Jumat, 23 Oktober 2015

Al Haqiiqah dan Al Majaz

(Makna Hakiki dan Majazi dalam Bahasa Arab)1)

Inilah penjelasan mengenai makna hakiki dan majazi yang penulis kutip dari kitab At-Taysiir fii Ushuli t-tafsiir.2) hal. 16-17.  Al ‘alim Atha Ibnu Khalil Abu Ar-Rasytah rahimahullahu ta’ala menjelaskan sebagai berikut :

Dengan menelaah bahasa Arab yang telah dibakukan, jelaslah bahwa sumber-sumber Arab menyebutkan dan mengartikan lafadz-lafadz mereka dalam empat jenis3) :

Pertama, Al-Haqiiqah, yang terdiri dari tiga bentuk :
    a. Al-Haqiiqah Al-lughawiyyah: Yakni, makna yang ditempatkan untuk suatu lafadz berdasarkan asal penempatannya dalam bahasa Arab. Seperti lafadz ra’sun untuk manusia atau hewan adalah bagian tubuh yang paling atas.

  b. Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah:  Yakni, makna yang ditransformasikan terhadap suatu lafadz berdasarkan penggunaan ‘urf (adat/kebiasaan) Arab, sebagai pengganti makna yang ditempatkan sebagai asalnya. Seperti penyebutan lafadz Ad-Daabbah untuk setiap yang berjalan dengan empat kaki berdasarkan ‘urf (adat/kebiasaan). Merupakan pengganti makna bahasa, atas “setiap yang merayap di muka bumi”. Maka penggunaan kalimat Ad-Daabbah merupakan Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah untuk hewan yang berkaki empat. Ini dinamakan Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah Al-‘ammah, yakni berdasarkan adat/kebiasaan Arab secara umum.
Ada pula Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah Al-‘khashshah dalam istilah para sastrawan, seperti penggunaan lafadz al-faa’il terhadap siapapun/apapun yang disandarkan perbuatan terhadapnya (pelaku perbuatan) di kalangan ulama nahwu.

  c. Al-Haqiiqah Asy-syar’iyyah: Yakni, makna yang ditransformasikan untuk suatu lafadz berdasarkan syara’. Seperti lafadz ash-sholat untuk ucapan dan aktifitas yang khusus, sebagai pengganti makna bahasa yang berarti do’a.

Kedua, Al-Majaaz
Al-Majaaz adalah mengabaikan al-haqiiqah (makna hakiki) dalam penggunaan lafadz. Makna lain yang digunakan selain makna hakiki berdasarkan qarinah (indikasi) berikut :

     a.  Terdapat penghalang untuk menggunakan makna hakiki karena suatu hubungan (‘alaqoh)
Dinamakan majaz mursal apabila hubungannya tidah mempunyai persamaan, seperti “yaj’aluuna ashoobi’ahum fii aadzaanihim” (Al Baqarah : 19). Maka penyebutan keseluruhan (al ‘ashoobi/jari-jemari’), sedangkan yang dimaksud adalah sebagian ujung jari. Hal ini dinamakan al ‘alaqoh al kulliyyah.
Dinamakan Majaz aqli apabila hubungannya itu tidak disandarkan pada selain hakikat. Misal dalam kalimat “Bana al-amiiru l-madiinah” (Sang pemimpin telah membangun kota). Kegiatan membangun kota disandarkan kepada al-amiir (Pemimpin), padahal nyatanya kegiatan pembangunan tidak dilakukan oleh pemimpin tersebut.
Kemudian dinamakan Isti’aaroh jika ada hubungan persamaan. Misal dalam kalimat “sho’udat ila ro’si l-jabali” (naik ke puncak gunung). Penyebutan al-ro’su (kepala) untuk bagian teratas gunung sama dengan penyebutan al-ro’su (kepala) secara hakiki, yaitu bagian teratas badan.
Adanya indikasi dalam semua kalimat tersebut mencegah maksud makna aslinya. Jari-jemari tidak masuk ke telinga seluruhnya, Sang Pemimpin pun tidak terjun langsung membangun kota serta gunung tidak memiliki kepala.   

     b.  Tidak terdapat penghalang untuk menggunakan makna hakiki.
Hal ini dinamakan Al-kinayah (metomini terj.). Contohnya kalimat (na’uumu adl-dluha) sebagai kinayah terhadap pemudi yang dimanja dan dilayani di rumahnya. Dalam hal ini, tidak ada indikasi yang menghalangi maksud makna hakikinya, karena pemudi tersebut bisa jadi benar-benar tidur di waktu dluha.

Diterjemahkan oleh Ary Herawan, 11 Muharram 1437 H.
  1. Judul bukanlah terjemahan, judul bab dalam kitab aslinya adalah Al lughatu l-Arabiyyah.
  2. Kitab Tafsir karya Asy-Syaikh Al ‘Alim ‘Atha Ibnu Khalil Abu Al-Rasytah (Amir Hizbut Tahrir saat ini), Darul Umah, Beirut, 2006 (ed. Mu’tamadah).
  3. Dua jenis lafadz lainnya, yaitu Al Isytiqoq dan at-Ta’rib, insyaAllah akan diterjemahkan kemudian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar