Rabu, 07 Oktober 2015

Anak Sehat Fisik dan Pikir

“Aku anak sehat, tubuhku kuat. Karena ibuku, rajin dan cermat. Semasa aku bayi, slalu diberi ASI, makanan bergizi dan imunisasi...”

Lantunan syair lagu tersebut terus terngiang-ngiang di telinga ini. Sekitar satu jam terus berulang sambil menunggu peresmian Posyandu di dekat rumah. Maklum, sebagai pengurus RW, saya diundang hadir pada acara tersebut.

Berbicara tentang kesehatan anak. Semua orang tua tentu menginginkan anak yang sehat. Sedikit saja anak terlihat sakit, tentu kita akan membawanya berobat. Anak yang sehat akan mudah beraktifitas, mudah belajar dan tumbuh berkembang dengan baik. Siapa pun, tidak ada yang menafikan akan pentingnya kesehatan.

Kriteria sehat tentu tidak hanya fokus ke badan semata. Tidak sedikit orang yang sehat secara fisik, tetapi ia lemah secara pikir. Di antara para pembaca, tentu pernah merasakan grogi. Terus terang, saya pernah merasakannya. Saat itu, masih kelas 3 SD. Saya diminta untuk mengikuti ajang lomba pidato. Ketika naik panggung, mendadak badan menggigil, jantung berdebar kencang, suara bergetar, penglihatan pun mendadak kabur dan tidak fokus. Semua itu terjadi bukan karena saya tidak sarapan Tetapi hanya karena di kepala ini ada rasa takut akan cemoohan dan penilaian orang lain. Takut karena isi pikiran sendiri.

Sehat, tentu dibutuhkan oleh fisik dan pikir. Begitu pula dengan anak-anak kita. Bila kita meresapi kisah Thalut, raja yang dipilih oleh Allah Swt untuk meruntuhkan kekejaman rezim Jalut. Allah Swt menegaskan bahwa ia adalah orang yang memiliki ilmu dan fisik yang kuat. (basthotan fil ilmi wal jismi) . Fisiknya mampu menghadapi berbagai rintangan di medan peperangan. Pikir-nya juga tidak mudah tertekan dengan berbagai strategi musuh. Sehingga, bila kita menginginkan anak yang sehat. Tentu tidak hanya fisiknya saja, tetapi juga pikir-nya.

Antara pikiran yang mempengaruhi fisik, atau fisik yang mempengaruhi pikiran, masih debatable. Kedua teori ini berkembang baik di dunia kedokteran tradisional maupun modern. Ada yang mengatakan orang menderita maag karena pikiran. Karena pikiran akan memicu produksi asam lambung yang berlebih. Tetapi, ada juga yang mengatakan sebaliknya. Justru, lambung yang bermasalah membuat orang mudah gelisah dan tidak bisa tidur. Akhirnya pikirannya melayang kesana-kemari, sehingga menjadi beban. Masing-masing memiliki argumentasi. Tetapi yang pasti, keduanya saling berkaitan. Oleh karena itu, baik fisik maupun pikir, keduanya harus sehat.

Tidak ada yang memungkiri, kesehatan fisik ditunjang oleh suplai makanan dengan gizi yang seimbang. Karbohidrat, protein, vitamin dan mineral semuanya dibutuhkan oleh tubuh. Akan tetapi, tidak cukup suplai makanan saja. Untuk sehat secara fisik, anak-anak kita juga membutuhkan gerak. Rasulullah Saw menekankan pada olahraga dan permainan fisik. Semisal beladiri, berkuda, memanah, berenang dan sebagainya.

Selain untuk membangun kekuatan, olahraga fisik juga bermanfaat untuk menumbuhkan keberanian dan keahlian. Kuat (secara fisik, pen) saja, tetapi tak mempunyai keberanian dan keahlian akan sia-sia.1) Selain itu, untuk menumbuhkan keberanian sejak dini, berbagai aktifitas penuh tantangan juga perlu diperkenalkan kepada anak-anak. Semisal mendaki, berkemah dan sebagainya.

Adapun sehat pikiran bukanlah semata sehat otaknya. Karena aktifitas berpikir adalah proses yang melibatkan empat komponen. Yaitu, fakta (objek), alat indera, otak dan informasi sebelumnya (yang tersimpan di otak).2) Sebagaimana otak yang sehat membutuhkan suplai gizi yang baik, tentu ia juga membutuhkan suplai informasi yang baik. Sebagai contoh, kita tentu sering melihat aksi para da’i cilik. Bagi mereka, pidato di hadapan kamera dan penonton, tidaklah menakutkan. Tentu karena ia diberikan suplai informasi yang baik dan mencukupi, tentang bagaimana tampil dihadapan audiens. Otaknya disuplai dengan berbagai informasi yang bergizi.

Jenis informasi yang bergizi untuk anak sangat beragam bentuknya. Berbagai kisah tauladan para Nabi dan Rasul, kisah-kisah heroik para pahlawan, termasuk ketekunan para ulama dan cendekiawan adalah informasi yang bergizi untuk membentuk anak-anak yang sehat pikirnya. Dalam benak anak, akan terbentuk keinginan yang kuat untuk menjadi sukses. Selain itu, tentu dibarengi juga dengan kesiapan menghadapi berbagai rintangannya.

Anak juga belajar menyuplai informasi dari penerimaan para orang tua. Tuntutan untuk sukses di berbagai bidang secara sempurna, tentu akan menjadi beban tersendiri bagi anak. Apalagi, jika tidak ada sedikit pun penerimaan orang tua tanpa 100% kesuksesan anak. Sang anak akan merasa tidak diterima, dalam benaknya akan terbentuk bahwa aku adalah orang yang tidak pernah sukses. Mohammad Fauzil Adhim menyampaikan bahwa banyak remaja mengalami masalah psikologis bukan karena otaknya tidak cerdas dan wajahnya mengenaskan tetapi karena penerimaan dirinya yang kurang baik.3)  

Pada saat Ummu Fadhl merenggut anaknya secara kasar karena pipis di pangkuan Rasulullah Saw. Beliau Saw menegurnya dengan mengatakan: “Pakaian ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini karena renggutanmu yang kasar?”. Kisah ini menunjukkan bahwa sikap kita adalah sumber informasi bagi anak. Sikap kasar tentu akan menjadi informasi yang tidak bergizi, sikap yang lembut penuh cinta tentu akan menjadi informasi yang bergizi.

Penulis pernah berdialog dengan salah seorang konsultan perkembangan anak. Ia sangat prihatin dengan berbagai informasi kriminalitas yang sering ditampilkan di televisi. Menurutnya, hal itu akan memberikan informasi yang berbahaya anak-anak. Pada taraf tertentu, berbagai informasi negatif itu akan membentuk rasa takut yang berlebihan. Bahkan, anak bisa menjadi takut dan merasa susah untuk menjadi sukses.  

Anak sehat tentu membutuhkan fisik yang sehat. Kesehatan fisik bisa dengan suplai gizi dan olah raga fisik. Adapun untuk pikir-nya, tentu membutuhkan informasi yang baik-baik. Informasi itu bisa terekam dari apa yang dia dengar, baca, amati dan rasakan. Oleh karena itu, mari sehatkan anak-anak kita juga dengan berbagai informasi yang menyehatkan.   

Daftar Bacaan :
        1)                Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, 2014.
        2)                Lih. Taqiyuddin An Nabhani, At Tafkir (Hakekat Berpikir, Terj.)

        3)                Mohammad Fauzil Adhim, Saat Berharga untuk Anak Kita, 2009. 

2 komentar:

  1. Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.... Generasi bangsa sehat saat ini adalah wujud bangsa kuat di masa yang akan datang :)

    BalasHapus