Minggu, 10 Desember 2017
Rangkuman Materi-4 Mudah Menulis Opini
Rabu, 06 Desember 2017
Hebatnya Pengaruh Pemahaman
Menonton rekaman #ILC bertema “212: Perlukah Reuni?” Via Youtube, masyaAllah ada rasa kagum dan bangga yang tak bisa saya sembunyikan. Bukan tentang kepada siapa rasa kagum itu saya tujukan, namun takjub akan ke Maha Kuasa-an Allah Swt. Ketika Allah Swt berkehendak untuk menolong agama-Nya, sungguh sangat mudah bagi Allah Swt.
Tak bisa saya bayangkan seandainya Allah Swt tidak melapangkan dada dan melancarkan lisan para asatidz di malam itu. Terlebih lagi ketika saya menyaksikan seseorang yang setadinya kafir dan agnostic kemudian menjadi muallaf dan pendakwah. Beliau bisa sangat fasih lisannya dan teguh sikapnya dalam membela Islam. Adakah yang bisa membolak-balikkan hati seseorang selain Allah Swt?
Menyaksikan Ust. Felix Y. Siauw, teringat akan kisah para shahabat Rasulullah Saw. Ada Umar bin Al Khaththab, Khalid bin Walid, Said bin Amir, Umair bin Wahab, Hindun, Usaid bin Hudhair serta beberapa shahabat lainnya, radliyallohu ‘anhum. Mereka pada awalnya merupakan orang-orang yang sangat tidak suka terhadap Islam. Bahkan ketika masih kafir, jangankan harta nyawa pun berani mereka taruhkan untuk menghadang Islam. Namun Allah Swt berkehendak lain, hidayah Islam sampai ke hadapan mereka ketika mereka masih hidup, mereka pun mengambil hidayah Islam itu saat nyawa masih dikandung badan, lalu menapaki hidayah Allah Swt secara istiqomah hingga akhir kehidupannya.
Sebuah pemahaman akan mengubah perilaku dan ucap seseorang. Apalagi jika itu adalah pemahaman asasi mengenai kehidupan yang akan menjadi pondasi keimanan. Bagaimana marahnya seorang Umar terhadap Rasulullah Saw, bagaimana kalapnya Umar terhadap adiknya yang malah mengikuti ajaran orang yang sangat ia benci, namun marah dan kalap itu hilang seketika setelah hidayah sampai kepadanya dan ia pun menyambutnya dengan penuh kesadaran.
Begitu pula permusuhan yang dilakukan oleh shahabat lainnya yang setadinya para penentang Islam. Semuanya sikap dan ucapannya berubah setelah mereka beriman. Di sinilah hebatnya pengaruh sebuah pemahaman dalam diri seseorang.
Pemahaman terhadap sebuah pemikiran tak datang begitu saja laksana kita terkena basah air hujan. Begitulah yang terjadi pada manusia pada umumnya. Sebuah pemikiran harus dimengerti oleh akal dan diyakini dalam hati untuk menjadi sebuah pemahaman yang berpengaruh. Sebelum diyakini, sebuah pemikiran yang bersifat informasi semata.
Untuk meyakini kebenaran sebuah pemikiran, ada kalanya membutuhkan waktu yang lama seperti kisah masuk Islamnya Hindun, hal itu terjadi setelah sekitar 20 tahun ia memusuhi Rasulullah Saw. Namun ada kalanya singkat sebagaimana masuk Islamnya George bin Todzir dalam perang Yarmuk.
George bin Todzir adalah panglima Byzantium yang memimpin pasukan Roma. Ketika itu, ia berperang menghadapi umat Islam yang dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiallahu anhu. Sebelum pecah pertempuran, terjadi kejadian yang menarik. George berdialog dengan Khalid hingga ia memeluk Islam dan berpindah posisi menjadi pasukan kaum muslimin.
Dalam perang itu George menderita luka parah dan menemui syahidnya di medan Yarmuk. Setelah berislam, ia hanya satu kali melakukan shalat, dan sujud dalam dua rakaat. Kemudian ia gugur di medan jihad.
Demikianlah hebatnya pengaruh sebuah pemahaman terhadap diri seseorang. Allah Swt Maha Membolak-balikkan hati, semoga kita diberkahi keistiqomahan dalam pemahaman Islam. Aamiiin.
#AryH
#MudahNulis
Senin, 04 Desember 2017
Rangkuman Materi-3 Mudah Menulis Opini
Selasa, 28 November 2017
Rangkuman Materi -2 Mudah Menulis Opini
Rabu, 22 November 2017
Keperkasaan Seorang Anshor
Sedikit cerita tentang Usaid bin Hudhair. Beliau adalah salah seorang tokoh Yatsrib yang sangat disegani. Sikapnya tegas dan berprinsip, pun merupakan keturunan dari kalangan terhormat dan mulia. Seorang penyair pernah membuat syair tentang ayahnya,
Seandainya maut mau menghindar dari orang perkasa
niscaya ia membiarkan Hudhair ketika menutup pintunya
ia akan berkeliling, sampai malam menjelma
lalu duduk dan berdendang dengan asyiknya.
Usaid terkenal sangat berani dan memiliki kedudukan sebagaimana ayahnya. Beliau merupakan seorang pemimpin kabilah. Ketika mendengar bahwa ada seseorang warga Makkah yang mendakwahkan agama baru (Islam), yaitu Mush'ab bin Umair yang diutus oleh Rasulullah, Usaid marah hebat. Ia beranggapan bahwa orang tersebut akan memecah belah kesatuan dan kondusifitas di Madinah. Karena itulah ia harus mengusir Mush'ab.
Untuk memberi pelajaran kepada Mush'ab, Usaid pun langsung menenteng tombak lalu langsung menemui Mush'ab yang sedang berdakwah. Di majelis itu ada As'ad bin Zurarah serta beberapa orang lainnya yang serius mendengarkan ceramah Mush'ab bin Umair. Usaid datang dengan penuh kemarahan dan keberangan. Ia langsung menodongkan tombaknya kepada Mush'ab seraya mengusirnya.
Berhadapan dengan orang yang sedang marah besar, Mush'ab berkata dengan santun,
"Apakah engkau berkenan duduk dan mendengarkannya? Jika engkau menyukainya, engkau dapat menerimanya. Sedangkan jika engkau tidak menyukainya, kami akan menghentikan apa yang tidak engkau sukai."
Usaid memang orang yang sangat cerdas dan tajam perasaannya. Tidak salah jika penduduk Yatsrib menjulukinya "Al Kamil" (Si Sempurna). Dalam kondisi sangat marah sekalipun, akalnya masih bisa berpikir normal. Ia pun mau menerima tawaran Mush'ab. Ia berkata,
"Engkau benar, sekarang sampaikanlah apa yang ada padamu!"
Mush'ab pun membacakan Al Quran, hidayah Islam meresap ke dalam hati Usaid bin Hudhair r.a. Selanjutnya melalui dakwah Usaid banyak tokoh dan penduduk Yatsrib yang masuk Islam.
Mengenai Usaid r.a., Rasulullah Saw bersabda:
"Laki-laki yang paling beruntung adalah Usaid bin Hudhair."
Usaid bin Hudhair memang sangat beruntung, karena dalam kondisi sangat benci dan marah sekalipun, #akal sehatnya masih #berfungsi. Dari jalan itulah ia menerima #hidayah #Islam dan tercatat mulia di langit dan bumi sebagai bagian dari #barisan #penolong #dakwah Rasulullah Saw, atau disebut dengan kaum #Anshor.
#Aryh
#Kisah
#ShahabatRasul
Minggu, 19 November 2017
Rangkuman Materi-1 Mudah Menulis Opini
Fakta dan Opini Sebuah Tulisan
Sabtu, 18 November 2017
Bela Negara atau Bela Sekulerisme?
Opini bela negara belakangan ini semakin menguat atau dikuatkan oleh rezim dan para pendukungnya. Namun anehnya, seiring dengan semakin menguatnya isu bela negara malah semakin banyak pula kebijakan rezim yang pro terhadap asing dan aseng. Dari mulai penjualan BUMN, jalan tol, bandara serta utang yang semakin membengkak.
Utang dan investasi menjadi jalan utama 'penjualan' negeri ini. Utang dipakai untuk membangun infrastruktur. Infrastruktur yang ada kemudian dilelang untuk mendapatkan uang. Lalu uang tersebut dipakai untuk membayar utang dan bunganya. Ujung-ujungnya, infrastruktur pun bukan lagi milik negara. Rakyat harus membayar untuk dapat menikmatinya, seraya dikenai berbagai jenis pajak untuk membayar utang beserta bunganya.
Begitu pula dengan sumber daya alam yang ada. Tanpa investasi, pengelola negara seolah tak percaya diri untuk mengeksploitasinya. Dampaknya, hampir seluruh eksploitasi pertambangan dikuasai oleh asing dan aseng. Emas, perak, bijih besi, timah, tembaga, gas alam hingga uranium pun terkeruk dari negeri ini. Anak negeri cukup bahagia meski hanya dengan beberapa recehan sebagai upah atas cucuran keringatnya. Mereka menjadi buruh di tanahnya sendiri.
Ekonomi kerakyatan hanyalah simbolisme kata-kata, karena yang berjalan senyatanya adalah ekonomi kapitalis. Jika benar-benar berpihak kepada rakyat niscaya rakyat tak akan dikenai kenaikan tarif listrik yang terus berlipat. Kini, tak sedikit dari pengguna listrik 900 kwh saja harus merogoh kocek antara 250-300 ribu perbulan untuk membayar listrik. Belum lagi pencabutan subsidi gas yang semakin mencekik. Di tengah kondisi seperti ini, rakyat masih pula akan dibebani dengan penyeragaman daya menjadi 5.500 kwh.
Belum lagi jika bicara moralitas yang semakin jeblok. Kekerasan terhadap anak meningkat, dan yang paling tinggi angkanya adalah pelecehan seksual terhadap anak. Aborsi semakin menggila dan pergaulan bebas semakin nyata di depan mata. Perilaku muda-mudi yang dulu dianggap tabu, kini mudah sekali ditemukan pemampakannya di ruang publik. Namun pada saat yang sama, pendidikan agama malah diframing sebagai akar radikalisme yang membahayakan. Pengajian dianggap berpotensi makar. Padahal berbagai ajang kemaksiatan dijaga dan dilestarikan dengan alasan menjaga kebhinekaan. Yang sebenarnya, alasan tersebut tak pernah berlaku untuk ide dan pemikiran islami.
Agama itu suci dan politik dianggap kotor, agama jangan dibawa-bawa ke ranah politik, begitulah slogannya. Inilah yang dimaksud dengan sekulerisme. Jika demikian, jangan harap moral rakyat akan membaik. Karena para politisinya pun sudah mencap dirinya hidup di ranah yang kotor dan sama sekali tidak mau diatur dengan sesuatu yang suci. Namun anehnya, kaum agamawan pendukung rezim yang sering meneriakkan kembalikan kesucian dan kemuliaan agama. Malahan justru mendekat ke para penguasa seraya menantikan derasnya recehan yang digelontorkan melalui program para politisi.
Slogan bela negara yang diteriakkan berulang-ulang pun seolah memiliki dua makna. Yakni makna tersurat dan tersirat. Makna tersuratnya adalah membela negeri dari setiap rongrongan dan penjajahan asing yang membahaykan, termasuk menjaga rakyatnya dari berbagai eksploitasi dan tipu daya asing. Sedangkan makna tersiratnya adalah bela sekulerisme, atau pertahankan pemisahan agama dan kehidupan di negeri ini. Pertahankan hukum-hukum yang tak berlandaskan pada hukum agama seraya jauhkan berbagai hukum agama yang berpotensi mengatur masyarakat.
Jika bela negara dimaknai sebagai bela sekulerisme, maka sampai kapanpun dan diteriakkan sebanyak apapun bela negara hanya sekedar akan menjadi slogan semata. Karena sekulerisme dan penjajahan adalah dua mata uang yang tak bisa dipisahkan. Sedangkan jika bela negara dimaknai sebagai pembelaan terhadap seluruh sumber daya alam dan manusia negeri ini. Maka negeri ini harus menganut pandangan hidup yang benar-benar anti penjajahan.
Tinggal kita bertanya dalam diri. Mau bela negara atau bela sekulerisme?
Kamis, 16 November 2017
Sisi Perjuangan Seorang Tokoh Sekuler
Ia terlahir di sebuah kawasan miskin di wilayah Yunani yang bernama Tesalonika. Ayahnya hanya seorang mantan pegawai rendahan di sebuah kantor pemerintah. Karena hidup tak berpendapatan, ayahnya pun membanting stir menjadi seorang pebisnis. Namun nasib baik belum berpihak kepadanya, ayahnya gagal berbisnis dan menjadi seorang pemabuk. Ketika penyakit TBC menjadi pengantar kematian ayahnya, usianya baru 7 tahun. Usia yang masih sangat muda untuk menjadi seorang yatim.
Ibunya adalah seorang yang buta huruf. Namun ia adalah muslimah yang sangat taat beribadah. Karena itulah, Sang ibu menginginkannya untuk menjadi seorang ulama. Akan tetapi, ia memilih menjadi seorang remaja pemberontak dengan perilaku yang buruk. Atas saran keluarga besarnya, ia pun dimasukkan ke sekolah militer di Salonika.
Terlahir dengan berbagai penderitaan dan kesulitan hidup, membuatnya bermental baja dan pantang menyerah. Ia gigih dan tekun belajar hingga meraih prestasi yang mengagumkan. Ia sangat pandai di bidang militer dan matematika. Saking pandainya, temannya pun menjuluki dia dengan julukan “kamil”. Bahkan, ia dipromosikan untuk menjadi salah seorang staf pengajar. Kerja kerasnya membuahkan hasil, ia mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian akhir. Pada tahun 1905, gelar kehormatan sebagai kapten pun berhasil ia sandang.
Meskipun pandai, tak membuatnya menjadi seorang pelajar yang studi oriented. Masa mudanya ia isi dengan mengaktifkan diri dalam sebuah kelompok perjuangan revolusioner yang bernama “Vatan”. Kelompok ini sangat militan dan fanatik memperjuangkan liberalisme. Kelompok ini selalu menyalahkan Islam atas keterbelakangan yang menimpa negerinya. Kelompok ini lantang mengkritik pemerintahan Islam. Para anggotanya bersumpah untuk melengserkan pemerintah serta mengganti konstitusi dan undang-undang, kemudian akan menggantikannya dengan sistem pemerintahan ala Barat.
Kebencian kelompok Vatan terhadap Islam sungguh tak kepalang. Kelompok ini sangat berkeinginan untuk menghapuskan otoritas para ulama, menghapuskan pemakaian jilbab dan kerudung serta mendeklarasikan kesetaraan gender. Keaktifannya dalam kelompok tersebut telah mengantarkan dia untuk menjadi pemimpinnya.
Pada tahun 1908 ia diajak bergabung dalam sebuah komite nasional. Namun ia benci diperintah, ia tak puas ketika berbagai ide dan kemauannya ditentang oleh anggota yang lain. Sepuluh tahun ia habiskan untuk kembali menekuni bidang kemiliteran. Berkat kekerasan hati dan kecerdasan otaknya, ia merengkuh makin banyak kekuasaan politik.
Hampir setiap malam ia begadang menahan kantuk. Ia rencanakan berbagai langkah makar untuk mendapatkan sebuah kekuasaan yang absolut baginya. Kesempatan itu akhirnya datang, peperangan yang ia pimpin ketika melawan sekutu Eropa telah mengantarkannya menjadi seorang “Penyelamat.” Rakyat pun mulai mengagung-agungkannya. Ia pun dipuja sebagai pahlawan.
Semua impiannya selama ini untuk menghancurkan Islam semakin menyata. Karena ia beranggapan bahwa negerinya hanya bisa maju dan modern, jika mengeliminasi berbagai hal yang berbau Islam. Sehingga tanpa ragu, ia pun selalu menyerang Islam dan pilarnya.
Pada 3 Maret 1924, ia mengajukan UU yang menghapuskan sistem pemerintahan Khilafah Islam untuk selamanya dan mendirikan negara sekuler. Sebelum UU ini diperkenalkan, ia membungkam para penentang dan semua suara-suara kritis dengan ancaman hukuman mati. Akhirnya, UU tersebut pun disahkan tanpa perdebatan. Ia adalah Musthafa Kemal Pasha.
*)sumber bacaan : Mustafa Kemal Ataturk; Pembawa Kehancuran Islam Turki. Percikan Iman No. 04 Th.VII April 2006.
Banggalah Menjadi Generasi Islam!
Nak, hari ini engkau masih kecil dan menyaksikan. Bagaimana tercabik-cabiknya persaudaraan umat Islam. Umat Islam suatu bangsa seolah dilarang peduli terhadap umat Islam bangsa lainnya. Kita dipenjara oleh sekat-sekat semu yang sangat subjektif.
Sekat semu itu rapat dan kuat ketika umat Islam ingin saling peduli sesamanya, namun longgar dan sangat fleksibel terhadap selainnya.
Sekat-sekat semu itu seolah penentu surga dan nerakanya seseorang. Seolah nanti di akhirat kita akan dihisab berdasarkan sekat-sekat semu tersebut. Sekat semu yang memenjara, yang membuat tubuh umat Islam mati rasa.
Nak, di masamu kelak. Umat Islam akan bersatu sebagaimana persatuan kaum Aus dan Khazraj; umat Islam akan saling bantu sebagaimana kaum Muhajirin dan Anshar; umat Islam akan bersaudara sebagaimana teguhnya persaudaraan Bani Hasyim dan Bani Umayah.
Di masamu itulah umat Islam benar-benar dipersatukan oleh tali agama Allah, yakni Al Quran. Persatuan hakiki umat Islam, ketika syariah Islam menjadi panduan dan keputusan seorang khalifah menjadi pengangkat setiap perselisihan.
Nak, persiapkanlah dirimu dengan ilmu dan tsaqofah Islamiyyah. Karena masa depan dunia adalah milik Islam dan kaum muslim. Saat itu, semua umat dan bangsa akan meminta solusi penyelesaian masalahnya terhadap umat Islam, termasuk dirimu.
Berbanggalah menjadi generasi umat Islam, generasi yang akan menyelamatkan masa depan dunia.
Engkau adalah Santri
Nak, engkau adalah santri. Meskipun masih sedang belajar untuk menjadi orang yang memahami serta mengamalkan agama.
Entah di hari ini engkau sedang berbahagia atau tidak, namun orang menyebutmu santri. Engkau merupakan bagian dari komunitas masyarakat yang dianggap lebih paham terhadap agama dibandingkan yang lainnya.
Karena itulah Nak, di pundakmu tersimpan tanggung jawab. Bukan hanya terhadap masyarakat yang menanti kiprahmu, namun lebih dari itu yakni terhadap Rabb semesta alam. Amat besar kebencian di sisi-Nya, jika ilmumu hanya engkau ucapkan semata, tanpa pengamalan.
Sejak ayah mendidikmu dalam kemandirian untuk belajar di pesantren, engkau menyandang gelar tersebut, santri. Sejak itu pula tak ada tugas utamamu selain mempelajari Islam, mengamalkannya, mengajarkannya serta mendakwahkannya. Meskipun sebenarnya, hal tersebut merupakan kewajiban setiap mukmin apapun profesinya.
Tak perlu silau dengan dunia. Biarlah ia tetap di tanganmu jangan kau taruh di hatimu. Tanamkan bahwa engkau adalah pendidik keluarga dan masyarakat. Engkau hanya mendidik mereka dengan Islam, bukan dengan yang lain.
Tetapkan karir hidupmu menembus sekat batas fana dunia. Biarkan ia berpijak pada kehidupan sebelum dunia, serta terhubung dengan kehidupan setelah dunia. Tempatkan kriteria suksesmu laksana Bunda Khadijah r.a., Aisyah r.a., Fathimah r.a., atau Asma r.a., serta para muslimah pendidik terbaik dalam Islam.
Di hari santri-mu ini, semoga engkau sedang mengaji dan bukan sedang bernyanyi; semoga engkau sedang menghapal hadits dan bukan sedang terlena dalam hura; semoga engkau sedang bershalawat dan bukan sedang berikhthilat; semoga engkau selalu tegar dan tak mudah tergiur dollar.
Bertawakkallah kepada Allah Swt. Sebakda shalat, ayah selalu berdo'a untukmu. Tetaplah istiqomah putriku.
Dari Ayah untuk Anak Pondok
Nak, kini engkau pun merasakan sebagaimana yang pernah ayahmu rasakan. Di saat teman-teman kita dikunjungi orang tuanya, kita hanya bisa menatap keceriaan mereka. Terkadang sembari membayangkan, "Oh, seandainya saja mereka adalah aku dan orang tuaku."
Nak, ayahmu bangga padamu. Engkau lebih tegar dibandingkan ayahmu dahulu. Mungkin karena sekarang terbantu pula oleh kecanggihan sarana telekomunikasi. Bukan lagi sekedar untaian kata dalam secarik kertas. Kini, saling menatap lewat monitor mini pun bisa menjadi pelepas rindu.
Wajahmu tampak segar, senyum manis yang menggambarkan keceriaan, suaramu teduh dan menenangkan. Kami di sini bahagia dapat mendengar dan melihatmu.
Ingin rasanya menghentikan waktu sejenak biar tak melaju, lalu ayah terbang menemuimu. Namun sungguh, mustahil bagi kita untuk melawan sunatullah perjalanan waktu. Waktu akan terus berlalu dan kita tak pernah bisa menduakan jasad.
Nak, apa yang engkau alami. Setiap hari, siang dan malamnya. Setiap waktu, detik dan menitnya. Setiap rasa, senang dan sedihnya. Semua akan terakumulasi dalam kenangan di masa depan. Dan setiap pilihanmu dalam menghadapi semua itu, akan membuatmu semakin tangguh di masa depan. Engkau yang akan meraih asa dan cita, pasti menantang segala hambat dan rintang.
Tataplah masa depan, mulailah dari akhir dalam pikiran, yakni ridlo Allah Swt sebagai tujuan. Sebagaimana pesanku selalu, rajin dan semangatlah mempelajari tsaqofah Islam. Karena engkau terlahir untuk masa depan dan masa depan adalah milik Islam.
#MasaDepanMilikIslam
Engkau Bukan Pelampiasan Mimpi
Nak, engkau bukanlah tempat pelampiasan mimpi-mimpi orang tuamu. Dimana semua mimpi tersebut merupakan mimpi yang belum pernah bisa mereka raih. Sehingga kau dituntut harus bisa begini dan begitu, yang sebenarnya hal itu hanya untuk memuaskan kedua orang tuamu. Namun engkau adalah generasi manusia masa depan. Engkau perealisasi cita-cita umat dan penjemput berbagai janji Allah Ta'ala.
Kami hanya ingin terteduhkan mata menatap kalian. Kami hanya berharap kalian menjadi amal jariyah bagi kami, menjadi anak shalih yang selalu mendo'akan kedua orang tuanya. Itu sudah cukup bagi kami.
Namun untuk meraih keduanya, tentu membutuhkan ilmu dan amal. Ilmu dan amal yang berlandaskan pada keimanan, bukan yang lain. Di masa depan, manusia akan sangat membutuhkan Islam. Kaum muslim akan menjadi pemimpin umat manusia di dunia. Bagaimana mungkin kita akan menunjuki mereka dengan hidayah Islam, jika kita tak paham Al Quran dan tak mengenal As Sunnah.
Saat Islam menjadi mercusuar peradaban, manusia akan masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Mereka tentu membutuhkan banyak bimbingan ilmu, inilah ladang amal bagimu kelak. Oleh karena itu, mendidikmu bukan pelampiasan mimpi. Namun mendidikmu adalah menguatkan aqidah, memahamkan syariah, membiasakan amal dan dakwah serta menghiasinya dengan akhlaq mahmudah.
Nak, pendidikan membutuhkan keikhlashan. Baik itu dari kami, gurumu dan juga dirimu. Tanpa keikhlashan, engkau akan patah hati ketika menemui kesulitan dan jumawa ketika menjumpa kemudahan. Lakukanlah semata karena Allah Ta'ala. Guru-gurumu adalah orang tuamu di sekolah, berbaktilah kepada mereka selama mereka berbakti kepada Allah Swt.
Kunci utama kesuksesan seorang mukmin hanyalah ketaqwaan kepada Allah Swt, tak ada yang lain. Oleh karena itu, Rasulullah Saw selalu mewasiatkan hal ini dalam berbagai momen. Dan tentunya, ketaqwaan itu diraih dengan ilmu dan amal. Dengan ilmu, kita bisa memilih dan memilah perintah dan larangan Allah; dengan amal, kita bisa menambah-nambah timbangan kebaikan untuk bekal kelak di negeri Akhirat.
Nak, selalu ingatkan kami jika lalai dalam mendidikmu dalam agama. Karena kami juga manusia yang bisa berbuat khilaf dan dosa.


