Jumat, 02 Desember 2016
Kezaliman dan Kompromi Sekulerisme
Selasa, 29 November 2016
Abu Dzar 1438 H
Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, lima puluh (pahala) orang diantara mereka ?,”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Tidak, tapi lima puluh (pahala) orang dari kalangan kalian.” (THR. Abu Daud)
Jumat, 25 November 2016
Sekedar Pertemuan
Selasa, 22 November 2016
Di Sini Di Sana
Beban Yang Menguatkan
Sakit
Bekal
Saling Menuntut
Niat Baik
(Kisah Fiksi)
#Niat_Baik
Menikmati kopi hangat di teras rumah, seraya menatap keindahan awan yang terlukis indah. Betapa santainya Abdul pagi ini. Bukan tanpa agenda, namun karena semua rencana sudah disiapkan sedari malam harinya.
"Alhamdulillah, pagi yang cerah. Saat yang tepat untuk bepergian dengan sepeda motor nih. Apalagi lokasi kegiatan hari ini masih di dalam kota," pikir Abdul dalam benaknya.
"Jika masih siang, nanti kan bisa sekalian jemput istri. Kan jarang-jarang bisa menjemputnya. Apalagi kalau sedang ngisi kegiatan di luar kota," ucapnya dalam hati.
Tak lama berselang, Sang istri menghampiri duduk di sampingnya.
"Gimana pak? Bisa jemput Ibu nanti siang? Hari ini kan Bapak tidak keluar kota," tanya Sang istri.
"Gimana nanti ya Bu? Biasanya kan sehabis kegiatan suka ada rapat evaluasi," jawab Abdul.
Sebetulnya, Abdul tak ada janjian evaluasi dengan panitia siang itu. Namun entah mengapa, tiba-tiba terbersit keinginan untuk membuat kejutan bagi Sang istri. Apalagi selama ini, Abdul selalu tak bisa jika diminta menjemputnya.
"Gimana Bapak ini, tadi malam katanya bisa sekalian jemput? Ya sudahlah kalau begitu, Ibu pulangnya naik angkutan umum saja," Jawab Sang istri.
"Iya bu, naik angkutan umum saja," jawab Abdul. Hatinya terasa bahagia, karena punya kesempatan untuk memberikan kejutan buat Sang istri. Meskipun hanya sekedar menjemput.
"Berangkatnya saja kita bareng ya Bu? Kebetulan kan satu arah," Tegas Abdul.
"Iya Pak! Ga apa-apa toh Ibu selama ini sudah biasa naik angkutan umum. Ayo siap-siap berangkat!" Ajak Sang istri.
Abdul dan istrinya pun keluar rumah bersama. Selepas mengantar istrinya, Abdul pun ke lokasi kegiatannya hingga menjelang dzuhur.
Setelah selesai acara, sesaat sebelum berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat Dzuhur, tiba-tiba salah seorang panitia menghampirinya.
"Pak, afwan nanti sehabis acara kita evaluasi kegiatan dulu ya!" Ujarnya.
Mendengarnya, Abdul kaget bukan kepalang. Rencananya untuk memberi kejutan kepada Sang istri bisa gagal total nih, pikirnya.
"Gimana pak, bisa kan? Ketua panitia yang memintanya? Soalnya, kehadiran Bapak sangatlah penting untuk evaluasi kegiatan ini," tegasnya.
"Duh, gimana ya? Saya mau jemput istri saya. Kasihan dia kalau pulang naik angkutan umum," Jawab Abdul.
"Mengapa juga dadakan, kan tidak ada rencana evaluasi?" Tanya Abdul.
"Iya, ketua panitia lupa menegaskan. Karena pikirnya, rapat evaluasi sehabis acara itu hal yang sudah biasa."
"Afwan kalau dadakan begini, saya tidak bisa," tegas Abdul.
"Oh, ya ga apa-apa pak. Nanti kami minta masukan tertulisnya."
"Iya lah kalau begitu, insyaAllah nanti kalau saya sudah sampai di rumah."
Setelah shalat dzuhur, Abdul pun langsung melaju sepeda motornya. Ia sudah membayangkan, bagaimana roman bahagia Sang istri, jika ternyata ia datang menjemputnya.
Singkat cerita, sampailah Abdul di lokasi tempat istrinya di antar tadi. Sebuah rumah asri nan sederhana. Tanaman yang tertata dan teras yang bersih, menggambarkan kerapihan para penghuninya.
Namun kok rumahnya terlihat sepi. Abdul mulai ragu, jangan-jangan istrinya sudah pulang. Untuk memastikannya, ia pun turun dari motornya, bermaksud untuk mengetuk pintu rumah serta mengucapkan salam.
Belum saja niatnya terlaksana, tiba-tiba terdengar suara seseorang berjalan di belakangnya.
"Eh, Nak Abdul. Assalamu 'alaikum!" Tanya seorang ibu paruh baya menyapanya dengan ramah.
"Wa 'alaikumussalaam warohmatullah!"
"Mau jemput Si Neng ya? kan tempat kegiatannya dipindah ke rumah Bu Rima," jelasnya.
Ibu tersebut sangat mengenalnya begitupun sebaliknya. Beliau adalah bu Amin mertua bu Dina, teman istrinya mengaji.
"Puterinya Bu Rima sakit, jadi kajiannya dipindah ke sana," jelas Ibu Amin.
"Oh begitu bu, makasih infonya Bu. Saya langsung pamit saja," ujar Abdul seraya langsung menaiki motor bebeknya.
"Iya, kasihan Nak Abdul. Si Neng ga ngasih kabar apa-apa gitu?" Tanyanya.
Abdul hanya menjawabnya dengan senyuman,
"Assalamu'alaikum," pamit Abdul.
Ia pun langsung pamit. Seraya melihat jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 1 siang. Ia pikir masih ada waktu untuk menjemput istrinya. Karena seingatnya, jadwal kegiatan istrinya sampai jam setengah dua.
Ia langsung memundurkan motornya tanpa menunggu jawaban salam bu Amin.
Rumah Bu Irma memang tidak jauh dari rumahnya. Malahan kalau naik angkutan umum, hanya sekali naik saja. Tetapi jika dari lokasinya saat ini, hanya ada dua pilihan jalur. Ia memutar melalui jalur lingkar atau masuk dalam kota melalui jalur satu arah. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk memutar ke jalan lingkar. Pertimbangannya adalah menghindari macet.
Alhamdulillah, jalur lingkar sepi dan lenggang. Meskipun jaraknya lebih jauh, namun waktu tempuhnya bisa lebih cepat.
Saat sedang melaju kencang, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat ada kerumunan polisi lalu lintas. Wah ada razia nih, pikirnya. Ia pun memelankan motornya, lalu ke pinggir mengikuti arahan pak polisi yang bertugas.
"Selamat siang pak! Mohon maaf perjalanannya terganggu. Boleh keluarkan SIM dan STNK-nya Pak!" Sapa Pak Polisi.
Tanpa basa-basi, Abdul pun langsung mengeluarkan SIM dan STNKnya dan menyerahkannya kepada petugas.
"Mohon maaf pak! masa berlaku SIM Bapak sudah habis, mari ikuti saya Pak!" ucap Pak Polisi itu kemudian.
"Habis, masak sih pak?" Tanya Abdul seolah tak percaya. Ia pun memastikannya, namun ternyata Pak Polisi tersebutlah yang benar. Masa berlaku SIM-nya tertulis 13 Juli 2016, sudah lewat 4 bulan yang lalu. Abdul pun pasrah. Bukan hanya harus merelakan STNK-nya ditahan, ia pun harus merelakan waktunya habis berlalu di lokasi razia.
Kesempatan untuk menjemput istrinya pun pupus. Meskipun demikian ia tetap memaksakan ke rumah Bu Irma, siapa tahu istrinya belum pulang. Namun sayang sekali, Sang istri sudah pulang bersama teman-temannya.
Sesampai di rumah, ia pun mengisahkan semua kejadian tadi kepada istrinya.
"Bapak, bapak, ada-ada saja. Makanya Pak, niat baik saja belumlah cukup. Tetapi, harus dijalankan juga dengan cara yang baik. Coba kalau Bapak menempuh cara yang baik, pasti niat baik bapak berakhir baik," petuah Sang istri.
"Iya Bu, bapak khilaf. Astaghfirulloh," akunya seraya mengusapkan telapak tangan ke wajahnya.
(T A M A T)
Sabtu, 12 November 2016
Sesal Tangis Si Abdul
"Kan biaya ojek normal saja 50rb saja?" Tanya Abdul kembali.
"Di saat rekan-rekan LDK lain berlomba-lomba meraih nilai spiritual dengan menambah infak. Anggota LDK kita masih berpikir hanya nilai materi semata. Mengapa ya?" Ucap Abdul.
Jumat, 11 November 2016
Meraih Posisi Negara Pertama (Menyibak Sorotan atas Pemilu AS)
“Mengapa semua saluran televisi menyiarkan tentang Pemilu AS, memangnya rakyat Indonesia ikut memilihnya?” ujar salah satu pengguna FB di dindingnya. Tidak menutup kemungkinan, pertanyaan serupa juga ada di benak kita. Namun tetap saja dari musim ke musim, pemilu AS tetap menarik dan menjadi sorotan media massa.
Kita masih ingat bagaimana kemenangan Obama yang pertama kali, pada tahun 2008, pemberitaannya menghebohkan berbagai media tanah air. Bahkan kemenangannya mengundang banjir harapan dari para tokoh Indonesia, khususnya muslim. Presiden pertama kulit hitam itu diharapkan akan membawa perubahan dalam hubungan AS dengan Islam. Meski pada kenyataannya, tetap saja ia memerangi dunia Islam. Begitu pula dengan pemilu AS tahun ini (2016), pengumuman pemenangnya langsung menghiasi media cetak dan daring.
Media BBC Indonesia menampilkan screenshoot status Joko Anwar, yang menulis “Nggak pernah sedeg-degan ini sama hasil pemilu presiden negara lain.” Namun Presiden RI, Jokowi memastikan bahwa hubungan AS dan Indonesia akan baik-baik saja. “Hubungan kita tetap akan baik, terutama hubungan dagang dan investasi. Kita tahu Amerika termasuk investor lima besar di Indonesia. Saya kira tidak akan ada perubahan,” ujarnya di Istana Negara. (pikiranrakyat.com., 09/11/2016).
Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa pemilu AS akan menjadi bahan pemberitaan tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Bahkan di Timur Tengah sampai diadakan survey terkait pemilu AS. Survey opini ini dilakukan oleh Center for Research and Policy Studies di sembilan negara. Sebanyak 65 persen responden mengatakan kemenangan Hillary akan berimbas positif terhadap wilayah Arab. (republika.co.id., 9/11/2016)
Sepak terjang AS di kancah internasional telah membuat pemilu negerinya menjadi buah bibir masyarakat dunia. Hal ini tidak lain karena dalam konstelasi internasional, AS terkategori sebagai negara pertama. Menurut pengamat politik Islam, Farid Wajdi, negara pertama adalah negara adidaya yang membuat kebijakan secara internasional. Negara inilah yang menghegemoni dunia dan memiliki pengaruh utama dalam konstelasi politik internasional. (4/12/2007)
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Mafahim Siyasiyyah li Hizbittahrir menjelaskan bahwa kedudukan negara pertama di dunia bukanlah hal yang baru. Itu sudah ada sejak lama. Dalam sejarah kuno, Mesir pernah menjadi negara pertama. Sementara Asyiria di Irak menyaingi Mesir untuk kedudukan ini. Dahulu negara Romawi pernah menjadi negara pertama dan negara Persia menyainginya untuk kedudukan ini. Daulah Islamiyyah (Negara Islam, pen.) di masa Khulafa ar-Rasyidin hingga Perang Salib pernah menempati kedudukan negara pertama dan tidak ada satu pesaing pun untuk kedudukannya itu. Perancis pernah pula menjadi negara pertama sedangkan Inggris menyaingi kedudukannya.
Daulah Utsmaniyyah, sebagai negara Khilafah Islamiyyah, pernah menjadi negara pertama hampir tiga abad lamanya, tanpa satu pesaing pun untuk kedudukannya hingga pertengahan abad ke-18 M. Sebelum Perang Dunia I, Jerman adalah negara pertama di dunia. Sedang Inggris dan Perancis menyaingi Jerman untuk kedudukannya itu. Setelah Perang Dunia I Inggris merupakan negara pertama sedang Perancis menyaingi kedudukannya. Menjelang Perang Dunia II Inggris menjadi negara pertama, sedang Jerman berusaha menyaingi kedudukannya dan hampir menjadi negara pertama. Perang Dunia II meledak dan AS terjun ke dalam perang tersebut. Perang berakhir dan AS menjadi negara pertama. (An-Nabhani, 1969). Meskipun dalam perjalanannya pernah disaingi Uni Soviet, Inggris dan Perancis. Khususnya Uni Soviet mempunyai pengaruh yang lebih kuat. Ketika para pesaingnya melemah, AS menjadi tanpa saingan hingga saat ini.
Sorotan dunia terhadap negara pertama tidak hanya terjadi saat ini. Pada masa Rasulullah Saw masih hidup pun pernah terjadi. Negara Persia dengan wilayah seluas 7.400.000 km2 (3 kali lipat Indonesia) bersaing dengan Negara Romawi yang memiliki luas wilayah 5.000.000 km2 (2 kali lipat Indonesia). Pertempuran keduanya seringkali menjadi headline berita dunia saat itu. Orang-orang bertanya-tanya dan penasaran siapakah yang akan menjadi pemenangnya. Para shahabat bertanya kepada Rasulullah Saw tentangnya. “Siapakah yang akan menang dalam pertempuran besar ini?” tanya para shahabat. Nabi Saw tidak langsung menjawabnya, hingga turun Q.S. Ar Rum[30] : 2-4, yang artinya :
“Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang beriman.”
Allah Swt Yang Maha Mengetahui, langsung menjawab pertanyaan para shahabat. Allah Swt menyebutkan bahwa Romawi akan dikalahkan oleh Persia, namun ia akan berbalik meraih kemenangan pada kurun 3-9 tahun kemudian.
Begitulah pengaruh negara-negara pertama terhadap konstelasi internasional. Namun sayangnya, posisi negara pertama tersebut tak lagi dipegang oleh kaum muslim, padahal Allah Swt menegaskan bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik, “Kalian adalah umat yang terbaik, yang dilahirkan untuk manusia.” (TQS. Ali Imran[3] : 110).
Semestinya, posisi negara pertama dipegang kembali oleh umat Islam. Sehingga, umat Islam bukan menjadi umat yang harap dan cemas atas pemilu di negara lain. Tetapi justru umat Islam yang menjadi penentu konstelasi politik internasional.
Untuk bisa meraih posisi negara pertama, suatu negara wajib memiliki sebuah ideologi dan menyerukannya ke seluruh dunia. Sebuah negara ideologis akan mempunyai kemampuan bertahan dan menyerang. Dengan kata lain, negara ini tidak hanya bisa menjaga tapal batasnya, tetapi bisa memperluas ideologi dan pengaruhnya hingga menyaingi negara pertama di kancah internasional. Dan umat Islam memiliki potensi tersebut, yakni Islam itu sendiri. Islam memiliki seperangkat aturan hidup yang khas. Selain agama, Islam juga merupakan ideologi.
Kita bisa berkaca pada apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Negara Islam yang beliau Saw dirikan di Madinah, benar-benar diperhitungkan. Negara Islam saat itu masih muda, ia dijepit dua negara besar yang telah berusia ratusan dan ribuan tahun. Di sebelah timur ada Persia yang berusia 1176 tahun, di sebelah barat ada Romawi yang berusia 650 tahun. Meski wilayah negara Islam hanya seluas Madinah dengan populasi awal penduduk sekitar 1500-an orang, semua itu tidak menghalangi Rasulullah Saw untuk menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.
Di kemudian hari, negara Islam terbukti menjadi negara pertama selama berabad-abad, serta melingkupi dunia dengan kesejahteraan. Carly Fiorina, CEO Hewlett-Packard, mengatakan bahwa peradaban Islam mampu menghasilkan sebuah negara super yang membentang dari samudera ke samudera, dari daerah sub-tropik hingga ke daerah tropik dan gurun. Dalam wilayah kekuasaannya, tinggal ratusan juta warganya, yang terdiri dari berbagai kepercayaan dan bangsa. Wallohu a’lamu bishshowwaab.
(Ary Herawan, Ketua DPD II HTI Kota Tasikmalaya)
Rabu, 09 November 2016
OONISME (Sebuah Kisah Fiktif)
Terceritakan di negeri Oon sedang terjadi kasus besar. Kasus ini melibatkan pejabat kerajaan. Seorang pejabat kerajaan yang licik, didakwa telah menerima suap dari seorang borjuis.
Di waktu yang telah ditentukan, dihadirkanlah terdakwa dalam suatu sidang terbuka di hadapan rakyat. Rakyat sebenarnya sudah mengetahui dan merasakan kejahatan pejabat kerajaan tersebut, dan rakyat berharap Sang pejabat tersebut dihukum seberat-beratnya.
Raja: "Aku persilahkan kepada penuntut untuk membacakan dakwaannya."
Si penuntut pun membacakan dakwaannya yang panjang, di akhir dakwaannya ia menegaskan bahwa terdakwa bersalah.
Penuntut: "...karena itulah, maka terdakwa jelas bersalah karena telah disuap sebanyak satu milyar dan harus diusir dari kerajaan ini."
Mendengar tuntutan dari Si Penuntut, Sang pembela langsung angkat tangan.
Pembela: "Keberatan, Raja!"
Raja pun mempersilahkan Pembela untuk menyampaikan keberatannya.
Pembela: "Mohon diperjelas, klien saya disuap pakai apa?"
Raja: "Keberatan diterima. Silahkan penuntut untuk memperjelas maksudnya."
Rakyat yang menyaksikan pengadilan tersebut semakin banyak. Mereka berdatangan dari penjuru kerajaan.
"Terdakwa terbukti disuap pakai uang satu milyar!" Tegas penuntut dengan nada agak kesal. Seolah yang sudah jelas seperti itu masih saja ditanyakan.
Mendengar jawaban penuntut yang tegas, rakyat pun senang. Mereka mulai riuh memberikan dukungan.
"Tenang, tenang saudara!" Teriak pembela disertai tawa dan tepuk tangan gembira.
"Wahai raja dan hadirin semua, terdengar jelas bahwa klien saya disuap pakai uang satu milyar, iya kan?" Tanya pembela.
"Iya!" Jawab raja singkat.
Rakyat pun mulai teriak, "Iyaaa!"
Lalu, pembela tersebut berkata:
"Berarti raja harus membebaskan klien saya, karena berdasarkan ejaan bahasa negeri Oon edisi terbaru. Istilah DISUAP PAKAI itu bermakna TIDAK DISUAP. Dan jika tidak disuap, berarti klien saja harus dibebaskan dari segala tuntutan."
Raja: "Anda benar! Karena itu saya putuskan bahwa terdakwa dibebaskan dari segala tuntutan."
"Bagaimana Penuntut, menerima keputusanku?" Tanya raja.
"Saya menerima semua putusan raja, anda telah berlaku adil!" Tegas Penuntut.
Rakyat: "?$&?*#%!?*$+?&#-?"
Akhirnya, pejabat yang licik tersebut pun bebas.
Rabu, 02 November 2016
4 Shafar 1438 H di Masa Depan
Sejarah merupakan kisah para pemenang. Demikianlah pandangan saya pada sejarah saat ini. Oleh karena itu, saat sekulerisme menjadi pemenang peradaban sekarang, dan ia berkuasa. Semua sejarah tentang Islam ditutup rapat-rapat. Dari sejarah peradaban manusia sebelum masehi, langsung loncat begitu saja ke masa kegelapan Eropa. Kemudian masa kebangkitan Eropa, PD I dan PD II. Seperti itulah ideologi sekulerisme menanamkan sejarah di benak generasi saat ini. Peradaban Islam yang gemilang selama 13 abad, seolah disulap menjadi tiada. Sejarah Islam hanya milik pesantren dan gerakan Islam semata.
Kini umat Islam mulai membuka mata. Menjelang kebangkitan Islam yang sudah menjadi kepastian dari janji Allah Swt dan bisyarah Rasulullah Saw, sejarah Islam pun mulai mengemuka. Permata kegemilangan Islam yang dibenamkan dalam lumpur peradaban sekulerisme, sedikit demi sedikit mulai mengilau. Ia semakin bersinar dari waktu ke waktu. Sejalan dengan peningkatan kesadaran umat, untuk kembali kepada Islam.
Di masa depan kelak, kehidupan kita kini pun akan menjadi sejarah. Dan masa depan adalah pasti milik Islam. Sehingga sejarah Islamlah yang akan menjadi milik manusia di masa depan. Adapun sekulerisme, sebagaimana komunisme kini, hanya akan terceritakan sebagai masa kejahiliyyahan manusia modern. Di mana generasi masa depan akan jijik memandangnya.
Karena itulah, 4 Shafar 1438 H akan tercatat dalam sejarah Islam di masa depan. Sebagaimana tercatatnya perang Al Abwa, perang Bi'ru Maunah, kemenangan Perang Khaibar, penaklukan Persia serta jatuhnya Baghdad ke tangan Hulaghu Khan. Yang semua peristiwa tersebut terjadi di bulan Shafar.
Tanggal 4 Shafar 1438 H, akan tercatat sebagai momen persatuan kaum muslim. Momen tergeraknya kaum mukmin atas penghinaan terhadap Al Quran. Jutaan kaum mukmin berdiri di hadapan kesombongan manusia-manusia yang membela penghina Al Quran. Sejarah akan mencatat, di mana kita berada. Di pihak orang-orang beriman ataukah di pihak penghina Al Quran.
Tentukan sikap sebelum terlambat, karena masa depan hanyalah milik Islam.
ALLOHU AKBAR !!!
#HukumAhok
#HukumPenghinaAlQuran
