(Kisah Fiksi)
Sebuah pagi yang redup, ketika mentari masih bersembunyi kedinginan berselimutkan awan, Abdul duduk santai di teras rumahnya. Secangkir kopi dan sebuah buku sejarah Islam menemani kesendiriannya. Seruput kopi hangat menjadi penyela aktifitas membacanya, setidaknya bisa menyegarkan mata yang lelah.
Membaca buku sejarah, membuatnya menerawang ke salah satu kisah dalam episode buku kehidupannya. Pikirannya sibuk mencari file kisah memori yang sangat menarik baginya.
Saat itu, ia masih kuliah. Di sebuah sore yang cerah, ia kedatangan tamu seorang senior di kampusnya, Mas Andi namanya. Ia adalah salah seorang aktifis Lembaga Dakwah Kampus. Setelah lama berbincang,
"Begitu Mas, saya tidak ada waktu untuk.ikut kajian keislaman di kampus. Waktu saya padat Mas," ujar Abdul menolak ajakan Mas Andi.
"Kuliahmu padat ya? Ga ada liburnya?" Tanya Mas Andi.
"Iya mas, setiap hari aku masuk dari pagi sampai siang," Jawab Abdul.
"Kalo menyempatkan di sela-sela kuliah, bagaimana?" Tanya Mas Andi kemudian.
Sebetulnya Abdul punya luang waktu banyak di sela-sela kuliahnya, antara satu jadwal mata kuliah dengan jadwal berikutnya. Tetapi, ia tidak mau kuliahnya terganggu aktifitas lain. Ia ingin fokus kuliah saja.
"Nggak Mas, kalau kuliah aku ingin fokus kuliah saja. Saya takut mengecewakan orang tua, kalau saya ditanya pas pulang nanti," jawab Abdul kemudian.
"Kalau sore hari bagaimana?" Mas Andi bertanya lagi.
"Aku sibuk les bahasa Mas, saya ingin menyiapkan bekal untuk masuk dunia kerja nanti," jawabnya langsung disertai alasan. "Kan Mas tahu sendiri kalau bahasa Asing sangatlah penting untuk bekal masa depan," lanjutnya.
Mas Andi manggut-manggut tanda mengerti. Setelah berdiam sejenak, ia bertanya kembali, "Bagaimana kalau malam?"
"Mmmmh....," gumam Abdul, ia terdiam sejenak. Lalu menjawabnya, "sibuk Mas, sibuk ngerjakan tugas untuk kuliah pada esok harinya."
"Kalau malam minggu bagaimana? Kan libur tuh," tanya Mas Andi.
"Duh, ga bisa Mas. Saya sering kumpul-kumpul dengan teman kostan. Hari minggunya juga jadwal saya nyuci pakaian," Abdul menutup semua peluang Mas Andi untuk bertanya lagi.
"Oh ya sudahlah kalau begitu," jawab Mas Andi.
"Dul, kamu memang hebat. Benar-benar serius menyiapkan masa depan dengan baik," ujar Mas Andi.
"Iya mas, kalau tidak serius, bagaimana aku dewasa kelak," Jawab Abdul berbangga.
"Itu bagus Dul, keseriusan seperti itu harus dipertahankan. Apalagi kamu juga mengikuti les bahasa Asing sebagai tambahan bekalnya" lanjut Mas Andi.
Abdul semakin senang, Mas Andi mau mengerti dirinya.
"Namun, apakah kamu yakin dan menjamin tetap sehat dan hidup dewasa kelak?" Tanya Mas Andi pelan-pelan.
Abdul belum mengerti arah pertanyaan Mas Andi.
"Maksudnya gimana, Mas?" Tanya Abdul.
"Iya, Abdul menjamin ga bakal hidup sampai usia dewasa? Tahu ga umur Abdul sampai berapa tahun?" Tanya Mas Andi.
"Ya enggak lah, Mas!" Jawab Abdul. "Kematian kan ada di tangan Allah Swt, tidak ada manusia yang tahu ajalnya sampai kapan," lanjutnya seraya tersenyum.
"Tapi, kita pasti mati kan?" Tanya Mas Andi kemudian.
"Iya pasti lah, Mas!" Abdul menjawabnya dengan ringan.
"Nah inilah Dul," Mas Andi berhenti sejenak. Lalu menghela nafas dengan pelan-pelan.
"Iya kenapa Mas?" Abdul penasaran.
"Menjadi dewasa belum pasti dialami, namun ajal dan akhirat pasti kan dialami. Mengapa untuk masa depan yang belum pasti, kita serius menyiapkannya. Sedangkan untuk masa depan yang sudah pasti, bagaimana? Apa bekal yang sudah kita siapkan?" Tanya Mas Andi.
Abdul terhenyak dengan pertanyaan ini. Ia pun bertanya ke dalam dirinya, apa bekal yang sudah ia siapkan untuk masa depan yang sudah pasti. Adakah?
Abdul pun terhenti dari lamunan masa lalunya, ia kembali menyeruput kopinya dan membaca buku sejarah yang ia pegang sedari tadi. Alhamdulillah, Allah Swt memberikan kesempatan hidup hingga ia dewasa. Meskipun bekal hidupnya sampai saat ini masih jauh dari kata cukup. Tapi setidaknya, dengan mengikuti kajian Islam dan dakwah itulah ia belajar untuk menyiapkan bekal untuk masa depan Akhirat yang pasti kan dialami setiap insan.
(Tamat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar