Minggu, 18 Oktober 2015

#Secercah Hidayah di Surau Sekolah# 2

(Cerita Fiksi)

Ajakan yang Menggelisahkan

“Teeet....!” Bel sekolah berbunyi.
Siswa dan siswi SMA Sambongpari Kota Tasikmalaya berhamburan keluar, tak terkecuali Dadan.
   “Aduh, panas sekali hari ini!” Keluhnya. “Tapi, ndak apalah, ada Nasi Padang kesukaanku menanti di rumah, “ ia menghibur dirinya.
Tak terasa, air liurnya hampir saja menetes, membayangkan Nasi Padang kesukaannya. Suasana yang panas terik seakan langsung menjadi adem. Musim kemarau belakangan ini, memang membuat cuaca di Kota Resik menjadi terasa lebih panas dari biasanya.

Dadan langsung menuju ke halaman sebelah barat sekolah. Tempat ia biasa menyimpan sepedanya.
Sesaat sebelum beranjak pergi dengan sepeda merahnya, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil.
“Hei..., hei...!”
Dadan berhenti, menolehkan wajah ke arah orang yang memanggilnya.
“Oh, ya. Kamu memanggilku?” Tanya Dadan. Kedua alisnya mengangkat dengan dahi mengerut.  Terlihat di hadapannya seorang siswa yang berpakaian dengan sangat rapih.
Belum sempat siswa tersebut menjawab. Dadan masih bertanya lagi.
“Ada perlu apa Rif?” Lanjut Dadan. Ia memang mengenali siswa tersebut, karena ia teman satu kelasnya.
“Iya, manggil kamu dong Dan.“ Jawab Arif. “Tak kirain kamu belum kenal aku?” Tanya Arif dengan penuh senyuman.
“Masa sih aku ga kenal kamu.” Jawab Dadan dengan membalas senyuman Arif.
“Kamu kan yang kemarin ikut lomba pidato SMA tingkat Kota Tasikmalaya itu kan?” Tanya Dadan.
“Masa ga kenal, kan beberapa kali kamu dipanggil keluar kelas oleh Pak Randi.” Jelasnya.
“Oh iya ya...,” Jawab Arif malu-malu. Ia tak menyangka, jika siswa baru pendiam ini mengenali dirinya.
“Pak Randi memanggilku berkali-kali untuk latihan pidato di ruang guru”, Arif melanjutkan ucapannya.
“Terus gimana, menang lomba pidatonya?” Tanya Dadan penasaran, seraya kembali berjalan pelan sambil mendorong sepedanya.
Dengan tersenyum lebar, Arif menjawab, “Alhamdulillah, dapat pengalaman berharga.”
Arif berjalan mengiringi Dadan.
“Juara berapa?” Dadan penasaran.
“Belum...” Arif berhenti sejenak. “Peserta lain banyak yang jauh lebih bagus dariku. Tapi aku senang kok.” Jelas Arif.
“Ga juara kok senang...” Dadan menimpalinya dengan agak ketus.
Arif tersenyum, lalu berkata, “Dan, Allah Swt itu tidak hanya melihat hasil. Tetapi Ia juga menilai prosesnya.”
Dadan termenung dengan penjelasan Arif, ia belum memahaminya.
“Maksudnya gimana Rif?” Obrolan mereka semakin akrab, Dadan seakan mulai lupa dengan Nasi Padangnya.
“Iya, dalam pandangan manusia, apa yang aku lakukan mungkin tidak ada hasilnya.” Jawab Arif. “Tetapi selama aku menjalani proses persiapan, latihan kemudian pidato ketika lomba. Allah pasti melihatnya.” Lanjutnya.
Dadan mendengarkan ucapan Arif dengan seksama.
“Dan InsyaAllah, Allah yang akan menilainya. Adapun hasil, itu sudah merupakan Taqdir.” Jelas Arif. “Kita harus qonaah” Lanjutnya. Tangan Arif mulai beraksi, bak Pak Randi ketika menjelaskan materi Pelajaran Agama Islam.
“Wah..ga ngerti aku. Apa itu taqdir dan qonaah” Dadan mengernyitkan dahi, pertanda ia serius menyimak. Ingin sekali ia banyak berbicara dengan Arif, tapi perutnya mulai terasa lapar.
“Eh, tapi kamu tadi manggil aku untuk apa?” Tanya Dadan kembali ke pencetus obrolan akrab mereka.
“Oh iya ya,” Kata Arif sambil garuk-garuk dan tersenyum. “Besok, Rohis mau mengadakan acara pengajian dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam. Kamu hadir ya?” Arif bertanya sambil memegang pundak Dadan. Anak ini memang suka sok akrab, tetapi biasanya orang suka luluh dengan ajakannya.
“Kamu kan belum aktif di eks kul manapun. Ayolah, bantu-bantu di Rohis.” Arif melanjutkan ajakannya.
“Deg !”, Jantung Dadan serasa berhenti berdetak. Dadan tiba-tiba terdiam. Ia malah mempercepat langkah menuju gerbang sekolah.
“Kenapa kamu tiba-tiba diam Dan?” Arif keheranan. “Aku minta maaf ya, jika ada kata-kataku yang menyinggungmu.” Arif menjadi kikuk dengan perilaku Dadan.
“Ga, ga apa-apa kok Rif.” Jawab Dadan singkat.
Arif semakin penasaran, “Oh ya sudah jika ga ada apa-apa, tapi kamu bisa hadir kan?” Tanya Arif.
“Eh...eh...” Mulut Dadan terkatup kelu. Serasa berat untuk berucap. Tetapi obrolan akrab mereka sedari tadi, membuyarkan keraguan Dadan untuk menjawab pertanyaan Arif.
“Aku sebetulnya malu.” Jawab Dadan pelan.
“Malu kenapa Dan?” Arif semakin penasaran.
“Aku...aku....” Lidah Dadan terasa keras, tenggorokannya pun laksana tersekat benda padat. Dengan sangat pelan, Dadan menjelaskan berkata : “Aku tidak bisa membaca Al Quran.”
Wajah Dadan memerah, tampak sekali ia malu karena pengakuannya.
Arif mengerti dengan kondisi lawan bicaranya. Ia pun berusaha membesarkan hati Dadan.
“Oh, besok itu hanya acara pengajian kok Dan.” Jelas Arif. “Tidak ada tes baca tulis Al Quran. Lanjutnya sambil mengusap-usap punggung temannya. Dengan tersenyum, Arif melanjutkan penjelasannya,
“Kita hanya duduk dan mendengarkan saja kok Dan. Tidak lebih dari itu.” Ucap Arif.
“Jadi, kamu bisa hadir ya?” Tanya Arif kembali.
“Beneran Rif, tidak akan disuruh membaca Al Quran?” Dadan seolah tidak percaya.
“Insya Allah, pasti tidak ada. Aku jamin. Kan aku ketua panitianya.” Jawab Arif.
Dadan sebetulnya tetap malu untuk hadir. Karena, selain tidak bisa membaca Al Quran. Ia juga sudah lupa kapan terakhir ia melaksanakan shalat. Seingatnya, ia terakhir shalat pada saat akan diwisuda TPA, sekitar 5 tahun yang lalu, itu juga karena acaranya di samping masjid. Sehingga, banyak sekali bacaan-bacaan shalat yang sudah ia lupakan. Akan tetapi, ia tidak enak juga jika harus menolak ajakan Arif. Masa untuk duduk dan mendengarkan saja ia tidak mau hadir.
Melihat temannya kebingungan, Arif lalu berkata, “Dan, semua manusia itu menjalani proses. Dan Allah Swt pasti menilai semua prosesnya.”
Kata-kata ini bukan datang dari seorang Jamil Azzaini atau seorang Mario Teguh, atau para motivator tingkat nasional lainnya. Tetapi, tutur kata Arif yang tenang membuat kalimat itu serasa penuh makna. Hati Dadan pun luluh untuk menerima ajakan Arif.
“Iya deh, aku pasti hadir.” Jawab Dadan. “Tapi...” Lanjutnya dengan ragu.
“Tapi apa Dan?” Tanya Arif.
“Beneran tidak akan disuruh membaca Al Quran ya?” Tanya Dadan belum yakin.
“InsyaAllah..., tidak akan, aku jamin....” Arif menjawabnya dengan penuh keyakinan.

======

Kamis, 15 Oktober 2015

#Secercah Hidayah di Surau Sekolah#

(Cerita Fiksi)
Bagian 1

     "Buk! "
Dadan melempar tas punggungnya ke sudut kamar. Wajahnya merah dan kusut.
     "Sial! Mengapa nasibku jelek seperti ini?"
Ia menggerutu sendiri seraya membantingkan badannya ke kasur.
      "Gedebug!"
Matanya lurus menatap langit-langit kamarnya. Seraya bergumam sendiri.
       "Seandainya ayah masih sekaya dulu, tentu aku tidak akan secapek ini."
Masih terbayang di benaknya, ia mengayuh sepeda pergi pulang sekolah. Padahal jarak rumah ke sekolahnya sekitar 5 km.
Hampir setiap hari Dadan meratapi nasibnya. Sebagai anak tunggal yang dibesarkan dalam kemewahan, tentu perlu banyak beradaptasi bila harus hidup dalam kekurangan.
Dadan menatap langit-langit kamarnya. Lamunannya hanyut dalam keindahan masa lalu.
         "Daaan, dadaan..!" Teriakan ayah membuyarkan lamunannya.
Tetapi sedikit pun Dadan tak mau beranjak dari tempat tidurnya.
         "Ngapain sih ayah teriak-teriak?" Ucapnya dalam hati.
         "Lah..., paling juga nyuruh makan siang". Lanjutnya, dengan wajah masam.
          "Dadaaan!" Untuk ke sekian kalinya ayah memanggilnya dari dapur.
          "Ngapain sih Yah?" Sahutnya seraya berteriak.
Tetapi, sedikit pun Dadan tidak menghampiri ayahnya. Padahal, jarak kamarnya ke dapur hanya 5 meter. Tidak seperti rumah mewahnya dulu, untuk berjalan dari kamar menuju dapur pun harus melewati taman dan kolam ikan terlebih dulu.
        "Makan dulu Nak!" Ajak Ayah.
Ayah pun berjalan menuju kamar Dadan. Nampak di hadapannya, seorang anak berseragam SMA yang sedang terbaring.
       "Kamu pasti capek kan? Tanya ayah dengan penuh senyuman.
       "Makan dulu yuk!" Lanjutnya.
         
Dadan malah menatap ayahnya dengan wajah dingin cemberut.
          "Aku tidak mau makan Yah," tolaknya.
          "Aku bosan dengan masakan ayah. Aku hanya mau makan di rumah makan." Lanjutnya dengan ketus.
Ayah paham bahwa yang dimaksud Dadan adalah RM Sederhana, rumah makan Padang langganan keluarganya dahulu, di saat bisnisnya masih maju dan berlimpah.
Sambil duduk di samping Dadan, ayah mengusap-usap pundak Dadan seraya berkata,
          "Besok lagi ya Nak, hari ini kebetulan cuci motor ayah sedang sepi." Jawab ayah.
           "Tapi, Ayah janji ya...?" Dadan mulai melunak. Pak Fuad memang pintar mengambil hati anaknya.
           "Iya Nak, Ayah janji." Jawabnya meyakinkan anak semata wayangnya.
         
          "Besok bila cuci motor Ayah rame, pasti Ayah belikan, " lanjutnya.
           "Ya sudah Yah, aku mau tidur dulu ya.." kata Dadan sambil berbalik badan.
Dadan memeluk guling kesayangan, lalu menutupi sisi wajahnya. Seraya pikirannya melayang, berharap yang terjadi kepadanya hanya mimpi semata.
           "Mimpi yang indah ya Nak." Jawab Pak Fuad seraya menatap wajah putranya dengan penuh cinta.
Cukup lama Pak Fuad memandangi Dadan. Matanya yang sayu, berkaca-kaca, tak terasa butiran air mata terkumpul bening di sudut matanya. Setiap kali melihat Dadan, ia teringat mendiang istrinya tercinta. Istrinya wafat karena kecelakaan lalu lintas setahun yang lalu.
(Bersambung)

Senin, 12 Oktober 2015

Penjelasan Mengenai Bertambah dan Berkurangnya Iman *)

Lafadz “Az ziyadah” (bertambah) dan “An Nuqshon” (berkurang) adalah lafadz musytarak (memiliki banyak makna, pen.) dalam bahasa. Terkadang bermakna pertambahan dan pengurangan nilai, yakni dalam hal luas dan volume, terkadang bermakna menguat dan melemah. Adapun qarinah (indikasi) yang membatasinya adalah maksudnya. Apabila yang dimaksud adalah “Az ziyadah” (bertambah) dan “An Nuqshon” (berkurang) dalam hal keimanan, maka sesungguhnya yang dimaksud adalah menguat dan melemah, karena pembenaran yang pasti tidak boleh mengalami penambahan dan pengurangan nilai. Hal ini dapat dipahami dari berbagai ayat berikut :
     1.       Q.S. Ali Imran[3] : 173

                                         الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang yang berkata kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, kerena itulah takutlah kepada mereka, maka bertambah kuatlah keimanan mereka, dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia-lah sebaik-baik pelindung.”
     2.       Q.S. Al Anfal[8] : 2

                                    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (adalah) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambah kuatlah imannya dan kepada Tuhan mereka bertawakal.”
     3.       Q.S. Al Ahzab[33] : 22, yang artinya :
  
                         وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (pasukan Ahzab) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah, kecuali keimanan dan keislaman mereka.”

Bahwasanya kaum mukmin telah kuat dan kokoh keimanannya disebabkan berbagai perkara yang telah Allah Swt jelaskan dalam ayat-ayat tersebut. Semua itu karena makna keimanan sebagaimana yang telah kami jelaskan (pembenaran yang pasti dan sesuai fakta berdasarkan dalil). Ia tidak boleh mengalami penambahan dan pengurangan  yang bermakna nilai. Karena hal tersebut akan menjadi (pembenaran) yang tidak pasti, berpaling menjadi dugaan dan keraguan, dan menjadi kekufuran.

*) Tema ini merupakan terjemahan dari hal. 47 kitab At Taisiir Fi Ushuli t-Tafsiir karya Syaikh Al ‘Alim Atha Ibnu Khalil Abu Ar Rasytah (Amir Hizbut Tahrir).

Diterjemahkan oleh : Ary Herawan, 29 Dzulhijjah 1436 H

Jumat, 09 Oktober 2015

Langit-langit

Langit-langit

putih seputih warna putih langit

Langit-langit
Kutatap
bersih sebersih terang bersih langit

Adakah dirimu di sini?

Ary Herawan

Baitul Marhamah, Penghujung Dzulhijjah 1436 H

Kamis, 08 Oktober 2015

Wana yang Teraniaya

Hidung yang  tersandera
Tenggorokan yang meradang
Paru yang terjelaga
Nyawa yang meregang

Ini,
Wana yang teraniaya,
Rusak, lumpuh, terluka karena serakah kapitalis pendosa

Alam yang tersiksa,
Hancur, lemah, ternoda karena regulasi nafsu manusia

Sungguh benar firman Allah ta'ala
Rusak darat dan laut karena ulah manusia
Dosa dan maksiat karena berpaling dari hukum-Nya

Ya...Allah yang Maha Perkasa,
Segerakanlah pertolongan-Mu
Hadirkanlah para penguasa pencinta-Mu
Penyambut seruan-Mu dan Rasul-Mu
Penerap hukum wahyu-Mu

karena,
Hanya itulah satu-satunya solusi bagi negeri ini

Wana lestari dalam naungan syariah-Mu,
Pasti dan niscaya adanya

Tasikmalaya, 25 Dzulhijjah 1436 H
Ary Herawan

Rabu, 07 Oktober 2015

Anak Sehat Fisik dan Pikir

“Aku anak sehat, tubuhku kuat. Karena ibuku, rajin dan cermat. Semasa aku bayi, slalu diberi ASI, makanan bergizi dan imunisasi...”

Lantunan syair lagu tersebut terus terngiang-ngiang di telinga ini. Sekitar satu jam terus berulang sambil menunggu peresmian Posyandu di dekat rumah. Maklum, sebagai pengurus RW, saya diundang hadir pada acara tersebut.

Berbicara tentang kesehatan anak. Semua orang tua tentu menginginkan anak yang sehat. Sedikit saja anak terlihat sakit, tentu kita akan membawanya berobat. Anak yang sehat akan mudah beraktifitas, mudah belajar dan tumbuh berkembang dengan baik. Siapa pun, tidak ada yang menafikan akan pentingnya kesehatan.

Kriteria sehat tentu tidak hanya fokus ke badan semata. Tidak sedikit orang yang sehat secara fisik, tetapi ia lemah secara pikir. Di antara para pembaca, tentu pernah merasakan grogi. Terus terang, saya pernah merasakannya. Saat itu, masih kelas 3 SD. Saya diminta untuk mengikuti ajang lomba pidato. Ketika naik panggung, mendadak badan menggigil, jantung berdebar kencang, suara bergetar, penglihatan pun mendadak kabur dan tidak fokus. Semua itu terjadi bukan karena saya tidak sarapan Tetapi hanya karena di kepala ini ada rasa takut akan cemoohan dan penilaian orang lain. Takut karena isi pikiran sendiri.

Sehat, tentu dibutuhkan oleh fisik dan pikir. Begitu pula dengan anak-anak kita. Bila kita meresapi kisah Thalut, raja yang dipilih oleh Allah Swt untuk meruntuhkan kekejaman rezim Jalut. Allah Swt menegaskan bahwa ia adalah orang yang memiliki ilmu dan fisik yang kuat. (basthotan fil ilmi wal jismi) . Fisiknya mampu menghadapi berbagai rintangan di medan peperangan. Pikir-nya juga tidak mudah tertekan dengan berbagai strategi musuh. Sehingga, bila kita menginginkan anak yang sehat. Tentu tidak hanya fisiknya saja, tetapi juga pikir-nya.

Antara pikiran yang mempengaruhi fisik, atau fisik yang mempengaruhi pikiran, masih debatable. Kedua teori ini berkembang baik di dunia kedokteran tradisional maupun modern. Ada yang mengatakan orang menderita maag karena pikiran. Karena pikiran akan memicu produksi asam lambung yang berlebih. Tetapi, ada juga yang mengatakan sebaliknya. Justru, lambung yang bermasalah membuat orang mudah gelisah dan tidak bisa tidur. Akhirnya pikirannya melayang kesana-kemari, sehingga menjadi beban. Masing-masing memiliki argumentasi. Tetapi yang pasti, keduanya saling berkaitan. Oleh karena itu, baik fisik maupun pikir, keduanya harus sehat.

Tidak ada yang memungkiri, kesehatan fisik ditunjang oleh suplai makanan dengan gizi yang seimbang. Karbohidrat, protein, vitamin dan mineral semuanya dibutuhkan oleh tubuh. Akan tetapi, tidak cukup suplai makanan saja. Untuk sehat secara fisik, anak-anak kita juga membutuhkan gerak. Rasulullah Saw menekankan pada olahraga dan permainan fisik. Semisal beladiri, berkuda, memanah, berenang dan sebagainya.

Selain untuk membangun kekuatan, olahraga fisik juga bermanfaat untuk menumbuhkan keberanian dan keahlian. Kuat (secara fisik, pen) saja, tetapi tak mempunyai keberanian dan keahlian akan sia-sia.1) Selain itu, untuk menumbuhkan keberanian sejak dini, berbagai aktifitas penuh tantangan juga perlu diperkenalkan kepada anak-anak. Semisal mendaki, berkemah dan sebagainya.

Adapun sehat pikiran bukanlah semata sehat otaknya. Karena aktifitas berpikir adalah proses yang melibatkan empat komponen. Yaitu, fakta (objek), alat indera, otak dan informasi sebelumnya (yang tersimpan di otak).2) Sebagaimana otak yang sehat membutuhkan suplai gizi yang baik, tentu ia juga membutuhkan suplai informasi yang baik. Sebagai contoh, kita tentu sering melihat aksi para da’i cilik. Bagi mereka, pidato di hadapan kamera dan penonton, tidaklah menakutkan. Tentu karena ia diberikan suplai informasi yang baik dan mencukupi, tentang bagaimana tampil dihadapan audiens. Otaknya disuplai dengan berbagai informasi yang bergizi.

Jenis informasi yang bergizi untuk anak sangat beragam bentuknya. Berbagai kisah tauladan para Nabi dan Rasul, kisah-kisah heroik para pahlawan, termasuk ketekunan para ulama dan cendekiawan adalah informasi yang bergizi untuk membentuk anak-anak yang sehat pikirnya. Dalam benak anak, akan terbentuk keinginan yang kuat untuk menjadi sukses. Selain itu, tentu dibarengi juga dengan kesiapan menghadapi berbagai rintangannya.

Anak juga belajar menyuplai informasi dari penerimaan para orang tua. Tuntutan untuk sukses di berbagai bidang secara sempurna, tentu akan menjadi beban tersendiri bagi anak. Apalagi, jika tidak ada sedikit pun penerimaan orang tua tanpa 100% kesuksesan anak. Sang anak akan merasa tidak diterima, dalam benaknya akan terbentuk bahwa aku adalah orang yang tidak pernah sukses. Mohammad Fauzil Adhim menyampaikan bahwa banyak remaja mengalami masalah psikologis bukan karena otaknya tidak cerdas dan wajahnya mengenaskan tetapi karena penerimaan dirinya yang kurang baik.3)  

Pada saat Ummu Fadhl merenggut anaknya secara kasar karena pipis di pangkuan Rasulullah Saw. Beliau Saw menegurnya dengan mengatakan: “Pakaian ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini karena renggutanmu yang kasar?”. Kisah ini menunjukkan bahwa sikap kita adalah sumber informasi bagi anak. Sikap kasar tentu akan menjadi informasi yang tidak bergizi, sikap yang lembut penuh cinta tentu akan menjadi informasi yang bergizi.

Penulis pernah berdialog dengan salah seorang konsultan perkembangan anak. Ia sangat prihatin dengan berbagai informasi kriminalitas yang sering ditampilkan di televisi. Menurutnya, hal itu akan memberikan informasi yang berbahaya anak-anak. Pada taraf tertentu, berbagai informasi negatif itu akan membentuk rasa takut yang berlebihan. Bahkan, anak bisa menjadi takut dan merasa susah untuk menjadi sukses.  

Anak sehat tentu membutuhkan fisik yang sehat. Kesehatan fisik bisa dengan suplai gizi dan olah raga fisik. Adapun untuk pikir-nya, tentu membutuhkan informasi yang baik-baik. Informasi itu bisa terekam dari apa yang dia dengar, baca, amati dan rasakan. Oleh karena itu, mari sehatkan anak-anak kita juga dengan berbagai informasi yang menyehatkan.   

Daftar Bacaan :
        1)                Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, 2014.
        2)                Lih. Taqiyuddin An Nabhani, At Tafkir (Hakekat Berpikir, Terj.)

        3)                Mohammad Fauzil Adhim, Saat Berharga untuk Anak Kita, 2009. 

Sabtu, 03 Oktober 2015

Aku dan Sepeda Baruku

"Pah, ayo dong belikan aku sepeda!" Pintaku kepada Papah Sabtu siang itu. Mungkin itu rengekanku  yang keberapa puluh kalinya. Saat itu, aku masih kelas V SD. Melihat teman-temanku bersepeda baru, aku pun jadi ingin memilikinya. Maklum, sepeda bekas kakak pertamaku sudah mulai usang. Sehingga, hampir tiap pagi, sore dan malam, terus saja aku meminta Papah untuk membelikan sepeda baru. Bahkan, tatkala Papah baru pulang kerja pun, aku tak peduli. Keinginanku yang menggebu, telah menghalangiku dari melihat cucuran keringat dan wajah lelahnya.

"Ya, tunggu sebentar, Papah ganti baju dulu. Setelah itu, kita langsung ke toko sepeda." Akhirnya, Sabtu siang itu, Papah bersedia membelikanku sepeda baru. "Iya Pah, Asyiiik !" mataku langsung berbinar-binar dengan bibir tersenyum lebar. Tanganku pun terkepal dengan langkah penuh semangat, aku mondar-mandir menunggu Papah. Terbayang di benakku, sebuah sepeda baru yang bisa kupamerkan di hadapan teman-temanku.

Marrubeni, itulah merk sepeda baruku. Bila dibandingkan dengan punya teman-temanku, tampilannya jauh lebih trendi. Accesoriesnya pun lebih oke dan ramai. Di stangnya sudah dihiasi nomor yang membuatnya semakin keren. Warna dominannya hitam, dengan variasi kuning dan merah. Wah, pokoknya saking kerennya sepeda tersebut, sampai sekarang pun aku masih bisa membayangkannya. Aku sangat puas, karena aku yang memilihnya sendiri.

Malam Minggu itu terasa sangat panjang bagiku. Tak sabar rasanya hati ini ingin segera melewatinya. Makanya, setelah isya, aku langsung menuju tempat tidurku, sebuah dipan di kamar berukuran 2x2,25 m. Namun, mata ini susah sekali terpejam. Khayalanku jauh mendahului putaran jam dinding tua yang tergantung di ruang keluarga. Pikiranku jauh meninggalkan Sang Rembulan malam yang ditemani bintang-bintang. "Besok pagi, teman-temanku mesti kagum dengan sepeda baruku". Gumamku dalam hati dengan wajah cerah berseri. Aku terus membayangkan hari esok, bermain sepeda bersama teman-teman. Apalagi, esok adalah hari libur, aku pasti bisa puas bermain seharian. Setelah lama larut dalam lamunan, akhirnya aku pun tertidur lelap.

Seperti biasanya, Papah membangunkan putra-putrinya untuk shalat fajar. Aku pun langsung bangun dengn penuh semangat. Bahkan, seusai shalat ditunaikan, aku langsung bergegas mandi dan ganti pakaian. Sebagaimana rencana tadi malam, aku ingin segera memamerkan sepeda baruku. Setelah sarapan, aku pun langsung berpamitan untuk main. "Hati-hati ya bermain sepedanya!" Ujar Mamih padaku. "Iya Mih" jawabku yang dilanjutkan dengan ucapan salam. Aku pun mendorong sepeda menyebrangi Jl.Mayor Sl Tobing. Tujuanku adalah lapangan bermain dekat rumah nenekku di daerah Sambong Pari Kulon.

Pagi itu masih sekitar jam 7 Wib. Aku dan sepeda baruku sudah berada di lapangan yang dituju. Sebagaimana yang kubayangkan, teman-temanku langsung mengerubuti aku dan sepeda baruku. "Wah, bagus sekali sepedanya!" Puji teman-temanku. Hati ini makin berbunga-bunga mendengarnya. Tapi sayang, di antara mereka tidak ada yang mau bersepeda keliling ke luar kampung. Waktu itu, kasus penculikan anak masih sangat jarang. Sehingga, anak-anak sudah terbiasa bermain sepeda sampai melewati dua atau tiga kampung tetangga.

Aku pun memutuskan untuk bermain ke salah seorang teman sekolahku, namanya Aat, lengkapnya Aat Ruhiat. Katanya, itu adalah nama khas orang Sunda. Konon katanya kalau orang Sunda menikah dengan bule Rusia, nama anaknya mesti Cecep Ghorbachev. Kembali lagi ke Aat, ia tinggal di Sambong Babakan Kaler. Untuk sampai ke kampungnya, aku mengayuh sepeda melewati Kampung Sambong Pari Kidul dan rimbunan kebun bambu.
Aku masih beruntung, pagi itu Aat ada di rumah. Ia pun bersedia main sepeda denganku. Bahkan, ia menyarankanku untuk mengajak Cucu turut serta. Cucu Suhendar, itulah nama lengkapnya. Ia  teman sekolah kami berdua. Kami pun bermain sepeda dengan riang gembira. Tertawa-tawa, bercanda-canda dan beradu kecepatan serta saling susul-menyusul.

Semakin lama kayuhanku semakin cepat. Dengan penuh semangat, aku dan sepeda baruku jauh meninggalkan Cucu dan Aat. Aku pun tertawa riang seraya menoleh ke belakang. Ternyata, Cucu dan Aat juga bersemangat mengejarku. Aku pun mengayuh dengan lebih cepat lagi. Di tengah kayuhan cepatku, cepat tiba-tiba terdengar Cucu dan Aat berteriak lantang. "Ary Awaaas!  Ada motor di depan!" Namun, naas bagiku. Di pertigaan Sambong PLN yang sepi itu tabrakan tak terhindarkan. Aku yang sedang menyebrang dengan kencang, ditabrak sebuah sepeda motor yang juga melaju dengan sangat kencang.

"Brukk ! Gubrak! " Aku pun langsung tak sadarkan diri. Kejadiannya berlalu sangat cepat. Aku tak ingat apa-apa. Yang tersisa di memoriku, saat itu aku terkulai lemas di pangkuan orang dewasa. Kepalaku pusing dan sangat susah untuk bernafas. Kemudian salah seorang di antara mereka ada yang berkata. "Oh, ini perutnya memar membiru".

(bersambung)

Sabtu, 26 September 2015

Ayah

Setiap sore kala itu,
Kutunggu kau selalu di depan rumah
Jarum jam berdetak kutatap setiap saat

Ku menunggumu
Karena ku ingin hadiah darimu

Tak peduli peluh lelahmu seharian
ku tetap merengek dengan seluruh pinta

Setiap malam masa itu,
Kau didik aku dengan petuah bijakmu
mengajarkan wahyu Ilahi
membacakan kisah-kisah para nabi

Sampai aku tertidur lelap

Setiap pagi saat itu,
Kau ajarkan aku shalat fajar tepat waktu
memberi makna pada setiap do'a

Marahmu ada pada kemaksiatanku
Senyummu ada pada ketaqwaanku

Ayah,
Sungguh,
hanya Allah yang bisa membalas semua jasamu...

(Ary Herawan)
Situ Panjalu, 13 Dzulhijjah 1436 H

Aku Amal Jariyahmu

Ibu,
Semoga rahmat Allah untukmu
Tak lekang dibakar usia semua pengorbananmu
Sejak kau kandung aku hingga saat ini kutulis

Engkau ada saat aku menangis,
Tapi, terkadang ku lupa saat bahagia
Tak pernah keluhmu kubaca

Saat ini,
Ba'da salam di tahiyat terakhir shalatku
Kupanjatkan do'a
Semoga rahmat Allah untukmu
Dan..
kuharap menjadi jariyahmu
Menjadi anak shalih yang selalu mendo'akanmu

(Ary Herawan)
Situ Panjalu, 13 Dzulhijjah 1436 H

Rabu, 16 September 2015

Islam Mencegah Praktek Jual Beli Jabatan

Sudah menjadi rahasia umum, aktifitas jual beli jabatan sudah mewabah di kalangan pejabat dan birokrasi pemerintahan. Banyak kalangan yang masih pesimis akan efektifitas UU No. 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam mencegah praktek jual beli jabatan. Sebab para calon pejabat yang terseleksi dalam lelang jabatan, bisa menempati posisinya setelah mendapat persetujuan dari kepala daerah. Bahkan terkait proses lelang jabatan pun, MenPAN dan RB Yuddy Chrisnandi menyatakan bahwa beberapa daerah masih melakukannya sebagai formalitas belaka.

Bila kita telusuri mengapa jual beli jabatan terjadi. Tentu hal itu tidak terlepas lingkaran ‘setan’ politik uang dalam setiap perhelatan pemilu. Dalam Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) yang diumumkan Badan Pengawas Pemilu RI, 24 daerah dinyatakan rawan politik uang. Jawa Barat menempati peringkat kedua paling rawan setelah Sulteng dengan indeks 3,3. Meskipun IKP masih menjadi ajang perdebatan, tetapi politik uang di negeri ini bukanlah ilusi dan imajinasi.
Fenomena transaksi yang terjadi antara calon kepala daerah dengan partai pengusungnya pun tak bisa diabaikan. Menurut Prof. Ryaas Rashid, politik transaksional terjadi secara rutin selama sepuluh tahun pelaksanaan pilkadal. Adanya fenomena uang mahar serta kompromi kandidat kepala daerah dengan wakil yang berbeda partai, untuk meraih syarat dukungan. Sehingga menurutnya, yang menjadi dampaknya adalah meluasnya praktek korupsi kepala daerah.  Selama praktek pilkadal, 300-an kepala daerah terlibat korupsi. Hal ini tentu tidak terlepas dari besarnya modal yang harus dikeluarkan para kandidat untuk sukses ke tampuk kekuasaan.
Modal besar yang telah dikeluarkan sang pemimpin tentu menuntut adanya pengembalian. Hal inilah yang menjadi faktor pemicu aktifitas jual beli jabatan. Apalagi sekulerisme yang merakyat telah berbuah neraca kehidupan yang materialistik. Standar keberhasilan seseorang pun hanya ditakar dengan harta, tahta dan kedudukan semata. Ada penjual dan ada pula pembeli, hanya tinggal menentukan berapa harga sebuah jabatan.

Permasalahan turunan pun bemunculan sebagai dampak dari jual beli jabatan. Mulai dari masalah rendahnya profesionalitas sampai ke ekstensifikasi korupsi. Tidak sedikit pejabat yang menduduki posisi tidak sesuai bidangnya. Selain itu, fokus pelayanan masyarakat pun menjadi bias, karena terbelokkan oleh kepentingan pengembalian modal. Sehingga wajar bila mulai dari pembuatan KTP sampai ibadah haji pun rawan gratifikasi.

Pangkal permasalahan jual beli jabatan di negeri ini tiada lain adalah sistem demokrasi dan materialisme yang berakar pada sekulerisme. Sehingga, solusi yang tepat  adalah meninggalkannya dan beralih ke sistem Islam. Karena Islam memiliki sistem terbaik yang akan menghapuskan praktek jual beli jabatan.

Status pejabat dalam Islam bisa terbagi menjadi dua kategori. Pertama, hukkam (para penguasa). Yaitu khalifah (kepala negara), muawwin tafwidh (pembantu khalifah dalam urusan pemerintahan), wali (kepala daerah tingkat I), ‘amil (kepala daerah tingkat II) dan selanjutnya. Adapun yang kedua, muwadhdhaf, yaitu pegawai negara. Yaitu, mu’awwin tanfidz (pembantu khalifah dalam urusan administrasi), mudir (dirjen) dan sebagainya.

Hukkam (para penguasa) bukanlah orang yang diangkat dengan ijarah (akad kerja). Mereka adalah oang-orang yang diangkat untuk menerapkan syariah. Karena itu, mereka tidak mendapatkan ujrah (gaji) tetapi akan menerima kompensasi berupa tunjangan. Besar tunjangan pun ditetapkan oleh khalifah. Adapun muwadhdhof (para pegawai) adalah ajir (buruh) negara. Mereka bertugas untuk membantu hukkam di seluruh jenjang pemerintahan. Mereka pun digaji karena tugasnya tersebut. 

Islam menetapkan kekuasaan yang bersifat tunggal di tangan seorang khalifah. Tetapi tidak pula berarti otoriter, karena khalifah dibaiat untuk melaksanakan syariah. Jika ia melenceng dari syariah, maka rakyat bisa menasihati bahkan melengserkannya. Sebagaimana yang ditegaskan dalam setiap pidato pertama para khulafaur rasyidin. Karena kekuasaan dalam Islam bersifat tunggal, maka khalifah mempunyai hak penuh untuk memilih para penguasa yang ada di bawahnya.

Khalifahlah yang mengangkat maupun memberhentikan para kepala daerah di bawahnya. Akan tetapi, jika mayoritas rakyat di daerah mengajukan protes, khalifah harus menggantinya. Rasulullah Saw pernah memberhentikan Ila bin al-Hadhrami (kepala daerah Bahrain), berdasarkan pengaduan utusan Abd Qays. Begitu pula Umar pernah memberhentikan Saad bin Abi Waqash karena pengaduan dari masyarakat.
Pengangkatan kepala daerah seperti ini, tentu akan mencegah terjadinya jual beli jabatan. Karena tiada ongkos politik yang dikeluarkan. Para kepala daerah yang diangkat, bukanlah orang-orang yang telah menghabiskan banyak uang untuk sampai ke tampuk kekuasaan. Mereka dipilih oleh khalifah secara langsung untuk menerapkan syariah. Rakyat pun akan tanpa beban mengkritisi para penguasa, karena patokannya jelas yakni hukum syara. Bukan karena faktor like and dislike, atau pendukung dan pencela. 
Islam pun akan mencegah terjadinya jual beli jabatan di kalangan pegawai negara. Karena pengurusan administrasi dalam Islam menganut prinsip sederhana dalam mekanisme, cepat dalam pelayanan dan profesional dalam penanganan. Ketiga prinsip ini bukanlah sekedar slogan, karena Islam menuntut ihsan (baik/sempurna) dalam pekerjaan. Rasulullah Saw menegaskan : “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan (baik/sempurna) dalam segala hal. Jika kalian membunuh (melaksanakan qishash) maka lakukanlah itu secara ihsan. Jika kalian menyembelih, maka lakukan itu secara ihsan..” (THR. Muslim dari Syadad bin Aus). 

Penguasa wajib menempatkan orang yang profesional dalam pekerjaannya. Menempatkan seorang yang tidak profesioanal dalam suatu jabatan adalah pengkhianatan. Rasulullah Saw menegaskan : ”Barangsiapa yang mengangkat seorang pemimpin jamaah, padahal ia tahu bahwa di jamaah itu ada orang yang lebih baik, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum muslimin.” (THR. Al Hakim dalam Al Mustadrak). Begitu pula Rasulullah mencontohkan ketegasan dalam hal ini. Rasulullah Saw pernah menegur keras Ibnu Lutbiah karena menerima hadiah dari Bani Sulaim, ketika ia ditugaskan mengambil zakat dari mereka.

Supaya para pegawai negara fokus pada pekerjaannya, Islam menetapkan gaji yang layak. Sebagai contoh, pada jaman Umar bin Al Khaththab menjadi khalifah, gaji seorang guru anak-anak diberi gaji  15 dinar (63,75 gram emas). Ketiadaan ongkos politik, kontrol yang kuat dari khalifah dan rakyat, serta penggajian yang layak, semua ini akan mengeliminasi adanya praktek jual beli jabatan.

Selain itu, yang paling utama adalah suasana ketaqwaan yang dibangun di tengah masyarakat. Suasana ketaqwaan yang terbangun dari aqidah Islam, akan berbuah neraca yang syar’i. Memandang keberhasilan bukan pada materi, tetapi terletak pada keridloan Ilahi. Seluruh sistem yang diterapkan adalah penunjang ketaatan kepada Allah Swt. Kesejahteraan pun pasti diraih sebagai buah dari ketaatan kepada-Nya. Karena itulah, dorongan untuk saling mengejar jabatan dan kekuasaan akan sangat berkurang. Apatah lagi kekuasaan dalam Islam merupakan amanah untuk menerapkan hukum Allah, bukan sarana untuk menambah pundi-pundi materi.

Dahulu, Islam telah datang dan mengikis habis kerusakan birokrasi dan administrasi imperium Persia dan Romawi. Saat ini, Islam pasti bisa memperbaiki semua kerusakan yang diakibatkan penerapan sistem yang salah. Baik itu yang terjadi di negara maju, berkembang maupun miskin. Asalkan, totalitas Islam. Wallohu a’lamu bishshawwaab.

(Ary Herawan, Pendidik di SMPT dan MA Fajrul Islam Kota Tasikmalaya)

Senin, 14 September 2015

Kemarau ; Momentum Penyadaran Diri akan Kuasa Ilahi

"Katakanlah: Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?" (TQS. Al Mulk : 30)

Bagi kaum mukmin, kemarau yang panjang tentu mengingatkan kita kepada Allah, Sang Maha Pemberi Rejeki. Pertanyaan di penghujung surat Al Mulk ini pun, tidak akan bisa kita jawab dengan selain “Allah Swt”. Karena kita sadar, jika kemarau panjang melanda, tak ada tempat meminta selain kepada-Nya. Dialah Sang Maha Pengasih yang menurunkan hujan dari langit, serta menumbuhkan berbagai tanaman dan buah-buahan.

Sungguh sangat wajar, bila selaku hamba-Nya kita pun menggelar shalat istisqo di mana-mana. Mulai dari menteri sampai kepala daerah, semuanya menyerukan pelaksanaan shalat istisqo di berbagai daerah. Karena kita menyadari bahwa meskipun manusia makhluk yang cerdas, tetapi bila tanpa rahmat-Nya, usaha dan teknologi secanggih apapun, tetap tak akan dapat menurunkan hujan. 

Sayang sungguh disayang, seringkali kita mengingat Allah Swt hanya ketika  sedang membutuhkan-Nya. Padahal bila kita renungkan, bangsa ini banyak melupakan Allah Swt. Misalnya, sekitar beberapa minggu sebelum himbauan pelaksanaan shalat istisqo di wilayah Kota Tasikmalaya. Dengan alasan pesta kemerdekaan, kita malah banyak melupakan Allah Swt, terlena dengan pesta dan hura-hura. Bahkan seringkali diwarnai berbagai kemaksiatan. Khususnya terkait dengan hal-hal yang bebau pornoaksi dan hiburan yang melenakan.

Selain itu, para penguasa negeri ini pun malah semakin menancapkan sekulerisme dan liberalisme. Sekulerisme bukanlah hanya sekedar melepaskan pengetahuan dari doktrin agama. Tetapi lebih mendasar daripada itu, yakni memisahkan agama dari semua sendi kehidupan bermasyarakat. Agama dibatasi pada tatanan privat, dan tidak bisa dibawa ke ranah publik. Kemudian liberalisme pun tidak hanya sekedar mengakui kebebasan pilihan manusia. Bahkan lebih dari itu, menjadikan kebebasan sebagai pendobrak ketaatan mutlak kepada Sang Pencipta. Liberalisme yang menyeru untuk tidak mengenal halal dan haram dalam aktifitas, tetapi hanya mengenal manfaat dan keuntungan materi semata.

Bidang pendidikan agama Islam yang diharapkan menjadi benteng aqidah umat, malahan diarahkan menginduk ke Inggris. Menag RI menyampaikan bahwa modul PAI disusun oleh guru-guru agama lulusan Inggris. Tentu kita tahu, bagaimana sikap pemerintah non muslim Inggris terhadap kaum muslim selama ini. Bidang ekonomi pun semakin menyuburkan riba, ditambah tekanan pajak yang bertambah tinggi. Utang negara yang sarat dengan bunga terus diperbesar. Adapun untuk membayarnya, pemerintah menarik pajak dari rakyat. Bahkan dalam RAPBN 2016, 84,7% penerimaan bertumpu pada pajak. Padahal Islam telah melarang pajak dijadikan pendapatan utama negara, apalagi dilakukan secara terus menerus serta tanpa melihat kaya dan miskin. Islam justru menjadikan hasil pengelolaan sumber daya alam sebagai pendapatan utama untuk menyejahterakan masyarakat.

Bidang politik pun terfokus pada harta, tahta dan jabatan semata. Rakyat seringkali diabaikan, padahal Rasul Saw menegaskan bahwa (pada hari Kiamat) setiap pemimpin akan ditanya mengenai rakyat yang diurusnya. Kemudian, yang tak kalah mengenaskan, hedonisme semakin mencengkeram kehidupan sosial masyarakat. Bahkan anehnya, tatkala pajak ditingkatkan pada aspek lain, pajak hiburan malah dihapuskan. Hal ini tentu akan membuat kemaksiatan semakin menggurita.

Tetapi di saat hujan tak kunjung datang. Bangsa ini hanya ingat kepada-Nya, tidak ada selain Allah Swt yang dapat dipinta. Ironis memang, pada saat bangsa ini percaya bahwa hanya Allah Sang Pengatur alam semesta. Tetapi pada saat itu pula, tidak mempercayai -atau mungkin kurang meyakini- bahwa hanya aturan Allah Swt yang tepat untuk mengatur manusia, yang pantas untuk diterapkan oleh bangsa ini.
Bila para penguasa mau membuka mata atas berbagai masalah di negeri ini. Sungguh, petunjuk para penjajah Barat tak layak untuk ditaati. Solusi para ideolog sekuler sudah terbukti tidak bisa mengangkat negeri ini dari keterpurukan. Yang tepat untuk saat ini adalah mengikuti para da’i yang selalu mengajak pada ketaatan kepada Allah Swt. "Apakah orang yang berjalan terjungkal di atas wajahnya lebih mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegak dan lurus di atas jalan yang lurus?" (TQS. Al Mulk [67]: 22).

Bagi kaum muslim, memaknai istisqo bukanlah hanya sekedar ibadah ritual meminta hujan. Tetapi lebih dalam dari itu, ia adalah kesadaran akan kelemahan diri dan keyakinan akan kemahakuasaan Allah Swt. Bila diresapi, kalimat “Engkau Maha Kaya sedangkan kami adalah orang-orang yang faqir, maka turunkanlah hujan kepada kami.” Bukanlah hanya sekedar rintihan, tetapi pendobrak kepongahan manusia yang merasa bermental ‘tuhan’. Dengan kecerdasan akalnya, ia merasa bisa mengatur manusia seraya mengabaikan syariah Allah Swt.

Kini, sebagian wilayah Tasikmalaya pun sudah mulai dibasahi rintik-rintik hujan. Semoga ini menjadi hujan rahmat yang bermanfaat. Sikap yang tepat bagi kita adalah bersyukur kepada Allah Swt. Tinggalkan hukum warisan penjajah, terapkan Syariah, pasti berkah. Karena hanya Allah Sang Maha Pemberi Rejeki. Semoga bangsa ini terhindar dari sifat sombong. Allah Swt mengingatkan “Atau siapakah yang dapat memberimu rejeki jika Dia menahan rejeki-Nya? Bahkan mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran).” (TQS. Al Mulk[67]: 21. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary Herawan, Pendidik di SMPT dan MA Fajrul Islam Kota Tasikmalaya)

Sabtu, 12 September 2015

Perbedaan Hukum Syara dan Iman (Seputar Hukum Mengkafirkan Sesama Muslim)

Perbedaan Hukum Syara dan Iman
(Seputar Hukum Mengkafirkan Sesama Muslim)

Kemunduran berpikir yang melanda dunia Islam telah menimbulkan banyak permasalahan. Di antaranya adalah kaum muslim tidak bisa membedakan antara pelanggaran terhadap hukum syara dan pengingkaran terhadap keimanan. Sehingga, tidak sedikit kaum muslim yang terjebak takfir (mengkafirkan) sesama muslim. Oleh karena itu, penulis kutipkan penjelasan Syaikh Atha bin Khalil Abu Ar-Rasytah (Amir Hizbut Tahrir) –semoga Allah Swt merahmatinya- mengenai hal tersebut. Dalam kitab At Taisiir Fi Ushuli t-Tafsiir hal 44-47 beliau menjelaskan sebagai berikut:

“Dan di sinilah kita mesti berhenti sejenak dalam topik Hukum Syara dan Iman, serta menjelaskan perbedaan di antara keduanya, maka saya katakan wabillahi t-taufiq :
Sesungguhnya iman berkaitan dengan pembenaran yang pasti (at-tashdiqu l-jazimu), sedangkan hukum-hukum syara berkaitan dengan penunaian berbagai aktifitas dan pelaksanaannya. Maka iman adalah pembenaran yang pasti dan sesuai fakta berdasarkan dalil (at tashdiqu l- jazimu al muthabiqu lil waqi’i an dalilin).

Pembenaran yang pasti (at-tashdiqu l-jazimu) yakni keyakinan yang memuaskan, tidak mengandung keraguan dan tidak mengantarkan keraguan padanya. Ini adalah definisi bahasa dari iman itu sendiri, yakni pembenaran yang pasti. Sedangkan sesuai fakta berarti bahwa fakta-fakta yang terindera membenarkannya dan tidak bertentangan dengannya. Sehingga pembenaran yang pasti dan sesuai fakta mengharuskannya berdasar pada dalil yang pasti kebenarannya, baik ia berupa :

Aqliy, yakni hasil pembahasan secara rasional (aqliyyah)1) terhadap berbagai fakta yang terindera, seperti kajian terhadap makhluk-makhluk, sebagai dalil atas keberadaan Allah Swt selaku penciptanya. Kajian terhadap kalamullah -Al Quran Al Karim- yang telah diturunkan, sebagai dalil bahwasanya Al Quran adalah kalamullah dan bukan perkataan manusia. Sekaligus, sebagai dalil bahwa yang membawa kalamullah adalah pasti utusan-Nya (Rasulullah).
Naqliy, yakni dengan menukil (sumber) yang pasti berasal dari Allah Swt, Al Quran atau hadits mutawatir. Hal tersebut seperti Iman kepada perkara-perkara yang ghaib, para malaikat, kitab-kitab dan para nabi terdahulu, hari akhirat serta ketetapan (dari Allah) yang baik dan buruknya. Allah Swt berfirman di dalam Q.S. An Nisa[4] ayat 136 :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ
 قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Wahai sekalian orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, kitab yang diturunkan terhadap Rasul-Nya serta yang diturunkan sebelumnya. Dan barangsiapa yang ingkar terhadap Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari akhir, maka sungguh ia berada dalam sejauh-jauhnya kesesatan.”

Dan disampaikan oleh Rasulullah Saw sebagai jawaban atas pertanyaan malaikat Jibril a.s. di dalam tentang iman : “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari Akhir, serta ketetapan yang baik dan buruk dari Allah ta’ala.” 2)
Inilah yang dimaksud dengan iman dan makna ini merupakan lawan dari kekufuran. Sehingga selain mukmin, pasti kafir. Tidak ada orang yang setengah mukmin dan setengah kafir.

Allah Swt berfirman mengenai pertentangan antara iman dan kufur dalam berbagai ayat berikut :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi orang yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?”                             (TQS. Al Baqarah[2]:26)

إِنَّ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya orang yang membeli kufur dengan iman sedikit pun tidak akan merugikan Allah, dan bagi mereka siksaan yang pedih” (TQS. Ali Imran[3]: 177)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آَمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آَمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri (mekah) ini negeri yang aman, dan berilah rejeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada oang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam siksa neraka dan seburuk-buruknya tempat kembali.” (TQS. Al Baqarah[2]: 126.
    
وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آَمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ
“Tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) yang kafir.”(TQS. Al Baqarah[2]: 253)

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
“Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada juga wajah yang hitam muram. Adapun orang yang berwajah muram (kepada mereka dikatakan), “Mengapa kamu kafir setelah beriman?” Karena itu rasakanlah siksa karena kekafiranmu itu.” (TQS. Al Baqarah[2]: 106)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang akan menyerangmu, maka janganlah kamu berbalik membelakangi mereka (mundur).”                     (TQS. Al Anfal[8]: 15)
وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ
“Maka barangsiapa yang menukar kekufuran dengan keimanan maka sungguh ia telah sesat dari jalan yang lurus.” (TQS. Al Baqarah[2]: 108)

Inilah iman, ia berkaitan dengan pembenaran yang pasti.

Adapun hukum syara berkaitan dengan penunaian amal, baik perintah maupun larangan, seperti menunaikan shalat wajib dan meninggalkan aktifitas mencuri.

Menyalahi hukum syara berbeda dengan menyalahi iman (aqidah). Ketiadaan iman adalah kufur, sedangkan menyalahi hukum syara adalah dosa dan pembangkangan. Tidak menjadikan kufur terkecuali jika disertai pendustaan dan pengingkaran, atau terlibat dengan aqidah kufur.3)

Sebagaimana orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajiban shalat, minum khamr karena mengingkari pengharamannya, menyembah patung, beribadah sebagaimana ibadah orang kafir dan yang semisalnya.

Melakukan kemaksiatan berbeda dengan kekufuran. Saya (pengarang kitab) sampaikan karena kita mendengar pada hari ini ada orang muslim yang mengkafirkan saudaranya hanya berdasarkan dugaan (dzon) semata. Aktifitas pengkafiran (takfir) menjadi mudah bagi mereka.

Padahal mengkafirkan muslim tanpa dalil yang pasti adalah perkara yang besar dalam Islam. Rasulullah Saw besabda :”Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “Hai Kafir” maka terpulanglah (sebutan itu) kepada salah satu di antara keduanya.” (THR. Ahmad).

Karena itulah, barangsiapa yang mendapati saudaranya melakukan kemaksiatan maka janganah bersegera untuk mengkafirkannya. Akan tetapi, bersegera untuk melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar untuk memperbaiki kesalahan saudaranya, supaya ia menyadari dosanya, serta memohon ampun kepada Rabbnya, Allah Swt.

Sesungguhnya Iman berkaitan dengan pembenaran yang pasti dan tempatnya adalah hati. Kita tidak bisa menelaah isi hati seseorang, terkecuali ia menampakkannya secara nyata dan jelas. Karena itulah, kami katakan sesungguhnya mengkafirkan muslim tanpa dalil qathi’i (pasti) adalah perkara yang besar di sisi Allah Swt.

Hal ini ditinjau dari satu aspek. Adapun ditinjau dari aspek yang lain bahwasanya seseorang yang secara dzahir Islam padahal hatinya ingkar, tidak akan bermanfaat keislamannya di sisi Allah Swt. Bahkan, Allah Swt akan menambahkan azab yang lebih pedih (daripada orang kafir) karena itu adalah keislaman orang munafiq. “Sesungguhnya orang-orang munafiq berada pada neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (TQS. An Nisa[4]: 145).

Karena itulah Allah Swt mengingkari orang Arab Badui (yang mengaku) “kami telah beriman” secara lisan tanpa keimanan dalam hatinya. Padahal secara dzahir, mereka bermuamalah sebagaimana kaum muslim. “Orang-orang Arab Badui itu berkata :”Kami telah beriman.” Katakanlah: “Kalian belum beriman, tapi katakanlah, “kami telah Islam” karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (TQS. Al Hujurat[49]: 14).

Ayat tersebut merupakan tambahan penjelasan khusus tentang muamalah di dunia. Barangsiapa yang menampakkan keislamannya tanpa mengumumkan kekafirannya secara jelas, maka ia bermuamalah Islam secara dzahir meskipun ia kafir hatinya dalam pandangan Allah Swt.

Semua itu adalah larangan mengkafirkan sesama muslim berdasarkan dugaan tanpa keyakinan. Karena iman berkaitan dengan pembenaran yang pasti dan sesuai fakta berdasarkan dalil.

Menolak pengkafiran terhadap para pelaku maksiat bukanlah berarti menganggap enteng perbuatan maksiat. Bahkan maksiat adalah perkara besar dalam Islam dan pelakunya akan dikenai sanksi di dunia dan di akhirat. Akan tetapi, mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil yang pasti adalah perkara yang besar di sisi Allah. Maka tidak boleh mengkafirkan muslim karena kemaksiatan di antara berbagai kemaksiatan, selama tidak mengingkari sesuatu pun dalam Islam.

Sebagai kalimat terakhir kami sampaikan, seputar persoalan bertambah dan berkurangnya iman :
Sesungguhnya iman dalam definisi yang telah kami jelaskan (at tashdiqul jazimu al muthabiqu lil waqi’i an dalilin) tidak akan bertambah dan berkurang, karena ia adalah pembenaran yang pasti. Dan al jazm (kepastian) tidak akan ada terkecuali sempurna. Tidak ada iman yang 95% kemudian bertambah menjadi 90% atau 100%. Begitu pula iman yang 100% kemudian berkurang menjadi 95% atau 90%. Karena pengurangan ini berarti meniadakan al jazm (kepastian), yakni keraguan di dalamnya, ini bukanlah iman tetapi kufur.  (bersambung)
(diterjemahkan oleh Ary Herawan, 12/09/2015) 

Catatan kaki :
    1)      lih. Q.S. Al Baqarah[2] : 23, 30 dan 33.
    2)      H.R. Al Bukhari no. 50 dan Muslim no. 9
  3) Sebagaimana kufurnya orang yang menolak kewajiban zakat pada masa Abu Bakar r.a karena mengingkarinya, serta menuntut penghilangan taklif (kewajiban zakat) tersebut atas mereka. Mereka pun dikategorikan orang-orang murtad dan diperangi karenanya. Begitu pula kekafiran iblis la’natullah ketika menolak bersujud (kepada Adam a.s.), karena mengingkari kebenaran perintah Allah. Karena dalam pandangannya (iblis la’natullah alaihi, seharusnya Adam yang bersujud kepadanya, karena Adam terbuat dari tanah. Allah Swt berfirman, yang artinya : “Allah Swt berfirman (kepada Iblis) : “apa yang mencegahmu tidak sujud padahal Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis) berkata : “Aku lebih baik darinya, Engkau menciptakan aku dari api sedangkan ia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah.”
   


Senin, 01 Juni 2015

Pengungsi Rohingya dan Ukhuwwah Islamiyyah

Tidak ada seorang pun yang bisa memilih ingin terlahir sebagai bangsa atau etnis tertentu. Hal tersebut adalah hak preogratif Sang Pencipta. Sang Pencipta-lah yang menentukan Si Fulan terlahir menjadi bangsa Indonesia, Malaysia, Tiongkok, Amerika, Palestina dan sebagainya. Semua itu adalah ketetapan Allah SWT yang tidak bisa ditawar. Tetapi, memilih dan mempertahankan Aqidah adalah pilihan. Allah membebaskan manusia untuk memilih antara keimanan dan kekafiran. Karena itulah, Allah SWT tidak akan menghisab apa bangsa dan etnis kita, namun Allah SWT pasti akan menghisab sejauh mana bela dan keteguhan kita memegang keimanan.

Keyakinan itulah yang pasti tertanam di benak saudara-saudara kita yang berasal dari etnis Rohingya. Mereka lebih baik wafat dalam keislaman, dari pada menukar keyakinannya dengan sebuah kenyamanan semu. Mereka lebih memilih terkatung-katung di lautan, mengadu nasib, serta meninggalkan tanah kelahirannya, daripada hidup di bawah bayang-bayang rezim bengis dan ancaman para ekstrimis Budha radikalis.

Muslim Rohingya yang tetap bertahan di Rakhine, terus mendapat tekanan, teror, ancaman dan ketidakadilan di berbagai bidang kehidupan. Adapun yang pergi, mereka harus menaklukkan ganasnya ombaklautan lepas. Di antara mereka, ada yang sampai ke daratan, ada pula yang hilang di lautan. Sebagaimana dilaporkan Reuter.com (15/11), sebanyak 12.000 muslim Rohingya telah meninggalkan Rakhine menuju Malaysia sejak Oktober yang lalu.

Keluar dari mulut harimau masuk mulut buaya. Itulah yang menimpa saudara muslim Rohingya. Ribuan hilang di lautan, tak ada yang peduli karena mereka dianggap etnis stateless (tidak memiliki kewarganegaraan). Beberapa orang yang sampai ke daratan pun malah menjadi korban human traficking di Thailand dan Malaysia. Penemuan kuburan massal di hutan Perlis merupakan salah satu buktinya. Kaum Perempuan dan anak-anak Rohingya melarikan diri dari penampungan yang ada di Thailand. Dikarenakan kamp-kamp pengungsian telah melebihi kapasitas, bahkan kondisinya lebih mengerikan dibandingkan dengan penjara Thailand. Dikabarkan, mereka tidak mungkin mampu melarikan diri tanpa bantuan para pelaku perdagangan manusia. Sehingga, mereka pun akhirnya menjadi mangsa sindikat perdagangan manusia.

Bukannya tergerak hati untuk membantu mereka yang masih selamat. Para penguasa negara ASEAN malah ramai-ramai menolak kedatangan manusia perahu Rohingya, yang tiada lain adalah saudara muslim Rohingya. Padahal di antara mereka adalah para perempuan dan anak-anak. Sungguh sangat tidak manusiawi.

Penguasa muslim Indonesia dan Malaysia menolak dan akan mengusir kapal-kapal yang bermuatan migran, angkatan lautnya pun telah disiapkan untuk mencegahnya. Bahkan, para nelayan Indonesia diperingatkan untuk tidak melakukan penyelamatan lagi. Terkecuali, mereka yang terapung bebas di lautan dan tidak ada kapalnya ( bbc.co.uk, 18/5/2015). Padahal, jika kta berpikir normal, untuk orang yang sudah terlatih saja, berapa jam ia bisa bertahan di lautan lepas tanpa perahu atau kapal? Apalagi untuk para imigran Rohingya, termasuk kaum perempuan dan anak-anaknya, yang sudah dalam kondisi kelaparan, lelah dan dehidrasi. Sama saja dengan membiarkan mereka mati di lautan lepas. Sungguh pernyataan yang tidak berhati nurani.

Padahal Allah SWT menegaskan bahwa “Innama al-mu’minuna ikhwatun” (Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara). (QS. Al Hujurat [49]:10). Kata al-mu’minuna ini tidak diikat dengan bangsa dan etnis tertentu. Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa persaudaraan yang dimaksud adalah dalam agama dan kehormatan dan bukan nasab (keturunan). Oleh karena itulah, beliau mengatakan bahwa saudara seagama itu lebih kokoh dibandingkan saudara senasab. Saudara senasab bisa terputus karena perbedaan agama, tetapi saudara seagama tidak akan terputus karena perbedaan nasab.

Islam pun telah mengikat ukhuwwah Islamiyyah dengan ikatan yang kokoh. Kaum mukmin diperintahkan supaya berpegangteguh kepada tali agama Allah secara berjamaah dan dilarang bercerai-berai. Bahkan Allah SWT mengingatkan bahwa Ia-lah yang telah melimpahkan nikmat persaudaraan kepada kaum mukmin. Karena sebelum memeluk Islam, manusia senantiasa bermusuhan dan saling berperang hanya karena egoisme kesukuan, laksana berada di tepi jurang neraka. Allah SWT–lah yang telah menyelamatkan dan mempersaudarakannya dengan Islam(lih. Q.S. Ali Imran[3] : 103). Oleh karena itu, persaudaraan Islam, sungguh merupakan nikmat yang besar. Sangat disayangkan bila kaum muslim malah merobek kembali persaudaraan yang mulia tersebut hanya karena perbedaan bangsa dan etnis semata.

Nu’man bin Basyir mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Perumpamaan orang-orang yang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai dan mengasihi di antara mereka adalah bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (Muttafaqun ‘Alaih). Persaudaraan yang sangat kokoh dan indah.

Tetapi persaudaraan yang kokoh dan indah itu kini tercabik. Kaum muslim seakan kembali tersekat-sekat dalam keangkuhan egoisme kebangsaan. Mereka kini tak peduli terhadap nasib saudaranya, hanya karena mereka tidak satu etnis dan bangsa. Nasionalisme telah ‘membunuh’ persaudaraan Islam yang hakiki. Kaum muslim tercegah membantu saudara seiman, hanya karena sekat batas-batas geografis semu.

Padahal selama kita membutuhkan pertolongan Allah SWT, semestinya kita pun menolong saudara sesama muslim. Karena Rasulullah SAW mengingatkan. “Siapa saja yang meringankan beban seorang Mukmin di dunia, Allah pasti akan meringankan bebannya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, Allah pasti akan memberi dia kemudahan di dunia dan akhirat...” (HR Muslim dan at-Tirmidizi).Kaum muslim Rohingya telah memilih Islam, mereka rela menderita demi membela keyakinannya. Tugas kita sebagai saudara adalah membantunya sepenuh hati dan kemampuan.

Ada dua hal yang bisa kita lakukan. Yang Pertama, pemerintah RI harus mengutuk keras tindakan teror terhadap kaum muslim Rohingya dan mendesak pemerintah Burma untuk menghentikannya. Seraya terus melakukan aksi solidaritas untuk membantu para pengungsi dan menyelamatkan yang masih terkatung-katung di lautan lepas.

Adapun yang kedua, teror terhadap kaum muslim adalah kejadian yang terus berulang. Rohingya hanyalah salah satunya. Oleh karena itu, kaum muslim harus membangun sistem kehidupan yang menjamin ukhuwwah Islamiyyah yang hakiki. Sistem kehidupan yang telah mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar. Sistem kehidupan yang telah menyatukan antara Arab dan non Arab. Sistem kehidupan yang telah mempersaudarakan ribuan etnis selama lebih dari 13 abad. Itulah sistem kehidupan Islam, yang terwujud dalam penerapan syariah Islam secara kaffah oleh seorang khalifah.

(Husnul Aini, ST.)

(sumber : Kabar Priangan (Jumat, 29 Mei 2015)