Mungkin judul tulisan ini terlalu melankolis. Tetapi demikianlah faktanya. Sekulerisme yang diemban Barat sedari abad pertengahan, kini telah terbukti mendegradasi manusia. Manusia menjadi laksana zombie yang hidup tanpa perasaan. Pandangan hidup pemisahan agama dari kehidupan ini membuat slogan-slogan cinta menjadi basi dan mati. Cinta seolah hanya menjadi rayuan dan tipuan yang dibalut kepalsuan.
Sekulerisme menjadikan cinta kepada Allah Swt hanya menjadi slogan dan inilah bahaya utamanya. Cinta kepada Allah yang seharusnya menumbuhkan kecintaan terhadap-Nya dalam berbagai aspek kehidupan, menaati berbagai perintah dan larangan-Nya, serta mencontoh Rasul-Nya. Namun tidak demikian ketika dibalut sekulerisme. Cinta kepada Allah hanya diucap di bibir, sedangkan berperilaku tak mau mengacu kepada aturan Allah Swt. Karena menurut sekulerisme, manusia bisa membuat pertimbangan baik dan buruk tersendiri dalam kehidupannya. Bahkan dibolehkan pula apabila ternyata berbeda dengan aturan Pencipta.
Cinta kepada Allah Swt pun akhirnya dibatasi pada aktifitas ritual serta tempat ibadah semata. Adapun selain aktifitas serta di luar tempat tersebut, manusia akhirnya menjauh dari Sang Pencipta.
Begitu pula tatkala Allah Swt memberkahi manusia dengan fitrah naluri melestarikan jenis. Maka tumbuh di dalam diri manusia pun cinta akan lawan jenis. Cinta ini akan tumbuh secara fitrah, karena diberikan Allah untuk kelestarian umat manusia. Tanpanya, takkan ada status anak dan istri dan tak akan ada pula generasi penerus. Namun sekulerisme telah membuat cinta itu menjadi mati. Gaya hidup yang memisahkan agama meniscayakan adanya liberalisasi pergaulan.
Muda-mudi bergaul bebas, tua muda berganti pasangan, menjadi hal yang tidak tabu lagi. Cinta yang seharusnya tumbuh, hanya menjadi syahwat seksual dan hiburan semata. Dampaknya, beberapa hari yang lalu kita membaca berita bayi yang dibuang hingga meninggal. Kemudian tiga pasangan mesum yang terjaring razia. Atau angka aborsi yang semakin meninggi. Kasus perceraian semakin meningkat, penyakit seksual menular pun mewabah. Harga diri manusia jatuh menjadi sekedar lekuk tubuh dan rupiah.
Berdasarkan data WHO dan institut Guttmacher satu dari empat perempuan hamil berakhir aborsi, 56 juta janin tak berdosa dibunuh setiap tahunnya. Para pemuda menjadi korban pornografi dan pornoaksi. Padahal menurut Ahli Neuropsikologi Saraf, Ihsan Gumilar, adiksi pornografi itu sama dengan narkoba. Kecanduan pornografi membuat otak seseorang kebanjiran dophamine. Hal ini akan membuat seseorang ketagihan yang akan berujung pada kriminalitas serta penyimpangan seksual. Semua ini terjadi karena liberalisasi pergaulan.
Tatkala naluri melestarikan jenis menyempit menjadi kenikmatan seksual semata maka pergaulan bebas akan semakin merajalela. Manusia pun akan cenderung enggan menikah dan memiliki anak. Lambat laun namun pasti, kelestarian manusia pun terancam. Fakta tersebut kini melanda banyak negara penganut sekulerisme. Angka kelahiran yang sangat minim, membuat generasi muda mereka terancam punah. Misal Jepang dengan angka kelahiran yang terus menurun drastis sedangkan usia harapan hidup terus meningkat.
Diperkirakan pada tahun 2060, 40% populasi penduduk Jepang adalah orang berusia 65 tahun ke atas (bbc.com). Negara-negara Eropa pun tak jauh berbeda, angka kematian di Eropa lebih banyak dibandingkan angka kelahiran. Sebuah laporan yang dipimpin ahli demografi Texas A & M University mengungkapkan bahwa 58 persen dari 1.391 kabupaten di Eropa memiliki lebih banyak kematian daripada kelahiran. Menurut Profesor Sosiologi Texas A & M, Dudley Poston, penurunan jumlah penduduk usia muda akan berimbas pada ketahanan demografi. (cnnindonesia.com).
Tak hanya itu, sekulerisme pun telah menjadikan hubungan cinta orang tua dan anak menjadi hampa. Ketika sekulerisme tertanam di benak anak. Orang tua hanya akan dipandang jika bermateri dan berharta, tak ada hormat jika semua itu tak ada. Begitu pula sebaliknya, cinta orang tua terhadap anak-anaknya menjadi berbeda, karena keberhasilan ditakar hanya berdasar materi belaka. Mengerikan memang, namun fakta membuktikan bahwa kasus pertentangan materi antara orang tua dan anak, belakangan ini seolah menjadi biasa.
Kemudian tatkala Allah Swt memberkahi manusia dengan gharizatul baqo’ (naluri mempertahankan diri), manusia memiliki kecintaan terhadap negerinya. Namun sekulerisme telah membuatnya menjadi slogan hampa yang tak berarti. Dengan sekulerisme, cinta negeri menjadi sekedar ilusi. Tersebab, pengaturan ekonomi kapitalismenya membuat manusia saling menzalimi. Suatu negeri menjajah negeri yang lain. Negara maju berkuasa, negara miskin dan berkembang terinjak tak berdaya.
Negara-negara penjajah membuat jebakan. Mereka mengeruk kekayaan di banyak negeri untuk diri sendiri. Emas, gas, serta SDA lainnya dieksploitasi atas nama investasi. Tak hanya itu, mereka pun mengeluarkan jeratan utang ke banyak negeri. Utang yang tak kan pernah lunas itu berdampak pada peningkatan target pajak. Pajak pun diekstensifikasi dan diintensifikasi hanya untuk membayar utang yang persentasenya dirancang naik setiap tahun. Bagaimana bisa, seorang anak negeri sampai depresi karena tertagih pajak yang tinggi, namun tunggakan deviden perusahaan tambang asing mereda sepi sendiri. Pada saat yang sama, SDA dikeruk hingga menipis habis karena diangkut ke luar negeri. Tak sampai sana saja, jika pajak tetap tak mencukupi, maka aset-aset negeri pun dilelang untuk menutupi pemasukan. Kepada siapa? kepada para kapitalis, terutama asing. Cinta negeri? seolah tak ada lagi. Ia menjadi mati seiring pembelaan kepada para penjajah negeri.
Begitulah sekulerisme, pandangan hidup yang cacat sejak kelahirannya, tak bisa diharapkan. Cinta terhadap Allah, sesama manusia serta negeri pun menjadi slogan belaka.
Dalam Islam, hakikat cinta manusia hanyalah kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Dengan bersandar pada keduanya, cinta lain yang tumbuh secara fitrah pasti akan terjaga.
Islam menjaga kecintaan manusia kepada Allah Swt tidak hanya dengan shalat lima waktu. Tetapi ketundukan dalam berbagai aktifitas. Sebagaimana yang disampaikan oleh al-Baidhawi, bahwa cinta adalah keinginan untuk taat. Hal ini diperjelas oleh al-Zujaj, ia mengatakan bahwa cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati keduanya dan ridha terhadap segala perintah Allah, serta ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw.
Penguasa dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah dengan menerapkan aturan-Nya. Rakyat dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah dengan beramar ma’ruf nahyi munkar. Rakyat dan penguasa dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah Swt dengan membela agama serta negerinya. Cinta pun disemai dalam berbagai bidang kehidupan. Sistem pendidikan diterapkan berbasis aqidah Islam. Sistem pergaulan diterapkan berdasarkan syariah. Begitu pula dalam sistem politik, sanksi, serta kebudayaan. Semuanya dikaitkan dengan kesadaran hubungan manusia terhadap Allah Swt. Allah Swt sebagai Al-Khaliq (Pencipta) dan manusia sebagai makhluk yang taat terhadap-Nya.
Islam membuat cinta antara anak dan orang tua menjadi jauh lebih bermakna. Semua bukanlah tentang materi semata. Islam mewajibkan anak untuk berbakti. Islam menjadikan keshalihan sebagai mutiara. Dalam Islam, anak shalih yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya menjadi amal yang terus mengalirkan pahala. Ukuran keshalihan pun jelas. Yakni, taat kepada perintah dan larangan Allah Swt, serta menapaki setiap yang halal dan menjauhi setiap yang haram. Kuantitas materi, sama sekali tidak menjadi ukuran. Bila demikian, semua insan pasti akan berpeluang memiliki cinta ini. Cinta yang melintasi sekat materi duniawi, tak terbatas untuk kaum kaya semata.
Islam pun mengharamkan menggadai negeri. Jika kita mengaku cinta terhadap Allah, pasti kita akan tunduk ketika Allah Swt mengharamkan penjualan berbagai aset negeri. Begitu pula tatkala Allah Swt mewajibkan berjihad menjaga setiap jengkal negerinya, pasti akan dipatuhi. Semua dilakoni hanya karena Allah Swt memerintahkannya, bukan karena yang lain.
Marilah kita renungkan ucapan Tsumamah bin Tsa’al ketika berkata, “Ya Muhammad, demi Allah, dulu tidak ada tidak ada satu wajah pun yang paling aku benci di muka bumi selain wajahmu. Tapi kini, wajahmu adalah wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada satu pun agama yang paling aku benci di muka bumi ini selain agamamu. Tapi kini, agamamu adalah agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada satu pun negeri yang paling aku benci di muka bumi ini selain negerimu. Tapi kini, negerimu adalah negeri yang paling aku cintai.”
Tentang cinta kepada Rasulullah, Imam an-Nawawi menuliskan bahwa engkau tidak dikatakan benar-benar mencintaiku hingga dirimu binasa dalam taat kepadaku, dan engkau lebih mementingkan ridhaku daripada hawa nafsumu, meski engkau harus binasa karenanya.
Sekulerisme telah mematikan cinta. Ia membuat cinta menjadi slogan-slogan semata. Di balik itu tersimpan kerakusan syahwat manusia. Sedangkan Islam, benar-benar cinta. Karena semua cinta tumbuh di atas kecintaan terhadap Allah Swt dan Rasul-Nya, serta dirawat dengan bimbingan wahyu Allah Swt, Tuhan Yang Maha Pemurah serta Maha Penyayang. Wallohu a’lamu bishshowwaab.
(Ary H. – Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)