Nama ini mengingatkan kepada salah seorang raja yang sedang dihebohkan para ibu-ibu di Indonesia. Entah sengaja ataukah tidak, di status ibu-ibu serta semua headline surat kabar nasional, membicarakan nama tersebut.
Nama tersebut juga mengingatkan saya akan sosok shahabat yang shalih dan bersahaja. Seorang pencari kebenaran yang berdarah Persia. Ia meninggalkan kemewahan kedudukannya di kalangan majusi. Kemudian berpindah dari satu rahib ke rahib lainnya hanya untuk mencari kebenaran hakiki. Hingga ia sampai ke pangkuan hidayah Islam.
Seorang shahabat brilian ahli strategi perang. Bahkan atas usulnya-lah negara Islam mengatur strategi perang menghadapi pasukan Ahzab. Ia mengusulkan pembuatan parit di luar kota Madinah.
Pada saat pembuatan parit, ia juga yang mengisahkan ada kilatan cahaya dari sebuah batu besar yang hanya bisa dipecahkan oleh Rasulullah. Kemudian Rasulullah Saw mengabarkan bahwa kilatan itu berarti umat Islam akan menguasai kota-kota para raja Persia, Romawi serta San'a dan sekitarnya.
Seorang non Arab yang diperebutkan oleh kaum Muhajirin dan Anshar, lalu Rasulullah Saw menengahinya dengan bersabda, "Salman adalah golongan kami, Ahlul bait." Ali bin Abi Thalib pernah bersyair tentangnya,
"Dia bermula dari kami dan berakhir kepada kami, Ahlul bait."
Ia menempati posisi yang tinggi di kalangan para shahabat. Hingga tatkala ia datang ke Madinah pada masa Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab r.a. Umar menyambutnya dengan sambutan yang tidak pernah diberikan kepada siapapun sebelumnya.
Di atas semua keistimewaan tersebut, ia tetap bersikap hidup sangat bersahaja. Ketika ia diangkat menjadi seorang gubernur, ia mendapat tunjangan sebesar 4000-6000 dinar pertahun. Satu dinar adalah 4,25 gram emas. Jika dirupiahkan dengan asumsi 1 gram emas Rp 550rb, tunjangannya setara dengan 9,35 s.d. 14,025 milyar pertahun (779,17 juta - 1,17 milyar rupiah perbulan). Semua tunjangan gubernur itu ia bagikan dan tak sedikit pun diambilnya. Ia menghidupi dirinya dengan menganyam daun kurma untuk dijadikan keranjang. Ia beli daun kurma seharga 1 dirham lalu ia jual seharga 3 dirham. 1 dirham ia sedekahkan, 1 dirham ia pakai untuk membeli daun kurma untuk dianyam esok harinya dan 1 dirham ia gunakan untuk nafkah keluarganya. 1 dirham adalah 2,975 gram perak atau setara dengan 32.725 rupiah.
Ia pernah berkata, "Jabatan itu terasa manis saat dipegang dan terasa pahit saat dilepas."
Ketika seorang pekerja membangunkan rumah untuknya, ia hanya menginginkan rumah yang bisa digunakan untuk bernaung dari terik matahari dan berteduh dari guyuran hujan. Saat ia berdiri, kepalanya sampai ke atapnya. Saat ia berbaring, kakinya akan menyentuh dindingnya.
Hidupnya sangat sederhana. Sampai-sampai ketika ia membantu orang memikul barang di pasar, orang yang dibantu tak mengetahui jika orang yang membantunya adalah pejabat nomor satu di wilayah Syam.
Ketika menjelang ajalnya, ia menangis karena merasa terlalu banyak menikmati kemewahan dunia. Ia ingat sabda Rasulullah Saw, "Hendaklah bagian kalian dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang musafir."
Padahal ketika Saad bin Abi Waqqash melihat kondisi rumahnya, hanya nampak 1 piring dan 1 baskom.
Saat malaikat maut mendatanginya, ia meminta istrinya untuk memercikkam wangi kesturi di sekelilingnya.
Seorang Salman non Arab. Pelopor hidup sederhana. Dialah Salman al-Farisi yang memiliki nama panggilan Abu Abdillah.
Semoga Allah Swt meridloi serta merahmati beliau. Aamiin.
(Ary H. - Islamic Writer)
Akun FB :
Ary Herawan
dan
Ary II Herawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar