Minggu, 28 Agustus 2016

Vox Populi Vox Die

Para penganut demokrasi sering mempropagandakan vox populi vox dei, yang berarti suara rakyat adalah suara Tuhan. Slogan tersebut dikumandangkan sebagai perlawanan atas kelaliman Raja Louis XIV dari Perancis pada akhir abad XVII. Doktrin gereja saat itu mengajarkan bahwa raja merupakan perwakilan tuhan di bumi, sehingga segala titahnya merupakan titah tuhan yang wajib ditaati.
Dampaknya, para pendeta dan raja seringkali melakukan permufakatan jahat yang berujung pada derita rakyat. Inilah yang memicu munculnya gerakan perlawanan yang dimotori kaum cendekiawan.

Runtuhnya tirani rezim diktator di Perancis berdampak luas ke seluruh Eropa. Masa kegelapan Eropa berubah menjadi masa-masa penuh dengan kebebasan. Dogma dan doktrin kaum ortodox menjadi tidak laku lagi, tergantikan dengan eufhoria demokrasi yang lahir dari rahim sekulerisme. Kaum cendekiawan yang sedari lama terpasung, merumuskan ulang interaksi agama dan pengaturan masyarakat. Ujungnya, agama harus dibatasi pada urusan privat semata dan ditabukan dari pengaturan kehidupan masyarakat. Karena berdasarkan pengalaman mereka, agama telah terbukti hanya dijadikan stempel penguasa untuk menzalimi rakyatnya. Eropa pun meninggalkan masa kegelapannya lalu bangkit dengan sekulerisme.

Kebangkitan Barat dengan sekulerismenya seolah menjadi kiblat kebangkitan umat manusia. Apalagi setelah Inggris meruntuhkan Khilafah Utsmaniyyah pada tahun 1924. Ditambah lagi kemenangan AS atas perang dingin melawan Uni Soviet pada akhir abad XX. Negeri Islam yang sudah berkeping-keping akhirnya tersedot dalam pusaran sekulerisme. Umat Islam pun ikut-ikutan mengadopsi sistem pemerintahan demokrasi. Barat mengemasnya sebagai antitesis dari sistem pemerintahan diktator. Tak sedikit kaum muslim yang ikut-ikutan menyuarakan vox populi vox dei.

Meskipun slogan vox populi vox dei sudah mulai banyak dikritisi. Suara rakyat tetaplah suara rakyat sedangkan suara tuhan tetap suara tuhan. Suara rakyat bukan suara tuhan karena rakyat bisa salah sedangkan tuhan tak pernah salah. Itulah beberapa kritikan terhadap slogan vox populi vox dei. Tetapi anehnya, tidak sedikit dari para pengkritik tersebut yang tetap berpegang pada sekulerisme. Mereka menempatkan suara tuhan hanya pada aspek ritualitas semata. Padahal, kehidupan manusia bukanlah sekedar dalam cakupan ritual semata.

Penyerahan kedaulatan mutlak kepada manusia dalam menetapkan hukum meniscayakan adanya kezaliman. Manusia yang kuat pastilah yang akan menguasai penentuan baik dan buruk. Mereka yang terdiri dari para kapitalis akhirnya mendominasi manusia yang lain. Budi Frensidy, pengamat pasar keuangan, mengutip laporan Oxfarm pada awal tahun 2015. Dalam laporan tersebut dinyatakan bahwa kekayaan 80 orang terkaya di dunia mencapai US$ 1,9 triliun atau lebih dari dua kali produk domestik bruto RI saat itu. Yang mencengangkan menurutnya, angka ini setara dengan kekayaan lebih dari 3 milyar penduduk dunia. Atau kekayaan satu orang di antara 80 orang terkaya sebanding dengan 40 juta orang kelompok bawah.

Tidak hanya sampai di sana. Oxfarm juga mencatat bahwa kekayaan 1 % penduduk teratas yang rata-rata US$1 2,7 juta per orang akan lebih besar dari 99% penduduk dunia lainnya. Sedangkan menurut laporan Institut Global untuk Penelitian Perkembangan Ekonomi milik PBB, sebanyak 10% populasi dunia menguasai 85% dari total aset dunia.

Kondisi Indonesia tidaklah jauh berbeda. Pada tahun 2015, Bank Dunia mencatat bahwa sebanyak 10% orang terkaya di Indonesia menguasai 77% kekayaan nasional. Menurut Faisal Basri (beritatrans.com), kekayaan yang diperoleh orang kaya Indonesia tersebut diperoleh karena kedekatannya dengan penguasa.

Subsidi dihilangkan, pajak dinaikkan, BUMN dijual menjadi milik segelintir orang, utang menjerat negara miskin dan berkembang, SDA pun dieksploitasi habis-habisan. Sedangkan pada sisi yang lain, karpet merah pengampunan dan toleransi diberikan kepada para kapitalis dan pelaku tindak pidana pencucian uang, kebijakan tax amnesty salah satu buktinya.     

Sepanjang sejarah peradaban manusia, wahyu Allah Swt selalu menjadi penghapus kezaliman. Kaum Ad, Tsamud, Ashhabul Ukhdud, Namruz, Firaun, masyarakat jahilyyah Arab, semuanya menunjukkan bahwa kezaliman kerap terjadi saat manusia jauh dari aturan Allah Swt. Allah Swt mengutus para Rasul untuk membimbing manusia kembali kepada wahyu Allah Swt. Supaya seluruh manusia hidup dalam hidayah serta dinaungi keadilan.

Aqidah Islam jelas bertentangan dengan slogan vox pupuli vox dei. Apalagi jika kita merenungkan firman Allah Swt yang menegaskan bahwa jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (lih. Q.S. Al An’am[6]: 116). Dalam pandangan Islam, kebenaran bukan terletak pada pendapat mayoritas manusia. Kebenaran hanya terletak pada wahyu Allah Swt semata, bukan yang lain.

Sekulerisme yang berbuah demokrasi dan liberalisme telah nyata-nyata menciptakan kerusakan dan ketidakadilan. Vox populi vox dei hanyalah slogan menyesatkan. Selain bertentangan dengan keimanan, hakikat realitas yang terjadi adalah vox populi vox die atau suara rakyat adalah jeritan kematian. Walhasil, mari tinggalkan sekulerisme dan kembali kepada syariah Allah Swt.

(Ary H. -  Blogger dan Penulis di Akademi Menulis Kreatif)

Minggu, 07 Agustus 2016

Kaya Konsep, Salah Satu Keuntungan Menulis

Ada yang menarik dari pengalaman saya hari ini (7/8/2016). Hari Ahad dengan agenda yang cukup padat. Sedari pagi sudah ada forum pertemuan dengan para tokoh dan ulama. Bersambung dari satu agenda ke agenda lainnya. Padahal, malamnya baru tidur jam 01.15 dinihari, setelah merampungkan tulisan tentang Milky Way.
Melompat dari satu agenda ke agenda yang lain, mungkin biasa. Tetapi jika ada agenda yang tidak dinyana atau dadakan, baru agak luar biasa. Begitulah yang saya alami hari ini. Ketika sedang sibuk dengan persiapan akreditasi di salah satu sekolah, tiba-tiba istri menelpon.
“Assalamu’alaikum Bi, ini anak-anak sudah pada nunggu!”
“Wa ‘alaikumussalam, ada apa gitu? Setelah jawab salam, saya balik bertanya.
“Kan sekarang Abi jadwal ngisi pengajian pemudi,” ucap istri mengingatkan.
“Ini anak-anaknya sudah pada ngumpul.”
Mendengar hal tersebut, saya cukup kaget. Karena baru ingat kalau malam itu adalah jadwal ngisi pengajian. Saya kira tetap di Rabu malam Kamis. Tapi bagaimana lagi, mau membatalkan juga tidak mungkin. Masak para remaja putri sudah niat untuk pengajian, kemudian dibubarkan begitu saja.
“Iya, abi baru beres ngprint. InsyaAllah langsung pulang,” kata saya.
Selama perjalanan, pikiran saya langsung menerawang di antara ide-ide yang berkelebatan. Akhirnya, jatuhlah pada suatu tema yaitu Milky Way. Mengapa demikian? karena semalam saya baru saja menulis tentang fenomena Milky Way yang dihubungkan dengan keimanan. Tapi sayangnya tulisan saya pendek, padahal space pengajian pemudi sampai 45 menitan. Ya ga apa-apalah, saya pikir itu juga sudah mencukupi.
Sesampainya di masjid, saya mendengar para pemudi sedang tilawah Al Quran. Ternyata yang mereka baca adalah Q.S. Al Buruuj. Saya langsung teringat tentang salah satu tulisan saya di salah satu media online, yakni tentang kisah Ashabul Ukhdud. Alhamdulillah, dengan bermodal dua tulisan yang pernah saya buat, saya pun punya konsep dalam mengisi materi sebuah pengajian.
Tapi kan pengalaman tersebut berhubungan dengan aktifitas membaca? Iya benar. Justru itulah, aktifitas menulis akan memaksa kita untuk membaca. Kemudian dengan membaca dan menulis itulah, berbagai informasi –baik berupa kisah maupun konsep- akan tertancap lebih kokoh di dalam memori kita.
Oleh karena itu, menulis bisa membuat pikiran kita menjadi kaya akan konsep. Yuk Menulis!
(Ary H. – Islamic Writer Educator @ Akademi Menulis Kreatif / 5 Dzulqo'dah 1437 H )  

Sabtu, 06 Agustus 2016

Milky Way Bukan Sekedar Pengamatan

Ada sesuatu yang baru di hari Sabtu (6/8/2016) tadi. Setidaknya itulah yang saya alami. Setelah membaca sebuah berita di salah satu surat kabar, cerita anak pulang sekolah serta status teman-teman di sosial media, ternyata ada kesamaan. Yaitu, sedang menghebohkan fenomena Milky Way. Agak sedikit penasaran juga, akhirnya saya buka-buka kembali surat kabar hari ini. Karena menurut saya, melihat keindahan langit kan sudah biasa, mengapa sekarang menjadi heboh.

Menurut Hendro Setyanto, astronom serta pengelola Imah Noong Bandung, Milky Way merupakan gugusan milyaran bintang-bintang, yang saking terangnya hingga membentuk efek selimut cahaya. Sebenarnya, fenomena itu terjadi rutin dalam setiap tahunnya, yakni pada periode bulan April hingga September.

Ternyata hebohnya fenomena Milky Way belakangan ini tidak terlepas dari Kampanye Malam Langit Gelap. Program yang diinisiasi oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) ini,  dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Keantariksaan Nasional pada setiap 6 Agustus. Melalui program Malam Langit Gelap, LAPAN mengajak seluruh warga Indonesia untuk mematikan lampu serta berbagai penerangan pada Sabtu malam (6/8/2016), mulai jam 20.00 sampai 21.00. Mengapa mesti demikian? Karena fenomena Milky Way hanya bisa terlihat jika langit cerah serta didukung peniadaan polusi cahaya.

Menurut Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, jika seluruh warga kota ikut serta dalam gerakan ini, maka sejumlah keajaiban akan tampak. Kita bisa melihat "Segitiga Musim Panas" yang terdiri dari bintang Vega, Deneb, Altair. Bintang-bintang yang tersusun dalam bentuk segitiga ini sangat legendaris. Di Jepang, gugusan ini dikenal dengan nama "Gingga". Mungkin dari istilah inilah muncul film anak-anak yang berjudul Ultraman Gingga. Selain itu, seluruh Indonesia juga bisa melihat berbagai rasi bintang dengan mata telanjang, di antaranya Angsa dan rasi Kalajengking. Bahkan khusus untuk Sabtu malam besok, Mars, Saturnus dan bintang Raksasa Merah Antares pun dapat disaksikan. Sungguh fenomena alam yang sangat luar biasa.

Entah serba kebetulan, atau memang inilah yang namanya kenikmatan iman. Saya langsung teringat dengan beberapa ayat yang dibaca pada ba’da maghrib tadi. Yakni, beberapa ayat di permulaan surat Al Mulk. Allah Swt berfirman, yang artinya :

“(Allah) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat suatu kekacauan dari ciptaan Sang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu melihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangilah pandanganmu sekali lagi dan lagi. Niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat, bahkan ia akan kembali dengan lelah. Dan sungguh kami hiasi langit dunia dengan bintang-bintang, dan Kami jadikannya (bintang-bintang) sebagai alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala” (TQS. Al Mulk[67]: 2-5)

Al Qurthubi mengutip Qotadah yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan bintang-bintang itu dengan tiga tujuan. Yaitu, hiasan langit, pelempar setan dan tanda petunjuk untuk di darat, laut serta waktu.

Allahu Akbar! Maha besar Allah dengan segala keagungan-Nya. Meskipun saya tidak bisa menyaksikan Milky Way tadi malam, tersebab mendung yang menutupi Kota Tasikmalaya serta banyaknya polusi cahaya. Tetapi melalui media daring, saya dapat membuka beberapa photo jepretan Milky Way di beberapa tempat. Masya Allah! Benar-benar sangat indah.

Bagi seorang muslim, keindahan alam ini selayaknya menjadi penambah keyakinan akan kekuasaan Allah Swt. Sungguh manusia itu sangat kecil dan tidak ada apa-apanya. Dibandingkan dengan berbagai benda langit saja kita benar-benar kecil, apalagi di hadapan Allah Yang Maha Besar.

Allah Swt menegaskan bahwa bintang-bintang yang sangat besar itu sebagai alat pelempar setan. Kalangan jin serta manusia yang selalu mengajak maksiat serta menentang Allah Swt. Oleh karena itulah bagi kaum mukmin, fenomena Milky Way ini bukan sekedar pengamatan yang sekuleristik, sehingga dipisahkan dari keimanan. Bahkan sebaliknya, mesti jadi bagian dari aktifitas tafakkur akan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” (TQS. Ali Imran[3]: 190)

Bagi orang-orang berakal, fenomena Milky Way bukanlah sekedar pengamatan tetapi sarana peningkatan keimanan dan ketaatan. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary H.- 4 Dzulqo'dah 1437 H - 7 Agustus 2016)

Jumat, 05 Agustus 2016

Penguasa; Antara Janji dan Tipuan

Bikin janji untuk sengaja diingkari, bisa terkategori tipuan terencana. Tetapi karena egonya, tiada orang yang mau terstigma, termasuk para penguasa. Biasanya mereka berkata bahwa kami sedang berusaha,  serta mohon dimaafkan jika belum sesuai idealita. Begitulah kerap kali terdengar jika para penguasa melanggar setiap janji kampanyenya.

Janji-janji manis diobral dalam setiap hajatan pemilihan. Tanpa obral janji, kampanye seolah tiada arti. Tentunya, tetap diiringi dengan bagi-bagi ‘rejeki’ serta penampilan para artis seksi. Semuanya bukan lagi menjadi rahasia pribadi. Ujung-ujungnya rakyat kembali gigit jari. Begitulah dunia demokrasi, janji dan ilusi menyatu dalam satu alunan melodi.

Hampir setiap kampanye, kesejahteraan dan program-program pro rakyat digembar-gemborkan. Realitanya, program pro para kapitalislah yang dilaksanakan. Rakyat kemudian ditinggalkan dalam penderitaan. Paling hanya segelintir pendukung yang mendapatkan bagian. Itu pun kalau mereka punya kedekatan. Jika tidak, siap-siap saja diacuhkan. Menjadi pemimpin dalam sistem demokrasi, benar-benar menakutkan.

Jika kita bandingkan dengan pemimpin yang diproduk oleh sistem khilafah. Sungguh kita bisa mengambil banyak ibrah. Misalnya, Umair bin Sa’ad al-Anshari Sang Kepala Daerah. Sebagaimana diceritakan dalam beberapa kisah.

Umair bukan kepala daerah yang gila fasilitas. Ketika menjabat pun ia tak meminta semua sarana dan prasarana yang serba khas. Apalagi yang jarang sekali ditemui secara bebas. Karena hanya dimiliki orang-orang kalangan atas.

Setelah setahun Umair menjadi Gubernur di Himsh, Khalifah Umar bin Al Khaththab memanggilnya. Umair berjalan tanpa alas kakinya. Sesampai di Madinah, Ukazah menuntun kedua tangannya. Tatkala Khalifah melihat keadaannya, bertanyalah beliau kepadanya :”Wahai Umair, apakah engkau sengaja membuat kami takjub kepadamu, ataukah negara ini menjadi negara yang buruk?” Umair menjawab:”Wahai Amirul Mukminin, apakah Allah tidak melarangmu untuk berterus-terang dalam berburuk sangka?” Aku datang kepadamu dengan dunia yang alasnya sangat dekat.” Dengan penuh takjub, Khalifah Umar bertanya:”Apa yang kau bawa Wahai Umair?” Umair menjawab:”Aku bersandar kepada Ukazah. Dengannya aku melawan musuh yang dijumpa. Bekal yang aku bawa di dalamnya  adalah makananku. Peralatan yang aku bawa di dalamnya adalah air minumku dan air untuk bersuciku, juga ada mangkok besar yang kugunakan untuk berwudlu, mencuci pakaianku, membersihkan kepalaku, serta dengannya aku memakan makananku. Maka demi Allah wahai Amirul Mukminin, tidak ada kenikmatan dunia lagi kecuali yang ada bersamaku.”

Umair bukan orang yang gila jabatan. Ia tak mau menjabat berkepanjangan. Sungguh ia khawatir akan penghisaban. Padahal, ia memimpin dengan penuh kezuhudan. Itu pun masih penuh dengan kekhawatiran. Dalam dialog dengan Amirul Mukminin pun terceritakan.

Tatkala Amirul Mukminin bertanya:”Apa yang engkau lakukan dalam pekerjaanmu Wahai Umair?” Umair menjawab:”Aku mengambil unta dari pemilik unta, dan jizyah dari ahlu dzimmah sementara mereka tunduk. Kemudian aku bagikan jizyah tersebut kepada kaum fakir, miskin dan ibnu sabil. Maka demi Allah Wahai Amirul Mukminin! Jika masih tersisa sesuatu di tanganku, sungguh aku berikan kepadamu.” Mendengar hal tersebut, Umar berkata kepadanya:”Kalau begitu, kembalilah engkau ke pekerjaanmu wahai Umair!” Umair menjawab:”Mudah-mudahan Allah membimbingmu Wahai Amirul Mukminin. Hendaknya engkau mengembalikan diriku kepada keluargaku dan melepaskanku dari kekuasaan ini.  Karena aku mendengar Rasulullah bersabda: ”Siapa saja penguasa yang menipu kepada rakyatnya, maka Allah mengharamkan surga baginya.” Mendengarnya, Umar berkata: ”Aku akan menyerahkan urusannya kepada orang yang mewakilinya!” Setelah itu, Umar mengijinkan Umair kembali kepada keluarganya. Umair pun pulang dengan penuh gembira dan bahagia.

Umair pun bukan yang haus akan tunjangan. Anggaran negara tidak dijadikan bancakan. Kesejahteraan rakyat sangat diutamakan. Pastinya, semua itu bukanlah sekedar slogan. Benar-benar sungguhan. Tatkala Umar memberinya dua karung makanan dan dua buah pakaian. Umair ragu-ragu menolak pemberian. Kemudian Umair berkata dengan penuh ketawadhuan.

“Wahai Amirul Mukminin, aku terima dua buah pakaian. Tapi dua karung makanan itu aku tidak membutuhkan. Bagi keluargaku, satu sha gandum untuk mereka sudahlah tercukupkan.”

Sungguh, sistem Islam mampu memproduk para pemimpin yang anti janji demi sebuah tipuan. Bukan pula  para pemimpin yang penuh dengan rayuan. Tetapi, para pemimpin yang penuh dengan ketaqwaan dan kezuhudan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran.

(Ary H.- Penulis Binaan Akademi Menulis Kreatif / 3 Dzulqo’dah 1437 H. )

Rujukan kisah : Asy-syakhshiyyah Al Islamiyyah Ulama wa Qodah. Dr. Fathi As’ad Na’jah. Ed. Terj.


Jumat, 15 Juli 2016

Simalakama Politik

Tak dimakan ayah yang mati, dimakan pun ibu yang mati. Apalagi dimakan sebagian tak dimakan sebagian, mungkin keduanya mati. Sepertinya pepatah itu cocok untuk kondisi yang dihadapi umat Islam saat ini.

Dalam dunia yang terkungkung sekulerisme, seperti saat ini. Umat Islam seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan sikap politis, tetapi tidak jarang berbagai pilihan itu hanyalah plan A, B dan C-nya Sang Dalang penjajah. Jadi, meskipun umat Islam menjatuhkan pilihan politik pada salah satu opsi, penjajahan tetap berjalan aman.

Tidak hanya satu kali kaum muslim dihadapkan pada pilihan-pilihan tersebut. Misal, pilih orde lama atau orde baru? Sudahkah umat Islam menjatuhkan pilihan, hasilnya? Pilih orde baru atau orde reformasi? Blok barat atau blok timur, atau opsi non blok? Kerajaan ataukah republik? Bahkan sampai menyikapi pencalonan pilpres AS. Seolah-olah ada opsi segar pada salah satu kandidat. Faktanya, tetap saja di bawah kendali Sang Dalang. Pun tetap saja umat Islam jadi korban eksploitasi penjajahan. Sehingga, setiap pilihan sering diakhiri dengan penyesalan karena opsi yang ada hanya buruk dan sangat buruk. Jika melihat kondisi kekinin, mungkinkah simalakama juga disajikan pada kudeta Turki?

Simalakama politik tercipta karena umat terkungkung paradigma sekulerisme. Seakan tiada solusi lain selain itu. Atau bahkan sebagian umat sudah ada yang merasa nyaman dengan status quo, sehingga impian keluar darinya dianggap mengganggu zona nyaman. Entahlah. Mungkin demikian adanya.

Sebenarnya simalakama politik bisa diakhiri. Buang saja buah simalakama yang disajikan kemudian ganti dengan buah-buahan yang segar dan layak konsumsi. Lawan penyajinya, ganti dengan penyaji yang lain. Karena dunia ini bukan milik AS Sang Dalang Penjajah. Dunia ini diwariskan oleh Allah Swt untuk kaum mukmin, untuk umat terbaik.

Akhiri simalakama dengan lawan penjajahan AS, munculkan penyaji yang lain untuk umat Islam, yakni Negara Khilafah yang opsi-opsinya selalu di antara baik dan sangat baik.

Wallohu a'lam (Ary H. - 11 Syawal 1437 H)

Senin, 27 Juni 2016

Ironi Malam Kemuliaan

Menanti malam seribu bulan
Malam diturunkan Al Quran
Seraya sebagian isinya dicampakkan
Ia dipisahkan dari sistem kehidupan
Bahkan suara rakyat berlagak suara Tuhan
Mari berkaca diri wahai insan beriman

(Ary H. - Selong, 23 Ramadhan 1437 H)

Minggu, 26 Juni 2016

KALA PALESTINA BERTUTUR

Terenyuh aku dalam luka
Meleleh air mata ini tak terasa
Seiring hati yang teriris cerita
Kisahmu saudaraku
Seba'da Ashar di sepuluh terakhir bulan mulia
Di sebuah Masjid nan megah dan terjaga
Dimanja teduhnya cuaca
Semilir angin yang menyejukkan

Kala engkau bertutur saudaraku,
Aku berderai air mata
Meluapkan amarah yang terkurung dalam dada
Merasa diri lemah tak berdaya

Engkau saudaraku dari tanah suci Palestina
Kau berwasiat tentang berbagai fadhilah
Tentang Ashar, Ramadhan hingga malam Lailatul Qadar
Tentang...
Masjid Al Aqsha dan tanah Palestina
Masjid mulia yang terabadikan dalam Al Quran
Kiblat pertama umat Islam yang kini terabaikan
Terkotori najis-najis bangsa kera,
Ternodai simbol-simbol yahudi
Serta tuturmu tentang derita saudara muslim Palestina
Terjajah, tersiksa di dalam sebuah penjara raksasa
Berderai air mataku tak tertahan

Tak hanya sampai di sana
Kau pun bercerita tentang para khalifah
Para perisai kaum muslim
Semua menjaga Al Aqsha
Khalifah Umar yang mengambil kunci Al Aqsha
Sulthan Salahuddin Al Ayyubi yang menaklukkan Tartar
Khalifah Sultan Hamid II yang mengusir Hertzl serta menolak uangnya
Semuanya, demi menjaga Al Aqsha
Lalu, engkau bertanya saudaraku
Maka siapa yang akan menjaga Al Aqsha sekarang?
Kuusap lagi, derai air mata ini
Seraya malu, lemah tak berdaya

Tapi, engkau tetap tegar
Dan terus menyampaikan rasa terima kasih
Jazakumullohu khoiron untuk seluruh muslim Indonesia
Tak terlihat air matamu, entah karena sudah tiada yang tersisa

Saudaraku, aku membathin
InsyaAllah sedekah kaum muslim akan berpahala
Namun, solusi atas tanah Palestina bukan sekedar harta
Ia digunakan membangun, bangsa kera menghancurkannya
Diperbaiki lalu yahudi biadab meluluhlantakkannya
Semua ini bukan hanya tentang sedekah
Kisahmu tentang Palestina dan Masjid Al Aqsha

Tanah Palestina adalah tanah umat Islam
Yang direbut zionis penjajah
Tentara-tentara muslim  yang di barak harus bergerak !
Angkat senjata, bebaskan tanah Palestina !
Hancurkan Yahudi, selamatkan muslim Palestina !
Muliakan kembali Masjidil Aqsha
Bukan semata dengan rupiah, yang seringkali seadanya
Berderai air mata, umat terbaik menjadi lemah tak berdaya

Sebagaimana wasiatmu saudaraku
Umat Islam seluruhnya saudara
Dalam saling bantu dan kasih mereka laksana satu jasad
Jika satu bagian tubuh merasakan sakit, bagian lain menderita panas dan demam
Mengapa kaum ini menjadi lemah tak berdaya?

Semua terjadi sejak khilafah tiada
Ashobiyyah nasionalisme yang memenjara
Para penguasa yang berkhianat
Serta kungkungan ideologi kapitalisme yang sesat

Saudaraku yang tercinta
Kusimak seluruh kisahmu seraya mengusap lelehan air mata
Kisahmu adalah pembakar semangat,
Pengingat diri yang khilaf
Karena solusi hakiki atas tanah Palestina
Hanyalah dengan KHILAFAH dan JIHAD

(Ary H. - Selong, 21 Ramadhan 1437 H)

Sabtu, 25 Juni 2016

Menetapkan Tujuan (Catatan Kecil untuk Rekan AMK)


Pernahkah rekan-rekan mengalami sebuah perjalanan yang sangat melelahkan? Saya pernah mengalaminya, minimal ada dua pengalaman perjalanan. Yang pertama adalah ketika naik bis umum Tasikmalaya-Kuningan. Berjubel, berdesakan, harus antri tempat duduk, bau asap rokok, jalur yang berkelak-kelok dan berbagai derita lainnya yang seringkali kita rasakan ketika naik angkutan publik yang murah di negeri ini.


Kejadian tersebut mengingatkan saya pada perjalanan Tasikmalaya-Bandung pada bulan April yang lalu. Selain kendaraan yang sudah tidak laik jalan, padatnya jalur yang dilalui juga menjadi faktor penambah ‘derita’ dalam perjalanan. Pada saat pemberangkatan, para penumpang dicoba dengan keterlambatan bis hingga berjam-jam. Selama perjalanan bis yang dinaiki tidak kuat mendaki tanjakan. Pada saat perjalanan ke Bandung, saya dan beberapa penumpang terpaksa harus turun di tanjakan Gentong. Bahkan, perjalanan pulangnya jauh lebih mencekam. Para penumpang cemas hampir sepanjang perjalanan, karena bis seringkali mogok di saat mendaki tanjakan yang curam. Pada tanjakan yang ke sekian kalinya, sebagian penumpang pun terpaksa turun lalu berganti bis yang lain menuju Tasikmalaya. Berganti bis memang pilihan yang tepat, tetapi jalur ke Tasikmalaya saat itu memang padat, berkali-kali macet dalam perjalanan harus diterima dengan pasrah.


Saya bercerita di sini bukan untuk curhat. Namun, untuk berbagi ibrah dari sebuah perenungan diri akan pentingnya sebuah tujuan. Dalam setiap perjalanan, kita tentu memiliki tujuan. Perjalanan saya yang pertama bertujuan ke Kuningan, selanjutnya pulang ke Tasikmalaya. Apapun yang terjadi selama perjalanan, sungguh tak mendorong saya untuk berbalik arah. Begitupun dengan perjalanan sebelumnya, ke Bandung lalu kembali lagi ke Tasikmalaya. Saya merasakan dan menyaksikan, meskipun jalur pulang (Bandung-Tasikmalaya) mengalami macet yang sangat panjang, tetapi tidak ada satu pun bis yang kembali ke Bandung dengan alasan jalur ke arah Bandung kosong. Semua tetap pada jalurnya. Semata karena mereka sudah memiliki tujuan. Tujuan inilah yang menjadi pegangan mereka, untuk tetap konsisten serta menikmati setiap cobaan dan penderitaan.


Kita mesti punya tujuan yang bisa kita pegang secara konsisten. Tidak ada konsistensi, jika tanpa tujuan yang telah ditetapkan. Bagaikan sebuah taksi yang tidak memiliki tujuan, kemana saja orang naik dan membayar, ke sanalah ia akan melaju.


Seseorang yang berperan sebagai penulis, ia pun mesti menetapkan tujuan terlebih dulu. Hendak dibawa ke manakah perannya tersebut? Begitupun yang berperan sebagai pelajar, mahasiswa, dokter, perawat, guru dan sebagainya, tentu harus memiliki tujuan. Baik tujuan itu berupa "tujuan antara" dalam perannya maupun "tujuan utama" dalam hidupnya.


Setiap manusia bisa merenungkan "tujuan utama"-nya dengan menjawab pertanyaan “untuk apa saya hidup?” Peran apapun yang kita ambil, jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi "tujuan utama" hidup kita. Misal, jika kita merupakan seorang penulis yang memandang bahwa hidup ini hanya untuk sekedar bersenang-senang. Tentunya sekedar untuk kesenangan diri sajalah kita menulis. Yang penting, tulisan kita banyak yang share dan like, tak peduli apakah isinya memperbaiki atau merusak masyarakat. Halal dan haram tak jadi ukuran. Faktanya saat ini, tak sedikit penulis yang sedemikian adanya, menebar fitnah, hoax, mengumbar aib dan sebagainya. Ia menghalalkan segala cara hanya untuk sebuah popularitas serta rupiah. Begitupun jika kita menganggap hidup ini untuk menghamba kepada Sang Pencipta, maka tentunya ukuran ridla dan murka Allah-lah yang dijadikan patokan. Tiada yang lain.


Di atas “tujuan utama” inilah kita sandarkan “tujuan antara” kita. Kita yang tergabung dalam Akademi Menulis Kreatif tentu punya ekspektasi tinggi dapat berperan sebagai penulis. Oleh karena itu, marilah kita tetapkan “tujuan antara” kita, yang ditumbuhkan di atas “tujuan utama” hidup kita. Kita renungkan pertanyaan “apa yang bisa saya tuju sementara, untuk menopang saya meraih tujuan hidup saya?” Jika kita tak punya tujuan, untuk apa semua peluh dan lelah kita tercurah? Kita tentu punya “tujuan antara” masing-masing. Terlepas ke mana tujuan kita, namun semakin rinci kita menetapkan tujuan, insyaAllah semakin mudah mencapainya. Saya sangat mengapresiasi rekan-rekan yang tergabung dalam program menulis 30 hari pasti jadi buku. Di akhir bulan Ramadhan ini, insyaAllah mereka akan sampai pada “tujuan antara” mereka. Memiliki sebuah karya.  



Ah, terlalu filosofis ya. Begini saja ringkasnya, bagi rekan-rekan yang belum memiliki “tujuan antara”. Saya berharap, program antologi cerpen bisa menjadi “tujuan antara” kita bersama. Kita jadikan ia sebagai pijakan kecil untuk terus berkarya, meraih “tujuan-tujuan antara” lain yang lebih jauh dan tinggi, yang semuanya bermuara pada “tujuan utama” kita.
(Ary H., hanya seorang pembelajar)

Harap yang Tak Pernah Putus

Bila harap ini selalu ada
Hanyalah kepada-Mu Sang Maha Pengasih
Berlumpur pekat dosa
Bergelimang maksiat
Kotor diri tak ada suci
Berlari, berjalan, merangkak mendekat
Taubat dan maksiat silih berganti

Wahai dzat Yang Maha Suci
Sungguh hamba malu pada-Mu
Setiap kali lisan ini meminta

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau
Hamba yang berdosa memohon ampunan-Mu
Berharap jannah-Mu
Hamba berlindung kepada-Mu dari siksa neraka
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun
Yang selalu mencintai ampunan, ampunilah hamba

Tak ada lagi tempat hamba berharap
Karena harap yang tak pernah putus,
Hanyalah kusandarkan kepada-Mu


(Ary H. – Selong, 21 Ramadhan 1437 H)

Kamis, 23 Juni 2016

Al Quran; Dulu dan Kini

Di tengah kelam kehidupan insan
Jahil dan pandir dalam bertuhan
Latta, uzza, manat dan hubal
Yang utama jadi sembahan

Suku, harta dan nasab jadi patokan
Penguasa atau rakyat jelata
Merdeka atau hamba sahaya
Kedudukan menjadi alat penindas kaum yang lemah
Hina dan mulia menjadi stigma segelintir manusia

Kaum wanita tak berdaya
Terpasung syahwat para pria pendosa
Bila keluarga tak mau terhina
Membunuhnya, lebih mulia

Allah lalu menurunkan Al Quran
Diemban manusia termulia
Muhammad Rasulullah
Al Quran datang laksana cahaya dalam kelam
Menjadi petunjuk semua insan

Tatkala Al Quran jadi panduan
Hukum Allah ditegakkan
Berbagai aturan terpancar dari keimanan
Dunia sejahtera dinaungi keadilan

Iblis terlaknat tak mau diam
Syaithan jin dan manusia ia kerahkan
Manusia pun mulai mencampakkan Al Quran
Mulai kekuasaan hingga masalah ritual
Kembali terjebak dalam kelam

Hidup manusia kini menjauh dari Al Quran
Manusia kembali menindas manusia
Kaum lemah teraniaya tak berdaya
Al Quran adalah panduan, menjadi sekedar retorika
Al Quran adalah petunjuk, laksana penghias bibir semata
Al Quran hanyalah penenang kaum tertindas
Dengan secuil iman yang masih tersisa
Di tengah gempuran sekulerisme yang menggurita

Entah sampai kapan
Bilakah manusia tersadar
Adakah hukum yang lebih baik dari Al Quran?

(Ary H. - Selong, 19 Ramadhan 1437 H)

Senin, 13 Juni 2016

Penjara Besar Umat Islam

Kondisi umat Islam saat ini seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. Umat Islam dikerubuti bagaikan makanan yang dihidangkan. Tidak hanya negara besar seperti AS, negara kecil seperti Burma saja berani kurang ajar terhadap umat Islam. Padahal umat Islam merupakan agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat dunia. Pada tahun 2012, tercatat 22,43 % dari populasi manusia di dunia adalah umat Islam, sekitar 2,1 milyar orang warga dunia beragama Islam. Jauh di atas agama-agama yang lain. Umat Islam bagaikan buih di lautan, sangat banyak tetapi segera hilang tatkala terhempas ke pinggiran pantai.


Ketika ada saudaranya menjerit dan meminta tolong, umat Islam di belahan bumi yang lain seakan tak bisa berbuat apa-apa. Konsep satu tubuh yang disabdakan oleh Rasulullah Saw hanyalah idealita dan bukan realita. Membayangkannya bagaikan pungguk yang merindukan bulan. Sesuatu yang mustahil. Padahal, tidak mungkin Rasulullah Saw bersabda sesuatu yang mengawang-awang. Konsep satu tubuh umat Islam, pasti bisa diwujudkan. Baik secara normatif maupun historis, kesatuan umat Islam bukanlah hal yang mustahil. Negara Islam yang didirikan oleh Rasulullah Saw, kemudian dilanjutkan oleh para shahabat serta para khalifah setelahnya, terbukti telah menggentarkan negara besar Persia dan Romawi. Negara Islam pun menjadi negara pemimpin di dunia selama 13 abad lamanya.  


Umat Islam tak berdaya karena terpenjara. Menurut Farid Wajdi (Menantang Amerika, 2010), setidaknya ada tiga penjara besar yang mengungkung umat Islam saat ini. Pertama, nasionalisme dengan konsep negara bangsa. Kedua, Para penguasa negeri Islam yang berkhianat kepada Allah Swt, Rasulullah Saw dan umat Islam. Ketiga, sistem internasional yang dipimpin oleh AS dengan ideologi kapitalismenya.


Pertama, nasionalisme dengan konsep negara bangsa telah mematikan rasa persaudaraan umat Islam. Dengan nasionalisme, umat Islam memandang kemuliaan hanya pada kebangsaannya. Umat Islam menganggap lebih mulia non muslim yang sebangsa, dibandingkan dengan muslim yang tidak sebangsa. Non muslim sebangsa lebih berhak untuk dibantu dan dijadikan saudara, dibandingkan dengan muslim yang tidak sebangsa.


Nasionalisme menjadi racun bagi persaudaraan umat Islam yang hakiki. Ia telah mematikan rasa persaudaraan umat. Pada tahun 2015 kita sempat menyaksikan penolakan beberapa penguasa di negeri Islam terhadap kaum muslim Rohingya yang terkatung di lautan lepas. Alasannya hampir mirip, persoalan bangsa masing-masing pun masih menumpuk. Kedatangan para manusia perahu ke wilayahnya hanya akan menambah problem masing-masing bangsa.


Sebelum era penjajahan Eropa, semua negeri Islam asalnya berada dalam satu kekhilafahan. Para penjajah melepaskan wilayah khilafah satu demi satu dengan penuh penipuan. Misalnya ketika memasuki Mesir, Napoleon Bonaparte berkata : “Kalian akan diberitahu, bahwa saya datang untuk menghancurkan agama kamu; jangan percaya itu ! Saya lebih menghargai Tuhan, Nabi dan  Al Quran bahkan dibanding para raja.” Padahal ia datang untuk menduduki negeri Mesir serta menjajahnya. Para penjajah itu membagi-bagi eks wilayah khilafah. Kemudian mereka menanamkan racun nasionalisme. Kaum muslim pun mengadopsi konsep negara bangsa sehingga matilah rasa persaudaran hakiki umat Islam.


Persoalan Palestina, Afghanistan, Irak, Myanmar, Suriah, Mesir, Yaman hanyalah persoalan luar negeri yang tidak berhubungan dengan kepentingan nasional kita. Kita hanya mengurusi kepentingan nasional kita sendiri. Sikap inilah yang membuat kita lemah. Padahal jika umat Islam sedunia bersatu serta berada di bawah satu komando. Umat Islam bisa mengirimkan jutaan tentara untuk membantu saudaranya yang teraniaya di negeri lain. Dengan ketaatan kepada Allah Swt serta kerinduan syahid di jalan-Nya, pasukan Islam akan menjadi pasukan yang ditakuti. Sebagaimana pasukan Romawi yang takut terhadap pasukan Islam, meskipun jumlah pasukan Romawi berkali-kali lipat lebih banyak.


Kedua, Para penguasa negeri Islam yang berkhianat kepada Allah Swt, Rasulullah Saw dan umat Islam. Sebagian besar penguasa negeri ini telah menjadi antek penjajah AS. Mereka menyambut baik seruan AS untuk memerangi kaum muslim Suriah, dengan dalih memerangi ISIS. Tetapi diam seribu bahasa selama berpuluh-puluh tahun terhadap jeritan saudara muslim Palestina. Membantu Palestina hanya laksana ritual menjelang kampanye. Tidak menjadi upaya serius dengan mengirimkan bantuan militer serta mengirimkan pasukan pembebas.


Padahal Rasulullah Saw telah bersabda : “Sesungguhnya Imam itu adalah perisai. Umat akan diperangi dari belakangnya dan akan dijaga olehnya. Jika ia memerintahkan taqwa kepada Allah dan berbuat adil maka ia akan mendapatkan pahala. Namun jika ia memerintahkan selain itu maka ia akan mendapat dosa karenanya.“ (THR. Muslim). Rasulullah Saw pun memberi contoh dengan memberikan hukuman yang pantas terhadap Bani Quraidzah. Mereka telah menusuk umat Islam dari dalam. Begitupun diikuti oleh Khalifah Mu’tashim Billah yang mengirimkan pasukan karena ada muslimah yang dianiaya non muslim.


Sungguh ! AS dan Israel tidak akan semena-mena terhadap umat Islam jika ada para penguasa yang menjadi pelindung umat Islam.


Ketiga, sistem internasional yang dipimpin oleh AS dengan ideologi kapitalismenya. Dengan dalih hukum internasional, para penjajah membuat lembaga-lembaga internasional. Lembaga-lembaga tersebut menjadi kepanjangan tangan para penjajah. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi alat AS untuk menduduki negeri Islam. Pasukan kaum muslim hanya bisa berada di belakang PBB. Pasukan tersebut dikendalikan AS dengan dalih pasukan perdamaian. Mereka pun sama sekali tidak bisa membantu saudara mereka yang dibantai.


Lembaga PBB pun mandul. Semua resolusinya hanya menjadi retorika untuk menutupi keborokannya. Fakta berbicara, banyak sekali resolusi PBB yang diabaikan oleh Israel, dan PBB tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, ia pun lemah tak berdaya tatkala AS membombardir Afghanistan, Irak serta Suriah, membunuhi jutaan kaum muslim yang tak berdosa.



Kaum muslim mesti melepaskan diri dari penjara-penjara besar tersebut. Caranya tidak lain dengan mewujudkan kembali khilafah Islamiyyah. Khilafah akan mengikat kaum muslim dengan ikatan tali (agama) Allah, yakni Al Quran dan Assunnah. Sistem khilafah pula yang akan melahirkan pemimpin yang siap disumpah setia untuk taat kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, serta menyelesaikan perselisihan masyarakat hanya merujuk pada Al Quran dan Assunnah. Khilafah akan mengakhiri penjajahan AS dengan ideologi kapitalismenya, membawa Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam.  Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary Herawan, 13/6/2016).

Kita dan Mantan Tukang Sihir Fir'aun

Para tukang sihir Fir'aun segera beriman tatkala menyaksikan secara langsung mukjizat Nabi Musa a.s.
Mereka langsung merasa lemah tak berdaya tatkala disajikan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt melalui tongkat Nabi Musa a.s., yang telah membuat sihir-sihir mereka tak berguna. Tongkat yang seketika berubah menjadi ular besar, langsung memangsa ular-ular hasil sihir mereka.

Fir'aun pun tidak tinggal diam, ia mengancam mereka dengan hukuman yang sangat sadis. Ia berjanji akan memotong tangan dan kaki mereka secara silang, lalu akan menyalib mereka di pangkal pohon kurma.

Bukannya gentar dan gemetar, para mantan tukang sihir tersebut menjawab ancaman Fir'aun dengan mantap serta teguh pendirian :

"Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata, yang telah datang kepada kami dari Tuhan yang telah menciptakan kami.

Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan!

Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.

Sesungguhnya kami telah beriman kpd Tuhan kami, agar dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yg telah kamu paksakan kepada kami utk melakukannya.

Dan Allah lebih baik pahala-Nya serta lebih kekal azab-Nya."

Mantan tukang sihir Fir'aun yang langsung beriman, seketika itu pula mereka siap mengorbankan nyawa mereka demi keimanannya. Sungguh keimanan yang menancap kuat dan tak tergoyahkan.

Peristiwa ini hendaknya menjadi ibrah. Bagaimana dengan kita?

Berbagai bukti kekuasaan Allah sudah banyak nampak di hadapan kita. Bahkan mukjizat Rasulullah Saw, yakni Al Quran, masih di hadapan kita hingga saat ini. Kita pun sudah berislam sedari kecil.

Tetapi mengapa, ketika dihadapkan dengan perintah shaum saja, kita masih banyak berdebat tentang siapa yang harus dihormat, yang taat ataukah yang maksiat. Ketika dihadapkan dengan larangan pacaran, kita masih acuhkan hanya demi cinta yang buta dan syahwat yang membara. Ketika dihadapkan dengan perintah dakwah, kita masih berkilah bahwa itu hanya tugas muballigh dan muballighah. Begitupun ketika dihadapkan dengan larangan riba, kita masih merana seolah tak bisa hidup tanpanya, serta demikian pula sikap kita terhadap perintah dan larangan Allah Swt yang lainnya. Padahal, semua itu masih sangat jauh dari berkorban nyawa.

Mengapa keimanan kita 'kalah' jauh dibandingkan mantan tukang sihir Fir'aun?

Astaghfirullohal 'adziim. Ya..Allah, istiqomahkanlah kami dalam keimanan dan pengorbanan. Aamiiin.

Jumat, 03 Juni 2016

Al Quran Merupakan Pedoman

"Al Quran di tangan, jadi pedoman...Kita sambut kebangkitan Islam!", lirik tersebut terngiang-ngiang di telinga ini. Apalagi jika kalimat tersebut terdengar nyaring disuarakan anak-anak santri PAUD dengan penuh semangat. Sungguh membahagiakan. Semangat bangkit dengan menjadikan Al Quran sebagai pedoman. Karena tidak kita pungkiri, keterpurukan yang kita alami saat ini adalah karena kita masih pilih-pilih dalam mengamalkan Al Quran. Padahal Allah Swt telah menegaskan bahwa Al Quran merupakan pedoman.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia takjub dengan berbagai fenomena alam. Merasa lemah dan tak berdaya kepada siapa ia meminta. Di saat manusia kebingungan tentang siapa Sang Pencipta. Bahkan sebagiannya terjebak animisme dan dinamisme, atau terjebak pada sesembahan khayalan. Al Quran menunjukkan jalan ketauhidan, katakanlah: Ia-lah Allah yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Ia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tiada satu pun sekutu bagi-Nya.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia dibekali fithrah beragama, tetapi ia tak tahu bagaimana cara menyembah Penciptanya. Manusia belum mengerti bagaimana memuji Sang Ilahi. Al Quran menunjukkan jalan tentang tata cara ibadah kepada-Nya. Melalui shalat, zakat, shaum, haji serta berbagai aktifitas ritual lainnya, dari yang fardlu sampai yang mandub, manusia pun menjadi tenang karenanya.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia bisa mencoba-coba sendiri benda mana saja yang bisa dikonsumsi. Akan tetapi ia sangat bodoh tentang benda apa saja yang dibolehkan oleh Tuhannya, serta benda apa saja yang mengundang murka-Nya. Al Quran pun menunjukkan beberapa benda yang diharamkan untuk dikonsumsi.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika para orang tua tak tahu bagaimana mendidik putera-puterinya. Tatkala keberhasilan hanya terukur dengan harta, tahta serta jabatan semata. Al Quran mengisahkan tentang Ibrahim a.s. serta Luqman yang bijaksana. Mereka adalah orang tua sholih yang menjadikan aqidah, syariah, dakwah dan akhlaq sebagai arus utama pendidikan putera-puterinya. Kesuksesan pun terukur di dunia dan di akhirat.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia tak tahu bagaimana menjaga kewarasan akal. Al Quran mengharamkan perusak akal (khamr). Al Quran menjelaskan bahwa akal digunakan untuk beriman dan taat, bukan untuk berpaling dan membangkang. Allah-lah yang mengangkat kaum mukmin dan orang-orang berilmu beberapa derajat, tak ada selain-Nya. Sehingga, tiada kecerdasan akal tanpa beriman kepada-Nya.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia saling memangsa. Sebagian manusia menindas manusia lainnya. Di kala harta dan kuasa beredar di kalangan kaum kapitalis semata. Sumber daya alam dikangkangi para pemilik modal. Si miskin hanya berani menjerit dan meminta. Itu pun jika masih tersisa tenaga untuk bersuara. Al Quran menegaskan tentang konsep tauhid sebagai pondasi ekonomi, bahwa Allah-lah pemilik sejati berbagai kekayaan alam. Di dalam Al Quran, Allah Swt menegaskan kehalalan jual beli dan keharaman riba. Dan kini terbukti, riba-lah yang menjadi jalan kaum kafir penjajah untuk menguasai sumber daya alam di negeri-negeri Islam. Berdasar aturan-Nya lah akan tercipta keadilan dan kesejahteraan, supaya harta tak hanya beredar di kalangan orang kaya semata. Penerapan hukum-hukum Al Quran pasti meniadakan berbagai bentuk penindasan dan penjajahan.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia tak tenang karena aksi kriminalitas yang semakin merajalela. Pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, perampokan, penjambretan dianggap sebagai hal yang biasa. Al Quran menegaskan tentang kewajiban sanksi Islami. Allah Swt menetapkan sanksi yang berfungsi sebagai penebus dosa pelakunya dan pencegah tindakan serupa bagi selainnya. Kewajiban hukum qishash dalam kasus pembunuhan, hukum potong tangan dalam kasus pencurian, jilid dan rajam dalam kasus perzinaan dan lain sebagainya. Penerapannya pasti mewujudkan kemaslahatan dan mencegah berbagai kemafsadatan.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia lupa tentang bagaimana menetapkan kriteria pemimpinnya. Kita mendapatkan di dalam Al Quran, bahwa pemimpin umat Islam haruslah mukmin yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta merujuk Al Quran dan Assunnah dalam menyelesaikan perselisihan di tengah masyarakat.  Itulah seruan Al Quran bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta sebaik-baiknya akibat.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika kaum mukmin teraniaya, terusir dan terjajah secara fisik di negerinya. Al Quran memerintahkan jihad, membela negeri serta mengusir para penjajah dengan harta dan jiwa raga. Demikian pula ketika manusia berpaling dari aturan Allah Swt, Al Quran memerintahkan kita untuk berdakwah, menyeru manusia pada Islam semata, serta memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang munkar.

Al Quran merupakan pedoman. Ketika manusia kesulitan mencari figur manusia idola. Al Quran menegaskan bahwa Rasulullah Saw sebagai suri tauladan yang baik. Akhlak beliau saw adalah           Al Quran. Ketaatan kepadanya diwajibkan. Ketika kita mencintai Allah Swt maka kita pun mesti menjadikan perkataan, perbuatan serta persetujuan Rasulullah Saw sebagai pedoman.

Al Quran merupakan pedoman. Namun sayangnya, kita seringkali masih memperlakukannya laksana sajian prasmanan. Kita mengambil apa yang sesuai selera saja dan membiarkan selainnya. Padahal tak ada beda antara kewajiban shaum dan qishash, antara kewajiban haji dan jihad, antara kewajiban menuntut ilmu dan penerapan hudud serta berbagai kewajiban lainnya. Semuanya berpotensi pahala jika dikerjakan dan akan berdosa jika ditinggalkan. Begitu pula tak ada beda antara keharaman babi dan riba, antara keharaman bangkai dan zina, serta berbagai keharaman lainnya. Semuanya berpotensi dosa jika dikerjakan dan akan berpahala jika ditinggalkan.

Bulan ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Quran. Semoga di bulan ini, kita semakin dimudahkan untuk membaca, memahami, mengamalkan serta mendakwahkan Al Quran. Kemudian, kita sambut kebangkitan Islam. Wallohu al hadi ila sabili ar rosyad.

(Ary Herawan, Ketua Lembaga PAUD Ar Rahman Kota Tasikmalaya)