Selasa, 03 November 2015

#SECERCAH HIDAYAH DI SURAU SEKOLAH#3

(Cerita Fiksi)
#SECERCAH HIDAYAH DI SURAU SEKOLAH#3
Ajakan yang Menggelisahkan bag. 2

Semakin malam suara detak jam dinding semakin jelas terdengar. Kedua mata Dadan tetap saja sulit terpejam.  Padahal sudah berkali-kali ronda berkeliling seraya memukul kentongan, pertanda malam sudah sangat larut.
                "Duh ! Mengapa mata ini sulit sekali terpejam?" Ujarnya dalam hati. Semakin ia memejamkan matanya, pikirannya malah semakin terjaga.
                "Perutku begah lagi, ga enak begini. Apa karena Nasi Padang yang ku santap tadi siang ya?" Ia terus bertanya-tanya.
                Padahal ia sering menyantap Nasi Padang kesukaannya, perutnya belum pernah bermasalah karenanya. Pikirannya terus berkecamuk. Ia berbalik badan seraya memeluk gulingnya. Kakinya terasa pegal, gelisah tak karuan rasanya. Diluruskan ga enak, ditekuk pun ga nyaman. Ia pun mencoba membalik bantalnya, tetap saja tak dapat terlelap.
                "Aduh bagaimana ini, mana esok harus masuk sekolah lagi", gerutunya. "Apa aku tegang karena undangan acara pengajian Rohis itu ya?" Ingatnya.
                 “Kalau begitu, besok aku harus kabur duluan ah,“ gumam Dadan. “Lagian acaranya juga dimulai sehabis Dzuhur.” tambahnya.
                Lama kelamaan hati Dadan pun menjadi tenang. Ia pun tertidur setelah lewat jam satu dini hari.
---------------------------
                Tidak pagi ini saja Dadan bangun kesiangan. Jika ada siaran langsung klub sepak bola kesayangannya pun, ia sering begadang. Karena itulah, ia sudah lihai mengatasinya. Ia tidak mandi, tetapi hanya mencuci muka, tangan dan kakinya. Kemudian sedikit mencuci ketiaknya dengan sabun mandi. Langsung berseragam lalu mengayuh sepedanya menuju sekolah.
                Selama di sekolah, Dadan menghindari pembicaraan dengan Arif. Sampai tibalah jam pelajaran ke enam, menjelang istirahat kedua. Dadan terus saja membolak-balikan pulpen yang dipegangnya. Posisi duduknya pun terus berganti miring kanan dan kiri, ia berharap ingin segera meninggalkan sekolah.
                “Duh, tumben ini Bu Lina, biasanya dia selesai sebelum bel istirahat berbunyi,” keluhnya dalam hati. Biasanya, Bu Lina bahasa Indonesia memang keluar kelas lebih cepat dari waktu istirahat. Tetapi, tidak demikian dengan hari ini.
                “Teeet ! Saatnya istirahat kedua !” Bel SMA Sambongpari pun berbunyi.
                Riuh respon para siswa mendengar bel istirahat, membuat suara Bu Lina semakin tidak terdengar. Bu Lina hanya tersenyum. Seraya membereskan bukunya, ia pun berpesan, “Anak-anak, dikarenakan Bapak dan Ibu Guru ada rapat persiapan UTS, maka pembelajaran hari ini dilanjutkan di rumah ya..!”
                “HOREEE ! ASYIIK !” hampir semua siswa berteriak kegirangan. Namun tak demikian dengan Dadan. Ia melirik ke arah Arif, ia ingin memastikan Arif tidak memperhatikannya.
                “Sebentar....sebentar dulu anak-anak, “ Bu Lina mulai agak berteriak di tengah kegaduhan para siswa yang kegirangan.  “Dengarkan dulu!” Ucapnya seraya memberi isyarat dengan kedua tanganya. “Hari ini ada pengajian Rohis. Bagi kalian yang ada waktu, Ibu berharap kalian bisa mengikutinya, “ ajak Bu Lina.
                “Tuh ketua Rohisnya saja ada di sini,” kata Bu Lina seraya menunjuk Arif.
                Semua siswa memandang Arif. Merasa menjadi pusat perhatian, Arif hanya tersenyum. Tetapi, tidak demikian dengan Dadan, ia malah semakin menundukkan pandangannya ke arah meja yang ada persis di depannya. Seakan pura-pura tidak mendengar perkataan Bu Lina.            
                 “Terima kasih atas perhatian dan partisipasi kalian dalam pembelajaran, mohon maaf bila ada salah, ketemu lagi minggu depan,“ ucap Bu Lina seraya menatap seisi kelas. Setelah mengucapkan salam, beliau pun keluar meninggalkan kelas.
                Para siswa berhamburan keluar kelas. Dadan tetap duduk terdiam di kursinya, ia memperhatikan Arif yang terlihat buru-buru meninggalkan ruangan. “Aku beruntung, Arif pergi duluan,“ gumamnya.
                Dadan tersenyum kegirangan, wajahnya cerah dengan mata berbinar senang. Seakan terlepas dari beban yang sedari kemarin menggelayuti pikirannya. Sebagaimana biasanya, Dadan langsung menuju halaman sebelah barat sekolahnya. Ia segera mendorong sepedanya menuju gerbang sekolah. Wajahnya terus saja lurus ke arah gerbang. Entah kenapa, gerbang yang hanya berjarak 50 meteran dari halaman barat sekolahnya, kali ini terasa sangat jauh. Matanya hanya fokus memandang gerbang yang ditujunya. Ia tak memperhatikan setiap orang yang berpapasan dengannya.
“Dan, mau kemana?” Tiba-tiba terdengar seseorang menyapanya. Bagaikan disambar geledek di siang bolong. Dadan sungguh mengenali suara tersebut, yang tiada lain adalah Arif. Terlihatlah Arif sedang mengangkut meja persis di hadapannya.
Dadan belum sempat menjawab, namun Arif bertanya lagi, “Katanya mau ikut pengajian?”
                Saking malunya, ingin sekali Dadan menutupi seluruh wajahnya dengan tas bututnya. Atau ia kabur melaju sepedanya dengan kecepatan 100 km per jam. Kabur seketika dari tempat itu. Wajah Dadan memerah, mulutnya terkatup di antara senyum yang tertahan.
                “Eh..., Arif...,” Jawab Dadan. “Ini, Ayahku memintaku untuk langsung pulang,“ Kilah Dadan. Ia berbohong untuk menutupi ingkar janjinya. Padahal tak sedikit pun Ayah berpesan kepadanya untuk segera pulang.
                Arif sangat mengerti kecanggungan temannya. Meskipun temannya telah terbukti mengingkari janjinya, tak sedikit pun ia menampakkan kekecewaan di wajahnya. Ia tetap tersenyum, dengan keringat mengucur dari kedua dahinya.
“Oh gitu, sayang sekali ya...” Jawab Arif seraya menurunkan meja dari atas pundaknya.
                “Padahal pengajiannya tidak akan  lama kok, paling juga maksimal sekitar 1 jam-an,” jelas Arif.
                Dadan diam sejenak, kemudian berkata, “Duh gimana ya Rif, kasihan ayahku, nanti ia ga ada yang bantu.” Dadan sangat berharap, alasan membantu ayah pasti bisa meluluhkan hati Arif. Padahal, dari sejak ayahnya membuka usaha cuci motor, ia tak pernah membantunya sama sekali.
                 “Iya ya..., kasihan juga beliau,” Jawab Arif.
                Meskipun ada keraguan dan ketidaktegaan di hati Dadan saat mendengar respon Arif, tetapi ia merasa senang. Pikirnya, ia telah sukses mengelabui temannya. 
“Iya Rif, kasihan ayahku, mungkin lain kali ya..?” kata Dadan.
                 “Iya deh ga apa-apa Dan, lain kali saja,“ Jawab Arif. “Hati-hati di jalan Dan, santai saja bawa sepedanya!” lanjut Arif.
                Arif menyodorkan tangan kanannya, mengajak Dadan bersalaman. Seranya berkata, “Salam ya untuk ayahmu. Semoga kita bisa menjadi amal jariyah untuk kedua orang tua kita, Assalamu’alaikum!”
Dadan menepis semua keraguannya. Seraya menjawab, “wa ‘alaikum salam...”, sambil menyambut tangan Arif yang sudah menunggu.
“Maksud perkataanmu barusan apa ya Rif?” Tanya Dadan sebelum melepaskan tangan temannya. Sepertinya ada sesuatu yang membuat ia penasaran.
                “Perkataanku yang mana?” Arif malah balik bertanya.
“Itu tuh menjadi amal jariyah untuk orang tua kita?” jawab Dadan.
                “Oh itu, maksudku adalah menjadi anak shalih yang selalu mendo’akan orang tua kita,“ Jawab Arif.
Arif terdiam sejenak, kemudian melanjutkan penjelasannya.
“Amal jariyah itu adalah amal yang pahalanya akan terus mengalir, meskipun orangnya sudah wafat sekalipun. Amal jariyah ada tiga, ilmu yang bermanfaat, shadaqoh jariyah dan anak shalih yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya.” Jelas Arif.
“Kita sama-sama tahu diri. Sebagai anak, tentu kita belum dan bahkan tidak bisa membalas semua pengorbanan orang tua kita.” sambungnya.
                Dadan mulai menyimak penjelasan Arif dengan seksama. “Lalu, dengan apa kita membalas mereka Rif?” Dadan semakin penasaran.
                “Tentunya, dengan menjadi anak shalih yang selalu mendo’akan mereka,” jawab Arif dengan mantap.
                “Bagaimana caranya itu Rif?” Dadan bertanya lagi.
                Arif tidak langsung menjawab pertanyaan Dadan. Ia pun melepaskan jabatan tangannya, kemudian merangkul bahu Dadan seraya menepuknya pelan. Kemudian menatap wajah Dadan dengan penuh senyuman.
Arif lalu berkata,“InsyaAllah, caranya dengan kita  taat sepenuhnya kepada Allah. Kemudian berdo’a memintakan ampunan dan kebaikan untuk kedua orang tua kita.”
                Dadan pun diam termenung, apa yang disampaikan Arif ini seolah baru saja ia dengar. Selama ini ia hanya berpikir bahwa hanya uanglah yang dapat membalas setiap pengorbanan orang tuanya. Karena itulah, ia bermimpi bisa kerja di tempat yang enak dengan gaji yang tinggi. Kemudian, ia bahagiakan ayahnya yang setiap hari membanting tulang untuknya.
“Sudah dulu ya Dan, kasihan ayahmu di rumah menunggu.” ucap Arif memecah kesunyian. “Jangan lupa, salam buat ayahmu ya..., nanti kapan-kapan aku mampir ke rumahmu, “ lanjutnya.
                “Eh iya Rif, makasih ya atas ilmunya,” jawab Dadan.
                Arif tersenyum, lalu berkata, “iya, sama-sama, assalamu’alaikum...”.
Setelah mengucapkan salam yang kedua kalinya, Arif langsung mengangkat kembali meja yang tadi ia turunkan sejenak.  
                “Wa ‘alaikum salam..”, Jawab Dadan seraya menatap Arif yang pergi meninggalkannya.
Dadan pun mengayuh sepedanya menjauhi gerbang sekolah.
                Sepanjang perjalanan Dadan terus saja berpikir, ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
                “Arif...Arif, sungguh polos sekali sikapmu,“ Gumam Dadan. “Tetapi, mengapa aku mesti berdusta ya?” Dadan bertanya berkali-kali di dalam hati.
Di tengah kayuhan sepedanya, hati Dadan terus saja dipenuhi pertanyaan atas sikap dirinya sendiri. Sampai-sampai terbersit sebuah pertanyaan, sampai kapan ia akan menghindari ajakan Arif. Padahal selama ini ia sering merasakan kegelisahan dalam hidupnya. Pikirannya terus saja menerawang. hingga ia tak lagi fokus ke jalan yang sedang dilaluinya.
“TEET !” Sebuah klakson mobil mengagetkannya. “Sialan Lu ! Naik sepeda makin ke tengah saja!” umpat pengemudi mobil truk tak bermuatan yang melaju kencang.
Dadan sungguh kaget, sepeda yang dinaikinya langsung oleng ke arah selokan pinggir jalan. Tapi, untung saja ia masih bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Jantung Dadan berdegup kencang, wajahnya putih memucat pasi seakan darah di wajahnya hilang menguap. Sungguh ngeri membayangkan jika dirinya tersenggol truk yang melaju kencang tadi.  
Dadan diam sebentar, ia masih memegang sepedanya. Termenung di pinggir jalan, ia semakin teringat setiap perkataan Arif. Bagaikan menyusun puzzle, pikirannya menyusun setiap langkah perjalanan hidupnya. Dadan terus saja berpikir.
“Selama ini aku selalu merepotkan orang tuaku,” pikirnya.
“Bagaimana aku bisa beramal jariyah untuk mereka, sedangkan aku selalu menjauhi agama?” Tanyanya dalam hati.
Susunan puzzle pengalaman hidupnya ia susun dalam benak. Termasuk kejadian yang barusan hampir mencelakainya. Lalu, ia berkata, “Aku harus berubah! Kapan lagi jika bukan sekarang, mumpung aku belum mati !”
Di tengah perhentiannya itu, Dadan lalu memutar sepedanya kembali ke arah sekolah. Seraya berucap mantap, “Bismillah!”

-------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar