Senin, 15 September 2014

Neraca Masa Muda Kita

Bila kita pernah belajar sains, tentu kita akan mengenal neraca massa atau masyarakat umum mengenalnya dengan istilah timbangan. Yakni alat untuk menimbang benda. Massa selalu berbanding lurus dengan berat, semakin besar massa suatu benda maka akan semakin berat atau semakin berbobot.
Namun kita belum pernah menemukan alat berupa neraca masa, atau alat timbangan masa (baca : timbangan waktu). Seandainya alat tersebut ada kemudian kita timbang-timbang masa yang pernah kita lalui, tentu kita bisa memprediksi bahwa masa mudalah masa yang paling berharga bagi kita.
Sangat berharganya masa muda ini tergambar dari ungkapan Ali bin Abu Thalib r.a. tatkala ditanya oleh seorang sahabat: “wahai Ali jika engkau kaya, apa yang kau perbuat dengan kekayaanmu?” beliau menjawab: “aku akan membeli masa muda.” Subhanalloh! begitu berharganya masa muda. Masa muda juga merupakan penentu masa tua, tepatlah bila Syeikh Musthofa Al-Gulayani mengungkapkan sebuah pepatah yang terkenal "Syubaanul Yaum Rijalul Ghad Wa banaatul Yaum Ummahatul Ghad" (Pemuda masa kini adalah lelaki masa depan dan pemudi masa kini adalah ibu masa depan). Dengan kata lain, baik buruknya suatu masyarakat di masa depan ditentukan oleh bagaimana aktifitas pemuda-pemudinya saat ini.
Kisah-kisah heroik yang sampai kepada kita juga banyak didominasi oleh para pemuda. Misalnya para shahabat Rasulullah SAW, yang masuk Islam pada masa-masa sangat membutuhkan pengorbanan, didominasi oleh para pemuda. Ali bin Abi Thalib r.a. dan Zubair bin Awwam r.a. sejak usia 8 tahun sudah terlibat dalam perjuangan. Usamah bin Zaid r.a., memimpin pasukan perang pada usia 18 tahun. Begitu pun Al Arqam bin Abi Al-Arqam r.a. (12 tahun), Abdullah bin Mas’ud r.a. (14 tahun), Sa’ad bin Abi Waqqash r.a. (17 tahun), Ja’far bin Abi Thalib r.a. (18 tahun), Zaid bin Haritsah r.a. (20 tahun), Utsman bin Affan r.a. (20 tahun), Umar bin Al Khaththab r.a. (26 tahun). Adapun Abu Bakar Ashshiddiq r.a. berusia 37 tahun dan Sayyidusysyuhada Hamzah bin Abdul Muthallib berusia 42 tahun. Masih banyak lagi ribuan pemuda yang menjadi para pembela Islam pada masa-masa awal. Bahkan peran para pemudi pun tidak kalah heroik, peran Asma binti Abu Bakar r.a. yang pada usia remaja sudah menjadi tim sukses hijrahnya Rasulullah SAW. Juga ummul Mukminin ‘Aisyah r.a., sosok pemudi cerdas yang mendampingi Rasulullah SAW sejak usia 9 tahun. Juga Hafshah binti Umar yang sudah berjuang bersama Islam pada usia 10 tahun.
Tidak hanya sampai di masa para shahabat, kegemilangan para pemuda juga ditorehkan pada masa-masa setelahnya. Misal Imam Syafi’i hafal Al Quran pada usia 9 tahun dan sudah diminta ijtihadnya pada usia 13 tahun. Sejarah juga mencatat pemuda-pemuda pembela Islam seperti Syaifudin Quthuz, Thariq bin Ziyad Sang Pembebas Andalusia dan Muhammad Al Fatih yang menaklukkan konstantinopel pada usia 21 tahun.
Itulah beberapa peran pemuda yang mengisi bejana masa mudanya dengan bobot amal yang sepadan, bahkan jauh lebih berat dari masanya. Namun berbeda dengan kita saat ini. Kita seringkali menganggap bahwa masa muda adalah masa mencari jati diri. Fase labil yang kemudian menyebabkan semua tingkah lakunya harus serba dimaklumi. Bahkan senandung terkenal mengatakan bahwa masa muda adalah masa yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah, masa yang berapi-api, yang maunya menang sendiri, walau salah tak perduli. Begitulah kata bang Haji.
Persepsi-persepsi seperti inilah yang seringkali membuat kita abai terhadap masa muda, karena semua aktifitas muda-mudi, walaupun beresiko bahaya dunia akhirat, semuanya dianggap hal yang lumrah. Sehingga wajar bila hasilnya sangat mengerikan, data dari BKKBN 2013 dari 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia setiap tahunnya, 30 persen di antaranya dilakukan oleh remaja. Hal ini berarti  ada 690 ribu kasus aborsi dilakukan oleh remaja Indonesia dalam setiap tahunnya, jadi dalam setiap hari ada 1.891 orang remaja yang melakukan aborsi di Indonesia. Sedangkan aborsi remaja terjadi karena Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD), KTD terjadi akibat aktifitas seks pra nikah (baca: zina). Padahal tidak setiap aktifitas maksiat tersebut berbuah kehamilan, jadi bisa kita bayangkan berapa ribu remaja yang terjebak dalam seks bebas setiap harinya? na’udzubillahi min dzalik. Ini baru dari satu sisi, sebuah potret buram masa kini. Belum lagi masalah tawuran, miras, narkoba, budaya hedonisme dan sederet masalah dunia muda lainnya. 
Jadi persepsi terhadap masa muda yang keliru itulah yang mesti kita ubah. Karena sejatinya, masa muda bukanlah masa pencarian jati diri tapi masa pembuktian jati diri. Karena kalau kita telaah dalam pandangan Islam, akan kita dapati bahwa masa remaja termasuk dalam fase baligh, yaitu fase di mana amal baik dan buruk sudah dihisab oleh Allah SWT. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, yang artinya : “Diangkat pena (tidak dicatat) dari 3 golongan: orang gila sampai dia sadarkan diri, orang yang tidur hingga dia bangun dan anak kecil hingga dia baligh. ” (THR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Hadits ini pun bisa dipahami, bila sudah baligh maka akan dicatat (baca : dihisab) seluruh amalnya, baik taat maupun maksiat.
Oleh karena itu, menjelang akhir tahun ini saatnya kita hitung bobot masa muda kita. Sudahkah bejana masa muda yang sangat berharga ini kita isi dengan aktifitas yang sepadan harganya. Atau bahkan dengan aktifitas yang lebih berbobot sebagaimana para pendahulu kita yang telah menuliskan sejarah dengan tinta emas pengorbanan dan perjuangan mereka. Ataukah kita masih termasuk para pemuda yang berleha-leha, membiarkan masa muda yang berharga berlalu begitu saja, tanpa amal, tanpa prestasi, tanpa bobot dan makna. Bahkan termasuk pemuda yang panjang angan-angan, berharap umur panjang dan berencana insyaf pada usia tua. Padahal tidak ada seorang manusia pun yang bisa menjamin dirinya tetap bugar sampai usia tua.   
Bila tak ada jaminan, saatnya kita untuk menghitung neraca masa kita. Tidak ada kata terlambat untuk berhitung selama nyawa masih dikandung badan. Karena masa lalu bagi seorang mukmin adalah suatu pelajaran untuk mempersiapkan masa depan. Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (TQS.Al Hasyr[59]:18).
Saatnya juga kita renungkan apa yang diucapkan Hatim al-Asham, “Ada empat perkara yang tidak diketahui nilainya kecuali dalam empat keadaan: Masa muda tidak akan diketahui nilainya kecuali saat menjadi tua. Kelapangan tidak akan diketahui nilainya kecuali saat ditimpa bencana (kesempitan).Nikmat sehat tidak akan diketahui nilainya kecuali saat sakit. Hidup tidak akan diketahui nilainya kecuali saat mati.” (An-Nawawi, Nasha’ih al-‘Ibad). Maka pilihan ada di tangan kita, membiarkan masa muda kita kosong yang berarti rugi, memperberatnya dengan kelalaian dan dosa yang berarti celaka, atau memperberatnya dengan amal, prestasi dan pahala yang berarti bahagia. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (ary.attasiky)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar