Kita tentu terbiasa membuat status di sosial
media. Status-status pernah kita tulis, bisa pula kita kembangkan menjadi
sebuah tulisan opini. Misalnya, ketika penyerangan pemerintah Myanmar terhadap
muslim etnis Rohingya serta penyerangan Rusia dan rezim Assad terhadap Aleppo, saya
menulis status FB (Facebook) berupa tulisan pendek sebagai berikut :
#Kehormatan Muslimah
Pada tahun ke-2 Hijriah. Seorang
muslimah dijahili seorang Yahudi Bani Qainuqa. Pakaian muslimah tersebut
dikaitkan pada sesuatu, hingga saat muslimah tersebut berjalan, tersingkaplah
auratnya.
Gelak tawa pun terdengar dari
orang-orang Yahudi yang berada di sekitarnya. Kejadian ini membangkitkan
semangat seorang lelaki muslim untuk menjaga izzah umat Islam. Ia pun segera
menghampiri dan membunuh pelaku penistaan tersebut. Hal tersebut bukannya
membuat kaum Yahudi sadar, mereka malah mengeroyok dan membunuh lelaki muslim
tersebut.
Kejadian tersebut sampai kepada
Rasulullah Saw. Beliau langsung memerintahkan Hamzah bin Abdul Muthallib untuk
melakukan pengepungan ke Bani Qainuqa. Selama 15 hari perkampungan Qainuqa
dikepung hingga penduduknya menyerah.
Abdullah bin Ubay bin Salul
mengiba belas kasih Rasulullah Saw untuk tidak menghukum Bani Qainuqa. Namun
Rasulullah Saw tetap tegas. Beliau menetapkan untuk mengeksekusi Ka'ab bin Al
'Asyraf dan mengusir seluruh Bani Qainuqa. Dengan keputusan yang tegas
tersebut, kemuliaan Islam dan kaum muslim terjaga.
Saat ini, bukan hanya satu orang.
Ribuan muslimah menjerit dan menangis darah. Ibu-ibu, remaja hingga
puteri-puteri kita di Palestina, Rohingya, Afghanistan, Suriah, Irak mencekam
dalam ketakutan setiap harinya. Bukan hanya aurat mereka yang disingkap, namun
kulit yang menempel pun terancam terkelupas.
Yang mengenaskan, di
negeri-negeri Islam lainnya, singkapan aurat bukan lagi hinaan. Budaya
kebebasan yang menjangkiti pemikiran, telah menjadikan singkapan aurat menjadi
bagian dari gaya hidup. Kehormatan muslimah seolah hanya ternilai dari
penampakan fisik semata. Kulit putih, hidung mancung, tinggi badan semampai dan
bodi ramping seakan jadi ukuran paten kehormatan seorang muslimah.
Padahal dalam Islam, kehormatan
muslimah tergambar dari kepribadiannya, yaitu dari pola pikir dan pola
sikapnya. Selama pola pikir dan pola sikapnya distandarisasi dengan ketaqwaan,
maka di sanalah jaminan kehormatan seorang muslimah. Wallohu a'lamu
bishshowwaab.
(Ary H. - Islamic Writer &
Blogger)
Status tersebut kemudian saya kembangkan
menjadi sebuah tulisan utuh sebagai berikut :
Kehormatan
Muslimah
Pada tahun ke-2 Hijriah. Seorang
muslimah dijahili seorang Yahudi Bani Qainuqa. Pakaian muslimah tersebut
dikaitkan pada sesuatu, hingga saat muslimah tersebut berjalan, tersingkaplah
auratnya.
Gelak tawa pun terdengar dari
orang-orang Yahudi yang berada di sekitarnya. Kejadian ini membangkitkan
semangat seorang lelaki muslim untuk menjaga izzah umat Islam. Ia pun segera
menghampiri dan membunuh pelaku penistaan tersebut. Hal tersebut bukannya
membuat kaum Yahudi sadar, mereka malah mengeroyok dan membunuh lelaki muslim
tersebut.
Kejadian tersebut sampai kepada
Rasulullah Saw. Beliau langsung memerintahkan Hamzah bin Abdul Muthallib untuk
melakukan pengepungan ke Bani Qainuqa. Selama 15 hari perkampungan Qainuqa
dikepung hingga penduduknya menyerah.
Abdullah bin Ubay bin Salul
mengiba belas kasih Rasulullah Saw untuk tidak menghukum Bani Qainuqa. Namun
Rasulullah Saw tetap tegas. Beliau menetapkan untuk mengeksekusi Ka'ab bin Al
'Asyraf dan mengusir seluruh Bani Qainuqa. Dengan keputusan yang tegas
tersebut, kemuliaan Islam dan kaum muslim terjaga.
Saat ini, bukan hanya satu orang.
Ribuan muslimah menjerit dan menangis darah. Ibu-ibu, remaja hingga
puteri-puteri kita di Palestina, Rohingya, Afghanistan, Suriah, Irak mencekam
dalam ketakutan setiap harinya. Bukan hanya aurat mereka yang disingkap, namun
kulit yang menempel pun terancam terkelupas.
Yang mengenaskan, di
negeri-negeri Islam lainnya, singkapan aurat bukan lagi hinaan. Budaya
kebebasan yang menjangkiti pemikiran, telah menjadikan singkapan aurat menjadi
bagian dari gaya hidup. Kehormatan muslimah seolah hanya ternilai dari
penampakan fisik semata. Kulit putih, hidung mancung, tinggi badan semampai dan
bodi ramping seakan jadi ukuran paten kehormatan seorang muslimah.
Padahal dalam Islam, kehormatan
muslimah tergambar dari kepribadiannya, yaitu dari pola pikir dan pola
sikapnya. Selama pola pikir dan pola sikapnya distandarisasi dengan ketaqwaan,
maka di sanalah jaminan kehormatan seorang muslimah.
Allah Swt berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا
خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ
لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ
عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal.” (TQS. Al Hujurat: 13)
Menurut Imam Al Qurthubi, dikisahkan
dalam satu riwayat bahwasanya Rasulullah Saw bersabda kepada Tsabit bin Qais
bin Syamas. Rasulullah Saw bersabda kepadanya : “Lihatlah ke wajah-wajah kaum
yang ada!” Maka Tsabit pun melihatnya. Kemudian Rasulullah Saw bersabda. “Apa
yang telah kamu lihat?” Tsabit menjawab, “Aku melihat ada yang berkulit putih,
hitam dan merah.” Lalu Rasulullah Saw bersabda,” Sesungguhnya kamu tidak lebih
utama dari mereka terkecuali dengan taqwa.”
Warna kulit, keturunan dan
penampilan fisik dalam Islam adalah sesuatu yang bersifat musayyar. Wilayah
yang manusia tak bisa memilih sebelumnya, mau tidak mau manusia harus
menerimanya. Oleh karena itu, Islam memandang –dan ini adalah keyakinan- bahwa
semua itu tidak akan dipertanyakan oleh Allah Swt di akhirat kelak. Sehingga,
bagaimanapun indahnya warna kulit, mulianya keturunan dan mulusnya penampilan
atau tampilan fisik lainnya yang bukan dalam wilayah pilihan manusia. Semuanya
bukanlah penanda kehormatan seorang muslimah.
Islam pun tak memilah-milah
ketaqwaan manusia berdasarkan jenis kelaminnya. Lelaki maupun perempuan, selama
beriman dan beramal shalih, maka Allah Swt menyediakan kebaikan untuknya di
Akhirat kelak.
Inilah pandangan utama Islam
terkait kehormatan seorang muslimah. Ketaqwaan menjadi modal utamanya. Sehingga
tampilan luar tidaklah tepat jika ada orang yang beranggapan bahwa Islam tak
memperhatikan kehormatan seorang muslimah. Bahkan sebaliknya, Islam menjaganya
dan menempatkannya dalam kemuliaan derajat. Jauh lebih mulia daripada
penempatan dan perlakuan kaum jahiliyyah terhadap kaum wanita sebelum Islam
datang.
Tak hanya itu, Islam pun menjaga
kehormatan seorang muslimah dari penistaan dan penodaan. Apa yang dilakukan
oleh Rasulullah Saw merupakan contoh utamanya. Saking berharganya kehormatan
seorang muslimah, seorang lelaki muslim sampai berani mengambil resiko hingga
berkorban nyawa. Bahkan hal ini pun diperkuat oleh Rasulullah Saw yang
bertindak tegas terhadap Ka’ab bin Al ‘Asyraf dan kaumnya.
Apa yang dilakukan oleh
Rasulullah Saw dilakukan pula oleh pemimpin umat Islam yang mengikutinya. Yang
sangat heroik dan dikenang sejarah adalah apa yang dilakukan oleh Khalifah
Al-Mu’tashim Billah Abu Ishaq (Muhammad Ar-Rasyid). Beliau dibai’at menjadi
khalifah pada bulan Rajab 218 H dan wafat pada 19 Rabiul Awwal 227 H.
Pada tahun 223 H, seorang budak
muslimah dilecehkan orang Romawi. Pakaiannya disangkutkan pada sebuah paku,
sehingga tersingkaplah auratnya. Maka Al-Mu’tashim langsung memerangi negeri
Romawi. Imam As-suyuthi mengisahkan bahwa peperangan ini mengakibatkan kerugian
yang sangat besar di pihak tentara Romawi. Kerugian Romawi tersebut belum
pernah terjadi sebelumnya dan belum pernah dilakukan oleh Khalifah manapun
sebelumnya. Al-Mu’tashim telah berhasil menghancurleburkan barisan mereka dan
merobohkan benteng pertahanannya, kemudian membebaskan Amuriyah. Pada
penyerangan tersebut, 3000 orang tentara Romawi terbunuh dan sekitar 30.000
orang lainnya tertawan.
Begitulah pembelaan Rasulullah
Saw dan pemimpin muslim yang mengikuti beliau. Demi membela kehormatan seorang
muslimah yang tersingkap auratnya, armada perang pun dikirimkan. Jauh berbeda
dengan kondisi saat ini, ribuan kaum muslimah dirusak kehormatannya bahkan
dianiaya hingga meregang nyawa, belum ada seorang pun pemimpin yang tergerak
untuk mengirimkan pasukan.
Sudahlah paradigma kebebasan yang
sekuleristik telah merusak nilai kehormatan muslimah, saat mereka teraniaya pun
tak ada pemimpin yang bisa melindunginya. Di negeri yang terlihat damai, tak
ada penerapan syariah yang menempatkan
nilai kehormatan muslimah pada kemuliaan. Di negeri yang dijajah secara fisik,
tak ada pula khalifah yang bisa menjaga kehormatan muslimah tersebut dari
penistaan dan pembunuhan. Tanpa syariah dan khilafah, kehormatan muslimah
terbukti telah terabaikan. Masihkah kita menunda penerapannya? Wallohu a'lamu
bishshowwaab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar