”Saya
suka malas shalat isya dan shubuh.” kata salah seorang siswa SMK dalam suatu
obrolan santai di sekolah. Kemudian Saya langsung bertanya kepadanya : “Kalau
begitu, Bapak mau nanya. Kenapa anda Islam?”. Ia malah balik bertanya.”Kenapa
Bapak malah menanyakan itu?” dengan wajah terlihat kebingungan. “Iya kalau Anda
sudah menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang benar, maka pasti Anda akan
punya solusi terkait masalah yang tadi disampaikan. Karena saat ini tidak
sedikit, orang muslim yang mengandalkan Islamnya hanya karena kebetulan orang
tuanya Islam. Sehingga jadilah Islam ‘kebetulan’. Karena itu seluruh aktifitas
terkait keislamannya pun menjadi suatu ‘kebetulan’. Misalnya aktifitas shalat,
kebetulan saja orang tuanya menyuruh dan menegurnya maka ia pun shalat.
Kebetulan saja luang waktu maka ia pun shalat. Kebetulan di depan mertua maka
ia pun shalat. Kebetulan temannya mengajak maka ia pun shalat. Bila semua
kebetulan itu tidak terjadi maka ia kemungkinan besar tidak akan shalat. Bahkan
tidak hanya itu, bisa jadi juga berkerudung karena kebetulan dipaksa sama orang
tuanya, menutuo aurat hanya karena kebetulan aturan sekolah, atau berjilbab
hanya karen kebetulan sedang ngetrend. Bahkan lebih naas lagi kalau
dirunut ke pertanyaan awal. Orang yang seperti ini, bila orang tuanya non
muslim, maka ia pun mungkin tidak menjadi seorang muslim. Karena Islamnya hanya
kebetulan, jadilah ia ‘Islam Kebetulan’. Nah, sekarang kembali ke pertanyaan
bapak tadi, kenapa Anda Islam?”. Lalu ia tampak kembali kebingungan, “Apa ya
jawabannya, ya...mungkin karena orang tua Saya Islam.” katanya sambil melirik
ke teman-temannya.
Pertanyaan
seperti yang saya tanyakan tadi seolah-olah sesuatu yang tabu di masyarakat.
Tatkala itu ditanyakan seolah-olah kita diajak untuk berpikir yang rumit.
Bahkan kadang ada yang keliru memahami pertanyaan tersebut, seolah-olah hal itu
adalah suatu pengagungan akal karena keimanan adalah hal yang tak perlu
dipertanyakan lagi.
Membangun
Keimanan Berlandaskan Akal
Imam Syafi’i rahimahullohu ta’ala dalam kitab Fiqhul
Akbar menegaskan:
“Ketahuilah bahwa
kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk
ma’rifat kepada Allah Ta’ala. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan
perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berfikir tersebut dituntut untuk
ma’rifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai kepada ma’rifat
terhadap hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indra dan ini
merupakan suatu keharusan. Hal ini merupakan suatu kewajiban dalam bidang
ushuluddin.”
Oleh karena itu, menggunakan
akal (berpikir) untuk mengokohkan keislaman, bukanlah suatu hal yang tabu. Dan
pokok keimanan yang pertama bagi seorang muslim adalah keimanan kepada Allah
SWT. Sehingga dari topik inilah kita bisa memulai menjawab pertanyaan, kenapa
kita Islam? Yakni topik mengenai keimanan kita kepada Allah SWT sebagai Sang
Pencipta.
Di dunia ini banyak sekali yang diyakini sebagai
Sang Pencipta (Al Kholiq), sehingga tidaklah cukup bila berargumen bahwa
keimanan kepada Allah SWT hanya karena ada ciptaannya. Karena jawaban ini masih
menyisakan pertanyaan lanjutan. Yakni, kenapa Allah SWT dan bukan tuhan lain
yang diimani oleh agama lain? Karena hanya Allah SWT yang memiliki sifat
sebagai Al Kholiq.
Dalilnya adalah bila kita berpikir mengenai
Pencipta manusia, alam semesta dan semua kehidupan. Maka hanya ada tiga
kemungkinan, pertama Ia diciptakan lagi oleh yang lain, kedua Ia menciptakan
diri-Nya sendiri, dan ketiga Ia bersifat azali (tidak berawal dan
tidak berakhir) dan wajibul wujud.
Kemungkinan pertama adalah kemungkinan yang
bathil, karena bila Sang Pencipta (kholiq) masih diciptakan maka pada
hakikatnya Ia bersifat terbatas dan Ia adalah makhluk, bukan Pencipta. Sehingga
bila di dunia ini ada beberapa nama yang dianggap sebagai tuhan, tapi masih
memiliki keterbatasan dan sifat makhluk, baik itu diciptakan lagi atau memiliki
ketergantungan terhadap yang lain. Mereka pada hakikatnya bukanlah tuhan,
tetapi makhuk yang dipertuhankan atau imajinasi para pemujanya. Begitupun
dengan kemungkinan kedua, karena mustahil sifat kholiq dan makhluk menyatu
dalam suatu dzat, dan kemungkinan ini sama bathilnya dengan kemungkinan pertama.
Karena itu semua tuhan yang dipercayai oleh sebagian manusia tapi masih
memiliki sifat makhluk dalam dirinya, pada hakikatnya ia bukanlah tuhan tapi
makhuk yang dipertuhankan atau tokoh khayalan manusia.
Oleh karena itu, Pencipta (Kholiq)
haruslah bersifat azali dan wajibul wujud, dan Dia adalah Allah
SWT, bukan yang lain. Dan siapa saja yang mempunyai akal dengan benar, pasti akan
mampu membuktikan bahwa di balik semua benda di dunia ini ada Penciptanya dan
Dia adalah Allah SWT. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Q.S. Ali Imran [3] : 191, yang artinya :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah SWT sambil
berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau
ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari
siksa neraka.”
Dengan demikian, dengan menjawab pondasi
aqidah Islam yang pertama mulai terurailah pertanyaan kenapa kita Islam?
Selanjutnya bagaimana supaya keimanan itu berbuah amal inilah yang kemudian
perlu kita bahas lebih lanjut.
Makna Laa Ilaha Illalloh
Tatkala kita mengucapkan kalimat Laa Ilaha
Illalloh tentunya langsung terbersit di benak kita maknanya, yakni tiada
Tuhan selain Allah. Namun ternyata bila kita menelaah lebih lanjut. Pemaknaan Laa
Ilaha Illalloh hanya dengan makna tersebut sebenarnya masih kurang tepat.
Hal ini dikarenakan kaum musyrikin pada masa jahiliyyah juga ternyata mengakui
Allah sebagai Tuhan. Sebagaimana yang diungkap dalam beberapa ayat Al Quran
sebagai berikut :
“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan
kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan
menjawab, “Allah”. Katakanlah, “Segala puji bagi Allah,” Tapi kebanyakan mereka
tidak mengetahui.” (TQS. Luqman[31] : 25)
“Dan jika engkau bertanya kepada mereka,
siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, “Allah”. Jadi
bagaimana mereka dapat dipalingkan.” (TQS. Az-Zukhruf[43] : 87)
“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang
memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa
(menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang
hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah
yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah”. Maka katakanlah,”Mengapa
kamu tidak bertaqwa,” (TQS. Yunus[10] : 31)
Benar, mereka mengakui Allah sebagai Tuhan
mereka, namun mereka tidak mau mengucapkan Laa Ilaha Illalloh karena
memahami makna dan konsekuensi yang sesungguhnya. Yakni menjadikan Allah
sebagai satu-satunya sesembahan dan memutlakkan ketaatan hanya kepadanya. Hal
ini berarti mereka harus meninggalkan sesembahan (berhala-berhala) mereka,
serta meninggalkan adat hukum jahiliyyah dengan ketaatan mutlak kepada Allah
SWT dan Rasul-Nya. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Q.S. Ash-shaffat[37] :
35-36, yang artinya :
“Sungguh dahulu, apabila dikatakan kepada
mereka, “Laa Ilaha Illalloh”, mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata,
“Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”
Jadi,
kaum musyrikin arab memahami betul makna dan konsekuensi dari kalimah Laa Ilaha Illalloh sehingga mereka tidak mau
mengucapkannya. Dan hal itu diakibatkan kesombongan mereka.
Oleh
karena itu, kita yang setiap
hari membasahi lidah kita dengan dzikir Laa Ilaha Illalloh, maka
seyogyanya kita menelaah kembali maknanya lebih mendalam. Bukan berarti kita
dituntut untuk syahadat lagi, tapi merenungkan kembali maknanya sehingga
kalimah tersebut betul-betul memberikan pengaruh terhadap amal perbuatan kita.
Maknanya adalah bahwa kita harus menjadikan
Allah SWT sebagai satu-satunya sesembahan dan secara pasti menolak seluruh
aktifitas ibadah kepada selain Allah SWT. Kemudian selanjutnya konsekuensi dari
pengakuan tersebut, tentunya adalah ketaatan mutlak kepadanya tanpa ada
pengecualian.
Dengan demikian, setelah kita mengokohkan
keimanan kita dengan dalil aqli dan memaknai lebih dalam makna kalimah Laa
Ilaha Illalloh, maka tidak ada lagi bagi kita untuk ber-Islam dan mentaati
Allah hanya karena kebetulan semata, tapi murni karena keimanan dan ketakwaan
kita. Wallohu A’lam Bishshowwab. (ary.attasiky)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar