Ashhabul Ukhdud (Orang-orang yang membuat parit) dicela oleh Allah
Swt dalam Q.S. Al Buruuj[85]: 4, yang artinya : “Binasalah orang-orang yang
membuat parit”. Mereka adalah para pembesar Najran di Yaman yang hidup di
antara masa Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad Saw. Allah sangat mencela mereka
karena tindakan keji mereka terhadap kaum mukmin. Mereka memaksa kaum mukmin
untuk meninggalkan keimanannya. Tetapi karena kaum mukmin memegang teguh keimanannya,
para pembesar tersebut pun membuat
parit-parit yang besar. Mereka lalu membakar seluruh kaum mukmin di dalam
parit-parit tersebut.1)
Imam Al Qurthubi menceritakan kisahnya di dalam al Jami’ li Ahkam Al
Quran, beliau mengutip sebuah hadits yang cukup panjang dari Shuhaib r.a.
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, serta dikeluarkan oleh Imam At Tirmidzi.
Rasulullah Saw menceritakan bahwa pada masa sebelum masa Beliau dan para
shahabat r.a., ada seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir. Ketika Sang
tukang sihir merasa sudah tua, ia pun berkata kepada Sang raja: “Sesungguhnya
aku sudah tua, carikanlah aku seorang pemuda, supaya aku bisa mengajarkan sihir
kepadanya.” Lalu diutuslah seorang pemuda untuk belajar sihir kepadanya.
Di suatu perjalanan menuju tukang sihir, Sang pemuda bertemu dengan
seorang Rahib, kemudian ia duduk dan menyimak perkataannya, ia pun merasa
takjub terhadapnya. Akhirnya, setiap kali ia hendak menemui tukang sihir, ia
pun mampir untuk belajar kepada Sang rahib. Sehingga ketika ia datang ke tukang
sihir, ia dipukul (karena terlambat, pen.). Sang pemuda pun mengadukan hal
tersebut kepada Sang rahib. Sang rahib pun berkata : “Jika engkau khawatir
terhadap kepada tukang sihir, katakanlah bahwa keluargamu telah menahanmu.
Adapun jika engkau khawatir terhadap keluargamu, katakanlah bahwa tukang sihir
telah menahanmu.” Maka teruslah ia seperti itu.
Pada suatu waktu ada seekor binatang buas -dalam riwayat lain disebutkan
binatang tersebut adalah singa- yang menghalangi aktifitas para penduduk. Maka
ia pun berkata :”Pada hari inilah aku akan tahu mana ajaran lebih utama, tukang
sihir ataukah rahib?” Ia pun mengambil sebuah batu, lalu berkata : “Ya Allah,
jika ajaran yang disampaikan rahib lebih engkau cintai dibandingkan tukang
sihir, maka bunuhlah binatang buas ini sehingga penduduk bisa beraktifitas kembali.”
Maka, ia pun melempar binatang tersebut, hingga binatang tersebut tewas dan
penduduk pun bisa beraktifitas kembali. Sang pemuda pun menemui rahib lalu
menceritakan kejadian tersebut. Sang Rahib berkata :”Wahai anakku, saat ini
kamu lebih hebat dariku. Urusanmu telah sampai pada apa yang aku pandang. Sungguh
nanti Engkau akan menemui cobaan (bencana), jika engkau terkena cobaan tersebut
maka janganlah engkau menunjuk aku.”
Pemuda tersebut pun dapat mengobati penyakit buta dan kusta. Ia pun
mengobati berbagai penyakit yang diderita manusia. Hal itu terdengar oleh
seorang pejabat raja. Ia telah buta. Ia datang dengan membawa hadiah yang
banyak, lalu berkata :”Semua hadiah ini untukmu, jika kau bisa menyembuhkanku”.
Sang pemuda pun menjawab : “Aku tidak bisa menyembuhkan siapapun, hanya
Allah-lah yang menyembuhkan. Maka jika engkau beriman kepada-Nya, lalu memohon
kepada-Nya. Ia pasti akan menyembuhkanmu.” Sang pejabat pun beriman kepada
Allah, kemudian Allah menyembuhkannya.
Ketika Sang pejabat menemui raja, lalu duduk sebagaimana yang lainnya.
Sang raja pun bertanya : “Siapa yang telah mengembalikan penglihatanmu?” Ia pun
menjawab : “Tuhanku”. Raja bertanya:”Kamu punya Tuhan selain aku?” Pejabat pun
menjawab : “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Maka Sang raja pun menyiksanya,
dan tak berhenti siksaannya sampai ia menunjuk kepada Sang pemuda. Lalu
didatangkanlah Sang pemuda, kemudian raja pun berkata kepadanya : ”Hai anakku,
apakah telah sampai sihirmu pada sesuatu yang bisa menyembuhkan penyakit buta
dan kusta? Lalu engkau lakukan dan lakukan kembali?” Sang pemuda menjawab: ”Aku
tidak menyembuhkan siapapun, yang menyembuhkan hanyalah Allah.” Sang raja pun
menyiksanya, dan tak berhenti siksaannya sampai ia menunjuk kepada Sang rahib.
Kemudian didatangkanlah Sang rahib. Dikatakanlah kepadanya, “Kembalilah kamu
kepada agamamu!” Akan tetapi ia tetap menolaknya, hingga digergaji kepalanya.
Lalu didatangkanlah Sang pejabat. Dikatakanlah kepadanya, “Kembalilah kamu
kepada agamamu!” Akan tetapi ia pun sama menolaknya, hingga digergaji
kepalanya. Selanjutnya didatangkanlah Sang pemuda. Dikatakanlah kepadanya “Kembalilah
kamu kepada agamamu!” Ia pun enggan. Maka Sang raja menyuruh sekelompok penjaganya:”Pergilah
kalian dengannya ke sebuah bukit begini dan begitu, naiklah kalian sampai ke
puncaknya, jika ia tidak kembali kepada agamanya lemparkanlah ia (dari puncak,
pen.). Maka pergilah para penjaga membawa pemuda tersebut, menaiki bukit. Sang
pemuda pun berdo’a : “Ya Allah, hentikanlah aku dari mereka sesuai kehendak-Mu!”
Maka bergetarlah bukit dan berjatuhanlah para penjaganya.
Sang pemuda pun kembali menemui raja. Maka berkatalah Sang raja :”Apa
yang menimpa para penjagamu?” Ia menjawab :”Allah telah menyelamatkan aku dari mereka.”
Raja pun menugaskan sekelompok penjaga lainnya, lalu berkata :”Pergilah kalian
dengannya dan bawalah ia dengan perahu yang besar hingga kalian berada di
tengah lautan. Jika ia tidak kembali pada agamanya maka lemparkanlah ia. Mereka
pun pergi membawa pemuda tersebut. Sang pemuda berdo’a :”Ya Allah, hentikanlah
aku dari mereka sesuai kehendak-Mu!” Rusaklah kapal dan tenggelamlah para
penjaganya.
Sang pemuda pun kembali menemui raja. Maka berkatalah Sang raja :”Apa
yang menimpa para penjagamu?” Ia menjawab :”Allah telah menyelamatkan aku dari mereka.”
Sang pemuda lalu berkata kepada raja:”Sesungguhnya engkau tidak akan bisa
membunuhku, hingga engkau mengerjakan apa yang aku perintahkan kepadamu untuk
mengerjakannya.” Raja bertanya :”Apakah itu?” Sang pemuda menjawab:” Kumpulkanlah
orang-orang di suatu tempat, saliblah aku pada sebatang kayu. Ambillah panah
dari kantongku, letakkan pada busurnya. Kemudian katakanlah :”Dengan nama
Allah, Tuhan pemuda ini.” Lalu panahlah aku. Maka jika engkau melakukan semua
itu, engkau dapat membunuhku.
Raja pun mengumpulkan orang-orang di suatu tempat, ia menyalib pemuda itu
pada sebatang kayu. Kemudian ia mengambil panah dan meletakkannya pada
busurnya. Lalu berkata: ”Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.” Ia pun
menarik busur panahnya, lalu memanah Sang pemuda hingga wafat. Orang-orang pun
berkata:”Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini! Kami beriman kepada Tuhan pemuda
ini! Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini! Raja lalu mendatangi mereka,
dikatakanlah kepadanya: ”Apakah Engkau tidak melihat apa yang anda ingatkan?
Sungguh Allah telah menurunkan peringatan melaluimu, orang-orang sungguh telah
beriman.”
Raja pun memerintahkan pembuatan parit-parit di sepanjang jalan, lalu menyalakan
api di dalamnya. Lalu berkata :”Barangsiapa yang tidak kembali pada
agamanya, maka mereka akan memasukkannya ke dalamnya (parit berapi, pen.).”
Orang-orang yang beriman pun masuk ke dalam parit tersebut. Hingga ada seorang
perempuan yang membawa anak kecil. Ia pun merasa ragu memasukinya. Maka
berkatalah anaknya:”Wahai ibuku, bersabarlah engkau, sesungguhnya engkau
berada di atas kebenaran.”2)
Sungguh biadab apa yang dilakukan Sang raja. Kaum mukmin dibunuh hanya
karena keimanannya, baik anak-anak, orang tua, lelaki maupun perempuan. Mereka
dihabisi hanya karena beriman kepada Allah Swt. “Dan mereka tidak menyiksa
orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada
Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (TQS. Al Buruuj[85]: 8).
Inilah kisah penguasa pembantai kaum mukmin yang dicela Allah Swt. Tidaklah
semata-mata Allah Swt mengisahkannya di dalam Al Quran, terkecuali untuk
diambil pelajaran darinya. Karena pada setiap ada seruan Al Haq
(kebenaran), selalu saja ada para penentangnya. Termasuk ketika surat Al Buruuj
diturunkan di Makkah. Rasulullah Saw beserta para shahabat ditimpa fitnah (cobaan)
dari orang-orang kafir. Baik berupa tuduhan, ancaman, siksaan hingga
pembunuhan. Mereka dimusuhi hanya karena keimanan serta ketaatannya kepada
Allah Swt dan Rasul-Nya.
Sejarah juga mencatat berbagai fitnah yang ditimpakan kaum kafir terhadap
kaum mukmin. Ada kisah penyulaan ratusan ribu kaum muslim di Wallachia oleh
Vlad III Dracul The Impaler. Pembantaian kaum muslim di Spanyol oleh Ratu Isabela,
yang terkenal dengan asal-usul topi Sarbenito (topi khas peringatan tahun baru
masehi). Begitu pula kisah pembantaian kaum muslim di Jerusalem oleh “The
European Crussaders” pada tahun 1099 M. Serta masih banyak lagi.
Tidak berhenti pada tataran sejarah semata, kondisi saat ini pun
menunjukkan hal yang sama. Kaum kafir terus menimpakan fitnah terhadap orang-orang
yang beriman. Kekejaman dan pembantaian yang dilakukan penguasa AS, Israel serta
sekutunya di Irak, Afghanistan, Palestina, Suriah dan negeri muslim lainnya
menjadi bukti nyata hal tersebut. Jutaan kaum mukmin telah menjadi korban
kebiadaban mereka. Semua hanya karena keimanan, bukan yang lain. Bahkan isu ISIS,
terorisme, radikalisme, serta fundamentalisme terus menerus ‘digoreng’ Amerika Serikat
(AS) dan sekutunya untuk menyudutkan orang-orang beriman. dengan dalih isu dan
tuduhan tersebut, tidak sedikit kaum mukmin tak berdosa menjadi korban tuduhan,
siksaan dan pembunuhan.
Dalam kondisi seperti ini, kita hendaknya selalu meresapi firman Allah
Swt. Allah Swt mengancam kaum kafir serta menghibur kaum mukmin dengan sebuah janji-Nya.
Firman-Nya, yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan
cobaan kepada kaum mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, kemudian mereka tidak
bertaubat. Maka bagi mereka azab Jahannam yang membakar. Sesungguhnya orang-orang
yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Tuhanmu
benar-benar keras.” (TQS. Al Buruuj[85]: 10-12). Dan Allah Swt pasti menepati janji-Nya.
Oleh karena itu, pada masa-masa penuh fitnah terhadap kaum mukmin seperti
saat ini. Tidak ada yang harus dilakukan oleh kaum mukmin, selain istiqomah di
dalam keimanan serta ketaatan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Bagaimana
hebatnya Abrahah dan pasukannya, ketika Allah Swt menghendaki kebinasaan
atasnya maka binasalah mereka. Begitu pula Fir’aun yang memiliki balatentara
yang banyak, serta Tsamud yang mampu memotong batu-batu besar di lembah. “(Allah)
Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Sudahkah datang kepadamu berita
kaum-kaum penentang. (Yaitu) Fir’aun dan Tsamud.” (TQS. Al Buruuj[85]:
16-18). Setiap pembantai kaum mukmin pasti akan ditimpa kebinasaan, serta
setiap orang yang memegang teguh keimanannya pasti akan mendapatkan kemenangan.
Betapa pun saat ini terlihat hebat di hadapan manusia, seperti AS dan
sekutunya. Mereka bagaikan Ashhabul Ukhdud gaya baru.
Sama seperti Ashhabul Ukhdud, AS dan sekutunya memposisikan kaum mukmin
sebagai musuh yang membahayakan aqidah dan ajarannya. Yakni aqidah sekulerisme,
yang meniadakan peran Tuhan di dalam seluruh aspek kehidupan. Di atas keyakinan
itulah mereka membangun seluruh sistem aturan, kemudian mempropagandakannya ke
seluruh dunia melalui penjajahan. Dalam pandangan mereka, jika kaum mukmin
dibiarkan berkuasa kemudian menerapkan aturan Allah Swt, niscaya berakhirlah kekuasaaan
dan penjajahan yang mereka lakukan di seluruh dunia. Tidak berbeda seperti
kekhawatiran seorang Fir’aun di masa lampau.
Secara syariah, Islam memang berbeda dengan ajaran agama sebelumnya.
Tetapi secara keimanan sama-sama mentauhidkan Allah Swt serta menyeru tunduk
kepada-Nya. Sehingga, apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dalam menghadapi
berbagai fitnah yang menimpanya, tetaplah harus menjadi panduan bagi kita. Meskipun
beliau Saw dan para shahabat radliyallohu ‘anhum ditimpa fitnah yang besar,
tetapi mereka tetap istiqomah. Rasulullah Saw beserta para shahabat r.a. terus berdakwah,
menyeru masyarakat untuk beriman serta tunduk kepada-Nya. Beriman kepada Allah
Swt dan Rasul-Nya serta menerapkan Syariah-Nya. Sehingga tidak ada pilihan bagi
kaum mukmin saat ini, selain terus istiqomah di atas keyakinan Aqidah Islam, serta
menyerukan penerapan seluruh aturan Allah yang terpancar dari aqidah tersebut.
Allah Swt pasti memenuhi janji-Nya untuk memenangkan kaum mukmin. “Dan
di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah.
Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dia-lah Maha Perkasa lagi Maha
Penyayang.” (TQS. Arrum[30]: 4-5). Adapun kebinasaan pasti akan menimpa
kaum kafir, yang senantiasa ingkar dan membangkang terhadap Allah Swt. Sebagaimana yang
Allah Swt tegaskan, yang artinya “Sesungguhnya orang-orang kafir selalu
mendustakan. Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang
didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) di Lauh
Mahfudz.” (TQS. Al Buruuj[85]: 19-22). Maha Benar Allah Swt dengan segala
firman-Nya. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary Herawan,
www.aryherawan.blogspot.com)
Sumber Bacaan :
1)
Lih. Q.S. Al
Buruuj[85]: 1-9
2)
Lih. Al Jami’ li
Ahkam al Qur-an, Al Qurthubi (w. 671 H).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar