Kamis, 29 Oktober 2015
Tulisanku Malam Ini
Senin, 26 Oktober 2015
Perjuangan Menulis bagi Seorang Muslim
Menulis hanyalah menuangkan ide dan gagasan yang tersimpan di otak. Otak bagaikan teko, jika diisi teh manis maka ia akan mengeluarkan teh manis. Sebaliknya jika diisi teh beracun, ia pun akan mengeluarkan teh beracun. Otak yang diisi dengan informasi-informasi yang benar, tentu akan mengalirkan tulisan yang tidak hanya baik, tetapi juga mampu memperbaiki.
Minggu, 25 Oktober 2015
Menumbuhkan Cinta Menulis
Jumat, 23 Oktober 2015
Al Haqiiqah dan Al Majaz
- Judul bukanlah terjemahan, judul bab dalam kitab aslinya adalah Al lughatu l-Arabiyyah.
- Kitab Tafsir karya Asy-Syaikh Al ‘Alim ‘Atha Ibnu Khalil Abu Al-Rasytah (Amir Hizbut Tahrir saat ini), Darul Umah, Beirut, 2006 (ed. Mu’tamadah).
- Dua jenis lafadz lainnya, yaitu Al Isytiqoq dan at-Ta’rib, insyaAllah akan diterjemahkan kemudian.
Kamis, 22 Oktober 2015
Aktifitas Jihad Wali Songo
Selasa, 20 Oktober 2015
SEMARAK HIJRIYAH
Peringatan tahun baru hijriyah belakangan ini semakin semarak. Jauh lebih semarak dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Tiap kota dan Kabupaten di Jawa Barat mengadakan pawai obor dan berbagai perlombaan. Tentu tujuannya adalah supaya umat Islam mengenal tahun baru Islam. Karena memang kita akui, mayoritas umat Islam lebih banyak mengenal penanggalan masehi dibandingkan hijriyah.
Berbagai maksud baik dalam rangka tahun baru hijriyah patut diapresiasi. Akan tetapi, semarak kegiatan tahun baru hijriyah tidak boleh membuat kita melupakan maknanya.
Penamaan bulan qomariah memang sudah ada sebelum Nabi Muhammad Saw diutus. Akan tetapi, perhitungan tahun hijriyah ditetapkan setelahnya, yakni pada masa Khalifah Umar bin Al Khaththab r.a. Umar menetapkan tahun pertama hijriyah bertepatan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw. Sebuah peristiwa yang sangat berharga dalam rangkaian sejarah dakwah Islam.
Rasulullah Saw berangkat hijrah pada malam 27 Shafar tahun ke-14 kenabian, atau bertepatan dengan 12 September 622 M. Rasulullah Saw hijrah ditemani shahabat Abu Bakar Ashshiddiq r.a. Mereka berdua sampai di Madinah pada hari Jum’at 12 Rabi’ul Awwal 1 H, setelah sebelumnya singgah di Quba pada hari Senin 8 Rabi’ul Awwal 1 H. Masyarakat madinah menyambutnya dengan semarak dan penuh antusias. Hampir tiap hari mereka memandangi padang pasir yang luas, menanti-nanti Nabi sekaligus pemimpin yang sangat mereka cintai.
Semarak kaum mukmin pada masa itu sangatlah sarat makna. Kegembiraan mereka terpancar dari keceriaan wajah, tutur kata dan bait-bait syair yang dilantunkannya. “Bulan purnama telah menyinari kita. Dari Tsaniyatul Wada’. Wajiblah kita lantunkan syukur. Selama ada yang mengajak kepada Allah. Wahai orang yang diutus kepada kami. Engkau telah membawa perkara yang ditaati. Kesemarakan yang terlahir karena rasa syukur. Setelah lama mereka larut dalam kehidupan jahilyyah, datanglah Rasulullah Saw. Utusan Allah sekaligus pemimpin yang mengajak Iman kepada Allah Swt, serta taat kepada-Nya.
Tidak hanya kaum Anshar, kaum Muhajirin pun menyambut perintah hijrah ini dengan banyak pengorbanan. Ummu Salamah yang terpisah lebih dari setahun dengan suami dan putrinya. Kemudian Ayyasy yang dijebak dan ditahan di Makkah selama 2 tahun. Pengorbanan Abu Bakar Ashshiddiq yang menemani perjalanan hijrah Rasulullah Saw. Atau Shuhaib bin Sinan Ar Rumi yang meninggalkan seluruh hartanya, kemudian berhijrah hanya dengan jubah yang dipakainya. Sampai turun firman Allah Swt mengenainya, yang artinya : “dan di antara manusia, ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (TQS. Al Baqarah[2] : 207). Sungguh perniagaan yang sangat menguntungkan.
Hijrah Rasulullah Saw dan kaum Muhajirin semarak syukur atas Iman serta ketaatan kepada Allah Swt. Karena itulah, kaum Muhajirin dan Anshar sangat menikmati setiap perjuangan dan pengorbanan karenanya. Setelah hijrah, wahyu Allah yang telah turun, diterapkan menjadi hukum positif di masyarakat. Adapun yang turun setelahnya, diterapkan secara langsung tanpa menunda-nunda.
Hijrah merupakan momentum penting rangkaian dakwah Rasulullah Saw. Ketika sebelum hijrah, benteng keimanan kaum muslim hanyalah dirinya sendiri. Sehingga, tak sedikit kaum muslim yang disiksa, bahkan dibunuh hanya karena agamanya. Setelah hijrah, masyarakat dan negara pun menjadi benteng penjaga keimanan. Karenanya Islam benar-benar terjaga dari berbagai penodaan terhadapnya. Ketika sebelum hijrah, Rasulullah mengecam kebiasaan maksiat, misal kebiasaan berbuat curang kaum jahiliyyah secara lisan semata (lih. Q.S. Al Mutahffifin). Setelah hijrah, Rasulullah Saw menerapkan sistem ekonomi Islam secara utuh. Bahkan, Rasulullah pun mengangkat para qadli hisbah, serta melakukan inspeksi ke pasar untuk mencegah berbagai praktek kecurangan. Sebelum hijrah, posisi Rasulullah Saw tidak diindahkan. Setelah hijrah, orang kafir di Madinah pun tunduk dan patuh kepadanya, beliau menjadi pemutus berbagai perselisihan di tengah masyarakat. Sebelum hijrah, kaum muslim diboikot dan diembargo. Setelah hijrah kaum muslim memiliki wilayah kekuasaan yang terus meluas seiring menyebarnya dakwah Islam. Setelah hijrah, dengan penerapan hukum Allah secara sempurna, kaum muslim memiliki izzah (kemuliaan).
Islam tidak hanya sekedar konsep yang dapat dibaca dalam Al Quran, namun teraplikasi sampai metode teknis pelaksanaannya. Setelah menjadi pemimpin di Madinah, beliau Saw menerapkan aturan dengan wahyu sebagai rujukan. Rasulullah Saw mengangkat para wali (pemimpin setara gubernur), menyiapkan pasukan, mengurus pengelolaan sumber daya alam. Beliau saw pun menyiapkan para tabib, pendidik, para tentara, para penarik zakat dan sebagainya.
Hijrah Rasulullah menjadi momentum transformasi masyarakat, dari yang ahli maksiat menjadi ahli taat. Setelah 13 tahun Rasulullah dan para shahabat menghela perubahan ke arah Islam dengan perjuangan dan pengorbanan. Mulai dari waktu, tenaga, harta dan kedudukan, bahkan nyawa karena kedzaliman penguasa Makkah pada saat itu. Akhirnya, kaum muslim mendapatkan pertolongan Allah Swt melalui kaum Anshar. Oleh karena itu, luapan semarak syukur kaum Muhajirin dan Anshar sungguh tak terkira. Pada hari itu, bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah Swt.
Mari kita bandingkan dengan semarak peringatan tahun baru hijriyah yang kita lakukan saat ini. Sudahkah kita semarak bergembira karena hukum Allah Swt diterapkan sempurna. Ataukah kita bersukacita hanya karena isi acara yang penuh hiburan dan hadiah semata. Tentu kita bisa menjawabnya dengan hati yang jujur. Tentunya, peringatan tahun baru hijriyah bukanlah pawai obor semata, tetapi sejauh mana perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Dan bagi kaum mukmin, tidak ada yang lebih baik daripada diterapkannya hukum Allah Swt secara sistemik dan paripurna. Wallohu a’lamu bishshowwaab.
Minggu, 18 Oktober 2015
#Secercah Hidayah di Surau Sekolah# 2
Kamis, 15 Oktober 2015
#Secercah Hidayah di Surau Sekolah#
Dadan melempar tas punggungnya ke sudut kamar. Wajahnya merah dan kusut.
Hampir setiap hari Dadan meratapi nasibnya. Sebagai anak tunggal yang dibesarkan dalam kemewahan, tentu perlu banyak beradaptasi bila harus hidup dalam kekurangan.
"Lah..., paling juga nyuruh makan siang". Lanjutnya, dengan wajah masam.
"Makan dulu yuk!" Lanjutnya.
Dadan malah menatap ayahnya dengan wajah dingin cemberut.
"Aku bosan dengan masakan ayah. Aku hanya mau makan di rumah makan." Lanjutnya dengan ketus.
"Besok bila cuci motor Ayah rame, pasti Ayah belikan, " lanjutnya.
Senin, 12 Oktober 2015
Penjelasan Mengenai Bertambah dan Berkurangnya Iman *)
Jumat, 09 Oktober 2015
Langit-langit
Langit-langit
putih seputih warna putih langit
Langit-langit
Kutatap
bersih sebersih terang bersih langit
Adakah dirimu di sini?
Ary Herawan
Baitul Marhamah, Penghujung Dzulhijjah 1436 H
Kamis, 08 Oktober 2015
Wana yang Teraniaya
Hidung yang tersandera
Tenggorokan yang meradang
Paru yang terjelaga
Nyawa yang meregang
Ini,
Wana yang teraniaya,
Rusak, lumpuh, terluka karena serakah kapitalis pendosa
Alam yang tersiksa,
Hancur, lemah, ternoda karena regulasi nafsu manusia
Sungguh benar firman Allah ta'ala
Rusak darat dan laut karena ulah manusia
Dosa dan maksiat karena berpaling dari hukum-Nya
Ya...Allah yang Maha Perkasa,
Segerakanlah pertolongan-Mu
Hadirkanlah para penguasa pencinta-Mu
Penyambut seruan-Mu dan Rasul-Mu
Penerap hukum wahyu-Mu
karena,
Hanya itulah satu-satunya solusi bagi negeri ini
Wana lestari dalam naungan syariah-Mu,
Pasti dan niscaya adanya
Tasikmalaya, 25 Dzulhijjah 1436 H
Ary Herawan
Rabu, 07 Oktober 2015
Anak Sehat Fisik dan Pikir
Sabtu, 03 Oktober 2015
Aku dan Sepeda Baruku
"Pah, ayo dong belikan aku sepeda!" Pintaku kepada Papah Sabtu siang itu. Mungkin itu rengekanku yang keberapa puluh kalinya. Saat itu, aku masih kelas V SD. Melihat teman-temanku bersepeda baru, aku pun jadi ingin memilikinya. Maklum, sepeda bekas kakak pertamaku sudah mulai usang. Sehingga, hampir tiap pagi, sore dan malam, terus saja aku meminta Papah untuk membelikan sepeda baru. Bahkan, tatkala Papah baru pulang kerja pun, aku tak peduli. Keinginanku yang menggebu, telah menghalangiku dari melihat cucuran keringat dan wajah lelahnya.
"Ya, tunggu sebentar, Papah ganti baju dulu. Setelah itu, kita langsung ke toko sepeda." Akhirnya, Sabtu siang itu, Papah bersedia membelikanku sepeda baru. "Iya Pah, Asyiiik !" mataku langsung berbinar-binar dengan bibir tersenyum lebar. Tanganku pun terkepal dengan langkah penuh semangat, aku mondar-mandir menunggu Papah. Terbayang di benakku, sebuah sepeda baru yang bisa kupamerkan di hadapan teman-temanku.
Marrubeni, itulah merk sepeda baruku. Bila dibandingkan dengan punya teman-temanku, tampilannya jauh lebih trendi. Accesoriesnya pun lebih oke dan ramai. Di stangnya sudah dihiasi nomor yang membuatnya semakin keren. Warna dominannya hitam, dengan variasi kuning dan merah. Wah, pokoknya saking kerennya sepeda tersebut, sampai sekarang pun aku masih bisa membayangkannya. Aku sangat puas, karena aku yang memilihnya sendiri.
Malam Minggu itu terasa sangat panjang bagiku. Tak sabar rasanya hati ini ingin segera melewatinya. Makanya, setelah isya, aku langsung menuju tempat tidurku, sebuah dipan di kamar berukuran 2x2,25 m. Namun, mata ini susah sekali terpejam. Khayalanku jauh mendahului putaran jam dinding tua yang tergantung di ruang keluarga. Pikiranku jauh meninggalkan Sang Rembulan malam yang ditemani bintang-bintang. "Besok pagi, teman-temanku mesti kagum dengan sepeda baruku". Gumamku dalam hati dengan wajah cerah berseri. Aku terus membayangkan hari esok, bermain sepeda bersama teman-teman. Apalagi, esok adalah hari libur, aku pasti bisa puas bermain seharian. Setelah lama larut dalam lamunan, akhirnya aku pun tertidur lelap.
Seperti biasanya, Papah membangunkan putra-putrinya untuk shalat fajar. Aku pun langsung bangun dengn penuh semangat. Bahkan, seusai shalat ditunaikan, aku langsung bergegas mandi dan ganti pakaian. Sebagaimana rencana tadi malam, aku ingin segera memamerkan sepeda baruku. Setelah sarapan, aku pun langsung berpamitan untuk main. "Hati-hati ya bermain sepedanya!" Ujar Mamih padaku. "Iya Mih" jawabku yang dilanjutkan dengan ucapan salam. Aku pun mendorong sepeda menyebrangi Jl.Mayor Sl Tobing. Tujuanku adalah lapangan bermain dekat rumah nenekku di daerah Sambong Pari Kulon.
Pagi itu masih sekitar jam 7 Wib. Aku dan sepeda baruku sudah berada di lapangan yang dituju. Sebagaimana yang kubayangkan, teman-temanku langsung mengerubuti aku dan sepeda baruku. "Wah, bagus sekali sepedanya!" Puji teman-temanku. Hati ini makin berbunga-bunga mendengarnya. Tapi sayang, di antara mereka tidak ada yang mau bersepeda keliling ke luar kampung. Waktu itu, kasus penculikan anak masih sangat jarang. Sehingga, anak-anak sudah terbiasa bermain sepeda sampai melewati dua atau tiga kampung tetangga.
Aku pun memutuskan untuk bermain ke salah seorang teman sekolahku, namanya Aat, lengkapnya Aat Ruhiat. Katanya, itu adalah nama khas orang Sunda. Konon katanya kalau orang Sunda menikah dengan bule Rusia, nama anaknya mesti Cecep Ghorbachev. Kembali lagi ke Aat, ia tinggal di Sambong Babakan Kaler. Untuk sampai ke kampungnya, aku mengayuh sepeda melewati Kampung Sambong Pari Kidul dan rimbunan kebun bambu.
Aku masih beruntung, pagi itu Aat ada di rumah. Ia pun bersedia main sepeda denganku. Bahkan, ia menyarankanku untuk mengajak Cucu turut serta. Cucu Suhendar, itulah nama lengkapnya. Ia teman sekolah kami berdua. Kami pun bermain sepeda dengan riang gembira. Tertawa-tawa, bercanda-canda dan beradu kecepatan serta saling susul-menyusul.
Semakin lama kayuhanku semakin cepat. Dengan penuh semangat, aku dan sepeda baruku jauh meninggalkan Cucu dan Aat. Aku pun tertawa riang seraya menoleh ke belakang. Ternyata, Cucu dan Aat juga bersemangat mengejarku. Aku pun mengayuh dengan lebih cepat lagi. Di tengah kayuhan cepatku, cepat tiba-tiba terdengar Cucu dan Aat berteriak lantang. "Ary Awaaas! Ada motor di depan!" Namun, naas bagiku. Di pertigaan Sambong PLN yang sepi itu tabrakan tak terhindarkan. Aku yang sedang menyebrang dengan kencang, ditabrak sebuah sepeda motor yang juga melaju dengan sangat kencang.
"Brukk ! Gubrak! " Aku pun langsung tak sadarkan diri. Kejadiannya berlalu sangat cepat. Aku tak ingat apa-apa. Yang tersisa di memoriku, saat itu aku terkulai lemas di pangkuan orang dewasa. Kepalaku pusing dan sangat susah untuk bernafas. Kemudian salah seorang di antara mereka ada yang berkata. "Oh, ini perutnya memar membiru".
(bersambung)