Selasa, 11 April 2017

Landasan Penulis Muslim

sumber gambar : www.tribunnews[dot]com

Setiap buah mesti memiliki pohon, dan setiap pohon mesti memiliki akar. Karya para penulis ibarat buah, ia mesti memiliki akar dan pohonnya.

Buah yang baik mesti tumbuh dari pohon dan akar yang baik. Buah yang buruk pasti berasal dari pohon dan akar yang berpenyakit. Atau buah beracun pasti berasal dari tumbuhan beracun.
Akar dan pohon dalam buah karya seorang muslim, ibarat tempat ia bergantung. Dimana ia menyerap berbagai saripati yang memastikan perkembangannya.

Begitu pula untuk dapat terbang tinggi, setiap pesawat membutuhkan landasan. Landasan yang rusak bisa mencelakakan. Pesawat yang berbeda tentu membutuhkan landasan yang berbeda dan khas.
Sebagai pijakan landasan para penulis. Marilah kita renungkan runutan ayat berikut :

وَآمِنُوا بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ ۖ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ (41) وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (42) وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ (43) ۞ أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (44) وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ (45) الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (46)

"Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa
 yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.
Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."
(TQS. Al Baqarah : 41-46)

Landasan penulis muslim adalah keimanan, tidak boleh yang lain. Keimanan ibarat akar yang menghunjam kuat dan akan menumbuhkan pohon yang menjulang tinggi. Ia akan melindungi dan memberi manfaat siapapun yang bernaung di bawahnya.

Para penulis muslim tak boleh tergoda rayuan maut dunia. Yang karenanya ia rela beretorika seraya merendahkan ayat-ayat Allah. Kemudian memelintirnya hingga membela kekufuran.
Para penulis muslim pun terlarang untuk menyamarkan al haq dan al bathil, atau mencampuradukkannya sehingga tak ada lagi perbedaannya. Terjebak pada ide sinkretisme dan pluralisme seraya mengabaikan ketetapan Ilahiyyah.

Hendaklah para penulis muslim hanya bersandar pada pertolongan Allah. Kekuatan ruhiyyah merupakan hal utama bagi kita. Yakni, kesadaran hubungan kita dengan Allah Swt. Kita tak boleh lupa diri. Menulis kebaikan namun kita yang mengabaikannya atau menulis tentang keburukan namun kita yang melaksanakannya. Na'udzubillahi min dzalik.

Para penulis muslim, marilah menjadi orang-orang yang khusyuk. Serta selalu meyakini bahwa hanya kepada Allah-lah kita akan dikembalikan. Wallahu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar