Selasa, 22 November 2016

Bekal

(Kisah Fiksi)

Sebuah pagi yang redup, ketika mentari masih bersembunyi kedinginan berselimutkan awan, Abdul duduk santai di teras rumahnya. Secangkir kopi dan sebuah buku sejarah Islam menemani kesendiriannya. Seruput kopi hangat menjadi penyela aktifitas membacanya, setidaknya bisa menyegarkan mata yang lelah.
Membaca buku sejarah, membuatnya menerawang ke salah satu kisah dalam episode buku kehidupannya. Pikirannya sibuk mencari file kisah memori yang sangat menarik baginya.
Saat itu, ia masih kuliah. Di sebuah sore yang cerah, ia kedatangan tamu seorang senior di kampusnya, Mas Andi namanya. Ia adalah salah seorang aktifis Lembaga Dakwah Kampus. Setelah lama berbincang,
"Begitu Mas, saya tidak ada waktu untuk.ikut kajian keislaman di kampus. Waktu saya padat Mas," ujar Abdul menolak ajakan Mas Andi.
"Kuliahmu padat ya? Ga ada liburnya?" Tanya Mas Andi.
"Iya mas, setiap hari aku masuk dari pagi sampai siang," Jawab Abdul.
"Kalo menyempatkan di sela-sela kuliah, bagaimana?" Tanya Mas Andi kemudian.
Sebetulnya Abdul punya luang waktu banyak di sela-sela kuliahnya, antara satu jadwal mata kuliah dengan jadwal berikutnya. Tetapi, ia tidak mau kuliahnya terganggu aktifitas lain. Ia ingin fokus kuliah saja.
"Nggak Mas, kalau kuliah aku ingin fokus kuliah saja. Saya takut mengecewakan orang tua, kalau saya ditanya pas pulang nanti," jawab Abdul kemudian.
"Kalau sore hari bagaimana?" Mas Andi bertanya lagi.
"Aku sibuk les bahasa Mas, saya ingin menyiapkan bekal untuk masuk dunia kerja nanti," jawabnya langsung disertai alasan. "Kan Mas tahu sendiri kalau bahasa Asing sangatlah penting untuk bekal masa depan," lanjutnya.
Mas Andi manggut-manggut tanda mengerti. Setelah berdiam sejenak, ia bertanya kembali, "Bagaimana kalau malam?"
"Mmmmh....," gumam Abdul, ia terdiam sejenak. Lalu menjawabnya, "sibuk Mas, sibuk ngerjakan tugas untuk kuliah pada esok harinya."
"Kalau malam minggu bagaimana? Kan libur tuh," tanya Mas Andi.
"Duh, ga bisa Mas. Saya sering kumpul-kumpul dengan teman kostan. Hari minggunya juga jadwal saya nyuci pakaian," Abdul menutup semua peluang Mas Andi untuk bertanya lagi.
"Oh ya sudahlah kalau begitu," jawab Mas Andi.
"Dul, kamu memang hebat. Benar-benar serius menyiapkan masa depan dengan baik," ujar Mas Andi.
"Iya mas, kalau tidak serius, bagaimana aku dewasa kelak," Jawab Abdul berbangga.
"Itu bagus Dul, keseriusan seperti itu harus dipertahankan. Apalagi kamu juga mengikuti les bahasa Asing sebagai tambahan bekalnya" lanjut Mas Andi.
Abdul semakin senang, Mas Andi mau mengerti dirinya.
"Namun, apakah kamu yakin dan menjamin tetap sehat dan hidup dewasa kelak?" Tanya Mas Andi pelan-pelan.
Abdul belum mengerti arah pertanyaan Mas Andi.
"Maksudnya gimana, Mas?" Tanya Abdul.
"Iya, Abdul menjamin ga bakal hidup sampai usia dewasa? Tahu ga umur Abdul sampai berapa tahun?" Tanya Mas Andi.
"Ya enggak lah, Mas!" Jawab Abdul. "Kematian kan ada di tangan Allah Swt, tidak ada manusia yang tahu ajalnya sampai kapan," lanjutnya seraya tersenyum.
"Tapi, kita pasti mati kan?" Tanya Mas Andi kemudian.
"Iya pasti lah, Mas!" Abdul menjawabnya dengan ringan.
"Nah inilah Dul," Mas Andi berhenti sejenak. Lalu menghela nafas dengan pelan-pelan.
"Iya kenapa Mas?" Abdul penasaran.
"Menjadi dewasa belum pasti dialami, namun ajal dan akhirat pasti kan dialami. Mengapa untuk masa depan yang belum pasti, kita serius menyiapkannya. Sedangkan untuk masa depan yang sudah pasti, bagaimana? Apa bekal yang sudah kita siapkan?" Tanya Mas Andi.
Abdul terhenyak dengan pertanyaan ini. Ia pun bertanya ke dalam dirinya, apa bekal yang sudah ia siapkan untuk masa depan yang sudah pasti. Adakah?
Abdul pun terhenti dari lamunan masa lalunya, ia kembali menyeruput kopinya dan membaca buku sejarah yang ia pegang sedari tadi. Alhamdulillah, Allah Swt memberikan kesempatan hidup hingga ia dewasa. Meskipun bekal hidupnya sampai saat ini masih jauh dari kata cukup. Tapi setidaknya, dengan mengikuti kajian Islam dan dakwah itulah ia belajar untuk menyiapkan bekal untuk masa depan Akhirat yang pasti kan dialami setiap insan.
(Tamat)

Saling Menuntut

(Kisah Fiksi)

Hari Senin, hari yang biasanya penuh kesibukan. Tak terkecuali bagi seorang Abdul, sejak pulang dari masjid, ia langsung bersiap-siap. Sebagai seorang trainer, ia mesti tampil rapih dan prima di hadapan para pesertanya.
"Bu, kemeja biruku di mana ya?" Tanya Abdul kepada istrinya, sambil mondar-mandir kesana-kemari.
"Yang mana Pak?" Tanya Sang Istri.
"Itu bu, yang baru beli minggu kemarin? Masak sih ibu lupa, kan belinya juga sama ibu?" Jawab Abdul.
"Cepat dicari ya Bu! Tempat training hari ini cukup jauh, Bapak butuh waktu!" Lanjutnya. Ia mulai kesal.
"Iya pak, ini kan sedang Ibu cari. Mengapa sih ga dr tadi malam mempersiapkannya?" Tanya istrinya, seraya terus memeriksa isi lemari. Tapi kemeja yang dicari tetap saja tidak ketemu.
"Ibu kan tahu sendiri, kemarin kan Bapak sibuk kajian dan mengikuti kegiatan keislaman sampai malam!" Jawabnya.
"Harusnya ibu kan yang mempersiapkan. Kemarin kan ibu libur, harusnya bisa mempersiapkan kemeja Bapak!" Ujar Abdul dengan ketus.
"Bapak ini, ibu kan kemarin juga ada acara dan rapat persiapan kegiatan training keislaman. Pan kegiatan dakwah juga." Jawab Sang Istri.
"Astaghfirullah Pak, kemejanya ketemu, tapi masih di cucian!" Teriak Sang Istri.
"Maafin Ibu ya Pak, Bapak pakai kemeja yang lain dulu!" Pinta Sang Istri dengan nada memelas.
"Ibu ini, gimana sih! Kemeja Bapak yang lain kan sudah mulai lusuh? Kata Bapak juga, kalau mau kegiatan di luar rumah, lihat dulu kegiatan di dalam rumah! Itu kan tugas Ibu!" Abdul mulai morang-maring. "Tugas utama ibu itu di rumah, ingatlah! ibu akan dihisab jika mengabaikan tugas utama ibu di rumah," jelas Abdul.
"Maafin Ibu Pak, tetapi kemeja yang ada di lemari juga Ibu lihat masih bagus kok Pak," tegas Sang istri.
"Cuci saja sekarang Bu! Bapak tunggu saja. Ibu ini gimana sih, ga bisa mengatur waktu!" Ketus Abdul, ia terus saja menyalahkan Sang istri.
"Iya, baiklah Pak!" Jawab Sang istri seraya menuju kamar mandi.
Tapi, tak lama Sang istri kembali lagi.
"Pak, kayaknya ga bisa mencuci pakaian sekarang," ujar Sang istri.
"Mengapa Bu? Alasan apa lagi?" Abdul terus saja emosi.
"Ibu baru ingat, kita ga punya sabun cuci Pak, kemarin ibu mau belanja. Tapi ibu benar-benar ga ada uang.
"Ibu juga baru ingat, pagi ini juga belum bisa masak karena gasnya habis," jelas Sang istri.
Abdul pun terdiam, ia memang ada uang di sakunya. Tetapi itu hanya cukup untuk ongkos ia pergi ke tempat training. Mungkin pas pulang, ia baru bisa ada uang.
"Pinjam dulu dong bu, bapak kan baru ada uang nanti pas pulang," ucap Abdul dengan nada suara mulai pelan.
"Pinjam ke mana Pak? Bapak kan tahu sendiri kalau ibu tak berani berutang!" Jawab Sang istri.
"Ibu kan sudah bilang. Kalau Bapak harus cari tambahan kerjaan lain. Mengisi training dengan jadwal yang tidak menetap, sudah tidak cocok lagi dengan kebutuhan yang semakin meningkat. Anak-anak juga bertambah besar. Tugas Bapak kan harus menafkahi istri dan anak dengan layak," jelas Sang istri dengan pelan.
"Bapak juga perlu tahu, mengapa Ibu kemarin seharian di luar rumah. Karena Ibu belajar membuat proposal, ibu berkali-kali minta diajari ke Bapak, tetapi Bapak sibuk terus," jelas Sang istri.
Abdul terdiam. Ia mulai merenungi setiap perkataan istrinya.
"Bukankah mendidik istri juga merupakan tugas seorang suami?" Tanya Sang istri, seraya melihat ke wajah suaminya.
Sang istri tak menyangka, ia melihat lelehan air mata di kedua sudut mata Abdul. Abdul pun langsung terduduk di kursi. Melihatnya, Sang istri pun terdiam dan tak melanjutkan ucapannya.
Sang istri sadar, ia telah berbuat lancang kepada suaminya. Ia telah menyakiti hati suaminya. Ia berpikir, bagaimana kalau suaminya tidak ridlo terhadapnya, padahal keridloan Allah Swt terletak pada keridloan seorang suami. Setelah lama terdiam, ia pun memberanikan bicara.
"Maafkan Ibu, Pak! Ibu telah lancang kepada Bapak," ucap Sang istri.
"Ga apa-apa Bu! Bukan itu yang membuat Bapak menangis," jawab Abdul.
"Jika bukan perkataan Ibu, lalu apa yang membuat Bapak bersedih?" Tanya Sang istri kemudian.
Abdul hanya terdiam, bibirnya seakan berat untuk berucap. Namun, tak lama kemudian ia berkata dengan nada yang pelan, jauh sekali dari nada bicaranya saat mencari kemeja barunya.
"Di dunia saja kita sudah saling menuntut, apalagi di akhirat kelak. Dimana setiap manusia akan lari dari saudaranya, ibu dan ayahnya, istri dan anaknya. Karena setiap kita akan sibuk dengan urusan berat kita masing-masing." Jelas Abdul seraya menyeka air matanya.
Mendengar jawaban suaminya, Sang istri pun lalu terdiam. Ia tak kuasa menahan deras air matanya, lalu ia pun terduduk di samping suaminya.
(T A M A T)

Niat Baik

(Kisah Fiksi)

#Niat_Baik

Menikmati kopi hangat di teras rumah, seraya menatap keindahan awan yang terlukis indah. Betapa santainya Abdul pagi ini. Bukan tanpa agenda, namun karena semua rencana sudah disiapkan sedari malam harinya.

"Alhamdulillah, pagi yang cerah. Saat yang tepat untuk bepergian dengan sepeda motor nih. Apalagi lokasi kegiatan hari ini masih di dalam kota," pikir Abdul dalam benaknya.

"Jika masih siang, nanti kan bisa sekalian jemput istri. Kan jarang-jarang bisa menjemputnya. Apalagi kalau sedang ngisi kegiatan di luar kota," ucapnya dalam hati.

Tak lama berselang, Sang istri menghampiri duduk di sampingnya.

"Gimana pak? Bisa jemput Ibu nanti siang? Hari ini kan Bapak tidak keluar kota," tanya Sang istri.

"Gimana nanti ya Bu? Biasanya kan sehabis kegiatan suka ada rapat evaluasi," jawab Abdul.

Sebetulnya, Abdul tak ada janjian evaluasi dengan panitia siang itu. Namun entah mengapa, tiba-tiba terbersit keinginan untuk membuat kejutan bagi Sang istri. Apalagi selama ini, Abdul selalu tak bisa jika diminta menjemputnya.

"Gimana Bapak ini, tadi malam katanya bisa sekalian jemput? Ya sudahlah kalau begitu, Ibu pulangnya naik angkutan umum saja," Jawab Sang istri.

"Iya bu, naik angkutan umum saja," jawab Abdul. Hatinya terasa bahagia, karena punya kesempatan untuk memberikan kejutan buat Sang istri. Meskipun hanya sekedar menjemput.

"Berangkatnya saja kita bareng ya Bu? Kebetulan kan satu arah," Tegas Abdul.

"Iya Pak! Ga apa-apa toh Ibu selama ini sudah biasa naik angkutan umum. Ayo siap-siap berangkat!" Ajak Sang istri.

Abdul dan istrinya pun keluar rumah bersama. Selepas mengantar istrinya, Abdul pun ke lokasi kegiatannya hingga menjelang dzuhur.

Setelah selesai acara, sesaat sebelum berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat Dzuhur, tiba-tiba salah seorang panitia menghampirinya.

"Pak, afwan nanti sehabis acara kita evaluasi kegiatan dulu ya!" Ujarnya.

Mendengarnya, Abdul kaget bukan kepalang. Rencananya untuk memberi kejutan kepada Sang istri bisa gagal total nih, pikirnya.

"Gimana pak, bisa kan? Ketua panitia yang memintanya? Soalnya, kehadiran Bapak sangatlah penting untuk evaluasi kegiatan ini," tegasnya.

"Duh, gimana ya? Saya mau jemput istri saya. Kasihan dia kalau pulang naik angkutan umum," Jawab Abdul.

"Mengapa juga dadakan, kan tidak ada rencana evaluasi?" Tanya Abdul.

"Iya, ketua panitia lupa menegaskan. Karena pikirnya, rapat evaluasi sehabis acara itu hal yang sudah biasa."

"Afwan kalau dadakan begini, saya tidak bisa," tegas Abdul.

"Oh, ya ga apa-apa pak. Nanti kami minta masukan tertulisnya."

"Iya lah kalau begitu, insyaAllah nanti kalau saya sudah sampai di rumah."

Setelah shalat dzuhur, Abdul pun langsung melaju sepeda motornya. Ia sudah membayangkan, bagaimana roman bahagia Sang istri, jika ternyata ia datang menjemputnya.

Singkat cerita, sampailah Abdul di lokasi tempat istrinya di antar tadi. Sebuah rumah asri nan sederhana. Tanaman yang tertata dan teras yang bersih, menggambarkan kerapihan para penghuninya.

Namun kok rumahnya terlihat sepi. Abdul mulai ragu, jangan-jangan istrinya sudah pulang. Untuk memastikannya, ia pun turun dari motornya, bermaksud untuk mengetuk pintu rumah serta mengucapkan salam.

Belum saja niatnya terlaksana, tiba-tiba terdengar suara seseorang berjalan di belakangnya.

"Eh, Nak Abdul. Assalamu 'alaikum!" Tanya seorang ibu paruh baya menyapanya dengan ramah.

"Wa 'alaikumussalaam warohmatullah!"

"Mau jemput Si Neng ya? kan tempat kegiatannya dipindah ke rumah Bu Rima," jelasnya.

Ibu tersebut sangat mengenalnya begitupun sebaliknya. Beliau adalah bu Amin mertua bu Dina, teman istrinya mengaji.

"Puterinya Bu Rima sakit, jadi kajiannya dipindah ke sana," jelas Ibu Amin.

"Oh begitu bu, makasih infonya Bu. Saya langsung pamit saja," ujar Abdul seraya langsung menaiki motor bebeknya.

"Iya, kasihan Nak Abdul. Si Neng ga ngasih kabar apa-apa gitu?" Tanyanya.

Abdul hanya menjawabnya dengan senyuman,

"Assalamu'alaikum," pamit Abdul.

Ia pun langsung pamit. Seraya melihat jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 1 siang. Ia pikir masih ada waktu untuk menjemput istrinya. Karena seingatnya, jadwal kegiatan istrinya sampai jam setengah dua.

Ia langsung memundurkan motornya tanpa menunggu jawaban salam bu Amin.

Rumah Bu Irma memang tidak jauh dari rumahnya.  Malahan kalau naik angkutan umum, hanya sekali naik saja. Tetapi jika dari lokasinya saat ini, hanya ada dua pilihan jalur. Ia memutar melalui jalur lingkar atau masuk dalam kota melalui jalur satu arah. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk memutar ke jalan lingkar. Pertimbangannya adalah menghindari macet.

Alhamdulillah, jalur lingkar sepi dan lenggang. Meskipun jaraknya lebih jauh, namun waktu tempuhnya bisa lebih cepat.

Saat sedang melaju kencang, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat ada kerumunan polisi lalu lintas. Wah ada razia nih, pikirnya. Ia pun memelankan motornya, lalu ke pinggir mengikuti arahan pak polisi yang bertugas.

"Selamat siang pak! Mohon maaf perjalanannya terganggu. Boleh keluarkan SIM dan STNK-nya Pak!" Sapa Pak Polisi.

Tanpa basa-basi, Abdul pun langsung mengeluarkan SIM dan STNKnya dan menyerahkannya kepada petugas.

"Mohon maaf pak! masa berlaku SIM Bapak sudah habis, mari ikuti saya Pak!" ucap Pak Polisi itu kemudian.

"Habis, masak sih pak?" Tanya Abdul seolah tak percaya. Ia pun memastikannya, namun ternyata Pak Polisi tersebutlah yang benar. Masa berlaku SIM-nya tertulis 13 Juli 2016, sudah lewat 4 bulan yang lalu. Abdul pun pasrah. Bukan hanya harus merelakan STNK-nya ditahan, ia pun harus merelakan waktunya habis berlalu di lokasi razia.

Kesempatan untuk menjemput istrinya pun pupus. Meskipun demikian ia tetap memaksakan ke rumah Bu Irma, siapa tahu istrinya belum pulang. Namun sayang sekali, Sang istri sudah pulang bersama teman-temannya.

Sesampai di rumah, ia pun mengisahkan semua kejadian tadi kepada istrinya.

"Bapak, bapak, ada-ada saja. Makanya Pak, niat baik saja belumlah cukup. Tetapi, harus dijalankan juga dengan cara yang baik. Coba kalau Bapak menempuh cara yang baik, pasti niat baik bapak berakhir baik," petuah Sang istri.

"Iya Bu, bapak khilaf. Astaghfirulloh," akunya seraya mengusapkan telapak tangan ke wajahnya.

(T A M A T)

Sabtu, 12 November 2016

Sesal Tangis Si Abdul

(Sebuah Kisah Fiksi)
Malam itu hujan lebat tak biasa. Udara dingin menusuk hingga ke tulang. Namun, semua itu tak menyurutkan Abdul untuk memacu kendaraannya. Di benaknya, hanyalah ada rasa bahagia, saat bisa berkumpul dengan sesama aktifis dakwah. Meskipun, malam itu ia hadir hanya mewakili rekannya di LDK Harisul Islam, yang berhalangan hadir.
Bara semangat, membuat perjalanan menjadi hangat. Abdul tak lagi merasakan kedinginan. Alhamdulillah, ia sampai di lokasi pertemuan. Rekan-rekannya dari LDK lain sudah hadir, termasuk dari LDK Al Ikhlash dan Al Ihsan. Malam itu, adalah agenda fiksasi acara training Kader bersama.
Pada awalnya, pertemuan berjalan biasa. Namun tatkala membahas biaya, para peserta rapat tercengang dengan adanya kekurangan dana sebanyak 230.000,-. Akhirnya, diputuskanlah bahwa seluruh peserta tak diberi konsumsi.
"Sebentar, dari LDK Al Ikhlash siap infak tambahan 150 ribu," ujar Umar, perwakilan dari LDK Al Ikhlash.
"Alhamdulillaah," ucap syukur para peserta rapat.
"Bagaimana dengan Harisul Islam?" Tanya pimpinan rapat.
"Nanti dulu ya, pikir-pikir dulu," Abdul kebingungan. Karena jarak Harisul Islam cukup jauh ke lokasi. Apalagi ada salah seorang utusan tak memiliki kendaraan, lokasi acara yang berada di pedesaan. Mengharuskannya untuk meminjam atau sewa sepeda motor. Begitulah yang berkecamuk di pikiran Abdul.
Belum selesai Abdul menyelesaikan perenungannya. Tiba-tiba, Utsman dari LDK Al Ihsan mengacungkan tangan.
"Dari Al Ihsan siap infak tambahan 100rb rupiah," ujar Utsman.
"Alhamdulillaah," ucap syukur pun kembali terdengar dari para peserta rapat.
"Sebelum rapat ditutup. Sesuai kesepakatan, ini ada uang bensin atau ojek untuk utusan acara besok. Namun besarannya hanya 20rb rupiah," ujar ketua panitia.
Abdul berpikir, 20rb rupiah untuk ongkos ojek? Padahal untuk ke lokasi pedesaan yang jauh seperti itu, ongkos normalnya adalah 50rb. "Ya biarlah, nanti kan ada infak lagi dari teman-teman Harisul Islam," ujar Abdul dalam hati.
Esok harinya, Abdul bertemu dengan sahabatnya, Yusuf, dari LDK Harisul Islam. Persiapan utusan sudah matang.
"Bagaimana, sudah fix utusan yang dari Harisul Islam?" Tanya Abdul.
"Alhamdulillah sudah, tadi ada kekurangan kendaraan. Tapi sudah ada solusi, sewa di Ghani. Sudah dibayar," jawab Yusuf mantap.
"Berapa sewanya? Pastinya murah dong, Ghani kan aktifis Harisul Islam juga" Tanya Abdul.
"Ojek sih, bukan sewa. 80rb. Sudah dibayar," jawab Yusuf.
"Hah, 80rb!" Abdul terkaget.
"Kan biaya ojek normal saja 50rb saja?" Tanya Abdul kembali.
"Ga apa-apa, sudah dibayar. Tadi juga sempat ditawar, tapi Ghani tidak berkenan.
Abdul hanya bisa termenung mendengar jawaban Yusuf.
"Sudahlah, jangan jadi pikiran. Bisnis kan tetep bisnis," kata Yusuf.
"Bukan begitu, ini kan acara kita bersama. Suksesnya juga sukses kita bersama. Ya setidaknya, Ghani bisa berbaik hati, meminjamkan motornya tanpa sewa. Semua juga kan demi kesuksesan acara kita," jawab Abdul.
"Satu lagi yang membuat aku sedih, Suf."
"Di saat rekan-rekan LDK lain berlomba-lomba meraih nilai spiritual dengan menambah infak. Anggota LDK kita masih berpikir hanya nilai materi semata. Mengapa ya?" Ucap Abdul.
Abdul dan Yusuf pun terdiam. Mereka memikirkan, kemanakah semangat pengorbanan yang selama ini dimiliki rekan-rekan Harisul Islam.
Dalam ketermenungan tersebut, Abdul teringat.
Astaghfirullah, mungkin aku yang tak pernah peduli. Ketika Ghani butuh uang kost, aku ga pernah nanya. Ketika Ghani butuh perlengkapan kuliah, aku ga pernah tanya. Mungkin di saat ini, Ghani memang benar-benar sedang membutuhkan uang.
Hati Abdul menangis, teriris. Bukan karena apa-apa, tetapi karena pengorbanan dirinya yang masih sangat sedikit.
(Tamat)

Jumat, 11 November 2016

Meraih Posisi Negara Pertama (Menyibak Sorotan atas Pemilu AS)

“Mengapa semua saluran televisi menyiarkan tentang Pemilu AS, memangnya rakyat Indonesia ikut memilihnya?” ujar salah satu pengguna FB di dindingnya. Tidak menutup kemungkinan, pertanyaan serupa juga ada di benak kita. Namun tetap saja dari musim ke musim, pemilu AS tetap menarik dan menjadi sorotan media massa.

Kita masih ingat bagaimana kemenangan Obama yang pertama kali, pada tahun 2008, pemberitaannya menghebohkan berbagai media tanah air. Bahkan kemenangannya mengundang banjir harapan dari para tokoh Indonesia, khususnya muslim. Presiden pertama kulit hitam itu diharapkan akan membawa perubahan dalam hubungan AS dengan Islam. Meski pada kenyataannya, tetap saja ia memerangi dunia Islam. Begitu pula dengan pemilu AS tahun ini (2016), pengumuman pemenangnya langsung menghiasi media cetak dan daring.

Media BBC Indonesia menampilkan screenshoot status Joko Anwar, yang menulis “Nggak pernah sedeg-degan ini sama hasil pemilu presiden negara lain.” Namun Presiden RI, Jokowi memastikan bahwa hubungan AS dan Indonesia akan baik-baik saja. “Hubungan kita tetap akan baik, terutama hubungan dagang dan investasi. Kita tahu Amerika termasuk investor lima besar di Indonesia. Saya kira tidak akan ada perubahan,” ujarnya di Istana Negara. (pikiranrakyat.com., 09/11/2016).

Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa pemilu AS akan menjadi bahan pemberitaan tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Bahkan di Timur Tengah sampai diadakan survey terkait pemilu AS. Survey opini ini dilakukan oleh Center for Research and Policy Studies di sembilan negara. Sebanyak 65 persen responden mengatakan kemenangan Hillary akan berimbas positif terhadap wilayah Arab. (republika.co.id., 9/11/2016)

Sepak terjang AS di kancah internasional telah membuat pemilu negerinya menjadi buah bibir masyarakat dunia. Hal ini tidak lain karena dalam konstelasi internasional, AS terkategori sebagai negara pertama. Menurut pengamat politik Islam, Farid Wajdi, negara pertama adalah negara adidaya yang membuat kebijakan secara internasional. Negara inilah yang menghegemoni dunia dan memiliki pengaruh utama dalam konstelasi politik internasional. (4/12/2007)

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Mafahim Siyasiyyah li Hizbittahrir menjelaskan bahwa kedudukan negara pertama di dunia bukanlah hal yang baru. Itu sudah ada sejak lama. Dalam sejarah kuno, Mesir pernah menjadi negara pertama. Sementara Asyiria di Irak menyaingi Mesir untuk kedudukan ini. Dahulu negara Romawi pernah menjadi negara pertama dan negara Persia menyainginya untuk kedudukan ini. Daulah Islamiyyah (Negara Islam, pen.) di masa Khulafa ar-Rasyidin hingga Perang Salib pernah menempati kedudukan negara pertama dan tidak ada satu pesaing pun untuk kedudukannya itu. Perancis pernah pula menjadi negara pertama sedangkan Inggris menyaingi kedudukannya.

Daulah Utsmaniyyah, sebagai negara Khilafah Islamiyyah, pernah menjadi negara pertama hampir tiga abad lamanya, tanpa satu pesaing pun untuk kedudukannya hingga pertengahan abad ke-18 M. Sebelum Perang Dunia I, Jerman adalah negara pertama di dunia. Sedang Inggris dan Perancis menyaingi Jerman untuk kedudukannya itu. Setelah Perang Dunia I Inggris merupakan negara pertama sedang Perancis menyaingi kedudukannya. Menjelang Perang Dunia II Inggris menjadi negara pertama, sedang Jerman berusaha menyaingi kedudukannya dan hampir menjadi negara pertama. Perang Dunia II meledak dan AS terjun ke dalam perang tersebut. Perang berakhir dan AS menjadi negara pertama. (An-Nabhani, 1969). Meskipun dalam perjalanannya pernah disaingi Uni Soviet, Inggris dan Perancis. Khususnya Uni Soviet mempunyai pengaruh yang lebih kuat. Ketika para pesaingnya melemah, AS menjadi tanpa saingan hingga saat ini.  

Sorotan dunia terhadap negara pertama tidak hanya terjadi saat ini. Pada masa Rasulullah Saw masih hidup pun pernah terjadi. Negara Persia dengan wilayah seluas 7.400.000 km2 (3 kali lipat Indonesia) bersaing dengan Negara Romawi yang memiliki luas wilayah 5.000.000 km2 (2 kali lipat Indonesia). Pertempuran keduanya seringkali menjadi headline berita dunia saat itu. Orang-orang bertanya-tanya dan penasaran siapakah yang akan menjadi pemenangnya. Para shahabat bertanya kepada Rasulullah Saw tentangnya. “Siapakah yang akan menang dalam pertempuran besar ini?” tanya para shahabat. Nabi Saw tidak langsung menjawabnya, hingga turun Q.S. Ar Rum[30] : 2-4, yang artinya :

“Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang beriman.”
Allah Swt Yang Maha Mengetahui, langsung menjawab pertanyaan para shahabat. Allah Swt menyebutkan bahwa Romawi akan dikalahkan oleh Persia, namun ia akan berbalik meraih kemenangan pada kurun 3-9 tahun kemudian. 

Begitulah pengaruh negara-negara pertama terhadap konstelasi internasional. Namun sayangnya, posisi negara pertama tersebut tak lagi dipegang oleh kaum muslim, padahal Allah Swt menegaskan bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik, “Kalian adalah umat yang terbaik, yang dilahirkan untuk manusia.” (TQS. Ali Imran[3] : 110).
Semestinya, posisi negara pertama dipegang kembali oleh umat Islam. Sehingga, umat Islam bukan menjadi umat yang harap dan cemas atas pemilu di negara lain. Tetapi justru umat Islam yang menjadi penentu konstelasi politik internasional.

Untuk bisa meraih posisi negara pertama, suatu negara wajib memiliki sebuah ideologi dan menyerukannya ke seluruh dunia. Sebuah negara ideologis akan mempunyai kemampuan bertahan dan menyerang. Dengan kata lain, negara ini tidak hanya bisa menjaga tapal batasnya, tetapi bisa memperluas ideologi dan pengaruhnya hingga menyaingi negara pertama di kancah internasional.  Dan umat Islam memiliki potensi tersebut, yakni Islam itu sendiri. Islam memiliki seperangkat aturan hidup yang khas. Selain agama, Islam juga merupakan ideologi.

Kita bisa berkaca pada apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Negara Islam yang beliau Saw dirikan di Madinah, benar-benar diperhitungkan. Negara Islam saat itu masih muda, ia dijepit dua negara besar yang telah berusia ratusan dan ribuan tahun.  Di sebelah timur ada Persia yang berusia 1176 tahun, di sebelah barat ada Romawi yang berusia 650 tahun. Meski wilayah negara Islam hanya seluas Madinah dengan populasi awal penduduk sekitar 1500-an orang, semua itu tidak menghalangi Rasulullah Saw untuk menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Di kemudian hari, negara Islam terbukti menjadi negara pertama selama berabad-abad, serta melingkupi dunia dengan kesejahteraan. Carly Fiorina, CEO Hewlett-Packard, mengatakan bahwa peradaban Islam mampu menghasilkan sebuah negara super yang membentang dari samudera ke samudera, dari daerah sub-tropik hingga ke daerah tropik dan gurun. Dalam wilayah kekuasaannya, tinggal ratusan juta warganya, yang terdiri dari berbagai kepercayaan dan bangsa. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary Herawan, Ketua DPD II HTI Kota Tasikmalaya)

Rabu, 09 November 2016

OONISME (Sebuah Kisah Fiktif)

Terceritakan di negeri Oon sedang terjadi kasus besar. Kasus ini melibatkan pejabat kerajaan. Seorang pejabat kerajaan yang licik, didakwa telah menerima suap dari seorang borjuis.

Di waktu yang telah ditentukan, dihadirkanlah terdakwa dalam suatu sidang terbuka di hadapan rakyat. Rakyat sebenarnya sudah mengetahui dan merasakan kejahatan pejabat kerajaan tersebut, dan rakyat berharap Sang pejabat tersebut dihukum seberat-beratnya.

Raja: "Aku persilahkan kepada penuntut untuk membacakan dakwaannya."

Si penuntut pun membacakan dakwaannya yang panjang, di akhir dakwaannya ia menegaskan bahwa terdakwa bersalah.

Penuntut: "...karena itulah, maka terdakwa jelas bersalah karena telah disuap sebanyak satu milyar dan harus diusir dari kerajaan ini."

Mendengar tuntutan dari Si Penuntut, Sang pembela langsung angkat tangan.

Pembela: "Keberatan, Raja!"

Raja pun mempersilahkan Pembela untuk menyampaikan keberatannya.

Pembela: "Mohon diperjelas, klien saya disuap pakai apa?"

Raja: "Keberatan diterima. Silahkan penuntut untuk memperjelas maksudnya."

Rakyat yang menyaksikan pengadilan tersebut semakin banyak. Mereka berdatangan dari penjuru kerajaan.

"Terdakwa terbukti disuap pakai uang satu milyar!" Tegas penuntut dengan nada agak kesal. Seolah yang sudah jelas seperti itu masih saja ditanyakan.

Mendengar jawaban penuntut yang tegas, rakyat pun senang. Mereka mulai riuh memberikan dukungan.

"Tenang, tenang saudara!" Teriak pembela disertai tawa dan tepuk tangan gembira.

"Wahai raja dan hadirin semua, terdengar jelas bahwa klien saya disuap pakai uang satu milyar, iya kan?" Tanya pembela.

"Iya!" Jawab raja singkat.

Rakyat pun mulai teriak, "Iyaaa!"

Lalu, pembela tersebut berkata:

"Berarti raja harus membebaskan klien saya, karena berdasarkan ejaan bahasa negeri Oon edisi terbaru. Istilah DISUAP PAKAI itu bermakna TIDAK DISUAP. Dan jika tidak disuap, berarti klien saja harus dibebaskan dari segala tuntutan."

Raja: "Anda benar! Karena itu saya putuskan bahwa terdakwa dibebaskan dari segala tuntutan."

"Bagaimana Penuntut, menerima keputusanku?" Tanya raja.

"Saya menerima semua putusan raja, anda telah berlaku adil!" Tegas Penuntut.

Rakyat: "?$&?*#%!?*$+?&#-?"

Akhirnya, pejabat yang licik tersebut pun bebas.

Rabu, 02 November 2016

4 Shafar 1438 H di Masa Depan

Sejarah merupakan kisah para pemenang. Demikianlah pandangan saya pada sejarah saat ini. Oleh karena itu, saat sekulerisme menjadi pemenang peradaban sekarang, dan ia berkuasa. Semua sejarah tentang Islam ditutup rapat-rapat. Dari sejarah peradaban manusia sebelum masehi, langsung loncat begitu saja ke masa kegelapan Eropa. Kemudian masa kebangkitan Eropa, PD I dan PD II. Seperti itulah ideologi sekulerisme menanamkan sejarah di benak generasi saat ini. Peradaban Islam yang gemilang selama 13 abad, seolah disulap menjadi tiada. Sejarah Islam hanya milik pesantren dan gerakan Islam semata.

Kini umat Islam mulai membuka mata. Menjelang kebangkitan Islam yang sudah menjadi kepastian dari janji Allah Swt dan bisyarah Rasulullah Saw, sejarah Islam pun mulai mengemuka. Permata kegemilangan Islam yang dibenamkan dalam lumpur peradaban sekulerisme, sedikit demi sedikit mulai mengilau. Ia semakin bersinar dari waktu ke waktu. Sejalan dengan peningkatan kesadaran umat, untuk kembali kepada Islam.

Di masa depan kelak, kehidupan kita kini pun akan menjadi sejarah. Dan masa depan adalah pasti milik Islam. Sehingga sejarah Islamlah yang akan menjadi milik manusia di masa depan. Adapun sekulerisme, sebagaimana komunisme kini, hanya akan terceritakan sebagai masa kejahiliyyahan manusia modern. Di mana generasi masa depan akan jijik memandangnya.

Karena itulah, 4 Shafar 1438 H akan tercatat dalam sejarah Islam di masa depan. Sebagaimana tercatatnya perang Al Abwa, perang Bi'ru Maunah, kemenangan Perang Khaibar, penaklukan Persia serta jatuhnya Baghdad ke tangan Hulaghu Khan. Yang semua peristiwa tersebut terjadi di bulan Shafar.

Tanggal 4 Shafar 1438 H, akan tercatat sebagai momen persatuan kaum muslim. Momen tergeraknya kaum mukmin atas penghinaan terhadap Al Quran. Jutaan kaum mukmin berdiri di hadapan kesombongan manusia-manusia yang membela penghina Al Quran. Sejarah akan mencatat, di mana kita berada. Di pihak orang-orang beriman ataukah di pihak penghina Al Quran.

Tentukan sikap sebelum terlambat, karena masa depan hanyalah milik Islam.

ALLOHU AKBAR !!!

#HukumAhok
#HukumPenghinaAlQuran

Senin, 31 Oktober 2016

Saat Anak PAUD Bicara Cinta


Cinta adalah naluriah, semua manusia pasti merasakannya. Bayi yang baru lahir pun bisa merasakan adanya cinta dari bundanya. Maka tak aneh bila anak PAUD pun sudah bisa bicara tentang cinta. Apalagi di era penjajahan budaya seperti saat ini, saat cinta terumbar di berbagai media namun dalam balutan syahwat semata.

Tadi pagi sekira sinar mentari pagi menghangat di teras rumah. Saat pantulan sinarnya memantul di dedaunan segar, yang terlihat di balik kaca ruang tamu. Saya duduk dan bercanda ria di ruang tamu bersama putera ketiga saya, Muhammad Watsiq Billah. Usianya masih dini, 4 tahun 5 bulan, namun dialog tentang cinta dengannya membuat saya ingin berbagi cerita. Terutama untuk para remaja yang sudah bisa memilih dan membeda.

                “Bi, kalau abi cinta ummi ga?” tanyanya seiring senyumnya yang  khas nan menggoda.

          “Iya cinta dong. Tak hanya ke ummi, ke Ade juga cinta, ke kakak, ke teteh. Apalagi ke Mamih dan ke Papah.” Jawab saya agak panjang.

            “Kalau cinta seperti Si Boy mah ga boleh ya Bi?” Tanyanya lagi. Saya ga tahu ia mendapat info Si Boy dari mana. Karena televisi di rumah tak pernah menyala, mungkin dari teman-temannya. Tapi, saya pun tahu yang ia maksud.

“Iya dong,” baru saja saya mengiyakannya, Ade Watsiq langsung memotongnya.

“Si Boy mah cintanya kepada wanita-wanita yang lain-lain ya Bi,” tanyanya.

Menyimak ucapannya, saya pun sembari berpikir, apa maksud dari “wanita-wanita yang lain-lain” yang Ade ucapkan tadi. Seolah tahu sesaat saya berpikir, Ade pun memperjelas ucapannya.

“Mengapa abi cinta ummi, kan dulunya ummi wanita lain?” Tanyanya.

“Oh.., saya paham maksud istilah wanita lain yang diucapkannya. Yakni wanita ajnabi atau wanita yang bukan mahrom,” gumam saya dalam hati.  

            “Kan abi sudah menikahi ummi,” jawab saya singkat.
            “Kalau cinta seperti Si Boy yang belum menikah mah, dosa ya Bi?” Tanyanya kembali.
            “Iya jelas dosa,” jawab saya.
            “Dimarah sama Allah ya Bi?”
            “Iya, Allah pasti marah.”
            “Kalau sudah menikah mah, Allah tidak marah ya Bi?” tanyanya seolah meminta penegasan.
            “Iya kalau sudah menikah mah, ga apa-apa,” jawab saya.

Seolah puas dengan jawaban yang diberikan, ia pun langsung beralih ke aktifitas yang lain. Saya dan istri hanya saling berpandangan, ada kebanggaan tersendiri ketika anak PAUD sudah paham bagaimana seharusnya cinta tersalurkan.

Memahami aturan cinta itu sebenarnya sederhana, karena anak PAUD saja terbukti bisa. Hanya tinggal kita memilih, maukah cinta itu berada dalam keridloan Allah Swt atau dalam kemurkaan-Nya. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary H. – 1 Shafar 1438 H)
                

Minggu, 30 Oktober 2016

Kebangkitan Suatu Bangsa

Apakah hal yang berharga bagi kebangkitan sebuah bangsa? Sumber daya alam yang melimpah? Wilayah yang strategis? Tentara dan pasukan yang kuat? Jumlah rakyat yang banyak? Ilmu pengetahuan dan teknologi yang modern? Atau bahkan pertahanan dan keamanan yang mutakhir dan canggih?

Dalam kondisi bangsa Indonesia terpuruk sebagaimana saat ini, tentu tidak sedikit dari kita yang berpikir bagaimanakah supaya bangsa ini bisa bangkit?

Untuk menjawabnya cukuplah kisah  dari seorang Jubair bin Nufair, tentang percakapannya dengan Abu Darda, salah seorang shahabat yang dijuluki "Orang bijak dari umat ini" oleh Rasulullah Saw.

Ketika Siprus berhasil dibebaskan (28 H) melalui tangan Mu'awiyah bin Abu Sufyan, pada masa khalifah Utsman, Abu Darda terlihat menangis. Melihat kejanggalan tersebut, Jubair bin Nufair bertanya kepadanya,

"Mengapa engkau menangis pada hari Allah memberikan kemenangan dan kemuliaan kepada Islam dan kaum muslim?"

Orang bijak itu (Abu Darda, pen.) meletakkan tangannya ke bahu Jubair dan berkata,

"Betapa rendahnya makhluk-makhluk ini di hadapan Allah ketika mereka mengabaikan perintah-perintah-Nya! Bangsa ini (Bizantium) adalah bangsa yang besar dan perkasa, serta memiliki kekuasaan! Tetapi mereka melanggar hukum-hukum Allah. Maka mereka pun terpuruk dalam keadaan yang engkau bisa saksikan sekarang ini. Allah menetapkan mereka dalam penahanan. Dan bilamana Allah menetapkan taqdir-Nya, berupa penahanan seperti ini pada diri suatu umat, berarti Allah tidak peduli terhadap mereka."(al-Futuhat al-Islamiyyah, ed.terj.)

Rasulullah Saw sangat tepat menjuluki Abu Darda dengan sebutan Orang Bijak. Sikap dan ucapannya memang sangat bijak, tatkala kebanyakan orang bahagia dalam kemenangan. Ia merenung bagaimana suatu bangsa itu bisa terpuruk. Tiada lain adalah karena pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah. Oleh karena itu, suatu bangsa bisa bangkit dari keterpurukan hanya dengan ketaatan kepada hukum-hukum Allah. Dan itu tiada lain kecuali dengan menegakkan syariah dan khilafah. Dimana hukum-hukum Allah pasti akan diterapkan secara paripurna. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary H. / 1 Shafar 1438 H.)

Menyoal Istilah Harga Mati

Setiap manusia akan mati, tanpa kecuali. Namun bukan berarti kita berhak untuk menyia-nyiakan hidup. Karena hidup setelah kematian sungguh jauh lebih kekal. Dan sebagai bekal menghadapinya, adalah kehidupan kita saat ini. Sehingga hakikatnya, kematian merupakan gerbang yang menentukan. Allah Swt menegaskan dalam Q.S. Ali Imran [3] : 102:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"dan janganlah kalian mati, kecuali dalam keadaan Islam"

Saat ini, tak sedikit dari kita yang menyuarakan slogan harga mati. Tentu yang dimaksud adalah sesuatu yang dipegang teguh, meski harus meregangkan nyawa. Karena itulah, sesuatu yang kita jadikan harga mati harus dipastikan menjamin keselamatan kita di kehidupan selanjutnya. Jika tidak, bukan hanya kematian kita kan sia-sia, bahkan di kehidupan akhirat pun kita kan merana.

Adalah Rasulullah Saw, satu-satunya manusia utama yang bisa dijadikan teladan. Harga mati beliau bisa disimak dalam pernyataan berikut:

"Wahai Paman, Demi Allah, kalau pun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah Islam), sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya, pastilah aku tidak akan meninggalkannya." (Ibnu Hisyam)

Adalah Mush'ab Bin Umair, yang dikenal dengan julukan Mush'ab Al Khair (Mush'ab yang baik). Salah satu bintang terang dalam perjalanan dakwah Rasulullah Saw, Sang Duta Islam pertama. Ia beberapa kali menantang maut semenjak masuk Islam. Padahal sebelum masuk Islam, ia adalah remaja yang penuh dengan kemegahan dan kesenangan. Sejak keislamannya diketahui ibundanya, ia harus berhadapan dengan preman-preman kafir Quraisy bayaran ibunya. Sampai beliau bisa meninggalkan Makkah dan hijrah ke Habasyah.

Tatkala Rasulullah Saw mengutus beliau menjadi duta Islam di Madinah, ia langsung menerimanya dengan penuh ketaatan. Ia tinggal di rumah As'ad bin Zurarah, lalu mendakwahi kabilah demi kabilah yang ada di Madinah. Bukan tanpa rintangan, ketika sedang berdakwah Usaid bin Khudair, yang belum masuk Islam, langsung mengancam lehernya dengan todongan tombak. Alhamdulillah dengan kelihaian lisannya, Mush'ab Al Khair berhasil meyakinkan Usaid bin Khudair sampai ia dan kaumnya masuk Islam.

Pengorbanan Mush'ab demi kemuliaan Islam tidak hanya sampai di sana. Saat perang Uhud, Rasululullah menugaskannya untuk memegang panji hitam bertuliskan dua kalimah syahadah (ar royah). Ia mengangkatnya dengan penuh semangat kemuliaan.

Pada awalnya, perang Uhud dimenangkan kaum muslim. Namun setelah para pemanah mengabaikan perintah Rasulullah, supaya jangan meninggalkan posisinya, kaum muslim menjadi terdesak. Dalam kekacauan yang menimpa pasukan kaum muslim, Rasulullah Saw menjadi incaran kaum musyrik. Melihat orang yang dicintainya terancam, Mush'ab langsung mengangkat Ar-Royah tinggi-tinggi seraya mengayunkan pedangnya tanpa henti. Ia mengobrak-abrik pasukan kafir musyrik, mengalihkan perhatian mereka supaya tidak mengincar Rasulullah Saw. Mush'ab berperang dengan gigih. Ia tak peduli dengan resiko kematian yang dihadapinya. Datanglah seorang pasukan berkuda musuh, Ibnu Qamiah, ia menebas tangan kanan Mush’ab hingga terputus.  Dengan tetap teguh, Mush’ab membaca ayat :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (TQS. Ali Imran [3] : 144)  

Mush’ab meraih Ar-Royah dengan tangan kirinya, Ibnu Qamiah pun kembali menebaskan pedangnya ke tangan kiri Mush’ab hingga terputus. Mush’ab Al Khair lalu membungkuk, mendekap Ar-Royah dengan kedua lengannya yang masih tersisa dan mendekapkan ke dadanya. Seraya membaca kembali Q.S. Ali Imran[3]: 144 :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (TQS. Ali Imran [3] : 144)  

Ibnu Qamiah kembali menyerang Mush’ab untuk yang ketiga kalinya, dengan sebuah tombak yang ia hunjamkan ke tubuh Mush’ab hingga gugur sebagai syuhada. Beginilah Mush’ab Al Khair yang telah mendermakan seluruh hidupnya untuk kemuliaan Islam. Ketika melihat jenazah Mush’ab bin Umair, dengan penuh kasih sayang Rasulullah membaca firman Allah Swt :

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang telah menepati janji mereka kepada Allah.” (TQS. Al Ahzab[33] : 23

Ketika Rasulullah Saw sedang mengkafaninya, beliau bersabda : “Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapih rambutnya daripadamu. Tetapi sekarang, rambutmu kusut dan (tubuhmu) hanya dibalut sehelai burdah.”

Begitulah salah satu bintang terang dalam rintisan peradaban Islam. Ia menetapkan harga matinya dengan tepat, pada satu-satunya jalan hidup yang diridloi oleh Allah Swt, yakni Islam.

Begitu pula yang menimpa pasangan suami istri, Yasir dan Sumayah, keduanya ditimpakan siksaan yang berat oleh para dedengkot kafir Quraisy. Semata-mata supaya meninggalkan Islam. Namun mereka tetap teguh, menukar seluruh hidupnya dengan gerbang kematian menuju keridloan Allah Swt.

Adalah Khabab bin Arat, seorang pembuat pedang yang meninggalkan kemusyrikan dan masuk Islam. Ia mengalami siksaan yang luar biasa. Syaikh Muhammad Khalid mengisahkan bahwa orang-orang kafir Quraisy mengubah semua besi yang ada di rumah Khabbab menjadi belenggu dan rantai. Lalu, mereka memasukannya ke dalam tungku hingga menyala membara. Setelah itu, mereka lilitkan ke tubuh, kedua tangan dan kedua kaki Khabbab. Siksaan yang diterima Khabbab sangatlah berat, tetapi ia lebih kuat dari siksaan tersebut.

Untuk meneruskan siksaan mereka kepada Khabbab, kaum musyrik Quraisy terpaksa meminta bantuan kepada Ummu Anmar, mantan tuan Khabbab. Wanita itu ikut menyiksa Khabbab. Ia mengambil besi panas membara, lalu menaruhnya di atas ubun-ubun Khabbab. Khabbab sangat kesakitan, namun sekuat tenaga ia menahan rasa sakitnya. Ia menahan nafas dan suaranya agar tidak keluar keluhan yang hanya akan membuat para algojo itu bergembira.

Rasulullah Saw menyaksikan semua siksaan yang menimpa Khabbab. Namun beliau dan kaum muslim masih belum memiliki kekuatan. Rasulullah Saw hanya bisa mendo’akannya, beliau mengangkat kedua tangannya lalu bersabda : “Ya Allah, limpahkanlah pertolongan-Mu kepada Khabbab.”

Do’a Rasulullah Saw langsung terkabul, selang beberapa hari Ummu Anmar sakit keras, ia melolong seperti anjing. Untuk mengobatinya, hanyalah dengan besi panas yang ditempelkan ke kepalanya.

Khabbab hidup lebih lama dari para penyiksanya, ia menyaksikan kegemilangan dakwah Islam. Ia wafat pada 37 H. Ketika melewati kuburan Khabbab, Ali bin Abi Thalib termenung cukup lama, wajahnya berduka lalu berkata :

“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Khabbab, ia masuk Islam tanpa paksaan, ia hijrah mengikuti ketaatan, ia jalani hidup sebagai mujahid pejuang.”

Begitulah orang-orang yang ridlo terhadap Allah Swt serta Allah Swt pun ridlo terhadap mereka, mereka telah menetapkan harga matinya pada Islam semata. Kita? semoga dapat mengikuti meraka. Aamiin.

(Ary H. / 29 Muharram 1438 H)           

Minggu, 23 Oktober 2016

"Di Manakah Bendera Rasul?"

Ø£َÙ†َّ رَسُÙˆْÙ„َ اللهِ –صلعم- Ùƒَانَتْ رَايَتُÙ‡ُ سَÙˆْدَاءَ ÙˆَÙ„ِÙˆَاؤُÙ‡ُ Ø£َبْÙŠَضَ

Rayahnya (panji peperangan) Rasul saw berwarna hitam, sedangkan benderanya (liwa-nya) berwarna putih. (HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)

Di pagi yang cerah, Watsiq (4th) asyik menatap atlas dunia yang baru dipampang umminya di dinding ruang tamu. Seluruh gambar ia amati dengan seksama. Mulai dari lokasi Indonesia hingga Amerika ia tanyakan. Yang berkali-kali ia tanyakan adalah lokasi Amerika Selatan. Lalu, ia pun beralih ke bagian sisi-sisinya.
"Ini bendera apa Bi?" Ia pun menunjuk ke salah satu bendera negara.
Abinya pun menjawab satu persatu pertanyaan Watsiq. Tentunya setelah membaca nama negara yang tertulis di bawah bendera. Maklum, tak semua warna dan gambar bendera negara dihapal oleh abinya. Misalnya seperti bendera negara Cyprus.
"Kalau bendera Amerika, mana Bi?" Watsiq mengganti pertanyaannya.
"Kalau bendera China, mana Bi?" Ia bertanya setelah tetehnya ikut nimbrung dan menanyakan bendera China.
"Ini nih, sekarang bukan China lagi, sudah ganti nama jadi Tiongkok", jawab Abi.
"Kalau bendera Rasul, mana Bi?" Tanya Watsiq kembali.
Abi yang sedang sibuk mengabadikan momen, tidak segera menjawabnya.
"Bendera Rasul, mana Bi?" Ia bertanya kembali dengan nada yang tidak sabar.
Abi pun langsung menyimpan hpnya, demi menjawab pertanyaan Watsiq yang membutuhkan jawaban lengkap, sesuai usianya.
Seraya memutarkan tangannya di sekitar Asia, Afrika dan sebagian Eropa, abi berkata, "Bendera Rasul itu tadinya tertancap di semua wilayah ini, Nak."
"Setelah penjajah menguasai negeri-negeri ini, bergantilah bendera Rasul itu dengan bermacam-macam bendera."
"Karena itu, Ade-lah nanti yang berjuang untuk mengembalikan bendera Rasul"
Mendengar penjelasan Abi, Watsiq langsung bertanya lagi.
"Emang ada Bi, anak kecil yang berjuang?" Tanyanya.
Ummi yang sedari tadi memperhatikan tanya jawab Abi dan putranya, langsung menimpali.
"Ada Nak, di Palestina banyak anak-anak yang berjuang untuk Islam."
"Ade mau ke Palestina Bi, Ade mau ikut berjuang," ujar Watsiq dengan semangat.
"Akan ada masanya nanti Nak, saat kita kembali membebaskan Palestina," jelas Abi. Belum selesai Abi bicara, Watsiq langsung protes.
"Tapi, Ade mau bendera Rasul. Pokoknya Ade mau bendera Rasul!" Seraya ia berlari menjauh sebagai tanda protes.
"Ya sudah, ntar Abi printkan dulu ya," jelas Abi.
Abi pun langsung membuka netbooknya, googling mencari image Al Liwa dan Ar Royah. Watsiq pun dengan aktif memilih gambar yang ditampilkan oleh mesin pencari.
Watsiq memilih empat gambar, ternyata ia suka dengan gambar Al Liwa dan Ar Royah yang sedang diangkat dan berkibar, serta yang sedang di pertempuran. Setelah diprint, ia langsung menghampiri umminya untuk menempelkan 4 gambar bendera Rasulullah di samping atlas dunia.
Melihatnya, abi bergumam dalam hati. Mengucap do'a, semoga Watsiq menjadi pembela Islam yang terpercaya. Masuk dalam barisan mujahid yang mengangkat kembali panji Rasulullah Saw. Aamiin. (Ary H.)

#MadrasahRumah
#HSBAJannaty

Jumat, 21 Oktober 2016

Santri dan Islam, Tak Bisa Dipisahkan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, santri adalah orang yang mendalami agama Islam; 2 orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yg saleh.(1) Santri adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan Ilmu Agama Islam di suatu tempat yang dinamakan Pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. Menurut bahasa, istilah santri berasal dari bahasa Sanskerta, shastri yang memiliki akar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti kitab suci, agama dan pengetahuan. Ada pula yang mengatakan berasal dari kata cantrik yang berarti para pembantu begawan atau resi, seorang cantrik diberi upah berupa ilmu pengetahuan oleh begawan atau resi tersebut. Tidak jauh beda dengan seorang santri yang mengabdi di Pondok Pesantren, sebagai konsekuensinya ketua Pondok Pesantren memberikan tunjangan kepada santri tersebut.(2)

Dari pemaknaan tersebut, jelaslah bahwa santri tak bisa dilepaskan dari Islam. Kemuliaan seorang santri, bukan sekedar pada status dan keilmuannya, namun ada pada Islamnya. Sehingga kebanggaan menjadi santri, sejatinya adalah karena kebanggaan menjadi muslim. Jika tidak demikian -na'udzubillahi min dzalik- maka hilanglah kemuliaan santri.

Apalagi jika merujuk kepada sejarah, penentuan hari Santri merujuk pada seruan Jihad yang dikumandangkan oleh Syaikh Hasyim Asy'ari. Pembelaan terhadap negeri yang dilandasi perintah Allah Swt. Sehingga, lebih baik mulia dalam syahadah daripada hidup 'aman sentosa' tetapi di bawah ketiak para penjajah.

Kecintaan terhadap Allah Swt, Rasul-Nya dan Islamlah yang mendorong kaum para syuhada berjihad membela negeri ini. Semata-mata karena Allah Swt yang menetapkan perintah Jihad. Bukan semata-mata dorongan semangat hidup semata. Sebagaimana yang dikatakan Khalid bin Walid r.a. kepada komandan Persia bahwa kalian akan menghadapi pasukan yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan. Inilah kemuliaan yang diberikan oleh Allah Swt kepada kaum muslim yang berjihad membela negerinya, satu di antara dua kemuliaan, yaitu terusirnya penjajah atau menjemput syahadah.

Saat ini, penjajahan terhadap negeri ini masih berlangsung. Penjajahan yang berlaku saat ini adalah penjajahan non militer. Penjajahan ideologi kapitalisme terhadap negeri-negeri Islam. Penjajahan kapitalisme dilakukan secara pemikiran dan penerapan perundang-undangan. Oleh karena itu, perjuangan melawan penjajahan masih terus berlanjut sampai sistem kapitalisme sekuler hengkang dari negeri ini.

Pembelaan para pendahulu terhadap negeri ini adalah menjaga seluruh potensi dan kekayaan negeri dari jarahan asing. Oleh karena itu, aktualisasi cinta negeri para santri sejatinya bukanlah mempertahankan sekulerisme, tetapi mendorong negeri ini berubah ke arah Islam. Karena hanya Islamlah yang bisa menyelamatkan potensi dan kekayaan negeri ini. Sekulerisme hanya akan membuat negeri ini semakin terpuruk. Tax amnesty, asuransi berkedok jaminan kesehatan, utang luar negeri yang membengkak, kerusakan lingkungan, penguasaan swasta atas 95% hutan Indonesia, semua itu adalah bagian dari penjajahan ala kapitalisme sekuler. Hal ini belum termasuk kerusakan moral, sosial, budaya dan pendidikan. Karena semuanya diarahkan pada peraihan nilai materi semata, bukan ke arah pembentukan ketaqwaan. Sehingga, tiada yang diharapkan selain Islam. Sebagaimana firman Allah Swt :

"Dan barangsiapa yang berharap kepada selain Islam sebagai diin, maka tidak akan diterima darinya. Dan dia di  Akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (TQS. Ali Imran[3] : 85)

Sekulerisme yang diterapkan di negeri ini telah membiarkan orang kafir menjadi pemimpin atas kaum mukmin. Padahal Allah Swt mengharamkannya.  Bahkan, tatkala Al Quran dihina pun, hukum yang ada pun kentara sekali tak berpihak terhadap Islam.

Jika dahulu para ulama dan santri mengemban kemuliaan dengan mengumandangkan seruan jihad mengusir penjajah Belanda, maka saat ini pun kita masih bisa mengemban keutamaan yang setara. Yakni, menyerukan kebenaran Islam kepada para penguasa negeri yang lebih condong kepada penjajah asing. Bukankah Rasulullah Saw bersabda:

"Seutama-utamanya jihad adalah kalimat yang haq di hadapan pemimpin yang jahat." (THR. Abu Dawud)

Inilah jihad kaum santri saat ini, berdakwah untuk menjaga pemikiran Islam serta menjadi katalisator perubahan masyarakat ke arah Islam.

Perubahan ke arah Islam yang dimaksud tiada lain adalah perubahan ke arah penerapan Syariah Islam secara menyeluruh. Sebagaimana yang dirintis oleh Rasulullah Saw di Makkah hingga Islam diterapkan di Madinah, kemudian dilanjutkan oleh para khalifah. Meskipun dilakukan secara pemikiran, tetapi Rasulullah Saw dan para shahabat menjadikan aktifitas dakwahnya sebagai perkara hidup dan mati. Mereka tak pernah gentar dengan aniaya, pun tak tergoda dengan iming-iming harta, tahta dan wanita. Tatkala Rasulullah Saw dirayu untuk menghentikan aktifitas dakwahnya, beliau berkata:  “Demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kanan saya dan bulan ditangan kiri saya, sungguh saya tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan urusan (agama) ini atau saya mati karenanya.”

Kapitalisme saat ini memang makin menggurita. Begitu pula sekulerisme semakin membudaya. Tetapi santri mesti tetap bangga dengan Islam. Biar hujan berbadai, petir menggelegar, bara Islam tetap digenggam sampai mati. Karena, ialah harga mati kaum mukmin, termasuk para santri.  Allah Swt berfirman:

"Wahai sekalian orang-orang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kalian mati terkecuali dalam keadaan muslim." (TQS. Ali Imran[3] : 102).

Wallohu a'lamu bishshowwaab. (Ary H. / 20 Muharram 1437 H)

Sumber:
(1) kbbi.web.id
(2) wikipedia.id

Rabu, 19 Oktober 2016

Bukan Motivasi

Melihat anaknya yang selalu terlihat murung, Sang ibu pun bertanya kepada anaknya.
“Nak, mengapa belakangan ini kamu sering terlihat murung?” sapa Sang ibu.
“Jangan terus terpuruk seperti itu jika punya masalah, bangkitlah!” Sang ibu memotivasi.
Mendengar ucapan Sang ibu, Sang anak terdiam. Tak lama, ia pun menjawab dengan suara yang pelan,
“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.”
Mendengar ucapan Sang anak, Sang ibu tak mau menyerah. Ia pun terus berusaha memotivasi anaknya.
            “Kamu pasti bisa bangkit Nak. Jangan terus larut dan tenggelam dalam masalahmu sendiri”
“Setiap orang pasti punya masalah, dan kamu pasti mampu mengarunginya.”
Sang anak malah menundukkan pandangannya, tak sedikit pun ia menatap wajah ibunya yang tersenyum penuh semangat. Lalu berkata,
            “Aku tenggelam dalam lautan luka dalam.”
Sang ibu pun mulai memahami kondisi anaknya yang sedang putus asa. Tetapi ia tetap berharap Sang anak mau bangkit dari masalah yang dihadapinya. Seraya mengusap pundak anaknya, Sang ibu berkata dengan penuh kelembutan.
            “Sedalam apapun masalahmu Nak, pasti ada jalan keluarnya.”
            “Sampaikanlah kepada Ibu, mungkin ibu bisa membantu.”
Sang anak hanya terus tertunduk tanpa senyuman. Ia tertekur dengan mata penuh kesenduan. Hanya sedikit kalimat yang keluar dari mulutnya.
            “Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang,” ujar Sang anak seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Setelah berbagai upaya motivasi yang diberikannya, Sang ibu pun mulai terbawa suasana. Satu keinginan dalam hatinya, anaknya harus bangkit dan menghadapi masalah. Tetapi, mengapa anaknya tak mau juga mengerti. Dengan nada sedikit memelas, ia kembali mengingatkan anaknya.
            “Nak, hidup ini penuh rintangan. Jika kamu gampangan seperti ini, bagaimana nanti?”
            “Ibu masih di sini bersamamu, bagaimana jika kelak ibu meninggalkanmu untuk selamanya?”
Mendengar pertanyaan Sang ibu yang begitu emosional, Sang anak hanya tertegun. Ia pun mengangkat kepalanya dengan pelan. Ia tatap mata Ibunya, lalu berkata,
            “Aku tanpamu, butiran debu,” hanya kalimat pendek itulah yang keluar dari mulutnya.
Kisah fiktif ini awalnya saya baca dari sebuah buku. Terus terang, saya lupa lagi judul dan penulis bukunya, namun semoga kisah inspiratifnya menjadi amal jariyah untuk beliau. Sengaja saya menceritakan kembali kisah ini untuk dapat diambil pelajaran.
Sejuta motivasi takkan bermakna. Jika tak ada sedikit pun keinginan yang muncul dari diri kita sendiri. Sebagaimana manusia dewasa yang tenggelam di kolam sedalam 50 cm. Hanya akan terjadi jika ia hanya berbaring pasrah, serta tak sedikit pun berusaha untuk bangkit. Ketika mulai kehabisan nafas, ia pun hanya diam. Ketika air mulai masuk ke pernafasan dan paru-paru, ia pun hanya terdiam. Tak ada keinginan untuk bangkit dan berdiri. Kolam dangkal menjadi mematikan, masalah sepele pun menjadi menakutkan.
Bagi yang tak mau bergerak dan bangkit. Semua masalah di benaknya menjadi besar. Semua mimpi dan keinginan seolah menjadi mustahil. Padahal sejuta motivasi ditujukan kepadanya, ia tetap tak mau bangkit dan bergerak. Padahal, berjuta kemudahan di balik satu kesulitan sudah merupakan sunnatullah. Allah Swt berfirman, yang artinya:
“Maka sesungguhnya bersama (satu) kesulitan itu terdapat (banyak) kemudahan. Sesungguhnya sesudah (satu) kesulitan itu terdapat (banyak) kemudahan.” (TQS Al Insyirah[94] : 5-6)
Saya sengaja menambahkan kata berkurung. Penggunaan al ‘usr (memakai alif lam/ bentuk ma’rifat) dengan yusr (tanpa alif lam/bentuk nakirah) dalam ayat tersebut mengandung makna kuantitas yang berbeda.
Tak sedikit dari kita terjebak kalimat blunder yang hanya berujung pada satu kata, yakni motivasi. “Sejuta motivasi tak berarti jika tanpa aksi. Sejuta aksi tak bernilai jika tak islami. Amal islami mudah layu jika tak istiqomah. Keistiqomahan pun mudah patah jika tanpa pengorbanan. Namun, semangat pengorbanan kadang harus terpancing oleh motivasi yang mengena diri.”  Ujung-ujungnya, motivasi lagi.
Memang benar, tak ada aktifitas/perbuatan tanpa dorongan dan motivasi. Tetapi tidaklah tepat jika kita selalu mengharapkan motivasi luar yang akan menggerakkan diri kita. Diri kita bergerak karena motivasi kita. Jika kita diam, sejuta motivasi pun tak berarti. Sebagaimana yang termaktub dalam kitab mulia, “Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah apa yang ada di dalam diri mereka.” (TQS. Ar Ra’du[13]: 11).

Semua ikhtiar merupakan pilihan kita. Akan tetapi ada beberapa hal yang tak bisa kita lupakan sebagai manusia. Sifat pelupa selalu melekat pada manusia, karena itulah kita mesti saling mengingatkan untuk selalu pada track yang benar. Jika kita menyukai aktifitas menulis, maka bergaullah dengan para penulis. Jika kita ingin menjaga keshalihan diri, bergaullah dengan orang-orang shalih. Selanjutnya, sunatullah selalu melekat. Manusia berlari karena ia belajar berjalan. Manusia berjalan karena ia belajar berdiri. Begitulah sunnatullah, untuk menjadi ahli dan pakar, kita harus menjadi pembelajar. Semoga bermanfaat.
(Ary H. – Siswa Akademi Menulis Kreatif, 18 Muharram 1438 H)