Bertemu dengan teman-teman lama dalam suatu forum reuni adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Berbagai cerita mengalir begitu saja seakan memori masa lalu hadir kembali. Dengan tawa dan canda, semua cerita masa lalu menjadi tema yang menarik dibicarakan. Mulai dari pengalaman yang lucu sampai yang menyedihkan. Cerita suka dan duka. Bahkan, seperti slogan suatu acara infoteinment, yang dulu tabu pun menjadi layak untuk diperbincangkan.
Menyimpan informasi adalah salah satu keistimewaan otak manusia. Pengalaman hidup di masa lalu adalah salah satunya. Otak sebagai salah satu komponen berpikir menyuplai kembali informasi masa lalu ke dalam aktifitas berpikir kita1). Sehingga antara kita dan teman lama, seolah sambung menyambung mengenang masa lalu yang seolah tiada habisnya.
Masa lalu memang terkadang menarik untuk dikenang, namun semuanya pasti tidak akan kembali. Sebesar apapun kerinduan manusia akan masa lalunya, tapi mengembalikannya adalah suatu hal yang mustahil. Belum ada satu pun manusia di dunia, yang paling jenius sekalipun, dapat mengembalikan masa lalu. Menyenangkan atau menyedihkan kejadian di masa lalu, semuanya hanya akan menjadi sebuah pengalaman hidup dan kenangan semata.
Selain pengalaman hidup dan kenangan, masa lalu juga meninggalkan sebuah konsekuensi. Konsekuensi adalah akibat yang mesti kita tanggung dari pilihan aktifitas kita di masa lalu. Tidak ada manusia yang bisa menghindar darinya, karena itu adalah sebuah sunnatullah. Laksana orang yang menyemai bibit lalu memelihara tanamannya, maka ia pun pasti akan memanen hasilnya.
Konsekuensi masa lalu akan kita rasakan hari ini. Seorang yang hari ini menjadi cendekiawan, tentu karena di masa lalunya ia banyak bergelut dengan ilmu. Seorang yang hari ini menjadi montir mobil yang terampil, tentu karena di masa lalunya ia pernah belajar memperbaiki mobil, baik secara formal maupun tidak formal. Atau bila kita menyaksikan ada orang yang fasih berbahasa Arab, karena memang dulunya ia pernah belajar bahasa Arab. Begitu pun dengan seorang pengusaha kaya yang tiba-tiba gulung tikar karena tak mampu membayar utang, tentu karena di masa lalunya ia usaha dengan bermodalkan pinjaman bank. Juga seorang pencari kerja yang saat ini ditolak hanya karena tak memiliki ijazah, tentu karena dulu ia tak pernah lulus sekolah formal. Bagaikan seorang bayi yang tidak pernah belajar berdiri, tentu sampai hari ini pun ia tak akan bisa berdiri. Semua pilihan aktifitas kita di masa lalu, pasti akan berdampak hari ini.
Sebagaimana masa lalu yang berdampak pada hari ini, seluruh pilihan aktifitas kita di hari ini pun akan memiliki konsekuensi di masa depan. Karena di masa depan, masa kini akan menjadi masa lalu. Masa depan adalah semua hal yang akan terjadi dan masih ghaib bagi kita. Termasuk bila kita sekarang sedang menjalani aktifitas pagi maka masa depan bagi kita adalah dari mulai siang hari sampai kehidupan setelah seluruh dunia ini berakhir. Sehingga bila kita menganggap masa depan sebagai sesuatu yang penting, maka persiapannya adalah hari ini. Orang yang cerdas menghadapi masa depan adalah orang yang berpikir “nanti bagaimana” lalu menyusun strategi menuju apa yang dia cita-citakan. Bukan orang yang berpikir “bagaimana nanti” lalu ia bertindak sporadis karena tak tentu arah yang dituju.
Bagi seorang mukmin, seluruh aktifitas dunia pun ada konsekuensinya terhadap nasibnya di akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
artinya :
“Wahai sekalian orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah seseorang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kalian kepada Allah ! Sesungguhnya Allah Mahamengetahui terhadap apa-apa yang kalian kerjakan.” (Q.S. Al Hasyr[59]:18)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa firman Allah (وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ) bermakna : “hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan perhatikanlah apa yang telah kalian simpan untuk diri kalian, berupa amal-amal yang shalih, untuk hari dimana kalian dikembalikan dan dihadapkan kepada Tuhan kalian.” Adapun Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa orang Arab mengibaratkan masa depan dengan hari esok. Penggunaan kata “hari esok” untuk menyebutkan “hari kiamat” adalah sebagai perhatian bahwa hari kiamat adalah dekat.
Konsekuensi aktifitas kita di masa lalu akan kita rasakan hari ini. Konsekuensi aktifitas kita hari ini akan kita rasakan hari esok. Begitu pula konsekuensi seluruh aktifitas kita di dunia akan kita tanggung di akhirat kelak. Semua itu adalah pasti.
Dalam kegiatan reuni, otak kita yang terbatas seolah begitu detil mengingat masa lalu. Tentu bisa kita bayangkan, catatan malaikat Raqib dan ‘Atid tentu akan jauh lebih detil lagi. Bahkan tak hanya itu, tangan dan kaki yang akan menjadi saksi atas apa yang pernah kita lakukan di dunia.2)
Apa yang telah kita lakukan adalah masa lalu yang tidak akan kembali. Namun yang tersisa darinya tidak hanya pengalaman dan kenangan tapi juga konsekuensinya. Semua orang tentu menginginkan masa depan yang baik. Maka konsekuensi bermalas-malasan di masa lalu adalah tekun di hari ini. Konsekuensi hura-hura di masa lalu adalah kerja keras di hari ini. Konsekuensi kesalahan di masa lalu adalah perbaikan di hari ini. Begitu pula Konsekuensi kemaksiatan di masa lalu adalah taubat dan taat di hari ini.
Semua kesempatan itu hanya ada di dunia dan hari ini. Di akhirat, tak ada lagi kesempatan bagi kita walau hanya sedetik pun. Karena itulah, marilah kita siapkan masa depan dengan berbagai amal shalih, yakni amal yang ikhlash disertai ketaatan mutlak terhadap aturan Allah SWT. Robbana ya muqollibal qulub, tsabbit qulubana ‘ala dinika wa ‘ala tho’atika wa ‘ala tho’ati rosulika. aamiiin. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (ary.attasiky.4/01/2014)
1) Mengenai aktifitas berpikir silahkan baca tulisan ary.attasiky di https://www.facebook.com/notes/ary-herawan/berpikirlah-maka-kita-akan-menjadi-yang-utama/745261098835022
2) Lihat Q.S. Yaasin[36]:65
Tidak ada komentar:
Posting Komentar