(Makna Hakiki dan Majazi dalam Bahasa
Arab)1)
Inilah
penjelasan mengenai makna hakiki dan majazi yang penulis kutip dari kitab At-Taysiir
fii Ushuli t-tafsiir.2) hal. 16-17. Al ‘alim Atha Ibnu Khalil Abu Ar-Rasytah rahimahullahu
ta’ala menjelaskan sebagai berikut :
Dengan menelaah bahasa
Arab yang telah dibakukan, jelaslah bahwa sumber-sumber Arab menyebutkan dan
mengartikan lafadz-lafadz mereka dalam empat jenis3) :
Pertama, Al-Haqiiqah,
yang terdiri dari tiga bentuk :
a. Al-Haqiiqah Al-lughawiyyah:
Yakni, makna yang ditempatkan
untuk suatu lafadz berdasarkan asal penempatannya dalam bahasa Arab. Seperti
lafadz ra’sun untuk manusia atau hewan adalah bagian tubuh
yang paling atas.
b. Al-Haqiiqah
Al-‘urfiyyah: Yakni, makna yang
ditransformasikan terhadap suatu lafadz berdasarkan penggunaan ‘urf
(adat/kebiasaan) Arab, sebagai pengganti makna yang ditempatkan sebagai
asalnya. Seperti penyebutan lafadz Ad-Daabbah untuk setiap yang berjalan
dengan empat kaki berdasarkan ‘urf (adat/kebiasaan). Merupakan pengganti
makna bahasa, atas “setiap yang merayap di muka bumi”. Maka penggunaan kalimat Ad-Daabbah
merupakan Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah untuk hewan yang berkaki empat. Ini
dinamakan Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah Al-‘ammah, yakni berdasarkan
adat/kebiasaan Arab secara umum.
Ada
pula Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah Al-‘khashshah dalam istilah para
sastrawan, seperti penggunaan lafadz al-faa’il terhadap siapapun/apapun yang
disandarkan perbuatan terhadapnya (pelaku perbuatan) di kalangan ulama nahwu.
c. Al-Haqiiqah
Asy-syar’iyyah: Yakni, makna yang ditransformasikan untuk suatu lafadz
berdasarkan syara’. Seperti lafadz ash-sholat untuk ucapan dan aktifitas
yang khusus, sebagai pengganti makna bahasa yang berarti do’a.
Kedua, Al-Majaaz
Al-Majaaz
adalah mengabaikan al-haqiiqah (makna hakiki) dalam penggunaan
lafadz. Makna lain yang digunakan selain makna hakiki berdasarkan qarinah
(indikasi) berikut :
a. Terdapat penghalang untuk menggunakan
makna hakiki karena suatu hubungan (‘alaqoh)
Dinamakan
majaz mursal apabila hubungannya tidah mempunyai persamaan, seperti “yaj’aluuna
ashoobi’ahum fii aadzaanihim” (Al Baqarah : 19). Maka penyebutan
keseluruhan (al ‘ashoobi/jari-jemari’), sedangkan yang dimaksud adalah
sebagian ujung jari. Hal ini dinamakan al ‘alaqoh al kulliyyah.
Dinamakan
Majaz aqli apabila hubungannya itu tidak disandarkan pada selain hakikat.
Misal dalam kalimat “Bana al-amiiru l-madiinah” (Sang pemimpin telah
membangun kota). Kegiatan membangun kota disandarkan kepada al-amiir
(Pemimpin), padahal nyatanya kegiatan pembangunan tidak dilakukan oleh pemimpin
tersebut.
Kemudian
dinamakan Isti’aaroh jika ada hubungan persamaan. Misal dalam kalimat “sho’udat
ila ro’si l-jabali” (naik ke puncak gunung). Penyebutan al-ro’su (kepala)
untuk bagian teratas gunung sama dengan penyebutan al-ro’su (kepala)
secara hakiki, yaitu bagian teratas badan.
Adanya
indikasi dalam semua kalimat tersebut mencegah maksud makna aslinya.
Jari-jemari tidak masuk ke telinga seluruhnya, Sang Pemimpin pun tidak terjun langsung
membangun kota serta gunung tidak memiliki kepala.
b. Tidak terdapat penghalang
untuk menggunakan makna hakiki.
Hal
ini dinamakan Al-kinayah (metomini terj.). Contohnya kalimat (na’uumu
adl-dluha) sebagai kinayah terhadap pemudi yang dimanja dan dilayani di
rumahnya. Dalam hal ini, tidak ada indikasi yang menghalangi maksud makna
hakikinya, karena pemudi tersebut bisa jadi benar-benar tidur di waktu dluha.
Diterjemahkan oleh Ary Herawan, 11 Muharram 1437 H.
- Judul bukanlah terjemahan, judul bab dalam kitab aslinya adalah Al lughatu l-Arabiyyah.
- Kitab Tafsir karya Asy-Syaikh Al ‘Alim ‘Atha Ibnu Khalil Abu Al-Rasytah (Amir Hizbut Tahrir saat ini), Darul Umah, Beirut, 2006 (ed. Mu’tamadah).
- Dua jenis lafadz lainnya, yaitu Al Isytiqoq dan at-Ta’rib, insyaAllah akan diterjemahkan kemudian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar