Bila kita pernah
belajar sains, tentu kita akan mengenal neraca massa atau masyarakat umum
mengenalnya dengan istilah timbangan. Yakni alat untuk menimbang benda. Massa
selalu berbanding lurus dengan berat, semakin besar massa suatu benda maka akan
semakin berat atau semakin berbobot.
Namun kita belum
pernah menemukan alat berupa neraca masa, atau alat timbangan masa (baca :
timbangan waktu). Seandainya alat tersebut ada kemudian kita timbang-timbang
masa yang pernah kita lalui, tentu kita bisa memprediksi bahwa masa mudalah
masa yang paling berharga bagi kita.
Sangat
berharganya masa muda ini tergambar dari ungkapan Ali bin Abu Thalib r.a. tatkala
ditanya oleh seorang sahabat: “wahai Ali jika engkau kaya, apa yang kau perbuat
dengan kekayaanmu?” beliau menjawab: “aku akan membeli masa muda.” Subhanalloh!
begitu berharganya masa muda. Masa muda juga merupakan penentu masa tua, tepatlah
bila Syeikh Musthofa Al-Gulayani mengungkapkan sebuah pepatah yang terkenal "Syubaanul
Yaum Rijalul Ghad Wa banaatul Yaum Ummahatul Ghad" (Pemuda masa kini
adalah lelaki masa depan dan pemudi masa kini adalah ibu masa depan). Dengan
kata lain, baik buruknya suatu masyarakat di masa depan ditentukan oleh bagaimana
aktifitas pemuda-pemudinya saat ini.
Kisah-kisah
heroik yang sampai kepada kita juga banyak didominasi oleh para pemuda. Misalnya
para shahabat Rasulullah SAW, yang masuk Islam pada masa-masa sangat
membutuhkan pengorbanan, didominasi oleh para pemuda. Ali bin Abi Thalib r.a. dan
Zubair bin Awwam r.a. sejak usia 8 tahun sudah terlibat dalam perjuangan. Usamah
bin Zaid r.a., memimpin pasukan perang pada usia 18 tahun. Begitu pun Al Arqam
bin Abi Al-Arqam r.a. (12 tahun), Abdullah bin Mas’ud r.a. (14 tahun), Sa’ad
bin Abi Waqqash r.a. (17 tahun), Ja’far bin Abi Thalib r.a. (18 tahun), Zaid
bin Haritsah r.a. (20 tahun), Utsman bin Affan r.a. (20 tahun), Umar bin Al
Khaththab r.a. (26 tahun). Adapun Abu Bakar Ashshiddiq r.a. berusia 37 tahun
dan Sayyidusysyuhada Hamzah bin Abdul Muthallib berusia 42 tahun. Masih
banyak lagi ribuan pemuda yang menjadi para pembela Islam pada masa-masa awal.
Bahkan peran para pemudi pun tidak kalah heroik, peran Asma binti Abu Bakar r.a.
yang pada usia remaja sudah menjadi tim sukses hijrahnya Rasulullah SAW. Juga ummul
Mukminin ‘Aisyah r.a., sosok pemudi cerdas yang mendampingi Rasulullah SAW
sejak usia 9 tahun. Juga Hafshah binti Umar yang sudah berjuang bersama Islam
pada usia 10 tahun.
Tidak hanya sampai di masa para shahabat, kegemilangan
para pemuda juga ditorehkan pada masa-masa setelahnya. Misal Imam Syafi’i hafal
Al Quran pada usia 9 tahun dan sudah diminta ijtihadnya pada usia 13 tahun. Sejarah
juga mencatat pemuda-pemuda pembela Islam seperti Syaifudin Quthuz, Thariq bin
Ziyad Sang Pembebas Andalusia dan Muhammad Al Fatih yang menaklukkan
konstantinopel pada usia 21 tahun.
Itulah beberapa
peran pemuda yang mengisi bejana masa mudanya dengan bobot amal yang sepadan,
bahkan jauh lebih berat dari masanya. Namun berbeda dengan kita saat ini. Kita seringkali
menganggap bahwa masa muda adalah masa mencari jati diri. Fase labil yang
kemudian menyebabkan semua tingkah lakunya harus serba dimaklumi. Bahkan senandung
terkenal mengatakan bahwa masa muda adalah masa yang selalu merasa gagah, tak
pernah mau mengalah, masa yang berapi-api, yang maunya menang sendiri, walau
salah tak perduli. Begitulah kata bang Haji.
Persepsi-persepsi
seperti inilah yang seringkali membuat kita abai terhadap masa muda, karena
semua aktifitas muda-mudi, walaupun beresiko bahaya dunia akhirat, semuanya
dianggap hal yang lumrah. Sehingga wajar bila hasilnya sangat mengerikan, data
dari BKKBN 2013 dari 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia setiap tahunnya, 30
persen di antaranya dilakukan oleh remaja. Hal ini berarti ada 690 ribu kasus aborsi dilakukan oleh
remaja Indonesia dalam setiap tahunnya, jadi dalam setiap hari ada 1.891 orang
remaja yang melakukan aborsi di Indonesia. Sedangkan aborsi remaja terjadi
karena Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD), KTD terjadi akibat aktifitas seks
pra nikah (baca: zina). Padahal tidak setiap aktifitas maksiat tersebut berbuah
kehamilan, jadi bisa kita bayangkan berapa ribu remaja yang terjebak dalam seks
bebas setiap harinya? na’udzubillahi min dzalik. Ini baru dari satu
sisi, sebuah potret buram masa kini. Belum lagi masalah tawuran, miras, narkoba,
budaya hedonisme dan sederet masalah dunia muda lainnya.
Jadi persepsi terhadap
masa muda yang keliru itulah yang mesti kita ubah. Karena sejatinya, masa muda
bukanlah masa pencarian jati diri tapi masa pembuktian jati diri. Karena kalau
kita telaah dalam pandangan Islam, akan kita dapati bahwa masa remaja termasuk
dalam fase baligh, yaitu fase di mana amal baik dan buruk sudah dihisab oleh
Allah SWT. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, yang artinya : “Diangkat
pena (tidak dicatat) dari 3 golongan: orang gila sampai dia sadarkan diri,
orang yang tidur hingga dia bangun dan anak kecil hingga dia baligh. ”
(THR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Hadits ini pun bisa dipahami, bila
sudah baligh maka akan dicatat (baca : dihisab) seluruh amalnya, baik taat maupun
maksiat.
Oleh karena
itu, menjelang akhir tahun ini saatnya kita hitung bobot masa muda kita.
Sudahkah bejana masa muda yang sangat berharga ini kita isi dengan aktifitas
yang sepadan harganya. Atau bahkan dengan aktifitas yang lebih berbobot
sebagaimana para pendahulu kita yang telah menuliskan sejarah dengan tinta emas
pengorbanan dan perjuangan mereka. Ataukah kita masih termasuk para pemuda yang
berleha-leha, membiarkan masa muda yang berharga berlalu begitu saja, tanpa
amal, tanpa prestasi, tanpa bobot dan makna. Bahkan termasuk pemuda yang
panjang angan-angan, berharap umur panjang dan berencana insyaf pada usia tua.
Padahal tidak ada seorang manusia pun yang bisa menjamin dirinya tetap bugar
sampai usia tua.
Bila tak ada
jaminan, saatnya kita untuk menghitung neraca masa kita. Tidak ada kata
terlambat untuk berhitung selama nyawa masih dikandung badan. Karena masa lalu
bagi seorang mukmin adalah suatu pelajaran untuk mempersiapkan masa depan.
Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya :
“Wahai
orang-orang yang beriman! bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah
kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (TQS.Al Hasyr[59]:18).
Saatnya juga
kita renungkan apa yang diucapkan Hatim al-Asham, “Ada empat perkara yang tidak
diketahui nilainya kecuali dalam empat keadaan: Masa muda tidak akan diketahui
nilainya kecuali saat menjadi tua. Kelapangan tidak akan diketahui nilainya
kecuali saat ditimpa bencana (kesempitan).Nikmat sehat tidak akan diketahui
nilainya kecuali saat sakit. Hidup tidak akan diketahui nilainya kecuali saat
mati.” (An-Nawawi, Nasha’ih al-‘Ibad). Maka pilihan ada di tangan kita,
membiarkan masa muda kita kosong yang berarti rugi, memperberatnya dengan
kelalaian dan dosa yang berarti celaka, atau memperberatnya dengan amal,
prestasi dan pahala yang berarti bahagia. Wallohu a’lamu bishshowwaab.
(ary.attasiky)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar