Malam itu malam
Jum’at pertama pada tahun 2014. Sebagaimana beberapa pekan sebelumnya, saya
mengisi pengajian keluarga dengan topik kehidupan dan kematian manusia. Merujuk
pada Q.S. Al Mulk[67]:2 yakni :
الَّذِي
خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ
الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Artinya : “(Allah)
yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di
antara kalian yang paling baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.”
Setelah sampai
di rumah, terdengarlah pengumuman dari Masjid Ar Rahman. “Inna lillahi wa
inna ilaihi roji’un telah berpulang ke rahmatullah Bapak Fulan...” Kata
salah seorang pengurus DKM melalui pengeras suara masjid. Betapa saya kaget
bukan kepalang, almarhum yang tidak menderita sakit apapun, bahkan siangnya
masih mengendarai motor, malam itu wafat melalui sebuah insiden kecelakaan
tunggal.
Hidup manusia
memang selalu berpacu dengan maut. Tak ada tempat bagi kita untuk berlindung
darinya. Allah swt menegaskan :
أَيْنَمَا تَكُونُوا
يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Dimana saja kalian berada, maut pasti akan
menghampiri kalian, walaupun kalian berada dalam benteng-benteng yang kokoh.”
(QS.An-Nisa[4]:78)
Ayat ini memberikan penegasan bahwa maut pasti
menghampiri manusia. Walaupun benteng-benteng pelindung kita itu ditinggikan
dan dipanjangkan sebagaimana makna (مُشَيَّدَةٍ ) yang dijelaskan oleh Al Baghowi.
Dimana pun dan kapan pun kita berada, maut
mesti akan mendatangi kita. Maut tak bisa dimajukan juga tak bisa dimundurkan.
Sebagaiman firman Allah SWT :
فَإِذَا
جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Apabila
ajalnya tiba, mereka tidak dapat mengakhirkan ataupun mempercepatnya walau
hanya sesaat.” (Q.S. Al
A’raf[7]:34)
Maut juga tidak pernah memilih berdasarkan
usia dan kuantitas. Orang yang sudah tua mesti didatangi duluan. Kita mungkin
ingat, berapa kali kita melayat orang meninggal. Padahal yang dishalati itu
jauh lebih muda dari pada yang menshalatkannya. Begitu pula kita mungkin ingat
bencana Tsunami Aceh pada tahun 2004 sekitar 250.000 orang wafat dalam waktu
yang hampir bersamaan. Ketika ajal datang, tidak ada orang yang bisa lari
darinya, sebagaimana firman Allah SWT :
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ
مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kalian
lari darinya, ia pasti menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada
(Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada
kalian, apa yang telah kalian kerjakan.” (Q.S. Al Jumu’ah[62]:8)
Manusia tidak bisa lari dari kematian, karena mati
mesti akan menghampiri kita. Yang harus kita khawatirkan adalah pada saat ajal
menjemput kita, kita belum punya bekal apapun untuk menghadapi yaumul hisab. Bukankah
begitu? Kematian mendatangi kita tanpa konfirmasi, karena itu sikap cerdas kita
adalah mempersiapkan berbagai bekal dalam menjalaninya.
M. Rahmat Kurnia (2012:60) menjelaskan
mengenai beberapa langkah yang patut dilakukan manusia untuk menghadapi
kematian :
1.
Ingat
akan mati dan Akhirat.
Yakin akan mati
tidak akan ada gunanya tanpa mengimani hari Akhirat. Orang beriman harus
meyakini bahwa kematian adalah gerbang menuju kehidupan Akhirat.
2.
Merasa
diawasi oleh Allah swt (Muroqobatullah)
Allah
Mahamengetahui lagi Mahamendengar. Seseorang yang memahami betul hakikat
kehidupan setelah mati, maka ia akan senantiasa mengikatkan seluruh
perbuatannya dengan hukum syara. Baik ketika kita sedang di masjid, rumah,
sekolah, kantor, mall atau tempat rekreasi sekalipun, kita tetap meyakini bahwa
Allah swt senantiasa mengawasi kita dan malaikat-Nya (Raqib dan ‘Atid) akan menuliskan
seluruh amalan kita.
3.
Senantiasa
Introspeksi Diri
Manusia tak
pernah luput dari kesalahan, oleh karena itu penting bagi kita untuk senantiasa
menghisab diri kita sendiri. Sehingga tatkala menginjak keburukan segera
bertaubat dan berpaling pada perbuatan baik. Kemudian tatkala melaksanakan perbuatan
baik, senantiasa bersyukur kepadanya seraya memohon diberikan keistiqomahan.
4.
Memperbanyak
amalan kebaikan
Bekal terbaik
saat menghadap Sang Pencipta adalah ketakwaan. Seorang muslim yang meyakini
hari Akhirat, tidak akan lalai dalam mempersiapkannya. Yakni dengan senantiasa
terikat dengan seluruh hukum-hukum Allah swt, melaksanakan berbagai
perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Itulah beberapa
hal yang bisa kita siapkan untuk menghadapi kematian. Sudahkah kita
bersiap-siap?
“Ya Allah perbaikilah
agama kami yang merupakan poros kehidupan kami, perbaikilah dunia kami yang
merupakan penghidupan kami dan perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat
kami kembali. Kemudian jadikanlah kehidupan sebagai tambahan bagi kami dalam
setiap kebaikan dan jadikanlah kematian sebagai peristirahatan dari setiap
keburukan. aamiiin.”
(ary.attasiky)
Daftar pustaka
:
M. Rahmat
Kurnia.2012.Menjadi Pembela Islam.Al Azhar Press.Bogor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar