Jumat, 12 Januari 2018

Materi Kulwa 5 Mengembangkan Status Menjadi Tulisan



Kita tentu terbiasa membuat status di sosial media. Status-status pernah kita tulis, bisa pula kita kembangkan menjadi sebuah tulisan opini. Misalnya, ketika penyerangan pemerintah Myanmar terhadap muslim etnis Rohingya serta penyerangan Rusia dan rezim Assad terhadap Aleppo, saya menulis status FB (Facebook) berupa tulisan pendek sebagai berikut :

#Kehormatan Muslimah

Pada tahun ke-2 Hijriah. Seorang muslimah dijahili seorang Yahudi Bani Qainuqa. Pakaian muslimah tersebut dikaitkan pada sesuatu, hingga saat muslimah tersebut berjalan, tersingkaplah auratnya.

Gelak tawa pun terdengar dari orang-orang Yahudi yang berada di sekitarnya. Kejadian ini membangkitkan semangat seorang lelaki muslim untuk menjaga izzah umat Islam. Ia pun segera menghampiri dan membunuh pelaku penistaan tersebut. Hal tersebut bukannya membuat kaum Yahudi sadar, mereka malah mengeroyok dan membunuh lelaki muslim tersebut.

Kejadian tersebut sampai kepada Rasulullah Saw. Beliau langsung memerintahkan Hamzah bin Abdul Muthallib untuk melakukan pengepungan ke Bani Qainuqa. Selama 15 hari perkampungan Qainuqa dikepung hingga penduduknya menyerah.

Abdullah bin Ubay bin Salul mengiba belas kasih Rasulullah Saw untuk tidak menghukum Bani Qainuqa. Namun Rasulullah Saw tetap tegas. Beliau menetapkan untuk mengeksekusi Ka'ab bin Al 'Asyraf dan mengusir seluruh Bani Qainuqa. Dengan keputusan yang tegas tersebut, kemuliaan Islam dan kaum muslim terjaga.

Saat ini, bukan hanya satu orang. Ribuan muslimah menjerit dan menangis darah. Ibu-ibu, remaja hingga puteri-puteri kita di Palestina, Rohingya, Afghanistan, Suriah, Irak mencekam dalam ketakutan setiap harinya. Bukan hanya aurat mereka yang disingkap, namun kulit yang menempel pun terancam terkelupas.

Yang mengenaskan, di negeri-negeri Islam lainnya, singkapan aurat bukan lagi hinaan. Budaya kebebasan yang menjangkiti pemikiran, telah menjadikan singkapan aurat menjadi bagian dari gaya hidup. Kehormatan muslimah seolah hanya ternilai dari penampakan fisik semata. Kulit putih, hidung mancung, tinggi badan semampai dan bodi ramping seakan jadi ukuran paten kehormatan seorang muslimah.

Padahal dalam Islam, kehormatan muslimah tergambar dari kepribadiannya, yaitu dari pola pikir dan pola sikapnya. Selama pola pikir dan pola sikapnya distandarisasi dengan ketaqwaan, maka di sanalah jaminan kehormatan seorang muslimah. Wallohu a'lamu bishshowwaab.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)


Status tersebut kemudian saya kembangkan menjadi sebuah tulisan utuh sebagai berikut :

Kehormatan Muslimah

Pada tahun ke-2 Hijriah. Seorang muslimah dijahili seorang Yahudi Bani Qainuqa. Pakaian muslimah tersebut dikaitkan pada sesuatu, hingga saat muslimah tersebut berjalan, tersingkaplah auratnya.

Gelak tawa pun terdengar dari orang-orang Yahudi yang berada di sekitarnya. Kejadian ini membangkitkan semangat seorang lelaki muslim untuk menjaga izzah umat Islam. Ia pun segera menghampiri dan membunuh pelaku penistaan tersebut. Hal tersebut bukannya membuat kaum Yahudi sadar, mereka malah mengeroyok dan membunuh lelaki muslim tersebut.

Kejadian tersebut sampai kepada Rasulullah Saw. Beliau langsung memerintahkan Hamzah bin Abdul Muthallib untuk melakukan pengepungan ke Bani Qainuqa. Selama 15 hari perkampungan Qainuqa dikepung hingga penduduknya menyerah.

Abdullah bin Ubay bin Salul mengiba belas kasih Rasulullah Saw untuk tidak menghukum Bani Qainuqa. Namun Rasulullah Saw tetap tegas. Beliau menetapkan untuk mengeksekusi Ka'ab bin Al 'Asyraf dan mengusir seluruh Bani Qainuqa. Dengan keputusan yang tegas tersebut, kemuliaan Islam dan kaum muslim terjaga.

Saat ini, bukan hanya satu orang. Ribuan muslimah menjerit dan menangis darah. Ibu-ibu, remaja hingga puteri-puteri kita di Palestina, Rohingya, Afghanistan, Suriah, Irak mencekam dalam ketakutan setiap harinya. Bukan hanya aurat mereka yang disingkap, namun kulit yang menempel pun terancam terkelupas.

Yang mengenaskan, di negeri-negeri Islam lainnya, singkapan aurat bukan lagi hinaan. Budaya kebebasan yang menjangkiti pemikiran, telah menjadikan singkapan aurat menjadi bagian dari gaya hidup. Kehormatan muslimah seolah hanya ternilai dari penampakan fisik semata. Kulit putih, hidung mancung, tinggi badan semampai dan bodi ramping seakan jadi ukuran paten kehormatan seorang muslimah.

Padahal dalam Islam, kehormatan muslimah tergambar dari kepribadiannya, yaitu dari pola pikir dan pola sikapnya. Selama pola pikir dan pola sikapnya distandarisasi dengan ketaqwaan, maka di sanalah jaminan kehormatan seorang muslimah.

Allah Swt berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (TQS. Al Hujurat: 13)

Menurut Imam Al Qurthubi, dikisahkan dalam satu riwayat bahwasanya Rasulullah Saw bersabda kepada Tsabit bin Qais bin Syamas. Rasulullah Saw bersabda kepadanya : “Lihatlah ke wajah-wajah kaum yang ada!” Maka Tsabit pun melihatnya. Kemudian Rasulullah Saw bersabda. “Apa yang telah kamu lihat?” Tsabit menjawab, “Aku melihat ada yang berkulit putih, hitam dan merah.” Lalu Rasulullah Saw bersabda,” Sesungguhnya kamu tidak lebih utama dari mereka terkecuali dengan taqwa.” 

Warna kulit, keturunan dan penampilan fisik dalam Islam adalah sesuatu yang bersifat musayyar. Wilayah yang manusia tak bisa memilih sebelumnya, mau tidak mau manusia harus menerimanya. Oleh karena itu, Islam memandang –dan ini adalah keyakinan- bahwa semua itu tidak akan dipertanyakan oleh Allah Swt di akhirat kelak. Sehingga, bagaimanapun indahnya warna kulit, mulianya keturunan dan mulusnya penampilan atau tampilan fisik lainnya yang bukan dalam wilayah pilihan manusia. Semuanya bukanlah penanda kehormatan seorang muslimah.

Islam pun tak memilah-milah ketaqwaan manusia berdasarkan jenis kelaminnya. Lelaki maupun perempuan, selama beriman dan beramal shalih, maka Allah Swt menyediakan kebaikan untuknya di Akhirat kelak.

Inilah pandangan utama Islam terkait kehormatan seorang muslimah. Ketaqwaan menjadi modal utamanya. Sehingga tampilan luar tidaklah tepat jika ada orang yang beranggapan bahwa Islam tak memperhatikan kehormatan seorang muslimah. Bahkan sebaliknya, Islam menjaganya dan menempatkannya dalam kemuliaan derajat. Jauh lebih mulia daripada penempatan dan perlakuan kaum jahiliyyah terhadap kaum wanita sebelum Islam datang.

Tak hanya itu, Islam pun menjaga kehormatan seorang muslimah dari penistaan dan penodaan. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw merupakan contoh utamanya. Saking berharganya kehormatan seorang muslimah, seorang lelaki muslim sampai berani mengambil resiko hingga berkorban nyawa. Bahkan hal ini pun diperkuat oleh Rasulullah Saw yang bertindak tegas terhadap Ka’ab bin Al ‘Asyraf dan kaumnya.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dilakukan pula oleh pemimpin umat Islam yang mengikutinya. Yang sangat heroik dan dikenang sejarah adalah apa yang dilakukan oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah Abu Ishaq (Muhammad Ar-Rasyid). Beliau dibai’at menjadi khalifah pada bulan Rajab 218 H dan wafat pada 19 Rabiul Awwal 227 H.

Pada tahun 223 H, seorang budak muslimah dilecehkan orang Romawi. Pakaiannya disangkutkan pada sebuah paku, sehingga tersingkaplah auratnya. Maka Al-Mu’tashim langsung memerangi negeri Romawi. Imam As-suyuthi mengisahkan bahwa peperangan ini mengakibatkan kerugian yang sangat besar di pihak tentara Romawi. Kerugian Romawi tersebut belum pernah terjadi sebelumnya dan belum pernah dilakukan oleh Khalifah manapun sebelumnya. Al-Mu’tashim telah berhasil menghancurleburkan barisan mereka dan merobohkan benteng pertahanannya, kemudian membebaskan Amuriyah. Pada penyerangan tersebut, 3000 orang tentara Romawi terbunuh dan sekitar 30.000 orang lainnya tertawan.

Begitulah pembelaan Rasulullah Saw dan pemimpin muslim yang mengikuti beliau. Demi membela kehormatan seorang muslimah yang tersingkap auratnya, armada perang pun dikirimkan. Jauh berbeda dengan kondisi saat ini, ribuan kaum muslimah dirusak kehormatannya bahkan dianiaya hingga meregang nyawa, belum ada seorang pun pemimpin yang tergerak untuk mengirimkan pasukan.


Sudahlah paradigma kebebasan yang sekuleristik telah merusak nilai kehormatan muslimah, saat mereka teraniaya pun tak ada pemimpin yang bisa melindunginya. Di negeri yang terlihat damai, tak ada penerapan  syariah yang menempatkan nilai kehormatan muslimah pada kemuliaan. Di negeri yang dijajah secara fisik, tak ada pula khalifah yang bisa menjaga kehormatan muslimah tersebut dari penistaan dan pembunuhan. Tanpa syariah dan khilafah, kehormatan muslimah terbukti telah terabaikan. Masihkah kita menunda penerapannya? Wallohu a'lamu bishshowwaab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar