Minggu, 12 November 2017
Nasihat Aqiqah
Senin, 11 September 2017
Mengakhiri Derita
Ada Palestina, Afghanistan, Suriah,
Irak, Xinjiang, Ethiopia, Yaman,
Dan negeri-negeri terjajah lainnya
Membuat air mata seolah tiada keringnya
Bumi pun membasah karena darah
Luka lama bertambah parah
Luka baru datang bertambah
Dan terus bertambah
Merambah pada pengabaian syariah
Lalu berujung pada penghapusan khilafah
Negeri Islam menjadi hidangan mewah
Bancakan para penjajah
Dengan cekikan dan jeratan utang ribawi
Pajak semakin meninggi dari hari ke hari
Kaum asing pendatang bermodal tinggi
Berduyun-duyun menggeser pemilik negeri
Tak ada perisai laksana Umar Abu Hafshah
Tak ada perisai laksana Mu'tashim Billah
Tak ada perisai laksana Abdul Majid yang bermarwah
Menjaga aqidah,
Menjaga setiap jengkal negeri dengan penuh izzah
Negeri untuk seluruh umat
Aturan syariah yang penuh rahmat
Khilafah untuk keadilan seluruh rakyat
Tanpa ada paksaan dan tanpa penindasan
Berbagai keyakinan hidup berkeadilan
Darah kafir ahlu dzimmah pun haram dinoda
Semua hidup di bawah aturan Sang Pencipta
Tanpa penjajahan sesama manusia
Sungguh penghalang kita adalah pikiran kita
Ketika setiap bangsa merasa mulia
Serta berharkat jika menginjak selainnya
atau ingin jadi penginjak?
Apabila terus demikian adanya
Rohingya bukanlah yang terakhir
Mari akhiri derita umat yang terjajah
Dengan khilafah yang menerapkan syariah
Bacaan Surat Pendek Pak Ustadz
Diplomasi Mu'adz bin Jabal
"Bunda, Mengapa Mereka Membenci Kita?"
Rabu, 24 Mei 2017
Perang Gajah di Indonesia
Tulisan ini bukanlah tentang serangan ke Ka'bah yang dipimpin Raja Abrahah, atau peristiwa yang terjadi pada tahun kelahiran Rasulullah Saw. Akan tetapi tentang suatu peribahasa, yakni "Gajah Berperang Pelanduk Mati di Tengah-tengah".
Jika kita mencermati pertarungan ekonomi dunia, terutama pasca pasar bebas, ada pertarungan besar antara dua negara yang terjadi di Indonesia. Yakni, pertarungan antara Amerika dan Tiongkok.
Sejak dekade 60-an abad lalu, Amerika telah khawatir atas munculnya Cina sebagai kekuatan global. Amerika berupaya melemahkan ambisi-ambisi Cina dalam permasalahan-permasalahan regional.
Disamping upaya Amerika untuk membatasi perluasan militeristik Cina, Amerika juga berupaya kuat membangun kemampuan India, baik sipil maupun militer untuk menghadapi Cina. Politik inilah yang digunakan Amerika dengan seluruh pemerintahan di India hingga yang loyal kepada Inggris sekalipun dan bukan loyal kepada Amerika seperti pemerintahan partai Kongres. (Umar Syarifudin, 2016).
Indonesia dengan sumber daya alam melimpah serta jumlah penduduk yang potensial, tak luput dari perebutan dua kekuatan kapitalisme ini. Kehadiran ekonomi China di Indonesia semakin kentara beberapa tahun belakangan ini, terutama setelah beberapa garapan proyek di Indonesia yang diserahkan kepada China (RRT).
Pengaruh Cina di Indoneisa mendominasi dalam dua bidang, yaitu infrastruktur dan perdagangan. Dalam pembangunan infrastruktur, Indonesia memang didominasi oleh Investasi Cina, sebut saja proyek-proyek besar seperti proyek pembangkit tenaga listrik 35.000 mega watt dan kereta cepat Bandung-Jakarta, pembangunannya dilakukan oleh perusahaan Cina. Sedangkan dominasi AS di Indonesia, ada pada bidang pasar keuangan dan pertambangan minerba dan migas. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya sumber-sumber kekayaan alam negeri ini dikuasai oleh AS, seperti Freeport yang telah mengeruk emas di Papua. (Sri Nurhayati, 2016)
Inilah perang gajah yang terjadi di negeri ini, negeri kita sendiri. Alangkah naasnya kita jika hanya berperan sebagai pelanduk, yang mati di tengah-tengah.
Indonesia harus terbebas dari apa yang dikatakan oleh Panglima TNI Gatot Nurmantyo sebagai invisible hand, yakni kekuatan-kekuatan kapitalisme global yang menggurita dan menyerang. Karena tabiat ideologi ini adalah berdiri tegak dengan menginjak bangsa-bangsa lain. Atau bangkit dengan menghisap darah SDA dan SDM negeri lain.
Dengan kekuatan apakah Indonesia membebaskan negeri ini? Tiada lain kecuali dengan kekuatan Islam. Yang saya maksud bukan sekedar Islam dalam tataran ritual semata. Sehingga terkesan solusinya hanyalah kepasrahan dalam sabar dan do'a. Namun memunculkan kembali Islam sebagai ideologi, yakni aqidah rasional yang terpancar darinya berbagai sistem kehidupan.
Islam ideologi akan melahirkan negara ideologis. Sebuah negara yang menerapkan syariah Islam dalam berbagai sendi kehidupan. Sistem pendidikan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem sosial Islam, sistem sanksi Islam hingga yang paling utama yakni sistem pemerintahan Islam atau khilafah islamiyyah. Semua sistem ini berpondasi pada aqidah Islamiyyah, karena pondasi aqidah inilah yang menjadi kekuatan utamanya. Kekuatan ruhiyyah yang berpijak pada kesadaran manusia sebagai hamba Allah Swt. Kekuatan yang telah membuat negara Islam Madinah berdiri tegak di hadapan imperium Persia dan Romawi. Bukan menjadi pelanduk, tetapi menjadi penakluk gajah-gajah yang berperang. Wallohu a'lamu bishshowwaab.
(Ary H. - 11 Shafar 1438 H)
Sabtu, 15 April 2017
Karya Sepanjang Masa
Sore-sore sepulang kerja, anak-anak langsung meributkan mainan barunya. Sebuah kapal-kapalan dari seng dengan bunyi yang khas. Sebuah mainan yang mengingatkan penulis pada masa kecil. Padahal itu berlangsung lebih dari 30 tahun yang lalu.
Karya sepanjang masa. Itulah yang layak disematkan pada mainan tersebut. Sudah melintasi tiga generasi, masih tetap bertahan dan menarik. Penulis menjadi teringat akan buku-buku para ulama serta sastrawan muslim. Berbagai karyanya masih menarik untuk dibaca dan dipelajari hingga saat ini.
Pantas saja orang seperti Hamka sampai menuliskan di dalam buku Sejarah Umat Islam bahwa beliau bercita-cita menerbitkan buah tangan yang lumayan besar. Demi karya besar tersebut, beliau menyusunnya puluhan tahun. Rela membaca ratusan literatur serta menjaga buah karyanya meski harus berpindah-pindah tempat. Terbukti, karyanya kini masih berharga.
Kapal-kapalan dan buku tidaklah sama. Penulis hanya tertarik pada manfaatnya yang sepanjang masa. Ilmu ketika diamalkan dan diajarkan menjadi bermanfaat, sungguh akan menjadi karya sepanjang masa. Bahkan ia bisa menembus sekat-sekat dunia.
Semoga kaum muslim, khususnya para penulis muslim, bisa kembali melahirkan karya-karya sepanjang masa. Sebagaimana peradaban Islam yang telah menelurkan para ulama dan penulis terkenal sepanjang jaman.
Mari berkarya! Semoga Allah Swt memberkahi para penulis muslim dengan ilmu yang bermanfaat. Aamiin.
(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)
#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah
Menyatakan Cinta
"Seringkali orang menyatakan cintanya apabila berada dalam keadaan senang, gembira dan menguntungkan. Padahal cinta sejati hanya akan terlihat dalam keadaan sulit, musibah dan tidak menguntungkan. Namun perasaan cinta masih tetap bertahta di hatinya."
Kalimat hikmah ini dituliskan oleh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandhalawi dalam kitab Hikayat Shahabat. Beliau menuliskannya setelah berkisah tentang kecintaan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. kepada Rasulullah Saw.
Dalam suatu momen agenda dakwah terbuka di hadapan masyarakat Makkah. Rasulullah Saw dan para shahabat mengalami penyerangan dan penganiayaan dari para penentang dakwah Islam. Banyak shahabat terluka, termasuk Abu Bakar. Melihat kondisi Abu Bakar yang sangat parah, keluarganya sangat mengkhawatirkannya.
Saat tersadar dalam kondisi yang parah tersebut. Abu Bakar r.a. malaham sama sekali tak mengkhawatirkan dirinya, ia malah menanyakan bagaimana kondisi Rasulullah Saw. Bahkan ia belum mau makan hingga melihat langsung bahwa Rasulullah Saw baik-baik saja.
Begitulah kecintaan Abu Bakar terhadap Rasulullah Saw. Bukan hanya ketika ia bersama Muhammad Saw di saat kondisi tenang dan bahagia. Dalam kondisi sempit pun, Abu Bakar tetap mencintainya.
Begitu pula cinta Mush'ab bin Umair r.a. Kecintaannya terhadap Islam sangat luar biasa. Tidak hanya ketika Allah Swt memberikan kemudahan dakwah di Madinah melalui lisannya. Ia juga mencintai Islam di saat-saat sulit.
Ketika berada dalam kecamuk perang Uhud, Mush'ab tidak mau panji Islam terhinakan. Panji yang bertuliskan dua kalimah syahadah itu tetap ia pertahankan. Meski karenanya ia mesti terluka. Bahkan ia kehilangan anggota badannya, mulai dari lengan kanannya, lalu lengan kirinya hingga tertembus tombak dan syahid di medan Uhud.
Sangat wajar jika para shahabat lebih mengutamakan kaum muslim yang ikut berhijrah serta yang mengikuti perang Badar. Karena kecintaan mereka tetap terbukti ketika dakwah Islam mengalami masa yang sempit. Mereka orang-orang yang tidak berpaling dari Islam, meski dalam hitungan di atas kertas, kondisi terlihat tak berpihak kepada Islam dan kaum muslim.
Sebagai penulis muslim, tentu kecintaan yang utama tetaplah pada Allah Swt, Rasul-Nya serta agama-Nya. Adakah pembelaan kita saat Islam tersudutkan dan penuh fitnah? Ataukah kita hanya akan mencintai Islam di saat-saat gemilang semata?
Misalkan di saat tenang dan damai, kita bersemangat menulis tentang Islam. Namun di saat kondisi sempit, kita tak bersemangat lagi dengannya. Padahal, pecinta sejati tentu mau berkorban untuk yang dicintainya. Saat lapang maupun sempit, menulis tentang Islam tetap menjadi prioritas utama. Tentu bisa dengan jenis karya yang berbeda-beda.
Jadi, nyatakanlah cinta dalam luang dan sempit. Tetap menulislah dan dakwahkan Islam, meski apapun kondisi yang mendera. Karena kemenangan dakwah merupakan hadiah dari Allah Swt bagi orang-orang yang yakin dan istiqomah.
(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)
#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah
Menunggu atau Menjemput
Sekian lama menunggu teman di pinggir jalan. Langsung teringat pada tema sebuah tulisan. Ternyata, daripada menunggu lebih baik menjemput. Meski dalam menunggu pun kita masih bisa mengupayakan berbagai hal yang bermanfaat.
Beda kata beda makna. Tentu beda aktifitas dan berdampak pada hasil yang berbeda pula. Meskipun menunggu dan menjemput sama-sama merupakan kata aktif, tetapi perbuatan yang dilakukan pelakunya tidaklah sama.
Menunggu berarti diam atau pasif menantikan sesuatu. Sedangkan menjemput berarti aktif untuk meraih sesuatu.
Sebagai contoh misalkan rizqi. Meskipun rizqi bermakna pemberian dari Allah Swt. Namun Allah memerintahkan manusia untuk menjemputnya. Dalam Q.S.Al-Jumu’ah Ayat 10, Allah Swt berfirman :
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."
Begitu pula Umar bin Al Khaththab pernah mengusir seseorang yang hanya berdiam diri menanti rizqi. Kemudian ia diberi uang untuk bisa membeli kapak dan berusaha menjemput rizqi.
Rizqi merupakan janji Allah Swt kepada setiap makhluk-Nya. Setiap yang bernyawa pasti dijamin rizqinya oleh Allah Swt. Hanya saja, Allah Swt pun tetap mewajibkan manusia untuk berusaha secara halal. Jadi, upaya itu kewajiban sedangkan hasil itu hadiah dari Allah Swt.
Sedari 1400-an tahun yang lalu. Allah Swt sudah berjanji akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dalam QS. An-Nur : 55 dinyatakan,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٥٥)
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."
Inilah janji Allah Swt yang pasti berlaku dan terjadi. Manusia hanya diminta beriman dan beramal shalih untuk menjemput janji tersebut. Amal shalih yang seperti apa? Tentunya seluruh amal shalih yang mengantarkan pada istikhlaf (penerimaan kekuasaan) terhadap kaum mukmin.
Sebagai bagian dari kaum mukmin, para penulis muslim bisa mengambil bagian. Menjemput janji Allah Swt dengan melakukan dakwah di tengah masyarakat. Dakwah yang menyeru pada Islam semata.
Kita mungkin bisa saja menunggu, sebagaimana yang saya lakukan saat ini. Namun apakah tidak termasuk dalam kelalaian jika hanya bisa menunggu, sebagaimana kelalaian saya meminta no hp supir dan pengusaha rental-nya. Sehingga saya hanya bisa menunggu dan menunggu.
Meskipun aktifitas menulis yang saya lakukan bisa terkategori amal shalih. Namun hal ini tetap tidak berkaitan secara sebab akibat dengan kedatangan mobil jemputan. Amal efektif yang bisa saya lakukan untuk mempercepat mobil rentalan adalah mengupayakan no hp supir secepatnya. Alhamdulillah baru dapat barusan, sudah ditelpon dan ternyata mobilnya baru berangkat.
Semua perkara terjadi sesuai ketentuan Allah Swt. Namun bukan berarti kita tak boleh berupaya maksimal. Justru Allah Swt memuliakam orang-orang yang berupaya dibandingkan orang-orang yang hanya duduk menunggu.
لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (٩٥)
"Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar." (TQS. An-Nisa : 95)
Semoga kita termasuk para penulis pejuang, yang menjemput setiap janji Allah Swt dengan penuh kesungguhan. Aamiin.
Dimensi Spiritual Isra Mikraj
Peristiwa Isra dan Mi'raj terjadi setelah berbagai kesedihan yang melanda Rasulullah Saw. Di antaranya adalah meninggalnya paman beliau Abu Thalib, yang telah melindungi beliau dari penentangan dan penyiksaan kaum Quraisy. Serta meninggalnya istri beliau, Khadijah r.a. yang terus-menerus menyemangati dakwah Rasulullah Saw. Tahun tersebut dinamakan 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan).
Begitu pun setelah itu, Rasulullah mendapat penolakan dakwah dari Bani Tsaqif di Thaif. Bahkan beliau dan Zaid bin Haritsah r.a. menderita luka-luka akibat lemparan batu.
Di Baitul Maqdis Rasulullah dipertemukan dengan Ibrahim al-Khalil a.s., Musa a.s. dan Isa a.s. yang berada di tengah kumpulan para Nabi. Mereka shalat dan Rasulullah Saw yang mengimaminya. Hal ini pertanda masa depan adalah milik Islam. Para Nabi dan Rasul terdahulu menjadi saksi atasnya.
Ketika beliau Mi'raj ke langit, seolah-olah Allah Swt serta para malaikat menegaskan kepada beliau. Jika bumi terasa sempit olehmu, maka langit telah membuka dadanya untukmu. Jika orang-orang bodoh dan zalim di antara penduduk bumi menyakitimu, maka penduduk langit telah berdiri menyambut kedatanganmu. Dan jika penduduk bumi menghinakanmu, maka kedudukanmu di sisi Allah sangatlah mulia.
Rasulullah Saw mulia karena mengemban dakwah Islam, bukan apapun selainnya. Semoga kita pun bisa mulia dengan mengembannya. Aamiin.
(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)
Selasa, 11 April 2017
Landasan Penulis Muslim
(TQS. Al Baqarah : 41-46)
Minggu, 09 April 2017
Cemburu
Ya Allah,
Ada cemburu mendera,
Kepada insan-insan shalih
yang mendekap erat Islam penuh keistiqomahan
hingga ke ajalnya,
Adapun hamba,
Bilakah kelak demikian adanya?
Ya Allah,
Teguhkanlah hamba
Dalam harap, doa dan upaya
di atas iman yang terhunjam di dada
(Ary H.)
Rindu Rasul
Rinduku mengembun di sudut mata
Memeluk setiap kisah
Mengembara dalam benak
Semua tentangmu adalah indah
Berharap rindu tanda cinta
Membara tanda percaya
Bukan terkagum semata
Cinta yang berbuah amal
Percaya yang berbuah pengorbanan
Hingga berkumpul nanti di Mahsyar
Di bawah panji Rasulullah
(Ary H. - 7 Rajab 1438 H)
#PanjiRasulullah
#IslamRahmatanLilAlamin
