“Pada saat menjelang berakhirnya perang dunia II,
satu-satunya kondisi politik yang mendapatkan perhatian serius adalah kondisi
daerah-daerah jajahan. Kalau negara-negara Barat berusaha mempertahankan
daerah-daerah jajahannya seperti cara-cara yang sudah ada, maka dapat
dipastikan bakal terjadinya pemberontakan bersenjata, dan juga Barat pasti
kalah. Maka satu-satunya strategi yang mungkin berhasil adalah dengan cara-cara
damai memberikan kemerdekaan yang terhormat kepada 700 juta jiwa manusia yang
berada di bawah kekuasaan penjajahan Barat.”
(John Foster Dulles, Menteri Luar Negeri AS, 1953-1959)
Pernyataan itu terungkap dalam bukunya, “Perang atau Damai”, di bawah sub
judul “Evolusi Imperialisme Barat sebagai Tindakan Alternatif atas Terjadinya
Pemberontakan yang Keras dan Kejam.” (lih. Abdurrahman al-Maliki, 3:2001)
Kutipan buku tersebut sengaja disajikan untuk menunjukkan salah satu ciri
khas ideologi sekulerisme, yaitu kompromi. Ideologi ini memang bukan terlahir
dari pemikiran, ia lahir dari kompromi antara rohaniawan gereja dan cendekiawan
Eropa. Antara kaum rohaniawan yang masih percaya tuhan dan kaum cendekiawan
yang kecewa dengan doktrin-doktrin ajaran tuhan. Kaum cendekiawan beranggapan
bahwa ajaran gereja saat itu hanyalah candu yang menghambat pengetahuan. Maka dihasilkanlah
kompromi di antara keduanya, yakni pemisahan agama dari kehidupan. Biarkan
rakyat percaya kepada tuhan, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat tak boleh
memakai aturan tuhan.
Ideologi sekulerisme memang identik dengan penyelesaian yang kompromistis.
Saat perlawanan rakyat akan kezalimannya semakin menguat, ia membuatlah kanal-kanal
baru untuk mengalirkannya. Sekulerisme seolah mengadopsi tuntutan rakyat, namun
pada hakikatnya adalah mempertahankan kelanggengan ideologinya.
Kezaliman sekulerisme pun tetap berlangsung dengan gaya yang baru.
Sebagaimana perubahan taktik penjajahan gaya Eropa menjadi gaya AS. Dari gaya
penjajahan militer berubah menjadi penjajahan non militer, yang bersenjatakan
utang dan bantuan.
AS berpijak di atas dua perahu, satu perahu mendoktrinkan perdamaian
sedangkan perahu lainnya memprovokasi berbagai kekacauan serta agresi militer. Ketika
Indonesia menolak mengambil utang kepada Amerika pada awal kemerdekaan, AS
membuat berbagai bentuk pemberontakan dan kekacauan sampai pada tahun 1958 Indonesia
mau berubah sikap. Tersebab kedamaian bagi negara sekuler penjajah seperti AS,
hanyalah suasana kondusif untuk melanggengkan penjajahannya. Ide perdamaian
hanyalah doktrin untuk melemahkan berbagai perlawanan terhadapnya.
Perubahan gaya penjajahan menunjukkan kelihaian kompromi ala sekulerisme.
Dengan kompromi inilah, para penjajah membelokkan energi para penentangnya ke
arah fokus yang lain. Mereka seolah mengadopsi tuntutan-tuntutan penentangnya.
Padahal pada kenyataannya adalah mempertahankan kepentingannya sendiri. Saat para
penentangnya terbuai dalam keberhasilan semu, kuku-kuku penjajahan dicengkeramkan
dengan semakin kuat.
Politik Stick and Carrot diberlakukan ke negara-negara jajahannya.
Stick (tongkat) berupa serangan dan gangguan fisik, ditimpakan terhadap
siapapun yang menentangnya. Sedangkan carrot (wortel) berupa utang dan
bantuan, diberikan terhadap siapapun yang menaatinya. Sehingga ketika bantuan
AS mengalir deras ke suatu negeri, bukan berarti negeri tersebut bebas dari penjajahannya.
Namun sejarah telah menunjukkan bahwa penjajahan non militer ala AS itu berjalan
tak konsisten. Penjajahan non militer hanya diberlakukan kepada negara yang
selalu patuh kepadanya. Sejak mengambil alih negara pemimpin dari Inggris, AS telah
terlibat dalam berbagai agresi dan pendudukan untuk memaksakan kehendaknya. Menurut
William Blum, sejak berakhirnya Perang Dunia II Amerika telah mengebom penduduk
di lebih dari 30 negara, mencabut nyawa jutaan orang, membuat jutaan orang
lainnya hidup dalam kepedihan dan penderitaan, serta bertanggung jawab terhadap
penyiksaan yang dilakukan atas ribuan orang.
Masih menurut Blum, AS pun berupaya menggulingkan lebih dari 50
pemerintahan di luar negeri, ikut campur tangan dalam pemilu di lebih dari 30
negara, mencoba membunuh lebih dari 50 orang pemimpin negara-negara asing.
Sekulerisme terus berjalan dengan gaya komprominya hingga kini. Bahkan
dalam berbagai kasus kezaliman yang menimpa umat Islam, penyelesaian ala kompromistis
kerap kali ditawarkan. Misal di tengah kasus penghinaan Al Quran, berbagai tuduhan
dilancarkan terhadap umat Islam. Dari mulai tersusupi gerakan radikal, anti
kerukunan, mengancam kebhinekaan, terorisme hingga makar.
Berbagai tuduhan dibuat untuk memecah fokus umat. Apalagi ditambah dengan
media yang tak berpihak kepada umat, umat pun menjadi tersibukan menangkis
berbagai tuduhan miring terhadapnya. Di tengah berbagai tuduhan tersebut, disajikanlah
jebakan kompromistis. Jebakan yang akan membuat seruan #TangkapAhok,
#HukumPenghinaAlQuran dan sebagainya menjadi sayup. Kemudian berganti menjadi slogan-slogan
lain yang bersifat defensif opinion. Sehingga energi umat pun terbelokkan ke
arah fokus yang baru.
Umat dilenakan dengan ide perdamaian dan kerukunan yang semu. Ide-ide
tersebut akan santer terdengar saat umat Islam bereaksi atas kezaliman yang
menimpanya. Sedangkan di saat umat Islam diam, kezaliman terus-menerus
ditimpakan kepadanya, apalagi di daerah yang umat Islam menjadi minoritas. Saat
muslim Rohingya, Afghanistan, Palestina, Irak dan Suriah teraniaya, mengapa
doktrin perdamaian tetap diarahkan kepada umat Islam? Saat Masjid Tolikara
dibakar, larangan busana muslimah di daerah minoritas, mengapa doktrin kerukunan
dan toleransi selalu diarahkan kepada umat Islam? Bukan kepada non muslim yang
zalim dan menganiaya. Bahkan saat Al Quran dinista di negeri mayoritas muslim,
ide kerukunan pun tetap diarahkan kepada umat Islam. Perdamaian dan kerukunan pun menjadi semu, karena bermakna diam tak
bereaksi atas kezaliman.
Kompromi dan kezaliman sekulerisme bagaikan dua mata uang yang tak bisa
dipisahkan. Saat umat Islam menentang kezaliman, mereka menyiapkan solusi yang
kompromistis. Setelah umat Islam masuk ke dalam jebakan solusi tersebut,
kezaliman pun dilanjutkan kembali. Begitulah berulang dan terus berulang.
Besar harapan penulis, umat Islam tak lagi terjebak dalam berbagai solusi
yang bersifat kompromistis. Solusi yang hanya mengantarkan umat Islam dari satu
kezaliman menuju kezaliman yang lain. Wal ‘iyadzu billah. (Ary H. – Islamic
Writer and Blogger)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar