(Kisah Fiksi)
Masuk kuliah sedari pagi hingga siang memang cukup melelahkan. Terutama
kedua mata yang tak bisa diajak kompromi. Kantuk berat mendera dengan
membayangkan guling dan bantal melambai-lambai. Namun semua itu hilang sesaat
setelah dosen mengucapkan salam penutup. Meski tungkai agak sedikit lunglai, Abdul
melangkah dengan semangat. Sore itu ia ada janji dengan teman SMA-nya, Manaf, yang
saat ini tinggal di Kecamatan Selatan.
Tiba-tiba HP-nya bergetar, pertanda ada pesan yang masuk.
"Teman-teman, mengingatkan nanti sore jam
15.30 kita kumpul-kumpul di kantor ya. Ada hal penting yang harus
dibahas." Begitulah sms yang diterima Abdul. Ternyata dari Ketua LDK
Harisul Islam.
"Ah, Mas Doko ini setiap kali sms pertemuan.
Mesti penting terus, padahal pertemuan kemarin saja cuma bahas masalah
dana." Ujar Abdul dalam hati.
Abdul pun terus melangkahkan kaki menuju kost-annya yang tak terlalu jauh
dari kampusnya.
"Hal seperti itu kan cukup dibicarakan dengan
seksi Dana Usaha saja. Apalagi waktu pertemuan sebelumnya, cuma ngobrol ke sana
ke mari tentang rangkaian acara mahasiswa baru di kampus. Bukan membicarakan acara-acara
LDK," lanjutnya. Abdul masuk ke kamarnya lalu berbaring melepas penat.
Pinggangnya yang sedari tadi tertekuk tegang, seakan langsung terasa santai dan
rileks. Lamunannya pun terus mempermasalahkan pesan dari Mas Doko. Bukan
apa-apa, ia kadung punya janji main dengan temannya.
"Assalamu'alaikum!" Tetiba seseorang
mengetuk kamar kostnya. Lamunannya pun langsung terpecah.
"Wa 'alaikumussalaam! Yusuf ya?"
Jawab Abdul seraya membukakan pintu. Ia sudah sangat hapal suara sahabatnya.
Abdul mengambil jaket dan kunci motornya. Lalu duduk di atas kasur
dipannya. Yusuf malah memilih duduk di lantai seraya bersender di dinding kamar
kost. Ia memang lebih duduk dan bersandar di tempat yang dingin.
"Ayo! Kita ke kantor! Sudah dapat smsnya
kan?"
"Sms dari pak Ketu? Ada. Tapi kayaknya aku ga
bisa hadir Suf," balas Abdul.
Mendengar jawaban Abdul, mengernyitlah dahi Yusuf dibuatnya.
"Kenapa ga bisa? Pertemuan penting loh?"
"Ah, setiap kali sms pertemuan juga selalu
penting terus. Padahal kan tak semuanya penting," kilah Abdul.
“Lembaga kita kan lembaga dakwah.”
“Iya, aku juga tahu”
“Sedangkan dakwah kan aktifitas yang penting. Jadi
setiap pertemuan pasti jadi pertemuan yang penting.” Jelas Yusuf meluruskan
kekeliruan sobatnya.
“Aku juga paham Suf. Namun baiknya kamu sampaikan
juga tuh ke para senior yang sedang sibuk skripsi. Mereka jarang sekali hadir di setiap pertemuan. Padahal kan menulis
skripsi dan konsultasi dengan dosen pembimbing tidak mesti setiap hari.” Abdul
berkilah.
Yusuf pun diam sejenak, karena sebenarnya ia juga merasakan apa yang
dirasakan oleh Abdul. Namun, Yusuf mencoba melihatnya dari sudut pandang yang
lain.
“Tapi, nanti kan
kita dihisab sendiri-sendiri Dul,” bantah Yusuf.
"Aku ada acara ke tempat temanku di Kecamatan
Selatan. Aku ga enak, sudah lama ia mengajak aku berkunjung ke kostannya."
Yusuf menyerah, karena sepertinya Abdul tidak akan berubah pikiran. Ia
tetap akan memilih untuk pergi ke tempat temannya.
“Ya sudahlah
kalau begitu, Dul. Ini juga sudah mau Ashar, aku mau pulang dulu ke kost-ku.”
“Assalamu’alaikum,”
pamit Yusuf seraya pergi keluar kamar kost Abdul,
“Wa ‘alaikumussalaam,“
balas Abdul. Ia bangkit dan mengiringi langkah temannya.
Sore itu setelah shalat Ashar, Abdul pun
langsung pergi ke temannya di Kecamatan Selatan, sekitar 30 km dari tempat
kostnya.
Esok paginya.
“Gimana nih Si Manaf ga bangun-bangun juga, padahal
waktu shubuh sudah mau habis.”
“Padahal aku ada kegiatan LDK di Kecamatan Barat,” gumam
Abdul dalam hatinya.
“Naf, bangun naf!”
Abdul terus menggoyang-goyangkan badan temannya.
“Sudah jam lima
seperempat nih, ayo shalat Shubuh!
“Aku sudah ke masjid, baca Quran,eh.. kamu masih tidur
saja.” Tegas Abdul.
Usaha Abdul tak sia-sia, Manaf pun terbangun dan menuju kamar mandi untuk
mengambil air wudlu.
Setelah Manaf selesai melaksanakan Shalat, Abdul langsung pamitan.
“Aku langsung pamit pulang ya, aku mau langsung ke
Asrama Nashirul Haq di kecamatan Barat. Ada acara LDK ”
“Oh ya sudah, hati-hati ya!”
“Assalamu’alaikum!”
“Wa ‘alaikumussalam!”
Abdul tidak langsung memacu motornya ke Kecamatan Barat, ia mampir dulu
ke kota. Alhamdulillah, ada dua orang mahasiswa baru yang ia kontak dan mau
ikut kegiatan LDK. Keduanya adalah Aman dan Amin, dari namanya saja sudah bisa
ditebak kalau keduanya adalah kakak beradik. Dan memang kenyataannya begitu,
bahkan mereka adalah saudara kembar. Wajahnya keduanya mirip sekali. Setelah
menjemput Aman dan Amin, Abdul langsung ke lokasi acara. Di luar perkiraan, menjemput
Aman dan Amin di kota lalu ke kecamatan Barat, ternyata menghabiskan waktu yang
lama. Padahal, Abdul merupakan orang yang suka tepat waktu.
Mitos Abdul sebagai orang yang selalu tepat waktu, runtuh seketika.
Karena baru jam 9.30 wib ketiganya sampai di Asrama Nashirul Haq. Padahal acara
dimulai jam 8.00 wib. Lokasi Asrama Nashirul Haq memang jauh dari keramaian, sehingga
sering dipakai sebagai tempat kegiatan semacam training.
Saat ketiganya memasuki lokasi kegiatan, memang merasakan kejanggalan,
khususnya Abdul. Bukan karena sepi dan mistik, namun tak semeriah biasanya. Sedari
datang ke tempat parkir, pandangan Abdul menyapu beberapa motor yang berjejer rapih,
tapi tak ada satu pun yang dikenalnya. Bahkan ketika masuk, tak ada satu pun
spanduk kegiatan yang terpasang. Hanya terlihat beberapa penghuni asrama saja
sedang duduk-duduk santai.
“Mas, kok sepi?”
Tanya Aman
“Emang di mana
lokasinya?”
“Iya Mas, kok
seperti tidak ada kegiatan apa-apa?” Amin menimpali kakaknya.
Abdul pun tersenyum kebingungan.
“Iya ya, padahal
sampai rapat terakhir kemarin. Lokasi kegiatannya memang di sini.” Jawab
Abdul.
Dengan agak ragu, Abdul pun memberanikan diri untuk bertanya. Dan sungguh
memang di luar dugaannya. Ternyata di aula Nashirul Haq tidak ada kegiatan
apapun, bahkan aulanya sedang berantakan karena ada aktifitas renovasi dan
pengecatan ruangan.
“Telpon saja mas,
siapa tahu lokasi atau acaranya dipindah!” Usul Amin
“Justru itu, hp saya
ketinggalan di kost-an sedari kemarin sore.” Jawab Abdul.
Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pulang ke kostannya
masing-masing.
Sekitar jam 10.30 wib Abdul sampai di kostannya. Naik motor ke sana
kemari sangat melelahkan baginya. Sembari berbaring melepas lelah, ia pun
mengambil HP-nya yang ketinggalan sedari kemarin. Betapa kagetnya ia, banyak
sekali panggilan tak terjawab di HP-nya. Dari Mas Doko 5 kali, bahkan Yusuf
meneleponnya 15 kali. Panggilan tak terjawab itu dari mulai jam 16.30 sudah tercatat, bahkan ada juga yang jam 8.30
Wib tadi pagi.
Ternyata pesan masuk yang belum terbaca pun tidak sedikit. Lebih dari 5
pesan tak terbaca di inbox-nya. Tatkala membacanya, terbelalak mata Abdul.
“Tolong Dul, diangkat telponnya. Kita ada masalah,
infocus yang dibawa mati lampunya. Sedangkan infocus yang satu lagi ada di
lemari besi yang kamu pegang kuncinya. Acara mau dimulai.” Itulah salah
satu pesan yang dikirim Yusuf.
Ada juga pesan dari Mas Doko tentang hasil keputusan rapat kemarin sore :
“Menyikapi
keputusan Kampus yang meminta kita untuk melakukan pengiritan biaya, maka 1) Lokasi
acara dipindah ke Masjid Jami As Salam di Desa Tentram Kecamatan Utara. 2) Untuk
jaga-jaga, mohon membawa infocus, battere dan netbook cadangan. 3)
Alhamdulillah Ust. Halim (Inspirator dan Penulis Buku Terkenal) sudah fix bisa
mengisi acara kita, tanpa mau diberi kompensasi apapun. Karena itu jangan
sia-siakan kesempatan ini, bawa peserta sebanyak-banyaknya. Yassarollohu
Umurona. Aamiin.”
Astaghfirullah, terbayang oleh Abdul bagaimana jadinya kegiatan hari ini.
Ia melihat jarum pendek di jam dinding sudah mau mendekat ke angka 11. Benar
kata Yusuf, ternyata semua pertemuan itu adalah pertemuan penting. Pertemuan
bukanlah sekedar pertemuan, tetapi pertemuan untuk merencanakan sebuah
keberhasilan. Abdul menyadari, meskipun ia bukanlah panitia tetapi sebagai
pengurus LDK, kehadirannya sangatlah penting. Meskipun untuk hanya sekedar duduk
dan mendengarkan keputusan hasil rapat. Apalagi, pembicara yang hadir adalah
ustadz yang dinanti-nantikannya selama ini. Padahal sebelumnya, kehadiran
beliau yang diinisiasi oleh salah seorang alumni LDK, baru sebatas wacana.
Dengan rasa bersalah, Abdul memberanikan diri untuk membuka daftar panggilan
tak terjawab, lalu menelepon Mas Doko. Meskipun kegiatan sudah akan selesai,
namun ia berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
(T A M A T)
Ary H. (Islamic Writer and Blogger)