Minggu, 12 November 2017

Nasihat Aqiqah

Nak, mencukur rambutmu adalah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Betapapun lebat, hitam dan indah rambutmu, namun Allah Swt memerintahkan kami untuk mencukurnya.
Nak, jika kita taat kepada-Nya, Dia pasti akan segera menggantinya dengan yang lebih baik. Massa rambutmu akan menjadi ukuran, tentang berapa nilai sedekah yang akan kami keluarkan atas namamu.
Sekali lagi, kamu belajar tentang kehidupan. Bahwa di dunia ini tiada yang abadi. Sebagus apapun milik kita, sebanyak apapun itu, jika Allah Swt menghendaki, semua dapat rusak dan hilang seketika. Kita sebagai makhluk tak bisa lari dari ketetapan Allah Ta'ala. Kita mesti belajar qana'ah dan taat kepada-Nya.
Kelak ketika engkau sudah bisa membedakan baik dan buruk. Karena engkau seorang perempuan maka rambutmu adalah salah satu auratmu, yang harus kamu tutupi ketika engkau berada di ruang publik. Selembar saja rambutmu terlihat di ruang publik, Allah pasti murka. Padahal, kepada siapakah kita bergantung jika bukan kepada-Nya?
Karena itulah, belajar menapaki sunnah, belajar qana'ah serta belajar taat kepada Allah. Itulah yang hendak kami ajarkan kepadamu. Jika kelak kamu sudah besar, kamu pun bisa mengajarkan kembali kepada kami. Karena keluarga itu harus saling menjaga, mengingatkan dan menasihati.
Nak, salam dari kami untukmu. Selamat dunia dan akhiratmu. Aamiin.

Senin, 11 September 2017

Mengakhiri Derita

Derita umat ini bukan hanya Rohingya
Ada Palestina, Afghanistan, Suriah,
Irak, Xinjiang, Ethiopia, Yaman, 
Dan negeri-negeri terjajah lainnya
Membuat air mata seolah tiada keringnya
Bumi pun membasah karena darah
Luka lama bertambah parah
Luka baru datang bertambah
Dan terus bertambah
Bermula dari melemahnya aqidah
Merambah pada pengabaian syariah
Lalu berujung pada penghapusan khilafah
Negeri Islam menjadi hidangan mewah
Bancakan para penjajah
Belum lagi dengan eksploitasi via ekonomi
Dengan cekikan dan jeratan utang ribawi
Pajak semakin meninggi dari hari ke hari
Kaum asing pendatang bermodal tinggi
Berduyun-duyun menggeser pemilik negeri
Tak ada perisai laksana Abu Bakar Sang Khalifah
Tak ada perisai laksana Umar Abu Hafshah
Tak ada perisai laksana Mu'tashim Billah
Tak ada perisai laksana Abdul Majid yang bermarwah
Menjaga aqidah,
Menjaga setiap jengkal negeri dengan penuh izzah
Negeriku negeri Islam
Negeri untuk seluruh umat
Aturan syariah yang penuh rahmat
Khilafah untuk keadilan seluruh rakyat
Tanpa ada paksaan dan tanpa penindasan
Berbagai keyakinan hidup berkeadilan
Ketika darah kaum muslim akan terjaga
Darah kafir ahlu dzimmah pun haram dinoda
Semua hidup di bawah aturan Sang Pencipta
Tanpa penjajahan sesama manusia
Rohingya membuka mata
Sungguh penghalang kita adalah pikiran kita
Ketika setiap bangsa merasa mulia
Serta berharkat jika menginjak selainnya
Sampai kapankah kita terinjak?
atau ingin jadi penginjak?
Apabila terus demikian adanya
Rohingya bukanlah yang terakhir
Mari akhiri derita umat yang terjajah
Dengan khilafah yang menerapkan syariah

Bacaan Surat Pendek Pak Ustadz


“Idza jaa’a nashrullah..!” teriak anak-anak kecil yang berjamaah maghrib di shaf bagian belakang.

Mereka mendahului imam yang masih membaca basmallah sebakda ucapan “Aamiin” para jamaah. Anak-anak seolah sudah mengetahui surat apa yang akan dibaca oleh imam. Ternyata benar, setelah membaca basmallah, imam pun membaca surat yang ditebak oleh anak-anak. Surat An Nashr, surat nomor 110 dalam Al Quran yang terdiri dari 3 ayat.

Aku yang berada di belakang imam pun menduga hal yang sama. Pasti Ust. Salim akan membaca surat tersebut. Kadang aku berpikir, mengapa setiap berjamaah shalat Maghrib, beliau selalu membaca surat tersebut pada raka’at pertama.

“Mengapa ya Ron, Ust. Salim selalu membaca surat tersebut?” Tanyaku kepada Roni, temanku yang sama-sama aktif di Ikatan Remaja Masjid Al Ihsan. Masjid di mana Ust. Salim sering mengimami shalat Maghrib. Imam di masjidku memang ada tiga orang. Ust. Hafidz mengimami shalat Shubuh, Ust. Salim untuk Maghrib dan Isya adapun Ust. Shadiq mengimami Dzuhur dan Ashar.

“Aku juga ga tahu, Dul. Bahkan aku juga bertanya-tanya sama sepertimu.”

“Mengapa ya? Padahal hapalan surat Ust. Salim kan lumayan banyak.”

“Mengapa hanya surat itu saja yang sering beliau baca ketika rakaat shalat Maghrib?”

“Iya, saking rutinnya beliau membaca surat tersebut. Anak-anak saja sampai bisa menebaknya.”

“Apa beliau sudah lupa surat-surat yang lain ya? Hal tersebut dibolehkan oleh Rasulullah atau tidak ya?

Aku dan Roni terus saja bertanya-tanya. Meskipun lama-lama aku berpikir, kok sepertinya pembicaraan kami semakin mengarah pada buruk sangka.

“Sudahlah Ron. Kita akhiri saja perbincangan ini. Ga baik juga kalau kita bertanya-tanya sendiri. Mendingan kita tanya langsung ke beliau, yuk!” Ajakku kepada Roni.

“Kamu saja Dul, aku ngga berani,” kilah Roni.

“Dasar kamu Ron, masak begitu saja ga berani?” tanyaku.

“Kan kamu juga yang bertanya-tanya sedari awal, kalau aku sih ga ada masalah,” jawab Roni.

“Lah, kamu ini. Tadi kamu bilang sama bertanya-tanya sepertiku. Sudahlah biarin saja, ga usah dipikirkan!”

“Ngapain juga nyari jawaban itu, mending kita nyari jawaban PR-nya pak Ahmad untuk dikumpul besok.”

“PR apa tuh?” tanyaku kepada Roni. Sungguh aku lupa kalau ada tugas rumah yang harus dikumpulkan besok.

”Itu, mencari dari manakah asal-usul istilah HOAX berasal. Harus dibuat dalam bentuk tulisan essai.” Jelas Roni.

“Oh yang itu ya? Waduh aku benar-benar lupa, aku pamit dulu ya,” pamitku seraya berlari meninggalkan Roni sendirian di pos Ronda.

Malam pun aku lalui dengan membuat essai untuk tugas pak Ahmad. Namun pikiranku tetap saja melayang ke surat An Nashr yang rutin dibaca Ust. Salim. Aku pun bertanya-tanya, bolehkah hal tersebut jika dilakukan secara terus-menerus. Bukankah surat-surat pendek yang lain pun masih banyak? Pikirku dalam hati. Sebenarnya aku sangat ingin menanyakannya kepada Ust. Salim, namun saat bertemu dengannya, melihat wajahnya saja aku sudah sungkan.

“Mak, boleh ga kalau kita hanya membaca surat tertentu di dalam shalat?” aku bertanya kepada Emak yang sedang menyetrika di kamar.

“Membaca surat tertentu bagaimana maksudmu, Nak?” Emak malah bertanya balik.

“Begini Mak, belakangan ini ust. Salim selalu saja membaca surat An Nashr ketika mengimami shalat Maghrib. Boleh ga Mak?” jelasku.

“Surat-surat pendek yang lain kan masih banyak Mak?” lanjutku.

“Oalah Nak! Itu toh maksudmu?” ujar Emak seraya terus melipat pakaian yang sudah rapih.

“Bukan oalah Mak, boleh ga Mak?” aku semakin penasaran.

“Setahu Emak sih boleh-boleh saja. Setelah membaca Al Fatihah, kita kan diperbolehkan membaca surat yang mudah untuk dibaca,” jelas Emak.

“Tapi, lebih baik kamu tanya sendiri sana ke Ust. Salim! Kan ilmu Emak juga terbatas. Emak ga pernah mesantren,” tutur Emak.

Begitulah sepenggal kisah pertanyaanku kepada Emak. Namun Emak memang tak sepintar pengisi acara “Mamah dan Aa”. Curhatku tak menemukan jawaban, malah tetap berujung pada pertanyaan. Emak malah berpendapat sama dengan Roni, menyuruhku langsung bertanya kepada Ust. Salim. Akhirnya, aku pun lanjut masuk kamar dengan tetap membawa pertanyaan. 

Hari demi hari berlalu, Ust. Salim tetap mengimami shalat Maghrib di masjid kami. Beliau pun tetap dengan surat An Nashr-nya di rakaat pertama. Namun aku tak mau terus menduga-duga. Aku mencari-cari kesempatan supaya bisa menanyakan hal tersebut kepada beliau. Akhirnya, aku pun mendapatkan kesempatan tersebut.

Setelah mengajar anak-anak Diniyah aku pun menunggu adzan Maghrib di dalam masjid. Ya beri’tikaf sejenaklah lumayan setengah jam, pikirku. Tak biasanya, Ust. Salim datang sekitar sepuluh menit sebelum adzan. Ketika melihat beliau masuk masjid, aku pun menyapa dan menyalaminya.

Sesaat sebelum beliau berlalu ke depan, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepadanya “Sebentar ustadz, bolehkah saya bertanya?”

“Oh, boleh saja?” Beliau pun langsung duduk bersender di dinding utara Masjid.

“Mau bertanya tentang apa?” Lanjut beliau.

“Begini ustadz, sebelumnya saya mohon maaf jika pertanyaan saya ini menyinggung pak Ustadz.

“Ga apa-apa Dul, tenang saja,” jawabnya seraya menatapku ramah.

“Pertanyaan ini sebetulnya sudah lama saya pendam, tetapi saya baru bisa menanyakannya kepada ustadz. Kebetulan ketemu ustadz sore ini di masjid,” jelasku agak panjang.

“Iya, pertanyaan apa? Ntar malah keburu waktu Maghrib tiba,” ucapnya.

“Oh iya, ya. Ini pak Ustadz…ehm…” bicaraku agak tersendat.

“Mengapa belakangan ini, pak Ustadz selalu membaca surat An Nashr dalam setiap rakaat pertama shalat Maghrib?” aku menyelingi pertanyaanku dengan senyuman.

“He..he…, maaf lho pak Ustadz. Saking seringnya dibaca, anak-anak sampai hafal.”

Ustadz Salim tak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak sembari tangannya sibuk menjumputi remah-remah sampah di karpet masjid. Begitulah kebiasaannya apabila sedang bicara santai. Sesekali, tangannya melemparkan remah-remah sampah itu ke luar jendela.

“Begini Dul. Bukankah lebih baik jika pengulangan bacaan itu membuat anak-anak menjadi hapal?”

“He..he..Iya sih pak Ustadz,” jawabku seraya tersenyum.

“Tapi, ga masalah ya pak Ustadz kalau kita membaca surat tersebut terus-terusan?” tanyaku kemudian.

“Begini Dul. Pada jaman Rasulullah Saw, ada seorang shahabat Anshar yang sering menjadi imam di masjid Quba. Setiap habis Al Fatihah, ia memulai bacaan surat pendeknya dengan surat Al Ikhlash. Para shahabat yang lain pun memprotesnya namun ia tetap pada pendiriannya. Permasalahan tersebut sampai kepada Rasulullah Saw. Beliau Saw kemudian bertanya kepada orang tersebut, “Hai, Fulan! Apakah yang menghalangimu untuk melaksanakan apa yang diminta oleh para shahabatmu? Dan apakah yang membuatmu selalu membaca surat ini (Al Ikhlash) dalam setiap raka’at?” Ia menjawab,”Sesungguhnya aku menyukainya (surat Al Ikhlash) wahai Rasulullah.” Maka Nabi Saw pun bersabda,”Sesungguhnya kesukaanmu kepadanya akan memasukkanmu ke dalam surga.”

“Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari rahimahullahu ta’ala di dalam bab menggabungkan antara dua surat dalam satu raka’at.” Jelas Ustadz Salim.

“Lalu, apa hubungannya pak Ustadz?” Tanyaku yang belum memahami penjelasan beliau.

“Sebentar Dul, satu lagi.”

“Imam al Bukhari pun meriwayatkan sebuah hadits dalam Kitab Tauhid. Bahwasanya Rasulullah Saw telah mengutus seseorang dalam sebuah sariyah (ekspedisi militer). Maka dia menutup surat pendeknya dengan membaca surat Al Ikhlash. Hal ini pun sampai kepada Rasulullah Saw, Beliau memerintahkan para shahabat untuk menanyakan alasannya. Para shahabat pun menanyakan hal tersebut kepadanya. Orang itu menjawab,“Karena ia (surat Al Ikhlash) merupakan sifat Ar Rahman dan aku suka membacanya.” Maka Nabi Saw bersabda,”sampaikanlah kepadanya, Allah menyukainya.” Jelas Ustadz Salim kemudian.

“Jadi, bagaimana pak Ustadz?”

“Dul, kamu tahu kandungan surat An-Nashr?”

“Iya pak Ustadz, tentang pertolongan Allah.”

“Kamu tahu kondisi kaum muslim saat ini. Palestina, Irak, Afghanistan, Suriah, dan…” suara Ust. Salim tercekat. Tiba-tiba ia diam dan menunduk.

”dan…,” air mata beliau menetes.

“yang menimpa Rohingya.”

Aku hanya bisa terdiam mendengarkannya dengan seksama.

”Belum lagi yang menimpa kaum muslim di negeri ini, kaum muslim hidup dalam keterpurukan yang sangat parah.”
“Bagi Bapak, Surat An-Nashr itu memberikan keyakinan dan pengharapan. Keyakinan akan pertolongan Allah, keyakinan akan keniscayaan kemenangan umat Islam di masa depan. Karena itulah Dul, Bapak sangat suka membacanya.”
“Dul, Allah Swt memerintahkan kita untuk meminta tolong kepadanya dengan sabar dan shalat. Bapak berharap, shalat Bapak bisa selalu menguatkan Bapak akan keyakinan terhadap pertolongan Allah Ta’ala.”

“dan…., insyaAllah Dul, kita harus menyambut pertolongan yang semakin dekat itu dengan usaha atau dakwah.” Pungkas Ust. Salim sembari menyeka lelahan air matanya.

Aku tak menyangka jawaban Ust. Salim akan sampai sedalam itu. Memang, jika menyaksikan berbagai tuduhan, berita miring serta ketidakadilan dunia terhadap umat Islam saat ini. Hatiku pun sering tercabik-cabik. Mengapa kaum muslim selalu menjadi pihak tertuduh. Namun, mengapa keyakinanku akan pertolongan Allah belum seyakin Ust. Salim. Ah, mungkin karena ilmuku yang masih terbatas. Sejak Maghrib itu, aku pun berjanji untuk mempelajari ilmu agama lebih serius lagi.

Maghrib itu, seakan aku baru mendengar surat An Nashr. Aku mendengarnya dengan sarat makna.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”                              (TQS. An Nashr: 1-3)

Diplomasi Mu'adz bin Jabal

Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Seperangkat aturan hidup yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, terbukti membawa keadilan untuk seluruh manusia. Oleh karena itu, pembebasan Islam ke berbagai wilayah di luar jazirah Arab saat itu, sekaligus menghapus penjajahan para penguasa terhadap orang-orang lemah di antara mereka.

Penindasan yang terjadi dalam sistem yang tidak islami bukan hanya menimpa kaum berbeda agama, bahkan kaum yang seagama pun tak luput dijadikan objek penindasan. Sebagaimana yang berlangsung dalam sistem kekaisaran Romawi selama berabad-abad.
Hal tersebut nampak dari diplomasi antara Muadz bin Jabal dengan para pembesar Romawi menjelang Perang Nakhl Baisan. Nakhl Baisan adalah sebuah desa di wilayah Syam, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Romawi.
Saat itu, Muadz bin Jabal menolak duduk bersama para pembesar Romawi di atas permadani. Muadz berkata dengan tegas,
"Aku menolak berjalan dengan angkuh di atas permadani ini, dan duduk dengan bantal-bantal empuk yang ia lebih kalian utamakan untuk diri sendiri daripada orang-orang lemah kalian yang seagama. Sungguh permadani-permadani itu hanya sebagian dari perhiasan dunia dan salah satu tipu dayanya. Allah telah merendahkan dan mencelanya di dunia dan melarang sikap berlebihan serta melampaui batas dalam hal yang demikian. Karena itu, biarlah aku duduk di lantai saja, dan silahkan kalian berbicara kepadaku."
MasyaAllah! sungguh menakjubkan diplomasi seorang Muadz. Kaum lemah yang tidak seagama pun menjadi objek perhatiannya, apalagi terhadap saudara seagama (sesama muslim), tentu akan lebih ia perhatikan.
Sedangkan kita saat ini disajikan pemandangan yang sungguh berbeda. Penguasa kaum muslim yang berdiplomasi duduk nyaman di atas kursi mewah, seraya menikmati berbagai jamuan dengan senyuman. Padahal yang ia temui adalah penguasa dan pendukung genosida terhadap saudara seagamanya (muslim) di Rohingya.
Jika demikian, sebenarnya penguasa kaum muslim tersebut sedang melobi atau justru sedang dilobi? Wallahu a'lamu bishshwwaab.

"Bunda, Mengapa Mereka Membenci Kita?"

Hafidz berlari dan terus berlari. Sendirian di tengah hutan rindang, yang ia ingat hanyalah pesan bundanya.

“Berlarilah, Nak! Berlarilah!” Teriak ibunda dengan suaranya yang sangat parau.
Sangat jauh ia meninggalkan Bunda yang terjatuh bersimbah darah. Kaki bundanya terkilir karena terantuk batu besar saat sedang berlari bersamanya. 

            “Bunda, Hafidz tidak mau berpisah dengan Bunda,” ucapnya seraya memeluk Bundanya yang jatuh tertelungkup. Tangan Hafidz membasah merah, meraba punggung Sang Bunda yang penuh dengan luka. Di depan mata kepalanya, beberapa orang botak yang kesetanan menyabetkan senjata tajam berkali-kali ke punggung bundanya hingga bajunya robek dan tembus hingga ke kulit. Sebelum berlari, bunda sempat melilitkan kerudung ke kepala hingga lehernya. Tak berpeniti. Membuatnya semakin terlihat acak-acakan tak karuan. Dalam luka, wajah Bunda masih tersenyum.

“Berlarilah, Hafidz! Berlarilah!” Teriak ibunda dengan suaranya yang sangat parau.

“Hanya engkau anggota keluarga yang tersisa, selamatkan dirimu, Nak!”

Hafidz terus memeluk bundanya. Ia usapkan tangannya berkali-kali ke bajunya. Ia tak mau bila luka Bundanya semakin perih karena tetesan keringat tangannya.

            “Bunda, Hafidz tak bisa hidup tanpa Bunda,” jawabnya lirih. 

Air matanya mengalir deras. Ia tak mampu lagi menahan tangis. Entah ini sudah merupakan tangisan yang ke berapa ratus kalinya. Hafidz memang masih sangat kecil. Usianya masih 7 tahun. Usia di mana anak-anak kita asyik main bersepeda di taman kota. Tentu tak terbayangkan jika ia harus hidup tak tentu arah di tengah hutan.

Namun ia sangat ketakutan. Di depan matanya, ayah dan kakaknya dibunuh secara sadis. Puluhan entah ratusan sayatan benda tajam mencincang ayah dan kakaknya. Padahal usia kakaknya pun tak terpaut jauh darinya. Haris, kakak Hafidz, masih berusia 9 tahun. Usia di mana anak-anak bersekolah. Akan tetapi, Haris tak pernah bersekolah. Sepanjang hidupnya, ia hanya mengenal belajar baca tulis Al Quran di Musholla kecil nan sederhana. Karena penguasa negeri itu sudah lama menutup akses pendidikan untuk Hafidz, keluarga serta para tetangganya. Jangankan pendidikan, akses kebutuhan pokok pun sangat sulit didapatkan.

Hafidz terus memeluk Bundanya, tangannya kirinya menggenggam erat tangan Sang Bunda. Sungguh ia tak mau berpisah. Namun ia ketakutan, orang-orang botak dan berseragam itu sangat membenci Hafidz, keluarganya serta para tetangganya. Seakan Hafidz dan teman-temannya adalah binatang hama yang harus segera dimusnahkan.     

                ”Bunda!” panggil Hafidz kepada Bundanya yang terlihat semakin lelah.

                “Iya Nak!” Jawab Bunda dengan tetap tersenyum.

                “Bunda, mengapa mereka sangat membenci kita?” Tanya Hafidz dengan polos.

                “Nak, mereka membenci kita hanya karena kita muslim,” Jelas Bunda.

                “Bunda, apakah hanya karena kita muslim, mereka membenci kita? Bukankah kita tak pernah mengganggu mereka?”

                “Iya Nak. Kamu masih terlalu kecil untuk memahami ini”

                “Karena itu, larilah Nak! Segera berlari! Sebelum orang-orang jahat itu menemukan kita.”

                “Hafidz ingat kan kalau Hafidz harus selalu taat kepada perintah Bunda?”

Bunda pun melepaskan pegangan tangan Hafidz. Ia mendorong tubuh Hafidz berkali-kali supaya Hafidz mau berdiri dan berlari.

Hafidz pun terus berlari seraya berkali-kali menatap ke belakang. Ia meninggalkan Bundanya yang terluka. Ia terus berlari bertelanjang kaki. Semua duri yang diinjaknya seolah tak dirasa. Berkali-kali ia menoleh ke arah Bunda, lama kelamaan bayangan Bunda semakin terhalang dedaunan dan pepohonan. Namun Hafidz terus berlari dan berlari. Ia akan terus berlari, hingga ia bertemu orang-orang yang bersedia menerima dan menjaganya sebagai seorang muslim.

#AryH
#PengelolaFPMudahNulis


       

Rabu, 24 Mei 2017

Perang Gajah di Indonesia

Tulisan ini bukanlah tentang serangan ke Ka'bah yang dipimpin Raja Abrahah, atau peristiwa yang terjadi pada tahun kelahiran Rasulullah Saw. Akan tetapi tentang suatu peribahasa, yakni "Gajah Berperang Pelanduk Mati di Tengah-tengah".

Jika kita mencermati pertarungan ekonomi dunia, terutama pasca pasar bebas, ada pertarungan besar antara dua negara yang terjadi di Indonesia. Yakni, pertarungan antara Amerika dan Tiongkok.

Sejak dekade 60-an abad lalu, Amerika telah khawatir atas munculnya Cina sebagai kekuatan global. Amerika berupaya melemahkan ambisi-ambisi Cina dalam permasalahan-permasalahan regional. 

Disamping upaya Amerika untuk membatasi perluasan militeristik Cina, Amerika juga berupaya kuat membangun kemampuan India, baik sipil maupun militer untuk menghadapi Cina. Politik inilah yang digunakan Amerika dengan seluruh pemerintahan di India hingga yang loyal kepada Inggris sekalipun dan bukan loyal kepada Amerika seperti pemerintahan partai Kongres. (Umar Syarifudin, 2016).

Indonesia dengan sumber daya alam melimpah serta jumlah penduduk yang potensial, tak luput dari perebutan dua kekuatan kapitalisme ini. Kehadiran ekonomi China di Indonesia semakin kentara beberapa tahun belakangan ini, terutama setelah beberapa garapan proyek di Indonesia yang diserahkan kepada China (RRT).

Pengaruh Cina di Indoneisa mendominasi dalam dua bidang, yaitu infrastruktur dan perdagangan. Dalam pembangunan infrastruktur, Indonesia memang didominasi oleh Investasi Cina, sebut saja proyek-proyek besar seperti proyek pembangkit tenaga listrik 35.000 mega watt dan kereta cepat Bandung-Jakarta, pembangunannya dilakukan oleh perusahaan Cina. Sedangkan dominasi AS di Indonesia, ada pada bidang pasar keuangan dan pertambangan minerba dan migas. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya sumber-sumber kekayaan alam negeri ini dikuasai oleh AS, seperti Freeport yang telah mengeruk emas di Papua. (Sri Nurhayati, 2016)

Inilah perang gajah yang terjadi di negeri ini, negeri kita sendiri. Alangkah naasnya kita jika hanya berperan sebagai pelanduk, yang mati di tengah-tengah.

Indonesia harus terbebas dari apa yang dikatakan oleh Panglima TNI Gatot Nurmantyo sebagai invisible hand, yakni kekuatan-kekuatan kapitalisme global yang menggurita dan menyerang. Karena tabiat ideologi ini adalah berdiri tegak dengan menginjak bangsa-bangsa lain. Atau bangkit dengan menghisap darah SDA dan SDM negeri lain.

Dengan kekuatan apakah Indonesia membebaskan negeri ini? Tiada lain kecuali dengan kekuatan Islam. Yang saya maksud bukan sekedar Islam dalam tataran ritual semata. Sehingga terkesan solusinya hanyalah kepasrahan dalam sabar dan do'a. Namun memunculkan kembali Islam sebagai ideologi, yakni aqidah rasional yang terpancar darinya berbagai sistem kehidupan.

Islam ideologi akan melahirkan negara ideologis. Sebuah negara yang menerapkan syariah Islam dalam berbagai sendi kehidupan. Sistem pendidikan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem sosial Islam, sistem sanksi Islam hingga yang paling utama yakni sistem pemerintahan Islam atau khilafah islamiyyah. Semua sistem ini berpondasi pada aqidah Islamiyyah, karena pondasi aqidah inilah yang menjadi kekuatan utamanya. Kekuatan ruhiyyah yang berpijak pada kesadaran manusia sebagai hamba Allah Swt. Kekuatan yang telah membuat negara Islam Madinah berdiri tegak di hadapan imperium Persia dan Romawi. Bukan menjadi pelanduk, tetapi menjadi penakluk gajah-gajah yang berperang. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary H. - 11 Shafar 1438 H)

Sabtu, 15 April 2017

Karya Sepanjang Masa

Sore-sore sepulang kerja, anak-anak langsung meributkan mainan barunya. Sebuah kapal-kapalan dari seng dengan bunyi yang khas. Sebuah mainan yang mengingatkan penulis pada masa kecil. Padahal itu berlangsung lebih dari 30 tahun yang lalu.

Karya sepanjang masa. Itulah yang layak disematkan pada mainan tersebut. Sudah melintasi tiga generasi, masih tetap bertahan dan menarik. Penulis menjadi teringat akan buku-buku para ulama serta sastrawan muslim. Berbagai karyanya masih menarik untuk dibaca dan dipelajari hingga saat ini.

Pantas saja orang seperti Hamka sampai menuliskan di dalam buku Sejarah Umat Islam bahwa beliau bercita-cita menerbitkan buah tangan yang lumayan besar. Demi karya besar tersebut, beliau menyusunnya puluhan tahun. Rela membaca ratusan literatur serta menjaga buah karyanya meski harus berpindah-pindah tempat. Terbukti, karyanya kini masih berharga.

Kapal-kapalan dan buku tidaklah sama. Penulis hanya tertarik pada manfaatnya yang sepanjang masa. Ilmu ketika diamalkan dan diajarkan menjadi bermanfaat, sungguh akan menjadi karya sepanjang masa. Bahkan ia bisa menembus sekat-sekat dunia.

Semoga kaum muslim, khususnya para penulis muslim, bisa kembali melahirkan karya-karya sepanjang masa. Sebagaimana peradaban Islam yang telah menelurkan para ulama dan penulis terkenal sepanjang jaman.

Mari berkarya! Semoga Allah Swt memberkahi para penulis muslim dengan ilmu yang bermanfaat. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Menyatakan Cinta

"Seringkali orang menyatakan cintanya apabila berada dalam keadaan senang, gembira dan menguntungkan. Padahal cinta sejati hanya akan terlihat dalam keadaan sulit, musibah dan tidak menguntungkan. Namun perasaan cinta masih tetap bertahta di hatinya."

Kalimat hikmah ini dituliskan oleh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandhalawi dalam kitab Hikayat Shahabat. Beliau menuliskannya setelah berkisah tentang kecintaan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. kepada Rasulullah Saw.

Dalam suatu momen agenda dakwah terbuka di hadapan masyarakat Makkah. Rasulullah Saw dan para shahabat mengalami penyerangan dan penganiayaan dari para penentang dakwah Islam. Banyak shahabat terluka, termasuk Abu Bakar. Melihat kondisi Abu Bakar yang sangat parah,  keluarganya sangat mengkhawatirkannya.

Saat tersadar dalam kondisi yang parah tersebut. Abu Bakar r.a. malaham sama sekali tak mengkhawatirkan dirinya, ia  malah menanyakan bagaimana kondisi Rasulullah Saw. Bahkan ia belum mau makan hingga melihat langsung bahwa Rasulullah Saw baik-baik saja.

Begitulah kecintaan Abu Bakar terhadap Rasulullah Saw. Bukan hanya ketika ia bersama Muhammad Saw di saat kondisi tenang dan bahagia. Dalam kondisi sempit pun, Abu Bakar tetap mencintainya.

Begitu pula cinta Mush'ab bin Umair r.a. Kecintaannya terhadap Islam sangat luar biasa. Tidak hanya ketika Allah Swt memberikan kemudahan dakwah di Madinah melalui lisannya. Ia juga mencintai Islam di saat-saat sulit.

Ketika berada dalam kecamuk perang Uhud, Mush'ab tidak mau panji Islam terhinakan. Panji yang bertuliskan dua kalimah syahadah itu tetap ia pertahankan. Meski karenanya ia mesti terluka. Bahkan ia kehilangan anggota badannya, mulai dari lengan kanannya, lalu lengan kirinya hingga tertembus tombak dan syahid di medan Uhud.

Sangat wajar jika para shahabat lebih mengutamakan kaum muslim yang ikut berhijrah serta yang mengikuti perang Badar. Karena kecintaan mereka tetap terbukti ketika dakwah Islam mengalami masa yang sempit. Mereka orang-orang yang tidak berpaling dari Islam, meski dalam hitungan di atas kertas, kondisi terlihat tak berpihak kepada Islam dan kaum muslim.

Sebagai penulis muslim, tentu kecintaan yang utama tetaplah pada Allah Swt, Rasul-Nya serta agama-Nya. Adakah pembelaan kita saat Islam tersudutkan dan penuh fitnah? Ataukah kita hanya akan mencintai Islam di saat-saat gemilang semata?

Misalkan di saat tenang dan damai, kita bersemangat menulis tentang Islam. Namun di saat kondisi sempit, kita tak bersemangat lagi dengannya. Padahal, pecinta sejati tentu mau berkorban untuk yang dicintainya. Saat lapang maupun sempit, menulis tentang Islam tetap menjadi prioritas utama. Tentu bisa dengan jenis karya yang berbeda-beda.

Jadi, nyatakanlah cinta dalam luang dan sempit. Tetap menulislah dan dakwahkan Islam, meski apapun kondisi yang mendera. Karena kemenangan dakwah merupakan hadiah dari Allah Swt bagi orang-orang yang yakin dan istiqomah.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Menunggu atau Menjemput

Sekian lama menunggu teman di pinggir jalan. Langsung teringat pada tema sebuah tulisan. Ternyata, daripada menunggu lebih baik menjemput. Meski dalam menunggu pun kita masih bisa mengupayakan berbagai hal yang bermanfaat.

Beda kata beda makna. Tentu beda aktifitas dan berdampak pada hasil yang berbeda pula. Meskipun menunggu dan menjemput sama-sama merupakan kata aktif, tetapi perbuatan yang dilakukan pelakunya tidaklah sama.

Menunggu berarti diam atau pasif menantikan sesuatu. Sedangkan menjemput berarti aktif untuk meraih sesuatu.

Sebagai contoh misalkan rizqi. Meskipun rizqi bermakna pemberian dari Allah Swt. Namun Allah memerintahkan manusia untuk menjemputnya. Dalam Q.S.Al-Jumu’ah Ayat 10, Allah Swt berfirman :

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."

Begitu pula Umar bin Al Khaththab pernah mengusir seseorang yang hanya berdiam diri menanti rizqi. Kemudian ia diberi uang untuk bisa membeli kapak dan berusaha menjemput rizqi.

Rizqi merupakan janji Allah Swt kepada setiap makhluk-Nya. Setiap yang bernyawa pasti dijamin rizqinya oleh Allah Swt. Hanya saja, Allah Swt pun tetap mewajibkan manusia untuk berusaha secara halal. Jadi, upaya itu kewajiban sedangkan hasil itu hadiah dari Allah Swt.

Sedari 1400-an tahun yang lalu. Allah Swt sudah berjanji akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dalam QS. An-Nur : 55 dinyatakan,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٥٥)

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."

Inilah janji Allah Swt yang pasti berlaku dan terjadi. Manusia hanya diminta beriman dan beramal shalih untuk menjemput janji tersebut. Amal shalih yang seperti apa? Tentunya seluruh amal shalih yang mengantarkan pada istikhlaf (penerimaan kekuasaan) terhadap kaum mukmin.

Sebagai bagian dari kaum mukmin, para penulis muslim bisa mengambil bagian. Menjemput janji Allah Swt dengan melakukan dakwah di tengah masyarakat. Dakwah yang menyeru pada Islam semata.

Kita mungkin bisa saja menunggu, sebagaimana yang saya lakukan saat ini. Namun apakah tidak termasuk dalam kelalaian jika hanya bisa menunggu, sebagaimana kelalaian saya meminta no hp supir dan pengusaha rental-nya. Sehingga saya hanya bisa menunggu dan menunggu.

Meskipun aktifitas menulis yang saya lakukan bisa terkategori amal shalih. Namun hal ini tetap tidak berkaitan secara sebab akibat dengan kedatangan mobil jemputan. Amal efektif yang bisa saya lakukan untuk mempercepat mobil rentalan adalah mengupayakan no hp supir secepatnya. Alhamdulillah baru dapat barusan, sudah ditelpon dan ternyata mobilnya baru berangkat.

Semua perkara terjadi sesuai ketentuan Allah Swt. Namun bukan berarti kita tak boleh berupaya maksimal. Justru Allah Swt memuliakam orang-orang yang berupaya dibandingkan orang-orang yang hanya duduk menunggu.

لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (٩٥)

"Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar." (TQS. An-Nisa : 95)

Semoga kita termasuk para penulis pejuang, yang menjemput setiap janji Allah Swt dengan penuh kesungguhan. Aamiin.

Dimensi Spiritual Isra Mikraj

Peristiwa Isra dan Mi'raj terjadi setelah berbagai kesedihan yang melanda Rasulullah Saw. Di antaranya adalah meninggalnya paman beliau Abu Thalib, yang telah melindungi beliau dari penentangan dan penyiksaan kaum Quraisy. Serta meninggalnya istri beliau, Khadijah r.a. yang terus-menerus menyemangati dakwah Rasulullah Saw. Tahun tersebut dinamakan 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan).

Begitu pun setelah itu, Rasulullah mendapat penolakan dakwah dari Bani Tsaqif di Thaif. Bahkan beliau dan Zaid bin Haritsah r.a. menderita luka-luka akibat lemparan batu.

Di Baitul Maqdis Rasulullah dipertemukan dengan Ibrahim al-Khalil a.s., Musa a.s. dan Isa a.s. yang berada di tengah kumpulan para Nabi. Mereka shalat dan Rasulullah Saw yang mengimaminya. Hal ini pertanda masa depan adalah milik Islam. Para Nabi dan Rasul terdahulu menjadi saksi atasnya.

Ketika beliau Mi'raj ke langit, seolah-olah Allah Swt serta para malaikat menegaskan kepada beliau. Jika bumi terasa sempit olehmu, maka langit telah membuka dadanya untukmu. Jika orang-orang bodoh dan zalim di antara penduduk bumi menyakitimu, maka penduduk langit telah berdiri menyambut kedatanganmu. Dan jika penduduk bumi menghinakanmu, maka kedudukanmu di sisi Allah sangatlah mulia.

Rasulullah Saw mulia karena mengemban dakwah Islam, bukan apapun selainnya. Semoga kita pun bisa mulia dengan mengembannya. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

Selasa, 11 April 2017

Landasan Penulis Muslim

sumber gambar : www.tribunnews[dot]com

Setiap buah mesti memiliki pohon, dan setiap pohon mesti memiliki akar. Karya para penulis ibarat buah, ia mesti memiliki akar dan pohonnya.

Buah yang baik mesti tumbuh dari pohon dan akar yang baik. Buah yang buruk pasti berasal dari pohon dan akar yang berpenyakit. Atau buah beracun pasti berasal dari tumbuhan beracun.
Akar dan pohon dalam buah karya seorang muslim, ibarat tempat ia bergantung. Dimana ia menyerap berbagai saripati yang memastikan perkembangannya.

Begitu pula untuk dapat terbang tinggi, setiap pesawat membutuhkan landasan. Landasan yang rusak bisa mencelakakan. Pesawat yang berbeda tentu membutuhkan landasan yang berbeda dan khas.
Sebagai pijakan landasan para penulis. Marilah kita renungkan runutan ayat berikut :

وَآمِنُوا بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ ۖ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ (41) وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (42) وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ (43) ۞ أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (44) وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ (45) الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (46)

"Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa
 yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.
Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."
(TQS. Al Baqarah : 41-46)

Landasan penulis muslim adalah keimanan, tidak boleh yang lain. Keimanan ibarat akar yang menghunjam kuat dan akan menumbuhkan pohon yang menjulang tinggi. Ia akan melindungi dan memberi manfaat siapapun yang bernaung di bawahnya.

Para penulis muslim tak boleh tergoda rayuan maut dunia. Yang karenanya ia rela beretorika seraya merendahkan ayat-ayat Allah. Kemudian memelintirnya hingga membela kekufuran.
Para penulis muslim pun terlarang untuk menyamarkan al haq dan al bathil, atau mencampuradukkannya sehingga tak ada lagi perbedaannya. Terjebak pada ide sinkretisme dan pluralisme seraya mengabaikan ketetapan Ilahiyyah.

Hendaklah para penulis muslim hanya bersandar pada pertolongan Allah. Kekuatan ruhiyyah merupakan hal utama bagi kita. Yakni, kesadaran hubungan kita dengan Allah Swt. Kita tak boleh lupa diri. Menulis kebaikan namun kita yang mengabaikannya atau menulis tentang keburukan namun kita yang melaksanakannya. Na'udzubillahi min dzalik.

Para penulis muslim, marilah menjadi orang-orang yang khusyuk. Serta selalu meyakini bahwa hanya kepada Allah-lah kita akan dikembalikan. Wallahu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

Minggu, 09 April 2017

Cemburu

Ya Allah,
Ada cemburu mendera,
Kepada insan-insan shalih
yang mendekap erat Islam penuh keistiqomahan
hingga ke ajalnya,
Adapun hamba,
Bilakah kelak demikian adanya?
Ya Allah,
Teguhkanlah hamba
Dalam harap, doa dan upaya
di atas iman yang terhunjam di dada

(Ary H.)

Rindu Rasul

Rinduku mengembun di sudut mata
Memeluk setiap kisah
Mengembara dalam benak
Semua tentangmu adalah indah
Berharap rindu tanda cinta
Membara tanda percaya
Bukan terkagum semata
Cinta yang berbuah amal
Percaya yang berbuah pengorbanan
Hingga berkumpul nanti di Mahsyar
Di bawah panji Rasulullah

(Ary H. - 7 Rajab 1438 H)

#PanjiRasulullah
#IslamRahmatanLilAlamin