Bermula dari kejadian yang memancing ego pribadi di pagi hari. Saat mengantar istri untuk pengajian rutin mingguan. Mampirlah kami di pedagang cakwe keliling, maklum bumil sukanya ngemil.
Karena cakwenya baru saja masuk penggorengan, akhirnya kami tunggu hingga matang. Alhamdulillah tidak ada konsumen lain, sehingga saya berpikir tidak akan menunggu lama. Sembari menunggu 5 bungkus cakwe yang sedang digoreng, saya membeli 2 rapia untuk keperluan lain ke warung seberang. Sedangkan istri tetap menunggu di dekat roda pedagang cakwe.
Betapa kagetnya saya, ketika kembali menghampiri Sang pedagang. Ternyata cakwe yang kami tunggu-tunggu ternyata sudah berada di dalam bungkusan yang dipegang konsumen lain. Padahal sebelum saya pergi, ia tidak sedang memesan atau membeli cakwe.
"Mang ini gimana? Kita menunggu dari awal, mengapa orang lain yang didahulukan?" Tegur saya dengan nada yang agak keras.
Saya sengaja berkata apa adanya supaya Si pedagang dan pembelinya sadar diri. Mereka diam saja. Istri saya cuma senyum-senyum saja. Mungkin ia tidak enak hati terhadap Mang penjual Cakwe dan pembeli yang menyerobot.
Setelah naik motor. Saya bilang ke istri bahwa saya menegur supaya pedagang dan konsumen sama-sama menghargai waktu orang lain. Alasan pembeli yang menyerobot, katanya buru-buru mau bekerja. Padahal istri juga buru-buru mau mengaji. Terlambat di pengajian rutin juga ada arti kehilangan tersendiri, dan bagi kami itu bukan sekedar nilai materi.
Setelah saya mengantar istri, saya pergi ke bengkel motor. Servis, ganti oli dan gardan, itulah tujuan saya. Namun sayang sekali, kartu servisnya tidak saya bawa. Ada terbersit untuk pulang dulu mengambil kartunya. Tetapi mengingat waktu Jumat pagi yang sempit. Sedangkan kalau pulang dulu, saya harus menambah waktu sekitar 25 menit, apalagi sambil bonceng bawa anak di depan, pasti terkena angin. Akhirnya, saya pergi tanpa membawa kartu servis gratis.
Pertimbangan menyingkat waktu itu ternyata tidak gratis. Biaya servisnya dikenai 70rb. Bagi kaum gaji, pada tanggal 31 uang segitu lumayan bernilai juga.
Dari kedua kisah itu, saya mengambil ibrah bahwa waktu itu berharga. Bahkan kita membeli waktu itu dalam setiap detiknya.
Saat kita membeli buku. Sebenarnya kita bukan hanya membeli kertas dan bacaan, hal lain yang kita beli dari buku itu adalah waktu membaca, belajar, menghafal, aktifitas dan pengalaman berharga hingga waktu untuk menuangkan ide yang dimiliki Si Penulis. Dengan membeli buku, kita bisa mengambil ibrah dari waktu hidup dan pengalaman penulisnya.
Hanya saja, tiada yang paling berharga dan menguntungkan untuk membayar waktu selain dengan tiga hal. Yakni iman, amal shalih dan berwasiat dalam kebenaran dan ketaqwaan. (Lih. QS. Al Ashri : 1-3). Termasuk dalam aktifitas membaca dan menulis, selayaknya berporos pada ketiga aktifitas tersebut. Karena jika tidak demikian, kita bisa termasuk orang-orang yang merugi. Wallahu a'lamu bishshawwaab.
(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar