Jumat, 02 Desember 2016

Kezaliman dan Kompromi Sekulerisme


“Pada saat menjelang berakhirnya perang dunia II, satu-satunya kondisi politik yang mendapatkan perhatian serius adalah kondisi daerah-daerah jajahan. Kalau negara-negara Barat berusaha mempertahankan daerah-daerah jajahannya seperti cara-cara yang sudah ada, maka dapat dipastikan bakal terjadinya pemberontakan bersenjata, dan juga Barat pasti kalah. Maka satu-satunya strategi yang mungkin berhasil adalah dengan cara-cara damai memberikan kemerdekaan yang terhormat kepada 700 juta jiwa manusia yang berada di bawah kekuasaan penjajahan Barat.”
(John Foster Dulles, Menteri Luar Negeri AS, 1953-1959)
Pernyataan itu terungkap dalam bukunya, “Perang atau Damai”, di bawah sub judul “Evolusi Imperialisme Barat sebagai Tindakan Alternatif atas Terjadinya Pemberontakan yang Keras dan Kejam.” (lih. Abdurrahman al-Maliki, 3:2001)
Kutipan buku tersebut sengaja disajikan untuk menunjukkan salah satu ciri khas ideologi sekulerisme, yaitu kompromi. Ideologi ini memang bukan terlahir dari pemikiran, ia lahir dari kompromi antara rohaniawan gereja dan cendekiawan Eropa. Antara kaum rohaniawan yang masih percaya tuhan dan kaum cendekiawan yang kecewa dengan doktrin-doktrin ajaran tuhan. Kaum cendekiawan beranggapan bahwa ajaran gereja saat itu hanyalah candu yang menghambat pengetahuan. Maka dihasilkanlah kompromi di antara keduanya, yakni pemisahan agama dari kehidupan. Biarkan rakyat percaya kepada tuhan, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat tak boleh memakai aturan tuhan.
Ideologi sekulerisme memang identik dengan penyelesaian yang kompromistis. Saat perlawanan rakyat akan kezalimannya semakin menguat, ia membuatlah kanal-kanal baru untuk mengalirkannya. Sekulerisme seolah mengadopsi tuntutan rakyat, namun pada hakikatnya adalah mempertahankan kelanggengan ideologinya.
Kezaliman sekulerisme pun tetap berlangsung dengan gaya yang baru. Sebagaimana perubahan taktik penjajahan gaya Eropa menjadi gaya AS. Dari gaya penjajahan militer berubah menjadi penjajahan non militer, yang bersenjatakan utang dan bantuan.
AS berpijak di atas dua perahu, satu perahu mendoktrinkan perdamaian sedangkan perahu lainnya memprovokasi berbagai kekacauan serta agresi militer. Ketika Indonesia menolak mengambil utang kepada Amerika pada awal kemerdekaan, AS membuat berbagai bentuk pemberontakan dan kekacauan sampai pada tahun 1958 Indonesia mau berubah sikap. Tersebab kedamaian bagi negara sekuler penjajah seperti AS, hanyalah suasana kondusif untuk melanggengkan penjajahannya. Ide perdamaian hanyalah doktrin untuk melemahkan berbagai perlawanan terhadapnya.
Perubahan gaya penjajahan menunjukkan kelihaian kompromi ala sekulerisme. Dengan kompromi inilah, para penjajah membelokkan energi para penentangnya ke arah fokus yang lain. Mereka seolah mengadopsi tuntutan-tuntutan penentangnya. Padahal pada kenyataannya adalah mempertahankan kepentingannya sendiri. Saat para penentangnya terbuai dalam keberhasilan semu, kuku-kuku penjajahan dicengkeramkan dengan semakin kuat.
Politik Stick and Carrot diberlakukan ke negara-negara jajahannya. Stick (tongkat) berupa serangan dan gangguan fisik, ditimpakan terhadap siapapun yang menentangnya. Sedangkan carrot (wortel) berupa utang dan bantuan, diberikan terhadap siapapun yang menaatinya. Sehingga ketika bantuan AS mengalir deras ke suatu negeri, bukan berarti negeri tersebut bebas dari penjajahannya.
Namun sejarah telah menunjukkan bahwa penjajahan non militer ala AS itu berjalan tak konsisten. Penjajahan non militer hanya diberlakukan kepada negara yang selalu patuh kepadanya. Sejak mengambil alih negara pemimpin dari Inggris, AS telah terlibat dalam berbagai agresi dan pendudukan untuk memaksakan kehendaknya. Menurut William Blum, sejak berakhirnya Perang Dunia II Amerika telah mengebom penduduk di lebih dari 30 negara, mencabut nyawa jutaan orang, membuat jutaan orang lainnya hidup dalam kepedihan dan penderitaan, serta bertanggung jawab terhadap penyiksaan yang dilakukan atas ribuan orang.
Masih menurut Blum, AS pun berupaya menggulingkan lebih dari 50 pemerintahan di luar negeri, ikut campur tangan dalam pemilu di lebih dari 30 negara, mencoba membunuh lebih dari 50 orang pemimpin negara-negara asing.
Sekulerisme terus berjalan dengan gaya komprominya hingga kini. Bahkan dalam berbagai kasus kezaliman yang menimpa umat Islam, penyelesaian ala kompromistis kerap kali ditawarkan. Misal di tengah kasus penghinaan Al Quran, berbagai tuduhan dilancarkan terhadap umat Islam. Dari mulai tersusupi gerakan radikal, anti kerukunan, mengancam kebhinekaan, terorisme hingga makar.
Berbagai tuduhan dibuat untuk memecah fokus umat. Apalagi ditambah dengan media yang tak berpihak kepada umat, umat pun menjadi tersibukan menangkis berbagai tuduhan miring terhadapnya. Di tengah berbagai tuduhan tersebut, disajikanlah jebakan kompromistis. Jebakan yang akan membuat seruan #TangkapAhok, #HukumPenghinaAlQuran dan sebagainya menjadi sayup. Kemudian berganti menjadi slogan-slogan lain yang bersifat defensif opinion. Sehingga energi umat pun terbelokkan ke arah fokus yang baru.   
Umat dilenakan dengan ide perdamaian dan kerukunan yang semu. Ide-ide tersebut akan santer terdengar saat umat Islam bereaksi atas kezaliman yang menimpanya. Sedangkan di saat umat Islam diam, kezaliman terus-menerus ditimpakan kepadanya, apalagi di daerah yang umat Islam menjadi minoritas. Saat muslim Rohingya, Afghanistan, Palestina, Irak dan Suriah teraniaya, mengapa doktrin perdamaian tetap diarahkan kepada umat Islam? Saat Masjid Tolikara dibakar, larangan busana muslimah di daerah minoritas, mengapa doktrin kerukunan dan toleransi selalu diarahkan kepada umat Islam? Bukan kepada non muslim yang zalim dan menganiaya. Bahkan saat Al Quran dinista di negeri mayoritas muslim, ide kerukunan pun tetap diarahkan kepada umat Islam. Perdamaian dan kerukunan pun  menjadi semu, karena bermakna diam tak bereaksi atas kezaliman.
Kompromi dan kezaliman sekulerisme bagaikan dua mata uang yang tak bisa dipisahkan. Saat umat Islam menentang kezaliman, mereka menyiapkan solusi yang kompromistis. Setelah umat Islam masuk ke dalam jebakan solusi tersebut, kezaliman pun dilanjutkan kembali. Begitulah berulang dan terus berulang.

Besar harapan penulis, umat Islam tak lagi terjebak dalam berbagai solusi yang bersifat kompromistis. Solusi yang hanya mengantarkan umat Islam dari satu kezaliman menuju kezaliman yang lain. Wal ‘iyadzu billah. (Ary H. – Islamic Writer and Blogger)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar