"Seringkali orang menyatakan cintanya apabila berada dalam keadaan senang, gembira dan menguntungkan. Padahal cinta sejati hanya akan terlihat dalam keadaan sulit, musibah dan tidak menguntungkan. Namun perasaan cinta masih tetap bertahta di hatinya."
Kalimat hikmah ini dituliskan oleh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandhalawi dalam kitab Hikayat Shahabat. Beliau menuliskannya setelah berkisah tentang kecintaan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. kepada Rasulullah Saw.
Dalam suatu momen agenda dakwah terbuka di hadapan masyarakat Makkah. Rasulullah Saw dan para shahabat mengalami penyerangan dan penganiayaan dari para penentang dakwah Islam. Banyak shahabat terluka, termasuk Abu Bakar. Melihat kondisi Abu Bakar yang sangat parah, keluarganya sangat mengkhawatirkannya.
Saat tersadar dalam kondisi yang parah tersebut. Abu Bakar r.a. malaham sama sekali tak mengkhawatirkan dirinya, ia malah menanyakan bagaimana kondisi Rasulullah Saw. Bahkan ia belum mau makan hingga melihat langsung bahwa Rasulullah Saw baik-baik saja.
Begitulah kecintaan Abu Bakar terhadap Rasulullah Saw. Bukan hanya ketika ia bersama Muhammad Saw di saat kondisi tenang dan bahagia. Dalam kondisi sempit pun, Abu Bakar tetap mencintainya.
Begitu pula cinta Mush'ab bin Umair r.a. Kecintaannya terhadap Islam sangat luar biasa. Tidak hanya ketika Allah Swt memberikan kemudahan dakwah di Madinah melalui lisannya. Ia juga mencintai Islam di saat-saat sulit.
Ketika berada dalam kecamuk perang Uhud, Mush'ab tidak mau panji Islam terhinakan. Panji yang bertuliskan dua kalimah syahadah itu tetap ia pertahankan. Meski karenanya ia mesti terluka. Bahkan ia kehilangan anggota badannya, mulai dari lengan kanannya, lalu lengan kirinya hingga tertembus tombak dan syahid di medan Uhud.
Sangat wajar jika para shahabat lebih mengutamakan kaum muslim yang ikut berhijrah serta yang mengikuti perang Badar. Karena kecintaan mereka tetap terbukti ketika dakwah Islam mengalami masa yang sempit. Mereka orang-orang yang tidak berpaling dari Islam, meski dalam hitungan di atas kertas, kondisi terlihat tak berpihak kepada Islam dan kaum muslim.
Sebagai penulis muslim, tentu kecintaan yang utama tetaplah pada Allah Swt, Rasul-Nya serta agama-Nya. Adakah pembelaan kita saat Islam tersudutkan dan penuh fitnah? Ataukah kita hanya akan mencintai Islam di saat-saat gemilang semata?
Misalkan di saat tenang dan damai, kita bersemangat menulis tentang Islam. Namun di saat kondisi sempit, kita tak bersemangat lagi dengannya. Padahal, pecinta sejati tentu mau berkorban untuk yang dicintainya. Saat lapang maupun sempit, menulis tentang Islam tetap menjadi prioritas utama. Tentu bisa dengan jenis karya yang berbeda-beda.
Jadi, nyatakanlah cinta dalam luang dan sempit. Tetap menulislah dan dakwahkan Islam, meski apapun kondisi yang mendera. Karena kemenangan dakwah merupakan hadiah dari Allah Swt bagi orang-orang yang yakin dan istiqomah.
(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)
#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar