Sekian lama menunggu teman di pinggir jalan. Langsung teringat pada tema sebuah tulisan. Ternyata, daripada menunggu lebih baik menjemput. Meski dalam menunggu pun kita masih bisa mengupayakan berbagai hal yang bermanfaat.
Beda kata beda makna. Tentu beda aktifitas dan berdampak pada hasil yang berbeda pula. Meskipun menunggu dan menjemput sama-sama merupakan kata aktif, tetapi perbuatan yang dilakukan pelakunya tidaklah sama.
Menunggu berarti diam atau pasif menantikan sesuatu. Sedangkan menjemput berarti aktif untuk meraih sesuatu.
Sebagai contoh misalkan rizqi. Meskipun rizqi bermakna pemberian dari Allah Swt. Namun Allah memerintahkan manusia untuk menjemputnya. Dalam Q.S.Al-Jumu’ah Ayat 10, Allah Swt berfirman :
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."
Begitu pula Umar bin Al Khaththab pernah mengusir seseorang yang hanya berdiam diri menanti rizqi. Kemudian ia diberi uang untuk bisa membeli kapak dan berusaha menjemput rizqi.
Rizqi merupakan janji Allah Swt kepada setiap makhluk-Nya. Setiap yang bernyawa pasti dijamin rizqinya oleh Allah Swt. Hanya saja, Allah Swt pun tetap mewajibkan manusia untuk berusaha secara halal. Jadi, upaya itu kewajiban sedangkan hasil itu hadiah dari Allah Swt.
Sedari 1400-an tahun yang lalu. Allah Swt sudah berjanji akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dalam QS. An-Nur : 55 dinyatakan,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٥٥)
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."
Inilah janji Allah Swt yang pasti berlaku dan terjadi. Manusia hanya diminta beriman dan beramal shalih untuk menjemput janji tersebut. Amal shalih yang seperti apa? Tentunya seluruh amal shalih yang mengantarkan pada istikhlaf (penerimaan kekuasaan) terhadap kaum mukmin.
Sebagai bagian dari kaum mukmin, para penulis muslim bisa mengambil bagian. Menjemput janji Allah Swt dengan melakukan dakwah di tengah masyarakat. Dakwah yang menyeru pada Islam semata.
Kita mungkin bisa saja menunggu, sebagaimana yang saya lakukan saat ini. Namun apakah tidak termasuk dalam kelalaian jika hanya bisa menunggu, sebagaimana kelalaian saya meminta no hp supir dan pengusaha rental-nya. Sehingga saya hanya bisa menunggu dan menunggu.
Meskipun aktifitas menulis yang saya lakukan bisa terkategori amal shalih. Namun hal ini tetap tidak berkaitan secara sebab akibat dengan kedatangan mobil jemputan. Amal efektif yang bisa saya lakukan untuk mempercepat mobil rentalan adalah mengupayakan no hp supir secepatnya. Alhamdulillah baru dapat barusan, sudah ditelpon dan ternyata mobilnya baru berangkat.
Semua perkara terjadi sesuai ketentuan Allah Swt. Namun bukan berarti kita tak boleh berupaya maksimal. Justru Allah Swt memuliakam orang-orang yang berupaya dibandingkan orang-orang yang hanya duduk menunggu.
لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (٩٥)
"Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar." (TQS. An-Nisa : 95)
Semoga kita termasuk para penulis pejuang, yang menjemput setiap janji Allah Swt dengan penuh kesungguhan. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar