“Aku anak sehat,
tubuhku kuat. Karena ibuku, rajin dan cermat. Semasa aku bayi, slalu diberi
ASI, makanan bergizi dan imunisasi...”
Lantunan syair lagu tersebut
terus terngiang-ngiang di telinga ini. Sekitar satu jam terus berulang sambil menunggu
peresmian Posyandu di dekat rumah. Maklum, sebagai pengurus RW, saya diundang
hadir pada acara tersebut.
Berbicara tentang kesehatan anak.
Semua orang tua tentu menginginkan anak yang sehat. Sedikit saja anak terlihat
sakit, tentu kita akan membawanya berobat. Anak yang sehat akan mudah
beraktifitas, mudah belajar dan tumbuh berkembang dengan baik. Siapa pun, tidak
ada yang menafikan akan pentingnya kesehatan.
Kriteria sehat tentu tidak hanya
fokus ke badan semata. Tidak sedikit orang yang sehat secara fisik, tetapi ia
lemah secara pikir. Di antara para pembaca, tentu pernah merasakan grogi. Terus
terang, saya pernah merasakannya. Saat itu, masih kelas 3 SD. Saya diminta untuk
mengikuti ajang lomba pidato. Ketika naik panggung, mendadak badan menggigil,
jantung berdebar kencang, suara bergetar, penglihatan pun mendadak kabur dan
tidak fokus. Semua itu terjadi bukan karena saya tidak sarapan Tetapi hanya
karena di kepala ini ada rasa takut akan cemoohan dan penilaian orang lain.
Takut karena isi pikiran sendiri.
Sehat, tentu dibutuhkan oleh fisik
dan pikir. Begitu pula dengan anak-anak kita. Bila kita meresapi kisah Thalut,
raja yang dipilih oleh Allah Swt untuk meruntuhkan kekejaman rezim Jalut. Allah
Swt menegaskan bahwa ia adalah orang yang memiliki ilmu dan fisik yang kuat. (basthotan
fil ilmi wal jismi) . Fisiknya mampu menghadapi berbagai rintangan di medan
peperangan. Pikir-nya juga tidak mudah tertekan dengan berbagai strategi musuh.
Sehingga, bila kita menginginkan anak yang sehat. Tentu tidak hanya fisiknya
saja, tetapi juga pikir-nya.
Antara pikiran yang mempengaruhi fisik,
atau fisik yang mempengaruhi pikiran, masih debatable. Kedua teori ini
berkembang baik di dunia kedokteran tradisional maupun modern. Ada yang
mengatakan orang menderita maag karena pikiran. Karena pikiran akan memicu
produksi asam lambung yang berlebih. Tetapi, ada juga yang mengatakan
sebaliknya. Justru, lambung yang bermasalah membuat orang mudah gelisah dan tidak
bisa tidur. Akhirnya pikirannya melayang kesana-kemari, sehingga menjadi beban.
Masing-masing memiliki argumentasi. Tetapi yang pasti, keduanya saling
berkaitan. Oleh karena itu, baik fisik maupun pikir, keduanya harus sehat.
Tidak ada yang memungkiri,
kesehatan fisik ditunjang oleh suplai makanan dengan gizi yang seimbang.
Karbohidrat, protein, vitamin dan mineral semuanya dibutuhkan oleh tubuh. Akan
tetapi, tidak cukup suplai makanan saja. Untuk sehat secara fisik, anak-anak
kita juga membutuhkan gerak. Rasulullah Saw menekankan pada olahraga dan
permainan fisik. Semisal beladiri, berkuda, memanah, berenang dan sebagainya.
Selain untuk membangun kekuatan,
olahraga fisik juga bermanfaat untuk menumbuhkan keberanian dan keahlian. Kuat
(secara fisik, pen) saja, tetapi tak mempunyai keberanian dan keahlian akan
sia-sia.1) Selain itu, untuk menumbuhkan keberanian sejak dini,
berbagai aktifitas penuh tantangan juga perlu diperkenalkan kepada anak-anak.
Semisal mendaki, berkemah dan sebagainya.
Adapun sehat pikiran bukanlah
semata sehat otaknya. Karena aktifitas berpikir adalah proses yang melibatkan
empat komponen. Yaitu, fakta (objek), alat indera, otak dan informasi
sebelumnya (yang tersimpan di otak).2) Sebagaimana otak yang sehat membutuhkan
suplai gizi yang baik, tentu ia juga membutuhkan suplai informasi yang baik. Sebagai
contoh, kita tentu sering melihat aksi para da’i cilik. Bagi mereka, pidato di
hadapan kamera dan penonton, tidaklah menakutkan. Tentu karena ia diberikan suplai
informasi yang baik dan mencukupi, tentang bagaimana tampil dihadapan audiens. Otaknya
disuplai dengan berbagai informasi yang bergizi.
Jenis informasi yang bergizi
untuk anak sangat beragam bentuknya. Berbagai kisah tauladan para Nabi dan
Rasul, kisah-kisah heroik para pahlawan, termasuk ketekunan para ulama dan cendekiawan
adalah informasi yang bergizi untuk membentuk anak-anak yang sehat pikirnya. Dalam
benak anak, akan terbentuk keinginan yang kuat untuk menjadi sukses. Selain
itu, tentu dibarengi juga dengan kesiapan menghadapi berbagai rintangannya.
Anak juga belajar menyuplai
informasi dari penerimaan para orang tua. Tuntutan untuk sukses di berbagai
bidang secara sempurna, tentu akan menjadi beban tersendiri bagi anak. Apalagi,
jika tidak ada sedikit pun penerimaan orang tua tanpa 100% kesuksesan anak. Sang
anak akan merasa tidak diterima, dalam benaknya akan terbentuk bahwa aku adalah
orang yang tidak pernah sukses. Mohammad Fauzil Adhim menyampaikan bahwa banyak
remaja mengalami masalah psikologis bukan karena otaknya tidak cerdas dan
wajahnya mengenaskan tetapi karena penerimaan dirinya yang kurang baik.3)
Pada saat Ummu Fadhl merenggut
anaknya secara kasar karena pipis di pangkuan Rasulullah Saw. Beliau Saw
menegurnya dengan mengatakan: “Pakaian ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi
apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini karena renggutanmu yang
kasar?”. Kisah ini menunjukkan bahwa sikap kita adalah sumber informasi bagi
anak. Sikap kasar tentu akan menjadi informasi yang tidak bergizi, sikap yang
lembut penuh cinta tentu akan menjadi informasi yang bergizi.
Penulis pernah berdialog dengan
salah seorang konsultan perkembangan anak. Ia sangat prihatin dengan berbagai
informasi kriminalitas yang sering ditampilkan di televisi. Menurutnya, hal itu
akan memberikan informasi yang berbahaya anak-anak. Pada taraf tertentu, berbagai
informasi negatif itu akan membentuk rasa takut yang berlebihan. Bahkan, anak bisa
menjadi takut dan merasa susah untuk menjadi sukses.
Anak sehat tentu membutuhkan fisik
yang sehat. Kesehatan fisik bisa dengan suplai gizi dan olah raga fisik. Adapun
untuk pikir-nya, tentu membutuhkan informasi yang baik-baik. Informasi itu bisa
terekam dari apa yang dia dengar, baca, amati dan rasakan. Oleh karena itu,
mari sehatkan anak-anak kita juga dengan berbagai informasi yang menyehatkan.
Daftar Bacaan :
1)
Irawati Istadi,
Mendidik dengan Cinta, 2014.
2)
Lih. Taqiyuddin An
Nabhani, At Tafkir (Hakekat Berpikir, Terj.)
3)
Mohammad Fauzil Adhim,
Saat Berharga untuk Anak Kita, 2009.
Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.... Generasi bangsa sehat saat ini adalah wujud bangsa kuat di masa yang akan datang :)
BalasHapusSiip :-)
HapusTrims sudah mampir Bang...