Minggu, 10 Desember 2017

Rangkuman Materi-4 Mudah Menulis Opini

[20:05, 12/10/2017] : Assalamu 'alaikum, mohon maaf atas keterlambatannya. Ada sedikit kendala teknis.
Mari kita buka KulWA Sessi-4 Mudah Menulis Opini ini dengan bacaan bismillah
Alhamdulillah, wassyukru 'ala ni'amillah, washsholatu wassalamu 'ala rosulillah, wa 'ala alihi wa ashhabihi wa man wallahu ila yaumil qiyamah.
Tema KulWA kali ini agak lain, mungkin rekan-rekan belum tentu mendapatkannya di kelas opini yang lain. Namun sebelum saya mulai, saya ingin bertanya dulu. Sdh brp banyak yang mempraktekkan 1) Mindmapping 2) 5W+1H, 3) Belajar secara ATM dan 4) TPE dengan EBI? minimal dalam 3 paragrap. Karena intinya tulisan opini itu cuma 3 bagian. Fakta, analisa, solusi. Jadi, kalau kita baru belajar menulis, 3 paragrap bisa menjadi awalan yang sangat baik. 1 paragrap tentang Fakta, 1 paragrap tentang analisa dan 1 paragrap tentang solusi.
Bagi yang ketinggalan materi, silahkan unduh materi sessi 1 s.d. 3 di www.aryherawan.blogspot.com atau www.berandapembelajar.blogspot.com.
Ya, kita lanjut ke materi. Materi ini saya anggap penting bagi para penulis muslim.
Menurut rekan-rekan, lebih penting mana antara menulis dan isi tulisan?
Jika isi tulisannya bagus, tetapi kata-kata yang tertuliskan kurang tepat maka hasilnya salah paham. Begitu juga jika kata-kata yang tertuliskan begitu indah, tetapi isi pikirannya sampah maka hasilnya paham yang salah. Oleh karena itu jika kita memilih berkomunikasi lewat tulisan, menulis dan isi tulisan sama pentingnya.
Akan tetapi jika ditimbang-timbang, isi tulisan pastinya berasal dari berbagai ide dan pemikiran yang diadopsi oleh penulisnya. Karena itulah, mengadopsi ide dan pemikiran yang benar itulah yang utama dilakukan sebelum menulis. Mengadopsi ide dan pemikiran yang benar itulah yang utama dilakukan sebelum menulis. Karena, 'pisau' analisis terhadap fakta yang dipakai oleh para penulis, pastilah berasal dari pemahamannya ketika memandang fakta tersebut.
teoritis bangets...
Biar ga teoritis, berikut contohnya...
Dengan fakta menyambut tahun baru 2018 yang akan kita hadapi, bisa dihasilkan banyak tulisan.
Bisa 1) kritikan, 2) dukungan atau pembiaran akan pesta malam tahun baru. Bisa pula 3) renungan, 4)candaan atau bahkan sekedar 5) curhat-curhatan. Bisa berupa 6) berita, 7) analisa ataupun hanya sekedar 8) cerita. Semua tergantung pada apa yang ada dalam isi kepala penulisnya.
Lalu, pemikiran benar seperti apakah yang mesti diadopsi oleh seorang penulis muslim?
Yang paling utama adalah pemikiran menyeluruh tentang manusia, alam semesta dan kehidupan serta hubungannya dengan sebelum kehidupan dan sesudah kehidupan. Pemikiran ini merupakan pemikiran yang paling mendasar. Inilah yang disebut dengan Aqidah. Ia berkutat pada tiga pertanyaan yang paling utama, yakni tentang dari manakah kehidupan ini berasal? untuk apakah hidup ini? Dan akan kemanakah manusia setelah kehidupan ini berakhir?
Saya rasa, ini hanya perasaan saya saja, insyaAllah rekan-rekan di grup ini sudah bisa memahami jawaban atas ketiga pertanyaan di atas.
Oleh karena itulah, insyaAllah rekan-rekan di sini punya modal banyak untuk menulis opini. (masalah dimuat tdk dimuat, insyaAllah di akhir sessi ini saya akan kasih link tulisan saya sebagai obat penawarnya.)
Jawaban atas ketiga pertanyaan ini akan membentuk keyakinan yang paling mendasar (Aqidah). Keyakinan mendasar inilah yang akan membentuk pandangan yang khas terhadap fakta atau kejadian. Pandangan khas inilah yang biasanya dituangkan menjadi tulisan. Alhasil, dari sudut pandang inilah isi tulisan menjadi lebih utama dibandingkan cara menulis.
Bukan berarti menulis menjadi tak penting. Namun menulis hanya membutuhkan pengulangan sedangkan isi tulisan membutuhkan pembenaran hati dan pembelajaran untuk dapat mengaitkan fakta dengan pemahaman yang tumbuh dari Aqidah.
Oleh karena itulah di awal sessi ini saya bertanya, siapa yang sudah membiasakan praktek? karena, menulis hanya membutuhkan pengulangan. Siapa yang pernah belajar mengemudikan motor? kalau saya waktu diajari, gigi satu harus kecepatan sekian, baru bisa naik gigi dua, baru bisa naik gigi tiga dan sebagainya. Kalau pelan tidak boleh gigi tinggi. Ketika sudah biasa mengemudikan motor, lupa semua teori-teori tersebut. 🙂 semua karena kita terbiasa. Terkadang, teori pun ditabrak.
Menulis membutuhkan pembiasaan mengolah kata. Isi tulisan membutuhkan keikhlashan, kejujuran hati dan pembiasaan pola pikir.
Sebagai para penulis muslim, tentu pola pikir Islami-lah yang mestinya tertuang dalam tulisan. Sehingga bisa menghasilkan tulisan yang tak hanya indah, tetapi lebih dari itu, mengantarkan manusia pada hidayah.
A. Mengenai Menulis
Sebelum saya belajar menulis opini, ada seorang rekan yang terbiasa menulis. Ketika saya belajar menulis pun, tulisan beliau masih lebih sering tayang daripada saya. Namun beliau kemudian lama vakum menulis, pas terakhir saya tanya mengenai menulis. Sekarang jangankan satu paragrap, satu kalimat pun susah saya tuangkan, kata beliau,
Untuk menghindari kekeliruan dalam menulis, kita hanya membutuhkan praktek pelajaran bahasa Indonesia waktu sekolah dasar dahulu. Ingat!  praktek pelajaran Bahasa Indonesia waktu SD
Beneran nih?
Iya bener!
Serius!
Apa itu? ada yang tahu?
Kita hanya membutuhkan praktik menyusun kalimat pola SPOK (Subjek Predikat Objek Keterangan) atau KSPO, itu saja. Karena pada dasarnya, pola kalimat bahasa Indonesia hanyalah itu. Jangan sampai Subjek terbaca sebagai Objek atau sebaliknya. Adapun terkait penggunaan kata predikat yang tepat, jika kita ragu menggunakannya tinggal kita cari saja maknanya di kbbi online. InsyaAllah, beres!
Namun yang perlu diingat, menganalisa kalimat dan ketepatan penggunaan kata ini dilakukan dalam proses editing, ingat, dalam proses editing. Bukan dalam proses menulis atau writing. Jadi, ketika belajar menulis, curahkan saja semua pandangan khas yang setiap kita pasti memilikinya. Setelah semua ide tercurahkan, barulah lakukan perbaikan dalam penulisannya. InsyaAllah tidak akan maju mundur, atau ketik hapus - ketik hapus.

B. Isi Tulisan
Selayaknya para penulis muslim tak perlu terlena hanya dengan ketakjuban orang atas keindahan kata-kata yang kita tuliskan. Untuk apa semua itu jika dengannya para pembaca tak tertunjuki pada kebaikan? Lebih baik isi tulisan yang mengantarkan pada kebaikan seraya dihiasi dengan kata-kata yang sederhana tapi mampu meyakinkan.
Oleh karena itu terkait menulis atau isi tulisan, para penulis muslim punya dua tugas utama. Tak hanya belajar menulis, tetapi belajar tentang isi tulisan yang akan dituangkan.
ah,,,teori lagi....
Untuk meyakinkan rekan-rekan bahwa isi tulisan adalah sesuatu yang penting. Saya kutipkan tulisan salah seorang penulis  handal di negeri ini. Dalam salah satu bukunya, dia bercerita tentang negara-negara maju seperti AS sering mengundang para penulis. Hingga 2014, AS mengundang para penulis dalam program International setiap tahunnya dengan seleksi yang sangat ketat.
Ketika ia diundang kemudian bertanya kepada panitianya, jawaban panitianya adalah "mengundang satu penulis lebih beruntung daripada sepuluh orang bukan penulis."
Mengapa demikian? karena "Untungnya, penulis akan mengembangkan apa yang ditangkap dan dialami ke dalam tulisan - sedangkan bukan penulis hanya menyimpannya di dalam angan sebagai wawasan, atau bahkan melupakannya." (Much. Khoiri, 2013)
Ingat bahwa,
"penulis akan mengembangkan apa yang ditangkap dan dialami ke dalam tulisan - sedangkan bukan penulis hanya menyimpannya di dalam angan sebagai wawasan, atau bahkan melupakannya."
Jadi, menurut rekan-rekan para penulis itu diundang terkait A. Menulis atau B. Isi Tulisan?
Program AS ini bukanlah sekedar tentang menulis, tetap tentang isi tulisan. Bagaimana supaya berbagai ide dan pemikiran yang diadopsi AS bisa menular kepada para penulis. Negara kapitalis penjajah seperti AS saja peduli terhadap isi tulisan, sungguh sangat naif jika kita tidak memedulikannya.
Jadi, saatnya para penulis muslim untuk peduli terhadap isi tulisan. Tuliskanlah yang baik atau lebih baik diam. Tuliskanlah kebaikan meski hanya dalam beberapa kalimat. Saatnya para penulis muslim untuk "Berani nulis, berani dakwah."
Wallahu al-musta'an.

[21:19, 12/10/2017]: Ada pertanyaan?  terlalu serius ya materinya? Mohon maaf jika agak agitatif dan provokatif...
[21:26, 12/10/2017]: Bagaimana bisa memastikan kalau analisa kita thd fakta yg diuraikan bisa tepat atau tajam?
[21:27, 12/10/2017]: Semakin berbobot bacaan seorang penulis, insyaAllah akan semakin tajam analisanya. Biasanya yang pintar analisa di lisan, akan mudah analisa di tulisan. Ini hanya pembiasaan saja.
[21:26, 12/10/2017]: Klo terkait rms 5w+1H. SPOK gmn?manfaatin wkt.
[21:29, 12/10/2017]: Penggunaan 5W + 1 H untuk memudahkan kerangka tulisan, ada di materi sebelumnya bu (Materi 1) ... Ini sebetulnya hanya untuk membantu saja supa terbiasa terkerangka (tidak baku).
[21:30, 12/10/2017]: Sepertinya perlu ada materi menganalisis fakta nya agar analisisnya bisa setajam silet...
[21:30, 12/10/2017]: Analisis ini subjektifnya penulis. InsyaAllah masing-masing sudah ada bekalnya.
[21:33, 12/10/2017]: bagaimana caranya agar kita bisa mengenali tulisan itu hoax atau tidak?
[21:35, 12/10/2017]: Hoax itu sering berlebihan. Ambil dari media yang umum saja. Kalau data, ambil dari instansi resmi atau hasil penelitian.
Menghindari Hoax, cek en ricek. Coba copy paste apa yang diberitakan ke google. Kalau linknya cuma mengarah ke 1, kemungkinan besar hoax. Kan nenek moyang kita sudah terbiasa mengecek berita. Makanya dalam ushul hadits itu sampai ada tingkatan2 khabar...
[21:40, 12/10/2017]: Berarti bagi penulis opini pemula butuh waktu lama utk buat satu tulisan saja ya?
[21:42, 12/10/2017]: Untuk pemula, iya. Saya ketika belajar pertama kali, TPE saja tidak hanya sehari dua hari. Saya pandangi tulisan itu hampir tiap hari selama seminggu, sebelum dikirim ke media. Itu juga masih ada yang ditolak.
[21:45, 12/10/2017]: Terakhir, saya ingin memberi obat penawar bagi rekan-rekan yang sudah berusaha mengirim tulisannya ke media cetak & online, tetapi belum dipilih untuk tayang.
Ini obat penawarnya, meski hanya sebuah link tulisan. Saya berharap semoga dapat bermanfaat http://aryherawan.blogspot.co.id/2015/12/penolakan-batu-asahan-seorang-penulis.html
[21:47, 12/10/2017]: Akhir kata, saya mengucapkan jazakumullohu khoiron kepada rekan-rekan penulis muslim, khususnya kepada master Apu Indragiry yang telah memberikan saya kesempatan untuk berbagi sedikit pengalaman dan pengetahuan.
Mohon maaf atas salah dan khilaf. Kebenaran hanya datang dari Allah SWT Yang Maha Benar, sedangkan kesalahan adalah murni kekhilafan saya sebagai insan.
Mari kita tutup dengan hamdalah dan do'a penutup majlis. Wassalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.
=Ary H.=
(disampaikan dalam KulWA Kelas Opini di Akademi Menulis Kreatif, 10 Desember 2017)

Rabu, 06 Desember 2017

Hebatnya Pengaruh Pemahaman

Menonton rekaman #ILC bertema “212: Perlukah Reuni?” Via Youtube, masyaAllah ada rasa kagum dan bangga yang tak bisa saya sembunyikan. Bukan tentang kepada siapa rasa kagum itu saya tujukan, namun takjub akan ke Maha Kuasa-an Allah Swt. Ketika Allah Swt berkehendak untuk menolong agama-Nya, sungguh sangat mudah bagi Allah Swt.

Tak bisa saya bayangkan seandainya Allah Swt tidak melapangkan dada dan melancarkan lisan para asatidz di malam itu. Terlebih lagi ketika saya menyaksikan seseorang yang setadinya kafir dan agnostic kemudian menjadi muallaf dan pendakwah. Beliau bisa sangat fasih lisannya dan teguh sikapnya dalam membela Islam. Adakah yang bisa membolak-balikkan hati seseorang selain Allah Swt?

Menyaksikan Ust. Felix Y. Siauw, teringat akan kisah para shahabat Rasulullah Saw. Ada Umar bin Al Khaththab, Khalid bin Walid, Said bin Amir, Umair bin Wahab, Hindun, Usaid bin Hudhair serta beberapa shahabat lainnya, radliyallohu ‘anhum. Mereka pada awalnya merupakan orang-orang yang sangat tidak suka terhadap Islam. Bahkan ketika masih kafir, jangankan harta nyawa pun berani mereka taruhkan untuk menghadang Islam. Namun Allah Swt berkehendak lain, hidayah Islam sampai ke hadapan mereka ketika mereka masih hidup, mereka pun mengambil hidayah Islam  itu saat nyawa masih dikandung badan, lalu menapaki hidayah Allah Swt secara istiqomah hingga akhir kehidupannya.

Sebuah pemahaman akan mengubah perilaku dan ucap seseorang. Apalagi jika itu adalah pemahaman asasi mengenai kehidupan yang akan menjadi pondasi keimanan. Bagaimana marahnya seorang Umar terhadap Rasulullah Saw, bagaimana kalapnya Umar terhadap adiknya yang malah mengikuti ajaran orang yang sangat ia benci, namun marah dan kalap itu hilang seketika setelah hidayah sampai kepadanya dan ia pun menyambutnya dengan penuh kesadaran.

Begitu pula permusuhan yang dilakukan oleh shahabat lainnya yang setadinya para penentang Islam. Semuanya sikap dan ucapannya berubah setelah mereka beriman. Di sinilah hebatnya pengaruh sebuah pemahaman dalam diri seseorang.

Pemahaman terhadap sebuah pemikiran tak datang begitu saja laksana kita terkena basah air hujan. Begitulah yang terjadi pada manusia pada umumnya. Sebuah pemikiran harus dimengerti oleh akal dan diyakini dalam hati untuk menjadi sebuah pemahaman yang berpengaruh. Sebelum diyakini, sebuah pemikiran yang bersifat informasi semata.

Untuk meyakini kebenaran sebuah pemikiran, ada kalanya membutuhkan waktu yang lama seperti kisah masuk Islamnya Hindun, hal itu terjadi setelah sekitar 20 tahun ia memusuhi Rasulullah Saw. Namun ada kalanya singkat sebagaimana masuk Islamnya George bin Todzir dalam perang Yarmuk.

George bin Todzir adalah panglima Byzantium yang memimpin pasukan Roma. Ketika itu, ia berperang menghadapi umat Islam yang dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiallahu anhu. Sebelum pecah pertempuran, terjadi kejadian yang menarik. George berdialog dengan Khalid hingga ia memeluk Islam dan berpindah posisi menjadi pasukan kaum muslimin.

Dalam perang itu George menderita luka parah dan menemui syahidnya di medan Yarmuk. Setelah berislam, ia hanya satu kali melakukan shalat, dan sujud dalam dua rakaat. Kemudian ia gugur di medan jihad.

Demikianlah hebatnya pengaruh sebuah pemahaman terhadap diri seseorang. Allah Swt Maha Membolak-balikkan hati, semoga kita diberkahi keistiqomahan dalam pemahaman Islam. Aamiiin.

#AryH
#MudahNulis

Senin, 04 Desember 2017

Rangkuman Materi-3 Mudah Menulis Opini

Assalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh...

Bagi yang baru gabung, perkenalkan saya Ary H. siswa #1 AMK, pengelola FP Mudah Nulis. Saya diamanahi oleh master Apu Indragiry untuk berbagai mengenai "Mudah Menulis Opini"
Mari kita buka dengan "bismillah dan do'a"

Alhamdulillah, KulWA ke 1 dan ke 2 Mudah Menulis Opini sudah berjalan 2 pekan yang lalu. Rangkuman materinya bisa diakses di www.berandapembelajar.blogspot.com dan www.aryherawan.blogspot.com. Saya penuh harap, rekan-rekan sudah rutin menjalankan latihan-latihannya.

InsyaAllah, malam ini saya akan berbagi mengenai EBI Bukanlah Monster

Sebelum materi mulai, saya ingin bertanya kepada rekan-rekan.

Manakah judul yang enak dibaca, A. Rumitnya Pengelolaan Haji atau B. Pengelolaan Haji yang Rumit atau C. Kerumitan Pengelolaan Haji?

Bukan karena jawabannya mayoritas, namun kalau saya cenderung enak membacanya jika tertulis Rumitnya Pengelolaan Haji. Karena itulah, tadi siang saya membaca sebuah tulisan opini di media ternama, tertulis judulnya Rumitnya Pengelolaan Haji.

Padahal, kalau berdasarkan ejaan yang baik. Kalimat Rumitnya Pengelolaan Haji merupakan kalimat yang ejaannya tidak baik. Karena kata ganti milik -nya entah kembali kemana? 

Begitulah tulisan, seringkali ejaan menjadi tidak begitu penting. Inilah yang dikenal dengan gaya bahasa populer yang seringkali lebih mementingkan kenyamanan orang yang membaca dibandingkan dengan ejaan. Terutama untuk bentuk tulisan Opini.

Sekali lagi, kenyamanan pembaca seringkali lebih diutamakan dibandingkan ejaan yang baik dan benar. Oleh karena itulah, saya ingin berbagi dengan rekan-rekan tentang EBI Bukanlah Monster.

Tidak sedikit dari kita yang berhasrat besar mau menulis, tapi takut ejaannya salah. Takut penulisan titik dan komanya tidak tepat. Khawatir penempatan Subjek Predikat, Objek dan Keterangannya acak-acakan. Akhirnya, satu kalimat pun tidak tertuang. Betul ga?

Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang sebelumnya kita kenal dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), kerap kali menjadi momok bagi para calon penulis. Bahkan, seringkali menghambat ide menjadi tak jadi tertulis. Terus saja tulis hapus, hapus tulis dan terkesanlah bahwa menulis itu sulit. Padahal hanya ejaan yang menjadi monsternya.

Menulis menjadi terkesan sulit, hanya karena ejaan. Bahkan, saaangaaat sulit. Menurut rekan-rekan, penting ga ejaan itu?

Ejaan memang penting. Namun selayaknya ia ditempatkan pada porsinya. Karena pada dasarnya, belajar menulis itu belajar mencurahkan ide. Jika ide menjadi terhambat gara-gara ejaan. Berarti kita harus menyingkirkan dulu masalah ejaan.

Sampai kapankah kita menyingkirkannya?

Tentu bukan untuk selamanya, tapi sampai semua ide kita keluar dan tertuliskan. Anggaplah ketika kita menulis itu, kita sedang berbicara dengan buku, netbook atau android kita. Sampai tulisan mulai berkembang dan mulai menyadari gaya menulis sesuai pribadi masing-masing, atau lebih baik lagi seolah dengan masyarakat yang ada di hadapan kita atau dengan pembaca yang kita tuju.

Di manakah kita menempatkan aturan EBI? Tempatkanlah ia dalam proses editing. Dalam menulis opini, kita mesti melakukan aktifitas TPE, yakni Tulis - Pendam - Edit

Tulis semaksimal yang kita bisa. Curahkan semua pandangan kita terhadap fakta yang kita soroti. Kemudian pendam semalaman. Esok harinya barulah kita baca kemudian edit kembali. Pengalaman saya ketika pertama kali menulis opini. TPE itu saya lakukan beberapa kali. Bahkan pernah juga melibatkan orang lain ketika tulisan itu kita pendam.

Pada proses edit inilah kita membutuhkan EBI. Namun itu juga tidak mutlak, karena dalam beberapa hal seringkali mengutamakan kenyamanan pembaca. EBI diperlukan supaya orang tak salah memahami kalimat per kalimat tulisan kita. Aiiiih, teoritis banget ya. Bikin ngantuk...  Contohnya saja ya...

Misalnya ketika kita sudah menulis. Kemudian sudah kita pendam, ketika mau edit kita baca kembali. Ternyata ada kalimat seperti ini "Buni Yani upload video penghina Al Quran diamankan." Kalimat seperti ini kan rancu. Tentu perlu kita rapihkan sesuai ejaan yang baik dan benar.

Jadi, EBI disusun untuk memudahkan kita untuk berkomunikasi, terutama dalam ragam bahasa tulisan. Bukan malahan sebaliknya, menghambat kita untuk menulis atau mencurahkan gagasan dan pandangan.

Menulislah sampai selesai. Selanjutnya kita pelajari EBI yang baik dan benar sembari proses editing. Sehingga tak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak menulis. Siap ya?
Sebagai tambahan, EBI terbaru bisa diunduh secara gratis di link berikut:

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/PUEBI.pdf

Ada pertanyaan? kalau tak ada, kita langsung praktek.

Kita ambil kejadian yang disaksikan dan ramai dibahas oleh beberapa media belakangan ini.
Kita fokus ke Reuni 212. Mohon tuliskan sebebasnya tentang pertanyaan berikut. 1) What (apa)-kah yang kita ketahui tentang Reuni 212?   2) When (kapan)-kah kegiatannya?    3) Where (di mana)-kah lokasi kegiatannya?   4) Who (siapa)-kah yang terlibat di dalamnya?     5) Why (mengapa) sampai terjadi  Reuni 212? dan 6) How (bagaimana)-kah pandangan rekan-rekan tentangnya? Silahkan dimulai.

Jawabannya bukan di sini ya. Di kertas atau file. Nanti photokan kertasnya atau layarnya. Jangan lupa sertakan nama di bawah jawabannya.

Setelah tugas pertama selesai, saya kasih tugas lanjutan. Tugas lanjutannya adalah sebagai berikut :
Silahkan kembangkan jawaban rekan-rekan dengan . 1) untuk pertanyaan 1 s.d. 5 lebih fokus ke fakta dan data, maka silahkan buka media cetak dan online terkait 212 yang bisa menguatkan dan memperjelas jawaban rekan-rekan. Kemudian, khusus poin jawaban no. 6) Karena ini adalah pandangan pribadi yang bersifat opini, maka silahkan membuka buku atau tulisan orang lain, baik di koran ataupun majalah, yang bisa memperkuat pandangan pribadi anda. Lalu tambahkan dalam tulisan.

InsyaAllah, minimal 1 lembar A4 sudah di tangan.

Sudah lewat waktunya. InsyaAllah kita ketemu pekan depan ya...

Nanti kalau sudah selesai dikembangkan. Pendam semalam. Edit esok harinya. Kemudian publikasikan di FB. Ketik di bawahnya #KelasOpiniAMK Tandai Akademi Menulis, Apu Indragiry dan Aryh Menata Kata.

Mohon maaf atas salah dan khilaf, kita tutup dengan alhamdulillah dan do'a penutup majlis. Jazakumullohu khoiron master Apu Indragiry. Wassalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.

=Ary H.=

Catt :
Alhamdulillah esok harinya, beberapa rekan pun memosting tugas-tugasnya.



Selasa, 28 November 2017

Rangkuman Materi -2 Mudah Menulis Opini

Rangkuman Materi ke-2  “Mudah Menulis Opini” 

Sekali lagi Tentang Mindmapping dan Belajar secara ATM *)

A.        Sekali lagi Tentang Mindmapping

Bagi seorang profesional, munculnya ide-ide yang terus mengalir dari pikiran sangatlah dibutuhkan. Tak terkecuali bagi seorang penulis opini. Bila ide mengalir deras dari pikiran, tulisan pun menjadi lancar tanpa macet. Begitupun sebaliknya, bila tanpa ide-ide baru, tulisan pun akan sulit dikembangkan. Baik menulis puisi, cerpen, artikel, novel, apalagi buku yang berbab-bab bahkan berjilid-jilid.

Sebagai penulis pemula, saya pun sering merasakan kebuntuan ide. Menurut saya sih itu merupakan sesuatu yang wajar. Karena saya yakin, kendala tersebut pasti sering melanda para penulis. Jangankan untuk seorang penulis pemula, para penulis mahir pun pasti pernah merasakannya.

Ide itu terlahir dari sebuah proses berpikir. Sedangkan proses berpikir adalah pencerapan objek oleh indera yang diteruskan ke otak, lalu otak menafsirkan objek tersebut berdasarkan informasi sebelumnya (yang tersimpan di otak. Atau dengan kata lain, tahkim (penghukuman) suatu objek/fakta oleh otak berdasarkan informasi sebelumnya. Karena itulah, lahirnya sebuah ide berhubungan dengan input informasi ke otak dan output informasi dari otak.

Secara input informasi, kebuntuan ide yang dialami para penulis, bisa diurai dengan aktifitas banyak membaca. Bagaikan teko, semakin banyak diisi air maka akan semakin banyak isinya. Potensi kuantitas mengalirnya pun akan semakin besar. Membaca yang serius (deep reading) akan memperbanyak ide secara optimal. Selain itu, banyak menyimak, melakukan, mendengar dan melihat berbagai hal yang bermanfaat dapat memperkaya informasi ke dalam otak. Karena, informasi bisa dicerap oleh otak melalui berbagai alat indera. Namun, hal ini baru terkait input informasi ke dalam otak.

Adapun terkait dengan kelancaran output ide, hal itu bisa dilatih dengan fastwriting dan mindmapping. Terkait fastwriting, saya telah menjelaskannya dalam tulisan sebelumnya. Bila fastwriting bisa membantu melancarkan aliran ide, maka mindmapping bisa membantu memunculkan ide-ide baru yang lebih kreatif.

Berdasarkan pengalaman saya belajar di Akademi Menulis Kreatif binaan Master Apu Indragiry, mindmapping adalah latihan menghubung-hubungkan suatu ide dengan ide-ide yang lain, sebanyak-banyaknya. Mindmapping bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, karena ia hanya membutuhkan kertas kosong, alat tulis dan stopwatch.

Karena kita belajar menulis opini. Mari kita lakukan mindmapping pada istilah-istilah aktual dan momen yang rutin terjadi tahunan.

Sebagai contoh, karena sekarang sedang rame-ramenya hari Guru. Bisa juga kita membuat mindmapping dari kata Guru.






      B.      Belajar Secara ATM

Tak hanya belajar bisnis yang menggunakan rumus ATM (Amati Tiru dan Modifikasi). Belajar menulis pun bisa menggunakan rumus yang sama. Terutama bagi yang sedang belajar menulis opini. Kita bisa mengambil tulisan opini para penulis yang sudah mapan, kemudian kita tuliskan ulang dengan gaya bahasa yang berbeda dengan penulis aslinya. Sebagai contoh, saya mengutip satu paragrap tulisan berkut

-------------
Fenomena gay atau homoseks terus memakan korban. Kalau dahulu hanya anak-anak perempuan yang jadi korban perbudakan seks, kini jaringan prostitusi kaum gay telah memangsa anak laki-laki. Seperti dibongkarnya prostitusi gay di Cipayung, Puncak, Bogor, 30 Agustus lalu.
(Tulisan Kholda Naajiyah dari rubrik Muslimah di Tabloid Media Umat yang berjudul "Gay Perusak Calon Imam")
-------------

Kemudian saya ubah paragrap tersebut menjadi sebagai berikut :

-------------
Perbudakan seks makin menggila. Saat ini, tak hanya anak-anak perempuan yang ditargetkan, anak lelaki pun jadi incaran. Itulah yang terungkap dari terbongkarnya kasus jaringan prostitusi gay di Cipayung, Bogor pada 30 Agustus lalu. Bahkan, sebagian kalangan menganggap bahwa kejadian ini bisa berupa fenomena gunung es. Satu kejadian yang mewakili ribuan fakta.
-------------

Mungkin gaya bahasa saya berbeda dan tidak sebagus penulis aslinya. Tetapi yang penting bagi kita adalah belajar menulis dulu, perkara gaya bahasanya bagus dan tidak, bukan urusan kita. Fokus pada tugas utama, yakni menulis.
Atau bisa juga kita ambil contoh tulisan yang lebih panjang. Semisal tulisan berikut :

----------------------------------
Kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia hanya menghamba kepada Pencipta (Al Khaliq) dan bukan kepada ciptaan (makhluq) apalagi apa yang diciptakan oleh ciptaan.

Dialah Allah SWT, Sebagai Yang Mencipta, tentu Dia-lah yang paling tahu tentang apa yang terbaik dan apa yang terburuk bagi ciptaan-Nya. Tentang pemilikan dan penguasaan Allah terhadap segala sesuatu, Allah berfirman:

Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS. Ali Imrân/3: 109)

Sebagai milik Allah, maka –suka atau tidak suka—semuanya pasti dikembalikan dan berserah diri kepada Allah SWT:

“...kepada-Nya-lah berserah diri siapa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imrân/3: 83)

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. Hûd/11: 123)

Sengaja Allah SWT memilih kalimat pasif: dikembalikan karena memang semua persoalan tanpa kecuali, pasti akan dikembalikan atau dipaksa untuk kembali kepada Allah Sang Pemilik & Sang Penguasa (al-Malik). Atas dasar inilah sehingga tidak ada pilihan lain bagi manusia kecuali berserah diri secara mutlak kepada Allah SWT.

Dan atas dasar ini pula, manusia tidak dibenarkan memisahkan aktivitas hidupnya, sebagian untuk Allah dan sebagiannya lagi untuk yang lain. Semuanya harus total dipersembahkan hanya kepada Allah SWT:

"Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS. Al-An‘âm/6: 162)

(Sumber tulisan : https://web.facebook.com/yukngajiid)
----------------------------

Setelah kita mengamati substansi tulisannya, kita bisa meniru serta memodifikasi tulisan tersebut menjadi sebagai berikut :
---------------------------

Merasa Merdeka

Merasa kadang berbeda dengan fakta. Ada yang merasa miskin, padahal faktanya kaya. Ada juga yang merasa tak bisa padahal faktanya mampu. Atau seperti mayoritas negara berkembang di dunia saat ini, merasa merdeka padahal faktanya terjajah. Mengapa bisa demikian? Semua karena persepsi yang keliru tentang merdeka.

Banyak yang memahami merdeka sekedar bebas. Karena itulah, jika semua manusia dibiarkan bebas maka pasti akan berlaku hukum rimba. Manusia kuatlah yang akan jadi eksploitator, lainnya hanya sebagai korban eksploitasi. Pasti tetap akan berujung penjajahan. Apapun itu modelnya, baik secara militer maupun non militer.

Dikutip dari web official Yuk Ngaji, kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia hanya menghamba kepada Pencipta (Al Khaliq) dan bukan kepada ciptaan (makhluq), apalagi apa yang diciptakan oleh ciptaan. Dialah Allah SWT, Sebagai Yang Mencipta, tentu Dia-lah yang paling tahu tentang apa yang terbaik dan apa yang terburuk bagi ciptaan-Nya. Tentang pemilikan dan penguasaan Allah terhadap segala sesuatu, Allah berfirman: "Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan." (QS. Ali Imrân/3: 109).

Kita adalah milik Allah. Tentunya sebagai milik Allah, kita pasti akan dikembalikan kepada-Nya. Karena itulah berserah diri kepada Allah Swt merupakan sebuah kemestian Karena “…kepada-Nya-lah berserah diri siapa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imrân/3: 83) serta "kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. Hûd/11: 123).

Kata "dikembalikan" menunjukkan bahwa kita berperan sebagai objek. Semua diri kita serta urusan kita pasti akan kembali kepada Allah Yang Maha Kuasa (Al Malik). Tiada sedikit pun ada kuasa kita untuk menolaknya. Kembali kepada Allah merupakan keniscayaan. Sehingga, tiada lagi yang bisa dilakukan manusia selain tunduk dan patuh hanya kepada-Nya.

Kita tentu ingat ikrar kita yang sering diucap ulang, bahwa "sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ Dengan ikrar itulah kita memastikan bahwa hidup kita untuk ibadah, taat sepenuhnya kepada Allah. Seluruh urusan pun dikembalikan kepada Allah.

Tak ada pemisahan antara kehidupan dan ketaatan. Tak ada pemisahan antara kehidupan dan agama. Yang bermakna, tak ada ideologi sekulerisme yang akan kita biarkan bertahta dalam jiwa. Hanya Islam semata, itulah yang mengisi hati, pikiran dan amal kita. InsyaAllah kemerdekaan hakiki kan kita raih bersama. Bukan sekedar merasa.
------------------------------
Kita memang meniru tetapi kita tidak menjadi plagiator tak pula sekedar menyalin, karena yang kita ambil adalah substansi tulisannya atau ide yang terkandung di dalamnya. Substansi tulisan itu kita tangkap kemudian kita tuliskan ulang dengan gaya bahasa kita sendiri. Mudah kan? insyaAllah mudah selama kita mau mencobanya.


*) Disampaikan oleh Ary H. pada Kelas Opini “Akademi Menulis Kreatif”.

Rabu, 22 November 2017

Keperkasaan Seorang Anshor

Sedikit cerita tentang Usaid bin Hudhair. Beliau adalah salah seorang tokoh Yatsrib yang sangat disegani. Sikapnya tegas dan berprinsip, pun merupakan keturunan dari kalangan terhormat dan mulia. Seorang penyair pernah membuat syair tentang ayahnya,

Seandainya maut mau menghindar dari orang perkasa
niscaya ia membiarkan Hudhair ketika menutup pintunya
ia akan berkeliling, sampai malam menjelma
lalu duduk dan berdendang dengan asyiknya.

Usaid terkenal sangat berani dan memiliki kedudukan sebagaimana ayahnya. Beliau merupakan seorang pemimpin kabilah. Ketika mendengar bahwa ada seseorang warga Makkah yang mendakwahkan agama baru (Islam), yaitu Mush'ab bin Umair yang diutus oleh Rasulullah, Usaid marah hebat. Ia beranggapan bahwa orang tersebut akan memecah belah kesatuan dan kondusifitas di Madinah. Karena itulah ia harus mengusir Mush'ab.

Untuk memberi pelajaran kepada Mush'ab,  Usaid pun langsung menenteng tombak lalu langsung menemui Mush'ab yang sedang berdakwah. Di majelis itu ada As'ad bin Zurarah serta beberapa orang lainnya yang serius mendengarkan ceramah Mush'ab bin Umair. Usaid datang dengan penuh kemarahan dan keberangan. Ia langsung menodongkan tombaknya kepada Mush'ab seraya mengusirnya.

Berhadapan dengan orang yang sedang marah besar, Mush'ab berkata dengan santun,

"Apakah engkau berkenan duduk dan mendengarkannya? Jika engkau menyukainya, engkau dapat menerimanya. Sedangkan jika engkau tidak menyukainya, kami akan menghentikan apa yang tidak engkau sukai."

Usaid memang orang yang sangat cerdas dan tajam perasaannya. Tidak salah jika penduduk Yatsrib menjulukinya "Al Kamil" (Si Sempurna). Dalam kondisi sangat marah sekalipun, akalnya masih bisa berpikir normal. Ia pun mau menerima tawaran Mush'ab. Ia berkata,

"Engkau benar, sekarang sampaikanlah apa yang ada padamu!"

Mush'ab pun membacakan Al Quran, hidayah Islam meresap ke dalam hati Usaid bin Hudhair r.a. Selanjutnya melalui dakwah Usaid banyak tokoh dan penduduk Yatsrib yang masuk Islam.

Mengenai Usaid r.a., Rasulullah Saw bersabda:

"Laki-laki yang paling beruntung adalah Usaid bin Hudhair."

Usaid bin Hudhair memang sangat beruntung, karena dalam kondisi sangat benci dan marah sekalipun, #akal sehatnya masih #berfungsi. Dari jalan itulah ia menerima #hidayah #Islam dan tercatat mulia di langit dan bumi sebagai bagian dari #barisan #penolong #dakwah Rasulullah Saw, atau disebut dengan kaum #Anshor.

#Aryh
#Kisah
#ShahabatRasul

Minggu, 19 November 2017

Rangkuman Materi-1 Mudah Menulis Opini

(KulWA 1)

A. Mengapa Menulis Opini
InsyaAllah kita sudah mengenal jenis tulisan opini. Sebagai pembukaan, pertemuan pertama ini. Saya akan mulai dengan sebuah pertanyaan tentang mengapa kita harus beropini?

Yang pertama, karena setiap perubahan dimulai dari opini. Ide yang 'dilempar' di tengah masyarakat.
Sebagai contoh sederhana. Di perumahan saya sering terjadi banjir jika hujan besar. Terutama blok yang lebih rendah. Kemudian orang-orang pun beropini (menyampaikan pendapat) tentang bagaimana solusinya. Sebelum aksi untuk menangani masalah banjir, tentu ada opini terlebih dulu.

Yang kedua, karena berita yang berseliweran di media massa lebih banyak opini dibandingkan fakta. Sebagai contoh, saya tadi membaca sebuah tulisan pada sebuah majalah Islam. Faktanya cuma 1 tapi opininya banyak.

#Fakta :
Arab Saudi berinvestasi sebesar US$500 milyar atau sekitar Rp 6.783 triliun untuk membangun satu kota kawasan bisnis. Di dalamnya termasuk investasi sektor hiburan, konser musik serta bioskop umum.

#Opini :
Kami (KSA) akan membangun sebuah negara Islam moderat yang terbuka untuk semua agama, tradisi dan orang-orang di seluruh dunia.
Saudi tidak akan lagi jadi rujukan Islam konservatif.
Saudi akan menjadi kekuatan modern dan maju di berbagai bidang kehidupan
Saudi akan menjadi negara dan bangsa yang berkarakter Islami, yang cocok untuk abad ke-21.

#Perbedaannya
Fakta itu kejadian apa adanya, sedangkan opini merupakan pandangan subjektif penulis terhadap fakta.
Itulah dua alasan utama, mengapa kita beropini. Sebagai penulis atau calon penulis, tentu kita dapat beropini melalui tulisan.

B. Syarat utama Menulis Opini
Menurut saya, menulis opini adalah aktfitas menulis non fiksi kedua termudah setelah menulis pengalaman pribadi. Jauh lebih mudah daripada skripsi dan tesis. Beneran! Serius nih! syarat utamanya hanya dua saja, kita mesti memiliki sesuatu yang disorot dan sebuah pandangan pribadi. Yang disorot bisa berupa isu, data, fakta, pernyataan orang terkenal, bahkan bisa pula tulisan orang lain. Adapun yang kedua adalah pandangan pribadi kita atas hal tersebut. Mudah kan syaratnya. Namun ada lagi syarat pokoknya, yakni mau menuliskannya. Karena jika kita tidak mau menuliskannya, syarat utamanya jadi gugur semua.

C. Mencari Ide untuk Disorot
Saat ini, mencari ide untuk disorot sangatlah mudah. Banyak membaca koran, banyak membuka internet dan banyak menonton berita. Mengapa demikian? karena sebuah tulisan opini membutuhkan tema yang aktual. Lewat sehari saja, tulisan kita bisa kadaluarsa.

Sebagai awalan, supaya bisa melakukan persiapan yang panjang, kita bisa menggunakan kalender. Lalu kita tandai hari-hari penting dalam beberapa bulan ke depan. Misal untuk sekarang, di bulan Desember ada hari ibu, emansipasi, natal dan tahun baru (biasanya isu toleransi menguat di moment ini), refleksi akhir tahun dan sebagainya.

Pencarian ide akan jauh lebih mudah jika kita terbiasa berlatih mindmapping. Tentang mindmapping bisa dibaca pada bab berikutnya.

Ide yang disorot bisa juga berdasarkan mood. Ketika kita melihat suatu kejadian yang tidak sreg, lalu kita langsung berpikir tentang apa yang seharusnya. Maka itu sudah bisa menjadi opini. Saya punya sebuah pengalaman. Saat pertama kali menulis tulisan opini. Saya pernah membuat tulisan opini hanya karena tidak sreg dengan pernyataan seorang tokoh di media massa. Kemudian ketidaksetujuan itu saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Sesederhana itulah kita membuat tulisan opini.

Sebagai pemula. 1) utamakan isu yang rutin berulang, semisal hari-hari besar 2) utamakan isu yang kita punya pandangan pribadi atasnya dengan lebih komplit (biasanya ini terkait mood atau kedalaman ilmu kita atasnya). Misal, ada isu "Penyeragaman Daya Listrik", ada isu "Kekerasan Terhadap Anak Meningkat di Tasikmalaya", dari dua isu ini, manakah yang lebih kita kuasai. Itu saja.

D. Membuat Pandangan Pribadi
You are what you read. Iya, kita adalah apa yang kita baca. Pandangan pribadi kita tidak akan jauh dari apa yang telah kita baca dan dengarkan lalu kita benarkan. Oleh karena itu, untuk membuat persepsi akan isu yang kita sorot, mau tidak mau, kita mesti mau membaca. Jika tak mau membaca, apa yang akan kita tuangkan?

Bagi kita yang masih miskin literasi. Aktifitas membaca rujukan sumber (literasi) bisa kita lakukan setelah menentukan ide yang disoroti. Misalnya, Ketika kita sudah menentukan akan menyoroti Hari Ibu misalnya. Maka, kita bisa memperbanyak bacaan mengenai peran wanita saat ini serta idealitanya. Idealita dalam pandangan siapa? jika kita adalah seorang aktifis dakwah Islam, tentunya idealita dalam pandangan Islam. Mungkin kita bisa membuka buku-buku Islam, tafsir, hadits dan sebagainya yang menjelaskan tentang idealita posisi seorang perempuan.

E. Mengatasi Macet Menulis
Saya sering membaca, punya persepsi dalam benak, tetapi kok tetap susah mengutarakan dalam tulisan. Buatlah kerangka terlebih dulu, untuk mempermudahnya kita bisa menggunakan pendekatan 5 W + 1 H. What (apa)-kah kejadian atau fakta apa yang akan dibahas. When (kapan)-kah kejadian atau fakta itu terjadi. Where (di mana)-kah lokasi kejadian atau faktanya. Who (siapa)-kah pelakunya. Why (mengapa) itu terjadi. Kemudian How (bagaimana)-kah solusinya. Untuk sebuah tulisan opini, What, when, where dan who merupakan tulisan pembuka. Kita bisa menuliskannya secara singkat di awal, dan jangan lupa untuk menuliskannya dengan semenarik mungkin. Pada perkara Why dan How inilah kita bisa menuliskannya secara panjang lebar, bahkan analisa kita mestilah didukung oleh data dan fakta yang akurat dan tertelusur (bisa dipertanggungjawabkan).

Dalam hal Why (analisa) dan How (solusi), kita bisa memilih mana yang akan ditekankan. Apakah tulisan kita mau opini analisa, yakni mengajak orang supaya mengikuti analisa kita. Ataukah opini solusi, yakni mengajak orang untuk mengikuti solusi yang kita tawarkan. Jika kita bermaksud mengirim opini ke Surat Kabar Harian, baiknya pilih salah satu saja supaya pembaca lebih terpuaskan. 

Dikarenakan space opini di surat kabar versi cetak sangatlah terbatas, maksimal hanya 2 lembar kertas A4, spasi 1 dengan pinggiran 2-2-2-2, huruf Calibri 11. Terkecuali, jika kita bisa melobi tulisan opini kita bersambung, tetapi itu sangat jarang terjadi.

Dan yang terakhir, dan ini tak kalah penting, tulisan opini harus disertai ajakan kepada para pembaca supaya mau mengikuti analisa atau solusi yang kita tawarkan.

Contoh opini analisa, bisa dibuka di link berikut :

Contoh opini solusi, bisa dibuka di link berikut :

F. Kalimat Pendek dan Gaya Bahasa Populer.
Menulis opini di media berbeda dengan menulis buku. Kolom di media pendek-pendek dan pembacanya tidak sepanjang halaman buku. Oleh karena itulah, supaya menyegarkan para pembaca, alangkah lebih baiknya jika kita menggunakan kalimat yang pendek.
Misal :
“Degradasi lingkungan senantiasa dihadapkan dengan pembangunan. Bagaikan makan buah simalakama. Bila lingkungan ingin lestari maka hentikan pembangunan. Bila pembangunan ingin berjalan maka korbankan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, green building and economy yang diwacanakan Gubernur Jawa Barat dalam sebuah acara di Aula Timur Gedung Sate (19/02/2015), patut diapresiasi. Bahkan tidak cukup hanya sekedar wacana, namun perlu direalisasikan dalam bentuk kebijakan yang nyata.”


PERTANYAAN-PERTANYAAN:

#Pertanyaan 1 : hal2 yg hrs dihindari dlm. penulisan opini?
#Jawaban 1: Apa yang harus dihindari dalam tulisan opini? 1) Logika yang tidak beralur 2) Kalimat yang terlalu panjang. 3) beberapa media tidak menyukai kalimat yang menghakimi.
Penjelasan poin 1) dan 3)
1) Hubungan satu paragrap dengan paragrap selanjutnya harus saling menguatkan. Sertakan data untuk menguatkan kepercayaan pembaca terhadap penulis. 3) Misalnya, kalimat, "kenaikan tarif listrik merupakan pengkhianatan terhadap rakyat dan kezaliman yang nyata.", Kalau media umum, biasanya mengedit kalimat seperti ini menjadi "kenaikan tarif listrik merupakan kebijakan yang tidak pro rakyat serta akan sangat membebani masyarakat."
Kalimat kedua lebih diterima. Oleh karena itu, pembahasaan dalam tulisan opini akan ditentukan pula dengan ke manakah kita akan mengirimkan tulisan tersebut. Gaya setiap media berbeda-beda.

#Pertanyaan 2: Ciri2 opini yang baik?
#Jawaban 2:  Opini itu lebih ke arah menggiring pandangan pembaca untuk mengikuti pendapat kita. Bukan untuk menghakimi orang yang tidak sependapat dengan kita. Opini yang baik tentunya yang runut, dari mulai fakta disertai data, kemudian solusi.

#Pertanyaan 3: Bagaimana memilih fakta yang akurat dan tertelusur?
#Jawaban 3: Untuk saat ini, ketika media dikooptasi untuk menjadi pendukung rezim. Tentu agak susah. Namun semisal fakta angka kriminalitas, kenakalan remaja, itu sering muncul di media disampaikan oleh dinas terkait. Itu bisa kita ambil. Intinya, dari media atau surat kabar yang ada. Tetapi yang kita ambil hanya faktanya saja bukan dengan opininya. Karena sebagai contoh saya di awal. Faktanya KSA berinvestasi pada sarana hiburan, opininya malah yang jauh lebih banyak.

#Pertanyaan 4: Berapa maksimal karakter ny mas?
#Jawaban 4: Patokan untuk tulisan opini ke koran adalah 4 halaman A4 spasi 2 dengan pinggiran 2-2-2-2 jenis huruf calibri. atau 2 halaman A4 dengan spasi 1 pinggiran 2-2-2-2. Nah, untuk latihan jangan dulu memikirkan tekni. Karena opini itu hanya membutuhkan 2 hal (1.Ide yg disoroti dan 2. pandangan penulis). Jadi, fokuslah hanya pada dua hal ini terlebih dulu.
Tentukan satu fakta, curahkan semua pandangan kita terhadap fakta tersebut. Kemudian lengkapi pandangan kita dengan data-data.

#Pertanyaan 5: Menentukan data yg kita pilih itu fakta akurat drmn? krn seringkali sekarang fakta yg diangkat di media terkadang hoax.
#Jawaban 5 : Misalnya kita mau menyoroti "Kemewahan Para Pejabat"
Data di bawah ini bisa kita ambil kemudian di belakangnya dituliskan (Namasuratkabar, tanggal terbit)

Apalagi jika data itu kemudian disandingkan dengan data lain semisal, biaya membangun satu jembatan yang sangat dibutuhkan oleh rakyat yang hendak beraktifitas.

PENUTUP
Saya mengucapkan terima kasih atas atensi rekan-rekan, dan mohon maaf apabila ada kekurangan, salah dan kekhilafan selama berbagi materi.

InsyaAllah pekan depan kita akan ketemu lagi. Materinya masih seputar "Mudah Menulis Opini". Semoga bermanfaat dan mari kita tutup dengan hamdalah dan doa penutup majlis.

Jazakumullohu khoiron master Apu Indragiry atas kesempatannya. Wassalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.


(Ary H. – Islamic Writer & Blogger.)
Materi disampaikan pada KulWA grup Kelas Opini AMK pada 19 November 2017 pukul 20.00 s.d. 22.00 WIB)

Fakta dan Opini Sebuah Tulisan

Sebuah tulisan di media itu tersusun dari fakta dan opini. Misalnya sebagai berikut :

Arab Saudi berinvestasi sebesar US$500 milyar atau sekitar Rp 6.783 triliun untuk membangun satu kota kawasan bisnis. Di dalamnya termasuk investasi sektor hiburan, konser musik serta bioskop umum.

Opini
Kami (KSA) akan membangun sebuah negara Islam moderat yang terbuka untuk semua agama, tradisi dan orang-orang di seluruh dunia.
Saudi tidak akan lagi jadi rujukan Islam konservatif.
Saudi akan menjadi kekuatan modern dan maju di berbagai bidang kehidupan
Saudi akan menjadi negara dan bangsa yang berkarakter Islami, yang cocok untuk abad ke-21.

Fakta itu kejadian apa adanya, sedangkan opini merupakan pandangan subjektif penulis terhadap fakta.

Sabtu, 18 November 2017

Bela Negara atau Bela Sekulerisme?

Opini bela negara belakangan ini semakin menguat atau dikuatkan oleh rezim dan para pendukungnya. Namun anehnya, seiring dengan semakin menguatnya isu bela negara malah semakin banyak pula kebijakan rezim yang pro terhadap asing dan aseng. Dari mulai penjualan BUMN, jalan tol, bandara serta utang yang semakin membengkak.

Utang dan investasi menjadi jalan utama 'penjualan' negeri ini. Utang dipakai untuk membangun infrastruktur. Infrastruktur yang ada kemudian dilelang untuk mendapatkan uang. Lalu uang tersebut dipakai untuk membayar utang dan bunganya. Ujung-ujungnya, infrastruktur pun bukan lagi milik negara. Rakyat harus membayar untuk dapat menikmatinya, seraya dikenai berbagai jenis pajak untuk membayar utang beserta bunganya.

Begitu pula dengan sumber daya alam yang ada. Tanpa investasi, pengelola negara seolah tak percaya diri untuk mengeksploitasinya. Dampaknya, hampir seluruh eksploitasi pertambangan dikuasai oleh asing dan aseng. Emas, perak, bijih besi, timah, tembaga, gas alam hingga uranium pun terkeruk dari negeri ini. Anak negeri cukup bahagia meski hanya dengan beberapa recehan sebagai upah atas cucuran keringatnya. Mereka menjadi buruh di tanahnya sendiri.

Ekonomi kerakyatan hanyalah simbolisme kata-kata, karena yang berjalan senyatanya adalah ekonomi kapitalis. Jika benar-benar berpihak kepada rakyat niscaya rakyat tak akan dikenai kenaikan tarif listrik yang terus berlipat. Kini, tak sedikit dari pengguna listrik 900 kwh saja harus merogoh kocek antara 250-300 ribu perbulan untuk membayar listrik. Belum lagi pencabutan subsidi gas yang semakin mencekik. Di tengah kondisi seperti ini, rakyat masih pula akan dibebani dengan penyeragaman daya menjadi 5.500 kwh.

Belum lagi jika bicara moralitas yang semakin jeblok. Kekerasan terhadap anak meningkat, dan yang paling tinggi angkanya adalah pelecehan seksual terhadap anak. Aborsi semakin menggila dan pergaulan bebas semakin nyata di depan mata. Perilaku muda-mudi yang dulu dianggap tabu, kini mudah sekali ditemukan pemampakannya di ruang publik. Namun pada saat yang sama, pendidikan agama malah diframing sebagai akar radikalisme yang membahayakan. Pengajian dianggap berpotensi makar. Padahal berbagai ajang kemaksiatan dijaga dan dilestarikan dengan alasan menjaga kebhinekaan. Yang sebenarnya, alasan tersebut tak pernah berlaku untuk ide dan pemikiran islami.

Agama itu suci dan politik dianggap kotor, agama jangan dibawa-bawa ke ranah politik, begitulah slogannya. Inilah yang dimaksud dengan sekulerisme. Jika demikian, jangan harap moral rakyat akan membaik. Karena para politisinya pun sudah mencap dirinya hidup di ranah yang kotor dan sama sekali tidak mau diatur dengan sesuatu yang suci. Namun anehnya, kaum agamawan pendukung rezim yang sering meneriakkan kembalikan kesucian dan kemuliaan agama. Malahan justru mendekat ke para penguasa seraya menantikan derasnya recehan yang digelontorkan melalui program para politisi.

Slogan bela negara yang diteriakkan berulang-ulang pun seolah memiliki dua makna. Yakni makna tersurat dan tersirat. Makna tersuratnya adalah membela negeri dari setiap rongrongan dan penjajahan asing yang membahaykan, termasuk menjaga rakyatnya dari berbagai eksploitasi dan tipu daya  asing. Sedangkan makna tersiratnya adalah bela sekulerisme, atau pertahankan pemisahan agama dan kehidupan di negeri ini. Pertahankan hukum-hukum yang tak berlandaskan pada hukum agama seraya jauhkan berbagai hukum agama yang berpotensi mengatur masyarakat.

Jika bela negara dimaknai sebagai bela sekulerisme, maka sampai kapanpun dan diteriakkan sebanyak apapun bela negara hanya sekedar akan menjadi slogan semata. Karena sekulerisme dan penjajahan adalah dua mata uang yang tak bisa dipisahkan. Sedangkan jika bela negara dimaknai sebagai pembelaan terhadap seluruh sumber daya alam dan manusia negeri ini. Maka negeri ini harus menganut pandangan hidup yang benar-benar anti penjajahan.

Tinggal kita bertanya dalam diri. Mau bela negara atau bela sekulerisme?

Kamis, 16 November 2017

Sisi Perjuangan Seorang Tokoh Sekuler

Ia terlahir di sebuah kawasan miskin di wilayah Yunani yang bernama Tesalonika. Ayahnya hanya seorang mantan pegawai rendahan di sebuah kantor pemerintah. Karena hidup tak berpendapatan, ayahnya pun membanting stir menjadi seorang pebisnis. Namun nasib baik belum berpihak kepadanya, ayahnya gagal berbisnis dan menjadi seorang pemabuk. Ketika penyakit TBC menjadi pengantar kematian ayahnya, usianya baru 7 tahun. Usia yang masih sangat muda untuk menjadi seorang yatim.

Ibunya adalah seorang yang buta huruf. Namun ia adalah muslimah yang sangat taat beribadah. Karena itulah, Sang ibu menginginkannya untuk menjadi seorang ulama. Akan tetapi, ia memilih menjadi seorang remaja pemberontak dengan perilaku yang buruk. Atas saran keluarga besarnya, ia pun dimasukkan ke sekolah militer di Salonika.

Terlahir dengan berbagai penderitaan dan kesulitan hidup, membuatnya bermental baja dan pantang menyerah. Ia gigih dan tekun belajar hingga meraih prestasi yang mengagumkan. Ia sangat pandai di bidang militer dan matematika. Saking pandainya, temannya pun menjuluki dia  dengan julukan “kamil”. Bahkan, ia dipromosikan untuk menjadi salah seorang staf pengajar. Kerja kerasnya membuahkan hasil, ia mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian akhir. Pada tahun 1905, gelar kehormatan sebagai kapten pun berhasil ia sandang.

Meskipun pandai, tak membuatnya menjadi seorang pelajar yang studi oriented. Masa mudanya ia isi dengan mengaktifkan diri dalam sebuah kelompok perjuangan revolusioner yang bernama “Vatan”. Kelompok ini sangat militan dan fanatik memperjuangkan liberalisme. Kelompok ini selalu menyalahkan Islam atas keterbelakangan yang menimpa negerinya. Kelompok ini lantang mengkritik pemerintahan Islam. Para anggotanya bersumpah untuk melengserkan pemerintah serta mengganti konstitusi dan undang-undang, kemudian akan menggantikannya dengan sistem pemerintahan ala Barat.

Kebencian kelompok Vatan terhadap Islam sungguh tak kepalang. Kelompok ini sangat berkeinginan untuk menghapuskan otoritas para ulama, menghapuskan pemakaian jilbab dan kerudung serta mendeklarasikan kesetaraan gender. Keaktifannya dalam kelompok tersebut telah mengantarkan dia untuk menjadi pemimpinnya.

Pada tahun 1908 ia diajak bergabung dalam sebuah komite nasional. Namun ia benci diperintah, ia tak puas ketika berbagai ide dan kemauannya ditentang oleh anggota yang lain. Sepuluh tahun ia habiskan untuk kembali menekuni bidang kemiliteran. Berkat kekerasan hati dan kecerdasan otaknya, ia merengkuh makin banyak kekuasaan politik.

Hampir setiap malam ia begadang menahan kantuk. Ia rencanakan berbagai langkah makar untuk mendapatkan sebuah kekuasaan yang absolut baginya. Kesempatan itu akhirnya datang, peperangan yang ia pimpin ketika melawan sekutu Eropa telah mengantarkannya menjadi seorang “Penyelamat.” Rakyat pun mulai mengagung-agungkannya. Ia pun dipuja sebagai pahlawan.

Semua impiannya selama ini untuk menghancurkan Islam semakin menyata. Karena ia beranggapan bahwa negerinya hanya bisa maju dan modern, jika mengeliminasi berbagai hal yang berbau Islam. Sehingga tanpa ragu, ia pun selalu menyerang Islam dan pilarnya.

Pada 3 Maret 1924, ia mengajukan UU yang menghapuskan sistem pemerintahan Khilafah Islam untuk selamanya dan mendirikan negara sekuler. Sebelum UU ini diperkenalkan, ia membungkam para penentang dan semua suara-suara kritis dengan ancaman hukuman mati. Akhirnya, UU tersebut pun disahkan tanpa perdebatan. Ia adalah Musthafa Kemal Pasha.

*)sumber bacaan : Mustafa Kemal Ataturk; Pembawa Kehancuran Islam Turki. Percikan Iman No. 04 Th.VII April 2006.

Banggalah Menjadi Generasi Islam!

Nak, hari ini engkau masih kecil dan menyaksikan. Bagaimana tercabik-cabiknya persaudaraan umat Islam. Umat Islam suatu bangsa seolah dilarang peduli terhadap umat Islam bangsa lainnya. Kita dipenjara oleh sekat-sekat semu yang sangat subjektif.

Sekat semu itu rapat dan kuat ketika umat Islam ingin saling peduli sesamanya, namun longgar dan sangat fleksibel terhadap selainnya.

Sekat-sekat semu itu seolah penentu surga dan nerakanya seseorang. Seolah nanti di akhirat kita akan dihisab  berdasarkan sekat-sekat semu tersebut. Sekat semu yang memenjara, yang membuat tubuh umat Islam mati rasa.

Nak, di masamu kelak. Umat Islam akan bersatu sebagaimana persatuan kaum Aus dan Khazraj; umat Islam akan saling bantu sebagaimana kaum Muhajirin dan Anshar; umat Islam akan bersaudara sebagaimana teguhnya persaudaraan Bani Hasyim dan Bani Umayah.

Di masamu itulah umat Islam benar-benar dipersatukan oleh tali agama Allah, yakni Al Quran. Persatuan hakiki umat Islam, ketika syariah Islam menjadi panduan dan keputusan seorang khalifah menjadi pengangkat setiap perselisihan.

Nak, persiapkanlah dirimu dengan ilmu dan tsaqofah Islamiyyah. Karena masa depan dunia adalah milik Islam dan kaum muslim. Saat itu, semua umat dan bangsa akan meminta solusi penyelesaian masalahnya terhadap umat Islam, termasuk dirimu.

Berbanggalah menjadi generasi umat Islam,  generasi yang akan menyelamatkan masa depan dunia.

Engkau adalah Santri

Nak, engkau adalah santri. Meskipun masih sedang belajar untuk menjadi orang yang memahami serta mengamalkan agama.

Entah di hari ini engkau sedang berbahagia atau tidak, namun orang menyebutmu santri. Engkau merupakan bagian dari komunitas masyarakat yang dianggap lebih paham terhadap agama dibandingkan yang lainnya.

Karena itulah Nak, di pundakmu tersimpan tanggung jawab. Bukan hanya terhadap masyarakat yang menanti kiprahmu, namun lebih dari itu yakni terhadap Rabb semesta alam. Amat besar kebencian di sisi-Nya, jika ilmumu hanya engkau ucapkan semata, tanpa pengamalan.

Sejak ayah mendidikmu dalam kemandirian untuk belajar di pesantren, engkau menyandang gelar tersebut, santri. Sejak itu pula tak ada tugas utamamu selain mempelajari Islam, mengamalkannya, mengajarkannya serta mendakwahkannya. Meskipun sebenarnya, hal tersebut merupakan  kewajiban setiap mukmin apapun profesinya.

Tak perlu silau dengan dunia. Biarlah ia tetap di tanganmu jangan kau taruh di hatimu. Tanamkan bahwa engkau adalah pendidik keluarga dan masyarakat. Engkau hanya mendidik mereka dengan Islam, bukan dengan yang lain.

Tetapkan karir hidupmu menembus sekat batas fana dunia. Biarkan ia berpijak pada kehidupan sebelum dunia, serta  terhubung dengan kehidupan setelah dunia. Tempatkan kriteria suksesmu laksana Bunda Khadijah r.a., Aisyah r.a., Fathimah r.a., atau Asma r.a., serta para muslimah pendidik terbaik dalam Islam.

Di hari santri-mu ini, semoga engkau sedang mengaji dan bukan sedang bernyanyi; semoga engkau sedang menghapal hadits dan bukan sedang terlena dalam hura; semoga engkau sedang bershalawat dan bukan sedang berikhthilat; semoga engkau selalu tegar dan tak mudah tergiur dollar.

Bertawakkallah kepada Allah Swt. Sebakda shalat, ayah selalu berdo'a untukmu. Tetaplah istiqomah putriku.

Dari Ayah untuk Anak Pondok

Nak, kini engkau pun merasakan sebagaimana yang pernah ayahmu rasakan. Di saat teman-teman kita dikunjungi orang tuanya, kita hanya bisa menatap keceriaan mereka. Terkadang sembari membayangkan, "Oh, seandainya saja mereka adalah aku dan orang tuaku."

Nak, ayahmu bangga padamu. Engkau lebih tegar dibandingkan ayahmu dahulu. Mungkin karena sekarang terbantu pula oleh kecanggihan sarana telekomunikasi. Bukan lagi sekedar untaian kata dalam secarik kertas. Kini, saling menatap lewat monitor mini pun bisa menjadi pelepas rindu.

Wajahmu tampak segar, senyum manis yang menggambarkan keceriaan, suaramu teduh dan menenangkan. Kami di sini bahagia dapat mendengar dan melihatmu.

Ingin rasanya menghentikan waktu sejenak biar tak melaju, lalu ayah terbang menemuimu. Namun sungguh, mustahil bagi kita untuk melawan sunatullah perjalanan waktu. Waktu akan terus berlalu dan kita tak pernah bisa menduakan jasad.

Nak, apa yang engkau alami. Setiap hari, siang dan malamnya. Setiap waktu, detik dan menitnya. Setiap rasa, senang dan sedihnya. Semua akan terakumulasi dalam kenangan di masa depan. Dan setiap pilihanmu dalam menghadapi semua itu, akan membuatmu semakin tangguh di masa depan. Engkau yang akan meraih asa dan cita, pasti menantang segala hambat dan rintang.

Tataplah masa depan, mulailah dari akhir dalam pikiran, yakni ridlo Allah Swt sebagai tujuan. Sebagaimana pesanku selalu, rajin dan semangatlah mempelajari tsaqofah Islam. Karena engkau terlahir untuk masa depan dan masa depan adalah milik Islam.

#MasaDepanMilikIslam

Engkau Bukan Pelampiasan Mimpi

Nak, engkau bukanlah tempat pelampiasan mimpi-mimpi orang tuamu. Dimana semua mimpi tersebut merupakan mimpi yang belum pernah bisa mereka raih. Sehingga kau dituntut harus bisa begini dan begitu, yang sebenarnya hal itu hanya untuk memuaskan kedua orang tuamu. Namun engkau adalah generasi manusia masa depan. Engkau perealisasi cita-cita umat dan penjemput berbagai janji Allah Ta'ala.

Kami hanya ingin terteduhkan mata menatap kalian. Kami hanya berharap kalian menjadi amal jariyah bagi kami, menjadi anak shalih yang selalu mendo'akan kedua orang tuanya. Itu sudah cukup bagi kami.

Namun untuk meraih keduanya, tentu membutuhkan ilmu dan amal. Ilmu dan amal yang berlandaskan pada keimanan, bukan yang lain. Di masa depan, manusia akan sangat membutuhkan Islam. Kaum muslim akan menjadi pemimpin umat manusia di dunia. Bagaimana mungkin kita akan menunjuki mereka dengan hidayah Islam, jika kita tak paham Al Quran dan tak mengenal As Sunnah.

Saat Islam menjadi mercusuar peradaban, manusia akan masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Mereka tentu membutuhkan banyak bimbingan ilmu, inilah ladang amal bagimu kelak. Oleh karena itu, mendidikmu bukan pelampiasan mimpi. Namun mendidikmu adalah menguatkan aqidah, memahamkan syariah, membiasakan amal dan dakwah serta menghiasinya dengan akhlaq mahmudah.  

Nak, pendidikan membutuhkan keikhlashan. Baik itu dari kami, gurumu dan juga dirimu. Tanpa keikhlashan, engkau akan patah hati ketika menemui kesulitan dan jumawa ketika menjumpa kemudahan. Lakukanlah semata karena Allah Ta'ala. Guru-gurumu adalah orang tuamu di sekolah, berbaktilah kepada mereka selama mereka berbakti kepada Allah Swt.

Kunci utama kesuksesan seorang mukmin hanyalah ketaqwaan kepada Allah Swt, tak ada yang lain. Oleh karena itu, Rasulullah Saw selalu mewasiatkan hal ini dalam berbagai momen. Dan tentunya, ketaqwaan itu diraih dengan ilmu dan amal. Dengan ilmu, kita bisa memilih dan memilah perintah dan larangan Allah; dengan amal, kita bisa menambah-nambah timbangan kebaikan untuk bekal  kelak di negeri Akhirat.

Nak, selalu ingatkan kami jika lalai dalam mendidikmu dalam agama. Karena kami juga manusia yang bisa berbuat khilaf dan dosa.