Senin, 15 September 2014

Berpacu dengan Maut

Malam itu malam Jum’at pertama pada tahun 2014. Sebagaimana beberapa pekan sebelumnya, saya mengisi pengajian keluarga dengan topik kehidupan dan kematian manusia. Merujuk pada Q.S. Al Mulk[67]:2 yakni :
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Artinya : “(Allah) yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang paling baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.”

Setelah sampai di rumah, terdengarlah pengumuman dari Masjid Ar Rahman. “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un telah berpulang ke rahmatullah Bapak Fulan...” Kata salah seorang pengurus DKM melalui pengeras suara masjid. Betapa saya kaget bukan kepalang, almarhum yang tidak menderita sakit apapun, bahkan siangnya masih mengendarai motor, malam itu wafat melalui sebuah insiden kecelakaan tunggal.

Hidup manusia memang selalu berpacu dengan maut. Tak ada tempat bagi kita untuk berlindung darinya. Allah swt menegaskan :
  أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Dimana saja kalian berada, maut pasti akan menghampiri kalian, walaupun kalian berada dalam benteng-benteng yang kokoh.” (QS.An-Nisa[4]:78)
Ayat ini memberikan penegasan bahwa maut pasti menghampiri manusia. Walaupun benteng-benteng pelindung kita itu ditinggikan dan dipanjangkan sebagaimana makna (مُشَيَّدَةٍ ) yang dijelaskan oleh Al Baghowi.

Dimana pun dan kapan pun kita berada, maut mesti akan mendatangi kita. Maut tak bisa dimajukan juga tak bisa dimundurkan. Sebagaiman firman Allah SWT :
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat mengakhirkan ataupun mempercepatnya walau hanya sesaat.” (Q.S. Al A’raf[7]:34)

Maut juga tidak pernah memilih berdasarkan usia dan kuantitas. Orang yang sudah tua mesti didatangi duluan. Kita mungkin ingat, berapa kali kita melayat orang meninggal. Padahal yang dishalati itu jauh lebih muda dari pada yang menshalatkannya. Begitu pula kita mungkin ingat bencana Tsunami Aceh pada tahun 2004 sekitar 250.000 orang wafat dalam waktu yang hampir bersamaan. Ketika ajal datang, tidak ada orang yang bisa lari darinya, sebagaimana firman Allah SWT :
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, ia pasti menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian, apa yang telah kalian kerjakan.” (Q.S. Al Jumu’ah[62]:8)

Manusia tidak bisa lari dari kematian, karena mati mesti akan menghampiri kita. Yang harus kita khawatirkan adalah pada saat ajal menjemput kita, kita belum punya bekal apapun untuk menghadapi yaumul hisab. Bukankah begitu? Kematian mendatangi kita tanpa konfirmasi, karena itu sikap cerdas kita adalah mempersiapkan berbagai bekal dalam menjalaninya.

M. Rahmat Kurnia (2012:60) menjelaskan mengenai beberapa langkah yang patut dilakukan manusia untuk menghadapi kematian :
1.    Ingat akan mati dan Akhirat.
Yakin akan mati tidak akan ada gunanya tanpa mengimani hari Akhirat. Orang beriman harus meyakini bahwa kematian adalah gerbang menuju kehidupan Akhirat.
2.    Merasa diawasi oleh Allah swt (Muroqobatullah)
Allah Mahamengetahui lagi Mahamendengar. Seseorang yang memahami betul hakikat kehidupan setelah mati, maka ia akan senantiasa mengikatkan seluruh perbuatannya dengan hukum syara. Baik ketika kita sedang di masjid, rumah, sekolah, kantor, mall atau tempat rekreasi sekalipun, kita tetap meyakini bahwa Allah swt senantiasa mengawasi kita dan malaikat-Nya (Raqib dan ‘Atid) akan menuliskan seluruh amalan kita.
3.    Senantiasa Introspeksi Diri
Manusia tak pernah luput dari kesalahan, oleh karena itu penting bagi kita untuk senantiasa menghisab diri kita sendiri. Sehingga tatkala menginjak keburukan segera bertaubat dan berpaling pada perbuatan baik. Kemudian tatkala melaksanakan perbuatan baik, senantiasa bersyukur kepadanya seraya memohon diberikan keistiqomahan.
4.    Memperbanyak amalan kebaikan
Bekal terbaik saat menghadap Sang Pencipta adalah ketakwaan. Seorang muslim yang meyakini hari Akhirat, tidak akan lalai dalam mempersiapkannya. Yakni dengan senantiasa terikat dengan seluruh hukum-hukum Allah swt, melaksanakan berbagai perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

Itulah beberapa hal yang bisa kita siapkan untuk menghadapi kematian. Sudahkah kita bersiap-siap?
“Ya Allah perbaikilah agama kami yang merupakan poros kehidupan kami, perbaikilah dunia kami yang merupakan penghidupan kami dan perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kami kembali. Kemudian jadikanlah kehidupan sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikanlah kematian sebagai peristirahatan dari setiap keburukan. aamiiin.” (ary.attasiky)

Daftar pustaka :
M. Rahmat Kurnia.2012.Menjadi Pembela Islam.Al Azhar Press.Bogor.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar