(Sebuah Kisah Fiksi)
Malam itu hujan lebat tak biasa. Udara dingin menusuk hingga ke tulang. Namun, semua itu tak menyurutkan Abdul untuk memacu kendaraannya. Di benaknya, hanyalah ada rasa bahagia, saat bisa berkumpul dengan sesama aktifis dakwah. Meskipun, malam itu ia hadir hanya mewakili rekannya di LDK Harisul Islam, yang berhalangan hadir.
Bara semangat, membuat perjalanan menjadi hangat. Abdul tak lagi merasakan kedinginan. Alhamdulillah, ia sampai di lokasi pertemuan. Rekan-rekannya dari LDK lain sudah hadir, termasuk dari LDK Al Ikhlash dan Al Ihsan. Malam itu, adalah agenda fiksasi acara training Kader bersama.
Pada awalnya, pertemuan berjalan biasa. Namun tatkala membahas biaya, para peserta rapat tercengang dengan adanya kekurangan dana sebanyak 230.000,-. Akhirnya, diputuskanlah bahwa seluruh peserta tak diberi konsumsi.
"Sebentar, dari LDK Al Ikhlash siap infak tambahan 150 ribu," ujar Umar, perwakilan dari LDK Al Ikhlash.
"Alhamdulillaah," ucap syukur para peserta rapat.
"Bagaimana dengan Harisul Islam?" Tanya pimpinan rapat.
"Nanti dulu ya, pikir-pikir dulu," Abdul kebingungan. Karena jarak Harisul Islam cukup jauh ke lokasi. Apalagi ada salah seorang utusan tak memiliki kendaraan, lokasi acara yang berada di pedesaan. Mengharuskannya untuk meminjam atau sewa sepeda motor. Begitulah yang berkecamuk di pikiran Abdul.
Belum selesai Abdul menyelesaikan perenungannya. Tiba-tiba, Utsman dari LDK Al Ihsan mengacungkan tangan.
"Dari Al Ihsan siap infak tambahan 100rb rupiah," ujar Utsman.
"Alhamdulillaah," ucap syukur pun kembali terdengar dari para peserta rapat.
"Sebelum rapat ditutup. Sesuai kesepakatan, ini ada uang bensin atau ojek untuk utusan acara besok. Namun besarannya hanya 20rb rupiah," ujar ketua panitia.
Abdul berpikir, 20rb rupiah untuk ongkos ojek? Padahal untuk ke lokasi pedesaan yang jauh seperti itu, ongkos normalnya adalah 50rb. "Ya biarlah, nanti kan ada infak lagi dari teman-teman Harisul Islam," ujar Abdul dalam hati.
Esok harinya, Abdul bertemu dengan sahabatnya, Yusuf, dari LDK Harisul Islam. Persiapan utusan sudah matang.
"Bagaimana, sudah fix utusan yang dari Harisul Islam?" Tanya Abdul.
"Alhamdulillah sudah, tadi ada kekurangan kendaraan. Tapi sudah ada solusi, sewa di Ghani. Sudah dibayar," jawab Yusuf mantap.
"Berapa sewanya? Pastinya murah dong, Ghani kan aktifis Harisul Islam juga" Tanya Abdul.
"Ojek sih, bukan sewa. 80rb. Sudah dibayar," jawab Yusuf.
"Hah, 80rb!" Abdul terkaget.
"Kan biaya ojek normal saja 50rb saja?" Tanya Abdul kembali.
"Kan biaya ojek normal saja 50rb saja?" Tanya Abdul kembali.
"Ga apa-apa, sudah dibayar. Tadi juga sempat ditawar, tapi Ghani tidak berkenan.
Abdul hanya bisa termenung mendengar jawaban Yusuf.
"Sudahlah, jangan jadi pikiran. Bisnis kan tetep bisnis," kata Yusuf.
"Bukan begitu, ini kan acara kita bersama. Suksesnya juga sukses kita bersama. Ya setidaknya, Ghani bisa berbaik hati, meminjamkan motornya tanpa sewa. Semua juga kan demi kesuksesan acara kita," jawab Abdul.
"Satu lagi yang membuat aku sedih, Suf."
"Di saat rekan-rekan LDK lain berlomba-lomba meraih nilai spiritual dengan menambah infak. Anggota LDK kita masih berpikir hanya nilai materi semata. Mengapa ya?" Ucap Abdul.
"Di saat rekan-rekan LDK lain berlomba-lomba meraih nilai spiritual dengan menambah infak. Anggota LDK kita masih berpikir hanya nilai materi semata. Mengapa ya?" Ucap Abdul.
Abdul dan Yusuf pun terdiam. Mereka memikirkan, kemanakah semangat pengorbanan yang selama ini dimiliki rekan-rekan Harisul Islam.
Dalam ketermenungan tersebut, Abdul teringat.
Astaghfirullah, mungkin aku yang tak pernah peduli. Ketika Ghani butuh uang kost, aku ga pernah nanya. Ketika Ghani butuh perlengkapan kuliah, aku ga pernah tanya. Mungkin di saat ini, Ghani memang benar-benar sedang membutuhkan uang.
Hati Abdul menangis, teriris. Bukan karena apa-apa, tetapi karena pengorbanan dirinya yang masih sangat sedikit.
(Tamat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar