Selasa, 29 November 2016

Abu Dzar 1438 H

Peristiwa Perang Tabuk pada tahun 9 H, menyisakan banyak kisah. Saat Rasulullah Saw menghadapi pasukan Romawi yang mulai menyerang negara Islam.

Ketika itu sedang musim paceklik, ditambah perjalanan yang sangat jauh dan musuh yang sangat kuat, membuat banyak orang minta ijin tidak ikut berperang dengan berbagai alasan.

Perjalanan yang ditempuh sangatlah panjang dan berat, banyak orang yang tertinggal di perjalanan. Pada suatu kesempatan, para shahabat melihat-lihat, tetapi mereka tidak menemukan Abu Dzar.
Keledai Abu Dzar tidak begitu kuat. Perjalanan jauh dan terik matahari yang membakar, semakin menambah berat perjalanan. Abu Dzar berusaha dengan berbagai cara agar keledainya mau berjalan, namun semua itu tak membuahkan hasil.

Supaya tidak ketinggalan terlalu jauh, Abu Dzar akhirnya memutuskan untuk turun dari keledainya. Ia panggul perbekalannya. Ia berjalan kaki di tengah sengatan gurun yang sangat panas. Ia mempercepat langkahnya.

Sesaat sebelum pagi hari, ketika rombongan kaum muslim beristirahat. Tetiba mereka melihat dari kejauhan sesosok bayangan manusia di antara kepulan debu gurun. Sambil menunggu dan memastikan siapa yang datang, mereka melanjutkan pembicaraan.

Rasulullah Saw bersabda, "mudah-mudahan orang itu Abu Dzar."

Makin lama, bayangan itu semakin mendekat dan memperjelas sosoknya. Ternyata benar, sosok manusia yang berjalan sendirian di antara kepulan debu itu adalah Abu Dzar.

Para shahabat berseru, "Ya Rasulullah, demi Allah, dia adalah Abu Dzar."

Rasulullah Saw bersabda, "Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Ia berjalan sendirian, mati sendirian dan dibangkitkan sendirian."

Ketika menyaksikan aksi Jalan Kaki Muslim Ciamis #BelaIslamIII, apalagi menyaksikan beberapa orang yang tertinggal rombongan, penulis langsung teringat kisah Abu Dzar. Tak menutup kemungkinan, di antara yang tertinggal tersebut ada sosok Abu Dzar 1438 H.

Ia adalah pemuka suku Al Ghifar. Ia yang berani lantang menghinakan berhala-berhala kekufuran dan menyuarakan seruan keimanan, di tengah kesombongan kafir Quraisy Makkah.

Abu Dzar, sosok manusia sederhana,  yang berani lantang menasihati penguasa seraya mengutamakan persatuan kaum muslim. Saat orang kuffah menemuinya untuk melakukan pemberontakan kepada Khilafah Islamiyyah (Negara Islam yang menerapkan syariah Islam secara kaffah), ia dengan lantang menolaknya. "Demi Allah, seandainya Khalifah Utsman menyalibku di tiang kayu yang tinggi atau di atas bukit sekalipun, aku akan patuh."

Abu Dzar Al Ghifari, yang lebih mengutamakan Islam daripada bangsanya. Ia bawa seluruh bangsanya untuk memeluk Islam lalu menjadi para pembela Islam. Bahkan saat ia berjalan sendirian menuju medan Tabuk, ia tak membawa panji bangsanya. Ia berjuang di bawah panji Islam. Panji hitam dan putih yang bertuliskan kalimat
لاإله الا الله محمد رسول الله
(Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah).

Tak tertutup kemungkinan, di antara pejalan kaki yang tertinggal ada yang mendapatkan 50 kali pahala jalan kaki Abu Dzar Al Ghifari. Karena ia berjalan untuk membela Islam. Sedangkan Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari kesabaran, orang yang sabar pada hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara, orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala lima puluh (pahala) orang yang beramal seperti amalannya,”
Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, lima puluh (pahala) orang diantara mereka ?,”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Tidak, tapi lima puluh (pahala) orang dari kalangan kalian.” (THR. Abu Daud)

Semoga, di antara umat Islam aksi jalan Ciamis tersebut, ada sosok-sosok Abu Dzar 1438 H. Yakni, mereka yang berjalan ikhlash hanya untuk membela dan memuliakan Islam, bukan untuk yang lain. Wallohu a'lamu bishshowwaab. (Ary H. / 30 Shafar 1438 H)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar