[20:05, 12/10/2017] : Assalamu 'alaikum, mohon maaf atas
keterlambatannya. Ada sedikit kendala teknis.
Mari kita buka KulWA Sessi-4 Mudah Menulis Opini ini dengan
bacaan bismillah
Alhamdulillah, wassyukru 'ala ni'amillah, washsholatu
wassalamu 'ala rosulillah, wa 'ala alihi wa ashhabihi wa man wallahu ila yaumil
qiyamah.
Tema KulWA kali ini agak lain, mungkin rekan-rekan belum
tentu mendapatkannya di kelas opini yang lain. Namun sebelum saya mulai, saya ingin
bertanya dulu. Sdh brp banyak yang mempraktekkan 1) Mindmapping 2) 5W+1H, 3)
Belajar secara ATM dan 4) TPE dengan EBI? minimal dalam 3 paragrap. Karena
intinya tulisan opini itu cuma 3 bagian. Fakta, analisa, solusi. Jadi, kalau
kita baru belajar menulis, 3 paragrap bisa menjadi awalan yang sangat baik. 1
paragrap tentang Fakta, 1 paragrap tentang analisa dan 1 paragrap tentang
solusi.
Bagi yang ketinggalan materi, silahkan unduh materi sessi 1
s.d. 3 di www.aryherawan.blogspot.com atau www.berandapembelajar.blogspot.com.
Ya, kita lanjut ke materi. Materi ini saya anggap penting
bagi para penulis muslim.
Menurut rekan-rekan, lebih penting mana antara menulis dan
isi tulisan?
Jika isi tulisannya bagus, tetapi kata-kata yang tertuliskan
kurang tepat maka hasilnya salah paham. Begitu juga jika kata-kata yang
tertuliskan begitu indah, tetapi isi pikirannya sampah maka hasilnya paham yang
salah. Oleh karena itu jika kita memilih berkomunikasi lewat tulisan, menulis
dan isi tulisan sama pentingnya.
Akan tetapi jika ditimbang-timbang, isi tulisan pastinya
berasal dari berbagai ide dan pemikiran yang diadopsi oleh penulisnya. Karena
itulah, mengadopsi ide dan pemikiran yang benar itulah yang utama dilakukan
sebelum menulis. Mengadopsi ide dan pemikiran yang benar itulah yang utama
dilakukan sebelum menulis. Karena, 'pisau' analisis terhadap fakta yang dipakai
oleh para penulis, pastilah berasal dari pemahamannya ketika memandang fakta
tersebut.
teoritis bangets...
Biar ga teoritis, berikut contohnya...
Dengan fakta menyambut tahun baru 2018 yang akan kita hadapi,
bisa dihasilkan banyak tulisan.
Bisa 1) kritikan, 2) dukungan atau pembiaran akan pesta malam
tahun baru. Bisa pula 3) renungan, 4)candaan atau bahkan sekedar 5)
curhat-curhatan. Bisa berupa 6) berita, 7) analisa ataupun hanya sekedar 8)
cerita. Semua tergantung pada apa yang ada dalam isi kepala penulisnya.
Lalu, pemikiran benar seperti apakah yang mesti diadopsi oleh
seorang penulis muslim?
Yang paling utama adalah pemikiran menyeluruh tentang
manusia, alam semesta dan kehidupan serta hubungannya dengan sebelum kehidupan
dan sesudah kehidupan. Pemikiran ini merupakan pemikiran yang paling mendasar.
Inilah yang disebut dengan Aqidah. Ia berkutat pada tiga pertanyaan yang paling
utama, yakni tentang dari manakah kehidupan ini berasal? untuk apakah hidup
ini? Dan akan kemanakah manusia setelah kehidupan ini berakhir?
Saya rasa, ini hanya perasaan saya saja, insyaAllah
rekan-rekan di grup ini sudah bisa memahami jawaban atas ketiga pertanyaan di
atas.
Oleh karena itulah, insyaAllah rekan-rekan di sini punya
modal banyak untuk menulis opini. (masalah dimuat tdk dimuat, insyaAllah di
akhir sessi ini saya akan kasih link tulisan saya sebagai obat penawarnya.)
Jawaban atas ketiga pertanyaan ini akan membentuk keyakinan
yang paling mendasar (Aqidah). Keyakinan mendasar inilah yang akan membentuk
pandangan yang khas terhadap fakta atau kejadian. Pandangan khas inilah yang
biasanya dituangkan menjadi tulisan. Alhasil, dari sudut pandang inilah isi
tulisan menjadi lebih utama dibandingkan cara menulis.
Bukan berarti menulis menjadi tak penting. Namun menulis
hanya membutuhkan pengulangan sedangkan isi tulisan membutuhkan pembenaran hati
dan pembelajaran untuk dapat mengaitkan fakta dengan pemahaman yang tumbuh dari
Aqidah.
Oleh karena itulah di awal sessi ini saya bertanya, siapa
yang sudah membiasakan praktek? karena, menulis hanya membutuhkan pengulangan.
Siapa yang pernah belajar mengemudikan motor? kalau saya waktu diajari, gigi
satu harus kecepatan sekian, baru bisa naik gigi dua, baru bisa naik gigi tiga
dan sebagainya. Kalau pelan tidak boleh gigi tinggi. Ketika sudah biasa
mengemudikan motor, lupa semua teori-teori tersebut. 🙂
semua karena kita terbiasa. Terkadang, teori pun ditabrak.
Menulis membutuhkan pembiasaan mengolah kata. Isi tulisan
membutuhkan keikhlashan, kejujuran hati dan pembiasaan pola pikir.
Sebagai para penulis muslim, tentu pola pikir Islami-lah yang
mestinya tertuang dalam tulisan. Sehingga bisa menghasilkan tulisan yang tak
hanya indah, tetapi lebih dari itu, mengantarkan manusia pada hidayah.
A. Mengenai Menulis
Sebelum saya belajar menulis opini, ada seorang rekan yang
terbiasa menulis. Ketika saya belajar menulis pun, tulisan beliau masih lebih
sering tayang daripada saya. Namun beliau kemudian lama vakum menulis, pas terakhir
saya tanya mengenai menulis. Sekarang jangankan satu paragrap, satu kalimat pun
susah saya tuangkan, kata beliau,
Untuk menghindari kekeliruan dalam menulis, kita hanya
membutuhkan praktek pelajaran bahasa Indonesia waktu sekolah dasar dahulu.
Ingat! praktek pelajaran Bahasa
Indonesia waktu SD
Beneran nih?
Iya bener!
Serius!
Apa itu? ada yang tahu?
Kita hanya membutuhkan praktik menyusun kalimat pola SPOK
(Subjek Predikat Objek Keterangan) atau KSPO, itu saja. Karena pada dasarnya,
pola kalimat bahasa Indonesia hanyalah itu. Jangan sampai Subjek terbaca
sebagai Objek atau sebaliknya. Adapun terkait penggunaan kata predikat yang
tepat, jika kita ragu menggunakannya tinggal kita cari saja maknanya di kbbi
online. InsyaAllah, beres!
Namun yang perlu diingat, menganalisa kalimat dan ketepatan
penggunaan kata ini dilakukan dalam proses editing, ingat, dalam proses
editing. Bukan dalam proses menulis atau writing. Jadi, ketika belajar menulis,
curahkan saja semua pandangan khas yang setiap kita pasti memilikinya. Setelah
semua ide tercurahkan, barulah lakukan perbaikan dalam penulisannya. InsyaAllah
tidak akan maju mundur, atau ketik hapus - ketik hapus.
B. Isi Tulisan
Selayaknya para penulis muslim tak perlu terlena hanya dengan
ketakjuban orang atas keindahan kata-kata yang kita tuliskan. Untuk apa semua
itu jika dengannya para pembaca tak tertunjuki pada kebaikan? Lebih baik isi
tulisan yang mengantarkan pada kebaikan seraya dihiasi dengan kata-kata yang
sederhana tapi mampu meyakinkan.
Oleh karena itu terkait menulis atau isi tulisan, para
penulis muslim punya dua tugas utama. Tak hanya belajar menulis, tetapi belajar
tentang isi tulisan yang akan dituangkan.
ah,,,teori lagi....
Untuk meyakinkan rekan-rekan bahwa isi tulisan adalah sesuatu
yang penting. Saya kutipkan tulisan salah seorang penulis handal di negeri ini. Dalam salah satu
bukunya, dia bercerita tentang negara-negara maju seperti AS sering mengundang
para penulis. Hingga 2014, AS mengundang para penulis dalam program
International setiap tahunnya dengan seleksi yang sangat ketat.
Ketika ia diundang kemudian bertanya kepada panitianya,
jawaban panitianya adalah "mengundang satu penulis lebih beruntung
daripada sepuluh orang bukan penulis."
Mengapa demikian? karena "Untungnya, penulis akan
mengembangkan apa yang ditangkap dan dialami ke dalam tulisan - sedangkan bukan
penulis hanya menyimpannya di dalam angan sebagai wawasan, atau bahkan
melupakannya." (Much. Khoiri, 2013)
Ingat bahwa,
"penulis akan mengembangkan apa yang ditangkap dan dialami
ke dalam tulisan - sedangkan bukan penulis hanya menyimpannya di dalam angan
sebagai wawasan, atau bahkan melupakannya."
Jadi, menurut rekan-rekan para penulis itu diundang terkait
A. Menulis atau B. Isi Tulisan?
Program AS ini bukanlah sekedar tentang menulis, tetap
tentang isi tulisan. Bagaimana supaya berbagai ide dan pemikiran yang diadopsi
AS bisa menular kepada para penulis. Negara kapitalis penjajah seperti AS saja
peduli terhadap isi tulisan, sungguh sangat naif jika kita tidak
memedulikannya.
Jadi, saatnya para penulis muslim untuk peduli terhadap isi
tulisan. Tuliskanlah yang baik atau lebih baik diam. Tuliskanlah kebaikan meski
hanya dalam beberapa kalimat. Saatnya para penulis muslim untuk "Berani
nulis, berani dakwah."
Wallahu al-musta'an.
[21:19, 12/10/2017]: Ada pertanyaan? terlalu serius ya materinya? Mohon maaf jika
agak agitatif dan provokatif...
[21:26, 12/10/2017]: Bagaimana bisa memastikan kalau analisa
kita thd fakta yg diuraikan bisa tepat atau tajam?
[21:27, 12/10/2017]: Semakin berbobot bacaan seorang penulis,
insyaAllah akan semakin tajam analisanya. Biasanya yang pintar analisa di
lisan, akan mudah analisa di tulisan. Ini hanya pembiasaan saja.
[21:26, 12/10/2017]: Klo terkait rms 5w+1H. SPOK
gmn?manfaatin wkt.
[21:29, 12/10/2017]: Penggunaan 5W + 1 H untuk memudahkan
kerangka tulisan, ada di materi sebelumnya bu (Materi 1) ... Ini sebetulnya
hanya untuk membantu saja supa terbiasa terkerangka (tidak baku).
[21:30, 12/10/2017]: Sepertinya perlu ada materi menganalisis
fakta nya agar analisisnya bisa setajam silet...
[21:30, 12/10/2017]: Analisis ini subjektifnya penulis.
InsyaAllah masing-masing sudah ada bekalnya.
[21:33, 12/10/2017]: bagaimana caranya agar kita bisa
mengenali tulisan itu hoax atau tidak?
[21:35, 12/10/2017]: Hoax itu sering berlebihan. Ambil dari
media yang umum saja. Kalau data, ambil dari instansi resmi atau hasil
penelitian.
Menghindari Hoax, cek en ricek. Coba copy paste apa yang
diberitakan ke google. Kalau linknya cuma mengarah ke 1, kemungkinan besar
hoax. Kan nenek moyang kita sudah terbiasa mengecek berita. Makanya dalam ushul
hadits itu sampai ada tingkatan2 khabar...
[21:40, 12/10/2017]: Berarti bagi penulis opini pemula butuh
waktu lama utk buat satu tulisan saja ya?
[21:42, 12/10/2017]: Untuk pemula, iya. Saya ketika belajar
pertama kali, TPE saja tidak hanya sehari dua hari. Saya pandangi tulisan itu
hampir tiap hari selama seminggu, sebelum dikirim ke media. Itu juga masih ada
yang ditolak.
[21:45, 12/10/2017]:
Terakhir, saya ingin memberi obat penawar bagi rekan-rekan yang sudah berusaha
mengirim tulisannya ke media cetak & online, tetapi belum dipilih untuk
tayang.
Ini obat penawarnya, meski hanya sebuah link tulisan. Saya
berharap semoga dapat bermanfaat
http://aryherawan.blogspot.co.id/2015/12/penolakan-batu-asahan-seorang-penulis.html
[21:47, 12/10/2017]: Akhir kata, saya mengucapkan
jazakumullohu khoiron kepada rekan-rekan penulis muslim, khususnya kepada
master Apu Indragiry yang telah memberikan saya kesempatan untuk berbagi
sedikit pengalaman dan pengetahuan.
Mohon maaf atas salah dan khilaf. Kebenaran hanya datang dari
Allah SWT Yang Maha Benar, sedangkan kesalahan adalah murni kekhilafan saya
sebagai insan.
Mari kita tutup dengan hamdalah dan do'a penutup majlis. Wassalamu
'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.
=Ary H.=
(disampaikan dalam KulWA Kelas Opini di Akademi Menulis Kreatif, 10 Desember 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar