Kamis, 05 November 2015

Organ-organ Tubuh yang Protes

"Organ-organ tubuh protes, mereka butuh istirahat," kata dokter Tatan. Dokter yang kutemui pagi ini di tempat prakteknya. Selama dua minggu ini aku memang merasakan kondisi badan yang kurang fit, mudah lelah, sering ngantuk dan ada rasa terbakar di mulut. Produktifitas aktifitas pun menjadi menurun. Sadar diri akan hal ini, konsultasi ke dokter adalah alternatif solusinya.

"Tubuh manusia itu unik, ia selalu memberi sinyal," jelas pak Dokter. "Setiap butuh asupan makanan, timbul rasa lapar. Ketika butuh minuman, muncul rasa haus. Begitupun tatkala butuh tidur, tubuh mengirimkan sinyal kantuk." Lanjutnya. Penjelasan ini mengingatkanku pada kebutuhan fisik (Al Hajah Al Udlwiyyah). Salah satu potensi manusia yang diberikan oleh Sang Pencipta. Potensi tubuh ini memaksa manusia untuk makan, minum dan istirahat. Bila tidak dilayani, ia akan protes dan mengantarkan pada rasa sakit. Inilah mungkin yang dilakukan organ-organ tubuhku kini, pikirku.

"Karena itulah tatkala tubuh meminta, jangan telat minum, makan dan tidur," pesan Sang Dokter yang terkenal ramah itu, kepadaku pagi tadi. Belakangan ini, aku memang tidak pernah menunda makan jika lapar. Tetapi kuakui, jika minum air putih dan istirahat sering kutunda. Mungkin inilah yang membuat metabolisme tubuh menjadi kurang seimbang. Karena, ia juga menekankan kepadaku bahwa air putih sangat penting untuk membuang racun-racun dalam tubuh. Gangguan metabolisme inilah yang mengirim sinyal rasa pahit ke mulut. Mau makan dan minum yang manis pun, mulut tetap terasa pahit.

"Kita ikhtiar dulu dengan obat ya?" Tanyanya padaku. Aku tahu, ini hanyalah pertanyaan retoris yang tidak perlu untuk dijawab. Karena yang penting adalah kalimat berikutnya. Ia berkata, "semoga Allah Swt memberikan kesembuhan. Aamiin." Inilah yang penting. Allah Swt -lah pemilik raga ini dan kepadaNya-lah kita serahkan semuanya, karena manusia hidup hanya untuk mengabdi pada-Nya.

Membuat tulisan ini, saya teringat sosok Ustadz Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia. Pasca sakit jantung yang -secara medis- hampir merenggut nyawa beliau, tulisannya yang berjudul "Lelaki Bercincin" langsung muncul di media. Pikirku, kapan beliau menulisnya. Teringat pula akan sosok ulama produktif Syaikh Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah. Kata guruku, Syaikh Ibnu Qoyyim biasa menulis sambil duduk. Ketika beliau merasakan pegal, beliau lalu menulis sambil berdiri. Tatkala lelah menulis sambil berdiri, beliau pun menulis sambil berbaring. Karena itulah, di tengah protesnya organ-organ tubuhku, aku pun menyusun tulisan ini sembari berbaring.

Lelah itu pasti, karena di dunia tempat lelah. Sakit itu ketetapan Allah Swt, kita tak bisa melawannya. Tetapi menyikapi sakit dalam memperjuangkan cita-cita, itu adalah pilihan. Dan pilihanku adalah di sini. Tetap belajar, beramal dan berbagi hingga ajal tiba. Semoga.

(Ary Herawan, 24 Muharam 1437 H)

Kanal-kanal Sekulerisme

Kebangkitan Islam yg hakiki (khilafah Islamiyyah) semakin tak tertahankan. AS menggunakan 'jurus mabuk'. Berbagai cara dilakukan dari mulai stigmatisasi gerakan Islam dan terorisasi, sampai me'lunak'kan ide-ide Islam untuk melanggengkan penjajahannya.

Termasuk juga membuat kanal-kanal utk mengalirkan semangat kaum muslim yg semakin menggebu. Sekulerisme bagaikan benteng yg sudah tidak mampu lagi menahan dorongan kaum muslim untuk menuju Khilafah Islamiyyah, karena itu AS mmbuat kanal-kanal kecil untuk mengalirkan dorongan perubahan tersebut, supaya hantaman trhadap benteng sekulerisme melemah.

Di antara langkah yg dilakukan AS adalah,  memunculkan khilafah palsu dan mendukung rezim (penguasa) muslim yg secara nyata tidak menerapkan Islam scara kaffah, spaya terlihat hebat dan mantap, bagaikan Iran dulu pasca revolusi putih. Sehingga kaum muslim merasa sudah ada kebangkitan, dan terbelokkan dari jalan lurus. Padahal pada intinya sistem dan cara berpikir yg dipakai tetaplah sistem dan cara berpikir penjajah. Jika demikian, maka jadilah kaum terjajah yg tidak sadar sedang dijajah.

Itulah kanal-kanal sekulerisme. Tetapi, sebanyak apapun kanal sekulerisme yang dibuat AS, tidak akan pernah menghentikan kebangkitan Islam yang hakiki, karena itu merupakan janji Allah Swt yang pasti.

wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary Herawan, 23 Muharam 1437 H)

Selasa, 03 November 2015

Jejak Maksiat

Itu, iya benar itu,
sungguh mataku melihat
Masih berjejak
dalam ingat
jalan ini penuh jejak maksiat

halal - haram kupaham
bebal diri betah berkubang dosa

Kembali kususuri jalan ini
Menghapus jejak demi jejak
Kubangan pekat lumpur maksiat
Bekas pekat masih berbayang
ia tetap berbekas

tertinggal satu harap,
taat menghapus jejak maksiat
"OH, JANGAAAN !!"
lisan ini berucap nanti, "Aduh, seandainya aku tak menerima catatan amalku ini"
sesal yang tiada berarti

(Ary Herawan, 22 Muharam 1437 H)

Kuatkan hamba...

peluh lelah bercucur keringat
mata sayu berkantuk berat
badan bertahan dalam penat
konsisten beda dengan pilihan dalam berat

Wahai..Sang Pemilik alam raya
merangkak ku apa daya
berlari ku kejar cita
berjuang hingga ajal tiba

bukan rayuku Kau ambil beban
tapi pintaku Kau kuatkan

(Ary Herawan, 22 Muharram 1437 H)



#SECERCAH HIDAYAH DI SURAU SEKOLAH#3

(Cerita Fiksi)
#SECERCAH HIDAYAH DI SURAU SEKOLAH#3
Ajakan yang Menggelisahkan bag. 2

Semakin malam suara detak jam dinding semakin jelas terdengar. Kedua mata Dadan tetap saja sulit terpejam.  Padahal sudah berkali-kali ronda berkeliling seraya memukul kentongan, pertanda malam sudah sangat larut.
                "Duh ! Mengapa mata ini sulit sekali terpejam?" Ujarnya dalam hati. Semakin ia memejamkan matanya, pikirannya malah semakin terjaga.
                "Perutku begah lagi, ga enak begini. Apa karena Nasi Padang yang ku santap tadi siang ya?" Ia terus bertanya-tanya.
                Padahal ia sering menyantap Nasi Padang kesukaannya, perutnya belum pernah bermasalah karenanya. Pikirannya terus berkecamuk. Ia berbalik badan seraya memeluk gulingnya. Kakinya terasa pegal, gelisah tak karuan rasanya. Diluruskan ga enak, ditekuk pun ga nyaman. Ia pun mencoba membalik bantalnya, tetap saja tak dapat terlelap.
                "Aduh bagaimana ini, mana esok harus masuk sekolah lagi", gerutunya. "Apa aku tegang karena undangan acara pengajian Rohis itu ya?" Ingatnya.
                 “Kalau begitu, besok aku harus kabur duluan ah,“ gumam Dadan. “Lagian acaranya juga dimulai sehabis Dzuhur.” tambahnya.
                Lama kelamaan hati Dadan pun menjadi tenang. Ia pun tertidur setelah lewat jam satu dini hari.
---------------------------
                Tidak pagi ini saja Dadan bangun kesiangan. Jika ada siaran langsung klub sepak bola kesayangannya pun, ia sering begadang. Karena itulah, ia sudah lihai mengatasinya. Ia tidak mandi, tetapi hanya mencuci muka, tangan dan kakinya. Kemudian sedikit mencuci ketiaknya dengan sabun mandi. Langsung berseragam lalu mengayuh sepedanya menuju sekolah.
                Selama di sekolah, Dadan menghindari pembicaraan dengan Arif. Sampai tibalah jam pelajaran ke enam, menjelang istirahat kedua. Dadan terus saja membolak-balikan pulpen yang dipegangnya. Posisi duduknya pun terus berganti miring kanan dan kiri, ia berharap ingin segera meninggalkan sekolah.
                “Duh, tumben ini Bu Lina, biasanya dia selesai sebelum bel istirahat berbunyi,” keluhnya dalam hati. Biasanya, Bu Lina bahasa Indonesia memang keluar kelas lebih cepat dari waktu istirahat. Tetapi, tidak demikian dengan hari ini.
                “Teeet ! Saatnya istirahat kedua !” Bel SMA Sambongpari pun berbunyi.
                Riuh respon para siswa mendengar bel istirahat, membuat suara Bu Lina semakin tidak terdengar. Bu Lina hanya tersenyum. Seraya membereskan bukunya, ia pun berpesan, “Anak-anak, dikarenakan Bapak dan Ibu Guru ada rapat persiapan UTS, maka pembelajaran hari ini dilanjutkan di rumah ya..!”
                “HOREEE ! ASYIIK !” hampir semua siswa berteriak kegirangan. Namun tak demikian dengan Dadan. Ia melirik ke arah Arif, ia ingin memastikan Arif tidak memperhatikannya.
                “Sebentar....sebentar dulu anak-anak, “ Bu Lina mulai agak berteriak di tengah kegaduhan para siswa yang kegirangan.  “Dengarkan dulu!” Ucapnya seraya memberi isyarat dengan kedua tanganya. “Hari ini ada pengajian Rohis. Bagi kalian yang ada waktu, Ibu berharap kalian bisa mengikutinya, “ ajak Bu Lina.
                “Tuh ketua Rohisnya saja ada di sini,” kata Bu Lina seraya menunjuk Arif.
                Semua siswa memandang Arif. Merasa menjadi pusat perhatian, Arif hanya tersenyum. Tetapi, tidak demikian dengan Dadan, ia malah semakin menundukkan pandangannya ke arah meja yang ada persis di depannya. Seakan pura-pura tidak mendengar perkataan Bu Lina.            
                 “Terima kasih atas perhatian dan partisipasi kalian dalam pembelajaran, mohon maaf bila ada salah, ketemu lagi minggu depan,“ ucap Bu Lina seraya menatap seisi kelas. Setelah mengucapkan salam, beliau pun keluar meninggalkan kelas.
                Para siswa berhamburan keluar kelas. Dadan tetap duduk terdiam di kursinya, ia memperhatikan Arif yang terlihat buru-buru meninggalkan ruangan. “Aku beruntung, Arif pergi duluan,“ gumamnya.
                Dadan tersenyum kegirangan, wajahnya cerah dengan mata berbinar senang. Seakan terlepas dari beban yang sedari kemarin menggelayuti pikirannya. Sebagaimana biasanya, Dadan langsung menuju halaman sebelah barat sekolahnya. Ia segera mendorong sepedanya menuju gerbang sekolah. Wajahnya terus saja lurus ke arah gerbang. Entah kenapa, gerbang yang hanya berjarak 50 meteran dari halaman barat sekolahnya, kali ini terasa sangat jauh. Matanya hanya fokus memandang gerbang yang ditujunya. Ia tak memperhatikan setiap orang yang berpapasan dengannya.
“Dan, mau kemana?” Tiba-tiba terdengar seseorang menyapanya. Bagaikan disambar geledek di siang bolong. Dadan sungguh mengenali suara tersebut, yang tiada lain adalah Arif. Terlihatlah Arif sedang mengangkut meja persis di hadapannya.
Dadan belum sempat menjawab, namun Arif bertanya lagi, “Katanya mau ikut pengajian?”
                Saking malunya, ingin sekali Dadan menutupi seluruh wajahnya dengan tas bututnya. Atau ia kabur melaju sepedanya dengan kecepatan 100 km per jam. Kabur seketika dari tempat itu. Wajah Dadan memerah, mulutnya terkatup di antara senyum yang tertahan.
                “Eh..., Arif...,” Jawab Dadan. “Ini, Ayahku memintaku untuk langsung pulang,“ Kilah Dadan. Ia berbohong untuk menutupi ingkar janjinya. Padahal tak sedikit pun Ayah berpesan kepadanya untuk segera pulang.
                Arif sangat mengerti kecanggungan temannya. Meskipun temannya telah terbukti mengingkari janjinya, tak sedikit pun ia menampakkan kekecewaan di wajahnya. Ia tetap tersenyum, dengan keringat mengucur dari kedua dahinya.
“Oh gitu, sayang sekali ya...” Jawab Arif seraya menurunkan meja dari atas pundaknya.
                “Padahal pengajiannya tidak akan  lama kok, paling juga maksimal sekitar 1 jam-an,” jelas Arif.
                Dadan diam sejenak, kemudian berkata, “Duh gimana ya Rif, kasihan ayahku, nanti ia ga ada yang bantu.” Dadan sangat berharap, alasan membantu ayah pasti bisa meluluhkan hati Arif. Padahal, dari sejak ayahnya membuka usaha cuci motor, ia tak pernah membantunya sama sekali.
                 “Iya ya..., kasihan juga beliau,” Jawab Arif.
                Meskipun ada keraguan dan ketidaktegaan di hati Dadan saat mendengar respon Arif, tetapi ia merasa senang. Pikirnya, ia telah sukses mengelabui temannya. 
“Iya Rif, kasihan ayahku, mungkin lain kali ya..?” kata Dadan.
                 “Iya deh ga apa-apa Dan, lain kali saja,“ Jawab Arif. “Hati-hati di jalan Dan, santai saja bawa sepedanya!” lanjut Arif.
                Arif menyodorkan tangan kanannya, mengajak Dadan bersalaman. Seranya berkata, “Salam ya untuk ayahmu. Semoga kita bisa menjadi amal jariyah untuk kedua orang tua kita, Assalamu’alaikum!”
Dadan menepis semua keraguannya. Seraya menjawab, “wa ‘alaikum salam...”, sambil menyambut tangan Arif yang sudah menunggu.
“Maksud perkataanmu barusan apa ya Rif?” Tanya Dadan sebelum melepaskan tangan temannya. Sepertinya ada sesuatu yang membuat ia penasaran.
                “Perkataanku yang mana?” Arif malah balik bertanya.
“Itu tuh menjadi amal jariyah untuk orang tua kita?” jawab Dadan.
                “Oh itu, maksudku adalah menjadi anak shalih yang selalu mendo’akan orang tua kita,“ Jawab Arif.
Arif terdiam sejenak, kemudian melanjutkan penjelasannya.
“Amal jariyah itu adalah amal yang pahalanya akan terus mengalir, meskipun orangnya sudah wafat sekalipun. Amal jariyah ada tiga, ilmu yang bermanfaat, shadaqoh jariyah dan anak shalih yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya.” Jelas Arif.
“Kita sama-sama tahu diri. Sebagai anak, tentu kita belum dan bahkan tidak bisa membalas semua pengorbanan orang tua kita.” sambungnya.
                Dadan mulai menyimak penjelasan Arif dengan seksama. “Lalu, dengan apa kita membalas mereka Rif?” Dadan semakin penasaran.
                “Tentunya, dengan menjadi anak shalih yang selalu mendo’akan mereka,” jawab Arif dengan mantap.
                “Bagaimana caranya itu Rif?” Dadan bertanya lagi.
                Arif tidak langsung menjawab pertanyaan Dadan. Ia pun melepaskan jabatan tangannya, kemudian merangkul bahu Dadan seraya menepuknya pelan. Kemudian menatap wajah Dadan dengan penuh senyuman.
Arif lalu berkata,“InsyaAllah, caranya dengan kita  taat sepenuhnya kepada Allah. Kemudian berdo’a memintakan ampunan dan kebaikan untuk kedua orang tua kita.”
                Dadan pun diam termenung, apa yang disampaikan Arif ini seolah baru saja ia dengar. Selama ini ia hanya berpikir bahwa hanya uanglah yang dapat membalas setiap pengorbanan orang tuanya. Karena itulah, ia bermimpi bisa kerja di tempat yang enak dengan gaji yang tinggi. Kemudian, ia bahagiakan ayahnya yang setiap hari membanting tulang untuknya.
“Sudah dulu ya Dan, kasihan ayahmu di rumah menunggu.” ucap Arif memecah kesunyian. “Jangan lupa, salam buat ayahmu ya..., nanti kapan-kapan aku mampir ke rumahmu, “ lanjutnya.
                “Eh iya Rif, makasih ya atas ilmunya,” jawab Dadan.
                Arif tersenyum, lalu berkata, “iya, sama-sama, assalamu’alaikum...”.
Setelah mengucapkan salam yang kedua kalinya, Arif langsung mengangkat kembali meja yang tadi ia turunkan sejenak.  
                “Wa ‘alaikum salam..”, Jawab Dadan seraya menatap Arif yang pergi meninggalkannya.
Dadan pun mengayuh sepedanya menjauhi gerbang sekolah.
                Sepanjang perjalanan Dadan terus saja berpikir, ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
                “Arif...Arif, sungguh polos sekali sikapmu,“ Gumam Dadan. “Tetapi, mengapa aku mesti berdusta ya?” Dadan bertanya berkali-kali di dalam hati.
Di tengah kayuhan sepedanya, hati Dadan terus saja dipenuhi pertanyaan atas sikap dirinya sendiri. Sampai-sampai terbersit sebuah pertanyaan, sampai kapan ia akan menghindari ajakan Arif. Padahal selama ini ia sering merasakan kegelisahan dalam hidupnya. Pikirannya terus saja menerawang. hingga ia tak lagi fokus ke jalan yang sedang dilaluinya.
“TEET !” Sebuah klakson mobil mengagetkannya. “Sialan Lu ! Naik sepeda makin ke tengah saja!” umpat pengemudi mobil truk tak bermuatan yang melaju kencang.
Dadan sungguh kaget, sepeda yang dinaikinya langsung oleng ke arah selokan pinggir jalan. Tapi, untung saja ia masih bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Jantung Dadan berdegup kencang, wajahnya putih memucat pasi seakan darah di wajahnya hilang menguap. Sungguh ngeri membayangkan jika dirinya tersenggol truk yang melaju kencang tadi.  
Dadan diam sebentar, ia masih memegang sepedanya. Termenung di pinggir jalan, ia semakin teringat setiap perkataan Arif. Bagaikan menyusun puzzle, pikirannya menyusun setiap langkah perjalanan hidupnya. Dadan terus saja berpikir.
“Selama ini aku selalu merepotkan orang tuaku,” pikirnya.
“Bagaimana aku bisa beramal jariyah untuk mereka, sedangkan aku selalu menjauhi agama?” Tanyanya dalam hati.
Susunan puzzle pengalaman hidupnya ia susun dalam benak. Termasuk kejadian yang barusan hampir mencelakainya. Lalu, ia berkata, “Aku harus berubah! Kapan lagi jika bukan sekarang, mumpung aku belum mati !”
Di tengah perhentiannya itu, Dadan lalu memutar sepedanya kembali ke arah sekolah. Seraya berucap mantap, “Bismillah!”

-------------------------------------

Kamis, 29 Oktober 2015

Makna Oportunistik Terorisme

Makna Oportunistik Terorisme
Duarrr!  Bom meledak di Mall Alam Sutera. Para pengamat 'profesional' langsung berkomentar. Topik utama pembicaraan langsung seputar terorisme dan ancaman nyatanya. Bahkan tak jarang dibumbui dengan kemungkinan jaringan anu dan anu. Bila ternyata pelakunya muslim, akan ramailah pemberitaan tentangnya, seolah tuduhan terorisme menemukan muaranya. Akan tetapi, jika pelakunya bukan muslim, lama kelamaan tuduhan itu akan menghilang, seiring berita yang tenggelam (baca: ditenggelamkan).

Bom yang dijuluki The Mother Of Satan ini, bagaikan pembalik atas berbagai makar dan tuduhan yang mengindentikkan terorisme dengan Islam. Terduga lone wolf bomber yang bernama Leopard, ternyata seorang non muslim. Padahal sebelum pelakunya tertangkap, kicau opini sudah ke sana ke mari, wira wiri menuduh teroris itu dan ini.

Istilah teroris dan/atau terorisme sudah memiliki makna oportunistik. Makna yang hanya berpijak pada kepentingan tertentu, dan tidak berpijak pada prinsip yang tetap. Karena, jika kita mengikuti alur berpikir para pemberi istilahnya. Misal, karena motifnya pemerasan maka kasus bom Mall Alam Sutera tidak bisa dikategorikan teroris. Kemudian pelaku yang tidak memiliki motif politis. Kita tentu bertanya, bagaimana dengan gerombolan OPM? bukankah mereka bersenjata dan memiliki motif politis yang utama? Tetapi sampai sekarang pun pemerintah RI tidak pernah mengkategorikannya sebagai tindakan terorisme. Meskipun sudah banyak korban akibatnya dan menimbulkan teror tersendiri di tengah masyarakat.

Adapun jika yang dipakai standar dalam penggunaan istilah terorisme adalah tingkat kengerian dan jumlah korban. Tentunya agresi AS ke dunia Islam, merupakan kejahatan yang mengerikan dan paling banyak memakan korban. Tetapi, pemerintah RI tidak berani mengkategorikan AS sebagai negara teroris, malah bermesraan dan memfasilitasinya untuk memeras SDA dan SDM negeri ini.

Makna oportunistik terorisme ditarik ulur hanya untuk menyudutkan Islam dan kaum muslim, bukan yang lain. Buktinya, lihat saja barang bukti yang sering ditampilkan dalam penangkapan para terduga teroris, biasanya buku-buku atau kitab yang berlatar belakang Islam. Istilah-istilah yang dilekatkan pun selalu diidentikkan dengan berbagai istilah yang ada di dalam Al Quran, mulai dari Jihad, Fai sampai ke Thaghut.

Makar ini tentu tidak terlepas dari ketakutan Barat terhadap Islam dan kaum muslim. Terutama, kaum muslim yang sangat muak dengan penjajahan AS. Atau kaum muslim yang mencari solusi atas derita negeri, seraya mengajak masyarakat untuk kembali meniti aturan Ilahi. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

Ary Herawan
www.aryherawan.blogspot.com.

Tulisanku Malam Ini

Tulisanku Malam Ini
(Menulis Apapun selama 30 menit)

Malam ini, entah apa yang akan kutuliskan. Namun, ini adalah bentuk komitmenku pada tujuan, komitmenku pada program Sang Pembelajar. Program yang aku canangkan sendiri untuk diriku. Meskipun waktu telah menunjukkan jam 22.48 wib, tetapi utang waktuku pada programku masih tersisa. Yakni, muroja’ah hafalan dan menulis selama 30 menit. Oleh karena itulah, apapun harus aku tulis. Inilah realisasi dari program menulis apapun selama 30 menit. Karena kita tidak menulis karena kita ingin menulis, tetapi kita menulis karena kita harus menulis.
Sebenarnya, ingin sekali diri ini mengkritisi pengesahan RUU Pengupahan. Karena bila ditelaah, pengesahan RUU tersebut hanyalah program itu melanggengkan dominasi para kapital (pemilik modal), tentunya siapa di balik mereka kita pun tahu, tiada lain adalah para pemodal asing. Selain itu, ingin juga menulis tentang kunjungan Jokowi ke AS. Sungguh terang-terangan presiden AS Barrack Obama mengatakan bahwa pertemuan itu lebih untuk kepentingan AS. Sudah nyata seperti itu, kok sampai didatangi segala.
Ada juga fakta tentang pemberian sumbangan dari AS lebih dari 2 milyar untuk menangani kebakaran lahan. Ingin juga mengkritisinya sebagai bagian dari membongkar makar penjajah. Bagaimana AS terlihat sok peduli lingkungan, padahal pada kenyataannya. Negara-negara besarah yang banyak melakukan perusakan lingkungan.  Bahkan mereka membuat program jual beli karbon untuk menyeimbangkan lingkungan. Mereka buang emisi karbonnya secara bebas, biarlah negara berkembang dan miskin yang melakukan penanaman guna mengurangi emisi karbon.
Di benak ini, terlintas juga untuk menyelesaikan cerpen tentang “Aku dan Sepeda Baruku”, atau “Secercah Hidayah di Surau Sekolah”. Namun, seolah ada hambatan dari mana memulainya. Seperti mood dan tidak mood itu tidak bisa diciptakan. Memang benar, apa yang saya kutip dari bukunya Much. Khoiri, kita tidak menulis karena kita ingin menulis. Buktinya, ingin menulis ini, ingin menulis itu, tetapi tidak ada satu pun yang ditulis. Akan tetapi, tulisan ini ditulis dengan penekanan bahwa aku harus menulis. Terbukti, jadilah tulisan ini.
Tulisan ini sengaja mengalir begitu saja. Saya ingin tahu sejauh mana saya bisa bertahan menulis apapun selama 30 menit. Masa iya yang buat program tetapi tidak bisa menjalankannya. Padahal tadi malam program menulis apapun selama 30 menit, saya lewatkan begitu saja. Begitu pula upload  tulisan ke blog pribadi, terlewatkan sekali (dari target 2 hari sekali).
Sebenarnya, malu juga kepada diri sendiri. Terutama jika membaca buku-buku yang mengajak pada kehidupan liberal (serba bebas). Diri ini belum mampu membantahnya dengan menerbitkan buku juga. Seperti beberapa hari yang lalu di perpustakaan sekolah, menemukan buku yang isinya penuh dengan sinkretisme, pluralisme dan gaya hidup bebas. Kesel sih, tapi mengapa aku belum bisa bikin yang lebih bagus dari mereka? Itulah yang kerap jadi pertanyaan. Oleh karena itu, jawabannya tidak lain adalah aku harus menulis apapun selama 30 menit sehari. Supaya aku menjadi terlatih dan bisa juga menerbitkan buku tahun depan. aamiiin.  
Akhir tulisan ini, saya mohon maaf karena ngantuk sudah mendera. Semoga kita bertemu di puncak kesuksesan. Aamiiin. (Ary Herawan, 29/10/2015)

Senin, 26 Oktober 2015

Perjuangan Menulis bagi Seorang Muslim

Menjadi penulis membutuhkan perjuangan, tentunya. Namun sungguh sia-sia jika perjuangan hanya berakhir menjadi tumpukan dokumen semata. Tidak mencerahkan, menggugah dan mengajak orang untuk berubah ke arah yang lebih baik. Atau bahkan sebaliknya –dan ini jauh lebih berbahaya- mengajak orang untuk bermaksiat, berbuat jahat dan berubah ke arah yang lebih buruk.

Menulis hanyalah menuangkan ide dan gagasan yang tersimpan di otak. Otak bagaikan teko, jika diisi teh manis maka ia akan mengeluarkan teh manis. Sebaliknya jika diisi teh beracun, ia pun akan mengeluarkan teh beracun. Otak yang diisi dengan informasi-informasi yang benar, tentu akan mengalirkan tulisan yang tidak hanya baik, tetapi juga mampu memperbaiki.

Kebenaran asasi bukanlah sesuatu yang subjektif, bahkan ia adalah sesuatu yang objektif. Kebenaran asasi berpijak pada aqidah. Berpijak pada jawaban atas pertanyaan mendasar manusia, mengenai dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup di dunia dan mau kemanakah setelah hidup ini.

Bagi seorang yang berpikir secara cemerlang, tidak ada jawaban yang menenteramkan hati dan akal selain jawaban Islam. Yaitu, hidup ini berasal dari Allah Swt sebagai Al Khaliq. Hidup manusia hanya untuk beribadah (tunduk patuh) kepada Allah Swt. Kemudian setelah kehidupan ini berakhir, kita akan kembali kepada Allah Swt, mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita.1)

Sungguh sia-sia jika manusia berjuang di dalam hidupnya, tetapi bukan untuk mengabdi kepada Allah Swt. Ia akan mengorbankan setiap waktunya, detik demi detik, menit demi menit sampai ke tahun demi tahun untuk sesuatu yang tidak jelas. Sungguh ia akan merugi 2). Oleh karena itu, seluruh aktifitas hendaklah menjadi perjuangan untuk taat kepada-Nya, tak terkecuali aktifitas menulis.

Saat ini berseliweran ajakan kemaksiatan, kekufuran dan kemusyrikan yang dibungkus dengan tulisan yang menyenangkan. Renyah dan enak dibaca, mampu menghanyutkan para pembaca untuk mengikutinya.

Pemahaman komunisme, sekulerisme, liberalisme sampai Nazisme pun semakin banyak dituliskan. Tentunya, ia siap mengisi benak orang-orang yang haus akan pengetahuan, umumnya adalah kalangan terpelajar. Sungguh besar pengaruh para penulis. Sesuatu yang sangat beralasan, jika negara penjajah AS secara rutin mengundang para penulis dunia lewat Program Menulis Internasional yang dipusatkan di University of Lowa. Salah seorang panitia program tersebut pernah mengatakan, mengundang satu penulis lebih beruntung daripada sepuluh orang bukan penulis.3)

Para pejuang Islam pun tak boleh ketinggalan. Tanpa menafikan keutamaan kontak intensif dengan objek dakwah, menulis pun bisa menjadi senjata perang pemikiran. Sebagaimana kita baca dalam sejarah, salah satu faktor kemunduran Islam adalah masuknya pemahaman filsafat, dan itu masuk ke benak kaum muslim melalui tulisan-tulisan yang diterjemahkan. Begitupun sebaliknya, kitab-kitab tulisan para ulama salaf (terdahulu) telah terbukti berpengaruh besar terhadap dakwah Islam di Nusantara.

Ijtihad dan pemikiran para muassis gerakan Islam juga banyak terlestarikan melalui kitab dan tulisan. Ada Syaikh Hasan Al Bana, Syaikh Yusuf Al Kandahlawi, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, Syaikh Sayyid Quthb dan masih banyak lagi yang lainnya (semoga Allah Swt merahmati mereka. aamiiin), buah pikiran mereka masih menginspirasi umat sampai saat ini. Banyak orang yang telah tercerahkan, kemudian berubah lebih baik setelah mempelajari buku-buku mereka, hatta setelah mereka wafat sekalipun. Nampaklah keistimewaan sebuah tulisan, perjuangannya bisa melewati batas umur para penulisnya.

Aktifitas menulis memang membutuhkan perjuangan. Tetapi, selayaknya perjuangan menulis itu adalah demi perjuangan itu sendiri. Yakni, perjuangan membongkar ide-ide busuk, serta agitasi dan provokasi terhadap kemaksiatan. Dan tak kalah pentingnya, perjuangan untuk mempropagandakan Islam, bukan yang lain. #YukMenulis #YukNgaji.

Catatan Kaki:
1) Untuk lebih jelasnya pembahasan paragrap ini bisa membuka tulisan Saya “Simpul Besar Manusia dalam Surat Al Infithar” dan “Berpikirlah! maka Kita akan Menjadi yang Utama” di www.aryherawan.blogspot.com
2)  Lih. QS. Al Ashr
3)  Much. Khoiri. Rahasia Top Menulis. 2014. 

Minggu, 25 Oktober 2015

Menumbuhkan Cinta Menulis

Mencintai pekerjaan adalah sesuatu hal yang sangat penting, begitulah pandangan keumuman kita. Bahkan, keahlian seseorang seringkali dihubungkan dengan kecintaannya pada suatu pekerjaan. Mencintai terlebih dulu pekerjaannya, barulah ada garansi untuk menjadi ahli karenanya.

Dunia menulis pun tak luput dari pandangan tersebut. Untuk menjadi penulis, biasanya kita menghubungkannya dengan kecintaan seseorang terhadap aktifitas menulis. Misal, ketika seseorang suka menulis sedari kecil, disimpulkanlah bahwa ia berbakat menjadi seorang penulis. Benarkah mesti demikian adanya?

Penulis tidak membantah adanya kesukaan seseorang terhadap menulis sedari kecil. Mungkin memang benar demikian adanya. Penulis pun tak menampik bahwa mencintai menulis adalah sesuatu yang penting. Karena, cinta menulis akan membuat kita enjoy bersamanya. Namun, penulis kurang setuju jika cinta menulis merupakan bakat bawaan sedari lahir. Sehingga, ia tak bisa disemai dan ditumbuhkan.

Ada dua hal pokok yang bisa menumbuhkan cinta menulis. Yang pertama, cinta menulis bisa disemai dari motivasi utama. Seorang penulis dan penyair muda, Apu Indragiry, sering menekankan pentingnya “AMBAK” bagi seorang penulis. “AMBAK” adalah akronim dari “Apa manfaatnya bagiku?” (“Apa manfaat menulis bagiku?” , pen.). “AMBAK” akan menjadi motivasi utama bagi seorang penulis. Karena fitrah naluriah manusia, mencintai setiap apa yang bermanfaat baginya. Karena itulah, jika kita ingin mencintai menulis maka kita mesti menemukan “AMBAK” kita. “AMBAK” bisa dituliskan, lalu ditempelkan di tempat yang sering kita lihat. Dan yang lebih utama adalah simpan “AMBAK” itu di dalam pikiran dan hati kita, lalu kita zoom hal itu setiap saat. 

Adapun yang kedua, penulis teringat akan sebuah pepatah Jawa “Witing tresno jalaran soko kulino”, yang artinya “cinta muncul karena sering bertemu.” Bila kita cermati pepatah ini, cinta memang sering muncul dari tingginya kuantitas pertemuan. Sehingga, jika kita ingin mencintai menulis, kita harus sering ‘bertemu’ dengannya. Misal, kita buat program rutin “menulis apapun setiap hari” selama 30 menit. Tanpa perlu berpikir teori dan struktur kalimat, pokoknya menulis apapun. Bisa berupa puisi, cerpen, pengalaman pribadi atau artikel dan opini, pokoknya apapun yang mengharuskan kita untuk menulis. Sarana menulis yang dipakai pun bebas kita pilih, bisa dengan pulpen, HP ataupun netbook. Yang penting bagi kita adalah ‘bertemu’ dengan menulis.

Dengan program rutin “menulis apapun setiap hari”, kita akan diharuskan menulis. Somerset Maugham menegaskan, “We do not write because we want to; we write because we have to.” (Kita tidak menulis karena kita ingin menulis; kita menulis karena kita harus menulis!). (Much. Khoiri, 2014).

InsyaAllah, dua hal pokok tersebut akan menumbuhkan cinta menulis. Ketika cinta menulis telah tumbuh, menjadi penulis profesional pun akan selangkah lebih mudah. Semoga. #Yuk Menulis.

(Ary Herawan, Penulis adalah Guru SMKN Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya dan Peserta Akademi Menulis Kreatif)

Jumat, 23 Oktober 2015

Al Haqiiqah dan Al Majaz

(Makna Hakiki dan Majazi dalam Bahasa Arab)1)

Inilah penjelasan mengenai makna hakiki dan majazi yang penulis kutip dari kitab At-Taysiir fii Ushuli t-tafsiir.2) hal. 16-17.  Al ‘alim Atha Ibnu Khalil Abu Ar-Rasytah rahimahullahu ta’ala menjelaskan sebagai berikut :

Dengan menelaah bahasa Arab yang telah dibakukan, jelaslah bahwa sumber-sumber Arab menyebutkan dan mengartikan lafadz-lafadz mereka dalam empat jenis3) :

Pertama, Al-Haqiiqah, yang terdiri dari tiga bentuk :
    a. Al-Haqiiqah Al-lughawiyyah: Yakni, makna yang ditempatkan untuk suatu lafadz berdasarkan asal penempatannya dalam bahasa Arab. Seperti lafadz ra’sun untuk manusia atau hewan adalah bagian tubuh yang paling atas.

  b. Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah:  Yakni, makna yang ditransformasikan terhadap suatu lafadz berdasarkan penggunaan ‘urf (adat/kebiasaan) Arab, sebagai pengganti makna yang ditempatkan sebagai asalnya. Seperti penyebutan lafadz Ad-Daabbah untuk setiap yang berjalan dengan empat kaki berdasarkan ‘urf (adat/kebiasaan). Merupakan pengganti makna bahasa, atas “setiap yang merayap di muka bumi”. Maka penggunaan kalimat Ad-Daabbah merupakan Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah untuk hewan yang berkaki empat. Ini dinamakan Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah Al-‘ammah, yakni berdasarkan adat/kebiasaan Arab secara umum.
Ada pula Al-Haqiiqah Al-‘urfiyyah Al-‘khashshah dalam istilah para sastrawan, seperti penggunaan lafadz al-faa’il terhadap siapapun/apapun yang disandarkan perbuatan terhadapnya (pelaku perbuatan) di kalangan ulama nahwu.

  c. Al-Haqiiqah Asy-syar’iyyah: Yakni, makna yang ditransformasikan untuk suatu lafadz berdasarkan syara’. Seperti lafadz ash-sholat untuk ucapan dan aktifitas yang khusus, sebagai pengganti makna bahasa yang berarti do’a.

Kedua, Al-Majaaz
Al-Majaaz adalah mengabaikan al-haqiiqah (makna hakiki) dalam penggunaan lafadz. Makna lain yang digunakan selain makna hakiki berdasarkan qarinah (indikasi) berikut :

     a.  Terdapat penghalang untuk menggunakan makna hakiki karena suatu hubungan (‘alaqoh)
Dinamakan majaz mursal apabila hubungannya tidah mempunyai persamaan, seperti “yaj’aluuna ashoobi’ahum fii aadzaanihim” (Al Baqarah : 19). Maka penyebutan keseluruhan (al ‘ashoobi/jari-jemari’), sedangkan yang dimaksud adalah sebagian ujung jari. Hal ini dinamakan al ‘alaqoh al kulliyyah.
Dinamakan Majaz aqli apabila hubungannya itu tidak disandarkan pada selain hakikat. Misal dalam kalimat “Bana al-amiiru l-madiinah” (Sang pemimpin telah membangun kota). Kegiatan membangun kota disandarkan kepada al-amiir (Pemimpin), padahal nyatanya kegiatan pembangunan tidak dilakukan oleh pemimpin tersebut.
Kemudian dinamakan Isti’aaroh jika ada hubungan persamaan. Misal dalam kalimat “sho’udat ila ro’si l-jabali” (naik ke puncak gunung). Penyebutan al-ro’su (kepala) untuk bagian teratas gunung sama dengan penyebutan al-ro’su (kepala) secara hakiki, yaitu bagian teratas badan.
Adanya indikasi dalam semua kalimat tersebut mencegah maksud makna aslinya. Jari-jemari tidak masuk ke telinga seluruhnya, Sang Pemimpin pun tidak terjun langsung membangun kota serta gunung tidak memiliki kepala.   

     b.  Tidak terdapat penghalang untuk menggunakan makna hakiki.
Hal ini dinamakan Al-kinayah (metomini terj.). Contohnya kalimat (na’uumu adl-dluha) sebagai kinayah terhadap pemudi yang dimanja dan dilayani di rumahnya. Dalam hal ini, tidak ada indikasi yang menghalangi maksud makna hakikinya, karena pemudi tersebut bisa jadi benar-benar tidur di waktu dluha.

Diterjemahkan oleh Ary Herawan, 11 Muharram 1437 H.
  1. Judul bukanlah terjemahan, judul bab dalam kitab aslinya adalah Al lughatu l-Arabiyyah.
  2. Kitab Tafsir karya Asy-Syaikh Al ‘Alim ‘Atha Ibnu Khalil Abu Al-Rasytah (Amir Hizbut Tahrir saat ini), Darul Umah, Beirut, 2006 (ed. Mu’tamadah).
  3. Dua jenis lafadz lainnya, yaitu Al Isytiqoq dan at-Ta’rib, insyaAllah akan diterjemahkan kemudian.

Kamis, 22 Oktober 2015

Aktifitas Jihad Wali Songo

Para pengusung Islam Nusantara sering mempropagandakan bahwa Wali Songo hanya berdakwah melalui budaya. Ternyata pernyataan itu tidak sepenuhnya benar, bahkan cenderung menutup-nutupi aktifitas jihad para Wali Songo. Aktifitas jihad Wali Songo tercatat di dalam sejarah. Di antaranya dalam pertempuran Kesultanan Demak Bintoro yang dipimpin oleh Sultan Fattah (Raden Fatah), melawan sisa pasukan Mojopahit yang dipimpin Girindro Wardhono.
Pada tahun 1481 M, pasukan gabungan dengan jumlah yang besar dipersiapkan oleh Sultan Fattah. Strategi yang digunakan adalah Supit Urang (mengepung kekuatan musuh dari berbagai penjuru). Sunan Kudus diangkat menjadi Senopati Manggolo Yudho (Panglima Tertinggi). Beliau bersenjata keris yang bernama Ciptoko atau Cintoko dan memiliki dua panji berwarna hijau. Para wali lainnya yang ikut dalam perang ini adalah Sunan Mejagung, Sunan Giri (Raden Paku) dan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).
Jumlah seluruh prajurit mencapai 9.100 prajurit. Terdiri dari 40 prajurit dari Campha, 7 prajurit dari Mejagung, 40 santri dari Sunan Gunung Jati, 7 prajurit dari Gunung Srandil, Syaikh Maulana Maghribi membantu dengan mengirimkan 7 prajurit berpengalaman dari Andalusia. Sunan Kalijogo membantu 40 prajurit, 7 prajurit dari Malaka, 40 prajurit dari Pasai, 40 prajurit dari Ponorogo, 40 prajurit dari Aceh, 7 prajurit dari Sukadana, dan 8.000 prajurit dari Demak serta daerah lain. Senjata yang digunakan adalah pedang, keris serta panah api yang dibawa oleh kesatuan Surogeni yang bermarkas di Suregenen.1)
Sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Rasulullah, para Shahabatnya dan juga para pemimpin terbaik kaum muslimin. Bahwasanya tiada kekuatan dan kemenangan selain karena pertolongan Allah Swt semata. Sunan Kudus memerintahkan pasukannya untuk menunaikan shalat jamaah terlebih dahulu, yang kemudian dilanjutkan dengan berdoa memohon kemenangan kepada-Nya.
Strategi yang digunakan untuk menggentarkan musuh saat itu, mirip dengan strategi Khalid bin Walid r.a. ketika menghadapi pasukan Romawi dalam perang Mu’tah.2) Atas nasihat Sunan Kalijaga, pasukan dipencarkan menjadi kelompok-kelompok kecil yang banyak. Masing-masing kelompok menyalakan api unggun, sehingga pasukan kaum muslim terkesan amat banyak. Pasukan Mojopahit pun menjadi gentar melihatnya.
Pertempuran antara pasukan Islam Demak dan Pasukan Girindro Wardhono berlangsung dahsyat. Melihat pasukan kaum muslim yang tampak banyak, pasukan Mojopahit kocar-kacir melarikan diri. Sunan Kudus memerintahkan pasukannya untuk mengejar musuh yang lari ke arah timur. Ketika sampai di Trowulan, ternyata kota tersebut telah dikosongkan. Sehingga dengan leluasa pasukan Demak mengumpulkan semua pusaka Mojopahit lalu memboyongnya ke Demak sebagai harta rampasan perang.3)
Para wali pun berperan dalam persiapan aktifitas jihad pasukan kaum muslim. Jajaran komandan tertinggi militer kesultanan Demak juga pernah dijabat oleh para Sunan. Di antaranya adalah Sunan Ngudung dan Sunan Kudus. Pada saat Sunan Kudus menjadi Senopati, pasukan dibagi menjadi dua, yaitu pejalan kaki dan pasukan berkuda. Sunan Kudus merekrut prajurit yang tangguh dengan seleksi yang ketat. Menurut Babad Mojopahit dan Babad Para Wali Jilid 3 hal. 19-204), seleksi prajurit dilakukan di alun-alun depan Masjid Agung Demak pada setiap pagi. Kyai Patih Wonossalam menguji setiap calon yang akan direkrut menjadi prawiro tamtomo diadu dengan seekor banteng. Jika calon prajurit dapat mengalahkannya tanpa senjata, maka ia akan diterima menjadi prawiro tamtomo.
Itulah bukti bahwa adanya aktifitas jihad yang dilakukan oleh para wali. Jadi, kurang tepat jika dikatakan bahwa para wali hanya melakukan pendekatan budaya semata. Terbukti, mereka pun melakukan aktifitas Jihad secara serius untuk mempertahankan kekuasaan Islam, serta memperluas penyebarannya. (22/10/2015)
(Ary Herawan, pengelola www.aryherawan.blogspot.com)

Sumber Bacaan :
   1)   Lih. Rachmad Abdullah. Sultan Fattah. Al Wafi. Solo. 2015. hal 89.
   2)   Lih. Taqiyuddin An Nabhani. Ad Daulah Al Islamiyyah (Negara Islam, terj.). Pada Bab Perang      Mu’tah.
   3)   Rachmad Abdullah. Sultan Fattah. Al Wafi. Solo. 2015. hal 89. hal. 90

   4)   Idem, hal. 140   

Selasa, 20 Oktober 2015

SEMARAK HIJRIYAH

Peringatan tahun baru hijriyah belakangan ini semakin semarak. Jauh lebih semarak dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Tiap kota dan Kabupaten di Jawa Barat mengadakan pawai obor dan berbagai perlombaan. Tentu tujuannya adalah supaya umat Islam mengenal tahun baru Islam. Karena memang kita akui, mayoritas umat Islam lebih banyak mengenal penanggalan masehi dibandingkan hijriyah.
Berbagai maksud baik dalam rangka tahun baru hijriyah patut diapresiasi. Akan tetapi, semarak kegiatan tahun baru hijriyah tidak boleh membuat kita melupakan maknanya.

Penamaan bulan qomariah memang sudah ada sebelum Nabi Muhammad Saw diutus. Akan tetapi, perhitungan tahun hijriyah ditetapkan setelahnya, yakni pada masa Khalifah Umar bin Al Khaththab r.a. Umar menetapkan tahun pertama hijriyah bertepatan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw. Sebuah peristiwa yang sangat berharga dalam rangkaian sejarah dakwah Islam.

Rasulullah Saw berangkat hijrah pada malam 27 Shafar tahun ke-14 kenabian, atau bertepatan dengan 12 September 622 M. Rasulullah Saw hijrah ditemani shahabat Abu Bakar Ashshiddiq r.a. Mereka berdua sampai di Madinah pada hari Jum’at 12 Rabi’ul Awwal 1 H, setelah sebelumnya singgah di Quba pada hari Senin 8 Rabi’ul Awwal 1 H. Masyarakat madinah menyambutnya dengan semarak dan penuh antusias. Hampir tiap hari mereka memandangi padang pasir yang luas, menanti-nanti Nabi sekaligus pemimpin yang sangat mereka cintai.

Semarak kaum mukmin pada masa itu sangatlah sarat makna. Kegembiraan mereka terpancar dari keceriaan wajah, tutur kata dan bait-bait syair yang dilantunkannya. “Bulan purnama telah menyinari kita. Dari Tsaniyatul Wada’. Wajiblah kita lantunkan syukur. Selama ada yang mengajak kepada Allah. Wahai orang yang diutus kepada kami. Engkau telah membawa perkara yang ditaati. Kesemarakan yang terlahir karena rasa syukur. Setelah lama mereka larut dalam kehidupan jahilyyah, datanglah Rasulullah Saw. Utusan Allah sekaligus pemimpin yang mengajak Iman kepada Allah Swt, serta taat kepada-Nya.

Tidak hanya kaum Anshar, kaum Muhajirin pun menyambut perintah hijrah ini dengan banyak pengorbanan. Ummu Salamah yang terpisah lebih dari setahun dengan suami dan putrinya. Kemudian Ayyasy yang dijebak dan ditahan di Makkah selama 2 tahun. Pengorbanan Abu Bakar Ashshiddiq yang menemani perjalanan hijrah Rasulullah Saw. Atau Shuhaib bin Sinan Ar Rumi yang meninggalkan seluruh hartanya, kemudian berhijrah hanya dengan jubah yang dipakainya. Sampai turun firman Allah Swt mengenainya, yang artinya : “dan di antara manusia, ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (TQS. Al Baqarah[2] : 207). Sungguh perniagaan yang sangat menguntungkan.

Hijrah Rasulullah Saw dan kaum Muhajirin semarak syukur atas Iman serta ketaatan kepada Allah Swt. Karena itulah, kaum Muhajirin dan Anshar sangat menikmati setiap perjuangan dan pengorbanan karenanya. Setelah hijrah, wahyu Allah yang telah turun, diterapkan menjadi hukum positif di masyarakat. Adapun yang turun setelahnya, diterapkan secara langsung tanpa menunda-nunda.

Hijrah merupakan momentum penting rangkaian dakwah Rasulullah Saw. Ketika sebelum hijrah, benteng keimanan kaum muslim hanyalah dirinya sendiri. Sehingga, tak sedikit kaum muslim yang disiksa, bahkan dibunuh hanya karena agamanya. Setelah hijrah, masyarakat dan negara pun menjadi benteng penjaga keimanan. Karenanya Islam benar-benar terjaga dari berbagai penodaan terhadapnya. Ketika sebelum hijrah, Rasulullah mengecam kebiasaan maksiat, misal kebiasaan berbuat curang kaum jahiliyyah secara lisan semata (lih. Q.S. Al Mutahffifin). Setelah hijrah, Rasulullah Saw menerapkan sistem ekonomi Islam secara utuh. Bahkan, Rasulullah pun mengangkat para qadli hisbah, serta melakukan inspeksi ke pasar untuk mencegah berbagai praktek kecurangan. Sebelum hijrah, posisi Rasulullah Saw tidak diindahkan. Setelah hijrah, orang kafir di Madinah pun tunduk dan patuh kepadanya, beliau menjadi pemutus berbagai perselisihan di tengah masyarakat. Sebelum hijrah, kaum muslim diboikot dan diembargo. Setelah hijrah kaum muslim memiliki wilayah kekuasaan yang terus meluas seiring menyebarnya dakwah Islam. Setelah hijrah, dengan penerapan hukum Allah secara sempurna, kaum muslim memiliki izzah (kemuliaan).

Islam tidak hanya sekedar konsep yang dapat dibaca dalam Al Quran, namun teraplikasi sampai metode teknis pelaksanaannya. Setelah menjadi pemimpin di Madinah, beliau Saw menerapkan aturan dengan wahyu sebagai rujukan. Rasulullah Saw mengangkat para wali (pemimpin setara gubernur), menyiapkan pasukan, mengurus pengelolaan sumber daya alam. Beliau saw pun menyiapkan para tabib, pendidik, para tentara, para penarik zakat dan sebagainya.

Hijrah Rasulullah menjadi momentum transformasi masyarakat, dari yang ahli maksiat menjadi ahli taat. Setelah 13 tahun Rasulullah dan para shahabat menghela perubahan ke arah Islam dengan perjuangan dan pengorbanan. Mulai dari waktu, tenaga, harta dan kedudukan, bahkan nyawa karena kedzaliman penguasa Makkah pada saat itu. Akhirnya, kaum muslim mendapatkan pertolongan Allah Swt melalui kaum Anshar. Oleh karena itu, luapan semarak syukur kaum Muhajirin dan Anshar sungguh tak terkira. Pada hari itu, bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah Swt.

Mari kita bandingkan dengan semarak peringatan tahun baru hijriyah yang kita lakukan saat ini. Sudahkah kita semarak bergembira karena hukum Allah Swt diterapkan sempurna. Ataukah kita bersukacita hanya karena isi acara yang penuh hiburan dan hadiah semata. Tentu kita bisa menjawabnya dengan hati yang jujur. Tentunya, peringatan tahun baru hijriyah bukanlah pawai obor semata, tetapi sejauh mana perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Dan bagi kaum mukmin, tidak ada yang lebih baik daripada diterapkannya hukum Allah Swt secara sistemik dan paripurna. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

Minggu, 18 Oktober 2015

#Secercah Hidayah di Surau Sekolah# 2

(Cerita Fiksi)

Ajakan yang Menggelisahkan

“Teeet....!” Bel sekolah berbunyi.
Siswa dan siswi SMA Sambongpari Kota Tasikmalaya berhamburan keluar, tak terkecuali Dadan.
   “Aduh, panas sekali hari ini!” Keluhnya. “Tapi, ndak apalah, ada Nasi Padang kesukaanku menanti di rumah, “ ia menghibur dirinya.
Tak terasa, air liurnya hampir saja menetes, membayangkan Nasi Padang kesukaannya. Suasana yang panas terik seakan langsung menjadi adem. Musim kemarau belakangan ini, memang membuat cuaca di Kota Resik menjadi terasa lebih panas dari biasanya.

Dadan langsung menuju ke halaman sebelah barat sekolah. Tempat ia biasa menyimpan sepedanya.
Sesaat sebelum beranjak pergi dengan sepeda merahnya, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil.
“Hei..., hei...!”
Dadan berhenti, menolehkan wajah ke arah orang yang memanggilnya.
“Oh, ya. Kamu memanggilku?” Tanya Dadan. Kedua alisnya mengangkat dengan dahi mengerut.  Terlihat di hadapannya seorang siswa yang berpakaian dengan sangat rapih.
Belum sempat siswa tersebut menjawab. Dadan masih bertanya lagi.
“Ada perlu apa Rif?” Lanjut Dadan. Ia memang mengenali siswa tersebut, karena ia teman satu kelasnya.
“Iya, manggil kamu dong Dan.“ Jawab Arif. “Tak kirain kamu belum kenal aku?” Tanya Arif dengan penuh senyuman.
“Masa sih aku ga kenal kamu.” Jawab Dadan dengan membalas senyuman Arif.
“Kamu kan yang kemarin ikut lomba pidato SMA tingkat Kota Tasikmalaya itu kan?” Tanya Dadan.
“Masa ga kenal, kan beberapa kali kamu dipanggil keluar kelas oleh Pak Randi.” Jelasnya.
“Oh iya ya...,” Jawab Arif malu-malu. Ia tak menyangka, jika siswa baru pendiam ini mengenali dirinya.
“Pak Randi memanggilku berkali-kali untuk latihan pidato di ruang guru”, Arif melanjutkan ucapannya.
“Terus gimana, menang lomba pidatonya?” Tanya Dadan penasaran, seraya kembali berjalan pelan sambil mendorong sepedanya.
Dengan tersenyum lebar, Arif menjawab, “Alhamdulillah, dapat pengalaman berharga.”
Arif berjalan mengiringi Dadan.
“Juara berapa?” Dadan penasaran.
“Belum...” Arif berhenti sejenak. “Peserta lain banyak yang jauh lebih bagus dariku. Tapi aku senang kok.” Jelas Arif.
“Ga juara kok senang...” Dadan menimpalinya dengan agak ketus.
Arif tersenyum, lalu berkata, “Dan, Allah Swt itu tidak hanya melihat hasil. Tetapi Ia juga menilai prosesnya.”
Dadan termenung dengan penjelasan Arif, ia belum memahaminya.
“Maksudnya gimana Rif?” Obrolan mereka semakin akrab, Dadan seakan mulai lupa dengan Nasi Padangnya.
“Iya, dalam pandangan manusia, apa yang aku lakukan mungkin tidak ada hasilnya.” Jawab Arif. “Tetapi selama aku menjalani proses persiapan, latihan kemudian pidato ketika lomba. Allah pasti melihatnya.” Lanjutnya.
Dadan mendengarkan ucapan Arif dengan seksama.
“Dan InsyaAllah, Allah yang akan menilainya. Adapun hasil, itu sudah merupakan Taqdir.” Jelas Arif. “Kita harus qonaah” Lanjutnya. Tangan Arif mulai beraksi, bak Pak Randi ketika menjelaskan materi Pelajaran Agama Islam.
“Wah..ga ngerti aku. Apa itu taqdir dan qonaah” Dadan mengernyitkan dahi, pertanda ia serius menyimak. Ingin sekali ia banyak berbicara dengan Arif, tapi perutnya mulai terasa lapar.
“Eh, tapi kamu tadi manggil aku untuk apa?” Tanya Dadan kembali ke pencetus obrolan akrab mereka.
“Oh iya ya,” Kata Arif sambil garuk-garuk dan tersenyum. “Besok, Rohis mau mengadakan acara pengajian dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam. Kamu hadir ya?” Arif bertanya sambil memegang pundak Dadan. Anak ini memang suka sok akrab, tetapi biasanya orang suka luluh dengan ajakannya.
“Kamu kan belum aktif di eks kul manapun. Ayolah, bantu-bantu di Rohis.” Arif melanjutkan ajakannya.
“Deg !”, Jantung Dadan serasa berhenti berdetak. Dadan tiba-tiba terdiam. Ia malah mempercepat langkah menuju gerbang sekolah.
“Kenapa kamu tiba-tiba diam Dan?” Arif keheranan. “Aku minta maaf ya, jika ada kata-kataku yang menyinggungmu.” Arif menjadi kikuk dengan perilaku Dadan.
“Ga, ga apa-apa kok Rif.” Jawab Dadan singkat.
Arif semakin penasaran, “Oh ya sudah jika ga ada apa-apa, tapi kamu bisa hadir kan?” Tanya Arif.
“Eh...eh...” Mulut Dadan terkatup kelu. Serasa berat untuk berucap. Tetapi obrolan akrab mereka sedari tadi, membuyarkan keraguan Dadan untuk menjawab pertanyaan Arif.
“Aku sebetulnya malu.” Jawab Dadan pelan.
“Malu kenapa Dan?” Arif semakin penasaran.
“Aku...aku....” Lidah Dadan terasa keras, tenggorokannya pun laksana tersekat benda padat. Dengan sangat pelan, Dadan menjelaskan berkata : “Aku tidak bisa membaca Al Quran.”
Wajah Dadan memerah, tampak sekali ia malu karena pengakuannya.
Arif mengerti dengan kondisi lawan bicaranya. Ia pun berusaha membesarkan hati Dadan.
“Oh, besok itu hanya acara pengajian kok Dan.” Jelas Arif. “Tidak ada tes baca tulis Al Quran. Lanjutnya sambil mengusap-usap punggung temannya. Dengan tersenyum, Arif melanjutkan penjelasannya,
“Kita hanya duduk dan mendengarkan saja kok Dan. Tidak lebih dari itu.” Ucap Arif.
“Jadi, kamu bisa hadir ya?” Tanya Arif kembali.
“Beneran Rif, tidak akan disuruh membaca Al Quran?” Dadan seolah tidak percaya.
“Insya Allah, pasti tidak ada. Aku jamin. Kan aku ketua panitianya.” Jawab Arif.
Dadan sebetulnya tetap malu untuk hadir. Karena, selain tidak bisa membaca Al Quran. Ia juga sudah lupa kapan terakhir ia melaksanakan shalat. Seingatnya, ia terakhir shalat pada saat akan diwisuda TPA, sekitar 5 tahun yang lalu, itu juga karena acaranya di samping masjid. Sehingga, banyak sekali bacaan-bacaan shalat yang sudah ia lupakan. Akan tetapi, ia tidak enak juga jika harus menolak ajakan Arif. Masa untuk duduk dan mendengarkan saja ia tidak mau hadir.
Melihat temannya kebingungan, Arif lalu berkata, “Dan, semua manusia itu menjalani proses. Dan Allah Swt pasti menilai semua prosesnya.”
Kata-kata ini bukan datang dari seorang Jamil Azzaini atau seorang Mario Teguh, atau para motivator tingkat nasional lainnya. Tetapi, tutur kata Arif yang tenang membuat kalimat itu serasa penuh makna. Hati Dadan pun luluh untuk menerima ajakan Arif.
“Iya deh, aku pasti hadir.” Jawab Dadan. “Tapi...” Lanjutnya dengan ragu.
“Tapi apa Dan?” Tanya Arif.
“Beneran tidak akan disuruh membaca Al Quran ya?” Tanya Dadan belum yakin.
“InsyaAllah..., tidak akan, aku jamin....” Arif menjawabnya dengan penuh keyakinan.

======