sumber gambar : arrahmah[dot]com
Mengenai perintah supaya kaum
muslim bersatu, Allah Swt menggandengkannya setelah perintah untuk taqwa dan
menggenggam keislaman hingga akhir hayat. Hal ini pertanda bahwa keislaman
merupakan hal penting yang harus selalu kita pegang, apapun resikonya (lih. QS.
Ali Imran[3]: 102). Selanjutnya Allah Swt memerintahkan kaum muslim untuk
bersatu seraya berpegang teguh kepada tali Allah dan melarang perpecahan.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا
تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً
فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ
عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ
اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpegangteguhlah kalian kepada
tali (agama) Allah secara keseluruhan dan janganlah kalian berpecah belah. Dan
ingatlah atas nikmat Allah atas kalian, ketika kalian bermusuh-musuhan maka
Allah menyatukan hati-hati kalian. Kemudian atas nikmat Allah menjadikan kalian
bersaudara. Sedangkan kalian telah berada di tepi jurang neraka maka Allah
menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menjelaskan tanda-tanda
kekuasaan-Nya kepada kalian, supaya kalian menadapat petunjuk.” (TQS. Ali
Imran[3]: 103)
Abu Ja’far berkata, berpegangteguhlah
kepada agama Allah yang telah diperintahkan atas kalian serta terhadap janji-Nya
yang telah dijanjikan terhadap kalian di dalam kitab-Nya. Berupa ketertautan
hati, persatuan di atas kalimat al-Haq serta kepasrahan atas perintah Allah. Imam
al-Qurthubi menjelaskan bahwa Allah Swt mewajibkan kita untuk berpegangteguh
pada Al Quran, Sunnah Rasulullah serta merujuk keduanya ketika terjadi
perselisihan. Allah memerintahkan kita untuk bersepakat di atas keteguhan
terhadap Al Quran dan as-Sunnah secara i’tikad dan perbuatan.
Ibnu Abi Hatim berkata bahwa Allah
telah memerintahkan untuk berpegang teguh terhadap Al Quran, agama-Nya dan syahadatnya.
Allah juga melarang kaum muslim untuk bercerai berai dan berselisih satu sama
lain. Menurut al-Qurthubi, Allah Swt memerintahkan supaya mengingat berbagai nikmat-Nya,
mengagungkan Islam dan meneladani Nabi Muhammad Saw. Karenanya-lah, permusuhan
dan perpecahan telah hilang lalu tumbuh cinta dan ketertautan hati. Dan yang
dimaksud adalah Aus dan Khazraj.
Pada suatu saat, satu kelompok orang
Yahudi berusaha untuk memecah belah persatuan kaum muslim. Terutama, setelah
melihat Aus dan Khazraj masuk Islam. Salah seorang pemuda di antara mereka
diperintahkan untuk menyusup dalam dua suku tersebut, supaya mengingatkan
mereka akan Perang Bu’at. Salah satu perang yang pernah terjadi di antara suku
Aus dan Khazraj, di mana saat itu Aus dapat mengalahkan Khazraj. Pemuda
tersebut membacakan sajak-sajak untuk menceraiberaikan mereka. Akibatnya,
orang-orang Aus dan Khazraj pun tersulut dan hampir saja berperang.
Untunglah, sebelum sesuatu yang buruk
terjadi di antara keduanya. Kejadian ini sampai kepada Rasulullah Saw, beliau
bersabda : “Wahai kaum muslim, ingatlah Allah, ingatlah Allah! Apakah kalian
akan bertindak seperti para penyembah berhala ketika aku hadir di tengah-tengah
kalian dan Allah telah menunjuki kalian dengan Islam. Dan dengan demikian
kalian menjadi mulia dan menjauhkan diri dari penyembahan berhala; kekufuran
dan menjadikan kalian bersaudara karenanya?”
Mendengar sabda Rasulullah Saw
tersebut, orang-orang Aus dan Khazraj menangis lalu saling berpelukan satu sama
lain.
Dalam kejadian lain, Jabir bin
Abdullah al-Anshari menceritakan tentang peristiwa penyemprotan air di tempat
al-Murasyi, yang telah menyebabkan kaum munafiq menyerukan ashabiyyah
(fanatisme kelompok/golongan, suku dan kebangsaan, pen.) serta mencari jalan
untuk memecah belah persatuan mereka. Jabir berkata : “Pada saat itu kita
berada pada suatu penyerbuan, ketika seorang Muhajirin menendang seorang
Anshar. Orang Anshar tersebut berteriak, “Wahai Anshar, tolonglah aku!” dan
orang Muhajirin pun berkata : “Wahai Muhajirin, tolonglah aku!” Rasulullah yang
mendengarnya, lalu beliau bersabda : “Mengapa kalian meributkan sesuatu seperti
masa Jahiliyyah?”
Rasulullah kemudian mengajak
orang-orang tersebut berjalan jauh hingga larut malam, dari malam hingga pagi
kembali, dan esok harinya matahari menyengat mereka. Lalu Rasulullah
menghentikan mereka, sehingga ketika menyentuh tanah, tertidurlah mereka.
Dengan demikian, mereka lupa atas peristiwa yang baru saja mereka alami.
Begitu pula ketika Jundub bin
Junabah, yang lebih dikenal dengan Abu Dzar al-Ghifari, berkata kepada Bilal
bin Rabah r.a., “Hai orang hitam yang terlahir dari seorang budak hitam.”
Rasulullah Saw sangat marah mendengarnya. Beliau bersabda, ”Ini keterlaluan
Abu Dzar. Orang yang ibunya berkulit putih tidak memiliki kelebihan yang
membuatnya lebih baik daripada seseorang yang berkulit hitam.” Abu Dzar sangat
menyesali perkataannya. Ia meletakkan kepalanya di atas tanah dan bersumpah
tidak akan mengangkat kepalanya hingga Bilal menginjakkan kaki di atasnya.
Berbagai peristiwa ini
menunjukkan bahwa dalam Islam, ikatan keislaman itulah yang utama. Bahkan
ikatan-ikatan selainnya tidak mendapatkan tempat untuk dimulyakan. Sebagaimana
firman Allah Swt,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا
بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang
mukmin itu bersaudara maka damaikanlah antara saudara-saudara kalian, dan
bertakwalah kepada Allah supaya kalian diberi rahmat.” (TQS. Al
Hujurat[49]: 10)
Begitu pula sabda Rasulullah Saw,
“Orang Arab tidaklah lebih baik dari orang non Arab. Sebaliknya, orang non Arab
juga tidak lebih baik dari orang Arab. Orang berkulit merah tidak lebih baik
dari orang berkulit hitam kecuali dalam ketakwaannya. Umat manusia adalah anak
cucu Adam dan Adam diciptakan dari tanah liat.” (THR. Bukhari dan Muslim
dari Abu Musa al-Asy’ari)
Umat Islam -apapun kelompok/golongan,
suku, bangsa serta warna kulitnya – merupakan umat yang satu, ia tak dapat
dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Seharusnya tidak ada ikatan apapun
yang dapat memecah belah kita. Orang yang paling mulia dalam Islam hanyalah
orang yang paling bertakwa. Jadi, atas dasar apa kaum muslim berpecah belah satu
sama lain? Padahal Tuhan kita satu, yakni Allah Swt. Nabi kita satu, yakni Nabi
Muhammad Saw. Kitab kita satu, yakni Al Quran. Tiada lain karena kaum muslim
tidak hidup dalam satu kepemimpinan dan aturan, yakni Khilafah yang menerapkan
Syariah. Wallahu a’lamu bishshawwaab.
(Ary H. – Islamic Writer,
Pengelola FP MudahNulis)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar