Minggu, 18 Oktober 2015

#Secercah Hidayah di Surau Sekolah# 2

(Cerita Fiksi)

Ajakan yang Menggelisahkan

“Teeet....!” Bel sekolah berbunyi.
Siswa dan siswi SMA Sambongpari Kota Tasikmalaya berhamburan keluar, tak terkecuali Dadan.
   “Aduh, panas sekali hari ini!” Keluhnya. “Tapi, ndak apalah, ada Nasi Padang kesukaanku menanti di rumah, “ ia menghibur dirinya.
Tak terasa, air liurnya hampir saja menetes, membayangkan Nasi Padang kesukaannya. Suasana yang panas terik seakan langsung menjadi adem. Musim kemarau belakangan ini, memang membuat cuaca di Kota Resik menjadi terasa lebih panas dari biasanya.

Dadan langsung menuju ke halaman sebelah barat sekolah. Tempat ia biasa menyimpan sepedanya.
Sesaat sebelum beranjak pergi dengan sepeda merahnya, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil.
“Hei..., hei...!”
Dadan berhenti, menolehkan wajah ke arah orang yang memanggilnya.
“Oh, ya. Kamu memanggilku?” Tanya Dadan. Kedua alisnya mengangkat dengan dahi mengerut.  Terlihat di hadapannya seorang siswa yang berpakaian dengan sangat rapih.
Belum sempat siswa tersebut menjawab. Dadan masih bertanya lagi.
“Ada perlu apa Rif?” Lanjut Dadan. Ia memang mengenali siswa tersebut, karena ia teman satu kelasnya.
“Iya, manggil kamu dong Dan.“ Jawab Arif. “Tak kirain kamu belum kenal aku?” Tanya Arif dengan penuh senyuman.
“Masa sih aku ga kenal kamu.” Jawab Dadan dengan membalas senyuman Arif.
“Kamu kan yang kemarin ikut lomba pidato SMA tingkat Kota Tasikmalaya itu kan?” Tanya Dadan.
“Masa ga kenal, kan beberapa kali kamu dipanggil keluar kelas oleh Pak Randi.” Jelasnya.
“Oh iya ya...,” Jawab Arif malu-malu. Ia tak menyangka, jika siswa baru pendiam ini mengenali dirinya.
“Pak Randi memanggilku berkali-kali untuk latihan pidato di ruang guru”, Arif melanjutkan ucapannya.
“Terus gimana, menang lomba pidatonya?” Tanya Dadan penasaran, seraya kembali berjalan pelan sambil mendorong sepedanya.
Dengan tersenyum lebar, Arif menjawab, “Alhamdulillah, dapat pengalaman berharga.”
Arif berjalan mengiringi Dadan.
“Juara berapa?” Dadan penasaran.
“Belum...” Arif berhenti sejenak. “Peserta lain banyak yang jauh lebih bagus dariku. Tapi aku senang kok.” Jelas Arif.
“Ga juara kok senang...” Dadan menimpalinya dengan agak ketus.
Arif tersenyum, lalu berkata, “Dan, Allah Swt itu tidak hanya melihat hasil. Tetapi Ia juga menilai prosesnya.”
Dadan termenung dengan penjelasan Arif, ia belum memahaminya.
“Maksudnya gimana Rif?” Obrolan mereka semakin akrab, Dadan seakan mulai lupa dengan Nasi Padangnya.
“Iya, dalam pandangan manusia, apa yang aku lakukan mungkin tidak ada hasilnya.” Jawab Arif. “Tetapi selama aku menjalani proses persiapan, latihan kemudian pidato ketika lomba. Allah pasti melihatnya.” Lanjutnya.
Dadan mendengarkan ucapan Arif dengan seksama.
“Dan InsyaAllah, Allah yang akan menilainya. Adapun hasil, itu sudah merupakan Taqdir.” Jelas Arif. “Kita harus qonaah” Lanjutnya. Tangan Arif mulai beraksi, bak Pak Randi ketika menjelaskan materi Pelajaran Agama Islam.
“Wah..ga ngerti aku. Apa itu taqdir dan qonaah” Dadan mengernyitkan dahi, pertanda ia serius menyimak. Ingin sekali ia banyak berbicara dengan Arif, tapi perutnya mulai terasa lapar.
“Eh, tapi kamu tadi manggil aku untuk apa?” Tanya Dadan kembali ke pencetus obrolan akrab mereka.
“Oh iya ya,” Kata Arif sambil garuk-garuk dan tersenyum. “Besok, Rohis mau mengadakan acara pengajian dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam. Kamu hadir ya?” Arif bertanya sambil memegang pundak Dadan. Anak ini memang suka sok akrab, tetapi biasanya orang suka luluh dengan ajakannya.
“Kamu kan belum aktif di eks kul manapun. Ayolah, bantu-bantu di Rohis.” Arif melanjutkan ajakannya.
“Deg !”, Jantung Dadan serasa berhenti berdetak. Dadan tiba-tiba terdiam. Ia malah mempercepat langkah menuju gerbang sekolah.
“Kenapa kamu tiba-tiba diam Dan?” Arif keheranan. “Aku minta maaf ya, jika ada kata-kataku yang menyinggungmu.” Arif menjadi kikuk dengan perilaku Dadan.
“Ga, ga apa-apa kok Rif.” Jawab Dadan singkat.
Arif semakin penasaran, “Oh ya sudah jika ga ada apa-apa, tapi kamu bisa hadir kan?” Tanya Arif.
“Eh...eh...” Mulut Dadan terkatup kelu. Serasa berat untuk berucap. Tetapi obrolan akrab mereka sedari tadi, membuyarkan keraguan Dadan untuk menjawab pertanyaan Arif.
“Aku sebetulnya malu.” Jawab Dadan pelan.
“Malu kenapa Dan?” Arif semakin penasaran.
“Aku...aku....” Lidah Dadan terasa keras, tenggorokannya pun laksana tersekat benda padat. Dengan sangat pelan, Dadan menjelaskan berkata : “Aku tidak bisa membaca Al Quran.”
Wajah Dadan memerah, tampak sekali ia malu karena pengakuannya.
Arif mengerti dengan kondisi lawan bicaranya. Ia pun berusaha membesarkan hati Dadan.
“Oh, besok itu hanya acara pengajian kok Dan.” Jelas Arif. “Tidak ada tes baca tulis Al Quran. Lanjutnya sambil mengusap-usap punggung temannya. Dengan tersenyum, Arif melanjutkan penjelasannya,
“Kita hanya duduk dan mendengarkan saja kok Dan. Tidak lebih dari itu.” Ucap Arif.
“Jadi, kamu bisa hadir ya?” Tanya Arif kembali.
“Beneran Rif, tidak akan disuruh membaca Al Quran?” Dadan seolah tidak percaya.
“Insya Allah, pasti tidak ada. Aku jamin. Kan aku ketua panitianya.” Jawab Arif.
Dadan sebetulnya tetap malu untuk hadir. Karena, selain tidak bisa membaca Al Quran. Ia juga sudah lupa kapan terakhir ia melaksanakan shalat. Seingatnya, ia terakhir shalat pada saat akan diwisuda TPA, sekitar 5 tahun yang lalu, itu juga karena acaranya di samping masjid. Sehingga, banyak sekali bacaan-bacaan shalat yang sudah ia lupakan. Akan tetapi, ia tidak enak juga jika harus menolak ajakan Arif. Masa untuk duduk dan mendengarkan saja ia tidak mau hadir.
Melihat temannya kebingungan, Arif lalu berkata, “Dan, semua manusia itu menjalani proses. Dan Allah Swt pasti menilai semua prosesnya.”
Kata-kata ini bukan datang dari seorang Jamil Azzaini atau seorang Mario Teguh, atau para motivator tingkat nasional lainnya. Tetapi, tutur kata Arif yang tenang membuat kalimat itu serasa penuh makna. Hati Dadan pun luluh untuk menerima ajakan Arif.
“Iya deh, aku pasti hadir.” Jawab Dadan. “Tapi...” Lanjutnya dengan ragu.
“Tapi apa Dan?” Tanya Arif.
“Beneran tidak akan disuruh membaca Al Quran ya?” Tanya Dadan belum yakin.
“InsyaAllah..., tidak akan, aku jamin....” Arif menjawabnya dengan penuh keyakinan.

======

Tidak ada komentar:

Posting Komentar