Senin, 15 September 2014

Mengokohkan Keimanan

”Saya suka malas shalat isya dan shubuh.” kata salah seorang siswa SMK dalam suatu obrolan santai di sekolah. Kemudian Saya langsung bertanya kepadanya : “Kalau begitu, Bapak mau nanya. Kenapa anda Islam?”. Ia malah balik bertanya.”Kenapa Bapak malah menanyakan itu?” dengan wajah terlihat kebingungan. “Iya kalau Anda sudah menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang benar, maka pasti Anda akan punya solusi terkait masalah yang tadi disampaikan. Karena saat ini tidak sedikit, orang muslim yang mengandalkan Islamnya hanya karena kebetulan orang tuanya Islam. Sehingga jadilah Islam ‘kebetulan’. Karena itu seluruh aktifitas terkait keislamannya pun menjadi suatu ‘kebetulan’. Misalnya aktifitas shalat, kebetulan saja orang tuanya menyuruh dan menegurnya maka ia pun shalat. Kebetulan saja luang waktu maka ia pun shalat. Kebetulan di depan mertua maka ia pun shalat. Kebetulan temannya mengajak maka ia pun shalat. Bila semua kebetulan itu tidak terjadi maka ia kemungkinan besar tidak akan shalat. Bahkan tidak hanya itu, bisa jadi juga berkerudung karena kebetulan dipaksa sama orang tuanya, menutuo aurat hanya karena kebetulan aturan sekolah, atau berjilbab hanya karen kebetulan sedang ngetrend. Bahkan lebih naas lagi kalau dirunut ke pertanyaan awal. Orang yang seperti ini, bila orang tuanya non muslim, maka ia pun mungkin tidak menjadi seorang muslim. Karena Islamnya hanya kebetulan, jadilah ia ‘Islam Kebetulan’. Nah, sekarang kembali ke pertanyaan bapak tadi, kenapa Anda Islam?”. Lalu ia tampak kembali kebingungan, “Apa ya jawabannya, ya...mungkin karena orang tua Saya Islam.” katanya sambil melirik ke teman-temannya.
Pertanyaan seperti yang saya tanyakan tadi seolah-olah sesuatu yang tabu di masyarakat. Tatkala itu ditanyakan seolah-olah kita diajak untuk berpikir yang rumit. Bahkan kadang ada yang keliru memahami pertanyaan tersebut, seolah-olah hal itu adalah suatu pengagungan akal karena keimanan adalah hal yang tak perlu dipertanyakan lagi.


Membangun Keimanan Berlandaskan Akal
Imam Syafi’i rahimahullohu ta’ala dalam kitab Fiqhul Akbar menegaskan:
“Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah Ta’ala. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berfikir tersebut dituntut untuk ma’rifat kepada Allah.  Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai kepada ma’rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indra  dan ini merupakan suatu keharusan. Hal ini merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin.”
Oleh karena itu, menggunakan akal (berpikir) untuk mengokohkan keislaman, bukanlah suatu hal yang tabu. Dan pokok keimanan yang pertama bagi seorang muslim adalah keimanan kepada Allah SWT. Sehingga dari topik inilah kita bisa memulai menjawab pertanyaan, kenapa kita Islam? Yakni topik mengenai keimanan kita kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta.
Di dunia ini banyak sekali yang diyakini sebagai Sang Pencipta (Al Kholiq), sehingga tidaklah cukup bila berargumen bahwa keimanan kepada Allah SWT hanya karena ada ciptaannya. Karena jawaban ini masih menyisakan pertanyaan lanjutan. Yakni, kenapa Allah SWT dan bukan tuhan lain yang diimani oleh agama lain? Karena hanya Allah SWT yang memiliki sifat sebagai Al Kholiq.
Dalilnya adalah bila kita berpikir mengenai Pencipta manusia, alam semesta dan semua kehidupan. Maka hanya ada tiga kemungkinan, pertama Ia diciptakan lagi oleh yang lain, kedua Ia menciptakan diri-Nya sendiri, dan ketiga Ia bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir) dan wajibul wujud.
Kemungkinan pertama adalah kemungkinan yang bathil, karena bila Sang Pencipta (kholiq) masih diciptakan maka pada hakikatnya Ia bersifat terbatas dan Ia adalah makhluk, bukan Pencipta. Sehingga bila di dunia ini ada beberapa nama yang dianggap sebagai tuhan, tapi masih memiliki keterbatasan dan sifat makhluk, baik itu diciptakan lagi atau memiliki ketergantungan terhadap yang lain. Mereka pada hakikatnya bukanlah tuhan, tetapi makhuk yang dipertuhankan atau imajinasi para pemujanya. Begitupun dengan kemungkinan kedua, karena mustahil sifat kholiq dan makhluk menyatu dalam suatu dzat, dan kemungkinan ini sama bathilnya dengan kemungkinan pertama. Karena itu semua tuhan yang dipercayai oleh sebagian manusia tapi masih memiliki sifat makhluk dalam dirinya, pada hakikatnya ia bukanlah tuhan tapi makhuk yang dipertuhankan atau tokoh khayalan manusia.
Oleh karena itu, Pencipta (Kholiq) haruslah bersifat azali dan wajibul wujud, dan Dia adalah Allah SWT, bukan yang lain. Dan siapa saja yang mempunyai akal dengan benar, pasti akan mampu membuktikan bahwa di balik semua benda di dunia ini ada Penciptanya dan Dia adalah Allah SWT. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Q.S. Ali  Imran [3] : 191, yang artinya :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah SWT sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.”
Dengan demikian, dengan menjawab pondasi aqidah Islam yang pertama mulai terurailah pertanyaan kenapa kita Islam? Selanjutnya bagaimana supaya keimanan itu berbuah amal inilah yang kemudian perlu kita bahas lebih lanjut.

Makna Laa Ilaha Illalloh
Tatkala kita mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illalloh tentunya langsung terbersit di benak kita maknanya, yakni tiada Tuhan selain Allah. Namun ternyata bila kita menelaah lebih lanjut. Pemaknaan Laa Ilaha Illalloh hanya dengan makna tersebut sebenarnya masih kurang tepat. Hal ini dikarenakan kaum musyrikin pada masa jahiliyyah juga ternyata mengakui Allah sebagai Tuhan. Sebagaimana yang diungkap dalam beberapa ayat Al Quran sebagai berikut :
“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”. Katakanlah, “Segala puji bagi Allah,” Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (TQS. Luqman[31] : 25)
“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, “Allah”. Jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan.” (TQS. Az-Zukhruf[43] : 87) 
“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah”. Maka katakanlah,”Mengapa kamu tidak bertaqwa,” (TQS. Yunus[10] : 31)
Benar, mereka mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, namun mereka tidak mau mengucapkan Laa Ilaha Illalloh karena memahami makna dan konsekuensi yang sesungguhnya. Yakni menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan memutlakkan ketaatan hanya kepadanya. Hal ini berarti mereka harus meninggalkan sesembahan (berhala-berhala) mereka, serta meninggalkan adat hukum jahiliyyah dengan ketaatan mutlak kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Q.S. Ash-shaffat[37] : 35-36, yang artinya :
“Sungguh dahulu, apabila dikatakan kepada mereka, “Laa Ilaha Illalloh”, mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”
Jadi, kaum musyrikin arab memahami betul makna dan konsekuensi dari kalimah Laa Ilaha Illalloh sehingga mereka tidak mau mengucapkannya. Dan hal itu diakibatkan kesombongan mereka.
Oleh karena itu, kita yang setiap hari membasahi lidah kita dengan dzikir Laa Ilaha Illalloh, maka seyogyanya kita menelaah kembali maknanya lebih mendalam. Bukan berarti kita dituntut untuk syahadat lagi, tapi merenungkan kembali maknanya sehingga kalimah tersebut betul-betul memberikan pengaruh terhadap amal perbuatan kita.
Maknanya adalah bahwa kita harus menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya sesembahan dan secara pasti menolak seluruh aktifitas ibadah kepada selain Allah SWT. Kemudian selanjutnya konsekuensi dari pengakuan tersebut, tentunya adalah ketaatan mutlak kepadanya tanpa ada pengecualian.

Dengan demikian, setelah kita mengokohkan keimanan kita dengan dalil aqli dan memaknai lebih dalam makna kalimah Laa Ilaha Illalloh, maka tidak ada lagi bagi kita untuk ber-Islam dan mentaati Allah hanya karena kebetulan semata, tapi murni karena keimanan dan ketakwaan kita. Wallohu A’lam Bishshowwab. (ary.attasiky)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar