Kamis, 16 November 2017

Nasihat Aqiqah (2)

Nak, hidup itu selalu berkaitan dengan pengorbanan. Mau menjadi mukmin maupun kafir. Mau jadi ahli taat maupun ahli maksiat. Semuanya butuh pengorbanan. Namun demikian, semua pengorbanan itu tentu akan ada balasan serta nilainya. Dan kita berharap, pengorbanan kita akan selalu berbalas keridloan dan bernilai pahala dari Allah Swt. Aamiin.

Pada waktunya nanti, kamu akan mendengarkan atau membaca kisah tentang bagaimana kerja kerasnya Raja Namruz untuk memerangi agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim a.s. Kamu juga akan mengetahui bagaimana kisah pengorbanan tenaga, pikiran dan harta Fir'aun untuk memerangi Nabi Musa a.s. Begitu pula pengorbanan pasukan raja lalim Ashabul Ukhdud untuk membungkam keimanan rakyatnya.

Selain itu, kamu pula pasti akan mendengar kisah tentang pengorbanan pikiran, tenaga, waktu serta harta dari tokoh semisal Abu Jahal, Abu Lahab dan Umayah dalam memerangi Islam. Atau pula pengorbanan seorang tokoh Yahudi Huyai bin Akhtab dalam memusuhi Rasulullah di Madinah. Bahkan ketika dieksekusi oleh Rasulullah Saw., tak ada sedikit pun penyesalan terucap dari mulutnya. Malahan dengan sikap sok ksatria, ia berkata kepada Rasulullah Saw:

"Demi Allah, aku sedikit pun tidak menyesal karena memusuhimu. Namun siapa pun yang dikalahkan Allah, pasti kalah."

Kemudian ia berkata kepada semua yang hadir,
"Wahai kalian semua, tidaklah mengapa dengan putusan Allah. Taqdir, qadar dan pembantaian sudah ditetapkan Allah untuk Bani Israil."

Akan tetapi, kamu tak perlu kagum sedikit pun terhadap pengorbanan mereka. Karena pengorbanan mereka adalah pengorbanan yang akan berbalas murka dan bernilai siksa dari Allah Swt.

Anakku, engkau hanya perlu kagum atas pengorbanan para Nabi, para sahabat, kaum mukmin, orang-orang shalih, para syuhada dan shiddiqin dalam menggenggam ketaatan kepada Allah Swt. Karena pengorbanan mereka-lah pengorbanan yang benar.

Oleh karena itulah, kami ingin menyambut kelahiranmu dengan sebuah pengorbanan. Pengorbanan yang disunnahkan oleh Allah Swt, ibadah aqiqah namanya. Dengan diawali kalimah basmalah, hamdalah, syahadat serta shalawat; Diiringi dengan takbir, dengan nama Allah, disembelihlah hewan aqiqah dari Shofiyya Dinuha Lillah binti Ary.

Kami berharap, semoga Allah Swt menerima pengorbanan ini dan membimbingmu menjadi wanita shalihah, yang selalu siap berkorban menuju ridlo Allah Ta'ala serta menjadikanmu menjadi seorang yang "murni agamanya karena Allah Swt semata." Aamiin.

Robbana hablana min azwajina wa min dzurriyatina qurrota a'yunin waj'alna lil muttaqina imaman. Aamiin. 

#Aqiqah

Rabu, 15 November 2017

Shofiyya

Menyebut namanya, teringat akan seorang muslimah keturunan para Nabi nan berhati mulia. Suaminya adalah Rasulullah Saw, kakek buyut atau leluhurnya adalah Nabi Harun a.s. dan paman buyutnya adalah Nabi Musa a.s. Menurut Imam Adz-Dzahabi, nama lengkapnya adalah Shofiyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa'yah, keturunan Al Lawi bin nabi Israil bin Ishaq bin Ibrahim.
Shofiyah r.a. berasal dari Yahudi Khaibar. Ayahnya merupakan tokoh Yahudi Khaibar dan ibunya keturunan Bani Quraidzah. Meskipun demikian, kecerdasannya telah mengantarkannya menuju hidayah Islam. Sebelum dinikahi oleh Rasulullah Saw, ia pernah bermimpi seakan bulan jatuh ke dalam kamarnya. Mimpi yang hampir sama dengan yang pernah dialami oleh istri pertama Rasulullah Saw, Khadijah r.a.
Al Hafidz Abu Nu'aim berkata bahwa Shofiyah merupakan wanita yang bertaqwa, suci dan selalu menitikkan air mata. Kemudian menurut Adz-Dzahabi, Shofiyah merupakan wanita mulia, berakal, keturunan bangsawan, cantik dan taat beragama.
Secara bahasa, arti namanya adalah suci atau murni.
Merujuk pada akar katanya, yakni "Shofa". Nama ini juga mengingatkan al faqir pada sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad Hawari, yang merupakan syarah dari kitab "Attakattul Hizbi" karangan syaikh Taqiyuddin An Nabhani rahimahullahu ta'ala.
Syaikh Muhammad Hawari menjelaskan bahwa pemikiran Islam itu membutuhkan "Shifa" (pemurnian). Yang dimaksud oleh beliau bahwa shifa bermakna "wudluh ar ru'yah" (gamblang), yakni bahwa keterkaitan pemikiran tersebut dan dasar (aqidah)-nya dapat dipahami dengan jelas. Sehingga setiap hukum syariah yang didakwahkan harus berkaitan dengan dalil yang membangunnya. Oleh karena itu, Shofiyyah bisa bermakna wanita yang mengemban pemikiran islami yang jelas dalil dan sumbernya.
Di masa depan, saat Islam berkuasa, banyak dibutuhkan perempuan pendidik yang bertaqwa, cerdas serta mengemban pemikiran Islam yang murni dan gamblang. Karena kekuatan Islam terletak pada kemurnian pemikirannya. Pemikiran yang hanya bersumber pada aqidah Islam dan tidak tercampuri pemikiran-pemikiran asing di luar Islam.
Semoga akan banyak terlahir para muslimah yang murni agamanya karena Allah semata, dan engkau merupakan salah satunya, Shofiyya Dinuha Lillah.
Allohumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in. Aamiin.

Nak, inilah dunia. InsyaAllah, kelak di masamu timur hingga ke baratnya serta utara sampai ke selatannya, akan dikuasai oleh kaum muslim.
Allah Swt akan memuliakan Islam dan kaum muslim dengan tegaknya kembali hukum-hukum Allah Swt. Engkau adalah muslimah pendidik generasi para pembebas dan para mujahid, pencetak para ulama dan mujtahid serta penyokong para ilmuwan dan pemikir Islam.
Allah Swt akan menghinakan kekufuran dan mengantarkan para pemeluknya ke dalam Islam secara berbondong-bondong. Dan Allah Swt Maha Menepati janji dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Nak, kemurnian pemikiranmu yang terpancar dari aqidah Islamiyyah akan dibutuhkan umat manusia. Lakukanlah karena Allah Ta'ala semata. Karena, #MasaDepanMilikIslam.

Senin, 13 November 2017

Antara Ulama dan Umala

Ulama itu mulia bukan karena keilmuannya, apalagi hanya berdasarkan kebangsaannya. Namun berdasarkan ketakutannya kepada Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ [فاطر:٢٨].
Artinya: 
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hambanya, hanyalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa Maha Pengampun."
(TQS. Fathir:  28)


Para mufassir berkata bahwa tidaklah takut kepada Allah ta'ala dengan sebenar-benarnya takut, terkecuali para ulama yang mengenali-Nya dengan sebenar-benarnya.

Imam Ibnu Katsir berkata, yakni orang-orang yang mengenal Allah. Karena sesungguhnya semakin ma'rifat terhadap (Allah) Al-Adzim Al-Qadim, keyakinan terhadap-Nya pun akan lebih sempurna dan ketakutan kepada-Nya akan lebih besar dan lebih banyak.

Senada dengan yang dijelaskan oleh Imam Al Qurthubi, bahwa ayat ini berkaitan dengan para ulama yang takut terhadap kuasa-Nya. Orang yang percaya bahwasanya Allah azza wajalla Maha Kuasa, serta yakin bahwa Allah akan menyiksanya karena kemaksiatannya.

Adapun Shahabat Rasullullah Saw, ketika menjelaskan ayat ini, yang pertama Ibnu Abbas r.a. beliau berkata: "(yakni) orang-orang yang meyakini bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." Yang kedua, Anas bin Malik r.a. , berkata: "Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka ia bukanlah orang 'alim (kata tunggal dari ulama, pen.). Yang ketiga, Ibnu Mas'ud r.a. berkata: "Cukuplah ketakutan kepada Allah ta'ala sebagai ilmu."

Begitulah ulama, mereka mulia bukan karena ilmunya semata, apalagi karena suku bangsanya, tetapi jauh lebih utama dari itu. Yakni, karena ketakutannya kepada Allah Swt.

Jika seorang yang dipandang ulama sudah tidak takut kepada Allah, maka ia mudah terjatuh menjadi 'umala (para agen/pekerja). Yang digerakkan oleh uang atau orang yang membayarnya dan bukan oleh ketakutan kepada Allah Swt. Apalagi kalau yang mempekerjakannya adalah orang-orang kafir atau para kapitalis penjajah, maka terhinalah ia menjadi umala-ul musta'mar (para agen/pekerja penjajah).

Wallohu a'lamu bishshowwaab.

Minggu, 12 November 2017

Nak, Jangan Menyekutukan Allah!

Anakku,
Saat engkau membaca surat cinta ini semoga engkau selalu dalam curahan rahmat dan maghfirah Allah Swt. Ayah menulis surat ini di masa-masa penuh fitnah; iman dan kafir menjadi samar; serta perbedaan tauhid dan syirik pun telah mengabur. Umat Islam berada di masa yang seperti digambarkan dalam hadits Rasulullah Saw. Ia bagaikan hidangan lezat di hadapan orang-orang yang lapar. Namun demikian, ayah dan ibumu tetap penuh dengan harapan bahwa masa depan adalah milik Islam dan kaum muslim. Oleh karena itulah, ayah sengaja menulis surat cinta ini sebagai petuah yang diambil dari seorang ahli hikmah ketika mendidik anaknya.

Anakku,
Janganlah engkau menyekutukan Allah Swt dengan sesuatu apapun, karena sesungguhnya syirik itu kedzaliman yang sangat besar. Ingatlah Nak, manusia bangkit dan terpuruk tergantung kepada pemikiran asasinya, tergantung pada bagaimana ia memandang hidup ini. Yakni tentang dari mana ia, alam semesta dan kehidupan ini berasal, untuk apakah semua ini ada dan akan ke manakah setelah semuanya berakhir.
Seluruh permasalahan yang akan engkau hadapi di dunia ini adalah semata karena engkau hidup. Jika engkau adalah tanah semata, niscaya engkau tidak akan pernah memiliki masalah. Oleh karena itulah, masalah utama yang sebenarnya engkau hadapi adalah masalah tentang hidup ini. Andaikan saja engkau tiba-tiba terbangun di hutan belantara yang asing dengan berbagai fasilitas yang lengkap, tentu engkau akan bertanya “mengapa aku ada disini? Untuk apa aku ada di sini? Dan akan ke manakah aku setelah dari sini?”

Anakku,
Pandanglah dirimu serta segala sesuatu yang ada di sekitarmu. Kita memiliki mata, namun mata kita memiliki keterbatasan dalam memandang; kita memiliki tubuh, namun tubuh kita akan berujung pada kerapuhan, kerusakan dan kematian; bahkan kita memiliki akal, namun akal kita tak mampu konsisten menilai sebuah kebaikan dan keburukan, ia mudah berubah karena manfaat. Pandanglah gunung yang tinggi menjulang, bumi yang terhampar, laut yang membiru, matahari yang cerah bersinar, bulan yang indah merona, bintang-bintang yang gemerlap memesona serta berbagai benda langit di angkasa. Semuanya ternyata memiliki keterbatasan. Gunung bisa mudah terguncang, laut tak pernah bisa melawan angin, bumi tak bisa berputar balik, matahari tak bisa melawan malam, bulan dan bintang pun tak pernah bisa melawan siang, semua benda langit tunduk pada suatu aturan. Jelaslah, semuanya merupakan kumpulan benda-benda yang lemah dan terbatas.
Begitu pula jika kita berpikir tentang kehidupan, ia selalu terbatas pada satu individu. Kamu adalah kamu, aku adalah aku dan si fulan adalah si fulan. Semuanya memiliki kehidupan sendiri yang terbatas pada dirinya semata. Kehidupan pun lemah dan terbatas.
Jika manusia, kehidupan dan alam semesta ini terbatas, hal itu berarti semuanya menyandarkan keberadaannya pada sesuatu yang bersifat tidak terbatas. Dia-lah Sang Pencipta, yang telah menciptakan semuanya dari tiada menjadi ada. Dan Dia adalah Allah Swt, bukan yang lain.
“Katakanlah: "Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah [adalah Tuhan] yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya". (TQS. Al Ikhlash : 1-4)

Anakku,
Ikrimah menjelaskan bahwa ketika orang-orang Yahudi berkata, "Kami menyembah Uzair anak Allah." Dan orang-orang Nasrani mengatakan, "Kami menyembah Al-Masih putra Allah." Dan orang-orang Majusi mengatakan, "Kami menyembah matahari dan bulan." Dan orang-orang musyrik mengatakan.”Kami menyembah berhala." Maka Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya:
 {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}
Seluruh kehidupan ini diciptakan oleh Allah Swt. Allah Ta’ala, Dia-lah Maha Pencipta yang memiliki sifat Wajibul Wujud dan Azali (tidak berawal dan tidak berakhir).
Semua makhluk bersandar kepada-Nya dan Dia tidak bersandar kepada apapun dan siapapun. Oleh karena itulah, beribadah kepada-Nya merupakan sebuah fitrah insan dan taat kepada-Nya merupakan sebuah kemestian. Ketika hal ini diyakini dan dilaksanakan, akan terurailah semua persoalan hidupmu. Semua masalah hidupmu akan terjawab hanya dengan memutlakkan ketaatan kepada-Nya.
Ketika manusia meyakini ada Pencipta selain-Nya, maka dapat dipastikan bahwa ia berada dalam kesalahan. Sungguh, jika ada dua atau lebih pencipta di dunia ini maka akan hancur dan luluh lantaklah dunia ini. Karena akan terjadi persaingan di antara tuhan-tuhan. Oleh karena itu, Pencipta itu hanyalah satu, Dia-lah Allah Swt Yang Maha Esa. Beribadahlah hanya kepada-Nya dan mengharap perhitungan-Nya, janganlah engkau menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Anakku,
Menyekutukan Allah Swt dengan selain-Nya tidak hanya terjadi pada aktifitas ritual. Ketika manusia meyakini bahwa ada ketetapan lain yang lebih baik daripada ketetapan Allah Swt pun, bisa terjebak dalam perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Sebagaimana ketika Rasulullah Saw membacakan ayat berikut di hadapan Adi bin Hatim (saat belum masuk Islam), 

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah serta mempertuhankan al-Masih putra Maryam. Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan..” (QS.Attaubah[9]:31)
Adi bin Hatim menyanggah Rasulullah SAW dengan mengatakan :

إنهم لم يعبدوهم. فقال: "بلى، إنهم حرموا عليهم الحلال، وأحلوا (2) لهم الحرام، فاتبعوهم، فذلك عبادتهم إياهم

“Sesungguhnya mereka (Yahudi dan Nasrani) tidak menyembah mereka (para pendeta dan rahib)”. Maka Rasulullah SAW menjawab : “Sesungguhnya mereka (para pendeta dan rahib) mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Kemudian mereka (Yahudi dan Nasrani) mengikutinya, itulah penyembahan mereka terhadap para pendeta dan rahib mereka.”.

Pentahbisan pendeta dan rahib sebagai tuhan-tuhan tidak dalam konteks penyembahan, namun dalam konteks ketaatan mereka kepada pendeta dan rahib mereka dalam penetapan halal dan haram (menetapkan hukum). Mereka menjadikan pendapat pribadi pendeta dan rahib sebagai untuk menetapkan halal dan haram, padahal bertentangan dengan ketetapan Allah Swt.
Sebagaimana yang ditegaskan oleh Asy-Syaukani bahwa sesungguhnya mereka menaati pendeta-pendeta mereka, dalam perintah dan larangannya. Pendeta-pendeta itu menempati kedudukan sebagai tuhan-tuhan karena mereka ditaati sebagaimana layaknya tuhan-tuhan.
Allah SWT mencela orang Yahudi dan Nasrani yang memperlakukan para pendeta dan rahib sebagai pembuat hukum. Tindakan mereka itu dikategorikan menyekutukan Allah Swt. Ditegaskan dalam frasa “Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” Sebab, hanya Allah-lah yang memiliki wewenang untuk menetapkan halal dan haram. Kita sebagai manusia hanya memahami dari apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah Swt.

Anakku,
Tiada lagi harapan dalam iman jika telah tercampur dengan syirik. Karena syirik akan menumbuhkan amal yang berpijak bukan karena Allah Swt, namun karena sesuatu yang selain-Nya. Seluruh amal pun akan menjadi rusak. Begitu pula apabila pertimbangan baik dan buruk disandarkan kepada selain perintah dan larangan Allah Swt, akan rusaklah kehidupan manusia. Pertimbangan manfaat dan keuntungan sesaat akan mendominasi setiap keputusan yang diambil, bukan lagi pertimbangan ridla dan murka Allah Swt terhadapnya. Hukum rimba akan berlaku di antara manusia. Maka demi kepentingan sesaat, manusia yang kuat akan mendominasi dan mengeksploitasi orang yang lemah di antara mereka. Karena itulah anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah Swt. Sesungguhnya perbuatan syirik merupakan kezaliman yang sangat besar.

Menghindarkan Krisis Identitas Anak

Siapapun yang tak mengenal tuhannya, ia tidak akan mengenal dirinya. Begitu pula ketika seseorang tak mengenal orientasi hidupnya, ia akan kehilangan arah hidupnya dan terombang-ambing menjadi sampah peradaban. Terhempas arus ke sana ke mari, kemana angin bertiup ke sanalah ia akan berlabuh. Tak punya kendali dan peta hidup, ke manakah biduknya akan ia labuhkan. Karena itulah, kita harus menghindarkan anak-anak kita dari bahaya krisis identitas seraya memiliki orientasi hidup yang jelas.
Agar anak-anak kita memiliki #orientasi_hidup, ada 3 langkah yang bisa dilakukan oleh orang tua, yaitu:
#Pertama, berikanlah kasih sayang terlebih dahulu.
Sempatkan waktu untuk bercanda bersama mereka. Sehingga mereka memahami bahwa kita menyayangi mereka. Sebagaimana Rasulullah Saw pun mencurahkan kasih sayang terhadap anak-anak.
#Kedua, rangsang mereka untuk berpikir.
Ajaklah mereka untuk melihat kenyataan dunia. Rangsanglah mereka untuk ikut andil memberikan solusi. Arahkan mereka untuk memberikan solusi berdasarkan daya penggerak yang bersifat ruhani dan bukan semata bersifat pragmatis materialistis.
#Ketiga, agar visioner rangsanglah mereka agar menjadi manusia idealis.
Agar idealisme mereka tak membuatnya menarik diri dari kehidupan, kita perlu mengajak mereka mendiskusikan fakta atau realitas yang ada. Ajaklah mereka untuk berpikir bahwa hukum Allah Swt atasnya tak berubah sedikit pun. Hukum Allah adalah solusi semua masalah hidup manusia, dan penerapan seluruh hukum-Nya akan menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Dengan demikian, anak-anak kita akan mengenal dirinya sebagai #hambaAllah dan akan terhindar dari #krisis_identitas. Wallahu a'lamu bishshawwaab.

Para Pahlawan

Tertatih kaki menggusur lelah
Peluh keringat bercucuran sudah
Menyiram luka yang merekah
Melelehkan merahnya darah
Meski luka bertambah parah
Para pahlawan tak surut langkah
Angkat senjata usir penjajah
Gemakan takbir, Jihad fi sabilillah
Menerjang peluru bertameng dada
Lawan para penjajah durjana
Bebaskan negeri Indonesia
Songsong predikat syuhada
Maut menjemput di pertempuran
Syahadah terakhir terucap lisan
Tersenyum penuh kebahagiaan
Penduduk langit pun memberi sambutan
Wahai para pahlawan
Tekadmu telah terpatri iman
Juangmu berpedoman Al Quran
Bagimu, hanya Allah-lah sebagai tujuan
(Ary H. – 16 Dzulqo’dah 1437 H)

Ditinggal Anak Mencari Ilmu

Nak,
Jika cintaku tak sedang menyertaimu, yakinlah kalau cinta-Nya selalu membersamai para pencari ilmu.
Nak,
Jika sayang ini tak sedang kau nikmati, yakinlah bahwa Allah mencurahkan rahmat di setiap majelis yang mengingat-Nya.
Nak,
Naluriah orang tua sama denganmu, namun ia mestilah terkendali. Ketika kau bisa menjadi pengendalinya, maka ia akan menjadi potensimu dalam menjalankan misi insani meraih visi menuju Ilahi.
Nak,
Yakinlah engkau tak bersendiri, doa kami semoga engkau menjadi generasi peneduh mata.
Engkau terlahir untuk masa depan, dan masa depan adalah milik Islam dan umatnya. Sedari sekarang engkau berbekal, maka engkau akan menjadi pemimpin dan pendidik para pemimpin di masa datang. Aamiin.

Nasihat Aqiqah

Nak, mencukur rambutmu adalah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Betapapun lebat, hitam dan indah rambutmu, namun Allah Swt memerintahkan kami untuk mencukurnya.
Nak, jika kita taat kepada-Nya, Dia pasti akan segera menggantinya dengan yang lebih baik. Massa rambutmu akan menjadi ukuran, tentang berapa nilai sedekah yang akan kami keluarkan atas namamu.
Sekali lagi, kamu belajar tentang kehidupan. Bahwa di dunia ini tiada yang abadi. Sebagus apapun milik kita, sebanyak apapun itu, jika Allah Swt menghendaki, semua dapat rusak dan hilang seketika. Kita sebagai makhluk tak bisa lari dari ketetapan Allah Ta'ala. Kita mesti belajar qana'ah dan taat kepada-Nya.
Kelak ketika engkau sudah bisa membedakan baik dan buruk. Karena engkau seorang perempuan maka rambutmu adalah salah satu auratmu, yang harus kamu tutupi ketika engkau berada di ruang publik. Selembar saja rambutmu terlihat di ruang publik, Allah pasti murka. Padahal, kepada siapakah kita bergantung jika bukan kepada-Nya?
Karena itulah, belajar menapaki sunnah, belajar qana'ah serta belajar taat kepada Allah. Itulah yang hendak kami ajarkan kepadamu. Jika kelak kamu sudah besar, kamu pun bisa mengajarkan kembali kepada kami. Karena keluarga itu harus saling menjaga, mengingatkan dan menasihati.
Nak, salam dari kami untukmu. Selamat dunia dan akhiratmu. Aamiin.

Senin, 11 September 2017

Mengakhiri Derita

Derita umat ini bukan hanya Rohingya
Ada Palestina, Afghanistan, Suriah,
Irak, Xinjiang, Ethiopia, Yaman, 
Dan negeri-negeri terjajah lainnya
Membuat air mata seolah tiada keringnya
Bumi pun membasah karena darah
Luka lama bertambah parah
Luka baru datang bertambah
Dan terus bertambah
Bermula dari melemahnya aqidah
Merambah pada pengabaian syariah
Lalu berujung pada penghapusan khilafah
Negeri Islam menjadi hidangan mewah
Bancakan para penjajah
Belum lagi dengan eksploitasi via ekonomi
Dengan cekikan dan jeratan utang ribawi
Pajak semakin meninggi dari hari ke hari
Kaum asing pendatang bermodal tinggi
Berduyun-duyun menggeser pemilik negeri
Tak ada perisai laksana Abu Bakar Sang Khalifah
Tak ada perisai laksana Umar Abu Hafshah
Tak ada perisai laksana Mu'tashim Billah
Tak ada perisai laksana Abdul Majid yang bermarwah
Menjaga aqidah,
Menjaga setiap jengkal negeri dengan penuh izzah
Negeriku negeri Islam
Negeri untuk seluruh umat
Aturan syariah yang penuh rahmat
Khilafah untuk keadilan seluruh rakyat
Tanpa ada paksaan dan tanpa penindasan
Berbagai keyakinan hidup berkeadilan
Ketika darah kaum muslim akan terjaga
Darah kafir ahlu dzimmah pun haram dinoda
Semua hidup di bawah aturan Sang Pencipta
Tanpa penjajahan sesama manusia
Rohingya membuka mata
Sungguh penghalang kita adalah pikiran kita
Ketika setiap bangsa merasa mulia
Serta berharkat jika menginjak selainnya
Sampai kapankah kita terinjak?
atau ingin jadi penginjak?
Apabila terus demikian adanya
Rohingya bukanlah yang terakhir
Mari akhiri derita umat yang terjajah
Dengan khilafah yang menerapkan syariah

Bacaan Surat Pendek Pak Ustadz


“Idza jaa’a nashrullah..!” teriak anak-anak kecil yang berjamaah maghrib di shaf bagian belakang.

Mereka mendahului imam yang masih membaca basmallah sebakda ucapan “Aamiin” para jamaah. Anak-anak seolah sudah mengetahui surat apa yang akan dibaca oleh imam. Ternyata benar, setelah membaca basmallah, imam pun membaca surat yang ditebak oleh anak-anak. Surat An Nashr, surat nomor 110 dalam Al Quran yang terdiri dari 3 ayat.

Aku yang berada di belakang imam pun menduga hal yang sama. Pasti Ust. Salim akan membaca surat tersebut. Kadang aku berpikir, mengapa setiap berjamaah shalat Maghrib, beliau selalu membaca surat tersebut pada raka’at pertama.

“Mengapa ya Ron, Ust. Salim selalu membaca surat tersebut?” Tanyaku kepada Roni, temanku yang sama-sama aktif di Ikatan Remaja Masjid Al Ihsan. Masjid di mana Ust. Salim sering mengimami shalat Maghrib. Imam di masjidku memang ada tiga orang. Ust. Hafidz mengimami shalat Shubuh, Ust. Salim untuk Maghrib dan Isya adapun Ust. Shadiq mengimami Dzuhur dan Ashar.

“Aku juga ga tahu, Dul. Bahkan aku juga bertanya-tanya sama sepertimu.”

“Mengapa ya? Padahal hapalan surat Ust. Salim kan lumayan banyak.”

“Mengapa hanya surat itu saja yang sering beliau baca ketika rakaat shalat Maghrib?”

“Iya, saking rutinnya beliau membaca surat tersebut. Anak-anak saja sampai bisa menebaknya.”

“Apa beliau sudah lupa surat-surat yang lain ya? Hal tersebut dibolehkan oleh Rasulullah atau tidak ya?

Aku dan Roni terus saja bertanya-tanya. Meskipun lama-lama aku berpikir, kok sepertinya pembicaraan kami semakin mengarah pada buruk sangka.

“Sudahlah Ron. Kita akhiri saja perbincangan ini. Ga baik juga kalau kita bertanya-tanya sendiri. Mendingan kita tanya langsung ke beliau, yuk!” Ajakku kepada Roni.

“Kamu saja Dul, aku ngga berani,” kilah Roni.

“Dasar kamu Ron, masak begitu saja ga berani?” tanyaku.

“Kan kamu juga yang bertanya-tanya sedari awal, kalau aku sih ga ada masalah,” jawab Roni.

“Lah, kamu ini. Tadi kamu bilang sama bertanya-tanya sepertiku. Sudahlah biarin saja, ga usah dipikirkan!”

“Ngapain juga nyari jawaban itu, mending kita nyari jawaban PR-nya pak Ahmad untuk dikumpul besok.”

“PR apa tuh?” tanyaku kepada Roni. Sungguh aku lupa kalau ada tugas rumah yang harus dikumpulkan besok.

”Itu, mencari dari manakah asal-usul istilah HOAX berasal. Harus dibuat dalam bentuk tulisan essai.” Jelas Roni.

“Oh yang itu ya? Waduh aku benar-benar lupa, aku pamit dulu ya,” pamitku seraya berlari meninggalkan Roni sendirian di pos Ronda.

Malam pun aku lalui dengan membuat essai untuk tugas pak Ahmad. Namun pikiranku tetap saja melayang ke surat An Nashr yang rutin dibaca Ust. Salim. Aku pun bertanya-tanya, bolehkah hal tersebut jika dilakukan secara terus-menerus. Bukankah surat-surat pendek yang lain pun masih banyak? Pikirku dalam hati. Sebenarnya aku sangat ingin menanyakannya kepada Ust. Salim, namun saat bertemu dengannya, melihat wajahnya saja aku sudah sungkan.

“Mak, boleh ga kalau kita hanya membaca surat tertentu di dalam shalat?” aku bertanya kepada Emak yang sedang menyetrika di kamar.

“Membaca surat tertentu bagaimana maksudmu, Nak?” Emak malah bertanya balik.

“Begini Mak, belakangan ini ust. Salim selalu saja membaca surat An Nashr ketika mengimami shalat Maghrib. Boleh ga Mak?” jelasku.

“Surat-surat pendek yang lain kan masih banyak Mak?” lanjutku.

“Oalah Nak! Itu toh maksudmu?” ujar Emak seraya terus melipat pakaian yang sudah rapih.

“Bukan oalah Mak, boleh ga Mak?” aku semakin penasaran.

“Setahu Emak sih boleh-boleh saja. Setelah membaca Al Fatihah, kita kan diperbolehkan membaca surat yang mudah untuk dibaca,” jelas Emak.

“Tapi, lebih baik kamu tanya sendiri sana ke Ust. Salim! Kan ilmu Emak juga terbatas. Emak ga pernah mesantren,” tutur Emak.

Begitulah sepenggal kisah pertanyaanku kepada Emak. Namun Emak memang tak sepintar pengisi acara “Mamah dan Aa”. Curhatku tak menemukan jawaban, malah tetap berujung pada pertanyaan. Emak malah berpendapat sama dengan Roni, menyuruhku langsung bertanya kepada Ust. Salim. Akhirnya, aku pun lanjut masuk kamar dengan tetap membawa pertanyaan. 

Hari demi hari berlalu, Ust. Salim tetap mengimami shalat Maghrib di masjid kami. Beliau pun tetap dengan surat An Nashr-nya di rakaat pertama. Namun aku tak mau terus menduga-duga. Aku mencari-cari kesempatan supaya bisa menanyakan hal tersebut kepada beliau. Akhirnya, aku pun mendapatkan kesempatan tersebut.

Setelah mengajar anak-anak Diniyah aku pun menunggu adzan Maghrib di dalam masjid. Ya beri’tikaf sejenaklah lumayan setengah jam, pikirku. Tak biasanya, Ust. Salim datang sekitar sepuluh menit sebelum adzan. Ketika melihat beliau masuk masjid, aku pun menyapa dan menyalaminya.

Sesaat sebelum beliau berlalu ke depan, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepadanya “Sebentar ustadz, bolehkah saya bertanya?”

“Oh, boleh saja?” Beliau pun langsung duduk bersender di dinding utara Masjid.

“Mau bertanya tentang apa?” Lanjut beliau.

“Begini ustadz, sebelumnya saya mohon maaf jika pertanyaan saya ini menyinggung pak Ustadz.

“Ga apa-apa Dul, tenang saja,” jawabnya seraya menatapku ramah.

“Pertanyaan ini sebetulnya sudah lama saya pendam, tetapi saya baru bisa menanyakannya kepada ustadz. Kebetulan ketemu ustadz sore ini di masjid,” jelasku agak panjang.

“Iya, pertanyaan apa? Ntar malah keburu waktu Maghrib tiba,” ucapnya.

“Oh iya, ya. Ini pak Ustadz…ehm…” bicaraku agak tersendat.

“Mengapa belakangan ini, pak Ustadz selalu membaca surat An Nashr dalam setiap rakaat pertama shalat Maghrib?” aku menyelingi pertanyaanku dengan senyuman.

“He..he…, maaf lho pak Ustadz. Saking seringnya dibaca, anak-anak sampai hafal.”

Ustadz Salim tak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak sembari tangannya sibuk menjumputi remah-remah sampah di karpet masjid. Begitulah kebiasaannya apabila sedang bicara santai. Sesekali, tangannya melemparkan remah-remah sampah itu ke luar jendela.

“Begini Dul. Bukankah lebih baik jika pengulangan bacaan itu membuat anak-anak menjadi hapal?”

“He..he..Iya sih pak Ustadz,” jawabku seraya tersenyum.

“Tapi, ga masalah ya pak Ustadz kalau kita membaca surat tersebut terus-terusan?” tanyaku kemudian.

“Begini Dul. Pada jaman Rasulullah Saw, ada seorang shahabat Anshar yang sering menjadi imam di masjid Quba. Setiap habis Al Fatihah, ia memulai bacaan surat pendeknya dengan surat Al Ikhlash. Para shahabat yang lain pun memprotesnya namun ia tetap pada pendiriannya. Permasalahan tersebut sampai kepada Rasulullah Saw. Beliau Saw kemudian bertanya kepada orang tersebut, “Hai, Fulan! Apakah yang menghalangimu untuk melaksanakan apa yang diminta oleh para shahabatmu? Dan apakah yang membuatmu selalu membaca surat ini (Al Ikhlash) dalam setiap raka’at?” Ia menjawab,”Sesungguhnya aku menyukainya (surat Al Ikhlash) wahai Rasulullah.” Maka Nabi Saw pun bersabda,”Sesungguhnya kesukaanmu kepadanya akan memasukkanmu ke dalam surga.”

“Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari rahimahullahu ta’ala di dalam bab menggabungkan antara dua surat dalam satu raka’at.” Jelas Ustadz Salim.

“Lalu, apa hubungannya pak Ustadz?” Tanyaku yang belum memahami penjelasan beliau.

“Sebentar Dul, satu lagi.”

“Imam al Bukhari pun meriwayatkan sebuah hadits dalam Kitab Tauhid. Bahwasanya Rasulullah Saw telah mengutus seseorang dalam sebuah sariyah (ekspedisi militer). Maka dia menutup surat pendeknya dengan membaca surat Al Ikhlash. Hal ini pun sampai kepada Rasulullah Saw, Beliau memerintahkan para shahabat untuk menanyakan alasannya. Para shahabat pun menanyakan hal tersebut kepadanya. Orang itu menjawab,“Karena ia (surat Al Ikhlash) merupakan sifat Ar Rahman dan aku suka membacanya.” Maka Nabi Saw bersabda,”sampaikanlah kepadanya, Allah menyukainya.” Jelas Ustadz Salim kemudian.

“Jadi, bagaimana pak Ustadz?”

“Dul, kamu tahu kandungan surat An-Nashr?”

“Iya pak Ustadz, tentang pertolongan Allah.”

“Kamu tahu kondisi kaum muslim saat ini. Palestina, Irak, Afghanistan, Suriah, dan…” suara Ust. Salim tercekat. Tiba-tiba ia diam dan menunduk.

”dan…,” air mata beliau menetes.

“yang menimpa Rohingya.”

Aku hanya bisa terdiam mendengarkannya dengan seksama.

”Belum lagi yang menimpa kaum muslim di negeri ini, kaum muslim hidup dalam keterpurukan yang sangat parah.”
“Bagi Bapak, Surat An-Nashr itu memberikan keyakinan dan pengharapan. Keyakinan akan pertolongan Allah, keyakinan akan keniscayaan kemenangan umat Islam di masa depan. Karena itulah Dul, Bapak sangat suka membacanya.”
“Dul, Allah Swt memerintahkan kita untuk meminta tolong kepadanya dengan sabar dan shalat. Bapak berharap, shalat Bapak bisa selalu menguatkan Bapak akan keyakinan terhadap pertolongan Allah Ta’ala.”

“dan…., insyaAllah Dul, kita harus menyambut pertolongan yang semakin dekat itu dengan usaha atau dakwah.” Pungkas Ust. Salim sembari menyeka lelahan air matanya.

Aku tak menyangka jawaban Ust. Salim akan sampai sedalam itu. Memang, jika menyaksikan berbagai tuduhan, berita miring serta ketidakadilan dunia terhadap umat Islam saat ini. Hatiku pun sering tercabik-cabik. Mengapa kaum muslim selalu menjadi pihak tertuduh. Namun, mengapa keyakinanku akan pertolongan Allah belum seyakin Ust. Salim. Ah, mungkin karena ilmuku yang masih terbatas. Sejak Maghrib itu, aku pun berjanji untuk mempelajari ilmu agama lebih serius lagi.

Maghrib itu, seakan aku baru mendengar surat An Nashr. Aku mendengarnya dengan sarat makna.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”                              (TQS. An Nashr: 1-3)

Diplomasi Mu'adz bin Jabal

Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Seperangkat aturan hidup yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, terbukti membawa keadilan untuk seluruh manusia. Oleh karena itu, pembebasan Islam ke berbagai wilayah di luar jazirah Arab saat itu, sekaligus menghapus penjajahan para penguasa terhadap orang-orang lemah di antara mereka.

Penindasan yang terjadi dalam sistem yang tidak islami bukan hanya menimpa kaum berbeda agama, bahkan kaum yang seagama pun tak luput dijadikan objek penindasan. Sebagaimana yang berlangsung dalam sistem kekaisaran Romawi selama berabad-abad.
Hal tersebut nampak dari diplomasi antara Muadz bin Jabal dengan para pembesar Romawi menjelang Perang Nakhl Baisan. Nakhl Baisan adalah sebuah desa di wilayah Syam, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Romawi.
Saat itu, Muadz bin Jabal menolak duduk bersama para pembesar Romawi di atas permadani. Muadz berkata dengan tegas,
"Aku menolak berjalan dengan angkuh di atas permadani ini, dan duduk dengan bantal-bantal empuk yang ia lebih kalian utamakan untuk diri sendiri daripada orang-orang lemah kalian yang seagama. Sungguh permadani-permadani itu hanya sebagian dari perhiasan dunia dan salah satu tipu dayanya. Allah telah merendahkan dan mencelanya di dunia dan melarang sikap berlebihan serta melampaui batas dalam hal yang demikian. Karena itu, biarlah aku duduk di lantai saja, dan silahkan kalian berbicara kepadaku."
MasyaAllah! sungguh menakjubkan diplomasi seorang Muadz. Kaum lemah yang tidak seagama pun menjadi objek perhatiannya, apalagi terhadap saudara seagama (sesama muslim), tentu akan lebih ia perhatikan.
Sedangkan kita saat ini disajikan pemandangan yang sungguh berbeda. Penguasa kaum muslim yang berdiplomasi duduk nyaman di atas kursi mewah, seraya menikmati berbagai jamuan dengan senyuman. Padahal yang ia temui adalah penguasa dan pendukung genosida terhadap saudara seagamanya (muslim) di Rohingya.
Jika demikian, sebenarnya penguasa kaum muslim tersebut sedang melobi atau justru sedang dilobi? Wallahu a'lamu bishshwwaab.

"Bunda, Mengapa Mereka Membenci Kita?"

Hafidz berlari dan terus berlari. Sendirian di tengah hutan rindang, yang ia ingat hanyalah pesan bundanya.

“Berlarilah, Nak! Berlarilah!” Teriak ibunda dengan suaranya yang sangat parau.
Sangat jauh ia meninggalkan Bunda yang terjatuh bersimbah darah. Kaki bundanya terkilir karena terantuk batu besar saat sedang berlari bersamanya. 

            “Bunda, Hafidz tidak mau berpisah dengan Bunda,” ucapnya seraya memeluk Bundanya yang jatuh tertelungkup. Tangan Hafidz membasah merah, meraba punggung Sang Bunda yang penuh dengan luka. Di depan mata kepalanya, beberapa orang botak yang kesetanan menyabetkan senjata tajam berkali-kali ke punggung bundanya hingga bajunya robek dan tembus hingga ke kulit. Sebelum berlari, bunda sempat melilitkan kerudung ke kepala hingga lehernya. Tak berpeniti. Membuatnya semakin terlihat acak-acakan tak karuan. Dalam luka, wajah Bunda masih tersenyum.

“Berlarilah, Hafidz! Berlarilah!” Teriak ibunda dengan suaranya yang sangat parau.

“Hanya engkau anggota keluarga yang tersisa, selamatkan dirimu, Nak!”

Hafidz terus memeluk bundanya. Ia usapkan tangannya berkali-kali ke bajunya. Ia tak mau bila luka Bundanya semakin perih karena tetesan keringat tangannya.

            “Bunda, Hafidz tak bisa hidup tanpa Bunda,” jawabnya lirih. 

Air matanya mengalir deras. Ia tak mampu lagi menahan tangis. Entah ini sudah merupakan tangisan yang ke berapa ratus kalinya. Hafidz memang masih sangat kecil. Usianya masih 7 tahun. Usia di mana anak-anak kita asyik main bersepeda di taman kota. Tentu tak terbayangkan jika ia harus hidup tak tentu arah di tengah hutan.

Namun ia sangat ketakutan. Di depan matanya, ayah dan kakaknya dibunuh secara sadis. Puluhan entah ratusan sayatan benda tajam mencincang ayah dan kakaknya. Padahal usia kakaknya pun tak terpaut jauh darinya. Haris, kakak Hafidz, masih berusia 9 tahun. Usia di mana anak-anak bersekolah. Akan tetapi, Haris tak pernah bersekolah. Sepanjang hidupnya, ia hanya mengenal belajar baca tulis Al Quran di Musholla kecil nan sederhana. Karena penguasa negeri itu sudah lama menutup akses pendidikan untuk Hafidz, keluarga serta para tetangganya. Jangankan pendidikan, akses kebutuhan pokok pun sangat sulit didapatkan.

Hafidz terus memeluk Bundanya, tangannya kirinya menggenggam erat tangan Sang Bunda. Sungguh ia tak mau berpisah. Namun ia ketakutan, orang-orang botak dan berseragam itu sangat membenci Hafidz, keluarganya serta para tetangganya. Seakan Hafidz dan teman-temannya adalah binatang hama yang harus segera dimusnahkan.     

                ”Bunda!” panggil Hafidz kepada Bundanya yang terlihat semakin lelah.

                “Iya Nak!” Jawab Bunda dengan tetap tersenyum.

                “Bunda, mengapa mereka sangat membenci kita?” Tanya Hafidz dengan polos.

                “Nak, mereka membenci kita hanya karena kita muslim,” Jelas Bunda.

                “Bunda, apakah hanya karena kita muslim, mereka membenci kita? Bukankah kita tak pernah mengganggu mereka?”

                “Iya Nak. Kamu masih terlalu kecil untuk memahami ini”

                “Karena itu, larilah Nak! Segera berlari! Sebelum orang-orang jahat itu menemukan kita.”

                “Hafidz ingat kan kalau Hafidz harus selalu taat kepada perintah Bunda?”

Bunda pun melepaskan pegangan tangan Hafidz. Ia mendorong tubuh Hafidz berkali-kali supaya Hafidz mau berdiri dan berlari.

Hafidz pun terus berlari seraya berkali-kali menatap ke belakang. Ia meninggalkan Bundanya yang terluka. Ia terus berlari bertelanjang kaki. Semua duri yang diinjaknya seolah tak dirasa. Berkali-kali ia menoleh ke arah Bunda, lama kelamaan bayangan Bunda semakin terhalang dedaunan dan pepohonan. Namun Hafidz terus berlari dan berlari. Ia akan terus berlari, hingga ia bertemu orang-orang yang bersedia menerima dan menjaganya sebagai seorang muslim.

#AryH
#PengelolaFPMudahNulis


       

Rabu, 24 Mei 2017

Perang Gajah di Indonesia

Tulisan ini bukanlah tentang serangan ke Ka'bah yang dipimpin Raja Abrahah, atau peristiwa yang terjadi pada tahun kelahiran Rasulullah Saw. Akan tetapi tentang suatu peribahasa, yakni "Gajah Berperang Pelanduk Mati di Tengah-tengah".

Jika kita mencermati pertarungan ekonomi dunia, terutama pasca pasar bebas, ada pertarungan besar antara dua negara yang terjadi di Indonesia. Yakni, pertarungan antara Amerika dan Tiongkok.

Sejak dekade 60-an abad lalu, Amerika telah khawatir atas munculnya Cina sebagai kekuatan global. Amerika berupaya melemahkan ambisi-ambisi Cina dalam permasalahan-permasalahan regional. 

Disamping upaya Amerika untuk membatasi perluasan militeristik Cina, Amerika juga berupaya kuat membangun kemampuan India, baik sipil maupun militer untuk menghadapi Cina. Politik inilah yang digunakan Amerika dengan seluruh pemerintahan di India hingga yang loyal kepada Inggris sekalipun dan bukan loyal kepada Amerika seperti pemerintahan partai Kongres. (Umar Syarifudin, 2016).

Indonesia dengan sumber daya alam melimpah serta jumlah penduduk yang potensial, tak luput dari perebutan dua kekuatan kapitalisme ini. Kehadiran ekonomi China di Indonesia semakin kentara beberapa tahun belakangan ini, terutama setelah beberapa garapan proyek di Indonesia yang diserahkan kepada China (RRT).

Pengaruh Cina di Indoneisa mendominasi dalam dua bidang, yaitu infrastruktur dan perdagangan. Dalam pembangunan infrastruktur, Indonesia memang didominasi oleh Investasi Cina, sebut saja proyek-proyek besar seperti proyek pembangkit tenaga listrik 35.000 mega watt dan kereta cepat Bandung-Jakarta, pembangunannya dilakukan oleh perusahaan Cina. Sedangkan dominasi AS di Indonesia, ada pada bidang pasar keuangan dan pertambangan minerba dan migas. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya sumber-sumber kekayaan alam negeri ini dikuasai oleh AS, seperti Freeport yang telah mengeruk emas di Papua. (Sri Nurhayati, 2016)

Inilah perang gajah yang terjadi di negeri ini, negeri kita sendiri. Alangkah naasnya kita jika hanya berperan sebagai pelanduk, yang mati di tengah-tengah.

Indonesia harus terbebas dari apa yang dikatakan oleh Panglima TNI Gatot Nurmantyo sebagai invisible hand, yakni kekuatan-kekuatan kapitalisme global yang menggurita dan menyerang. Karena tabiat ideologi ini adalah berdiri tegak dengan menginjak bangsa-bangsa lain. Atau bangkit dengan menghisap darah SDA dan SDM negeri lain.

Dengan kekuatan apakah Indonesia membebaskan negeri ini? Tiada lain kecuali dengan kekuatan Islam. Yang saya maksud bukan sekedar Islam dalam tataran ritual semata. Sehingga terkesan solusinya hanyalah kepasrahan dalam sabar dan do'a. Namun memunculkan kembali Islam sebagai ideologi, yakni aqidah rasional yang terpancar darinya berbagai sistem kehidupan.

Islam ideologi akan melahirkan negara ideologis. Sebuah negara yang menerapkan syariah Islam dalam berbagai sendi kehidupan. Sistem pendidikan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem sosial Islam, sistem sanksi Islam hingga yang paling utama yakni sistem pemerintahan Islam atau khilafah islamiyyah. Semua sistem ini berpondasi pada aqidah Islamiyyah, karena pondasi aqidah inilah yang menjadi kekuatan utamanya. Kekuatan ruhiyyah yang berpijak pada kesadaran manusia sebagai hamba Allah Swt. Kekuatan yang telah membuat negara Islam Madinah berdiri tegak di hadapan imperium Persia dan Romawi. Bukan menjadi pelanduk, tetapi menjadi penakluk gajah-gajah yang berperang. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary H. - 11 Shafar 1438 H)