Jumat, 27 Mei 2016

Mukmin Ala Prasmanan

Kita tentu sudah tidak asing dengan prasmanan. Jika pun belum pernah makan ala prasmanan, setidaknya pernah menyaksikan orang yang makan ala prasmanan. Sajian menunya beraneka ragam dengan berbagai menu yang mengundang selera. Jika di antara sajian ada yang tidak kita sukai, tidak perlu khawatir karena kita bisa memilihnya berdasarkan selera masing-masing. Tinggalkan saja menu yang tidak kita sukai, kemudian ambil menu yang kita sukai. Atau bisa juga jika ada menu-menu yang berdampak buruk terhadap tubuh kita, kita boleh tidak mengambilnya. Itulah sajian makan ala prasmanan.

Prasmanan untuk sajian makan memang menyenangkan. Tetapi jika gaya prasmanan diterapkan dalam keimanan dan ketaatan terhadap Allah Swt sungguh sangat membahayakan. Dalam artian, kita yakin terhadap Allah Swt sebagai Sang Pencipta, namun kita pilih-pilih dalam ketaatan kepada-Nya. Bisa jadi karena kita malas merealisasikannya atau menganggapnya sukar direalisasikan. Akan tetapi yang paling parah adalah belum -bahkan tidak percaya- terhadap perintah dan larangan Allah Swt.

Mengambil ayat tentang kewajiban shaum adalah contoh yang paling mudah dan paling dekat. Allah Swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai sekalian orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertaqwa.” (TQS. Al-Baqarah[2]: 183).

Tidak ada seorang pun di antara kita yang berani menentang hukum kewajiban shaum Ramadhan dari ayat ini. Bahkan, seringkali ayat ini dibaca dan ditekankan berulang kali di setiap ceramah Ramadhan. Lafadz “kutiba” dalam ayat tersebut bermakna wajib. Karena memang demikianlah maknanya. Sebagaimana Imam Ath-Thobari, yang menyatakan “furidlo ‘alaikumush-shiyam” (diwajibkan atas kalian shaum). Imam Al Qurthubi pun menjelaskan “annahu kutiba ‘alaihimush-shiyam wa alzamahum iyyahu wa aujabahu ‘alaihim wa la khilafa fihi” (bahwasanya ditetapkan atas mereka shaum, mengharuskannya, mewajibkannya atas mereka dan tidak ada perselisihan tentang hal tersebut). Begitu pula Imam Asy-syaukani menegaskan “wa la khilafa bainal-muslimina ajma’ina anna shouma romadlona faridlotun iftarodlohallohu subhanahu ‘ala hadzihil-ummah” (dan tidak ada perselisihan di antara seluruh kaum muslimin bahwasanya shaum Ramadlan merupakan kewajiban yang difardlukan oleh Allah Swt terhadap umat Islam). Kita pun menerimanya dengan lapang dada.  

Akan tetapi ada ayat lain dengan lafadz yang sama, penarikan hukumnya juga sama. Bahkan jika kita membaca Al Quran mulai dari depan, maka ayat tersebutlah yang akan terlebih dahulu kita baca. Letak ayatnya pun sama dalam Q.S. Al-Baqarah dan sangat berdekatan dengan ayat kewajiban shaum Ramadhan. Tetapi perlakuan kita terhadap ayat tersebut berbeda. Kita seringkali mengabaikannya. Ayat yang dimaksud tidak lain adalah Q.S. Al-Baqarah[2] : 178. Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh...” (TQS. Al-Baqarah[2]: 178).

Ketika dihadapkan dua ayat tersebut, kita seperti orang yang disajikan menu ala prasmanan. Kita ambil yang kita sukai, kemudian kita abaikan yang tidak kita suka. Atau, kita ambil apa yang baik menurut kita, lalu kita abaikan yang buruknya. Bahkan, ketika banyak kasus pembunuhan sadis terjadi belakangan ini, hampir tidak terdengar para pemikir dan cendekiawan muslim yang menyuarakan penerapan hukum qishosh. Hukum ini disuarakan laksana jeritan keluarga korban serta emosional para simpatisannya semata. Padahal jelas, hukum qishosh adalah hukum Allah Swt yang wajib diterapkan oleh penguasa muslim.

Atau, sikap kita terhadap firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Baqarah[2]: 173 :

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih) untuk selain Allah.”

Ayat tersebut menggunakan lafadz “harroma” (mengharamkan). Sangat mudah untuk kita memahami tentang larangan memakan bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih untuk selain Allah. Dan alhamdulillah, kita pun terasa ringan untuk menghindari apa yang diharamkan oleh Allah Swt di dalam ayat tersebut. Bahkan, beberapa hari yang lalu dunia maya dihebohkan dengan muslimah berkerudung yang berjualan masakan babi. Para netizen banyak yang mengkritisinya. Akan tetapi kita kadang berbeda sikap terhadap lafadz “harroma” yang terdapat dalam firman Allah Swt berikut :
...وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا...

“..dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..” (TQS. Al-Baqarah[2]: 275).

Sama-sama memakai lafadz “harroma” (mengharamkan), tetapi kita berbeda menyikapinya. Bahkan muslimah berkerudung yang menjajakan riba, jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan muslimah berkerudung yang menjajakan masakan babi, tetapi hal itu sepi dari kritikan para netizen.

Astaghfirulloh, mungkin masih banyak lagi ayat-ayat lain yang kita perlakukan demikian adanya. Na’udzubillahi min dzalik.

Padahal jika kita merenungkan kembali apa yang telah Allah Swt perintahkan kepada kita. Kita diperintahkan untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh (lih. Q.S. Al-Baqarah[2] : 208), untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa (lih. Q.S. Ali Imran[3] : 102), taat kepada Allah dan Rasul-Nya (lih. Q.S. An-Nisa[4] : 59) serta ayat yang serupa lainnya. Semuanya menegaskan bahwa kaum mukmin diperintahkan untuk taat mutlak kepada Allah Swt, tanpa tapi.

Ketika ada manusia yang tidak menyukai perintah-Nya karena menganggapnya sebagai sesuatu yang buruk, Allah Swt menegaskan :

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ...

“..dan bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian, dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahuinya.” (TQS. Al-Baqarah[2]: 216)  

Sebagaimana terhadap sikap kita atas kewajiban shaum, bukankah kita yakin bahwa di balik kewajiban itu ada kebaikannya? begitu pula di balik kewajiban qishosh serta berbagai perintah Allah Swt, tentu tersimpan kebaikan untuk kita dan masyarakat. Demikian pula sebagaimana kita yakin bahwa ada kebaikan di balik keharaman bangkai, kita juga tentu yakin bahwa di balik keharaman riba serta berbagai larangan Allah Swt, terkandung kebaikan untuk kita dan masyarakat. Begitulah sikap mukmin sejati bukan mukmin ala prasmanan.


Mukmin ala prasmanan tidaklah terbentuk dengan sendirinya. Ia adalah produk ideologi sekulerisme yang telah memisahkan agama dari kehidupan. Dampaknya, hukum Allah Swt hanya diambil dalam urusan privat semata. Sedangkan untuk urusan publik, hukum Allah Swt diabaikan. Sehingga, jika kita ingin meninggalkan beriman ala prasmanan maka kita harus menanggalkan sekulerisme. Kita laksanakan ideologi Islam secara utuh, yakni menerapkan seluruh sistem kehidupan Islam yang terpancar dari aqidah Islam. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary Herawan). 

Jumat, 06 Mei 2016

Kesatuan Wilayah Indonesia; Harga Mati !

Potensi disintegrasi dan separatisme di Indonesia semakin menguat. Hal ini sudah terbaca dari semenjak pengumuman kabinet kerja Jokowi yang pertama kali, sesaat setelah beliau dilantik. Gertakan disintegrasi dan separatisme langsung muncul dari berbagai daerah. Mulai dari Kalimantan, Sulawesi Tenggara dan Maluku. Bahkan ancaman tersebut pun terucap dari seorang ketua DPRD. Padahal sebelumnya sudah ada Aceh, Papua, Sumatera Utara, Riau dan NTT.
Khusus terkait kasus Papua, Pemerintah RI seolah semakin tak berdaya. Tuntutan Papua merdeka semakin menjadi-jadi. Pada hari Rabu, 13 April 2016 telah berlangsung demonstrasi secara besar-besaran yang melibatkan ribuan orang. Unjuk rasa untuk kali ini lebih dari biasanya. Kalau selama ini yang orasi hanya dari perwakilan mahasiswa, mama-mama Papua, aktivis Papua Merdeka dan lainnya, maka  kali ini orasi dilakukan oleh pesebakbola Papua dan dosen Fisip Universitas Cenderawasih,Jayapura. Mereka berteriak Papua Merdeka di muka umum. (www.tempo.co/13/4/2016).
Bahkan pada akhir tahun 2015, aksi tuntutan Papua merdeka itu dilakukan di pusat ibukota. Anehnya, meskipun terjadi bentrokan dengan aparat, hal ini sepi dari kecaman kaum nasionalis. Seorang da’i asal Papua, sekaligus  Presiden Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), Ust. Fadlan R. Garamatan mempertanyakan hal tersebut. “Ketika ada demo menodai NKRI oleh OPM, Nasionalis tak bersuara tapi ketika bicara Syariah Islam Nasionalis ribut,” tegas beliau melalui akun ‏@fadlannuuwaar. (www.intelejen.co.id.)
Memang benar, orang-orang yang sering teriak “NKRI harga mati” seolah diam dengan tuntutan Papua merdeka. Bahkan, seorang pendiri JIL Ulil Abshar Abdalla, yang sering sinis terhadap perjuangan penegakkan syariah dan khilafah, malahan mendukung disintegrasi Papua. Terkait Papua, ia berkomentar bahwa ibarat kehidupan perkawinan, kalau salah satu pasangan tak mau lagi bertahan dalam ikatan perkawinan, masak harus dipaksa. (www.arrahmah.com/17/06/2012).
Berbagai penolakan terhadap gerakan Papua merdeka tersebut justru  muncul dari orang-orang yang pro terhadap penegakkan Syariah dan Khilafah. Jadi, siapa sebenarnya yang lebih cinta Indonesia?

Biang Masalah Disintegrasi
Munculnya ancaman disintegrasi dan gerakan separatis di Indonesia seperti GAM di Aceh, RMS di Maluku dan OPM di Papua lebih disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi yang dirasakan oleh rakyat di wilayah-wilayah tersebut akibat kegagalan Pemerintah dalam mensejahterakan mereka. Padahal, seperti di Aceh dan Papua, kekayaan sumberdaya alam sangat melimpah-ruah. Sayang, kekayaan itu lebih banyak dinikmati oleh segelintir orang dan perusahaan-perusahaan asing.
Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) melaporkan bahwa berdasarkan catatan Badan Pemeriksa keuangan (BPK) dominasi asing di sektor Migas 70%, batu bara, bauksit, nikel dan timah 75%, tembaga dan emas sebesar 85% serta diperkebunan sawit sebesar 50%. Jumlah ini menunjukkan bahwa betapa lemahnya posisi pemerintah untuk melindungi aset Negara. Selain itu peran pemerintah untuk mencegah terjadinya konflik agraria di sektor pertambangan juga sangat lemah. Pada tahun 2013 Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat ada 38 konflik di sektor pertambangan dengan luas konflik 197.365,90 ha.
Pertambangan di daerah pun tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan daerah tersebut. Sebagai contoh, Direktur Indonesian Reseources Studies (IRESS), Marwan Batubara dalam www.tambang.co.id mengatakan bahwa keuntungan yang didapat PT. Freeport Indonesia dari hasil tambangnya di Papua mencapai Rp 4000 triliun. Hal ini dihitung dari hasil laporan cadangan mineral PT. FI di tahun 2010. Selanjutnya, data tahun 2005 mengungkapkan, potensi Grasberg (yang dieksploitasi sejak 1988) sekitar 2,822 juta ton metrik bijih. Ini belum termasuk potensi Ertsberg yang diperkirakan mencapai 50 juta ton bijih, dan ini sudah dieksploitasi dari 1967-1988. Akan tetapi kita dapat saksikan bahwa pada saat yang sama, orang-orang Papua di sekitarnya banyak yang miskin, bahkan sebagiannya mengalami kelaparan.
Itulah hasil ketidakadilan yang diciptakan oleh sistem ekonomi kapitalisme liberal. Ironisnya, sistem inilah yang justru tetap dipertahankan oleh Pemerintah RI melalui demokrasi. Oleh karena itu, tepat jika Sekretaris DPD II Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kab. Ciamis menyatakan bahwa demokrasi sebagai senjata ampuh disintegrasi papua. Karena menurut beliau nilai penting demokrasi yakni hak menentukan nasib sendiri, telah terbukti sukses memisahkan Timor-Timur dari Indonesia (13/03/2016). Selain itu, jika kita cermati berbagai kebijakan Pemerintah yang semakin proaktif dalam melakukan privatisasi (menjual) BUMN, yang notabene milik rakyat dan menjadi sumber pemasukan negara, semuanya berjalan mulus dan dilegalisasi melalui mekanisme demokrasi.  

Pandangan Syariah Islam
Dalam pandangan syariah Islam, SDA yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti minyak bumi, emas, perak tambaga dll dalam jumlah besar adalah milik rakyat. SDA tersebut tidak boleh diserahkan kepada pihak swasta, apalagi pihak asing. Negara juga hanya berhak mengelolanya bukan untuk memilikinya, karena seluruh hasilnya harus diserahkan kepada rakyat. Rasulullah saw. bersabda: “Manusia bersekutu (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: hutan, air dan energi.” (HR Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).
Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitab nidzomul hukmi fil Islam menjelaskan bahwa keuangan seluruh wilayah negara dalam Islam akan dianggap satu. Begitu pula anggaran belanjanya akan diberikan secara sama untuk kepentingan seluruh rakyat, tanpa melihat daerahnya. Seandainya ada wilayah yang memiliki pendapatan besar, sementara kebutuhannya kecil, maka wilayah tersebut akan diberi anggaran sesuai dengan kebutuhannya, bukan berdasarkan besarnya pendapatan. Seandainya ada wilayah yang pendapatan daerahnya tidak bisa mencukupi kebutuhannya, maka negara Islam tidak akan memaksanya untuk mengirimkan pendapatannya ke pusat. Tetapi wilayah tersebut tetap akan diberi anggaran belanja dari belanja negara, sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Baik pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhannya, ataupun tidak.

Islam Mewajibkan Kesatuan Wilayah
Munculnya berbagai gerakan separatis di Indonesia pun tidak terlepas dari campur tangan asing. Sebagaimana yang terjadi pada gerakan separatisme Aceh, Papua, Maluku dan Timor Timur (yang sudah terlepas lebih dulu). Direktur Eksekutif Global Future Institute, Hendrajit menyampaikan bahwa pembukaan kantor Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Inggris pada Mei setahun yang lalu dihadiri dihadiri oleh Walikota Oxford Mohammaed Niaz Abbasi, anggota Parlemen Inggris, Andrew Smith, dan mantan Walikota Oxford, Elise Benjamin. “Kami akan bekerja sama dengan orang-orang di kantor baru kami di Port Moresby, PNG pada strategi menuju tujuan penentuan nasib sendiri bagi Papua Barat.” Ujar Andrew Smith pada acara pembukaan kantor OPM tersebut. Kemudian sejak pertengahan 2000-an, US House of Representatives, telah mengagendakan agar DPR Amerika tersebut mengeluarkan rancangan Foreign Relation Authorization Act (FRAA) yahg secara spesifik memuat referensi khusus mengenai Papua. Referensi ini pun telah menyusun goal setting sampai pada referendum Papua.
Adapun Islam telah mewajibkan kaum muslim untuk bersatu sebagai satu umat. Allah swt. berfirman dalam Q.S. al-Anbiya' [21]: 92 yang artinya: “Sesungguhnya umat kalian adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah Aku”. Kemudian dalam Q.S. Ali Imran [3]: 103, yang artinya : “dan berpegangteguhlah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” Karena itu, meski mempunyai latar belakang etnis, bangsa dan bahasa yang berbeda, umat Islam adalah umat yang satu. Karena mereka mempunyai Tuhan yang sama (Allah swt.), kitab suci yang sama (Al Quran), Nabi yang sama (Muhammad saw.), kiblat yang sama (Ka'bah) dan agama yang sama (Islam).
Islam bukan hanya menetapkan umatnya sebagai satu umat, bahkan mewajibkan mereka bersatu di bawah naungan satu kepemimpinan, yaitu Khilafah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., yang artinya: “Berpegang teguhlah pada jamaah kaum Muslim dan imam/khalifah mereka) (HR Ibn Majjah). Islam juga menetapkan bahwa mati untuk membela harta, termasuk wilayah kaum muslim adalah mati syahid. Ini dinyatakan dalam hadits Nabi, “Siapa saja yang terbunuh karena membela hartanya, maka dia mati syahid.” (THR Muslim, Ibn Hibban, Ahmad). Harta kekayaan pribadi, umum maupun negara, merupakan harta kaum muslim. Termasuk wilayah negeri-negeri Islam, semuanya merupakan harta kaum muslim. Karena itu, mempertahankan harta tersebut, termasuk keutuhannya agar tidak pecah, dan dicaplok pihak lain, hukumnya wajib. Mati karenanya pun dinyatakan oleh Islam sebagai mati syahid. Karena itu menurut Islam, persatuan dan kesatuan negeri kaum muslim –termasuk kesatuan wilayah Indonesia- merupakan harga mati yang tak bisa ditawar lagi.

Walhasil, kapitalisme liberal dan imperialisme asing-lah yang sebenarnya menjadi biang disintegrasi dan separatisme di Indonesia. Adapun penerapan Syariah dan Khilafah justru menawarkan pemerataan kesejahteraan rakyat dan kesatuan wilayah negeri ini. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary Herawan).

Rabu, 20 April 2016

Membangun Negara di Atas Dasar Ajaran Islam

"Agama Islam paling tidak sudah enam abad menjadi agama bangsa Indonesia, atau setidaknya tiga abad sebelum Belanda menjajah. Telah banyak hukum Islam yang telah menjadi adat-istiadat bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dasar negara Indonesia harus menyesuaikan dengan jiwa rakyatnya itu."

"Hendaklah kamu sekalian berpegang teguh dengan tali Allah (Agama Islam) dan jangan kamu sekalian bercerai berai. Ingatlah akan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu, yaitu dahulu kamu bermusuh-musuhan satu dengan lainnya, tetapi sekarang Allah berkenan mempersatukan hati kamu sekalian, sehingga dengan nikmat-Nya tadi kamu dapat menjadi saudara seerat-eratnya."

"Dan, hendaknya kamu bertolong-tolongan atas kebaikan dan takwa kepada Allah."
"Bangunlah negara ini atas firman-firman Allah, antara lain dalam surat Al-Anfal 62, Ash-Shaf 2,3,4,10,11,12 dan 13. Tuan-tuan yang terhormat, maksud ayat-ayat tersebut sudah jelas, ialah menyuruh kita sekalian bersiap sedia untuk menolak setiap serangan musuh yang mungkin datang memukul kita, dan menyuruh kita mencurahkan segala tenaga dan harta benda yang ada pada kita untuk menyediakan segala kekuatan perang sehingga dapat menegakkan keadilan dan kebenaran. Oleh karena itu, bangunlah negara ini dengan sendi agama Islam."

"Berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 14, Allah menyuruh kita mencari rizki Allah di atas dan di dalam laut dengan mengusahakan perikanan, pelayaran, pencarian mutiara, dan sebagainya. Dalam konteks ini, masih banyak ayat-ayat yang semakna dengan pengertian memganjurkan pertanian, pengairan, peternakan, pertenunan dan sebagainya, sebagaimana dalam Al-Qur'an surat Ibrahim, An-Nahl, Al-Haj, dan lainnya."

"dalam negara kita, niscaya tuan-tuan menginginkan berdirinya satu pemerintahan yang adil dan bijaksana, berdasarkan budi pekerti yang luhur, bersendi permusyawaratan dan keputusan rakyat, serta luas dan lapang dada, tidak memaksa tentang agama. Jika tuan-tuan benar-benar menginginkan keadilan, kerakyatan, dan toleransi, maka dirikanlah pemerintah ini atas dasar Islam, karena Islam mengajarkan masalah tersebut. Allah berfirman dalam surat An-Nahl 90, An-Nisa 5, Ali Imran 159, Asy-Syura 38, dan Al-Baqarah 256."

"Mudah-mudahan negara Indonesia baru, yang akan datang itu, berdasarkan agama Islam dan akan menjadi negara yang tegak dan teguh serta kuat dan kokoh. Amin."

(Ki Bagus Hadikusumo, 31 Mei 1945)

Sumber:  Tulisan Arifin Suryo Nugroho, SM 24 tahun 2015.

Minggu, 17 April 2016

Fundamentalisme Anti Islam Global

“Saya melihat tujuan akhir dari gerakan fundamentalisme anti Islam global ini adalah untuk menjadikan Islam sebagai everyone’s enemy,” tegas Muhammad Edwars, MA., seorang Ustadz di Negara Bagian Viktoria Australia. Pernyataan ini beliau sampaikan ketika diwawancarai oleh Siti Anisa dari Suara Muhammadiyah.
Beliau tidak sepakat dengan penyematan stigma fundamentalisme terhadap Islam dan kaum muslim. Bahkan, beliau tidak melihat fenomena gerakan anti Islam atau islamophobia di Amerika Serikat atau di Eropa sebagai indikasi menguatnya islamic fundamentalisme.
“Sebaliknya, justru Donald Trump bersama paling tidak 920 organisasi di 22 negara yang menyebarkan kebencian terhadap Islam menunjukkan indikasi menguatnya fundamentalisme ekstrim kanan di politik internasional. Di Australia ada The United Patriots Front, Reclaim Australia dan Rise Up Australia Party,” ungkap pengajar di Wheelers Hill Secondary College ini. “Sebenarnya mereka inilah yang fundamentalis, tetapi atribut itu tidak akan pernah disanding dengan mereka, sebaliknya akan selalu disandingkan dengan Islam dan kaum muslim,” lanjutnya.
Lulusan the University of Melborne tersebut, mengingatkan supaya kaum muslim tidak terperangkap dalam fundamentalisme dengan konotasi negatif. Menurutnya, kalaupun ada fundamentalisme pada diri kita, itu adalah dalam kegigihan berpegang teguh pada ajaran agama Islam dan menentang segala bentuk ketidakadilan. Karena para fundamentalis anti Islam sangat intensif menyuarakan Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan.
Mereka seringkali menggambarkan perjuangan rakyat Palestina sebagai gerakan terorisme Islam tanpa memperlihatkan kezaliman dan kekejaman Israel, jelasnya. Beliau pun mengkritisi opini ISIS yang gencar belakangan ini. “Tiada hari tanpa berita kekejaman Islamic State ISIS, tetapi siapa mereka, dari mana mereka mendapat senjata dan mengapa lebih dari 90% korban mereka adalah Sunni Muslim,” tanyanya secara retoris.
Ketika ditanya mengenai imbas dari gerakan ini (fundamentalis anti Islam, pen.) terhadap Indonesia, beliau menjelaskan bahwa Indonesia tentu saja menghadapi tekanan besar untuk mengikuti agenda global memerangi Islam. “Fenomena gerakan terorisme yang ditengarai sebagai operasi intelejen, kebrutalan Densus 88 yang tidak pernah dipertanyakan oleh organisasi HAM nasional dan internasional,” ungkapnya. Beliau pun menggarisbawahi pengaruh gerakan fundamentalis anti Islam ini terhadap media massa di tanah air. Menurutnya, media massa besar di tanah air menjadi amplifier dan mencontoh pola pemberitaan media massa global tentang Islam. Hal itu merupakan bukti nyata bahwa Indonesia sudah terkena imbas fundamentalisme global ini. 
Adapun untuk memelihara kerukunan antar umat beragama di Indonesia, beliau berpendapat bahwa pemerintah RI harus independen dan tidak boleh tunduk terhadap tekanan agenda internasional. Pemerintah perlu merangkul organisasi-organisasi Islam dan menjauhi sikap kecurigaan yang berlebihan. Pada saat ini umat Islam merasa dikorbankan untuk kepentingan umat beragama lain yang minoritas. Kerukunan dan toleransi digiring untuk mengabaikan sebagian pokok ajaran Islam. Yang lebih menyedihkan bagi Ustadz berdarah minang ini, ada suara sumbang yang menyatakan seolah-olah beribadah kepada Allah dan mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah merupakan ciri-ciri terorisme.  
Beliau menegaskan bahwa kaum muslim tidak boleh membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Kaum muslim harus melawannya secara cerdas dan sabar, tidak boleh nekat dan terburu nafsu. “Kita harus melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan ini,” serunya. Pribadi kaum muslim mesti memperbaiki kualitas dirinya dan kembali kepada ajaran Islam. Karena menurutnya, sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam diraih ketika umat mendekatkan diri kepada agama Allah, sedangkan kehancuran terjadi ketika umat jauh dari Allah.


*) Disadur oleh Ary Herawan, dari Rubrik Dialog, Majalah Suara Muhammadiyah ed. 08 thn ke-101 hal. 13-15. Berjudul “Muhammad Edwars, MA. Menguatnya Fundamentalis Ekstrem Kanan”, yang ditulis oleh Sdr. Nisa/eff. 

Minggu, 10 April 2016

Globalisasi Picu Kriminalitas Remaja

Ust. Mamad, BKPRMI Kota Tasikmalaya : Globalisasi Picu Kriminalitas Remaja

“Masalah kriminalitas remaja terjadi karena salah gaul, salah didik dan pendidikan yang salah,” tegas Ust. Mamad dalam acara Halqoh Islam dan Peradaban (HIP) di Aula Masjid Al Mujahidin (10/4/2016). Forum bulanan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD II Kota Tasikmalaya ini bertema Selamatkan Remaja Tasikmalaya dari Kriminalitas. Ketua 2 Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) DPD Kota Tasikmalaya ini tampil penuh semangat. Beliau menjelaskan bahwa globalisasi telah berdampak negatif terhadap pergaulan remaja muslim, khususnya di Tasikmalaya. Berbagai informasi negatif yang merusak mudah sekali diakses oleh para remaja. Sehingga hal ini membuat manusia, termasuk remaja, terasuki sifat syaithoniyyah dan bahaimiyyah (kebinatangan, pen.), bahkan lebih sesat darinya.

“Mendidik anak seharusnya mengacu kepada Rasulullah Saw,” imbuhnya. Komisioner Baznas Kota Tasikmalaya ini pun menyitir nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau syirik kepada Allah, sesungguhnya syirik itu adalah kedzaliman yang besar.” Oleh karena itu menurut beliau, pendidikan harus ditekankan pada ketauhidan, tidak seperti yang terjadi saat ini, pendidikan lebih terfokus pada bagaimana meraih harta dan jabatan.

Tampil sebagai pembicara kedua, Ust. Ade Candra. SE. dari Maktab I’lami DPD HTI Kota Tasikmalaya. Beliau menjelaskan bahwa seharusnya remaja muslim itu berperan sebagai energizer, yakni penyuplai semangat/energi terhadap orang lain. Sedangkan yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Hal ini terjadi karena Barat telah menganggap potensi remaja muslim sebagai ancaman. Oleh karena itu, Barat terus menerus berusaha melemahkan remaja muslim.

Upaya pelemahan yang dilakukan oleh Barat terutama di dunia pendidikan. Pendidikan Agama Islam (PAI) terus diarahkan untuk berkiblat ke Barat, terbukti dengan pengiriman para pendidik PAI untuk mengikuti diklat di Inggris dan Australia. Semua ini bukan semata-mata untuk mempelajari teknik mengajar. “Bagi negara kapitalis, tidak ada makan siang yang gratis,” tegasnya.

Dengan lemahnya pemahaman remaja terhadap agamanya, akan lemah pula sikap mereka terhadap berbagai hal yang bertentangan dengan agamanya. Ditambah lagi monsterisasi dan terorisasi aktifitas remaja yang berbasis kegiatan keagamaan, semisal Rohis. Akhirnya, terjebaklah remaja pada kriminalitas.  

Beliau menyerukan bahwa negara harus hadir sebagai perisai bagi para remaja muslim. Selain mendidik serta menguatkan pemahaman keislaman para remaja, negara pun harus hadir untuk mencegah berbagai upaya pelemahan remaja muslim. Dengan tegas beliau sampaikan, bahwa negara yang dapat menjadi perisai bagi remaja muslim hanyalah negara yang menerapkan Syariah Islam. Dan tidak ada negara yang dapat menerapkan Syariah Islam secara paripurna selain negara Khilafah. Oleh karena itu selain menempuh solusi jangka pendek atas problem kriminalitas remaja, yakni menjaga diri dan keluarga. Kaum muslim pun harus mengupayakan solusi hakikinya, yakni  tegaknya Syariah dan Khilafah. Sehingga para remaja muslim benar-benar akan menjadi energizer, sebagaimana yang telah kita saksikan dalam sejarah keemasan Islam. (AH, Tsm.)

Sabtu, 09 April 2016

Persaksian Kita

Dalam syahadatain kita, terkandung persaksian yang sangat dalam dan kokoh. Kita bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah Swt dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah.

Tuhan (Ilah, arab), bermakna al-ma'bud (yang disembah). Pengakuan bahwasanya Allah sebagai satu-satunya sesembahan, memastikan bahwa kita hanya merujuk semua ketaatan hanya kepada-Nya. Peniadaan sekutu bagi-Nya, termasuk dalam penerimaan atas perintah dan larangan. Ketaatan mutlak atas kehalalan dan keharaman.

Allah Swt membolehkan kita untuk taat kepada makhluk-Nya, selama makhluk tersebut taat kepada-Nya. Tetapi jika tidak demikian, maka ketaatan kita kepada makhluk seraya berpaling dari ketaatan kepada Allah Swt akan berarti kemaksiatan.

Di era kemunduran taraf berpikir umat Islam kini. Tidak sedikit dari kita yang menjadi asing akan makna persaksian ini. Seolah-olah persaksian laksana hapalan tanpa makna. Ucapan tanpa ketaatan. Semoga Allah Swt mengampuni jiwa yang lemah ini.

Ketaatan mutlak kepada Allah Swt merupakan suatu kemestian. Individu, masyarakat maupun negara mesti taat kepada-Nya. Ketaatan ini terwujud dalam penerapan seluruh hukum-Nya. Di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, budaya sampai pertahanan dan keamanan, semuanya diukur dengan hukum-Nya. Bisakah itu? Bagaimanakah itu? Inilah pertanyaan yang selalu menggelayut dalam pikiran kita. Semua pertanyaan itu karena kita terlalu lama dikungkung dalam pandangan hidup sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan).

Terkait #Syariah dan #Khilafah, seolah menjadi aneh dan asing. Padahal saat ini para pemimpin Barat dan agennya rame-rame mempropagandakan permusuhan terhadapnya.

Oleh karena itu, para ulama dan da'i dituntut terus bekerja. Mereka mesti terus memahamkan umat akan konsekuensi dari sebuah persaksian.

(Ary Herawan)

#Ujian dan #Kehidupan

Hidup untuk menghadapi ujian, ujian untuk menghadapi kehidupan.

Setiap belajar menghadapi ujian, semestinya kita pun menjadikan ujian sebagai pelajaran

Selama hidup, tidak ada yang gagal dalam ujian, yang ada hanyalah berpindah dari satu ujian ke ujian berikutnya. Sampai ajal menjemput, baru kita tahu siapa di antara kita yang gagal.

Tidak perlu bersedih jika harus mengalami perpindahan ujian, karena untuk mencapai keberhasilan pasti akan melewati berbagai ujian.

Ujian kehidupan sesungguhnya bukanlah sekedar di atas kertas, tetapi mempertahankan keteguhan hati untuk selalu yakin dan taat kepada Sang Pencipta.

Ujian pertama dalam hidup manusia adalah menemukan Sang Pencipta yang sesungguhnya, sampai ia menemukan keyakinan akan Allah Swt. Jika manusia tidak menemukannya, maka ia akan mengalami perpindahan ujian dan terus berpindah sampai ia memilih,  mengimani-Nya atau mengingkari-Nya.

Ujian selanjutnya adalah ujian ketaatan kepada-Nya, dan itu akan terus berlanjut sampai ajal menjemput.

Penentu ujian sebenarnya ada di kehidupan Akhirat kelak. Karena di situlah manusia akan terbagi menjadi para pemenang yang berbahagia dan para pecundang yang menderita.

Mari kita nikmati setiap ujian, semoga kita senantiasa diberi keistiqomahan. Aamiiin.
(Ary Herawan)

Kriminalitas Remaja dan Solusinya


Sungguh mengejutkan, 80% pelaku kriminal di Kota Santri Tasikmalaya adalah anak-anak. Kepala Bagian Operasional Polres Kota Tasikmalaya menyampaikan bahwa tindakan kriminal yang dilakukan anak-anak tersebut bermula dari geng motor. Setelah berulah menyerang salah satu kantor surat kabar pada awal tahun 2015, mereka kembali berulah dengan menabrak anggota Polresta Tasikmalaya yang sedang bertugas. (PR, 28/03/2016).

Seakan tiada habisnya, kasus kriminalitas remaja terus bermunculan bagaikan cendawan di musim hujan. Hilang satu kasus, muncul berbagai kasus yang lain. Bahkan dalam sepekan, tiga sampai empat kasus kriminal dilakukan anak usia di bawah 18 tahun di Kota Tasikmalaya. Hal ini pun belum terlihat menunjukkan angka penurunan. Sungguh fenomena yang amat mengkhawatirkan. Tidak hanya bagi orang tuanya saja, tetapi bagi seluruh lapisan masyarakat. Karena ini terkait keberlangsungan nasib generasi di masa yang akan datang.

Mengurai masalah remaja laksana mengurai benang kusut, mesti diurai satu persatu sampai ketemu simpul utamanya. Simpul utama inilah yang menjadi biang kusutnya rajutan indah masa remaja. Karena masa remaja itu adalah fithrah dan sunnatullah yang pasti dilalui. Adapun kriminalitas terjadi di wilayah pilihan manusia, setiap manusia bisa memilih antara melakukan tindakan kriminal ataukah tidak. Sehingga kurang tepat jika kita memaklumi kriminalitas hanya karena dilakukan di masa remaja, yang labil dan dalam fase pencarian jati diri. 

Menurut para psikolog, masa remaja adalah peralihan dari masa anak ke masa dewasa, yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa remaja. Masa ini berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Pastinya, setiap manusia akan mengalami fase ini dalam hidupnya. 

Islam mengkategorikan masa remaja atau pemuda ke dalam fase baligh. Yaitu fase di mana amal baik dan buruknya sudah dihisab oleh Allah SWT. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, yang artinya : “Diangkat pena (tidak dicatat) dari 3 golongan: orang gila sampai dia sadarkan diri, orang yang tidur hingga dia bangun dan anak kecil hingga dia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi). 

Hadits ini pun bisa dipahami, bahwa bila sudah baligh maka setiap orang akan dicatat (baca : dihisab) seluruh amalnya. 

Sehingga, sejatinya masa remaja bukanlah masa pencarian jati diri, namun merupakan masa pembuktian jati diri.

Setiap manusia, tidak terkecuali remaja, memiliki potensi kehidupan yang sama. Muhammad Husain Abdullah dalam Mafahim Islamiyyah menjelaskan bahwa potensi kehidupan tersebut adalah kebutuhan jasmani (al-haajat al-udlwiyyah) dan al-gharaaiz (naluriah). Kebutuhan jasmani berasal dari dalam tubuh, jika tidak dipenuhi terus-menerus, akan mengakibatkan kerusakan pada organ tubuh dan dapat mengantarkan pada kematian. Misalnya rasa haus dan lapar yang membutuhkan minum dan makan. 

Berbeda dengan kebutuhan jasmani, dorongan naluriah merupakan dorongan yang muncul karena adanya rangsangan dari luar, jika tidak dipenuhi pun tidak akan mengantarkan pada kerusakan organ tubuh serta mengantarkan pada kematian. 

Misalnya naluri seksual yang muncul karena melihat lawan jenis, naluri eksistensi diri yang muncul karena memiliki banyak teman, atau naluri beragama yang muncul karena ketakjuban terhadap alam semesta.

Keberadaan kebutuhan jasmani serta dorongan naluriah yang dimiliki oleh setiap insan bukanlah pembenar atas setiap tindakannya. Naluri seksual bukanlah pembenar aktifitas seks bebas, naluri eksistensi diri bukanlah pembenar aktifitas geng motor, pun naluri beragama bukanlah pembenar atas kemunculan berbagai aliran sesat. Semua naluri tersebut bisa dan tentu harus dikendalikan. Pemahaman seseorang-lah yang akan membedakan pola pemenuhannya. Apabila manusia memenuhinya sesuai dengan perintah dan larangan Allah Swt, berarti terpuji. Tetapi jika sebaliknya, cara pemenuhannya melanggar perintah dan larangan Allah Swt, berarti tercela.

Dalam perpektif Islam, semua perbuatan yang tercela terkategori kriminalitas (jarimah/kejahatan). Karena itulah, suatu perbuatan tidak dianggap sebagai tindakan kriminal kecuali jika syara’ menetapkannya sebagai perbuatan tercela. Jika suatu perbuatan telah ditetapkan tercela oleh syara’, maka perbuatan tersebut dianggap tindakan kriminal, tanpa melihat lagi apakah tingkat kejahatannya itu besar atau kecil, juga tanpa memandang apakah manusia menyukai perbuatan tersebut ataukah tidak. Syara’ menetapkan perbuatan tercela sebagai dosa (dzunub) yang harus dikenai sanksi. Walhasil menurut Islam, perbuatan dosa itu adalah kejahatan (tindakan kriminal).

Islam tidak mengenal fase transisi di antara anak-anak dan dewasa. Setiap orang yang sudah baligh mesti bertanggungjawab atas setiap perbuatannya. Allah Swt berfirman : “Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta ijin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta ijin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (TQS. An-Nur[24] : 59). Tanda-tanda baligh di antaranya adalah ihtilam (mimpi) bagi laki-laki dan haidh bagi perempuan. Selain itu, ada tanda-tanda biologis lainnya seperti tumbuh bulu di sekitar kemaluan dan ketiak, baik laki-laki maupun perempuan. Serta tumbuh bulu kumis dan janggut khusus untuk laki-laki.   

Islam tidak mengkhususkan perlakuan terhadap kriminalitas remaja. Jika sudah terkategori baligh dan berakal, maka siapapun pelaku kriminal wajib dikenai sanksi. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw terhadap Bani Quraidzah. Setelah pengkhianatan yang mereka lakukan, seluruh kaum laki-lakinya dieksekusi mati terkecuali yang belum baligh. ‘Athiyah berkata : “Kami dihadapkan kepada Nabi Saw pada hari Quraidzah (pemberian sanksi terhadap Bani Quraidzah). Semua lelaki yang sudah tumbuh (bulu kemaluannya) dibunuh, sedangkan orang yang belum tumbuh dibiarkan. Aku adalah lelaki yang belum tumbuh, maka aku dibiarkan.” (HR. At Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Meringankan sanksi hanya karena seseorang belum berusia 18 tahun merupakan sebuah kesalahan. Selain memperlambat tumbuhnya rasa tanggung jawab, hal ini juga akan memberikan pendidikan yang salah terhadap para remaja. Perilaku kriminalitas yang sebenarnya salah (tercela/berdosa), seolah-olah menjadi sedikit salah (lebih ringan), atau bahkan lebih parah dari itu, yakni dianggap wajar karena masih dalam fase transisi. Jika sudah seperti ini alih-alih berkurang, angka kriminalitas remaja justru akan terus mengalami peningkatan.

Pangkal kusutnya rajutan indah masa remaja saat ini sebetulnya terletak pada cara pandang yang salah. Paradigma liberalistik, yang terlahir dari pandangan hidup sekulerisme, menempatkan masa remaja sebagai latihan ke-liberal-an manusia. Sehingga, setiap perilakunya mesti diberi ruang yang lebih luas serta serba dimaklum. Hal ini tidaklah aneh, tersebab kita hidup dalam kungkungan sistem sekuler. Oleh karena itu, terlahirlah remaja yang permissif (serba boleh) dan hedonis (penuh dengan hura-hura), jauh dari nilai-nilai Islam.

Seruan dakwah yang dilakukan para remaja malah dicurigai. Rohis, remaja masjid serta pengajian remaja, diopinikan berada di bawah bayang-bayang monster terorisme dan radikalisme. 

Organisasi/perkumpulan remaja Islam yang mengedukasi pola sikap dan pola pikir Islami para remaja, digambarkan menyeramkan. Sedangkan pada sisi yang lain, kegiatan remaja yang jauh dari nilai-nilai Islam, diberi perhatian penuh. Jika sudah begini, pengurangan angka kriminalitas remaja hanyalah mimpi.

Penulis berpandangan bahwa untuk mengatasi kriminalitas remaja, kaum muslim harus memiliki tiga perisai. 

Pertama, perisai diri dan keluarga. Allah swt memerintahkan kita, untuk menjaga diri dan keluarga kita dari siksa api neraka (lihat Q.S. At Tahrim : 6). Kedua, perisai lingkungan. Tidak sedikit dari kita yang telah mendidik anak-anaknya dengan baik di rumah, tetapi karena terpengaruh lingkungannya, perangai anak menjadi berbeda dengan hasil didikan di rumah. 

Oleh karena itu, kita harus membentuk perisai lingkungan dengan dakwah. Dakwah dengan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran (lihat Q.S. Al Ashr). Kita ajak masyarakat di sekitar kita mengenal Islam. Karena Allah swt mengingatkan bahwa ada fitnah yang menimpa tidak kepada orang dzalim saja, yang lain pun bisa terkena dampaknya. (lihat Q.S. Al Anfal : 25).

Ketiga, perisai negara. Kriminalitas remaja harus diantisipasi secara sistemik. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : “Imam (pemimpin) itu laksana perisai. Umat akan diperangi dari belakangnya dan akan dijaga olehnya. Jika ia memerintahkan taqwa kepada Allah dan berbuat adil, maka ia akan mendapatkan pahala (yang sangat besar). Namun jika ia memerintahkan selain itu, maka ia akan berdosa karenanya.” (HR. Muslim).

Islam telah terbukti mengarahkan potensi para remaja menjadi produktif untuk dunia dan akhirat. Ada Imam Syafi’i yang hafal Al Quran pada usia 9 tahun dan diminta ijtihadnya pada usia 13 tahun. Ada pemuda Syaifudin Quthuz, Thariq bin Ziyad Sang Pembebas Andalusia dan Muhammad Al Fatih yang menjadi pemimpin sejak usia belasan tahun, kemudian menaklukkan konstantinopel pada usia 21 tahun. Asma binti Abu Bakar r.a., remaja yang menjadi tim sukses hijrahnya Rasulullah SAW. 

Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a., sosok pemudi cerdas yang mendampingi Rasulullah SAW sejak usia 9 tahun. Begitupun Hafshah binti Umar yang berjuang bersama Islam sejak usia 10 tahun. Dengan penerapan syariah dan khilafah, Islam akan mendorong terwujudnya berbagai kemashlahatan serta mencegah berbagai tindakan kriminal yang merusak. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary Herawan, Praktisi Pendidikan di Tasikmalaya)

Minggu, 27 Maret 2016

Kebahagiaan Berbagi Sedikit Ilmu Menulis

Menjelang tengah hari tadi (27/03/2016), di sela-sela mengasuh anak-anak, saya rebahkan badan di tempat tidur. Mata ini terasa mengantuk. Mungkin karena sisa tadi malam, hampir setengah malam saya isi ‘kencan’ bersama ketiga anak-anak saya. Kami menonton film bersama di rumah. Saya menemani mereka seraya mengenang masa kanak-kanak.

Belum sempat mata ini terpejam, terdengar suara telpon dari salah seorang sahabat. Ternyata beliau meminta saya untuk mengisi materi jurnalistik di hadapan siswa setingkat SMP dan SMA. Padahal sebelumnya, saya belum pernah mengisi tersebut. Menulis memang bukanlah hal baru bagi saya. Artikel, berita, opini, cerpen sampai puisi pun pernah tertuang di blog ini. Alhamdulillah, beberapa di antaranya pernah ditayangkan media cetak maupun daring. Namun untuk mengisi materi jurnalistik, belum pernah sekalipun diminta. Permintaan dadakan ini juga bukan tanpa alasan. Tersebab pemateri yang direncanakan, yakni seorang wartawan senior, mendadak tidak bisa hadir. Antara diterima dan ditolak, di wilayah ikhtiar inilah hati dan akal ini berada.

Meskipun diminta mengisi saat itu juga, entah mengapa tidak ada sedikit pun keberatan dalam diri ini. Tanpa garis besar materi, power point, apalagi makalah atau sebagainya, diri ini sama sekali tidak merasa keberatan. Bahkan, seolah ada motivasi dan kebahagiaan tersendiri untuk langsung mengiyakan. Hati ini seolah berkata, “Saya, Yes!” seraya tersenyum riang.

Singkat cerita, saya berdiri di hadapan puluhan siswa-siswi. Alhamdulillah, selama 15 menit perjalanan menuju lokasi, saya menemukan ide materi. Materi itulah yang saya sampaikan. Saya memposisikan diri bukan sebagai pakar teori, tetapi sebagai seorang praktisi. Setelah sedikit muqaddimah, kemudian bridging materi seputar menulis serta motivasinya, saya meminta semua peserta untuk mengeluarkan alat tulisnya. Namun sayangnya, meskipun dinamakan Training Jurnalistik, hanya beberapa siswa dan siswi yang membawa alat tulis. Akhirnya, sebagian peserta saya ijinkan untuk mengetik menggunakan handphone.

Saya hanya ingin membuktikan kepada para peserta bahwa menulis itu mudah. Itu saja yang saya targetkan. Setelah semua peserta siap, para peserta diminta menjawab beberapa pertanyaan. Tetapi jawabannya mesti ditulis dalam bentuk kalimat berita. Berikut urutan pertanyaannya, 1) Apa makanan favorit Anda? ; 2) Di manakah Anda biasa membelinya; 3) Kapankah Anda biasa membelinya? ; 4) Siapakah penjualnya? ; 5) Mengapa Anda menyukainya? ; dan 6) Bagaimanakah cara membuatnya? Meskipun dengan alat tulis yang berbeda-beda, semua pertanyaan itu mampu dijawab tuntas oleh semua peserta. Kemudian saya tegaskan kepada semua peserta, ternyata terbukti mereka bisa menulis. Mereka yang sebelumnya hanya terbiasa menulis satu atau dua baris status di sosial media, ada yang mampu menulis hingga 15 baris. Lalu, saya minta kepada mereka untuk menggabungkan semua jawaban menjadi satu paragrap. Alhamdulillah, tidak ada seorang pun yang kesulitan.

Terakhir, saya minta mereka untuk membacakan tulisannya masing-masing. Sayang sekali, semua  peserta masih malu-malu melakukannya. Akhirnya saya yang membacakannya. Masya Allah! semua karya disambut dengan tepuk tangan yang meriah. Ternyata, semua peserta terbukti bisa menulis. Itu kan baru satu paragrap? Iya tentu saja, semua tulisan berawal dari langkah kecil. Insya Allah, dari satu paragrap itulah tumbuh kepercayaan diri bahwa “Menulis itu mudah dan saya bisa menulis!” Adapun pertanyaan seputar makanan favorit, itu hanyalah tema yang bisa diganti dengan apapun. Bisa dengan sebuah kota, tempat wisata, sekolah, kejadian dan sebagainya.


 Alhamdulillah! sungguh bahagia bisa berbagi sedikit ilmu menulis bersama para santri serta alumni SMPT dan MA Fajrul Islam Kota Tasikmalaya. Saya bukanlah motivator, inspirator apalagi author, namun al faqir yang cinta menulis. Selamat berkarya membangun peradaban barokah! Aamiin.             (Ary Herawan). 

Jumat, 25 Maret 2016

Kebinasaan bagi Ashhabul Ukhdud, Penguasa Pembantai Kaum Mukmin

Ashhabul Ukhdud (Orang-orang yang membuat parit) dicela oleh Allah Swt dalam Q.S. Al Buruuj[85]: 4, yang artinya : “Binasalah orang-orang yang membuat parit”. Mereka adalah para pembesar Najran di Yaman yang hidup di antara masa Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad Saw. Allah sangat mencela mereka karena tindakan keji mereka terhadap kaum mukmin. Mereka memaksa kaum mukmin untuk meninggalkan keimanannya. Tetapi karena kaum mukmin memegang teguh keimanannya, para pembesar tersebut pun  membuat parit-parit yang besar. Mereka lalu membakar seluruh kaum mukmin di dalam parit-parit tersebut.1)
Imam Al Qurthubi menceritakan kisahnya di dalam al Jami’ li Ahkam Al Quran, beliau mengutip sebuah hadits yang cukup panjang dari Shuhaib r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, serta dikeluarkan oleh Imam At Tirmidzi.
Rasulullah Saw menceritakan bahwa pada masa sebelum masa Beliau dan para shahabat r.a., ada seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir. Ketika Sang tukang sihir merasa sudah tua, ia pun berkata kepada Sang raja: “Sesungguhnya aku sudah tua, carikanlah aku seorang pemuda, supaya aku bisa mengajarkan sihir kepadanya.” Lalu diutuslah seorang pemuda untuk belajar sihir kepadanya.
Di suatu perjalanan menuju tukang sihir, Sang pemuda bertemu dengan seorang Rahib, kemudian ia duduk dan menyimak perkataannya, ia pun merasa takjub terhadapnya. Akhirnya, setiap kali ia hendak menemui tukang sihir, ia pun mampir untuk belajar kepada Sang rahib. Sehingga ketika ia datang ke tukang sihir, ia dipukul (karena terlambat, pen.). Sang pemuda pun mengadukan hal tersebut kepada Sang rahib. Sang rahib pun berkata : “Jika engkau khawatir terhadap kepada tukang sihir, katakanlah bahwa keluargamu telah menahanmu. Adapun jika engkau khawatir terhadap keluargamu, katakanlah bahwa tukang sihir telah menahanmu.” Maka teruslah ia seperti itu.
Pada suatu waktu ada seekor binatang buas -dalam riwayat lain disebutkan binatang tersebut adalah singa- yang menghalangi aktifitas para penduduk. Maka ia pun berkata :”Pada hari inilah aku akan tahu mana ajaran lebih utama, tukang sihir ataukah rahib?” Ia pun mengambil sebuah batu, lalu berkata : “Ya Allah, jika ajaran yang disampaikan rahib lebih engkau cintai dibandingkan tukang sihir, maka bunuhlah binatang buas ini sehingga penduduk bisa beraktifitas kembali.” Maka, ia pun melempar binatang tersebut, hingga binatang tersebut tewas dan penduduk pun bisa beraktifitas kembali. Sang pemuda pun menemui rahib lalu menceritakan kejadian tersebut. Sang Rahib berkata :”Wahai anakku, saat ini kamu lebih hebat dariku. Urusanmu telah sampai pada apa yang aku pandang. Sungguh nanti Engkau akan menemui cobaan (bencana), jika engkau terkena cobaan tersebut maka janganlah engkau menunjuk aku.”
Pemuda tersebut pun dapat mengobati penyakit buta dan kusta. Ia pun mengobati berbagai penyakit yang diderita manusia. Hal itu terdengar oleh seorang pejabat raja. Ia telah buta. Ia datang dengan membawa hadiah yang banyak, lalu berkata :”Semua hadiah ini untukmu, jika kau bisa menyembuhkanku”. Sang pemuda pun menjawab : “Aku tidak bisa menyembuhkan siapapun, hanya Allah-lah yang menyembuhkan. Maka jika engkau beriman kepada-Nya, lalu memohon kepada-Nya. Ia pasti akan menyembuhkanmu.” Sang pejabat pun beriman kepada Allah, kemudian Allah menyembuhkannya.
Ketika Sang pejabat menemui raja, lalu duduk sebagaimana yang lainnya. Sang raja pun bertanya : “Siapa yang telah mengembalikan penglihatanmu?” Ia pun menjawab : “Tuhanku”. Raja bertanya:”Kamu punya Tuhan selain aku?” Pejabat pun menjawab : “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Maka Sang raja pun menyiksanya, dan tak berhenti siksaannya sampai ia menunjuk kepada Sang pemuda. Lalu didatangkanlah Sang pemuda, kemudian raja pun berkata kepadanya : ”Hai anakku, apakah telah sampai sihirmu pada sesuatu yang bisa menyembuhkan penyakit buta dan kusta? Lalu engkau lakukan dan lakukan kembali?” Sang pemuda menjawab: ”Aku tidak menyembuhkan siapapun, yang menyembuhkan hanyalah Allah.” Sang raja pun menyiksanya, dan tak berhenti siksaannya sampai ia menunjuk kepada Sang rahib. Kemudian didatangkanlah Sang rahib. Dikatakanlah kepadanya, “Kembalilah kamu kepada agamamu!” Akan tetapi ia tetap menolaknya, hingga digergaji kepalanya. Lalu didatangkanlah Sang pejabat. Dikatakanlah kepadanya, “Kembalilah kamu kepada agamamu!” Akan tetapi ia pun sama menolaknya, hingga digergaji kepalanya. Selanjutnya didatangkanlah Sang pemuda. Dikatakanlah kepadanya “Kembalilah kamu kepada agamamu!” Ia pun enggan. Maka Sang raja menyuruh sekelompok penjaganya:”Pergilah kalian dengannya ke sebuah bukit begini dan begitu, naiklah kalian sampai ke puncaknya, jika ia tidak kembali kepada agamanya lemparkanlah ia (dari puncak, pen.). Maka pergilah para penjaga membawa pemuda tersebut, menaiki bukit. Sang pemuda pun berdo’a : “Ya Allah, hentikanlah aku dari mereka sesuai kehendak-Mu!” Maka bergetarlah bukit dan berjatuhanlah para penjaganya.   
Sang pemuda pun kembali menemui raja. Maka berkatalah Sang raja :”Apa yang menimpa para penjagamu?” Ia menjawab :”Allah telah menyelamatkan aku dari mereka.” Raja pun menugaskan sekelompok penjaga lainnya, lalu berkata :”Pergilah kalian dengannya dan bawalah ia dengan perahu yang besar hingga kalian berada di tengah lautan. Jika ia tidak kembali pada agamanya maka lemparkanlah ia. Mereka pun pergi membawa pemuda tersebut. Sang pemuda berdo’a :”Ya Allah, hentikanlah aku dari mereka sesuai kehendak-Mu!” Rusaklah kapal dan tenggelamlah para penjaganya.
Sang pemuda pun kembali menemui raja. Maka berkatalah Sang raja :”Apa yang menimpa para penjagamu?” Ia menjawab :”Allah telah menyelamatkan aku dari mereka.” Sang pemuda lalu berkata kepada raja:”Sesungguhnya engkau tidak akan bisa membunuhku, hingga engkau mengerjakan apa yang aku perintahkan kepadamu untuk mengerjakannya.” Raja bertanya :”Apakah itu?” Sang pemuda menjawab:” Kumpulkanlah orang-orang di suatu tempat, saliblah aku pada sebatang kayu. Ambillah panah dari kantongku, letakkan pada busurnya. Kemudian katakanlah :”Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.” Lalu panahlah aku. Maka jika engkau melakukan semua itu, engkau dapat membunuhku.
Raja pun mengumpulkan orang-orang di suatu tempat, ia menyalib pemuda itu pada sebatang kayu. Kemudian ia mengambil panah dan meletakkannya pada busurnya. Lalu berkata: ”Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.” Ia pun menarik busur panahnya, lalu memanah Sang pemuda hingga wafat. Orang-orang pun berkata:”Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini! Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini! Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini! Raja lalu mendatangi mereka, dikatakanlah kepadanya: ”Apakah Engkau tidak melihat apa yang anda ingatkan? Sungguh Allah telah menurunkan peringatan melaluimu, orang-orang sungguh telah beriman.”   
Raja pun memerintahkan pembuatan parit-parit di sepanjang jalan, lalu menyalakan api di dalamnya. Lalu berkata :”Barangsiapa yang tidak kembali pada agamanya, maka mereka akan memasukkannya ke dalamnya (parit berapi, pen.).” Orang-orang yang beriman pun masuk ke dalam parit tersebut. Hingga ada seorang perempuan yang membawa anak kecil. Ia pun merasa ragu memasukinya. Maka berkatalah anaknya:”Wahai ibuku, bersabarlah engkau, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.”2)
Sungguh biadab apa yang dilakukan Sang raja. Kaum mukmin dibunuh hanya karena keimanannya, baik anak-anak, orang tua, lelaki maupun perempuan. Mereka dihabisi hanya karena beriman kepada Allah Swt. “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (TQS. Al Buruuj[85]: 8).
Inilah kisah penguasa pembantai kaum mukmin yang dicela Allah Swt. Tidaklah semata-mata Allah Swt mengisahkannya di dalam Al Quran, terkecuali untuk diambil pelajaran darinya. Karena pada setiap ada seruan Al Haq (kebenaran), selalu saja ada para penentangnya. Termasuk ketika surat Al Buruuj diturunkan di Makkah. Rasulullah Saw beserta para shahabat ditimpa fitnah (cobaan) dari orang-orang kafir. Baik berupa tuduhan, ancaman, siksaan hingga pembunuhan. Mereka dimusuhi hanya karena keimanan serta ketaatannya kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.
Sejarah juga mencatat berbagai fitnah yang ditimpakan kaum kafir terhadap kaum mukmin. Ada kisah penyulaan ratusan ribu kaum muslim di Wallachia oleh Vlad III Dracul The Impaler. Pembantaian kaum muslim di Spanyol oleh Ratu Isabela, yang terkenal dengan asal-usul topi Sarbenito (topi khas peringatan tahun baru masehi). Begitu pula kisah pembantaian kaum muslim di Jerusalem oleh “The European Crussaders” pada tahun 1099 M. Serta masih banyak lagi.
Tidak berhenti pada tataran sejarah semata, kondisi saat ini pun menunjukkan hal yang sama. Kaum kafir terus menimpakan fitnah terhadap orang-orang yang beriman. Kekejaman dan pembantaian yang dilakukan penguasa AS, Israel serta sekutunya di Irak, Afghanistan, Palestina, Suriah dan negeri muslim lainnya menjadi bukti nyata hal tersebut. Jutaan kaum mukmin telah menjadi korban kebiadaban mereka. Semua hanya karena keimanan, bukan yang lain. Bahkan isu ISIS, terorisme, radikalisme, serta fundamentalisme terus menerus ‘digoreng’ Amerika Serikat (AS) dan sekutunya untuk menyudutkan orang-orang beriman. dengan dalih isu dan tuduhan tersebut, tidak sedikit kaum mukmin tak berdosa menjadi korban tuduhan, siksaan dan pembunuhan.
Dalam kondisi seperti ini, kita hendaknya selalu meresapi firman Allah Swt. Allah Swt mengancam kaum kafir serta menghibur kaum mukmin dengan sebuah janji-Nya. Firman-Nya, yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada kaum mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat. Maka bagi mereka azab Jahannam yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras.” (TQS. Al Buruuj[85]: 10-12).  Dan Allah Swt pasti menepati janji-Nya.
Oleh karena itu, pada masa-masa penuh fitnah terhadap kaum mukmin seperti saat ini. Tidak ada yang harus dilakukan oleh kaum mukmin, selain istiqomah di dalam keimanan serta ketaatan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Bagaimana hebatnya Abrahah dan pasukannya, ketika Allah Swt menghendaki kebinasaan atasnya maka binasalah mereka. Begitu pula Fir’aun yang memiliki balatentara yang banyak, serta Tsamud yang mampu memotong batu-batu besar di lembah. “(Allah) Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang. (Yaitu) Fir’aun dan Tsamud.”                           (TQS. Al Buruuj[85]: 16-18). Setiap pembantai kaum mukmin pasti akan ditimpa kebinasaan, serta setiap orang yang memegang teguh keimanannya pasti akan mendapatkan kemenangan. Betapa pun saat ini terlihat hebat di hadapan manusia, seperti AS dan sekutunya. Mereka bagaikan Ashhabul Ukhdud gaya baru.
Sama seperti Ashhabul Ukhdud, AS dan sekutunya memposisikan kaum mukmin sebagai musuh yang membahayakan aqidah dan ajarannya. Yakni aqidah sekulerisme, yang meniadakan peran Tuhan di dalam seluruh aspek kehidupan. Di atas keyakinan itulah mereka membangun seluruh sistem aturan, kemudian mempropagandakannya ke seluruh dunia melalui penjajahan. Dalam pandangan mereka, jika kaum mukmin dibiarkan berkuasa kemudian menerapkan aturan Allah Swt, niscaya berakhirlah kekuasaaan dan penjajahan yang mereka lakukan di seluruh dunia. Tidak berbeda seperti kekhawatiran seorang Fir’aun di masa lampau.
Secara syariah, Islam memang berbeda dengan ajaran agama sebelumnya. Tetapi secara keimanan sama-sama mentauhidkan Allah Swt serta menyeru tunduk kepada-Nya. Sehingga, apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dalam menghadapi berbagai fitnah yang menimpanya, tetaplah harus menjadi panduan bagi kita. Meskipun beliau Saw dan para shahabat radliyallohu ‘anhum ditimpa fitnah yang besar, tetapi mereka tetap istiqomah. Rasulullah Saw beserta para shahabat r.a. terus berdakwah, menyeru masyarakat untuk beriman serta tunduk kepada-Nya. Beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya serta menerapkan Syariah-Nya. Sehingga tidak ada pilihan bagi kaum mukmin saat ini, selain terus istiqomah di atas keyakinan Aqidah Islam, serta menyerukan penerapan seluruh aturan Allah yang terpancar dari aqidah tersebut.
Allah Swt pasti memenuhi janji-Nya untuk memenangkan kaum mukmin. “Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dia-lah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (TQS. Arrum[30]: 4-5). Adapun kebinasaan pasti akan menimpa kaum kafir, yang  senantiasa ingkar dan membangkang terhadap Allah Swt. Sebagaimana yang Allah Swt tegaskan, yang artinya “Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan. Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) di Lauh Mahfudz.” (TQS. Al Buruuj[85]: 19-22). Maha Benar Allah Swt dengan segala firman-Nya. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary Herawan, www.aryherawan.blogspot.com)

Sumber Bacaan :
1)                Lih. Q.S. Al Buruuj[85]: 1-9
2)                Lih. Al Jami’ li Ahkam al Qur-an, Al Qurthubi (w. 671 H).

Rabu, 23 Maret 2016

Serangan Budaya April Mop

Gara-gara tidak percaya serta menganggap peringatan Tsunami sebagai lelucon semata, 165 orang tewas di Hawaii dan Alaska. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 1 April 1946 dan dikenal dengan Tsunami April Mop. Itulah peristiwa yang tercatat sebagai korban terbesar akibat mentradisikan lelucon April Mop.

Saudi Gazette melansir (2/04/2012), seorang ibu di Arab Saudi terkena serangan jantung. Peristiwa naas itu terjadi karena ia dikerjai dua anaknya. Ibu yang tinggal di Jeddah tersebut langsung dilarikan ke rumah sakit setelah mendengar salah satu anaknya, Fatimah (7 tahun), diculik seseorang. Keluarga Fatimah baru saja hendak melapor polisi setelah dikabarkan hilang selama tiga jam, sebelum gadis kecil itu lalu muncul sambil tertawa-tawa, mengatakan bahwa itu hanyalah April Mop. Fatimah mengaku disembunyikan kakaknya, Wafa (15 tahun), untuk mengerjai ibunya. Wafa tidak menyangka, keputusannya untuk melakukan kebohongan khas tradisi April Mop ini berujung petaka.

Kedua peristiwa tersebut benar-benar terjadi, lalu apakah itu tradisi April Mop? April Mop (April Fools’ Day, Bahasa Inggris) yang diperingati setiap 1 April dianggap sebagai hari berbohong/lelucon. Pada hari ini orang dibolehkan berbohong, menipu atau melakukan lelucon lainnya terhadap siapapun dengan tujuan mempermalukan Si korban.

Kemunculan tradisi berbohong ini sangat tidak jelas asal usulnya. Banyak sekali cerita yang beredar di tengah masyarakat terkait sejarah kemunculannya. Ada yang beranggapan bahwa peringatan tersebut berasal dari perayaan Tahun Baru bangsa Roma dan penganut Hindu. Menurut bangsa Roma dan penganut Hindu, mereka merayakan Tahun Baru pada setiap 1 April. Tanggal 1 ini dipilih karena dianggap sebagai tanggal yang paling dekat dengan vernal equinox. Yakni, waktu di saat seluruh bumi diperbaharui dengan datangnya musim semi. Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII memerintahkan untuk mengganti penanggalan Kalender Julian tua tersebut, kemudian menggantikan peringatan Tahun Baru masehi ke tanggal 1 Januari. Akan tetapi kisah ini masih diragukan, dengan alasan bahwa kalender Gregorian tidak diadopsi oleh Inggris sampai tahun 1752.

Adapun Joseph Boskin, profesor sejarah di Universitas Boston, mengatakan bahwa April Mop dimulai pada era pemerintahan Constantine. Ketika sekelompok badut bergurau dengan Kaisar Romawi untuk menjalankan kekaisaran. Kemudian Constantine mengizinkan seorang badut yang bernama Kugel untuk mencobanya sehari. Akhirnya, kegiatan ini pun menjadi acara tahunan. Penjelasan Sang Profesor ini ditulis dalam artikel yang dimuat Associated Press pada tahun 1983. Namun setelah beberapa minggu, pihak AP menyadari bahwa Joseph telah mengarang cerita tersebut dan itu hanyalah bagian dari April Mop itu sendiri.

Sebagian kaum muslim menghubungkan April Mop dengan peristiwa pembantaian Kaum Muslim Andalusia. Ustadzah Irena Handono, melalui cuitannya pada 1 April 2013, menyampaikan bahwa bicara April Mop ada kaitannya dengan sejarah Muslim Spanyol di tanggal 1 April 1487 M. Beliau mengingatkan jika anak muda, Islam, yang ikut-ikutan April Mop itu berbahaya. Karena mereka tidak menyadari sejarah kelamnya.

Sejarah kelam yang dimaksud ada kaitannya dengan Perang Granada (1482-1492 M). Pada saat itu, pemerintahan Monarki Katolik (los Reyes Católicos) Isabella I dari Castile dan Ferdinand II dari Aragon, melakukan serangan militer terhadap pemerintahan Islam di Granada. Serangan tersebut berakhir dengan kekalahan Granada, serta mengakhiri semua pemerintahan Islam di semenanjung Iberia (al-Andalus) tersebut.

Kaum muslim dibohongi oleh tentara Salib. Mereka dijanjikan jaminan keselamatan untuk keluar dari Spanyol, bahkan disediakan kapal-kapal yang tertambat di pelabuhan sebagai alat transportasinya. Kaum muslim yang curiga dengan tawaran tersebut diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal yang sudah dipersiapkan. Setelah benar-benar melihat kapal-kapal tersebut, mereka pun bersiap untuk meninggalkan Granada.

Keesokan harinya, penduduk Muslim Granada terbagi dua. Ada sebagian yang meninggalkan rumah mereka dan berangkat menuju pelabuhan, sebagian yang lain bertahan di rumahnya karena tidak mempercayai tentara Salib. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, tentara Salib itu membakar rumah-rumah tersebut bersama orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya. Adapun umat Islam yang menuju pelabuhan pun tidak mengalami nasib yang lebih baik. Tentara Salib membakar kapal-kapal yang ada, kemudian mereka menghunus pedang untuk membantai seluruh umat Islam yang telah berada di pelabuhan. Konon peristiwa pilu yang diawali dengan kebohongan pasukan salib ini terjadi pada 1 April 1487 M, bertepatan dengan 892 H. Peristiwa ini kemudian diperingati sebagai April Fools’ Day yang belakangan menjadi tenar dengan sebutan April Mop. Khusus untuk cerita 1 April 1487 M ini memang masih ada yang meragukan. Namun, terkait serangan pasukan salib ke Granada, serta pembantaian terhadap kaum muslim Andalusia merupakan fakta sejarah yang tak terbantahkan.

Muhammad Tariq Ghazi, penulis buku ‘The Cartoons Cry’ menyangsikan cerita tersebut. Salah satu alasan beliau adalah bahwa Granada jatuh ke tangan pasukan Salib pada 2 Januari 1492 M. Abu Abdullah Muhammad, penguasa Islam terakhir di Granada dan Andalusia menyerahkan kunci Granada kepada Raja Ferdinand. Inilah hari berakhirnya kekuasaan Islam di Andalusia. Hari keruntuhan kekuasaan Islam setelah selama delapan abad Islam berkuasa sejak tahun 92 H. Oleh karena itu, beliau mengingatkan agar umat Islam tidak mempercayai begitu saja cerita asal muasal April Mop tanpa memeriksanya terlebih dahulu dengan kaidah ilmiah. Bahkan menurut beliau, bisa jadi cerita dibuat sebagai bagian dari April Mop itu sendiri untuk membodoh-bodohi umat Islam.

Walhasil, sesuai dengan tradisi April Mop yang membolehkan bohong dan dusta, sejarah kemunculannya pun menjadi simpang siur karena banyak bercampur dengan Hoax (pemberitaan palsu).

Terlepas dari banyaknya versi terkait asal usul April Mop, tetapi kesamaannya adalah perayaan April Mop bukanlah berasal dari Islam. Karena itulah merayakannya bisa terkategori tasyabbuh (menyerupai) kaum kafir. Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Abu Dawud). Kalimat celaan tegas “termasuk bagian dari mereka” merupakan indikasi keharaman perilaku tersebut.  

April Mop terkategori hadlarah, yaitu kebudayaan yang terlahir dari pandangan hidup tertentu. Perayaan April Mop merupakan buah ideologi sekulerisme yang telah melahirkan liberalisme dan permisivisme. Sehingga, materilah yang menjadi standar kebahagiaannya dan manfaat sebagai tolok ukur perbuatannya. Dusta, lelucon  dan mengerjai orang tidak lagi ditinjau dari sudut pandang syariah, tetapi dari sudut pandang kebahagiaan materi dan manfaat semata, bahkan dikapitalisasi karena dipandang menguntungkan secara materi. Padahal Rasulullah Saw sangat mencela dusta dan mengkategorikannya sebagai salah satu tanda kemunafikan.

Selain itu, dua kisah di awal tulisan ini bisa menjadi ibroh. Tradisi dusta dan lelucon khas April Mop telah berbuah petaka. Padahal Rasulullah Saw bersabda : “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari). Rasulullah Saw pun mengingatkan, “Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allâh akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allâh akan menyulitkannya.” (HR. Ibnu Majah).

Kaum muslim terus menerus menjadi objek serangan budaya. Meskipun perayaan April Mop di Indonesia belum seheboh Valentine Day, tetapi dari tahun ke tahun pembudayaannya semakin meningkat. Sebagai contoh lain, kita tentu masih ingat bahwa pada tahun 90-an budaya mngerjai orang pada tanggal kelahirannya merupakan sesuatu yang asing. Akan tetapi kita bisa lihat kondisi saat ini, pembudayaan yang massif telah menjadikannya sebagai kebiasaan tahunan mulai dari anak SD. Inilah serangan budaya. Semuanya terjadi karena pengabaian hukum-hukum Allah Swt (Syariah).

Apabila Syariah Islam diterapkan secara sempurna, penerapannya di bidang pendidikan akan membentuk pola pikir dan pola sikap Islami. Generasi muda akan dibina untuk memilih budaya hanya berdasarkan standar hukum Syara’, yakni halal dan haram. Ekonomi Islam pun tidak akan menjadikan budaya kufur sebagai aset, baik untuk pemasukan negara maupun individu individu. Bahkan sebaliknya, negara akan mengoptimalkan budaya Islam sebagai sarana dakwah terhadap non muslim. Selain itu, penerapan sistem sanksi Islam akan mencegah penyebaran dan pemanfaatan budaya selain Islam. Pelakunya akan dikenai peringatan maupun takzir. Namun, semuanya tentu hanya dapat diterapkan secara sempurna di dalam sistem khilafah, yang dipimpin oleh seorang imam/khalifah. Benarlah apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw : “Sesungguhnya Imam itu adalah perisai. Umat akan diperangi dari belakangnya dan akan dijaga olehnya.” (HR. Muslim). Wallohu a’lamu bishshowwaab.
(Ary Herawan, Pendidik di SMPT Fajrul Islam Kota Tasikmalaya)  

Senin, 21 Maret 2016

Color Run dan Propaganda LGBT

Minggu pagi (28/02/2016) jalanan Kota Banjar menjadi penuh warna, terutama di parkir Banjar Water Park. Sekitar 1500-an orang peserta tumpah ruah mengikuti Festival Color Run 2016. Kegiatan tersebut merupakan puncak acara Ultah Kota Banjar yang ke-13. Namun sayangnya, sangat sedikit orang yang tahu apa itu Color Run. Mayoritas peserta yang hadir hanya menilai keunikan dan kemeriahannya saja, tanpa mengkaji ada apa di balik fenomena Color Run tersebut. Padahal, Color Run merupakan kegiatan yang sedang booming dan mendunia.

Color Run adalah ajang lari 5K (lima kilometer). Pada setiap satu kilometer, para peserta (Color Runner) akan ditaburi bubuk warna-warni, dari mulai ujung kaki hingga kepala. Setelah para peserta sampai di finish, mereka akan disuguhi festival musik yang heboh dan meriah lengkap dengan Disk Jockey. Para peserta pun bebas menari, melemparkan bubuk warna-warni, serta berpoto unik.

Sejak pertama kali diadakan di Amerika pada Maret 2011, kegiatan yang bertajuk utama kesehatan dan kebahagiaan ini terus mendunia. Saat ini, lebih dari 200 kota dan 40 negara mengadakan event ini pada setiap tahunnya. Bahkan semakin terus berkembang secara pesat.

Bagi seorang muslim, tentu tidaklah elok jika menilai suatu kegiatan hanya berdasarkan kemeriahannya semata. Apalagi diberi embel-embel silaturahmi, sebuah istilah yang memiliki makna tertentu dalam pandangan syariah. Padahal bila melihat rangkaian acaranya yang penuh dengan hura-hura, campur baur pria dan wanita yang bukan mahram, serta aurat yang dipamerkan, semuanya terkategori kemaksiatan.

Selain itu, hubungan Color Run dengan propaganda LGBT ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Warna-warni yang ditaburkan dalam acara Color Run bukanlah warna yang tak bermakna. Hal ini semakin kentara dalam acara Tropicolor World Tour 2016, yang direncanakan pihak manajemen Color Run secara mendunia. Yang menarik  dalam ajang tersebut adalah sebuah festival finish yang disebut Rainbow Beach (Pantai Pelangi, Ind.). Kita tahu bahwa rainbow adalah simbol para aktifis dan propagandis LGBT yang mengartikan warna-warni pelangi dengan pemaknaan yang khas. Yakni, merah (life & sexuality), jingga (healing & friendship), kuning (vitality & energy), biru (harmony & artistry) serta Ungu (spirit & gratitude). Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.  

Melalui situs resminya ca.thecolorrun.com, manajemen Color Run menyampaikan bahwa mereka merupakan perusahaan nirlaba. Color Run telah menyumbangkan lebih dari $ 4 juta untuk kegiatan amal. Kepada siapa sajakah kegiatan amal ini ditujukan? Dalam communityni.org terungkap bahwa kegiatan amal tersebut di antaranya ditujukan untuk Rainbow Project. Yakni, sebuah organisasi kesehatan yang bekerja untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental dan emosional serta kesejahteraan kaum LGBT di Irlandia Utara (www.rainbowproject.org). Pada 16 Agustus tahun lalu, Communityni.org menuliskan “Run the Colour Run for The Rainbow Project and raise money for LGBT individuals”. Sebuah seruan untuk menyukseskan acara Color Run di Crawsfordburn Forest Park, Irlandia Utara.

Sungguh telah terbukti apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw sekitar 14 abad yang lalu:

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a.).

KH. Muhammad Shiddiq Al Jawi menyampaikan bahwa LGBT saat ini bukan lagi menjadi perilaku individu, tetapi sudah menjadi gerakan global yang terorganisir. Gerakan LGBT dilakukan via jalur intelektual/akademik, sosial budaya, komunitas, bisnis sampai jalur politik (diplomasi). Khusus jalur sosial budaya bertujuan agar masyarakat menerima perilaku LGBT. Bahkan sedikit demi sedikit dan secara tidak sadar ikut membudayakan simbol LGBT serta menyuburkan gerakannya. Padahal Islam telah mencela secara tegas perilaku maksiat tersebut.

Umat Islam memang mesti terus berbenah, baik secara pemikiran maupun sikap perilaku. Serangan budaya Barat yang bermuara pada kemaksiatan bukanlah hanya satu, tetapi sangat banyak. Color Run hanyalah salah satunya. Akan tetapi pangkal semuanya hanyalah satu, yakni sekulerisme yang telah mengabaikan hukum-hukum Allah Swt. Oleh karena itu selain aktif membina diri dan keluarga dengan Islam, kita juga harus giat berdakwah supaya sekulerisme segera terenyahkan dan hukum Allah Swt segera dapat ditegakkan. Wallohu al muwafiq ila sabiili ar rosyad. (Ary Herawan/www.banjarkota.com)

Minggu, 20 Maret 2016

Yang Selalu Terucap

Harap dan lirih do'aku
Selalu terucap kalian
Kupinta kepada Sang Pencipta
Akan ampunan serta kasih-Nya
Tercurah untuk kalian
Wahai kedua orang tuaku
Seluruh cinta, tetesan darah, keringat dan air mata
Hanya mampu kubalas dengan do'a

Dalam lirih do'aku
Terucap pula kalian
Wahai istri dan putera-puteriku
Kupinta kepada Pencipta
Kalian selalu menjadi peneduh mataku
Harapanku,
Kita menjadi kaum bertaqwa

Sebelum tiba suatu masa
Di mana manusia hanya peduli nasibnya
Anak terpisah dari ibu dan ayahnya
Suami terpisah dari istrinya
Istri terpisah dari suaminya
Orang tua pun terpisah dari anak-anaknya
Setiap jiwa hanya memikirkan hasil amalnya
Tak peduli nasab dan keturunannya
Sebelum masa itu tiba
Aku tak kan berhenti berharap
Mengucap do'a untuk kalian.

(Tasikmalaya, 12 Jumadil Akhir 1437 H)