Senin, 31 Oktober 2016

Saat Anak PAUD Bicara Cinta


Cinta adalah naluriah, semua manusia pasti merasakannya. Bayi yang baru lahir pun bisa merasakan adanya cinta dari bundanya. Maka tak aneh bila anak PAUD pun sudah bisa bicara tentang cinta. Apalagi di era penjajahan budaya seperti saat ini, saat cinta terumbar di berbagai media namun dalam balutan syahwat semata.

Tadi pagi sekira sinar mentari pagi menghangat di teras rumah. Saat pantulan sinarnya memantul di dedaunan segar, yang terlihat di balik kaca ruang tamu. Saya duduk dan bercanda ria di ruang tamu bersama putera ketiga saya, Muhammad Watsiq Billah. Usianya masih dini, 4 tahun 5 bulan, namun dialog tentang cinta dengannya membuat saya ingin berbagi cerita. Terutama untuk para remaja yang sudah bisa memilih dan membeda.

                “Bi, kalau abi cinta ummi ga?” tanyanya seiring senyumnya yang  khas nan menggoda.

          “Iya cinta dong. Tak hanya ke ummi, ke Ade juga cinta, ke kakak, ke teteh. Apalagi ke Mamih dan ke Papah.” Jawab saya agak panjang.

            “Kalau cinta seperti Si Boy mah ga boleh ya Bi?” Tanyanya lagi. Saya ga tahu ia mendapat info Si Boy dari mana. Karena televisi di rumah tak pernah menyala, mungkin dari teman-temannya. Tapi, saya pun tahu yang ia maksud.

“Iya dong,” baru saja saya mengiyakannya, Ade Watsiq langsung memotongnya.

“Si Boy mah cintanya kepada wanita-wanita yang lain-lain ya Bi,” tanyanya.

Menyimak ucapannya, saya pun sembari berpikir, apa maksud dari “wanita-wanita yang lain-lain” yang Ade ucapkan tadi. Seolah tahu sesaat saya berpikir, Ade pun memperjelas ucapannya.

“Mengapa abi cinta ummi, kan dulunya ummi wanita lain?” Tanyanya.

“Oh.., saya paham maksud istilah wanita lain yang diucapkannya. Yakni wanita ajnabi atau wanita yang bukan mahrom,” gumam saya dalam hati.  

            “Kan abi sudah menikahi ummi,” jawab saya singkat.
            “Kalau cinta seperti Si Boy yang belum menikah mah, dosa ya Bi?” Tanyanya kembali.
            “Iya jelas dosa,” jawab saya.
            “Dimarah sama Allah ya Bi?”
            “Iya, Allah pasti marah.”
            “Kalau sudah menikah mah, Allah tidak marah ya Bi?” tanyanya seolah meminta penegasan.
            “Iya kalau sudah menikah mah, ga apa-apa,” jawab saya.

Seolah puas dengan jawaban yang diberikan, ia pun langsung beralih ke aktifitas yang lain. Saya dan istri hanya saling berpandangan, ada kebanggaan tersendiri ketika anak PAUD sudah paham bagaimana seharusnya cinta tersalurkan.

Memahami aturan cinta itu sebenarnya sederhana, karena anak PAUD saja terbukti bisa. Hanya tinggal kita memilih, maukah cinta itu berada dalam keridloan Allah Swt atau dalam kemurkaan-Nya. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary H. – 1 Shafar 1438 H)
                

Minggu, 30 Oktober 2016

Kebangkitan Suatu Bangsa

Apakah hal yang berharga bagi kebangkitan sebuah bangsa? Sumber daya alam yang melimpah? Wilayah yang strategis? Tentara dan pasukan yang kuat? Jumlah rakyat yang banyak? Ilmu pengetahuan dan teknologi yang modern? Atau bahkan pertahanan dan keamanan yang mutakhir dan canggih?

Dalam kondisi bangsa Indonesia terpuruk sebagaimana saat ini, tentu tidak sedikit dari kita yang berpikir bagaimanakah supaya bangsa ini bisa bangkit?

Untuk menjawabnya cukuplah kisah  dari seorang Jubair bin Nufair, tentang percakapannya dengan Abu Darda, salah seorang shahabat yang dijuluki "Orang bijak dari umat ini" oleh Rasulullah Saw.

Ketika Siprus berhasil dibebaskan (28 H) melalui tangan Mu'awiyah bin Abu Sufyan, pada masa khalifah Utsman, Abu Darda terlihat menangis. Melihat kejanggalan tersebut, Jubair bin Nufair bertanya kepadanya,

"Mengapa engkau menangis pada hari Allah memberikan kemenangan dan kemuliaan kepada Islam dan kaum muslim?"

Orang bijak itu (Abu Darda, pen.) meletakkan tangannya ke bahu Jubair dan berkata,

"Betapa rendahnya makhluk-makhluk ini di hadapan Allah ketika mereka mengabaikan perintah-perintah-Nya! Bangsa ini (Bizantium) adalah bangsa yang besar dan perkasa, serta memiliki kekuasaan! Tetapi mereka melanggar hukum-hukum Allah. Maka mereka pun terpuruk dalam keadaan yang engkau bisa saksikan sekarang ini. Allah menetapkan mereka dalam penahanan. Dan bilamana Allah menetapkan taqdir-Nya, berupa penahanan seperti ini pada diri suatu umat, berarti Allah tidak peduli terhadap mereka."(al-Futuhat al-Islamiyyah, ed.terj.)

Rasulullah Saw sangat tepat menjuluki Abu Darda dengan sebutan Orang Bijak. Sikap dan ucapannya memang sangat bijak, tatkala kebanyakan orang bahagia dalam kemenangan. Ia merenung bagaimana suatu bangsa itu bisa terpuruk. Tiada lain adalah karena pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah. Oleh karena itu, suatu bangsa bisa bangkit dari keterpurukan hanya dengan ketaatan kepada hukum-hukum Allah. Dan itu tiada lain kecuali dengan menegakkan syariah dan khilafah. Dimana hukum-hukum Allah pasti akan diterapkan secara paripurna. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary H. / 1 Shafar 1438 H.)

Menyoal Istilah Harga Mati

Setiap manusia akan mati, tanpa kecuali. Namun bukan berarti kita berhak untuk menyia-nyiakan hidup. Karena hidup setelah kematian sungguh jauh lebih kekal. Dan sebagai bekal menghadapinya, adalah kehidupan kita saat ini. Sehingga hakikatnya, kematian merupakan gerbang yang menentukan. Allah Swt menegaskan dalam Q.S. Ali Imran [3] : 102:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"dan janganlah kalian mati, kecuali dalam keadaan Islam"

Saat ini, tak sedikit dari kita yang menyuarakan slogan harga mati. Tentu yang dimaksud adalah sesuatu yang dipegang teguh, meski harus meregangkan nyawa. Karena itulah, sesuatu yang kita jadikan harga mati harus dipastikan menjamin keselamatan kita di kehidupan selanjutnya. Jika tidak, bukan hanya kematian kita kan sia-sia, bahkan di kehidupan akhirat pun kita kan merana.

Adalah Rasulullah Saw, satu-satunya manusia utama yang bisa dijadikan teladan. Harga mati beliau bisa disimak dalam pernyataan berikut:

"Wahai Paman, Demi Allah, kalau pun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah Islam), sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya, pastilah aku tidak akan meninggalkannya." (Ibnu Hisyam)

Adalah Mush'ab Bin Umair, yang dikenal dengan julukan Mush'ab Al Khair (Mush'ab yang baik). Salah satu bintang terang dalam perjalanan dakwah Rasulullah Saw, Sang Duta Islam pertama. Ia beberapa kali menantang maut semenjak masuk Islam. Padahal sebelum masuk Islam, ia adalah remaja yang penuh dengan kemegahan dan kesenangan. Sejak keislamannya diketahui ibundanya, ia harus berhadapan dengan preman-preman kafir Quraisy bayaran ibunya. Sampai beliau bisa meninggalkan Makkah dan hijrah ke Habasyah.

Tatkala Rasulullah Saw mengutus beliau menjadi duta Islam di Madinah, ia langsung menerimanya dengan penuh ketaatan. Ia tinggal di rumah As'ad bin Zurarah, lalu mendakwahi kabilah demi kabilah yang ada di Madinah. Bukan tanpa rintangan, ketika sedang berdakwah Usaid bin Khudair, yang belum masuk Islam, langsung mengancam lehernya dengan todongan tombak. Alhamdulillah dengan kelihaian lisannya, Mush'ab Al Khair berhasil meyakinkan Usaid bin Khudair sampai ia dan kaumnya masuk Islam.

Pengorbanan Mush'ab demi kemuliaan Islam tidak hanya sampai di sana. Saat perang Uhud, Rasululullah menugaskannya untuk memegang panji hitam bertuliskan dua kalimah syahadah (ar royah). Ia mengangkatnya dengan penuh semangat kemuliaan.

Pada awalnya, perang Uhud dimenangkan kaum muslim. Namun setelah para pemanah mengabaikan perintah Rasulullah, supaya jangan meninggalkan posisinya, kaum muslim menjadi terdesak. Dalam kekacauan yang menimpa pasukan kaum muslim, Rasulullah Saw menjadi incaran kaum musyrik. Melihat orang yang dicintainya terancam, Mush'ab langsung mengangkat Ar-Royah tinggi-tinggi seraya mengayunkan pedangnya tanpa henti. Ia mengobrak-abrik pasukan kafir musyrik, mengalihkan perhatian mereka supaya tidak mengincar Rasulullah Saw. Mush'ab berperang dengan gigih. Ia tak peduli dengan resiko kematian yang dihadapinya. Datanglah seorang pasukan berkuda musuh, Ibnu Qamiah, ia menebas tangan kanan Mush’ab hingga terputus.  Dengan tetap teguh, Mush’ab membaca ayat :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (TQS. Ali Imran [3] : 144)  

Mush’ab meraih Ar-Royah dengan tangan kirinya, Ibnu Qamiah pun kembali menebaskan pedangnya ke tangan kiri Mush’ab hingga terputus. Mush’ab Al Khair lalu membungkuk, mendekap Ar-Royah dengan kedua lengannya yang masih tersisa dan mendekapkan ke dadanya. Seraya membaca kembali Q.S. Ali Imran[3]: 144 :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (TQS. Ali Imran [3] : 144)  

Ibnu Qamiah kembali menyerang Mush’ab untuk yang ketiga kalinya, dengan sebuah tombak yang ia hunjamkan ke tubuh Mush’ab hingga gugur sebagai syuhada. Beginilah Mush’ab Al Khair yang telah mendermakan seluruh hidupnya untuk kemuliaan Islam. Ketika melihat jenazah Mush’ab bin Umair, dengan penuh kasih sayang Rasulullah membaca firman Allah Swt :

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang telah menepati janji mereka kepada Allah.” (TQS. Al Ahzab[33] : 23

Ketika Rasulullah Saw sedang mengkafaninya, beliau bersabda : “Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapih rambutnya daripadamu. Tetapi sekarang, rambutmu kusut dan (tubuhmu) hanya dibalut sehelai burdah.”

Begitulah salah satu bintang terang dalam rintisan peradaban Islam. Ia menetapkan harga matinya dengan tepat, pada satu-satunya jalan hidup yang diridloi oleh Allah Swt, yakni Islam.

Begitu pula yang menimpa pasangan suami istri, Yasir dan Sumayah, keduanya ditimpakan siksaan yang berat oleh para dedengkot kafir Quraisy. Semata-mata supaya meninggalkan Islam. Namun mereka tetap teguh, menukar seluruh hidupnya dengan gerbang kematian menuju keridloan Allah Swt.

Adalah Khabab bin Arat, seorang pembuat pedang yang meninggalkan kemusyrikan dan masuk Islam. Ia mengalami siksaan yang luar biasa. Syaikh Muhammad Khalid mengisahkan bahwa orang-orang kafir Quraisy mengubah semua besi yang ada di rumah Khabbab menjadi belenggu dan rantai. Lalu, mereka memasukannya ke dalam tungku hingga menyala membara. Setelah itu, mereka lilitkan ke tubuh, kedua tangan dan kedua kaki Khabbab. Siksaan yang diterima Khabbab sangatlah berat, tetapi ia lebih kuat dari siksaan tersebut.

Untuk meneruskan siksaan mereka kepada Khabbab, kaum musyrik Quraisy terpaksa meminta bantuan kepada Ummu Anmar, mantan tuan Khabbab. Wanita itu ikut menyiksa Khabbab. Ia mengambil besi panas membara, lalu menaruhnya di atas ubun-ubun Khabbab. Khabbab sangat kesakitan, namun sekuat tenaga ia menahan rasa sakitnya. Ia menahan nafas dan suaranya agar tidak keluar keluhan yang hanya akan membuat para algojo itu bergembira.

Rasulullah Saw menyaksikan semua siksaan yang menimpa Khabbab. Namun beliau dan kaum muslim masih belum memiliki kekuatan. Rasulullah Saw hanya bisa mendo’akannya, beliau mengangkat kedua tangannya lalu bersabda : “Ya Allah, limpahkanlah pertolongan-Mu kepada Khabbab.”

Do’a Rasulullah Saw langsung terkabul, selang beberapa hari Ummu Anmar sakit keras, ia melolong seperti anjing. Untuk mengobatinya, hanyalah dengan besi panas yang ditempelkan ke kepalanya.

Khabbab hidup lebih lama dari para penyiksanya, ia menyaksikan kegemilangan dakwah Islam. Ia wafat pada 37 H. Ketika melewati kuburan Khabbab, Ali bin Abi Thalib termenung cukup lama, wajahnya berduka lalu berkata :

“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Khabbab, ia masuk Islam tanpa paksaan, ia hijrah mengikuti ketaatan, ia jalani hidup sebagai mujahid pejuang.”

Begitulah orang-orang yang ridlo terhadap Allah Swt serta Allah Swt pun ridlo terhadap mereka, mereka telah menetapkan harga matinya pada Islam semata. Kita? semoga dapat mengikuti meraka. Aamiin.

(Ary H. / 29 Muharram 1438 H)           

Minggu, 23 Oktober 2016

"Di Manakah Bendera Rasul?"

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ –صلعم- كَانَتْ رَايَتُهُ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

Rayahnya (panji peperangan) Rasul saw berwarna hitam, sedangkan benderanya (liwa-nya) berwarna putih. (HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)

Di pagi yang cerah, Watsiq (4th) asyik menatap atlas dunia yang baru dipampang umminya di dinding ruang tamu. Seluruh gambar ia amati dengan seksama. Mulai dari lokasi Indonesia hingga Amerika ia tanyakan. Yang berkali-kali ia tanyakan adalah lokasi Amerika Selatan. Lalu, ia pun beralih ke bagian sisi-sisinya.
"Ini bendera apa Bi?" Ia pun menunjuk ke salah satu bendera negara.
Abinya pun menjawab satu persatu pertanyaan Watsiq. Tentunya setelah membaca nama negara yang tertulis di bawah bendera. Maklum, tak semua warna dan gambar bendera negara dihapal oleh abinya. Misalnya seperti bendera negara Cyprus.
"Kalau bendera Amerika, mana Bi?" Watsiq mengganti pertanyaannya.
"Kalau bendera China, mana Bi?" Ia bertanya setelah tetehnya ikut nimbrung dan menanyakan bendera China.
"Ini nih, sekarang bukan China lagi, sudah ganti nama jadi Tiongkok", jawab Abi.
"Kalau bendera Rasul, mana Bi?" Tanya Watsiq kembali.
Abi yang sedang sibuk mengabadikan momen, tidak segera menjawabnya.
"Bendera Rasul, mana Bi?" Ia bertanya kembali dengan nada yang tidak sabar.
Abi pun langsung menyimpan hpnya, demi menjawab pertanyaan Watsiq yang membutuhkan jawaban lengkap, sesuai usianya.
Seraya memutarkan tangannya di sekitar Asia, Afrika dan sebagian Eropa, abi berkata, "Bendera Rasul itu tadinya tertancap di semua wilayah ini, Nak."
"Setelah penjajah menguasai negeri-negeri ini, bergantilah bendera Rasul itu dengan bermacam-macam bendera."
"Karena itu, Ade-lah nanti yang berjuang untuk mengembalikan bendera Rasul"
Mendengar penjelasan Abi, Watsiq langsung bertanya lagi.
"Emang ada Bi, anak kecil yang berjuang?" Tanyanya.
Ummi yang sedari tadi memperhatikan tanya jawab Abi dan putranya, langsung menimpali.
"Ada Nak, di Palestina banyak anak-anak yang berjuang untuk Islam."
"Ade mau ke Palestina Bi, Ade mau ikut berjuang," ujar Watsiq dengan semangat.
"Akan ada masanya nanti Nak, saat kita kembali membebaskan Palestina," jelas Abi. Belum selesai Abi bicara, Watsiq langsung protes.
"Tapi, Ade mau bendera Rasul. Pokoknya Ade mau bendera Rasul!" Seraya ia berlari menjauh sebagai tanda protes.
"Ya sudah, ntar Abi printkan dulu ya," jelas Abi.
Abi pun langsung membuka netbooknya, googling mencari image Al Liwa dan Ar Royah. Watsiq pun dengan aktif memilih gambar yang ditampilkan oleh mesin pencari.
Watsiq memilih empat gambar, ternyata ia suka dengan gambar Al Liwa dan Ar Royah yang sedang diangkat dan berkibar, serta yang sedang di pertempuran. Setelah diprint, ia langsung menghampiri umminya untuk menempelkan 4 gambar bendera Rasulullah di samping atlas dunia.
Melihatnya, abi bergumam dalam hati. Mengucap do'a, semoga Watsiq menjadi pembela Islam yang terpercaya. Masuk dalam barisan mujahid yang mengangkat kembali panji Rasulullah Saw. Aamiin. (Ary H.)

#MadrasahRumah
#HSBAJannaty

Jumat, 21 Oktober 2016

Santri dan Islam, Tak Bisa Dipisahkan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, santri adalah orang yang mendalami agama Islam; 2 orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yg saleh.(1) Santri adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan Ilmu Agama Islam di suatu tempat yang dinamakan Pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. Menurut bahasa, istilah santri berasal dari bahasa Sanskerta, shastri yang memiliki akar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti kitab suci, agama dan pengetahuan. Ada pula yang mengatakan berasal dari kata cantrik yang berarti para pembantu begawan atau resi, seorang cantrik diberi upah berupa ilmu pengetahuan oleh begawan atau resi tersebut. Tidak jauh beda dengan seorang santri yang mengabdi di Pondok Pesantren, sebagai konsekuensinya ketua Pondok Pesantren memberikan tunjangan kepada santri tersebut.(2)

Dari pemaknaan tersebut, jelaslah bahwa santri tak bisa dilepaskan dari Islam. Kemuliaan seorang santri, bukan sekedar pada status dan keilmuannya, namun ada pada Islamnya. Sehingga kebanggaan menjadi santri, sejatinya adalah karena kebanggaan menjadi muslim. Jika tidak demikian -na'udzubillahi min dzalik- maka hilanglah kemuliaan santri.

Apalagi jika merujuk kepada sejarah, penentuan hari Santri merujuk pada seruan Jihad yang dikumandangkan oleh Syaikh Hasyim Asy'ari. Pembelaan terhadap negeri yang dilandasi perintah Allah Swt. Sehingga, lebih baik mulia dalam syahadah daripada hidup 'aman sentosa' tetapi di bawah ketiak para penjajah.

Kecintaan terhadap Allah Swt, Rasul-Nya dan Islamlah yang mendorong kaum para syuhada berjihad membela negeri ini. Semata-mata karena Allah Swt yang menetapkan perintah Jihad. Bukan semata-mata dorongan semangat hidup semata. Sebagaimana yang dikatakan Khalid bin Walid r.a. kepada komandan Persia bahwa kalian akan menghadapi pasukan yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan. Inilah kemuliaan yang diberikan oleh Allah Swt kepada kaum muslim yang berjihad membela negerinya, satu di antara dua kemuliaan, yaitu terusirnya penjajah atau menjemput syahadah.

Saat ini, penjajahan terhadap negeri ini masih berlangsung. Penjajahan yang berlaku saat ini adalah penjajahan non militer. Penjajahan ideologi kapitalisme terhadap negeri-negeri Islam. Penjajahan kapitalisme dilakukan secara pemikiran dan penerapan perundang-undangan. Oleh karena itu, perjuangan melawan penjajahan masih terus berlanjut sampai sistem kapitalisme sekuler hengkang dari negeri ini.

Pembelaan para pendahulu terhadap negeri ini adalah menjaga seluruh potensi dan kekayaan negeri dari jarahan asing. Oleh karena itu, aktualisasi cinta negeri para santri sejatinya bukanlah mempertahankan sekulerisme, tetapi mendorong negeri ini berubah ke arah Islam. Karena hanya Islamlah yang bisa menyelamatkan potensi dan kekayaan negeri ini. Sekulerisme hanya akan membuat negeri ini semakin terpuruk. Tax amnesty, asuransi berkedok jaminan kesehatan, utang luar negeri yang membengkak, kerusakan lingkungan, penguasaan swasta atas 95% hutan Indonesia, semua itu adalah bagian dari penjajahan ala kapitalisme sekuler. Hal ini belum termasuk kerusakan moral, sosial, budaya dan pendidikan. Karena semuanya diarahkan pada peraihan nilai materi semata, bukan ke arah pembentukan ketaqwaan. Sehingga, tiada yang diharapkan selain Islam. Sebagaimana firman Allah Swt :

"Dan barangsiapa yang berharap kepada selain Islam sebagai diin, maka tidak akan diterima darinya. Dan dia di  Akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (TQS. Ali Imran[3] : 85)

Sekulerisme yang diterapkan di negeri ini telah membiarkan orang kafir menjadi pemimpin atas kaum mukmin. Padahal Allah Swt mengharamkannya.  Bahkan, tatkala Al Quran dihina pun, hukum yang ada pun kentara sekali tak berpihak terhadap Islam.

Jika dahulu para ulama dan santri mengemban kemuliaan dengan mengumandangkan seruan jihad mengusir penjajah Belanda, maka saat ini pun kita masih bisa mengemban keutamaan yang setara. Yakni, menyerukan kebenaran Islam kepada para penguasa negeri yang lebih condong kepada penjajah asing. Bukankah Rasulullah Saw bersabda:

"Seutama-utamanya jihad adalah kalimat yang haq di hadapan pemimpin yang jahat." (THR. Abu Dawud)

Inilah jihad kaum santri saat ini, berdakwah untuk menjaga pemikiran Islam serta menjadi katalisator perubahan masyarakat ke arah Islam.

Perubahan ke arah Islam yang dimaksud tiada lain adalah perubahan ke arah penerapan Syariah Islam secara menyeluruh. Sebagaimana yang dirintis oleh Rasulullah Saw di Makkah hingga Islam diterapkan di Madinah, kemudian dilanjutkan oleh para khalifah. Meskipun dilakukan secara pemikiran, tetapi Rasulullah Saw dan para shahabat menjadikan aktifitas dakwahnya sebagai perkara hidup dan mati. Mereka tak pernah gentar dengan aniaya, pun tak tergoda dengan iming-iming harta, tahta dan wanita. Tatkala Rasulullah Saw dirayu untuk menghentikan aktifitas dakwahnya, beliau berkata:  “Demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kanan saya dan bulan ditangan kiri saya, sungguh saya tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan urusan (agama) ini atau saya mati karenanya.”

Kapitalisme saat ini memang makin menggurita. Begitu pula sekulerisme semakin membudaya. Tetapi santri mesti tetap bangga dengan Islam. Biar hujan berbadai, petir menggelegar, bara Islam tetap digenggam sampai mati. Karena, ialah harga mati kaum mukmin, termasuk para santri.  Allah Swt berfirman:

"Wahai sekalian orang-orang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kalian mati terkecuali dalam keadaan muslim." (TQS. Ali Imran[3] : 102).

Wallohu a'lamu bishshowwaab. (Ary H. / 20 Muharram 1437 H)

Sumber:
(1) kbbi.web.id
(2) wikipedia.id

Rabu, 19 Oktober 2016

Bukan Motivasi

Melihat anaknya yang selalu terlihat murung, Sang ibu pun bertanya kepada anaknya.
“Nak, mengapa belakangan ini kamu sering terlihat murung?” sapa Sang ibu.
“Jangan terus terpuruk seperti itu jika punya masalah, bangkitlah!” Sang ibu memotivasi.
Mendengar ucapan Sang ibu, Sang anak terdiam. Tak lama, ia pun menjawab dengan suara yang pelan,
“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.”
Mendengar ucapan Sang anak, Sang ibu tak mau menyerah. Ia pun terus berusaha memotivasi anaknya.
            “Kamu pasti bisa bangkit Nak. Jangan terus larut dan tenggelam dalam masalahmu sendiri”
“Setiap orang pasti punya masalah, dan kamu pasti mampu mengarunginya.”
Sang anak malah menundukkan pandangannya, tak sedikit pun ia menatap wajah ibunya yang tersenyum penuh semangat. Lalu berkata,
            “Aku tenggelam dalam lautan luka dalam.”
Sang ibu pun mulai memahami kondisi anaknya yang sedang putus asa. Tetapi ia tetap berharap Sang anak mau bangkit dari masalah yang dihadapinya. Seraya mengusap pundak anaknya, Sang ibu berkata dengan penuh kelembutan.
            “Sedalam apapun masalahmu Nak, pasti ada jalan keluarnya.”
            “Sampaikanlah kepada Ibu, mungkin ibu bisa membantu.”
Sang anak hanya terus tertunduk tanpa senyuman. Ia tertekur dengan mata penuh kesenduan. Hanya sedikit kalimat yang keluar dari mulutnya.
            “Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang,” ujar Sang anak seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Setelah berbagai upaya motivasi yang diberikannya, Sang ibu pun mulai terbawa suasana. Satu keinginan dalam hatinya, anaknya harus bangkit dan menghadapi masalah. Tetapi, mengapa anaknya tak mau juga mengerti. Dengan nada sedikit memelas, ia kembali mengingatkan anaknya.
            “Nak, hidup ini penuh rintangan. Jika kamu gampangan seperti ini, bagaimana nanti?”
            “Ibu masih di sini bersamamu, bagaimana jika kelak ibu meninggalkanmu untuk selamanya?”
Mendengar pertanyaan Sang ibu yang begitu emosional, Sang anak hanya tertegun. Ia pun mengangkat kepalanya dengan pelan. Ia tatap mata Ibunya, lalu berkata,
            “Aku tanpamu, butiran debu,” hanya kalimat pendek itulah yang keluar dari mulutnya.
Kisah fiktif ini awalnya saya baca dari sebuah buku. Terus terang, saya lupa lagi judul dan penulis bukunya, namun semoga kisah inspiratifnya menjadi amal jariyah untuk beliau. Sengaja saya menceritakan kembali kisah ini untuk dapat diambil pelajaran.
Sejuta motivasi takkan bermakna. Jika tak ada sedikit pun keinginan yang muncul dari diri kita sendiri. Sebagaimana manusia dewasa yang tenggelam di kolam sedalam 50 cm. Hanya akan terjadi jika ia hanya berbaring pasrah, serta tak sedikit pun berusaha untuk bangkit. Ketika mulai kehabisan nafas, ia pun hanya diam. Ketika air mulai masuk ke pernafasan dan paru-paru, ia pun hanya terdiam. Tak ada keinginan untuk bangkit dan berdiri. Kolam dangkal menjadi mematikan, masalah sepele pun menjadi menakutkan.
Bagi yang tak mau bergerak dan bangkit. Semua masalah di benaknya menjadi besar. Semua mimpi dan keinginan seolah menjadi mustahil. Padahal sejuta motivasi ditujukan kepadanya, ia tetap tak mau bangkit dan bergerak. Padahal, berjuta kemudahan di balik satu kesulitan sudah merupakan sunnatullah. Allah Swt berfirman, yang artinya:
“Maka sesungguhnya bersama (satu) kesulitan itu terdapat (banyak) kemudahan. Sesungguhnya sesudah (satu) kesulitan itu terdapat (banyak) kemudahan.” (TQS Al Insyirah[94] : 5-6)
Saya sengaja menambahkan kata berkurung. Penggunaan al ‘usr (memakai alif lam/ bentuk ma’rifat) dengan yusr (tanpa alif lam/bentuk nakirah) dalam ayat tersebut mengandung makna kuantitas yang berbeda.
Tak sedikit dari kita terjebak kalimat blunder yang hanya berujung pada satu kata, yakni motivasi. “Sejuta motivasi tak berarti jika tanpa aksi. Sejuta aksi tak bernilai jika tak islami. Amal islami mudah layu jika tak istiqomah. Keistiqomahan pun mudah patah jika tanpa pengorbanan. Namun, semangat pengorbanan kadang harus terpancing oleh motivasi yang mengena diri.”  Ujung-ujungnya, motivasi lagi.
Memang benar, tak ada aktifitas/perbuatan tanpa dorongan dan motivasi. Tetapi tidaklah tepat jika kita selalu mengharapkan motivasi luar yang akan menggerakkan diri kita. Diri kita bergerak karena motivasi kita. Jika kita diam, sejuta motivasi pun tak berarti. Sebagaimana yang termaktub dalam kitab mulia, “Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah apa yang ada di dalam diri mereka.” (TQS. Ar Ra’du[13]: 11).

Semua ikhtiar merupakan pilihan kita. Akan tetapi ada beberapa hal yang tak bisa kita lupakan sebagai manusia. Sifat pelupa selalu melekat pada manusia, karena itulah kita mesti saling mengingatkan untuk selalu pada track yang benar. Jika kita menyukai aktifitas menulis, maka bergaullah dengan para penulis. Jika kita ingin menjaga keshalihan diri, bergaullah dengan orang-orang shalih. Selanjutnya, sunatullah selalu melekat. Manusia berlari karena ia belajar berjalan. Manusia berjalan karena ia belajar berdiri. Begitulah sunnatullah, untuk menjadi ahli dan pakar, kita harus menjadi pembelajar. Semoga bermanfaat.
(Ary H. – Siswa Akademi Menulis Kreatif, 18 Muharram 1438 H)

Kamis, 22 September 2016

Bendungan Sekulerisme dan Kebangkitan Islam

Bagaikan air yang terus mengalir, ia pasti kan memberikan tekanan ke berbagai arah. Semakin banyak mata air yang menjadi sumbernya, semakin banyak debit air yang mengalir ke hilir. Apalagi, jika air tersebut mengarah pada satu alur dan arah yang sama. Sekuat dan sebesar apapun bendungan, takkan mampu menahannya. Begitulah sunnatullah pasti berlaku.

Di tengah kering kerontang lahan serta penderitaan akibat kemarau panjang sekulerisme. Suara kebangkitan Islam di berbagai penjuru negeri laksana mata air-mata air di pegunungan yang menyejukkan. Umat yang sudah lama kehausan, menanti cucuran berkah penerapan syariah dan khilafah, yang pasti menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Memang, bukanlah kemarau panjang yang mengundang air. Mata air kebangkitan Islam terlahir semata karena kasih sayang Allah Swt. Dialah yang kuasa menciptakan para pembela Islam dalam setiap zaman. Semakin lama, mata air-mata air tersebut semakin banyak, air pun semakin menderas kencang.

Syaithan tak tinggal diam. Melalui para pemujanya yang selalu berasyik masyuk dengan kesesatan, ia terus menginginkan umat manusia tetap hidup dalam kemarau yang panjang. Dikomandani negara teroris AS dan Israel, serta didukung kaum Yahudi dan Nasrani, mereka melakukan berbagai cara untuk menghalangi derasnya aliran kebangkitan umat. Mereka membuat bendungan pemikiran yang besar di benak-benak umat. Liberalisme, HAM, demokrasi, pluralisme, sinkretisme dan berbagai ide lainnya laksana susunan batu-bata yang berpondasikan sekulerisme. Semua pemikiran itu digunakan untuk menghalangi kebangkitan Islam.

Tidak hanya itu, mereka pun menanam agen-agen mereka yang terus menerus menutup setiap mata air yang muncul ke permukaan. Jika perlu, digali dan dibongkar paksa supaya hilang. Alih-alih menghilang, semakin digali dan dibongkar, mata air-mata air itu malah semakin besar dan banyak.

Barat lalu membuat fatamorgana pemikiran melalui penyesatan politis. Ide-ide sesat yang berasas sekulerisme, dibuat seolah berasal dari Islam. Harapan mereka, umat mendekat dan menganggapnya sebagai mata air kebangkitan. Hal itu juga tak kan bertahan, karena lama kelamaan umat pasti tersadar jika yang didekatinya bukanlah mata air sebenarnya. Meskipun mereka menggunakan lisan-lisan fasih para tokoh dan penyeru umat yang telah terbeli, tetap saja semua kepalsuan itu akan terbuka.

Tekanan kebangkitan umat semakin deras dan besar karena mata air yang memancar semakin banyak. Ditambah langit yang mulai mendung, pertanda berkah hujan kan turun. Syaithan dan kafir Barat makin ketakutan. Mereka pun membuat kanal-kanal sekulerisme untuk mengalirkan derasnya aliran kebangkitan kaum muslim. Mereka membuat kanal-kanal kecil untuk mengalirkan dorongan perubahan tersebut, supaya hantaman dan tekanan terhadap bendungan sekulerisme berkurang.

Di antara langkah yang dilakukannya adalah memunculkan khilafah-khilafah palsu dan memoles beberapa rezim (penguasa) supaya terlihat membela Islam. Sehingga, kaum muslim merasa sudah ada kebangkitan, dan terbelokkan dari jalan lurus. Padahal pada intinya, sistem dan ideologi yang dipakai tetaplah demokrasi dan sekulerisme. Jika demikian, maka jadilah kaum muslim laksana kaum dahaga, yang terpuaskan dengan setetes air di mulut yang disuapkan oleh kaum kafir penjajah. Kemudian kita berucap, "lumayan setetes juga, daripada tiada air sama sekali."

Itulah kanal-kanal sekulerisme. Tetapi sebanyak apapun kanal sekulerisme yang dibuat kaum kafir penjajah, tidak akan pernah menghentikan kebangkitan Islam yang hakiki, karena itu merupakan janji Allah Swt yang pasti. Hujan hidayah dan rahmat pasti kan datang, bendungan sekulerisme pasti kan jebol dan hancur berantakan. Kemudian dahaga berkepanjangan itu kan segera berganti berkah dan berkah, lalu berkah. Marilah setiap kita berperan, karena menyambut janji Allah Swt dengan dakwah, pahalanya sangatlah besar. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary AtTasiky)

#Opini
#JanjiAllah
#BendunganSekulerisme
#AkademiMenulis
#KebangkitanIslam

Senin, 19 September 2016

Surat untuk Sahabat


Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh
Para sahabat yang selalu kurindu, semoga rahmat Allah selalu tercurah untukmu.

Sahabat, aktifitas dakwah akan terus berjalan, baik kita bersamanya ataupun tidak. Fase berinteraksi dengan masyarakat sebagaimana yang dijalankan oleh Rasulullah Saw, semakin hari semakin menuntut pengorbanan yang lebih. Para penguasa, orang-orang yang dzalim, serta para mutsaqqofun (orang yang tercelup dengan tsaqofah Barat) terus-menerus menjadi penentang dan penghambat kafilah dakwah. Namun tetap saja, dakwah tidak boleh dan tidak akan berhenti.

Dalam kondisi semakin dekatnya pertolongan Allah Swt. Dalam suasana semakin panasnya bara kesabaran yang mesti kita genggam, Aku menemukan sebuah risalah, nasihat dari Dr. Najaat Hafidz*). Sebuah risalah yang sarat akan makna serta nasihat perjuangan. Oleh karena itulah, aku salin dan kugubahkan surat tersebut untukmu sahabat. Sebuah nasihat tentang kesabaran di jalan dakwah.

Sahabat yang selalu kurindu, hendaklah kita mengetahui terlebih dahulu bahwa kesabaran itu suatu kekuatan dalam jiwa seseorang, yang memiliki peran aktif dan positif. Allah Ta’ala akan memberikannya dalam jiwa seseorang yang berusaha ikhlash dan jujur mengikuti petunjuk-Nya. Dia memberinya kekuatan memikul beban, bertahan dan tabah menghadapi berbagai godaan, fitnah dan cobaan hingga ia menemui Allah Swt, sedang Dia ridha kepadanya. Baik dengan merealisasikan kemenangan yang didambakannya atau dengan mati syahid fi sabilillah. Dalam ukuran Islam, keduanya merupakan kemenangan.

Hendaklah kita menyadari bahwa setiap kita adalah objek atau sasaran ujian. Ingatlah sabda Rasulullah Saw : “Tidak ada musibah yang menimpa muslim, melainkan Allah Ta’ala menjadikannya kifarat baginya, sampai pun duri yang menusuknya.” (THR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain, Rasulullah Saw bersabda : “Bala senantiasa menimpa orang mukmin atau mukminah dalam harta dan anaknya, sehingga ia menemui Allah tanpa kesalahan.” (THR. Bukhari dan Muslim). Juga dikatakan dalam hadits yang lain : “Bala senantiasa menimpa hamba hingga ia berjalan di atas bumi tanpa dosa.” (THR. Tirmidzi).

Terkait bala yang menimpa, hendaklah engkau mengingat firman Allah Swt :
الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)
“Alif laam miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata : “Kami telah beriman.” sedangkan mereka tidak diuji? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta.” (TQS. Al Ankabut[29]: 1-3)

Karena itulah hendaknya disadari bahwa cobaan dan ujian itu merupakan saringan antara yang benar dan lainnya. Allah Swt berfirman :
لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (24)
“Supaya Allah membalas orang-orang yang benar karena kebenarannya, serta menyiksa orang-orang munafiq jika Ia berkehendak atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (Al Ahzab[33]: 24).

Rasulullah Saw juga menjelaskan kepada kita bahwa jalan menuju kebaikan, jalan surga, harganya mahal sekali. Bagi orang yang hendak memetik kebajikannya, ia mesti membayar harganya berupa kesabaran dan ketabahan. Sebagaiman sabda Rasulullah Saw : “Surga itu dikelilingi dengan duka derita, sedangkan neraka itu dikelilingi dengan hawa nafsu.” (THR. Muslim).

Wahai sahabat, kita diperintahkan meneladani jejak Rasulullah Saw dalam menghadapi berbagai masalah, ujian dan cobaan sebesar apapun dengan modal sabar dan tabah. Begitu pula jika kita membuka lembaran sejarah para sahabat Rasulullah Saw serta para pendahulu kita yang shalih, kita akan menemukan senjata mereka yang paling ampuh ketika menghadapi ujian dan cobaan, yaitu kesabaran dan ketabahan.

Para sahabat Rasulullah mengarungi gelanggang dakwah tanpa mengindahkan derita dan sengsara yang dihadapi. Dengan tekad bulat, mereka terus berjalan, menghidupkan dakwah Allah, meninggikan kalimat-Nya dan kemuliaan agama-Nya.

Karena itulah wahai para sahabat seperjuangan, hendaklah kita melatih diri agar bersikap sabar dan tabah hingga datang pertolongan dan kemenangan dari Allah.

Ketahuilah sahabat, bahwa kafilah dakwah itu akan berjalan dengan perlindungan dan penjagaan Allah. Siapa yang berjalan bersamanya akan tiba dan berjaya. Ia akan bergabung dengan kafilah-kafilah kebajikan dan hidayah lainnya, yang terdiri dari para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Alangkah baiknya berteman dengan mereka. (lih. Q.S. An Nisa[4]: 69).
Siapa yang ragu dan mundur, pastilah ia akan rugi dan menyesal.

Ingatlah selalu sahabat, bahwa sabar dan tabah dalam menghadapi bala ujian dan cobaan, akan menambah kekuatan iman orang yang menyandangnya. Setiap kali kita melipatgandakan kesabaran dan ketabahan, setiap itu pula kekuatan iman kita akan bertambah kukuh. Kita akan dapat menundukkan semua problema hidup dan rintangan yang dihadapi, berdiri dengan tegar menghadapi berbagai rintangan yang mengepung setiap muslim. Dengan demikian, insyaAllah, pahala dan ganjaran yang dijanjikan akan kita dapatkan.

Kita tidak harus mengharapkan datangnya bala dan ujian. Tidak! Rasulullah Saw melarang kita berbuat demikian. Beliau bersabda: “Janganlah kamu mengharapkan berpapasan dengan musuh, mohonlah senantiasa kesehatan dari Allah. Kalau kamu bertemu dengan musuh, maka bersabarlah, jangan melarikan diri. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al Arbain Annawawiyyah).

Perhatikanlah sahabat, begaimana Rasulullah Saw memerintahkan kepada kita supaya senantiasa memohon kesehatan kepada-Nya. Tetapi kalau kita diuji dan bukan diharapkan kedatangannya, tidak ada jalan lain bagi kita selain sabar dan tabah. Semoga kita akan menerima ganjaran besar yang dijanjikan Allah Swt.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar disempurnakan pahalanya tanpa terhitung.” (TQS. Az Zumar[39]: 10).     

Sahabat-sahabat yang selalu kurindu, aku bukanlah yang terbaik di antaramu. Hanya saja aku menemukan beberapa butir permata ilmu dalam sebuah risalah. Dengan menulis surat ini, aku berharap dapat berbagi denganmu. Semoga persahabatan kita kekal hingga ke surga. Hanya satu saja yang selalu kupinta kepada-Nya, semoga kita istiqomah di jalan dakwah hingga ke akhir hayah.  
Wassalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.

Saudaramu
Ary H.

*) Risalah yang dimaksud adalah Buku Nasihat untuk Para Wanita. Terj. dari Risalatun Ila Ibnati (Nashihah li Kulli Bint). Tulisan Dr. Najaat Hafidz yang diterjemahkan oleh H. Salim Basyarahil.

http://aryherawan.blogspot.co.id/2016/09/surat-untuk-sahabat.html?m=1 

Kamis, 15 September 2016

Inspirasi Menulis dari Felix Y. Siauw

Siapa sih anak muda atau aktifis sosmed yang tidak kenal Felix Siauw. Da'i mantan muallaf yang berasal dari Palembang ini bernama lengkap Felix Yanwar Siauw. Atau mungkin Anda akan mudah menemukan buku-buku karyanya di deretan buku best seller di Toko Buku Gramedia. Namun jika Anda tidak aktif di sosmed dan tidak pula sering ke toko buku, berarti Anda sedang membaca tulisan yang salah. He..he.., bercanda sedikit.

Bagaimana kisah sukses penulis buku best seller seperti Felix Siauw, berikut saya kutipkan inspirasinya dari status FB beliau dengan akun Felix Yanwar.

"Saya juga nggak tahu, kapan saya mulai suka dengan buku, sejauh yang saya ingat mulainya dari komik, lalu cerita bergambar, lalu novel, barulah ke buku-buku non-fiksi, tepatnya sejarah.

Kecintaan saya terhadap buku mungkin lebih dari yang lainnya di dunia. Dulu pas kuliah, berkali-kali makan harus mengalah dengan buku, jalan-jalan harus kalah dengan membaca buku.

Dari banyak membaca, saya terinspirasi untuk menulis. Bukan untuk dinikmati sendiri, tapi untuk anak-anak nanti. Agar mereka tahu siapa ayahnya, apa yang ayahnya inginkan dan perjuangkan.

Sebab menulis itu memang tak semudah berbicara. Tapi berbicara itu mudah dilupakan, tapi tidak yang ditulis. Yang ditulis tercatat, terdokumentasi, dan mudah dipertanggungjawabkan.

Bila membaca adalah pengetahuan, maka menulis adalah berbagi pengetahuan. Bila membaca adalah menambah ilmu, maka menulis adalah mengikatnya, begitu ucap sahabat Ali bin Abu Thalib.

Maka yang bisa saya wariskan pada anak-anak, bukanlah sedikit ilmu yang mampu saya kumpulkan, tapi semangat mencintai ilmu, itulah yang lebih berarti, mendekatkan mereka pada buku.

Sebab ulama semua punya banyak kesamaan, mereka menyukai buku, mereka dekat dengan buku. Maka biasakan anak-anak kita juga menyukai buku, dekat dengan timbunan ilmu.

Sebisa mungkin jauhkan godaan-godaan lainnya seperti game, dan televisi, gadget dan media lainnya. Perbanyak buku walau pajangan, beri mereka godaan untuk membaca, menambah ilmu.

Sebab ilmu itu selamanya akan didapat, diolah, dan dibagi oleh manusia. Dan media penyimpanannya adalah buku, disampaikan dari masa ke masa, ide itu tetap, walau orangnya beda."

Begitulah sedikit inspirasi dari seorang penulis muslim yang sudah terkenal. Semoga kita bisa mengikuti kesuksesannya. Menggabungkan aktifitas membaca dan menulis, menemukan motivasi utama dalam menulis serta keutamaan aktifitas menulis.

Selamat membaca, menulis dan berbagi !

(Ary H.)

Lansia

Lansia atau lanjut usia. Istilah untuk orang yang usianya sudah melewati setengah abad. Tentunya sudah bukan lagi anak muda.

Secara sunnatullah, semakin bertambah usia semakin berkurang jatah umurnya. Bahkan Rasulullah Saw pernah mengingatkan bahwa rata-rata usia umatnya itu tidak jauh dari usia beliau, yakni sekitar 60 tahunan.

Semakin tua hendaknya semakin sadar diri. Semakin lemah, semakin banyak organ tubuh yang mengalami penurunan fungsi. Rambut memutih, penglihatan memudar, kulit keriput, tulang pun mulai rapuh. Semakin tua, banyak nikmat yang semakin berkurang. Sudah menjadi sunnatullah, setiap makhluk akan menuju kepada kebinasaan. Pelan maupun cepat, jauh maupun dekat, mati adalah pasti.

Namun sangat disayangkan jika Lansia, yang sudah tak muda itu, dipertontonkan berjoget ria berjamaah. Bukan berjamaah ngaji di masjid dan majlis taklim. Tak hanya itu, supaya terlihat islami, joget ria itu pun menggunakan seragam gamis lengkap berkerudung. Berasyik masyuk terlenakan dengan acara musik yang diwarnai ikhtilath (campur baur pria dan wanita yang bukan mahrom). Syair-syair yang dilantunkannya pun bukan syair-syair yang meningkatkan iman. Bahkan hanya syair hura-hura dan cinta semata.

Ajal memang tak pilih usia. Tentunya setiap kita menginginkan akhir kehidupan yang baik. Kondisi optimal dalam ketaatan kepada Allah Swt saat ajal menjemput. Pernahkah para pembuat tayangan, sponsor juga keluarga yang membimbing para lansia itu berpikir, bagaimana jika ajal datang saat kelelahan berjoged. Mungkinkah kalimah tahlil yang keluar dari lisan-lisan para Lansia tersebut?

Perjalanan ke stasiun televisi, berdandan, berjoged hingga pulang kembali ke rumah tentu menguras tenaga. Begitu pula jika tenaga itu dipakai untuk berjalan ke majlis taklim, mengaji, berdakwah dan taqorrub ilallah. Jika itu pilihan, mengapa tidak memilih amal shalih. Usia yang tidak muda tentu membuat energi dalam beramal menjadi serba terbatas. Alangkah baiknya, kesempatan itu dipakai sebaik-baiknya untuk mendekat kepada Sang Pencipta.

Membersamai para orang tua dalam usia senja mereka tentu sangat besar pahalanya. Membuat mereka bahagia tidaklah mesti dibawa ke dalam aktifitas hura-hura. Karena bahagia itu hasil dari sebuah persepsi. Adapun persepsi merupakan buah dari pemahaman yang sudah dimengerti dan diyakini kebenarannya. Teringat seorang shahabat Abu Ayyub Al Anshari r.a., dalam kondisi rentanya, beliau masih semangat berjihad menyambut janji Rasulullah Saw untuk membebaskan konstantinopel. Meskipun konstantinopel belum berhasil ditaklukkan tetapi semangat jihadnya menjadi inspirasi para pasukan sesudahnya. Karena beliau minta dimakamkan di jejak terdepan pasukan yang beliau pimpin.

Semoga para Lansia dan keluarga muslim yang melibatkan orang tuanya dalam acara joged ria berjamaah segera menginsyafi kekeliruannya. Kita sebagai anak-anak bisa membimbing para Lansia agar semakin banyak mengingat maut dan mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan ketaatan dan dakwah, bukan malah menceburkan orang tua kita ke dalam aktifitas maksiat yang melenakan.

(Ary H. - Blogger dan Penulis di Akademi Menulis Kreatif.)

#BerbaktiKepadaOrangTua
#AmalJariyah
#AryAttasiky

Selasa, 13 September 2016

Tulisan Truk yang Menggugah

Tak selamanya tulisan di belakang truk itu saru dan sekedar cari sensasi. Sore ini saya membaca tulisan truk yang sangat berharga. Meskipun ditulis hanya dengan kuas dan cat air, tetapi makna tulisannya mendalam dan berbekas.

"MATI ITU PASTI, KHUSNUL KHOTIMAH ITU PILIHAN"

Meskipun tulisan yang lebih tepatnya adalah HUSNUL bukan KHUSNUL, tetapi kita bisa paham apa yang dimaksud, yakni HUSNUL KHOTIMAH (Akhir kehidupan yang baik).

Kata manusia atau insan sangat dekat dengan kata "nis-yan" atau "nasiya" yang berarti lupa. Meskipun semua manusia pasti mati, tidak ada pengecualian. Tetapi seringkali lupa akan kematian. Bisa jadi hal itu karena kehidupan dunia yang indah dan melenakan. Seakan-akan kita kan hidup selamanya. Padahal mati selalu mengintai di mana saja manusia berada. Itu pasti.

Husnul khatimah jelas pilihan. Karena syukur ataupun kufur juga pilihan. Akhir kehidupan yang baik tergantung amal kita selama hidup. Meskipun tentunya, ujung niat dan amal kitalah yang menentukan. Allah Swt yang Maha Menerima Taubat selalu menerima taubat sebelum sakaratul maut menjemput. Seorang pelaku maksiat atau kafir sekalipun, kemudian baru satu hari bertaubat dengan taubat nasuha lalu wafat, bisa terkategori husnul khatimah.

Kejadian seperti yang saya ceritakan di atas janganlah membuat kita terperdaya, hidup terus bergelimang dengan dosa dengan harapan kita dapat bertaubat sebelum ajal menjemput. Karena, siapa yang tahu kapan dan di mana ajal akan menjemput kita. Oleh karena itu, husnul khatimah adalah pilihan. Sepanjang hidup, kita terus diberi pilihan antara Husnul Khatimah ataukah Su'ul Khatimah.

Semoga Allah Swt mewafatkan kita dalam kondisi amal dan pengorbanan terbaik dalam ketaqwaan kita kepada-Nya. Aamiiin.

#TulisanTruk
#InspirasiTulisan
#AryAttasiky

Pengorbanan Vs Pengorbanan

Berkorban merupakan bukti sebuah keseriusan dan kesungguhan. Tanpa pengorbanan, komitmen seseorang dipertanyakan. Tidak hanya dalam kebenaran, berkorban pun dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Jika kaum muslim berkorban untuk membuktikan komitmen mereka pada Islam, orang-orang kafir sebaliknya.

Tak sedikit yang menghubungkan pengorbanan dengan kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. Tetapi kali ini, penulis tertarik untuk menulis tentang pengorbanan dari apa yang terjadi pada perang Uhud. Perang antara Negara Islam Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah Saw melawan Kaum musyrik Makkah.

Uhud adalah sebuah nama Gunung yang terletak di utara Madinah, berjarak sekitar 1 mil dari Madinah. Ketinggiannya sekitar 1.077 m. Dinamakan Perang Uhud karena lokasi pertempuran kaum muslim dan kaum musyrik terjadi di dekatnya. Rasulullah pun meletakkan pasukan pemanah di bukit Uhud tersebut.  Perang ini terjadi pada hari Sabtu, 7 Syawal 3 H atau diperkirakan bertepatan dengan 23 Maret 625 M.

Pada perang Uhud orang-orang kafir Quraisy membiayai pemberangkatan tentara dari hasil perdagangan mereka di Syam. Ketika itu seluruh dagangan dan keuntungannya diberhentikan oleh Abu Sufyan di Darun Nadwah, sebuah tempat yang dibangun oleh Qushay bin Kilab bin Murrah dan dipakai oleh orang-orang Makkah untuk bermusyawarah.

Abu Sufyan tidak membagikan harta dagangan tersebut karena dianggap tiada yang berhak atasnya. Hingga para tokoh kafir Quraisy berkata kepadanya : “Wahai Abu Sufyan, lihatlah barang-barang yang kau datangkan dari Syam tersebut kemudian engkau menahannya. Kau tahu bahwa hal itu adalah harta para penduduk Makkah dan modal orang-orang Quraisy. Padahal mereka telah merelakan harta tersebut sebagai bekal pemberangkatan tentara untuk menyerang Muhammad. Dan kau sendiri tahu bahwa mereka yang telah mati (pada perang Badar) adalah bapak-bapak kita, anak-anak kita dan keluarga kita semuanya.” Maka Abu Sufyan pun menjawab: “Benarkah orang-orang Quraisy telah merelakan harta tersebut?” Mereka mengatakan : ”Ya”. Abu Sufyan berkata : ”Kalau begitu, aku adalah orang yang paling pertama menyetujui rencana ini. Bani Abdi Manaf bersamaku. Aku seorang yang sangat dihinakan dan aku akan membalas dendam. Anakku Hanzhalah, juga para pemimpin kaumku telah terbunuh di Badar.” Saat itu, seluruh harta berjumlah 1000 unta (sekitar Rp 14 milyar) dan 50.000 dinar (sekitar Rp 125,4 milyar), atau totalnya sekitar 139,4 milyar rupiah.

Terkait pengorbanan orang kafir tersebut, Allah Swt menurunkan firman-Nya, yang artinya :

“Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan, dan ke dalam Jahannam-lah orang-orang kafir itu dikumpulkan.” (TQS. Al Anfal[8] : 36)

Selain wafatnya penghulu para syuhada, yakni Hamzah bin Abdul Mutahllib. Dari peristiwa perang Uhud juga kita bisa mengambil pelajaran dari empat peristiwa kematian yang penuh dengan pengorbanan. Yang pertama dan kedua adalah kematian Shu’ab dan Mush’ab. Shu’ab adalah seorang budak yang membawa panji pasukan musyrik Makkah. Ia memegang panji setelah para pemegang panji sebelumnya terbunuh oleh pasukan muslim. Kilab bin Thalhah bin Abi Thalhah dibunuh oleh Zubair bin al-Awwam. Lalu al-Julas bin Thalhah bin Abi Thalhah dibunuh oleh Thalhah bin Ubaidillah. Kemudian Arthah bin Syurahbil berhasil dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib. Serta Syuraih bin Qarizh yang tidak diketahui siapa pembunuhnya.

Shu’ab mengangkat panji itu dengan gagah berani. Ia mengangkat panji kaum musyrik itu dengan tangan kanannya. Quzman lalu menghampirinya dan berhasil menebas tangannya hingga putus. Shu’ab pun lalu memegang panji itu dengan tangan kirinya. Quzman pun terus menyerangnya hingga tangan kiri Shu’ab pun tertebas hingga putus. Kemudian Shu’ab mendekap panji itu dengan kedua lengannya yang masih tersisa seraya membungkukkan punggungnya. Quzman lalu menyerangnya dan berhasil membunuhnya. Kematian yang penuh pengorbanan, tetapi ia mati dalam memperjuangkan kekafiran.

Sungguh sangat berbeda dengan Mush’ab. Nama lengkapnya Mush’ab bin Umair. Ia dikenal dengan Mush’ab Al Khair (Mush’ab yang baik). Duta dakwah Islam pertama yang diutus Rasulullah Saw ke Madinah. Pemuda bangsawan, tampan dan kaya yang telah rela menukarkan semua kesenangannya hanya demi Islam. Pemuda yang membuat para shahabat menunduk dan menangis ketika melihatnya. Para shahabat melihatnya berjubah usang dan bertambal-tambal, padahal masih segar dalam ingatan mereka bagaimana penampilan Mush’ab sebelum masuk Islam. Pakaiannya selalu bersih dan indah ibarat bunga di taman serta menebarkan aroma wewangian. Melihatnya, Rasulullah Saw tersenyum bahagia dan bersabda : ”Dahulu tiada yang menandingi Mush’ab dalam mendapatkan kesenangan dari orang tuanya. Lalu semua itu ia tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Pada perang Uhud, Mush’ab Al Khair terpilih sebagai pemegang panji Islam. Setelah Rasulullah Saw merapihkan barisan pasukan kaum muslim, beliau bertanya: “Siapa yang membawa panji kaum musyrik?” Dikatakan kepada beliau: “Bani Abdiddar.” Beliau bersabda: ”Kita lebih layak untuk itu. Mana Mush’ab bin Umair?” Mush’ab berkata: “Ini aku wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Ambillah panji ini.” Mush’ab pun mengambilnya dan maju di depan Rasulullah Saw.

Mush’ab membawa panji kalimah Tauhid itu dengan gagah berani. Bahkan tatkala barisan kaum muslim porak poranda, karena pasukan pemanah yang meninggalkan lokasinya lalu pasukan kaum muslim diserang balik oleh Khalid bin Walid, Mush’ab tetap gigih berperang. Seorang tentara berkuda musuh yang bernama Ibnu Qamiah menyerangnya hingga menebas tangan kanannya sampai putus. Mush’ab tetap teguh seraya membacakan Q.S. Ali Imran[3] : 144, yang artinya :

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”        

Kemudian Mush’ab meraih panji Islam dengan tangan kirinya. Namun sekali lagi Ibnu Qamiah berhasil menebas tangan kirinya hingga putus. Mush’ab tetap teguh seraya membaca ayat yang sama. Lalu ia mendekapkan panji Islam itu ke dadanya dengan kedua lengannya yang masih tersisa.  Namun untuk ketiga kalinya Ibnu Qamiah berhasil menyerangnya. Ibnu Qamiah menancapkan tombak yang berhasil menembus tubuh Mush’ab. Mush’ab pun syahid di jalan Allah. Kematian mulia yang penuh dengan pengorbanan.  Rasulullah Saw pun menegaskan bahwa beliau akan menjadi saksi atas kesyahidan Mush’ab dan para shahabat lainnya yang gugur saat itu.

Kematian yang ketiga adalah kematian Quzman. Lain halnya dengan Shu’ab yang berperang penuh pengorbanan lalu mati sebagai pasukan musyrik. Begitu pula Mush’ab yang berperang penuh pengorbanan lalu tercatat sebagai syuhada kaum muslim. Quzman adalah orang yang berperang bersama pasukan muslim, penuh pengorbanan dan gagah berani, tetapi ia tidak tercatat sebagai syuhada bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai ahli neraka.

Quzman adalah lelaki terpandang dari Bani Zhafar. Ia terkenal sangat pemberani. Quzman ikut ke medan Uhud dan berperang dengan serius. Tatkala kaum muslim mengalami kekalahan dalam perang Uhud, ia mematahkan ujung pedangnya. Kemudian maju menerobos pasukan kaum musyrik hingga berhasil membunuh 60-70 tentara musyrik.

Quzman terluka sangat parah. Ketika ia dihampiri oleh para shahabat, dikatakan kepadanya : ”Selamat untukmu wahai Abu al –Ghaidaq. Kau mati syahid.” Ia menyahut :  ”Kabar gembira apa yang kalian sampaikan kepadaku? Demi Allah aku tidak berperang kecuali atas dorongan fanatisme keluarga.” Para shahabat menjawab: “Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan surga.” Ia menjawab : “Surga dari Harmal. Demi Allah, aku tidak berperang demi surga atau neraka, aku berperang semata-mata demi membela keluarga besar.”

Dalam riwayat lain di ujung hayatnya Quzman berkata : “Aku berperang hanya demi mempertahankan agar jangan sampai Quraisy menginjak-injak kehormatan kita.” Ia tidak tahan dengan luka-lukanya. Setelah belum berhasil bunuh diri dengan menembuskan anak panah ke badannya, ia pun menjatuhkan tubuhnya di atas pedangnya hingga menembus punggungnya, ia pun tewas. Mengenainya, Rasulullah Saw bersabda: “Ia termasuk penduduk neraka.”  

Adapun kematian yang keempat adalah yang terjadi pada Abdullah bin Jubair al-Anshari Al-Ausi. Nama aslinya adalah Abdullah Jubair bin Nu’man bin Umayyah, ia berasal dari Bani Tsa’labah bin Amru bin Auf. Abdullah bin Jubair mendapatkan julukan Abu al-Mundzir, tergolong angkatan pertama yang masuk Islam dari kalangan Yatsrib. Ia pun hadir dalam Bai’at Aqabah kedua.

Nabi Muhammad Saw mengangkat Abdullah bin Jubair sebagai panglima pasukan pemanah. Rasulullah menempatkan pasukan pemanah di bukit Uhud dan memerintahkan mereka supaya jangan meninggalkan lokasinya. Ketika perang Uhud berkecamuk pasukan pemanah melepaskan bidikannya ke arah pasukan musyrik. Anak panah pun melesat mengenai orang musyrik atau kuda yang ditungganginya. Hingga pasukan musyrik terpukul mundur dan kocar-kacir meninggalkan harta-hartanya. Saat itulah pasukan pemanah tergoda untuk mengambil harta ghanimah yang ditinggalkan pasukan musyrik. Abdullah bin Jubair segera mengingatkan mereka, ia berseru seraya memanjatkan pujian kepada Allah serta mengagungkan-Nya atas segala pemberian-Nya. Ia memerintahkan pasukannya agar taat kepada Rasul-Nya.

Langkah mundur pasukan musyrik ternyata hanya tipu muslihat saja. Setelah melihat pasukan pemanah menuruni bukit Uhud, Khalid bin Walid segera berputar dan menyerang kembali kaum muslim. Disusul kemudian oleh pasukan Ikrimah bin Abu Jahal.

Abdullah bin Jubair dan beberapa orang tersisa berusaha melawan. Ia menyerang dengan anak panahnya hingga tiada anak panah yang tersisa. Ia lalu mengambil tombaknya dan bertempur sengit dengan bersenjatakan tombak, hingga tombaknya patah. Tak patah semangat, kemudian ia mengambil pedangnya dan bertempur habis-habisan hingga membunuh musuh-musuhnya. Akhirnya pedangnya pun patah. Tetapi ia terus bertempur hingga ia terbunuh dan syahid.

Abdullah bin Jubair dibunuh oleh Ikrimah bin Abu Jahal. Ia bertempur dengan sangat hebat dan penuh pengorbanan. Bersama 10 pasukan pemanah yang masih tersisa, ia menghadapi 200 pasukan berkuda yang dipimpin Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal Pasukan kaum musyrik memperlakukan jenazah Abdullah bin Jubair dengan sangat keji. Mereka menusuk-nusukkan tombak mereka hingga perutnya rusak dengan usus yang berhamburan.

Mengenai para syuhada Uhud, Allah Swt menurunkan firman-Nya (yang artinya) :

“Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian. Sungguh Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (TQS. Ali Imran[3]: 152)    

Sebetulnya masih banyak lagi pelajaran yang dipetik dari peristiwa Uhud. Namun pada intinya, dari kecamuk perang Uhud kita bisa melihat ada pengorbanan versus pengorbanan. Ada pengorbanan orang kafir untuk memusuhi Islam Ada pengorbanan bermotif fanatisme semata dan bukan karena Allah.  Ada juga pengorbanan yang dilakukan sepenuhnya hanya karena Allah Swt semata. Semuanya berkorban harta, tenaga dan bahkan nyawa. Tetapi yang mulia hanyalah pengorbanan kaum muslim yang berkorban di jalan Allah dan karena Allah Swt semata. Semoga kita termasuk orang-orang yang berkorban dengan pengorbanan yang mulia. Aamiin. Wallaahu a’lamu bishshawwaab.  (Ary H. – Blogger dan Penulis di Akademi Menulis Kreatif)

Sumber:  www.banjarkota.com

Sumber Bacaan :

1) Al Waqidi. Al Maghazi (ed. terj.) Sejarah Lengkap Peperangan Rasulullah Saw Jilid I. Diterjemahkan oleh Abu Fuad. Al Azhar. 2015.
2) Fathi As’ad Na’jah. Pembela-pembela Islam, Buku Ketiga (terjemahan dari aS-Syakhshiyyah al-Islaamiyyah Ulama’ wa Qodah). Diterjemahkan oleh Mujiburrahman, SE. Pustaka Thariqul Izzah. 2006.
3) Ibnu Hisyam. Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam Jilid 2 (terjemahan dari aS-sirah an-Nabawiyyah li-Ibni Hisyam). Diterjemahkan oleh Fadhli Bahri, Lc. Darul Falah. 2011.
4) Khalid Muhammad Khalid. 60 Sirah Sahabat Rasulullah Saw (terjemahan dari Rijal Haula Rasulillah). Diterjemahkan oleh Muhil Dhofir, Lc. Al-I’tishom. 2007.
5) M. Ali Dodiman. Kamus Pintar Daulah Islam. Pustaka Ali. 2014.