
sebagian yang lain. Oleh karena itu, dunia (termasuk Indonesia) sungguh membutuhkan
tatanan kehidupan yang tegak di atas aqidah Islam. Penerapan syariah Islam
dalam berbagai bidang kehidupan. Penerapan sistem ekonomi Islam di bawah naungan
sistem khilafah di atas manhaj kenabian.
Doktrin neoliberalisme yang mengharuskan pengurangan
intervensi dan hak pemerintah, jelas bertentangan dengan syariah Islam. Rasulullah
SAW mengingatkan : “almuslimuuna syurokaa-u fi tsalaatsin fil kalaa-i wal
maa-i wan naari“ (Kaum muslim berserikat dalam tiga hal, padang rumput, air
dan api.”). (THR. Abu Dawud dan Ahmad). Kata an naari (api) dalam hadits
tersebut bermakna sumber energi, baik minyak bumi, gas, listrik dan sebagainya.
Syariah Islam pun menetapkan bahwa SDA yang bersifat melimpah adalah milik
seluruh rakyat serta haram dikuasai swasta. Sehingga, negaralah yang mengelolanya,
lalu mengembalikan seluruh hasilnya untuk kesejahteraan rakyat, tanpa memandang
suku, ras maupun agamanya.
Pengelolaan SDA secara syariah dalam sistem khilafah,
tentu akan meningkatkan pemasukan negara. Negara akan memiliki banyak
kesempatan untuk mengembangkan berbagai proyek energi lainnya. Sehingga Negara
tidak akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan energi rakyatnya, seperti yang
terjadi saat ini. PLN seringkali kesulitan memasok listrik karena keterbatasan
pasokan gas dan batubara yang sudah dikuasai swasta.
Inilah ancaman nyata neoliberalisme dan neoimperialisme
yang dihadapi Indonesia saat ini. Untuk membebaskan Indonesia kita yang
terancam, tak ada pilihan lain bagi kita selain penerapan syariah Islam dalam
berbagai sektor kehidupan. Dengan penerapan sistem ekonomi Islam oleh negara
khilafah, para kapitalis neoliberal tidak akan memiliki kesempatan untuk mengeruk
kekayaan negeri ini. Bahkan, negara akan mengelolanya dengan amanah, dan
tentunya akan menyejahterakan seluruh rakyat, baik muslim maupun non muslim. “Andai
penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (TQS. Al A’raf[7]: 96). Wallohu
a’lamu bishshowwaab.
(Ary Herawan)
(Ary Herawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar