Selasa, 04 April 2017

Allah Swt dan Rasul-Nya Memerintahkan Kaum Muslim Bersatu

sumber gambar : arrahmah[dot]com

Mengenai perintah supaya kaum muslim bersatu, Allah Swt menggandengkannya setelah perintah untuk taqwa dan menggenggam keislaman hingga akhir hayat. Hal ini pertanda bahwa keislaman merupakan hal penting yang harus selalu kita pegang, apapun resikonya (lih. QS. Ali Imran[3]: 102). Selanjutnya Allah Swt memerintahkan kaum muslim untuk bersatu seraya berpegang teguh kepada tali Allah dan melarang perpecahan.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpegangteguhlah kalian kepada tali (agama) Allah secara keseluruhan dan janganlah kalian berpecah belah. Dan ingatlah atas nikmat Allah atas kalian, ketika kalian bermusuh-musuhan maka Allah menyatukan hati-hati kalian. Kemudian atas nikmat Allah menjadikan kalian bersaudara. Sedangkan kalian telah berada di tepi jurang neraka maka Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kalian, supaya kalian menadapat petunjuk.” (TQS. Ali Imran[3]: 103)

Abu Ja’far berkata, berpegangteguhlah kepada agama Allah yang telah diperintahkan atas kalian serta terhadap janji-Nya yang telah dijanjikan terhadap kalian di dalam kitab-Nya. Berupa ketertautan hati, persatuan di atas kalimat al-Haq serta kepasrahan atas perintah Allah. Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa Allah Swt mewajibkan kita untuk berpegangteguh pada Al Quran, Sunnah Rasulullah serta merujuk keduanya ketika terjadi perselisihan. Allah memerintahkan kita untuk bersepakat di atas keteguhan terhadap Al Quran dan as-Sunnah secara i’tikad dan perbuatan.

Ibnu Abi Hatim berkata bahwa Allah telah memerintahkan untuk berpegang teguh terhadap Al Quran, agama-Nya dan syahadatnya. Allah juga melarang kaum muslim untuk bercerai berai dan berselisih satu sama lain. Menurut al-Qurthubi, Allah Swt memerintahkan supaya mengingat berbagai nikmat-Nya, mengagungkan Islam dan meneladani Nabi Muhammad Saw. Karenanya-lah, permusuhan dan perpecahan telah hilang lalu tumbuh cinta dan ketertautan hati. Dan yang dimaksud adalah Aus dan Khazraj.

Pada suatu saat, satu kelompok orang Yahudi berusaha untuk memecah belah persatuan kaum muslim. Terutama, setelah melihat Aus dan Khazraj masuk Islam. Salah seorang pemuda di antara mereka diperintahkan untuk menyusup dalam dua suku tersebut, supaya mengingatkan mereka akan Perang Bu’at. Salah satu perang yang pernah terjadi di antara suku Aus dan Khazraj, di mana saat itu Aus dapat mengalahkan Khazraj. Pemuda tersebut membacakan sajak-sajak untuk menceraiberaikan mereka. Akibatnya, orang-orang Aus dan Khazraj pun tersulut dan hampir saja berperang.

Untunglah, sebelum sesuatu yang buruk terjadi di antara keduanya. Kejadian ini sampai kepada Rasulullah Saw, beliau bersabda : “Wahai kaum muslim, ingatlah Allah, ingatlah Allah! Apakah kalian akan bertindak seperti para penyembah berhala ketika aku hadir di tengah-tengah kalian dan Allah telah menunjuki kalian dengan Islam. Dan dengan demikian kalian menjadi mulia dan menjauhkan diri dari penyembahan berhala; kekufuran dan menjadikan kalian bersaudara karenanya?”
Mendengar sabda Rasulullah Saw tersebut, orang-orang Aus dan Khazraj menangis lalu saling berpelukan satu sama lain. 

Dalam kejadian lain, Jabir bin Abdullah al-Anshari menceritakan tentang peristiwa penyemprotan air di tempat al-Murasyi, yang telah menyebabkan kaum munafiq menyerukan ashabiyyah (fanatisme kelompok/golongan, suku dan kebangsaan, pen.) serta mencari jalan untuk memecah belah persatuan mereka. Jabir berkata : “Pada saat itu kita berada pada suatu penyerbuan, ketika seorang Muhajirin menendang seorang Anshar. Orang Anshar tersebut berteriak, “Wahai Anshar, tolonglah aku!” dan orang Muhajirin pun berkata : “Wahai Muhajirin, tolonglah aku!” Rasulullah yang mendengarnya, lalu beliau bersabda : “Mengapa kalian meributkan sesuatu seperti masa Jahiliyyah?”

Rasulullah kemudian mengajak orang-orang tersebut berjalan jauh hingga larut malam, dari malam hingga pagi kembali, dan esok harinya matahari menyengat mereka. Lalu Rasulullah menghentikan mereka, sehingga ketika menyentuh tanah, tertidurlah mereka. Dengan demikian, mereka lupa atas peristiwa yang baru saja mereka alami.     

Begitu pula ketika Jundub bin Junabah, yang lebih dikenal dengan Abu Dzar al-Ghifari, berkata kepada Bilal bin Rabah r.a., “Hai orang hitam yang terlahir dari seorang budak hitam.” Rasulullah Saw sangat marah mendengarnya. Beliau bersabda, ”Ini keterlaluan Abu Dzar. Orang yang ibunya berkulit putih tidak memiliki kelebihan yang membuatnya lebih baik daripada seseorang yang berkulit hitam.” Abu Dzar sangat menyesali perkataannya. Ia meletakkan kepalanya di atas tanah dan bersumpah tidak akan mengangkat kepalanya hingga Bilal menginjakkan kaki di atasnya.   

Berbagai peristiwa ini menunjukkan bahwa dalam Islam, ikatan keislaman itulah yang utama. Bahkan ikatan-ikatan selainnya tidak mendapatkan tempat untuk dimulyakan. Sebagaimana firman Allah Swt,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara maka damaikanlah antara saudara-saudara kalian, dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian diberi rahmat.” (TQS. Al Hujurat[49]: 10)

Begitu pula sabda Rasulullah Saw, “Orang Arab tidaklah lebih baik dari orang non Arab. Sebaliknya, orang non Arab juga tidak lebih baik dari orang Arab. Orang berkulit merah tidak lebih baik dari orang berkulit hitam kecuali dalam ketakwaannya. Umat manusia adalah anak cucu Adam dan Adam diciptakan dari tanah liat.” (THR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari)    

Umat Islam -apapun kelompok/golongan, suku, bangsa serta warna kulitnya – merupakan umat yang satu, ia tak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Seharusnya tidak ada ikatan apapun yang dapat memecah belah kita. Orang yang paling mulia dalam Islam hanyalah orang yang paling bertakwa. Jadi, atas dasar apa kaum muslim berpecah belah satu sama lain? Padahal Tuhan kita satu, yakni Allah Swt. Nabi kita satu, yakni Nabi Muhammad Saw. Kitab kita satu, yakni Al Quran. Tiada lain karena kaum muslim tidak hidup dalam satu kepemimpinan dan aturan, yakni Khilafah yang menerapkan Syariah. Wallahu a’lamu bishshawwaab.


(Ary H. – Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar