Senin, 13 Maret 2017

Syariah dan Khilafah adalah Solusi, bukanlah Ancaman

“Kita sudah berikrar bahwa inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin (sesungguhnya sholatku, perbuatanku, hidup dan matiku untuk Allah Rabb semesta alam, pen.),” tegas Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ust. M. Ismail Yusanto, di Masjid Al Mujahidin Kota Tasikmalaya (13/03/2017). Beliau pun melanjutkan pernyataannya dengan sebuah pertanyaan, “Mendakwahkan Syariah dan Khilafah itu lillah (untuk Allah) atau lighairillah (untuk selain Allah)? menghambat penegakkan Syariah dan Khilafah itu lillah atau lighairillah? Jadi, pilihannya hanyalah lillah atau lighairillah.”

Pernyataan tersebut merupakan pernyataan penutup Ust. Ismail dalam sebuah forum yang digagas oleh DPD II Hizbut Tahrir Kota Tasikmalaya. Pengajian umum yang bertema “3 jam lebih dekat bersama Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia” ditujukan untuk menjelaskan bahwa Syariah dan Khilafah merupakan solusi dan bukanlah ancaman.

Beliau menyampaikan bahwa tidak hanya terhadap Syariah dan Khilafah, belakangan ini terjadi peningkatan islamophobia di dunia. Kebanyakan alasannya tidak bisa dijelaskan oleh akal. Misalnya, ada larangan shalat dan berwudlu bagi siswa muslim di Jerman, pelarangan niqab (cadar) dan burqini di Perancis, pelarangan pembangunan menara mesjid di Swiss, larangan penyembelihan hewan sesuai syariah Islam di Belanda. Apakah dengan berwudlu dan memakai niqab akan mengakibatkan ledakan dan gedung-gedung hancur? tanya beliau secara retoris. Pertanyaan ini pun langsung mengundang riuh tawa para hadirin. Malahan syariah berwudlu itu justru sejalan dengan anjuran medis dan baik dari sisi kesehatan. 

Apalagi Perancis yang menganut slogan liberte (kebebasan), egalite (kesamaan) dan fraternite (persaudaraan). Di manakah liberte kalau burqah saja dilarang? di manakah egalite ketika terjadi pengusiran kaum muslim pemakai burqini di pantai? Di manakah fraternite jika kaum muslim yang diperlakukan sedemikian itu nyata-nyata warga negara Perancis itu sendiri. Inilah islamophobia yang telah menabrak ide-ide yang telah mereka kembangkan sendiri, jelasnya.

Jubir HTI mengajak para hadirin untuk membandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh Islam. Islam itu rahmatan lil ‘alamin, Islam membawa kebaikan untuk muslim dan non muslim, tandasnya. Ketika Syariah Islam diterapkan, non muslim tidak akan dipaksa untuk masuk Islam, tempat ibadah mereka pun tidak akan diganggu.
Jangankan di masa damai, di masa perang pun hal itu (merusak tempat ibadah non muslim, pen.) dilarang. 

Heterogenitas dan pluralitas bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam. Masyarakat Islam yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah merupakan masyarakat yang heterogen. Begitu pula Spanyol yang selama 700 tahun dalam kekuasaan Islam, non muslim hidup dengan aman dan tentram. Para ahli sejarah Barat menyebutnya Spanyol in Three Religion; Islam, Yahudi dan Nashrani. Jika kaum muslim tak boleh dibunuh tanpa haq atau legal reason, begitu pula terhadap non muslim. Bahkan, tatkala terjadi pengusiran terhadap Yahudi, Muhammad Al Fatih menampungnya di bukit Galata. Kaum Yahudi beranak pinak di sana hingga membuat sinagog. Komunitas Yahudi dan sinagog tersebut masih ada sampai saat ini. Bukit Galata merupakan monumen bagaimana rahmatan lil ‘alamin-nya Islam.    

M. Ismail Yusanto pun menjelaskan bahwa metode dakwah Hizbut Tahrir adalah pemikiran dan tanpa kekerasan. Karena tidak mungkin kita mengubah perilaku seseorang dengan kekerasan. Tentunya orang bisa berubah perilakunya kalau berubah pemikirannya. Dakwah pemikiran inilah yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir selama ini, termasuk di Indonesia. Dakwah pemikiran seperti apa? tentunya menyampaikan Islam dan menentang selain Islam, tegasnya.

Ketika ditanya tentang bendera hitam dan putih yang sering dibawa oleh para aktifis Hizbut Tahrir Indonesia, beliau menjelaskan bahwa itu merupakan bendera Rasulullah. Beliau membacakan sebuah hadits dari Ibnu Abbas r.a. yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim, Baihaqi al-Baghawi dan ath-Thabrani.
“Rayatuhu aswad[un] wa Liwauhu abyadh[un], panji Rasulullah berwarna hitam dan bendera beliau berwarna putih,” jelasnya. Begitu pula tulisan yang tertera pada bendera tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Bendera Rasulullah bertuliskan La ilaha illallah muhammadurrasulullah.” (THR. ath-Thabrani).

Beliau menolak kriminalisasi terhadap panji Rasulullah dengan alasan ada kemiripan dengan bendera ISIS. Khat (tulisan)-nya saja berbeda, pun sedari awal Hizbut Tahrir sudah menolak klaim khilafah ala ISIS. Bahkan salah salah seorang aktifis Hizbut Tahrir di Suriah, Musthafa Ghayal, dieksekusi oleh ISIS karena menolak berbaiat kepada Al Baghdadi. Jadi, bendera hitam dan putih yang sering dibawa oleh aktifis Hizbut Tahrir adalah Al Liwa dan Ar Rayah yang merupakan panji Rasulullah Saw.

(Ary H.)

Senin, 06 Maret 2017

Naluri Melestarikan Jenis; Agar Tak Sekedar Cinta dan Sayang

Manusia diamanahi oleh Allah Swt sebagai pengurus bumi. Karena itu, penting baginya untuk dapat hidup lestari. Beranak pinak dan berkembang, sehingga berada di setiap tempat dan masa. Untuk itulah manusia diberi potensi melestarikan jenis. Naluri yang membuat pria suka terhadap wanita dan sebaliknya, orang tua sayang terhadap anak-anak, anak cinta terhadap orang tua, kakak sayang terhadap adiknya begitu pun sebaliknya. Atau, kita pun sering tumbuh rasa gemas dan suka terhadap bayi. Itulah beberapa penampakan naluri melestarikan jenis.

Allah Swt menumbuhkan naluri ini pada setiap manusia. Jika ada manusia yang tidak merasa memiliki naluri tersebut, bisa jadi ia telah silap karena memenuhi naluri yang lain. Sebagaimana kaum Nabi Luth yang lebih mementingkan naluri eksistensi diri dibandingkan dengan naluri melestarikan jenis. Mereka lebih mementingkan ego dan kesombongan meskipun hal tersebut pada hakikatnya mengancam kelestarian kaumnya.

Mukmin maupun kafir, ahli taat atau maksiat, keduanya dianugerahi naluri ini. Karena itulah, orang kafir pun sayang kepada anak-anaknya, suami atau istrinya serta terhadap orang tuanya. Oleh karena itu, kasih sayang antara orang tua dan anak merupakan sesuatu yang alami, tak ada yang 'istimewa' dalam hal tersebut.

Islam telah mengarahkan pemenuhan naluri melestarikan jenis ini dengan cara yang khas, sehingga Islam bisa membuat pemenuhan naluri ini menjadi sangat istimewa. Ia tak hanya membuat manusia bisa berkasih-kasih di dunia namun tembus hingga setelah dunia tiada.

Supaya jelas nasab manusia serta tak terjaga kelestariannya, Islam telah mensyariatkan nikah. Bahkan Rasulullah Saw menegaskan bahwa nikah tersebut merupakan sunnah (jalan) beliau dan barang siapa yang tidak suka dengan sunnah menikah (lebih memilih berzina, pen) maka bukan golongan Rasulullah. Islam mengarahkan rasa suka terhadap lawan jenis sesuai fitrahnya, sehingga tidak menghilangkannya seperti ajaran kerahiban dan tidak pula mengumbarnya secara bebas laksana hewan, sebagaimana ajaran kebebasan (liberalisme).

Islam telah mengarahkan rasa sayang orang tua terhadap anaknya. Bukan dengan memenuhi setiap keinginan anak, tetapi mendidiknya supaya keinginan anaknya terpenuhi sesuai dengan perintah Allah. Peran orang tua dalam hal ini sangatlah penting, hingga Rasulullah Saw menegaskan bahwa orang tua-lah yang bakal meng-yahudi-kan atau me-nashrani-kan anaknya. Allah Swt pun mengingatkan kita dalam QS. at-Tahrim : 6, yang artinya :

"Wahai sekalian orang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka."

Begitu pula sebaliknya, rasa sayang anak terhadap orang tua. Islam mengaturnya hingga setelah orang tua kita tiada. Islam menegaskan bahwa keridloan Allah terletak pada keridloan orang tua. Islam mewajibkan anak untuk taat dan berbakti kepada orang tuanya,  terkecuali jika keduanya mengajak untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Islam menjadikan anak shalih yang selalu mendo'akan kedua orang tua sebagai amal jariyah, sebuah amal yang pahalanya terus mengalir hingga orang tua tiada.

Kita tak hanya membutuhkan naluri melestarikan jenis berupa cinta dan sayang, tapi lebih dari itu kita membutuhkan ajaran Islam, agar naluri ini bisa berjalan sesuai fitrah. Sehingga pemenuhannya membawa ketenangan dan kebahagian untuk seluruh manusia, serta berkah di dunia dan di akhirat. Wallahu a'lamu bishshawwaab.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

#MudahNulis

Kehidupan tanpa Amirul Mukminin dan Tanda-tanda Kebangkitan Islam

Sungguh keruntuhan Negara Khilafah Islamiyyah di tangan penjajah pada tahun 1924 merupakan sebuah luka yang sangat menyakitkan. Umat Islam sama sekali tidak menyangka hal itu bisa terjadi. Umat tidak bisa membayangkan kekuasaan Negara Khilafah yang sangat luas bisa berakhir hanya dalam satu hari. Umat sangat terguncang, sampai-sampai mereka meminta Sang pengkhianat dan konspirator Mustafa Kemal agar mau diangkat menjadi Khalifah. Umat sedemikian terguncang ketika mereka menyadari bahwa diri mereka tidak lagi memiliki seorang Khalifah.

Keruntuhan tersebut menandai akhir 1300 tahun perjalanan sejarah Negara Khilafah Islamiyyah yang dibangun oleh Rasulullah Saw di Madinah pada tahun 623 M melalui perjuangan yang agung dan –tentu saja- pertolongan Allah Swt. Peristiwa tersebut juga menandai akhir dari sebuah negara yang terkemuka di dunia, Negara Khilafah Islamiyyah yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia, dari Timur Tengah hingga Asia Tengah. Sebuah negara terkemuka yang memimpin dunia dalam aspek ilmu pengetahuan, teknologi, obat-obatan, kedokteran, perdagangan, pemerintahan yang bertanggung jawab, keadilan, perdamaian dan dalam kesejahteraan.

Apa yang kemudian terjadi pada diri umat Islam pasca runtuhnya Negara Khilafah Islamiyyah? Yang terjadi kemudian adalah rangkaian sejarah yang diwarnai dengan kemunduran, keterpecahbelahan, penjajahan, kekalahan, penghinaan, kekacauan politik dan pertumpahan darah. Selain itu, sejarah tanpa Khilafah juga diwarnai dengan berdirinya negara yang menjadi kesayangan Barat, Israel, pada tahun 1948, yang menambah pedih penderitaan umat dari hari ke hari. Pembantaian dan penahanan, penjajahan dan penaklukan, pelanggaran atas kehormatan umat menjadi ‘menu’ sehari-hari. Berikutnya, tanah Palestina menambah panjang daftar negeri-negeri Islam seperti Kashmir, Gujarat, Bosnia, Kosovo, Chechnya, Aljazair, Azerbaijan, Kaukasus, Grozny, Turkistan, Bukhara, Samarkand, Xinjiang, Somalia, Irak, Sudan, Afghanistan dan Pakistan, yang menjadi jajahan negara-negara imperialis seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia dan sebagainya. Disamping itu, atas nama kebebasan dan kemerdekaan, kesatuan umat Islam dicabik-cabik menjadi keping-keping negara satelit yang dikendalikan dari Washington, London dan Paris. Negara-negara pseudo-merdeka (merdeka semu) itu pun diperintah oleh penguasa-penguasa yang melayani kepentingan Barat.

Situasi dunia pada masa itu digambarkan oleh David Fromkin dan pakar sejarah ekonomi pada University of Chicaggo sebagai berikut : “Kekayaan Khilafah Utsmani yang sangat besar kini menjadi milik para pemenang. Tetapi orang harus ingat bahwa Khilafah Islamiyyah telah berusaha selama berabad-abad untuk menaklukkan Eropa Kristen; maka para pialang kekuasaan yang menentukan nasib pihak yang kalah itu serta memastikan agar negara-negara (bekas khilafah yang kalah) itu tidak akan pernah mampu mengorganisasi diri dan kembali mengancam kepentingan Barat. Dengan pengalaman sebagai Merkantilis (penganut perdagangan bebas) selama berabad-abad, Inggris dan Perancis menciptakan negara-negara yang kecil dan tidak stabil, dimana para penguasanya membutuhkan dukungan mereka agar mampu bertahan di tampuk kekuasaan. Pembangunan dan perdagangan di negara-negara tersebut dikendalikan agar tidak pernah menjadi ancaman baru bagi Barat. Kekuatan-kekuatan asing ini pun menjalin kontrak dengan (penguasa) boneka-boneka mereka agar bisa membeli sumber kekayaan Arab dengan harga sangat murah, yang menjadikan elit feodal kaya raya, sementara sebagian besar penduduk berada dalam kemiskinan.”

Tidak lama setelah keruntuhan Negara Khilafah Utsmani pada tahun 1924, seorang ulama faqih terkemuka, mujtahid mutlak, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani bersama Syaikh Abdul Qadim Zallum, Syaikh Ahmad ad-Daur dan yang lain (semoga Allah merahmati mereka) berusaha mengkristalisasikan ide-ide kebangkitan bagi umat Islam dan menyimpulkan bahwa, “Islam adalah sebuah peraturan hidup yang sempurna. Islam tidak dapat diterapkan secara sempurna tanpa keberadaan sebuah negara. Di samping itu, Islam tak lagi berperan dalam kancah politik internasional disebabkan karena penghancuran Negara Khilafah; dan satu-satunya cara untuk membebaskan kaum muslim adalah dengan menegakkan kembali Negara Khilafah Islamiyyah sesuai manhaj Rasulullah Saw.” Akhirnya, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mendirikan Hizbut Tahrir atau Partai Pembebasan pada tahun 1953 di al-Quds.

Setelah memulai proses kebangkitan umat Islam pada tahun 1953, Hizbut Tahrir mendapatkan gambaran tentang umat Islam, yang selama 30 tahun lebih mengalami kebrutalan kolonial, baik di Palestina maupun di bagian-bagian lain kawasan Timur Tengah saat itu. Di samping itu, Hizb juga mengamati bagaimana penguasa-penguasa yang didudukkan di tampuk kekuasaan oleh Inggris dan Perancis pasca Perjanjian Sykes-Picot tahun 1916 telah mencabik-cabik umat ini dan meninggalkan Palestina untuk menjadi santapan Inggris dan anak kesayangannya, Israel.

Namun demikian, hingga sesaat sebelum Perang Teluk I, kaum muslim secara umum tidak memahami secara jernih dan cemerlang tentang permusuhan Amerika Serikat dan Inggris terhadap Islam sebagaimana yang disampaikan Hizbut Tahrir, meski mereka dapat merasakannya. Banyak cendekiawan muslim dan para ulama di dunia Islam tidak dapat memahami sepenuhnya realitas pengkhianatan para penguasa muslim, dan tidak melihat Barat sebagai musuh yang tersembunyi maupun terbuka. Akan tetapi, setelah Perang Teluk I, baik permusuhan AS maupun pengkhianatan para penguasa terkuak jelas. Tidak hanya rezim penguasa kawasan Teluk yang kehilangan kredibilitas karena mengijinkan berdirinya pangkalan-pangkalan militer AS di Hijaz dan tempat-tempat lainnya, tetapi juga para ulama yang mengesahkan Perang Teluk. Bahkan sebelum Perang Teluk pecah, kaum muslim sudah mengisyaratkan kesiapan mereka untuk bersatu. Namun, Perang Teluk telah menjadikan umat Islam sangat merasakan adanya jurang perbedaan antara mereka dengan para penguasa.

Demikianlah, Perang Teluk I pada tahun 1990-an memberikan kontribusi yang sangat besar bagi umat Islam untuk memahami konteks yang disampaikan oleh Hizbut Tahrir tentang persatuan dan Khilafah. Getaran besar yang dirasakan oleh umat Islam dari Perang Teluk I, bersama dengan rahmat Allah Swt, telah mengangkat seruan penegakan Negara Khilafah di Semenanjung Arab hingga sampai ke umat Islam seluruh penjuru dunia. Hingga akhir tahun 1990-an, Hizbut Tahrir telah merambah ke seluruh benua dan menjadi sebuah gerakan trans-nasional yang sungguh-sungguh mendunia, yang menyerukan penegakan kembali Negara Khilafah Islamiyyah. Partai ini berhasil membawa generasi muda yang terpelajar dari umat ini ke dalam barisan “pengemban Islam’ dan “pejuang Khilafah”. Sungguh para pemuda Islam ini telah menunjukkan baktinya kepada diin mereka; sungguh mereka telah menerima risalah ini dengan benar!

Akan tetapi, Barat dan antek-antek mereka –khususnya di Timur Tengah dan Asia Tengah- sangat memahami bahwa kembalinya Negara Khilafah dan bersatunya kaum muslim niscaya akan mengakhiri hegemoni Barat di negeri-negeri muslim. Itu berarti bahwa mereka akan kehilangan jaminan atas penjarahan yang mereka lakukan terhadap sumber daya umat di Timur Tengah, Asia Tengah, Afrika, maupun di anak benua India. Tegaknya Negara Khilafah juga berarti jangkauan global mereka akan berkurang, dan tangan-tangan penjajahan mereka akan terpenggal. Tegaknya Negara Khilafah juga berarti bahwa pandangan hidup mereka, kapitalisme sekuler demokrasi, akan menemui ajalnya dan akhirnya akan dikubur karena kejahatan-kejahatan yang tak terbayangkan, yakni pada PD I dan PD II.

Oleh karena itu, mantan Sekretaris Jenderal NATO, Willy Claes pada akhir abad ke-20 pernah menyatakan secara terbuka, “Aliansi Barat telah menempatkan Islam sebagai sebuah target permusuhannya, menggantikan posisi Uni Soviet.”

Selain itu, mereka juga menjadikan usaha menghalang-halangi kembalinya Negara Khilafah Isslamiyyah sebagai “faktor kebijakan luar negeri” yang paling penting setelah keruntuhan komunisme pada tahun 1990-an.

Mengingat adanya ancaman luar negeri berupa penegakan kembali Negara Khilafah Islamiyyah, maka Barat memberikan instruksi kepada antek-anteknya untuk memulai penghancuran para pengemban Khilafah dengan mengeluarkan “Undang-undang Kontra Terorisme” dan menindas mereka. AS sudah menggelontorkan dana milyaran dollar untuk melatih para penguasa boneka di negeri-negeri muslim untuk mengembangkan kesiapan logistik mereka dalam melawan terorisme. Dengan undang-undang anti terorisme dan serangan media  dan ‘serangan media terhadap Islam’, negara-negara penjajah dan antek-anteknya di negeri-negeri muslim berusaha merekayasa sentimen umat dalam menghadapi para penyeru Khilafah Islamiyyah. Demikianlah, kita menyaksikan media memberikan label kepada berbagai gerakan perlawanan di Irak dan Afghanistan sebagai “kaum militan”. Akan tetapi, mereka seringkali tidak menyadari bahwa jika aksi mempertahankan negeri sendiri disebut dengan istilah “militansi”, maka George Washington, Nathanael Greene, Horatio Gates, Benedict Arnold, Friedrich Wilhelm von Steuben dan para patriot lainnya merupakan orang-orang yang sangat militan. Di samping itu, mereka juga sering menggambarkan orang-orang yang memperjuangkan tegaknya Negara Khilafah Islamiyyah, menyerukan Syariat Islam, bahkan mereka yang menolak kekerasan untuk memperjuangkan Syariat Islam dan Khilafah –seperti Hizbut Tahrir- sebagai “kaum radikal dan ekstremis”.

Demikian pula, mereka memberikan label yang berbeda-beda atas kaum muslim, seperti label modernis, tradisionalis dan konservatif, sekuler, radikal atau ekstremis dan militan. Proyek-proyek dari RAND Corporation misalnya, menerbitkan sebuah laporan berjudul “Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies” di AS untuk melawan ancaman dari “Tumbuhnya Opini Khilafah dan Politik Islam.” Dengan upaya-upaya tersebut, para penjajah berusaha menjauhkan umat Islam dari kewajiban menegakkan Negara Khilafah.

Tentu saja, dalam seruannya itu, mereka berusaha membuat kaum muslim mau menerima pemikiran Islam yang sudah dipelintir. Hal ini dilakukan agar kaum muslim tidak akan merasa berkeberatan dengan kebijakan penjajah di negerinya; agar kaum muslim tidak berkeberatan atas penjajahan di Afghanistan dan Irak, maupun pembantaian di Palestina; agar kaum muslim tidak berkeberatan dengan penodaan dan pembakaran Al Quran; agar kaum muslim tidak berkeberatan dengan penghinaan atas kehormatan Rasulullah Saw. Dengan kata lain, mereka menyerukan Islam yang apolitis, Islam demokratik sekuler. Mereka menyerukan “tidak ada kewajiban jilbab dalam Islam”, tidak ada kepedulian terhadap umat Islam,  tidak ada kecintaan kepada Nabi Saw, tidak ada seruan Khilafah dalam Islam. Yang ada hanyalah shalat ala Islam, puasa ala Islam dan egoisme Islam. Sungguh semua itu bukan Islam yang sejati!

Namun demikian, upaya memodifikasi Islam agar sesuai dengan maksud jahat penjajah itu pun gagal, karena adanya al-khair (kebaikan) dalam diri umat Muhammad ini, serta besarnya antusiasme umat dan pengaruh seruan Khilafah di tengah umat. Begitu usaha ini gagal, maka terjadilah penodaan atas konsep kebebasan berbicara oleh Barat dan antek-anteknya; perjuangan Hizbut Tahrir pun dihalang-halangi dengan berbagai cara, termasuk penganiayaan, penangkapan massal, pembunuhan, pemerkosaan terhadap aktivis perempuan –bahkan atas anggota Hizb yang berusia 73 tahun, pelarangan aktivitas, dan pemberian label gerakan “yang berbahaya bagi tatanan masyarakat dan anti demokrasi” bagi Hizbut Tahrir.

Para penguasa boneka di negeri-negeri muslim memberi kontribusi yang sangat berarti dalam mewujudkan tujuan tersebut. Saat ini (2011), di Uzbekistan saja, terdapat lebih dari 10.000 anggota dan pendukung Hizbut Tahrir yang berusia 13-70 tahun dihukum penjara secara brutal dengan masa hukuman hingga 20 tahun. Para anggota muslimah –termasuk yang berusia 73 tahun- dinodai kehormatannya secara massal; ada pula sejumlah anggota yang dimasukkan ke dalam tong berisi air mendidih hingga mengalami penderitaan yang luar biasa. Suriah pernah membantai lebih dari 300 anggota Hizbut Tahrir hanya dalam waktu satu malam. Rezim Khadafi pernah menggantung sejumlah anggota Hizbut Tahrir di siang hari di depan umum. Saddam Husein membunuh ratusan anggota Hizbut Tahrir sepanjang tahun 1990-an; selama 10 tahun kekuasaannya Musharraf menganiaya dan memenjarakan ratusan anggota Hizbut Tahrir. Demikianlah sebagian kebrutalan yang dilakukan para penguasa boneka di negeri-negeri muslim terhadap penyeru Khilafah atas instruksi majikan-majikan mereka, para penjajah kafir Barat. Sungguh, Hafiz al-Asad telah mati, Anwr Sadat telah mati, Saddam Husein telah mati, Pervez Musharraf pun telah tumbang, tetapi Hizbut Tahrir justru tumbuh semakin kuat, melangkah maju dengan penuh kesabaran, tak kenal menyerah, berkat pertolongan Allah dan dukungan umat Muhammad Saw. Setiap hari berlalu, Hizbut Tahrir bergerak satu langkah ke depan menuju cita-citanya.

Sementara, bagi para penguasa di dunia muslim, seperti Hasina, Zardari, “Yahudi” Karimov, Raja Husein, Husni Mubarak atau Khadafi*) yang terus bekerja sama majikan salibis Amerika-nya untuk menindas  dan menganiaya para penyeru Khilafah, maka waktulah yang akan menunjukkan nasib kalian di hadapan Allah Swt, sebagaimana Allah janjikan dalam Q.S. al-Buruj.

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka siksa Jahannam dan bagi mereka siksa (neraka) yang membakar.” (TQS. al-Buruj[85]: 10)

(Sumber :  Negara Khilafah Islam Munculnya Kekuatan Global Baru (terj. Emerging World Order The Islamic Khilafah State) hal. 182-190. Ja’far Muhammad Abu Abdullah. 2011.
    
*) ditulis sebelum Khadafi tewas

Minggu, 05 Maret 2017

Perselisihan Ala Kaum Musyrik dan Ahli Kitab

Allah Swt melarang kita berselisih sebagaimana orang-orang ahli kitab. Hal ini disampaikan oleh Allah Swt dalam Q.S. Ali Imran[3]: 105, yang artinya:

"Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah apa yang datang kebenaran kepada mereka."

Begitu pula Allah Swt melarang umat Islam berselisih sebagaimana kaum musyrik.

"Dan janganlah kalian menjadi bagian dari kaum musyrik. (Yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (TQS. ar-Rum[30]: 31-32)

Syaikh Muhammad Asysyuwaiki merangkum berbagai perselisihan yang terjadi di antara kaum musyrik dan kafir Ahli Kitab, sebagaimana berikut :

#Pertama: Mereka menyelisihi para Nabi, mengingkari, menentang serta membunuhnya.

"Dan sungguh Kami telah memberikan kitab Taurat kepada Musa, dan kami susulkan setelahnya dengan para rasul, dan kami telah berikan kepada Isa putera Maryam bukti-bukti kebenaran, serta Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Mengapa setiap rasul yang datang kepada kalian (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kalian inginkan, kalian menyombongkan diri lalu sebagian kalian dustakan dan sebagian kalian bunuh?" (TQS. al-Baqarah[2]: 87)

#Kedua, mereka menyelisihi Al-Kitab

"Dan sungguh Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkannya." (TQS. Hud[11]: 110)

#Ketiga, mereka memperdebatkan kehidupan dan kematian, mengingkari bahwasanya hidup dan mati hanya dalam kekuasaan Allah serta mengingkari hari kebangkitan.

"Dan mereka berkata: "Kehidupan ini hanyalah kehidupan kita di dunia. Kita mati dan kita hidup dan tak ada yang membinasakan kita selain masa." (TQS. al-Jatsiyah[45] : 24)

#Keempat, mereka memperdebatkan neraka dan siksaannya.

"Hal itu adalah karena mereka berkata,"Api neraka tidak akan menyentuh kami kecuali beberapa hari saja." (TQS. Ali Imran[3]: 24)

#Kelima, mereka memperdebatkan hari kiamat serta mendustakannya.

"Bahkan mereka mendustakan hari kiamat. Dan Kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat." (TQS. al-Furqan[25]: 11)

#Keenam, mereka membagi-bagi diri mereka sendiri lalu sebagian mengkafirkan sebagian yang lain.

"Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nashrani itu tidak memiliki sesuatu (pegangan)." Dan orang-orang Nashrani (juga) berkata, "Orang-orang Yahudi itu tidak memiliki sesuatu (pegangan)." Padahal mereka membaca kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu berkata seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili mereka pada hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan." (TQS. al-Baqarah[2]: 113)

#Ketujuh, bahwasanya mereka berselisih setelah ilmu dan keterangan yang jelas datang atas mereka.

"Dan tidaklah terpecah belah orang-orang Ahli Kitab melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata." (TQS. al-Bayyinah[98]: 4)

"Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas tentang urusan (agama); maka tidaklah mereka berselisih kecuali setelah datang ilmu kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Sungguh, Tuhanmu akan memberi putusan kepada mereka pada hari kiamat terhadap apa yanv mereka perselisihkan." (TQS. al-Jatsiyah[45]: 17)

Demikianlah perselisihan yang terjadi pada orang-orang musyrik dan Ahli Kitab. Oleh karena itu, kita tidak boleh berselisih sebagaimana perilaku mereka. Yakni, berselisih tentanb keimanan kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir serta qadha dan qadar baik serta buruknya dari Allah Ta'ala semata.

Semoga Allah Ta'ala menjauhkan kita dari sikap menyelisihi agama kita, memecah belah sikap dalam perkara yang ushul dan aqidah, supaya kita tidak tersesat setelah Allah memberi petunjuk kepada kita. Aamiin. Wallohu al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

Ary II Herawan

#MudahNulis

Sabtu, 04 Maret 2017

Sikap Sahabat atas Perbedaan Pendapat

Seusai perang Ahzab (Khandaq) Rasulullah langsung pulang ke rumahnya. Beliau pun menanggalkan senjata dan pakaiannya, kemudian mandi. Sekitar waktu Dzuhur, beliau didatangi  malaikat Jibril a.s. yang mengabarkan bahwa Allah Swt memerintahkan beliau untuk berangkat menuju Bani Quraidzah. Karena mereka telah nyata-nyata melanggar watsiqah Madinah dan bersekutu membantu musuh kaum muslim.

"Aku akan berangkat di depanmu. Akan kuguncang benteng mereka dan kususupkan ketakutan ke dalam hati mereka," tegas Jibril.

Beliau bergegas mengumpulkan kaum muslim. Untuk memastikan perintahnya dilaksanakan dengan cepat, beliau memerintahkan muadzin untuk menyerukan kepada orang-orang

مَنْ كَانَ سَامِعًا مُطِيْعًا فَلَايُصَلِّيَنَّ الْعَصْرَ إِلَّا بِبَنِيْ قُرَيْظَةَ

"Barangsiapa yang mendengar dan taat, maka janganlah sekali-kali melaksanakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraidzah."

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda,

لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِيْ بَنِيْ قُرَيْظَةَ (رواه البخاري)

"Janganlah sekali-kali seseorang melaksanakan shalat Ashar terkecuali di Bani Quraidzah." (THR. Imam Al Bukhari)

Rasulullah menunjuk Ibnu Ummi Maktum r.a. untuk memimpin Madinah dan Ali bin Abi Thalib r.a.  untuk membawa panji Rasulullah.

Waktu Ashar tiba di tengah perjalanan menuju Bani Quraidzah. Para shahabat pun berselisih tentang perintah yang terkandung dalam sabda Rasulullah. Sebagian shahabat memahami secara tekstual, sehingga mengakhirkan shalat Asharnya setiba di Bani Quraidzah. Sebagian yang lain memahami secara konstektual, bahwa Rasulullah Saw memerintahkan supaya bersegera. Adapun ketika waktu Ashar tiba ketika sedang dalam perjalanan, maka laksanakan saja shalat Ashar di perjalanan. Kedua kelompok shahabat tersebut berpegang teguh seraya melaksanakan pendapatnya masing-masing.

Bisa kita bayangkan, masing-masing kelompok shahabat menganggap pendapatnya yang benar. Pendapat merekalah yang merepresentasikan ketaatan terhadap sabda Rasulullah Saw. Namun, mereka melaksanakan pendapatnya masing-masing tanpa mempermasalahkan pendapat yang berbeda.

Kejadian ini disampaikan kepada Rasulullah, beliau membenarkan keduanya. Dari kejadian ini kita bisa memahami bahwa perbedaan seperti demikian merupakan pendapat yang dibolehkan.

Hal berbeda terjadi ketika para shahabat menyikapi fenomena nabi palsu serta orang-orang yang menolak membayar zakat. Kelompok yang menolak membayar zakat berdalih bahwa perintah mengambil zakat dari kaum muslim hanyalah untuk Rasulullah, perintah ini tidak berlaku bagi Khalifah Rasulillah. Sehingga ketika Rasulullah sudah wafat, maka hilanglah kewajiban zakat atas kaum muslim.

Terhadap kemunculan nabi palsu, para shahabat secara tegas mengkategorikan nabi palsu dan para pengikutnya sebagai orang-orang murtad. Rajjal bin 'Unfawah, utusan khalifah Abu Bakar yang kemudian membelot menjadi pengikut Musailamah, pun dicap murtad. Ia tewas di tangan Zaid bin Khaththab pada perang Yamamah.

Begitu pula terhadap orang-orang yang menolak membayar kewajiban zakat seraya mengotak-atik ayat Al Quran. Para shahabat  mengkategorikan mereka sebagai orang-orang yang murtad. Sehingga para shahabat menyeru mereka untuk kembali kepada pemahaman Islam yang benar. Karena dalam kedua perkara ini tak boleh ada perbedaan.

Beginilah para shahabat menyikapi perbedaan. Mereka memahami perbedaan serta menyikapinya secara bijak dan benar. Mereka bersikap lapang dada pada perkara yang boleh berbeda, serta bersikap tegas pada perkara yang tidak boleh berbeda.

Beginilah sekilas sikap para shahabat menyikapi perbedaan. InsyaAllah kita pun juga demikian adanya, meniru sikap para shahabat Rasulullah Saw. Wallahu a'lamu bishshawwaab.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

#Toleransi_dalam_Perbedaan

Rabu, 01 Maret 2017

Salman

Nama ini mengingatkan kepada salah seorang raja yang sedang dihebohkan para ibu-ibu di Indonesia. Entah sengaja ataukah tidak, di status ibu-ibu serta semua headline surat kabar nasional, membicarakan nama tersebut.

Nama tersebut juga mengingatkan saya akan sosok shahabat yang shalih dan bersahaja. Seorang pencari kebenaran yang berdarah Persia. Ia meninggalkan kemewahan kedudukannya di kalangan majusi. Kemudian berpindah dari satu rahib ke rahib lainnya hanya untuk mencari kebenaran hakiki. Hingga ia sampai ke pangkuan hidayah Islam.

Seorang shahabat brilian ahli strategi perang. Bahkan atas usulnya-lah negara Islam mengatur strategi perang menghadapi pasukan Ahzab. Ia mengusulkan pembuatan parit di luar kota Madinah.

Pada saat pembuatan parit, ia juga yang mengisahkan ada kilatan cahaya dari sebuah batu besar yang hanya bisa dipecahkan oleh Rasulullah. Kemudian Rasulullah Saw mengabarkan bahwa kilatan itu berarti umat Islam akan menguasai kota-kota para raja Persia, Romawi serta San'a dan sekitarnya.

Seorang non Arab yang diperebutkan oleh kaum Muhajirin dan Anshar, lalu Rasulullah Saw menengahinya dengan bersabda, "Salman adalah golongan kami, Ahlul bait." Ali bin Abi Thalib pernah bersyair tentangnya,

"Dia bermula dari kami dan berakhir kepada kami, Ahlul bait."

Ia menempati posisi yang tinggi di kalangan para shahabat. Hingga tatkala ia datang ke Madinah pada masa Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab r.a. Umar menyambutnya dengan sambutan yang tidak pernah diberikan kepada siapapun sebelumnya.

Di atas semua keistimewaan tersebut, ia tetap bersikap hidup sangat bersahaja. Ketika ia diangkat menjadi seorang gubernur, ia mendapat tunjangan sebesar 4000-6000 dinar pertahun. Satu dinar adalah 4,25 gram emas. Jika dirupiahkan dengan asumsi 1 gram emas Rp 550rb, tunjangannya setara dengan 9,35 s.d. 14,025 milyar pertahun (779,17 juta - 1,17 milyar rupiah perbulan). Semua tunjangan gubernur itu ia bagikan dan tak sedikit pun diambilnya. Ia menghidupi dirinya dengan menganyam daun kurma untuk dijadikan keranjang. Ia beli daun kurma seharga 1 dirham lalu ia jual seharga 3 dirham. 1 dirham ia sedekahkan, 1 dirham ia pakai untuk membeli daun kurma untuk dianyam esok harinya dan 1 dirham ia gunakan untuk nafkah keluarganya. 1 dirham adalah 2,975 gram perak atau setara dengan 32.725 rupiah.

Ia pernah berkata, "Jabatan itu terasa manis saat dipegang dan terasa pahit saat dilepas."

Ketika seorang pekerja membangunkan rumah untuknya, ia hanya menginginkan rumah yang bisa digunakan untuk bernaung dari terik matahari dan berteduh dari guyuran hujan. Saat ia berdiri, kepalanya sampai ke atapnya. Saat ia berbaring, kakinya akan menyentuh dindingnya.

Hidupnya sangat sederhana. Sampai-sampai ketika ia membantu orang memikul barang di pasar, orang yang dibantu tak mengetahui jika orang yang membantunya adalah pejabat nomor satu di wilayah Syam.

Ketika menjelang ajalnya, ia menangis karena merasa terlalu banyak menikmati kemewahan dunia. Ia ingat sabda Rasulullah Saw, "Hendaklah bagian kalian dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang musafir."
Padahal ketika Saad bin Abi Waqqash melihat kondisi rumahnya, hanya nampak 1 piring dan 1 baskom. 

Saat malaikat maut mendatanginya, ia meminta istrinya untuk memercikkam wangi kesturi di sekelilingnya.

Seorang Salman non Arab. Pelopor hidup sederhana. Dialah Salman al-Farisi yang memiliki nama panggilan Abu Abdillah.
Semoga Allah Swt meridloi serta merahmati beliau. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer)

Akun FB :
Ary Herawan
dan
Ary II Herawan

Selasa, 28 Februari 2017

Quwwah Ruhiyyah

Persia dan Romawi merupakan dua negara adidaya pada jamannya. Namun keduanya dapat ditaklukkan oleh negara Islam yang baru tumbuh dari kota kecil Madinah Al-Munawwarah. Sejak dipimpin oleh Rasulullah Saw, para Khulafa ar-Rasyidin hingga para khalifah setelahnya.

Negara Islam memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh Persia dan Romawi, yakni Quwwah Ruhiyyah (Kekuatan Spiritual). Kekuatan yang berbasis pada kesadaran akan hubungan dengan Allah Swt. Sebuah kekuatan yang berbasis pada keimanan dan ketaqwaan.

Banyak peperangan yang menceritakan tentang kehebatan Quwwah Ruhiyyah kaum muslim di bawah negara Islam, salah satunya adalah perang Khabat.

Khabat adalah salah satu daerah di wilayah Irak. Rasulullah Saw pernah menugaskan Abu Ubaidah bin Al Jarrah untuk memimpin 315 orang pasukan untuk membebaskan Khabat. Meskipun perjalanan sangat jauh dengan medan yang cukup berat, Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan pasukannya hanya membawa bekal 1 keranjang kurma. Apabila dibuka di google map, jarak yang ditempuh dari Madinah ke Khabat tidak kurang dari 1900 km dengan 16 hari perjalanan dengan jalan kaki.

Sebaik-baiknya bekal adalah taqwa. Hal tersebut tidak sekedar menjadi retorika tanpa fakta. Bekal yang minim tidak menjadi alasan untuk menghindar dari penugasan Rasulullah Saw, atau tak serius menjalaninya. Bahkan sebaliknya, Abu Ubaidah bin Al Jarrah beserta kaum muslim selalu penuh semangat menjalankan tugasnya.

Selama dalam perjalanan, pada awalnya setiap orang pasukan mendapatkan jatah segenggam kurma perhari. Kemudian tatkala bekal kurma menipis, setiap orang pasukan hanya mendapat jatah sebutir kurma perhari. Hingga ketika bekal persediaan kurma habis, pasukan kaum muslim memetik dan memeras daun tanaman Khabat kemudian meminum airnya. Begitulah Quwwah Ruhiyyah yang dimiliki kaum muslim di bawah naungan negara Islam. Kekuatan spiritual ini mampu mengantarkan kaum muslim ke puncak kejayaan, serta memimpin dunia hingga lebih dari 13 abad lamanya.

Bagaimanakah dengan Quwwah Ruhiyyah kita? Semoga senantiasa terjaga, supaya kita merasa ringan dalam menjalankan setiap perintah Allah serta menjauhi setiap larangan-Nya. Aamiin.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

Sabtu, 18 Februari 2017

Muslim Menyikapi Cap Go Meh

Makna Cap Go Meh

Bagi yang masih menganggap bahwa Cap Go Meh itu hanya budaya dan tidak terkait dengan SARA (Suku Agama Ras) tertentu. Marilah kita simak tulisan yang saya ambil dari situs www.tionghoa[dot]info berikut ini :

==========================

Sejarah Cap Go Meh

Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas (hanzi : 十五暝; pinyin : Shíwǔ míng) bulan pertama Imlek dan merupakan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas migran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”. Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam.

Perayaan Cap Go Meh atau Perayaan Lampion ini tidak hanya dirayakan di Indonesia saja. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga ikut merayakan hari raya ini. Di negara Tiongkok, festival Cap Go Meh dikenal dengan nama Festival Yuanxiao (元宵节; Yuánxiāo jié) atau Festival Shangyuan. Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi. Dewa Thai Yi sendiri dianggap sebagai Dewa tertinggi di langit oleh Dinasti Han (206 SM – 221 M).

Upacara ini dirayakan secara rutin setiap tahunnya pada tanggal 15 bulan pertama menurut sistem penanggalan kalender Imlek. Upacara ini dahulu dilakukan tertutup hanya untuk kalangan istana dan belum dikenal secara umum oleh masyarakat Tiongkok. Upacara ini dilakukan pada malam hari; untuk itu perlu disiapkan penerangan dengan lampu-lampu lampion yang dipasang sejak senja hari hingga keesokan harinya. Inilah yang kemudian menjadi lampion-lampion dan aneka lampu berwarna-warni yang menjadi pelengkap utama dalam perayaan Cap Go Meh.

Ketika pemerintahan Dinasti Han berakhir perayaan ini menjadi lebih terbuka untuk umum. Saat Tiongkok dalam masa pemerintahan Dinasti Tang, perayaan ini juga dirayakan oleh masyarakat umum secara luas. Festival ini adalah sebuah festival dimana masyarakat diperbolehkan untuk bersenang-senang. Saat malam tiba, masyarakat akan turun ke jalan untuk menikmati pemandangan lampion berbagai bentuk yang telah diberi berbagai hiasan.

Di malam yang disinari bulan purnama sempurna, masyarakat akan menyaksikan tarian naga (masyarakat Indonesia mengenalnya dengan sebutan ‘Liong’) dan tarian Barongsai. Mereka juga akan berkumpul untuk memainkan sebuah permainan teka-teki dan berbagai macam permainan lainnya, sambil menyantap sebuah makanan khas bernama Yuan Xiao atau Wedang Ronde. Tentu saja, malam tidak akan menjadi meriah tanpa kehadiran kembang api dan petasan.

Yuan Xiao sendiri adalah sebuah makanan yang menjadi bagian penting dalam festival tersebut. Yuan Xiao atau juga biasa disebut Tang Yuan adalah sebuah makanan berbentuk bola-bola yang terbuat dari tepung beras. Bila ditilik dari namanya, Yuan Xiao mempunyai arti ‘malam di hari pertama’. Makanan ini melambangkan bersatunya sebuah keluarga besar yang memang menjadi tema utama dari perayaan Hari Imlek.

Perayaan Festival Cap Go Meh di Indonesia sendiri sangat bervariasi. Perayaan biasanya dilakukan oleh umat kelenteng-kelenteng atau Wihara dengan melakukan kirab atau turun ke jalan raya sambil menggotong ramai-ramai Kio/Usungan yang didalamnya diletakkan arca para Dewa. Bahkan di beberapa kota di tanah air seperti di daerah Jakarta dan di Manado, terdapat atraksi ‘lokthung‘ atau ‘thangsin‘ dimana ada seseorang yang menjadi medium perantara yang konon setelah dibacakan mantra tertentu dipercaya telah dirasuki oleh roh Dewa untuk memberikan berkat bagi umat Nya. Mereka biasanya akan melakukan beberapa atraksi sayat lidah, memotong lengan atau menusuk bagian badannya dengan sabetan pedang, golok, dan lain sebagainya. Sementara di Kalimantan, tepatnya di kota Pontianak dan Singkawang, atraksi ini disebut ‘Tatung‘.

===========================

Sikap Muslim

Jika demikian adanya, maka Cap Go Meh tidaklah netral. Ia terkategori hadlarah (sekumpulan pemahaman tentang kehidupan yang terlahir dari aqidah tertentu). Begitupun dengan perlengkapan yang biasa dipakai untuk merayakannya, ia termasuk madaniyah khas (benda-benda yang dipengaruhi oleh hadlarah tertentu). Oleh karena itu, kaum muslim dilarang untuk memanfaatkan hadlarah dan madaniyah khas yang berasal dari luar aqidah Islam.

Merayakan Cap Go Meh bisa terkategori tasyabbuh (menyerupai) kaum kafir. Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Abu Dawud). Kalimat celaan tegas “termasuk bagian dari mereka” merupakan indikasi keharaman perilaku tersebut.

Allah Swt juga mengharamkan kaum muslim untuk merayakan hari raya umat lain. Hal ini berdasarkan firman-Nya :

“Dan orang-orang yang tidak menghadiri/menyaksikan az-zur, dan apabila mereka melewati al-laghwu (perbuatan dan perkataan yang tidak berguna), mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”
(TQS al–Furqan [25]: 72).

Imam Ibnu Katsir menuliskan bahwa yang dikatakan dengan az-zûr adalah syirik dan penyembahan berhala. Sementara Abu ‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirrin, adh-Dhahhak, ar-Rabi’ bin Anas, dan lainnya, memaknai az-zûr itu sebagai hari-hari raya kaum Musyrik.  Adapun imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa mereka tidak menghadiri dusta dan kebathilan dan tidak menyaksikannya. Setiap kebatilan merupakan kepalsuan dan hiasan. Yang terbesar adalah syirik serta mengagungkan sesembahan-sesembahan selain Allah. Ad Dhahak, Ibnu Zaid dan Ibnu Abbas berpendapat bahwa az-zur adalah hari-hari raya kaum musyrik.

Merujuk kepada ayat ini, mayoritas fuqaha’ menyatakan haram hukumnya menghadiri perayaan hari raya kaum kafir. Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa kaum muslim telah diharamkan untuk merayakan hari raya orang-orang Yahudi dan Nasrani.  Diperkuat pula dengan pernyataan Anas r.a. Ia mengisahkan bahwa ketika Rasulullah saw datang ke Madinah, mereka (musyrik Madinah, pen.) memiliki dua hari raya yang biasa mereka rayakan, yaitu Nayruz dan Mihrajan. Beliau pun bersabda:

“Sungguh Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik yaitu : Idul Adha dan idul Fithri”
(THR. Abu Dawud dan an-Nasa’i).

Mengomentari hadis ini, di dalam Faydh al-Qadîr disebutkan: “di dalamnya terdapat dalil bahwa mengagungkan hari Nairuz dan al-Mihrajan dan semisalnya -yakni hari raya kaum kafir- adalah terlarang”. Ibn Hajar al-‘Atsqalani juga mengomentari, “darinya diistinbath terlarangnya bergembira di hari-hari raya kaum musyrik dan menyerupai mereka. Bahkan syaikh al-Kabir Abu Hafash an-Nasafi dari Hanafiyah sampai mengatakan : “siapa saja yang menghadiahkan sebutir telur kepada orang musyrik pada hari raya mereka itu sebagai pengagungan terhadap hari itu maka dia telah kafir kepada Allah SWT”. (Buletin Al Islam, ed. 587/2011).

Cap Go Meh merupakan produk aqidah di luar Islam. Jadi, biarkanlah orang-orang non muslim yang merayakannya, kaum muslim punya perayaan yang jauh lebih baik, yang tetap bersumber pada aqidah Islamiyyah. Selayaknya, bersikap toleran sebagaimana yang tertera dalam Q.S. Al Kafirun, itulah sikap terbaik.

"Katakanlah: "Hai, orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah, agamaku."
(TQS. Al Kafirun: 1-6)

Wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

Sabtu, 11 Februari 2017

Vazal

sumber gambar : hr[dot]wikipedia[dot]org

Istilah vazal dituliskan oleh Buya Hamka di lembaran terakhir buku Sejarah Umat Islam jilid IV (1951). Pada bagian penutup, Buya menyampaikan bahwa dengan gagah dan gigih, dalam rentang 100 tahun, bangsa Belanda yang kecil dapat memancangkan kekuatannya di Nusantara. Kerajaan-kerajaan besar Nusantara, seperti Mataram, Banten, Cirebon, Maluku dan Sulawesi dapat dikalahkan dan berangsur-angsur menjadi vazal, yang naik karena dinaikkan Belanda dan hidup karena dihidupi Belanda.1)
Vazal (Slovak); Vazal merupakan sinonim leenman (Belanda), vassal (Inggris) semuanya bermakna pengikut (Indonesia). Dalam KBBI, vasal dimaknai 1. bersifat terikat; dan 2. negara (daerah) taklukan.2) Vasal adalah seseorang yang menjalin hubungan dengan monarki yang berkuasa –biasanya dalam bentuk dukungan militer, perlindungan bersama (mutual protection) atau pembayaran upeti, serta menerima jaminan dan imbalan tertentu sebagai gantinya.3) Adapun negara vasal adalah negara yang sepenuhnya berada di bawah kekuasaan negara lain secara internasional. Jika negara vasal diserang negara lain, maka negara pelindung akan membantu negara vazal tersebut. Saat ini, istilah yang lebih umum adalah negara boneka, protektorat atau negara asosiasi.4)
Dalam sejarah feodalisme Eropa, vazal merupakan sebutan terhadap bangsawan yang memiliki posisi lebih rendah daripada bangsawan penguasa. Para vazal diwajibkan menyetor upeti kepada bangsawan penguasa, yang mereka tarik dari rakyat melalui para anak buahnya.5) Terbentuklah piramida hierarki kekuasaan yang meletakkan rakyat dalam posisi terbawah. Rakyat mesti menanggung beban dan menjadi bahan eksploitasi manusia lain yang berada di atasnya. Mereka diperas tenaganya, hartanya, sumber daya alamnya, hanya untuk memenuhi pundi-pundi kekayaan kaum bangsawan penguasa.
Sejarah seolah berulang. Selama manusia mengatur diri mereka sendiri, selama itu pula penjajahan akan terus berlangsung. Dengan kekuatan modal dan kekuasaannya, segelintir manusia menindas mayoritas manusia lainnya.
Pakar Ekonomi Islam, Dwi Condro, dalam tulisan “Jurus-jurus Kapitalisme Menguasai Dunia” (2012) menjelaskan bahwa perbankan dan saham dijadikan sebagai ‘mesin penyedot uang’ para pengusaha besar. Kemudian dengan modal perbankan dan saham tersebut, para kapitalis menguasai usaha dari hulu hingga ke hilir. Perusahaan-perusahaan kecil pun  lama-kelamaan akan gulung tikar. Tak hanya sampai di sana, para kapitalis pun mencaplok BUMN. Mereka memuluskan langkahnya dengan berlomba-lomba menjadi penguasa. Selanjutnya, mereka melebarkan sayap usahanya ke negara-negara miskin. 6)
Masih menurut Dwi Condro, para kapitalis mendirikan Multi National Corporation untuk mengeruk sumber daya alam negara-negara miskin. Supaya sumber daya alam bisa dibeli dengan murah, kurs mata uang negara jarahan pun dijatuhkan. Liberalisasi pendidikan dijalankan sehingga banyak siswa yang tak bisa melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Sekolah kejuruan pun diperbanyak, tujuannya supaya banyak orang yang memiliki keahlian dan bisa dibayar dengan upah yang lebih murah. Selanjutnya, untuk menjaga daya beli masyarakat, para kapitalis dunia mengembangkan Non Goverment Organization (NGO) atau LSM untuk membina masyarakat negara-negara miskin. Mereka dibina agar bisa mengembangkan industri-industri kecil (rumahan) sehingga masih dapat memiliki penghasilan. Jika krisis ekonomi melanda, para kapitalis memaksa pemerintah untuk mengucurkan dana talangan (bail out) yang bersumber dari pajak rakyat. Begitulah jurus-jurus kapitalisme untuk  menguasai dunia. 7)
Bagaimanakah para kapitalis dunia memuluskan semua jurus tersebut? di sinilah peran para vazal diperlukan. Vazal yang naik karena dinaikkan para kapitalis dan hidup karena dihidupi para kapitalis. Jika dulu penjajahan dilakukan oleh kerajaan Belanda, kini dilanjutkan oleh AS dan sekutunya. Jika dulu AS tanpa saingan, kini Tiongkok mulai menyainginya. Namun tetap saja, mereka membutuhkan para vazal. Vazal-vazal tumbuh bermunculan, dari satu tuan menjadi tuan yang lain serta dari satu pemeran berganti menjadi pemeran yang lain. Wallahu a’lamu bishshowwaab.

Daftar pustaka :  
  1. Sejarah Umat Islam, Hamka.
  2. http://kbbi.web.id/vasal
  3. wikipedia[dot]org
  4. Idem
  5. www.serbasejarah.wordpress[dot]com. Dalam tulisan berjudul “Feodalisme ; Jurus Ampuh Kolonialisasi Hindia Belanda.”
  6. Jurnal Al Waie, Maret 2012.
  7. Idem

Senin, 06 Februari 2017

Ebook Arabic Rijal[un] haula ar-Rosul[i]

Ebook karya Syaikh Khalid Muhammad Khalid yang mengisahkan perjuangan dan pengorbanan 60 Shahabat Rasulullah Saw.

Silahkan klik UNDUH untuk mendownloadnya.

Ebook Jangan Jadi Muslim Keturunan

Berikut adalah Ebook gratis dari salah seorang anggota #MudahNulis dari Kota Tasikmalaya, yaitu 

Ust. Zulfikar Tamher. Silahkan klik UNDUH


Ebook Kenapa Energi Nuklir

Ebook dari Mas Andika, semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi penulisnya. Aamiiin.
Silahkan klik UNDUH 

Ebook Mudah Menulis Opini


Buku kecil ini sengaja saya sajikan untuk generasi muslim. Karena sebagian besar di antara mereka memiliki potensi besar untuk menjadi penulis muslim. Penulis yang tidak hanya sekedar menyusun kata-kata menjadi kalimat tetapi juga mampu menebar kebaikan dan hidayah Islam.
Sosial media dan media daring sudah membudaya. Dunia maya sudah tak bisa dipandang sebelah mata, bahkan tak jarang isu-isunya pun sudah bisa mempengaruhi opini masyarakat. Bahkan berbagai momen yang terjadi di tanah air, banyak dibesarkan opininya oleh interaksi di sosial media. Sangat disayangkan jika kemudahan tersebut tidak dimanfaatkan untuk mengopinikan kebaikan dan hidayah. Oleh karena itu, ebooklet ini saya hadiahkan untuk para pembelajar sejati yang bersemangat untuk mengopinikan kebaikan Islam. (Ary H,)


Judul Ebook : Mudah Menulis Opini
Penulis: Ary H.
Publisher: Akademi Menulis Kreatif dan Komunitas MudahNulis
Tahun: 2017
Klik UNDUH (Download) GRATIS Ebook

atau Klik Unduh Versi Buku untuk mendownload yang sudah disetting buku. Caranya :

1) Siapkan kertas HVS ukuran A4 dan printer berwarna siap pakai
2) Buka file yang sudah diunduh, kemudian print dengan setting booklet.
3) Ikuti perintah selanjutnya, karena tiap printer akan memberikan instruksi yang berbeda-beda. Jangan sampai terbalik ya. Selamat mencoba!