Sabtu, 15 April 2017

Dimensi Spiritual Isra Mikraj

Peristiwa Isra dan Mi'raj terjadi setelah berbagai kesedihan yang melanda Rasulullah Saw. Di antaranya adalah meninggalnya paman beliau Abu Thalib, yang telah melindungi beliau dari penentangan dan penyiksaan kaum Quraisy. Serta meninggalnya istri beliau, Khadijah r.a. yang terus-menerus menyemangati dakwah Rasulullah Saw. Tahun tersebut dinamakan 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan).

Begitu pun setelah itu, Rasulullah mendapat penolakan dakwah dari Bani Tsaqif di Thaif. Bahkan beliau dan Zaid bin Haritsah r.a. menderita luka-luka akibat lemparan batu.

Di Baitul Maqdis Rasulullah dipertemukan dengan Ibrahim al-Khalil a.s., Musa a.s. dan Isa a.s. yang berada di tengah kumpulan para Nabi. Mereka shalat dan Rasulullah Saw yang mengimaminya. Hal ini pertanda masa depan adalah milik Islam. Para Nabi dan Rasul terdahulu menjadi saksi atasnya.

Ketika beliau Mi'raj ke langit, seolah-olah Allah Swt serta para malaikat menegaskan kepada beliau. Jika bumi terasa sempit olehmu, maka langit telah membuka dadanya untukmu. Jika orang-orang bodoh dan zalim di antara penduduk bumi menyakitimu, maka penduduk langit telah berdiri menyambut kedatanganmu. Dan jika penduduk bumi menghinakanmu, maka kedudukanmu di sisi Allah sangatlah mulia.

Rasulullah Saw mulia karena mengemban dakwah Islam, bukan apapun selainnya. Semoga kita pun bisa mulia dengan mengembannya. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar