Sabtu, 15 April 2017

Karya Sepanjang Masa

Sore-sore sepulang kerja, anak-anak langsung meributkan mainan barunya. Sebuah kapal-kapalan dari seng dengan bunyi yang khas. Sebuah mainan yang mengingatkan penulis pada masa kecil. Padahal itu berlangsung lebih dari 30 tahun yang lalu.

Karya sepanjang masa. Itulah yang layak disematkan pada mainan tersebut. Sudah melintasi tiga generasi, masih tetap bertahan dan menarik. Penulis menjadi teringat akan buku-buku para ulama serta sastrawan muslim. Berbagai karyanya masih menarik untuk dibaca dan dipelajari hingga saat ini.

Pantas saja orang seperti Hamka sampai menuliskan di dalam buku Sejarah Umat Islam bahwa beliau bercita-cita menerbitkan buah tangan yang lumayan besar. Demi karya besar tersebut, beliau menyusunnya puluhan tahun. Rela membaca ratusan literatur serta menjaga buah karyanya meski harus berpindah-pindah tempat. Terbukti, karyanya kini masih berharga.

Kapal-kapalan dan buku tidaklah sama. Penulis hanya tertarik pada manfaatnya yang sepanjang masa. Ilmu ketika diamalkan dan diajarkan menjadi bermanfaat, sungguh akan menjadi karya sepanjang masa. Bahkan ia bisa menembus sekat-sekat dunia.

Semoga kaum muslim, khususnya para penulis muslim, bisa kembali melahirkan karya-karya sepanjang masa. Sebagaimana peradaban Islam yang telah menelurkan para ulama dan penulis terkenal sepanjang jaman.

Mari berkarya! Semoga Allah Swt memberkahi para penulis muslim dengan ilmu yang bermanfaat. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Menyatakan Cinta

"Seringkali orang menyatakan cintanya apabila berada dalam keadaan senang, gembira dan menguntungkan. Padahal cinta sejati hanya akan terlihat dalam keadaan sulit, musibah dan tidak menguntungkan. Namun perasaan cinta masih tetap bertahta di hatinya."

Kalimat hikmah ini dituliskan oleh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandhalawi dalam kitab Hikayat Shahabat. Beliau menuliskannya setelah berkisah tentang kecintaan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. kepada Rasulullah Saw.

Dalam suatu momen agenda dakwah terbuka di hadapan masyarakat Makkah. Rasulullah Saw dan para shahabat mengalami penyerangan dan penganiayaan dari para penentang dakwah Islam. Banyak shahabat terluka, termasuk Abu Bakar. Melihat kondisi Abu Bakar yang sangat parah,  keluarganya sangat mengkhawatirkannya.

Saat tersadar dalam kondisi yang parah tersebut. Abu Bakar r.a. malaham sama sekali tak mengkhawatirkan dirinya, ia  malah menanyakan bagaimana kondisi Rasulullah Saw. Bahkan ia belum mau makan hingga melihat langsung bahwa Rasulullah Saw baik-baik saja.

Begitulah kecintaan Abu Bakar terhadap Rasulullah Saw. Bukan hanya ketika ia bersama Muhammad Saw di saat kondisi tenang dan bahagia. Dalam kondisi sempit pun, Abu Bakar tetap mencintainya.

Begitu pula cinta Mush'ab bin Umair r.a. Kecintaannya terhadap Islam sangat luar biasa. Tidak hanya ketika Allah Swt memberikan kemudahan dakwah di Madinah melalui lisannya. Ia juga mencintai Islam di saat-saat sulit.

Ketika berada dalam kecamuk perang Uhud, Mush'ab tidak mau panji Islam terhinakan. Panji yang bertuliskan dua kalimah syahadah itu tetap ia pertahankan. Meski karenanya ia mesti terluka. Bahkan ia kehilangan anggota badannya, mulai dari lengan kanannya, lalu lengan kirinya hingga tertembus tombak dan syahid di medan Uhud.

Sangat wajar jika para shahabat lebih mengutamakan kaum muslim yang ikut berhijrah serta yang mengikuti perang Badar. Karena kecintaan mereka tetap terbukti ketika dakwah Islam mengalami masa yang sempit. Mereka orang-orang yang tidak berpaling dari Islam, meski dalam hitungan di atas kertas, kondisi terlihat tak berpihak kepada Islam dan kaum muslim.

Sebagai penulis muslim, tentu kecintaan yang utama tetaplah pada Allah Swt, Rasul-Nya serta agama-Nya. Adakah pembelaan kita saat Islam tersudutkan dan penuh fitnah? Ataukah kita hanya akan mencintai Islam di saat-saat gemilang semata?

Misalkan di saat tenang dan damai, kita bersemangat menulis tentang Islam. Namun di saat kondisi sempit, kita tak bersemangat lagi dengannya. Padahal, pecinta sejati tentu mau berkorban untuk yang dicintainya. Saat lapang maupun sempit, menulis tentang Islam tetap menjadi prioritas utama. Tentu bisa dengan jenis karya yang berbeda-beda.

Jadi, nyatakanlah cinta dalam luang dan sempit. Tetap menulislah dan dakwahkan Islam, meski apapun kondisi yang mendera. Karena kemenangan dakwah merupakan hadiah dari Allah Swt bagi orang-orang yang yakin dan istiqomah.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

#MudahNulis
#BeraniNulisBeraniDakwah

Menunggu atau Menjemput

Sekian lama menunggu teman di pinggir jalan. Langsung teringat pada tema sebuah tulisan. Ternyata, daripada menunggu lebih baik menjemput. Meski dalam menunggu pun kita masih bisa mengupayakan berbagai hal yang bermanfaat.

Beda kata beda makna. Tentu beda aktifitas dan berdampak pada hasil yang berbeda pula. Meskipun menunggu dan menjemput sama-sama merupakan kata aktif, tetapi perbuatan yang dilakukan pelakunya tidaklah sama.

Menunggu berarti diam atau pasif menantikan sesuatu. Sedangkan menjemput berarti aktif untuk meraih sesuatu.

Sebagai contoh misalkan rizqi. Meskipun rizqi bermakna pemberian dari Allah Swt. Namun Allah memerintahkan manusia untuk menjemputnya. Dalam Q.S.Al-Jumu’ah Ayat 10, Allah Swt berfirman :

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."

Begitu pula Umar bin Al Khaththab pernah mengusir seseorang yang hanya berdiam diri menanti rizqi. Kemudian ia diberi uang untuk bisa membeli kapak dan berusaha menjemput rizqi.

Rizqi merupakan janji Allah Swt kepada setiap makhluk-Nya. Setiap yang bernyawa pasti dijamin rizqinya oleh Allah Swt. Hanya saja, Allah Swt pun tetap mewajibkan manusia untuk berusaha secara halal. Jadi, upaya itu kewajiban sedangkan hasil itu hadiah dari Allah Swt.

Sedari 1400-an tahun yang lalu. Allah Swt sudah berjanji akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dalam QS. An-Nur : 55 dinyatakan,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٥٥)

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."

Inilah janji Allah Swt yang pasti berlaku dan terjadi. Manusia hanya diminta beriman dan beramal shalih untuk menjemput janji tersebut. Amal shalih yang seperti apa? Tentunya seluruh amal shalih yang mengantarkan pada istikhlaf (penerimaan kekuasaan) terhadap kaum mukmin.

Sebagai bagian dari kaum mukmin, para penulis muslim bisa mengambil bagian. Menjemput janji Allah Swt dengan melakukan dakwah di tengah masyarakat. Dakwah yang menyeru pada Islam semata.

Kita mungkin bisa saja menunggu, sebagaimana yang saya lakukan saat ini. Namun apakah tidak termasuk dalam kelalaian jika hanya bisa menunggu, sebagaimana kelalaian saya meminta no hp supir dan pengusaha rental-nya. Sehingga saya hanya bisa menunggu dan menunggu.

Meskipun aktifitas menulis yang saya lakukan bisa terkategori amal shalih. Namun hal ini tetap tidak berkaitan secara sebab akibat dengan kedatangan mobil jemputan. Amal efektif yang bisa saya lakukan untuk mempercepat mobil rentalan adalah mengupayakan no hp supir secepatnya. Alhamdulillah baru dapat barusan, sudah ditelpon dan ternyata mobilnya baru berangkat.

Semua perkara terjadi sesuai ketentuan Allah Swt. Namun bukan berarti kita tak boleh berupaya maksimal. Justru Allah Swt memuliakam orang-orang yang berupaya dibandingkan orang-orang yang hanya duduk menunggu.

لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (٩٥)

"Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar." (TQS. An-Nisa : 95)

Semoga kita termasuk para penulis pejuang, yang menjemput setiap janji Allah Swt dengan penuh kesungguhan. Aamiin.

Dimensi Spiritual Isra Mikraj

Peristiwa Isra dan Mi'raj terjadi setelah berbagai kesedihan yang melanda Rasulullah Saw. Di antaranya adalah meninggalnya paman beliau Abu Thalib, yang telah melindungi beliau dari penentangan dan penyiksaan kaum Quraisy. Serta meninggalnya istri beliau, Khadijah r.a. yang terus-menerus menyemangati dakwah Rasulullah Saw. Tahun tersebut dinamakan 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan).

Begitu pun setelah itu, Rasulullah mendapat penolakan dakwah dari Bani Tsaqif di Thaif. Bahkan beliau dan Zaid bin Haritsah r.a. menderita luka-luka akibat lemparan batu.

Di Baitul Maqdis Rasulullah dipertemukan dengan Ibrahim al-Khalil a.s., Musa a.s. dan Isa a.s. yang berada di tengah kumpulan para Nabi. Mereka shalat dan Rasulullah Saw yang mengimaminya. Hal ini pertanda masa depan adalah milik Islam. Para Nabi dan Rasul terdahulu menjadi saksi atasnya.

Ketika beliau Mi'raj ke langit, seolah-olah Allah Swt serta para malaikat menegaskan kepada beliau. Jika bumi terasa sempit olehmu, maka langit telah membuka dadanya untukmu. Jika orang-orang bodoh dan zalim di antara penduduk bumi menyakitimu, maka penduduk langit telah berdiri menyambut kedatanganmu. Dan jika penduduk bumi menghinakanmu, maka kedudukanmu di sisi Allah sangatlah mulia.

Rasulullah Saw mulia karena mengemban dakwah Islam, bukan apapun selainnya. Semoga kita pun bisa mulia dengan mengembannya. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

Selasa, 11 April 2017

Landasan Penulis Muslim

sumber gambar : www.tribunnews[dot]com

Setiap buah mesti memiliki pohon, dan setiap pohon mesti memiliki akar. Karya para penulis ibarat buah, ia mesti memiliki akar dan pohonnya.

Buah yang baik mesti tumbuh dari pohon dan akar yang baik. Buah yang buruk pasti berasal dari pohon dan akar yang berpenyakit. Atau buah beracun pasti berasal dari tumbuhan beracun.
Akar dan pohon dalam buah karya seorang muslim, ibarat tempat ia bergantung. Dimana ia menyerap berbagai saripati yang memastikan perkembangannya.

Begitu pula untuk dapat terbang tinggi, setiap pesawat membutuhkan landasan. Landasan yang rusak bisa mencelakakan. Pesawat yang berbeda tentu membutuhkan landasan yang berbeda dan khas.
Sebagai pijakan landasan para penulis. Marilah kita renungkan runutan ayat berikut :

وَآمِنُوا بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ ۖ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ (41) وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (42) وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ (43) ۞ أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (44) وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ (45) الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (46)

"Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa
 yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.
Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."
(TQS. Al Baqarah : 41-46)

Landasan penulis muslim adalah keimanan, tidak boleh yang lain. Keimanan ibarat akar yang menghunjam kuat dan akan menumbuhkan pohon yang menjulang tinggi. Ia akan melindungi dan memberi manfaat siapapun yang bernaung di bawahnya.

Para penulis muslim tak boleh tergoda rayuan maut dunia. Yang karenanya ia rela beretorika seraya merendahkan ayat-ayat Allah. Kemudian memelintirnya hingga membela kekufuran.
Para penulis muslim pun terlarang untuk menyamarkan al haq dan al bathil, atau mencampuradukkannya sehingga tak ada lagi perbedaannya. Terjebak pada ide sinkretisme dan pluralisme seraya mengabaikan ketetapan Ilahiyyah.

Hendaklah para penulis muslim hanya bersandar pada pertolongan Allah. Kekuatan ruhiyyah merupakan hal utama bagi kita. Yakni, kesadaran hubungan kita dengan Allah Swt. Kita tak boleh lupa diri. Menulis kebaikan namun kita yang mengabaikannya atau menulis tentang keburukan namun kita yang melaksanakannya. Na'udzubillahi min dzalik.

Para penulis muslim, marilah menjadi orang-orang yang khusyuk. Serta selalu meyakini bahwa hanya kepada Allah-lah kita akan dikembalikan. Wallahu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

Minggu, 09 April 2017

Cemburu

Ya Allah,
Ada cemburu mendera,
Kepada insan-insan shalih
yang mendekap erat Islam penuh keistiqomahan
hingga ke ajalnya,
Adapun hamba,
Bilakah kelak demikian adanya?
Ya Allah,
Teguhkanlah hamba
Dalam harap, doa dan upaya
di atas iman yang terhunjam di dada

(Ary H.)

Rindu Rasul

Rinduku mengembun di sudut mata
Memeluk setiap kisah
Mengembara dalam benak
Semua tentangmu adalah indah
Berharap rindu tanda cinta
Membara tanda percaya
Bukan terkagum semata
Cinta yang berbuah amal
Percaya yang berbuah pengorbanan
Hingga berkumpul nanti di Mahsyar
Di bawah panji Rasulullah

(Ary H. - 7 Rajab 1438 H)

#PanjiRasulullah
#IslamRahmatanLilAlamin

Ahad

"Ahad, Ahad, Ahad!," seru Bilal berkali-kali ketika dipaksa untuk mengucapkan nama-nama berhala kaum musyrik. Yang dimaksud adalah konsep Tauhid bahwa tiada Tuhan selain Allah. Karena kendati kaum musyrik saat itu mempercayai bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, yang menciptakan pendengaran, penglihatan, menentukan hidup dan mati serta mengatur segala urusan. (lih. Q.S. Yunus: 31 dan az-Zukhruf : 87). Kaum musyrik tidak mau mentauhidkan Allah Swt. Mereka tetap konsisten menyekutukan Allah Swt dengan selain-Nya.

Konsep tauhid inilah yang ditolak oleh kaum musyrik. Karena dengan mengakui ketaatan hanya kepada Allah Swt serta kerasulan Muhammad Saw, berarti berakhir sudahlah sistem jahiliyyah yang mereka bangun selama ini. Sistem yang meletakkan para bangsawan dan para pemilik harta sebagai orang terpandang. Dengan pengakuan tersebut berarti tamat pula berbagai keputusan di Darun Nadwah. Sebuah tempat yang biasa dipakai untuk memutuskan berbagai perkara berdasarkan adat dan kebiasaan para nenek moyang mereka semata. Sehingga, hasilnya seringkali berat sebelah. Hanya menguntungkan kaum bangsawan dan hartawan, sedangkan kaum budak, rakyat kecil, serta kaum perempuan hanyalah menjadi korban eksploitasi.

"Ahad, Ahad, Ahad," sebuah seruan perlawanan atas kejumawaan tokoh-tokoh jahiliyyah saat itu. Slogan ini menembus berbagai tempat dan jaman. Keteguhan orang yang mengucapkannya pada saat sempit sekalipun, telah diingat berbagai generasi. Namanya tertulis di setiap masjid, kisah heroiknya diingat anak-anak hingga orang dewasa. Hampir seluruh kaum muslim mengenal Bilal bin Rabah. Seorang budak hitam yang dimuliakan karena keistiqomahannya dalam Islam hingga akhir hidupnya.

Simbol "Ahad" pun ditunjukkan oleh jari telunjuk yang menghadap ke atas. Ibnu Abbas r.a. mengkategorikannya sebagai gerakan tangan al istighfar, yakni mengangkat tangan dengan satu jari yang menunjuk. Ini merupakan simbol doa dan tauhid. Belakangan simbol ini merebak di kalangan para aktifis muslim, semoga ini pertanda bahwa semakin banyak kaum muslim yang memahami akan pentingnya keteguhan Tauhid di era penuh fitnah dan cobaan akan hal tersebut. Seteguh Bilal bin Rabah r.a. saat mengucapkan, "Ahad, Ahad, Ahad!"

Wallahu al-Musta'an, La haula wa la quwwata illa billah. 

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

#MudahNulis

Membayar Waktu

Bermula dari kejadian yang memancing ego pribadi di pagi hari. Saat mengantar istri untuk pengajian rutin mingguan. Mampirlah kami di pedagang cakwe keliling, maklum bumil sukanya ngemil.

Karena cakwenya baru saja masuk penggorengan, akhirnya kami tunggu hingga matang. Alhamdulillah tidak ada konsumen lain, sehingga saya berpikir tidak akan menunggu lama. Sembari menunggu 5 bungkus cakwe yang sedang digoreng, saya membeli 2  rapia untuk keperluan lain ke warung seberang. Sedangkan istri tetap menunggu di dekat roda pedagang cakwe.

Betapa kagetnya saya, ketika kembali menghampiri Sang pedagang. Ternyata cakwe yang kami tunggu-tunggu ternyata sudah berada di dalam bungkusan yang dipegang konsumen lain. Padahal sebelum saya pergi, ia tidak sedang memesan atau membeli cakwe.

"Mang ini gimana? Kita menunggu dari awal, mengapa orang lain yang didahulukan?" Tegur saya dengan nada yang agak keras.

Saya sengaja berkata apa adanya supaya Si pedagang dan pembelinya sadar diri. Mereka diam saja. Istri saya cuma senyum-senyum saja. Mungkin ia tidak enak hati terhadap Mang penjual Cakwe dan pembeli yang menyerobot.

Setelah naik motor. Saya bilang ke istri bahwa saya menegur supaya pedagang dan konsumen sama-sama menghargai waktu orang lain. Alasan pembeli yang menyerobot, katanya buru-buru mau bekerja. Padahal istri juga buru-buru mau mengaji. Terlambat di pengajian rutin juga ada arti kehilangan tersendiri, dan bagi kami itu bukan sekedar nilai materi.

Setelah saya mengantar istri, saya pergi ke bengkel motor. Servis, ganti oli dan gardan, itulah tujuan saya. Namun sayang sekali, kartu servisnya tidak saya bawa. Ada terbersit untuk pulang dulu mengambil kartunya. Tetapi mengingat waktu Jumat pagi yang sempit. Sedangkan kalau pulang dulu, saya harus menambah waktu sekitar 25 menit, apalagi sambil bonceng bawa anak di depan, pasti terkena angin. Akhirnya, saya pergi tanpa membawa kartu servis gratis.

Pertimbangan menyingkat waktu itu ternyata tidak gratis. Biaya servisnya dikenai 70rb. Bagi kaum gaji, pada tanggal 31 uang segitu lumayan bernilai juga.

Dari kedua kisah itu, saya mengambil ibrah bahwa waktu itu berharga. Bahkan kita membeli waktu itu dalam setiap detiknya.

Saat kita membeli buku. Sebenarnya kita bukan hanya membeli kertas dan bacaan, hal lain  yang kita beli dari buku itu adalah waktu membaca, belajar, menghafal, aktifitas dan pengalaman berharga hingga waktu untuk menuangkan ide yang dimiliki Si Penulis. Dengan membeli buku, kita bisa mengambil ibrah dari waktu hidup dan pengalaman penulisnya.

Hanya saja, tiada yang paling berharga dan menguntungkan untuk membayar waktu selain dengan tiga hal. Yakni iman, amal shalih dan berwasiat dalam kebenaran dan ketaqwaan. (Lih. QS. Al Ashri : 1-3). Termasuk dalam aktifitas membaca dan menulis, selayaknya berporos pada ketiga aktifitas tersebut. Karena jika tidak demikian, kita bisa termasuk orang-orang yang merugi. Wallahu a'lamu bishshawwaab.

(Ary H. - Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

Kesabaran Rasulullah di Thaif

Thaif merupakan daerah yang berjarak ratusan kilometer dari Makkah. Setelah penentangan terhadap dakwah makin menghebat, Rasulullah Saw menjadikannya sebagai salah satu tujuan hijrah.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 10 kenabian. Rasulullah berjalan bersama Zaid bin Haritsah. Mereka berjalan kaki selama empat harian, tidak menunggang kuda ataupun unta supaya tidak menarik perhatian kaum musyrik.

Beliau di Thaif selama 10 hari, namun ada juga yang menuliskan selama 15 hari. Selama di Thaif, beliau tak henti-hentinya mendakwahkan Islam. Ada tiga tokoh Bani Tsaqif yang ditemui oleh Rasulullah, yaitu Abdu Yalil bin Amr bin Umair, Mas'ud bin Amr bin Umair dan Hubaib bin Amr bin Umair.

Rasulullah Saw menyampaikan maksud kedatangannya, yakni mengajak mereka untuk melindungi Islam. Lalu, salah seorang di antara mereka berkata, "tercabik-cabiklah Ka'bah jika Allah mengutusmu!"

"Apakah Allah tidak menemukan orang lain (yang lebih layak) untuk diutus selain kamu?" sergah yang lain.

Terungkap pula sifat pengecut dan sombong dari ucapan mereka, ketika salah seorang berkata,

"Demi Allah, aku tidak mau berbicara denganmu selamanya. Jika benar engkau seorang Rasul seperti pengakuanmu maka sesungguhnya engkau sangat berbahaya bagiku. Jika engkau berdusta atas nama Allah, maka tidak pantas aku berbicara denganmu."

Rasulullah pun memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Namun mereka sudah menghasut warganya, termasuk anak-anak, untuk melempari Rasulullah Saw. Rasulullah dihujani lemparan batu sampai berkali-kali terjatuh dan bangun kembali. Zaid berusaha melindungi Rasulullah hingga kepalanya terluka parah. Keduanya berlindung di tembok sebuah kebun anggur. Saking lebatnya kebun tersebut, penglihatan orang-orang pun tertutupi karenanya.

Dalam kondisi terluka, terbuang, terasing dan terhina di hadapan para penghalang dakwah. Rasulullah Saw hanya bermunajat kepada Sang Pemilik Jagad Raya, Allah Ta'ala.

Beliau berdoa,

"أَللّٰهُمَّ أَشْكُوْ إِلَيْكَ ضَعْفَ قُوَّتِيْ، وَقِلَّةَ حِيْلٰتِيْ، وَهَوَانِيْ عَلَى النَّاسِ. يَا أ‌َرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ وَأَنْتَ رَبِّيْ. إِلَى مَنْ تَكِلْنِيْ؟ إِلَى بَعِيْدٍ يَتَجَهَّمُنِيْ أَمْ  إِلَى عَدُوٍّ مَلَكَتْهُ أَمْرَيْ ؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ غَضَبٌ عَلَيَّ فَلَا أُبَالِيْ. وَلَكِنْ عَافِيَتَكَ أَوْسَعُ لِيْ. أَعُوْذُ بِنُوْرِ وَجْهِكَ الَّذِيْ أَشْرَقَتْ بِهِ الظُّلُمَاتُ، وَصَلَحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، أَنْ تُنْزَلَ بِيْ غَضَبُكَ، أَوْ تُحَلَّ عَلَيَّ سُخْطُكَ. لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ".

"Ya Allah, kepada-Mu aku adukan lemahnya kekuatanku, ketidakberdayaanku dan rendahnya aku di mata manusia.

Wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku.

Kepada siapa Engkau serahkan diri ini? Apakah kepada mereka yang jauh lalu menyiksaku atau kepada musuh yang mengendalikan urusanku?

Selama Engkau tidak murka, maka aku tidak akan peduli. Akan tetapi, ampunan-Mu lebih aku harapkan.

Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan serta memperbaiki segala urusan dunia dan akhirat, agar jangan sampai aku ditimpa amarah atau murka-Mu.

Ya Allah, bagi-Mu segala kepasrahan hingga Engkau meridhaiku, tidak ada daya dan upaya melainkan dengan-Mu."

Begitulah kesabaran beliau saw dalam dakwahnya. Semoga kita bisa menapaki setiap jejak dan langkahnya. Aamiin.

(Ary H.)

Kelapangan Hati Utsman bin Mazh'un

Tatkala mendengar kabar tentang masuk Islamnya orang-orang Quraisy, Utsman bin Mazh'un r.a. segera pulang ke kampung halamannya. Meski dalam hijrahnya selama di Habasyah ia mendapatkan kondisi yang aman, tetapi kerinduan kepada Islam dan kampung halamannya mendorongnya untuk segera pulang.

Ternyata kabar tersebut hanyalah hoax belaka. Kabar dusta tersebut sengaja dibuat oleh kaum musyrik untuk menjebak umat Islam yang berada di Habasyah. Meski jebakan sudah disiapkan, umat Islam pun tetap memilih untuk memasuki Makkah dengan segala resikonya.

Tak semua umat Islam mengalami penyiksaan. Beberapa di antaranya mendapatkan perlindungan, termasuk Utsman bin Mazh'un yang mendapatkan perlindungan Walid bin Mughirah. Tetapi itu tak berjalan lama, karena Utsman memutuskan perlindungan tersebut karena menginginkan perlindungan Allah Swt semata.

Saat di luar perlindungan itulah, Utsman hadir dalam sebuah pertemuan kaum Musyrik. Ketika itu, Labib bin Rabi'ah membacakan syair yang memukau hadirin.

"Ketahuilah bahwa apapun yang selain Allah adalah hampa"

Utsman mengomentarinya, "Benar sekali"

Labib pun melanjutkan syairnya,

"Dan semua nikmat pasti akan lenyap"

Utsman menyanggahnya,

"Bohong! Kenikmatan surga tidaklah akan lenyap."

Tanpa memperhatikan amarah kaum Labib bin Rabi'ah dan para tokoh musyrik, Utsman terus menerus mengomentari sya'ir yang dibacakan. Hingga amarah itu memuncak dan Utsman pun dianiaya. Matanya lebam karena pukulan kaum muysrik.

Utsman bin Mazh'un r.a. pulang menginggalkan pertemuan itu, seraya bersyair,

"Jika demi membela agama tercinta
mataku terkena pukulan para pendusta agama
maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya
Siapa saja yang diridloi-Nya pasti berbahagia

Jika kalian menuduhku sesat
aku tetap akan berada di barisan Muhammad
Tujuanku hanya Allah
Islam tetaplah agama yang benar
meskipun kalian berbuat aniaya dan melakukan tipu daya."

Simaklah kejadian ini, apa yang di mulut Labib tak memastikan ia mengesakan Allah Swt. Karena penolakannya terhadap Rasulullah Saw serta ajaran-Nya, tetaplah membuatnya berada di barisan kaum musyrik. Wallohu a'lamu bishshowwaab. (Ary H.)

Sumber syair : Rijal[un] haula ar-Rosul[i]. Khalid Muhammad Khalid. Diterjemahkan oleh Muhil Dhofir, Lc.

Selasa, 04 April 2017

Allah Swt dan Rasul-Nya Memerintahkan Kaum Muslim Bersatu

sumber gambar : arrahmah[dot]com

Mengenai perintah supaya kaum muslim bersatu, Allah Swt menggandengkannya setelah perintah untuk taqwa dan menggenggam keislaman hingga akhir hayat. Hal ini pertanda bahwa keislaman merupakan hal penting yang harus selalu kita pegang, apapun resikonya (lih. QS. Ali Imran[3]: 102). Selanjutnya Allah Swt memerintahkan kaum muslim untuk bersatu seraya berpegang teguh kepada tali Allah dan melarang perpecahan.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpegangteguhlah kalian kepada tali (agama) Allah secara keseluruhan dan janganlah kalian berpecah belah. Dan ingatlah atas nikmat Allah atas kalian, ketika kalian bermusuh-musuhan maka Allah menyatukan hati-hati kalian. Kemudian atas nikmat Allah menjadikan kalian bersaudara. Sedangkan kalian telah berada di tepi jurang neraka maka Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kalian, supaya kalian menadapat petunjuk.” (TQS. Ali Imran[3]: 103)

Abu Ja’far berkata, berpegangteguhlah kepada agama Allah yang telah diperintahkan atas kalian serta terhadap janji-Nya yang telah dijanjikan terhadap kalian di dalam kitab-Nya. Berupa ketertautan hati, persatuan di atas kalimat al-Haq serta kepasrahan atas perintah Allah. Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa Allah Swt mewajibkan kita untuk berpegangteguh pada Al Quran, Sunnah Rasulullah serta merujuk keduanya ketika terjadi perselisihan. Allah memerintahkan kita untuk bersepakat di atas keteguhan terhadap Al Quran dan as-Sunnah secara i’tikad dan perbuatan.

Ibnu Abi Hatim berkata bahwa Allah telah memerintahkan untuk berpegang teguh terhadap Al Quran, agama-Nya dan syahadatnya. Allah juga melarang kaum muslim untuk bercerai berai dan berselisih satu sama lain. Menurut al-Qurthubi, Allah Swt memerintahkan supaya mengingat berbagai nikmat-Nya, mengagungkan Islam dan meneladani Nabi Muhammad Saw. Karenanya-lah, permusuhan dan perpecahan telah hilang lalu tumbuh cinta dan ketertautan hati. Dan yang dimaksud adalah Aus dan Khazraj.

Pada suatu saat, satu kelompok orang Yahudi berusaha untuk memecah belah persatuan kaum muslim. Terutama, setelah melihat Aus dan Khazraj masuk Islam. Salah seorang pemuda di antara mereka diperintahkan untuk menyusup dalam dua suku tersebut, supaya mengingatkan mereka akan Perang Bu’at. Salah satu perang yang pernah terjadi di antara suku Aus dan Khazraj, di mana saat itu Aus dapat mengalahkan Khazraj. Pemuda tersebut membacakan sajak-sajak untuk menceraiberaikan mereka. Akibatnya, orang-orang Aus dan Khazraj pun tersulut dan hampir saja berperang.

Untunglah, sebelum sesuatu yang buruk terjadi di antara keduanya. Kejadian ini sampai kepada Rasulullah Saw, beliau bersabda : “Wahai kaum muslim, ingatlah Allah, ingatlah Allah! Apakah kalian akan bertindak seperti para penyembah berhala ketika aku hadir di tengah-tengah kalian dan Allah telah menunjuki kalian dengan Islam. Dan dengan demikian kalian menjadi mulia dan menjauhkan diri dari penyembahan berhala; kekufuran dan menjadikan kalian bersaudara karenanya?”
Mendengar sabda Rasulullah Saw tersebut, orang-orang Aus dan Khazraj menangis lalu saling berpelukan satu sama lain. 

Dalam kejadian lain, Jabir bin Abdullah al-Anshari menceritakan tentang peristiwa penyemprotan air di tempat al-Murasyi, yang telah menyebabkan kaum munafiq menyerukan ashabiyyah (fanatisme kelompok/golongan, suku dan kebangsaan, pen.) serta mencari jalan untuk memecah belah persatuan mereka. Jabir berkata : “Pada saat itu kita berada pada suatu penyerbuan, ketika seorang Muhajirin menendang seorang Anshar. Orang Anshar tersebut berteriak, “Wahai Anshar, tolonglah aku!” dan orang Muhajirin pun berkata : “Wahai Muhajirin, tolonglah aku!” Rasulullah yang mendengarnya, lalu beliau bersabda : “Mengapa kalian meributkan sesuatu seperti masa Jahiliyyah?”

Rasulullah kemudian mengajak orang-orang tersebut berjalan jauh hingga larut malam, dari malam hingga pagi kembali, dan esok harinya matahari menyengat mereka. Lalu Rasulullah menghentikan mereka, sehingga ketika menyentuh tanah, tertidurlah mereka. Dengan demikian, mereka lupa atas peristiwa yang baru saja mereka alami.     

Begitu pula ketika Jundub bin Junabah, yang lebih dikenal dengan Abu Dzar al-Ghifari, berkata kepada Bilal bin Rabah r.a., “Hai orang hitam yang terlahir dari seorang budak hitam.” Rasulullah Saw sangat marah mendengarnya. Beliau bersabda, ”Ini keterlaluan Abu Dzar. Orang yang ibunya berkulit putih tidak memiliki kelebihan yang membuatnya lebih baik daripada seseorang yang berkulit hitam.” Abu Dzar sangat menyesali perkataannya. Ia meletakkan kepalanya di atas tanah dan bersumpah tidak akan mengangkat kepalanya hingga Bilal menginjakkan kaki di atasnya.   

Berbagai peristiwa ini menunjukkan bahwa dalam Islam, ikatan keislaman itulah yang utama. Bahkan ikatan-ikatan selainnya tidak mendapatkan tempat untuk dimulyakan. Sebagaimana firman Allah Swt,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara maka damaikanlah antara saudara-saudara kalian, dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian diberi rahmat.” (TQS. Al Hujurat[49]: 10)

Begitu pula sabda Rasulullah Saw, “Orang Arab tidaklah lebih baik dari orang non Arab. Sebaliknya, orang non Arab juga tidak lebih baik dari orang Arab. Orang berkulit merah tidak lebih baik dari orang berkulit hitam kecuali dalam ketakwaannya. Umat manusia adalah anak cucu Adam dan Adam diciptakan dari tanah liat.” (THR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari)    

Umat Islam -apapun kelompok/golongan, suku, bangsa serta warna kulitnya – merupakan umat yang satu, ia tak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Seharusnya tidak ada ikatan apapun yang dapat memecah belah kita. Orang yang paling mulia dalam Islam hanyalah orang yang paling bertakwa. Jadi, atas dasar apa kaum muslim berpecah belah satu sama lain? Padahal Tuhan kita satu, yakni Allah Swt. Nabi kita satu, yakni Nabi Muhammad Saw. Kitab kita satu, yakni Al Quran. Tiada lain karena kaum muslim tidak hidup dalam satu kepemimpinan dan aturan, yakni Khilafah yang menerapkan Syariah. Wallahu a’lamu bishshawwaab.


(Ary H. – Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)

Minggu, 02 April 2017

Islam; Benar-benar Cinta


Mungkin judul tulisan ini terlalu melankolis. Tetapi demikianlah faktanya. Sekulerisme yang diemban Barat sedari abad pertengahan, kini telah terbukti mendegradasi manusia. Manusia menjadi laksana zombie yang hidup tanpa perasaan. Pandangan hidup pemisahan agama dari kehidupan ini membuat slogan-slogan cinta menjadi basi dan mati. Cinta seolah hanya menjadi rayuan dan tipuan yang dibalut kepalsuan.

Sekulerisme menjadikan cinta kepada Allah Swt hanya menjadi slogan dan inilah bahaya utamanya. Cinta kepada Allah yang seharusnya menumbuhkan kecintaan terhadap-Nya dalam berbagai aspek kehidupan, menaati berbagai perintah dan larangan-Nya, serta mencontoh Rasul-Nya. Namun tidak demikian ketika dibalut sekulerisme. Cinta kepada Allah hanya diucap di bibir, sedangkan berperilaku tak mau mengacu kepada aturan Allah Swt. Karena menurut sekulerisme, manusia bisa membuat pertimbangan baik dan buruk tersendiri dalam kehidupannya. Bahkan dibolehkan pula apabila ternyata berbeda dengan aturan Pencipta.

Cinta kepada Allah Swt pun akhirnya dibatasi pada aktifitas ritual serta tempat ibadah semata. Adapun selain aktifitas serta di luar tempat tersebut, manusia akhirnya menjauh dari Sang Pencipta.

Begitu pula tatkala Allah Swt memberkahi manusia dengan fitrah naluri melestarikan jenis. Maka tumbuh di dalam diri manusia pun cinta akan lawan jenis. Cinta ini akan tumbuh secara fitrah, karena diberikan Allah untuk kelestarian umat manusia. Tanpanya, takkan ada status anak dan istri dan tak akan ada pula generasi penerus. Namun sekulerisme telah membuat cinta itu menjadi mati. Gaya hidup yang memisahkan agama meniscayakan adanya liberalisasi pergaulan.

Muda-mudi bergaul bebas, tua muda berganti pasangan, menjadi hal yang tidak tabu lagi. Cinta yang seharusnya tumbuh, hanya menjadi syahwat seksual dan hiburan semata. Dampaknya, beberapa hari yang lalu kita membaca berita bayi yang dibuang hingga meninggal. Kemudian tiga pasangan mesum yang terjaring razia. Atau angka aborsi yang semakin meninggi. Kasus perceraian semakin meningkat, penyakit seksual menular pun mewabah. Harga diri manusia jatuh menjadi sekedar lekuk tubuh dan rupiah.

Berdasarkan data WHO dan institut Guttmacher satu dari empat perempuan hamil berakhir aborsi, 56 juta janin tak berdosa dibunuh setiap tahunnya. Para pemuda menjadi korban pornografi dan pornoaksi. Padahal menurut Ahli Neuropsikologi Saraf, Ihsan Gumilar, adiksi pornografi itu sama dengan narkoba. Kecanduan pornografi membuat otak seseorang kebanjiran dophamine. Hal ini akan membuat seseorang ketagihan yang akan berujung pada kriminalitas serta penyimpangan seksual. Semua ini terjadi karena liberalisasi pergaulan.

Tatkala naluri melestarikan jenis menyempit menjadi kenikmatan seksual semata maka pergaulan bebas akan semakin merajalela. Manusia pun akan cenderung enggan menikah dan memiliki anak. Lambat laun namun pasti, kelestarian manusia pun terancam. Fakta tersebut kini melanda banyak negara penganut sekulerisme. Angka kelahiran yang sangat minim, membuat generasi muda mereka terancam punah. Misal Jepang dengan angka kelahiran yang terus menurun drastis sedangkan usia harapan hidup terus meningkat.

Diperkirakan pada tahun 2060, 40% populasi penduduk Jepang adalah orang berusia 65 tahun ke atas (bbc.com). Negara-negara Eropa pun tak jauh berbeda, angka kematian di Eropa lebih banyak dibandingkan angka kelahiran. Sebuah laporan yang dipimpin ahli demografi Texas A & M University mengungkapkan bahwa 58 persen dari 1.391 kabupaten di Eropa memiliki lebih banyak kematian daripada kelahiran. Menurut Profesor Sosiologi Texas A & M, Dudley Poston, penurunan jumlah penduduk usia muda akan berimbas pada ketahanan demografi. (cnnindonesia.com).    
   
Tak hanya itu, sekulerisme pun telah menjadikan hubungan cinta orang tua dan anak menjadi hampa. Ketika sekulerisme tertanam di benak anak. Orang tua hanya akan dipandang jika bermateri dan berharta, tak ada hormat jika semua itu tak ada. Begitu pula sebaliknya, cinta orang tua terhadap anak-anaknya menjadi berbeda, karena keberhasilan ditakar hanya berdasar materi belaka. Mengerikan memang, namun fakta membuktikan bahwa kasus pertentangan materi antara orang tua dan anak, belakangan ini seolah menjadi biasa.

Kemudian tatkala Allah Swt memberkahi manusia dengan gharizatul baqo’ (naluri mempertahankan diri), manusia memiliki kecintaan terhadap negerinya. Namun sekulerisme telah membuatnya menjadi slogan hampa yang tak berarti. Dengan sekulerisme, cinta negeri menjadi sekedar ilusi. Tersebab, pengaturan ekonomi kapitalismenya membuat manusia saling menzalimi. Suatu negeri menjajah negeri yang lain. Negara maju berkuasa, negara miskin dan berkembang terinjak tak berdaya.

Negara-negara penjajah membuat jebakan. Mereka mengeruk kekayaan di banyak negeri untuk diri sendiri. Emas, gas, serta SDA lainnya dieksploitasi atas nama investasi. Tak hanya itu, mereka pun mengeluarkan jeratan utang ke banyak negeri. Utang yang tak kan pernah lunas itu berdampak pada peningkatan target pajak. Pajak pun diekstensifikasi dan diintensifikasi hanya untuk membayar utang yang persentasenya dirancang naik setiap tahun. Bagaimana bisa, seorang anak negeri sampai depresi karena tertagih pajak yang tinggi, namun tunggakan deviden perusahaan tambang asing mereda sepi sendiri. Pada saat yang sama, SDA dikeruk hingga menipis habis karena diangkut ke luar negeri. Tak sampai sana saja, jika pajak tetap tak mencukupi, maka aset-aset negeri pun dilelang untuk menutupi pemasukan. Kepada siapa? kepada para kapitalis, terutama asing. Cinta negeri? seolah tak ada lagi. Ia menjadi mati seiring pembelaan kepada para penjajah negeri.

Begitulah sekulerisme, pandangan hidup yang cacat sejak kelahirannya, tak bisa diharapkan. Cinta terhadap Allah, sesama manusia serta negeri pun menjadi slogan belaka.
Dalam Islam, hakikat cinta manusia hanyalah kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Dengan bersandar pada keduanya, cinta lain yang tumbuh secara fitrah pasti akan terjaga.  

Islam menjaga kecintaan manusia kepada Allah Swt tidak hanya dengan shalat lima waktu. Tetapi ketundukan dalam berbagai aktifitas. Sebagaimana yang disampaikan oleh al-Baidhawi, bahwa cinta adalah keinginan untuk taat. Hal ini diperjelas oleh al-Zujaj, ia mengatakan bahwa cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati keduanya dan ridha terhadap segala perintah Allah, serta ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

Penguasa dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah dengan menerapkan aturan-Nya. Rakyat dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah dengan beramar ma’ruf nahyi munkar. Rakyat dan penguasa dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah Swt dengan membela agama serta negerinya. Cinta pun disemai dalam berbagai bidang kehidupan. Sistem pendidikan diterapkan berbasis aqidah Islam. Sistem pergaulan diterapkan berdasarkan syariah. Begitu pula dalam sistem politik, sanksi, serta kebudayaan. Semuanya dikaitkan dengan kesadaran hubungan manusia terhadap Allah Swt. Allah Swt sebagai Al-Khaliq (Pencipta) dan manusia sebagai makhluk yang taat terhadap-Nya.

Islam membuat cinta antara anak dan orang tua menjadi jauh lebih bermakna. Semua bukanlah tentang materi semata. Islam mewajibkan anak untuk berbakti. Islam menjadikan keshalihan sebagai mutiara. Dalam Islam, anak shalih yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya menjadi amal yang terus mengalirkan pahala. Ukuran keshalihan pun jelas. Yakni, taat kepada perintah dan larangan Allah Swt, serta menapaki setiap yang halal dan menjauhi setiap yang haram. Kuantitas materi, sama sekali tidak menjadi ukuran. Bila demikian, semua insan pasti akan berpeluang memiliki cinta ini. Cinta yang melintasi sekat materi duniawi, tak terbatas untuk kaum kaya semata.    

Islam pun mengharamkan menggadai negeri. Jika kita mengaku cinta terhadap Allah, pasti kita akan tunduk ketika Allah Swt mengharamkan penjualan berbagai aset negeri. Begitu pula tatkala Allah Swt mewajibkan berjihad menjaga setiap jengkal negerinya, pasti akan dipatuhi. Semua dilakoni hanya karena Allah Swt memerintahkannya, bukan karena yang lain.

Marilah kita renungkan ucapan Tsumamah bin Tsa’al ketika berkata, “Ya Muhammad, demi Allah, dulu tidak ada tidak ada satu wajah pun yang paling aku benci di muka bumi selain wajahmu. Tapi kini, wajahmu adalah wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada satu pun agama yang paling aku benci di muka bumi ini selain agamamu. Tapi kini, agamamu adalah agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada satu pun negeri yang paling aku benci di muka bumi ini selain negerimu. Tapi kini, negerimu adalah negeri yang paling aku cintai.” 

Tentang cinta kepada Rasulullah, Imam an-Nawawi menuliskan bahwa engkau tidak dikatakan benar-benar mencintaiku hingga dirimu binasa dalam taat kepadaku, dan engkau lebih mementingkan ridhaku daripada hawa nafsumu, meski engkau harus binasa karenanya.

Sekulerisme telah mematikan cinta. Ia membuat cinta menjadi slogan-slogan semata. Di balik itu tersimpan kerakusan syahwat manusia. Sedangkan Islam, benar-benar cinta. Karena semua cinta tumbuh di atas kecintaan terhadap Allah Swt dan Rasul-Nya, serta dirawat dengan bimbingan wahyu Allah Swt, Tuhan Yang Maha Pemurah serta Maha Penyayang. Wallohu a’lamu bishshowwaab.
(Ary H. – Islamic Writer, Pengelola FP MudahNulis)