Minggu, 18 Oktober 2015
#Secercah Hidayah di Surau Sekolah# 2
Kamis, 15 Oktober 2015
#Secercah Hidayah di Surau Sekolah#
Dadan melempar tas punggungnya ke sudut kamar. Wajahnya merah dan kusut.
Hampir setiap hari Dadan meratapi nasibnya. Sebagai anak tunggal yang dibesarkan dalam kemewahan, tentu perlu banyak beradaptasi bila harus hidup dalam kekurangan.
"Lah..., paling juga nyuruh makan siang". Lanjutnya, dengan wajah masam.
"Makan dulu yuk!" Lanjutnya.
Dadan malah menatap ayahnya dengan wajah dingin cemberut.
"Aku bosan dengan masakan ayah. Aku hanya mau makan di rumah makan." Lanjutnya dengan ketus.
"Besok bila cuci motor Ayah rame, pasti Ayah belikan, " lanjutnya.
Senin, 12 Oktober 2015
Penjelasan Mengenai Bertambah dan Berkurangnya Iman *)
Jumat, 09 Oktober 2015
Langit-langit
Langit-langit
putih seputih warna putih langit
Langit-langit
Kutatap
bersih sebersih terang bersih langit
Adakah dirimu di sini?
Ary Herawan
Baitul Marhamah, Penghujung Dzulhijjah 1436 H
Kamis, 08 Oktober 2015
Wana yang Teraniaya
Hidung yang tersandera
Tenggorokan yang meradang
Paru yang terjelaga
Nyawa yang meregang
Ini,
Wana yang teraniaya,
Rusak, lumpuh, terluka karena serakah kapitalis pendosa
Alam yang tersiksa,
Hancur, lemah, ternoda karena regulasi nafsu manusia
Sungguh benar firman Allah ta'ala
Rusak darat dan laut karena ulah manusia
Dosa dan maksiat karena berpaling dari hukum-Nya
Ya...Allah yang Maha Perkasa,
Segerakanlah pertolongan-Mu
Hadirkanlah para penguasa pencinta-Mu
Penyambut seruan-Mu dan Rasul-Mu
Penerap hukum wahyu-Mu
karena,
Hanya itulah satu-satunya solusi bagi negeri ini
Wana lestari dalam naungan syariah-Mu,
Pasti dan niscaya adanya
Tasikmalaya, 25 Dzulhijjah 1436 H
Ary Herawan
Rabu, 07 Oktober 2015
Anak Sehat Fisik dan Pikir
Sabtu, 03 Oktober 2015
Aku dan Sepeda Baruku
"Pah, ayo dong belikan aku sepeda!" Pintaku kepada Papah Sabtu siang itu. Mungkin itu rengekanku yang keberapa puluh kalinya. Saat itu, aku masih kelas V SD. Melihat teman-temanku bersepeda baru, aku pun jadi ingin memilikinya. Maklum, sepeda bekas kakak pertamaku sudah mulai usang. Sehingga, hampir tiap pagi, sore dan malam, terus saja aku meminta Papah untuk membelikan sepeda baru. Bahkan, tatkala Papah baru pulang kerja pun, aku tak peduli. Keinginanku yang menggebu, telah menghalangiku dari melihat cucuran keringat dan wajah lelahnya.
"Ya, tunggu sebentar, Papah ganti baju dulu. Setelah itu, kita langsung ke toko sepeda." Akhirnya, Sabtu siang itu, Papah bersedia membelikanku sepeda baru. "Iya Pah, Asyiiik !" mataku langsung berbinar-binar dengan bibir tersenyum lebar. Tanganku pun terkepal dengan langkah penuh semangat, aku mondar-mandir menunggu Papah. Terbayang di benakku, sebuah sepeda baru yang bisa kupamerkan di hadapan teman-temanku.
Marrubeni, itulah merk sepeda baruku. Bila dibandingkan dengan punya teman-temanku, tampilannya jauh lebih trendi. Accesoriesnya pun lebih oke dan ramai. Di stangnya sudah dihiasi nomor yang membuatnya semakin keren. Warna dominannya hitam, dengan variasi kuning dan merah. Wah, pokoknya saking kerennya sepeda tersebut, sampai sekarang pun aku masih bisa membayangkannya. Aku sangat puas, karena aku yang memilihnya sendiri.
Malam Minggu itu terasa sangat panjang bagiku. Tak sabar rasanya hati ini ingin segera melewatinya. Makanya, setelah isya, aku langsung menuju tempat tidurku, sebuah dipan di kamar berukuran 2x2,25 m. Namun, mata ini susah sekali terpejam. Khayalanku jauh mendahului putaran jam dinding tua yang tergantung di ruang keluarga. Pikiranku jauh meninggalkan Sang Rembulan malam yang ditemani bintang-bintang. "Besok pagi, teman-temanku mesti kagum dengan sepeda baruku". Gumamku dalam hati dengan wajah cerah berseri. Aku terus membayangkan hari esok, bermain sepeda bersama teman-teman. Apalagi, esok adalah hari libur, aku pasti bisa puas bermain seharian. Setelah lama larut dalam lamunan, akhirnya aku pun tertidur lelap.
Seperti biasanya, Papah membangunkan putra-putrinya untuk shalat fajar. Aku pun langsung bangun dengn penuh semangat. Bahkan, seusai shalat ditunaikan, aku langsung bergegas mandi dan ganti pakaian. Sebagaimana rencana tadi malam, aku ingin segera memamerkan sepeda baruku. Setelah sarapan, aku pun langsung berpamitan untuk main. "Hati-hati ya bermain sepedanya!" Ujar Mamih padaku. "Iya Mih" jawabku yang dilanjutkan dengan ucapan salam. Aku pun mendorong sepeda menyebrangi Jl.Mayor Sl Tobing. Tujuanku adalah lapangan bermain dekat rumah nenekku di daerah Sambong Pari Kulon.
Pagi itu masih sekitar jam 7 Wib. Aku dan sepeda baruku sudah berada di lapangan yang dituju. Sebagaimana yang kubayangkan, teman-temanku langsung mengerubuti aku dan sepeda baruku. "Wah, bagus sekali sepedanya!" Puji teman-temanku. Hati ini makin berbunga-bunga mendengarnya. Tapi sayang, di antara mereka tidak ada yang mau bersepeda keliling ke luar kampung. Waktu itu, kasus penculikan anak masih sangat jarang. Sehingga, anak-anak sudah terbiasa bermain sepeda sampai melewati dua atau tiga kampung tetangga.
Aku pun memutuskan untuk bermain ke salah seorang teman sekolahku, namanya Aat, lengkapnya Aat Ruhiat. Katanya, itu adalah nama khas orang Sunda. Konon katanya kalau orang Sunda menikah dengan bule Rusia, nama anaknya mesti Cecep Ghorbachev. Kembali lagi ke Aat, ia tinggal di Sambong Babakan Kaler. Untuk sampai ke kampungnya, aku mengayuh sepeda melewati Kampung Sambong Pari Kidul dan rimbunan kebun bambu.
Aku masih beruntung, pagi itu Aat ada di rumah. Ia pun bersedia main sepeda denganku. Bahkan, ia menyarankanku untuk mengajak Cucu turut serta. Cucu Suhendar, itulah nama lengkapnya. Ia teman sekolah kami berdua. Kami pun bermain sepeda dengan riang gembira. Tertawa-tawa, bercanda-canda dan beradu kecepatan serta saling susul-menyusul.
Semakin lama kayuhanku semakin cepat. Dengan penuh semangat, aku dan sepeda baruku jauh meninggalkan Cucu dan Aat. Aku pun tertawa riang seraya menoleh ke belakang. Ternyata, Cucu dan Aat juga bersemangat mengejarku. Aku pun mengayuh dengan lebih cepat lagi. Di tengah kayuhan cepatku, cepat tiba-tiba terdengar Cucu dan Aat berteriak lantang. "Ary Awaaas! Ada motor di depan!" Namun, naas bagiku. Di pertigaan Sambong PLN yang sepi itu tabrakan tak terhindarkan. Aku yang sedang menyebrang dengan kencang, ditabrak sebuah sepeda motor yang juga melaju dengan sangat kencang.
"Brukk ! Gubrak! " Aku pun langsung tak sadarkan diri. Kejadiannya berlalu sangat cepat. Aku tak ingat apa-apa. Yang tersisa di memoriku, saat itu aku terkulai lemas di pangkuan orang dewasa. Kepalaku pusing dan sangat susah untuk bernafas. Kemudian salah seorang di antara mereka ada yang berkata. "Oh, ini perutnya memar membiru".
(bersambung)
Sabtu, 26 September 2015
Ayah
Setiap sore kala itu,
Kutunggu kau selalu di depan rumah
Jarum jam berdetak kutatap setiap saat
Ku menunggumu
Karena ku ingin hadiah darimu
Tak peduli peluh lelahmu seharian
ku tetap merengek dengan seluruh pinta
Setiap malam masa itu,
Kau didik aku dengan petuah bijakmu
mengajarkan wahyu Ilahi
membacakan kisah-kisah para nabi
Sampai aku tertidur lelap
Setiap pagi saat itu,
Kau ajarkan aku shalat fajar tepat waktu
memberi makna pada setiap do'a
Marahmu ada pada kemaksiatanku
Senyummu ada pada ketaqwaanku
Ayah,
Sungguh,
hanya Allah yang bisa membalas semua jasamu...
(Ary Herawan)
Situ Panjalu, 13 Dzulhijjah 1436 H
Aku Amal Jariyahmu
Ibu,
Semoga rahmat Allah untukmu
Tak lekang dibakar usia semua pengorbananmu
Sejak kau kandung aku hingga saat ini kutulis
Engkau ada saat aku menangis,
Tapi, terkadang ku lupa saat bahagia
Tak pernah keluhmu kubaca
Saat ini,
Ba'da salam di tahiyat terakhir shalatku
Kupanjatkan do'a
Semoga rahmat Allah untukmu
Dan..
kuharap menjadi jariyahmu
Menjadi anak shalih yang selalu mendo'akanmu
(Ary Herawan)
Situ Panjalu, 13 Dzulhijjah 1436 H
Rabu, 16 September 2015
Islam Mencegah Praktek Jual Beli Jabatan
Sudah menjadi rahasia umum, aktifitas jual beli jabatan sudah mewabah di kalangan pejabat dan birokrasi pemerintahan. Banyak kalangan yang masih pesimis akan efektifitas UU No. 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam mencegah praktek jual beli jabatan. Sebab para calon pejabat yang terseleksi dalam lelang jabatan, bisa menempati posisinya setelah mendapat persetujuan dari kepala daerah. Bahkan terkait proses lelang jabatan pun, MenPAN dan RB Yuddy Chrisnandi menyatakan bahwa beberapa daerah masih melakukannya sebagai formalitas belaka.
Bila kita telusuri mengapa jual beli jabatan terjadi. Tentu hal itu tidak terlepas lingkaran ‘setan’ politik uang dalam setiap perhelatan pemilu. Dalam Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) yang diumumkan Badan Pengawas Pemilu RI, 24 daerah dinyatakan rawan politik uang. Jawa Barat menempati peringkat kedua paling rawan setelah Sulteng dengan indeks 3,3. Meskipun IKP masih menjadi ajang perdebatan, tetapi politik uang di negeri ini bukanlah ilusi dan imajinasi.
Fenomena transaksi yang terjadi antara calon kepala daerah dengan partai pengusungnya pun tak bisa diabaikan. Menurut Prof. Ryaas Rashid, politik transaksional terjadi secara rutin selama sepuluh tahun pelaksanaan pilkadal. Adanya fenomena uang mahar serta kompromi kandidat kepala daerah dengan wakil yang berbeda partai, untuk meraih syarat dukungan. Sehingga menurutnya, yang menjadi dampaknya adalah meluasnya praktek korupsi kepala daerah. Selama praktek pilkadal, 300-an kepala daerah terlibat korupsi. Hal ini tentu tidak terlepas dari besarnya modal yang harus dikeluarkan para kandidat untuk sukses ke tampuk kekuasaan.
Modal besar yang telah dikeluarkan sang pemimpin tentu menuntut adanya pengembalian. Hal inilah yang menjadi faktor pemicu aktifitas jual beli jabatan. Apalagi sekulerisme yang merakyat telah berbuah neraca kehidupan yang materialistik. Standar keberhasilan seseorang pun hanya ditakar dengan harta, tahta dan kedudukan semata. Ada penjual dan ada pula pembeli, hanya tinggal menentukan berapa harga sebuah jabatan.
Permasalahan turunan pun bemunculan sebagai dampak dari jual beli jabatan. Mulai dari masalah rendahnya profesionalitas sampai ke ekstensifikasi korupsi. Tidak sedikit pejabat yang menduduki posisi tidak sesuai bidangnya. Selain itu, fokus pelayanan masyarakat pun menjadi bias, karena terbelokkan oleh kepentingan pengembalian modal. Sehingga wajar bila mulai dari pembuatan KTP sampai ibadah haji pun rawan gratifikasi.
Pangkal permasalahan jual beli jabatan di negeri ini tiada lain adalah sistem demokrasi dan materialisme yang berakar pada sekulerisme. Sehingga, solusi yang tepat adalah meninggalkannya dan beralih ke sistem Islam. Karena Islam memiliki sistem terbaik yang akan menghapuskan praktek jual beli jabatan.
Status pejabat dalam Islam bisa terbagi menjadi dua kategori. Pertama, hukkam (para penguasa). Yaitu khalifah (kepala negara), muawwin tafwidh (pembantu khalifah dalam urusan pemerintahan), wali (kepala daerah tingkat I), ‘amil (kepala daerah tingkat II) dan selanjutnya. Adapun yang kedua, muwadhdhaf, yaitu pegawai negara. Yaitu, mu’awwin tanfidz (pembantu khalifah dalam urusan administrasi), mudir (dirjen) dan sebagainya.
Hukkam (para penguasa) bukanlah orang yang diangkat dengan ijarah (akad kerja). Mereka adalah oang-orang yang diangkat untuk menerapkan syariah. Karena itu, mereka tidak mendapatkan ujrah (gaji) tetapi akan menerima kompensasi berupa tunjangan. Besar tunjangan pun ditetapkan oleh khalifah. Adapun muwadhdhof (para pegawai) adalah ajir (buruh) negara. Mereka bertugas untuk membantu hukkam di seluruh jenjang pemerintahan. Mereka pun digaji karena tugasnya tersebut.
Islam menetapkan kekuasaan yang bersifat tunggal di tangan seorang khalifah. Tetapi tidak pula berarti otoriter, karena khalifah dibaiat untuk melaksanakan syariah. Jika ia melenceng dari syariah, maka rakyat bisa menasihati bahkan melengserkannya. Sebagaimana yang ditegaskan dalam setiap pidato pertama para khulafaur rasyidin. Karena kekuasaan dalam Islam bersifat tunggal, maka khalifah mempunyai hak penuh untuk memilih para penguasa yang ada di bawahnya.
Khalifahlah yang mengangkat maupun memberhentikan para kepala daerah di bawahnya. Akan tetapi, jika mayoritas rakyat di daerah mengajukan protes, khalifah harus menggantinya. Rasulullah Saw pernah memberhentikan Ila bin al-Hadhrami (kepala daerah Bahrain), berdasarkan pengaduan utusan Abd Qays. Begitu pula Umar pernah memberhentikan Saad bin Abi Waqash karena pengaduan dari masyarakat.
Pengangkatan kepala daerah seperti ini, tentu akan mencegah terjadinya jual beli jabatan. Karena tiada ongkos politik yang dikeluarkan. Para kepala daerah yang diangkat, bukanlah orang-orang yang telah menghabiskan banyak uang untuk sampai ke tampuk kekuasaan. Mereka dipilih oleh khalifah secara langsung untuk menerapkan syariah. Rakyat pun akan tanpa beban mengkritisi para penguasa, karena patokannya jelas yakni hukum syara. Bukan karena faktor like and dislike, atau pendukung dan pencela.
Islam pun akan mencegah terjadinya jual beli jabatan di kalangan pegawai negara. Karena pengurusan administrasi dalam Islam menganut prinsip sederhana dalam mekanisme, cepat dalam pelayanan dan profesional dalam penanganan. Ketiga prinsip ini bukanlah sekedar slogan, karena Islam menuntut ihsan (baik/sempurna) dalam pekerjaan. Rasulullah Saw menegaskan : “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan (baik/sempurna) dalam segala hal. Jika kalian membunuh (melaksanakan qishash) maka lakukanlah itu secara ihsan. Jika kalian menyembelih, maka lakukan itu secara ihsan..” (THR. Muslim dari Syadad bin Aus).
Penguasa wajib menempatkan orang yang profesional dalam pekerjaannya. Menempatkan seorang yang tidak profesioanal dalam suatu jabatan adalah pengkhianatan. Rasulullah Saw menegaskan : ”Barangsiapa yang mengangkat seorang pemimpin jamaah, padahal ia tahu bahwa di jamaah itu ada orang yang lebih baik, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum muslimin.” (THR. Al Hakim dalam Al Mustadrak). Begitu pula Rasulullah mencontohkan ketegasan dalam hal ini. Rasulullah Saw pernah menegur keras Ibnu Lutbiah karena menerima hadiah dari Bani Sulaim, ketika ia ditugaskan mengambil zakat dari mereka.
Supaya para pegawai negara fokus pada pekerjaannya, Islam menetapkan gaji yang layak. Sebagai contoh, pada jaman Umar bin Al Khaththab menjadi khalifah, gaji seorang guru anak-anak diberi gaji 15 dinar (63,75 gram emas). Ketiadaan ongkos politik, kontrol yang kuat dari khalifah dan rakyat, serta penggajian yang layak, semua ini akan mengeliminasi adanya praktek jual beli jabatan.
Selain itu, yang paling utama adalah suasana ketaqwaan yang dibangun di tengah masyarakat. Suasana ketaqwaan yang terbangun dari aqidah Islam, akan berbuah neraca yang syar’i. Memandang keberhasilan bukan pada materi, tetapi terletak pada keridloan Ilahi. Seluruh sistem yang diterapkan adalah penunjang ketaatan kepada Allah Swt. Kesejahteraan pun pasti diraih sebagai buah dari ketaatan kepada-Nya. Karena itulah, dorongan untuk saling mengejar jabatan dan kekuasaan akan sangat berkurang. Apatah lagi kekuasaan dalam Islam merupakan amanah untuk menerapkan hukum Allah, bukan sarana untuk menambah pundi-pundi materi.
Dahulu, Islam telah datang dan mengikis habis kerusakan birokrasi dan administrasi imperium Persia dan Romawi. Saat ini, Islam pasti bisa memperbaiki semua kerusakan yang diakibatkan penerapan sistem yang salah. Baik itu yang terjadi di negara maju, berkembang maupun miskin. Asalkan, totalitas Islam. Wallohu a’lamu bishshawwaab.
(Ary Herawan, Pendidik di SMPT dan MA Fajrul Islam Kota Tasikmalaya)
Senin, 14 September 2015
Kemarau ; Momentum Penyadaran Diri akan Kuasa Ilahi
"Katakanlah: Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?" (TQS. Al Mulk : 30)
Bagi kaum mukmin, kemarau yang panjang tentu mengingatkan kita kepada Allah, Sang Maha Pemberi Rejeki. Pertanyaan di penghujung surat Al Mulk ini pun, tidak akan bisa kita jawab dengan selain “Allah Swt”. Karena kita sadar, jika kemarau panjang melanda, tak ada tempat meminta selain kepada-Nya. Dialah Sang Maha Pengasih yang menurunkan hujan dari langit, serta menumbuhkan berbagai tanaman dan buah-buahan.
Sungguh sangat wajar, bila selaku hamba-Nya kita pun menggelar shalat istisqo di mana-mana. Mulai dari menteri sampai kepala daerah, semuanya menyerukan pelaksanaan shalat istisqo di berbagai daerah. Karena kita menyadari bahwa meskipun manusia makhluk yang cerdas, tetapi bila tanpa rahmat-Nya, usaha dan teknologi secanggih apapun, tetap tak akan dapat menurunkan hujan.
Sayang sungguh disayang, seringkali kita mengingat Allah Swt hanya ketika sedang membutuhkan-Nya. Padahal bila kita renungkan, bangsa ini banyak melupakan Allah Swt. Misalnya, sekitar beberapa minggu sebelum himbauan pelaksanaan shalat istisqo di wilayah Kota Tasikmalaya. Dengan alasan pesta kemerdekaan, kita malah banyak melupakan Allah Swt, terlena dengan pesta dan hura-hura. Bahkan seringkali diwarnai berbagai kemaksiatan. Khususnya terkait dengan hal-hal yang bebau pornoaksi dan hiburan yang melenakan.
Selain itu, para penguasa negeri ini pun malah semakin menancapkan sekulerisme dan liberalisme. Sekulerisme bukanlah hanya sekedar melepaskan pengetahuan dari doktrin agama. Tetapi lebih mendasar daripada itu, yakni memisahkan agama dari semua sendi kehidupan bermasyarakat. Agama dibatasi pada tatanan privat, dan tidak bisa dibawa ke ranah publik. Kemudian liberalisme pun tidak hanya sekedar mengakui kebebasan pilihan manusia. Bahkan lebih dari itu, menjadikan kebebasan sebagai pendobrak ketaatan mutlak kepada Sang Pencipta. Liberalisme yang menyeru untuk tidak mengenal halal dan haram dalam aktifitas, tetapi hanya mengenal manfaat dan keuntungan materi semata.
Bidang pendidikan agama Islam yang diharapkan menjadi benteng aqidah umat, malahan diarahkan menginduk ke Inggris. Menag RI menyampaikan bahwa modul PAI disusun oleh guru-guru agama lulusan Inggris. Tentu kita tahu, bagaimana sikap pemerintah non muslim Inggris terhadap kaum muslim selama ini. Bidang ekonomi pun semakin menyuburkan riba, ditambah tekanan pajak yang bertambah tinggi. Utang negara yang sarat dengan bunga terus diperbesar. Adapun untuk membayarnya, pemerintah menarik pajak dari rakyat. Bahkan dalam RAPBN 2016, 84,7% penerimaan bertumpu pada pajak. Padahal Islam telah melarang pajak dijadikan pendapatan utama negara, apalagi dilakukan secara terus menerus serta tanpa melihat kaya dan miskin. Islam justru menjadikan hasil pengelolaan sumber daya alam sebagai pendapatan utama untuk menyejahterakan masyarakat.
Bidang politik pun terfokus pada harta, tahta dan jabatan semata. Rakyat seringkali diabaikan, padahal Rasul Saw menegaskan bahwa (pada hari Kiamat) setiap pemimpin akan ditanya mengenai rakyat yang diurusnya. Kemudian, yang tak kalah mengenaskan, hedonisme semakin mencengkeram kehidupan sosial masyarakat. Bahkan anehnya, tatkala pajak ditingkatkan pada aspek lain, pajak hiburan malah dihapuskan. Hal ini tentu akan membuat kemaksiatan semakin menggurita.
Tetapi di saat hujan tak kunjung datang. Bangsa ini hanya ingat kepada-Nya, tidak ada selain Allah Swt yang dapat dipinta. Ironis memang, pada saat bangsa ini percaya bahwa hanya Allah Sang Pengatur alam semesta. Tetapi pada saat itu pula, tidak mempercayai -atau mungkin kurang meyakini- bahwa hanya aturan Allah Swt yang tepat untuk mengatur manusia, yang pantas untuk diterapkan oleh bangsa ini.
Bila para penguasa mau membuka mata atas berbagai masalah di negeri ini. Sungguh, petunjuk para penjajah Barat tak layak untuk ditaati. Solusi para ideolog sekuler sudah terbukti tidak bisa mengangkat negeri ini dari keterpurukan. Yang tepat untuk saat ini adalah mengikuti para da’i yang selalu mengajak pada ketaatan kepada Allah Swt. "Apakah orang yang berjalan terjungkal di atas wajahnya lebih mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegak dan lurus di atas jalan yang lurus?" (TQS. Al Mulk [67]: 22).
Bagi kaum muslim, memaknai istisqo bukanlah hanya sekedar ibadah ritual meminta hujan. Tetapi lebih dalam dari itu, ia adalah kesadaran akan kelemahan diri dan keyakinan akan kemahakuasaan Allah Swt. Bila diresapi, kalimat “Engkau Maha Kaya sedangkan kami adalah orang-orang yang faqir, maka turunkanlah hujan kepada kami.” Bukanlah hanya sekedar rintihan, tetapi pendobrak kepongahan manusia yang merasa bermental ‘tuhan’. Dengan kecerdasan akalnya, ia merasa bisa mengatur manusia seraya mengabaikan syariah Allah Swt.
Kini, sebagian wilayah Tasikmalaya pun sudah mulai dibasahi rintik-rintik hujan. Semoga ini menjadi hujan rahmat yang bermanfaat. Sikap yang tepat bagi kita adalah bersyukur kepada Allah Swt. Tinggalkan hukum warisan penjajah, terapkan Syariah, pasti berkah. Karena hanya Allah Sang Maha Pemberi Rejeki. Semoga bangsa ini terhindar dari sifat sombong. Allah Swt mengingatkan “Atau siapakah yang dapat memberimu rejeki jika Dia menahan rejeki-Nya? Bahkan mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran).” (TQS. Al Mulk[67]: 21. Wallohu a'lamu bishshowwaab.
(Ary Herawan, Pendidik di SMPT dan MA Fajrul Islam Kota Tasikmalaya)
Sabtu, 12 September 2015
Perbedaan Hukum Syara dan Iman (Seputar Hukum Mengkafirkan Sesama Muslim)
Senin, 01 Juni 2015
Pengungsi Rohingya dan Ukhuwwah Islamiyyah
Bukannya tergerak hati untuk membantu mereka yang masih selamat. Para penguasa negara ASEAN malah ramai-ramai menolak kedatangan manusia perahu Rohingya, yang tiada lain adalah saudara muslim Rohingya. Padahal di antara mereka adalah para perempuan dan anak-anak. Sungguh sangat tidak manusiawi.
Penguasa muslim Indonesia dan Malaysia menolak dan akan mengusir kapal-kapal yang bermuatan migran, angkatan lautnya pun telah disiapkan untuk mencegahnya. Bahkan, para nelayan Indonesia diperingatkan untuk tidak melakukan penyelamatan lagi. Terkecuali, mereka yang terapung bebas di lautan dan tidak ada kapalnya ( bbc.co.uk, 18/5/2015). Padahal, jika kta berpikir normal, untuk orang yang sudah terlatih saja, berapa jam ia bisa bertahan di lautan lepas tanpa perahu atau kapal? Apalagi untuk para imigran Rohingya, termasuk kaum perempuan dan anak-anaknya, yang sudah dalam kondisi kelaparan, lelah dan dehidrasi. Sama saja dengan membiarkan mereka mati di lautan lepas. Sungguh pernyataan yang tidak berhati nurani.
Padahal Allah SWT menegaskan bahwa “Innama al-mu’minuna ikhwatun” (Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara). (QS. Al Hujurat [49]:10). Kata al-mu’minuna ini tidak diikat dengan bangsa dan etnis tertentu. Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa persaudaraan yang dimaksud adalah dalam agama dan kehormatan dan bukan nasab (keturunan). Oleh karena itulah, beliau mengatakan bahwa saudara seagama itu lebih kokoh dibandingkan saudara senasab. Saudara senasab bisa terputus karena perbedaan agama, tetapi saudara seagama tidak akan terputus karena perbedaan nasab.
Islam pun telah mengikat ukhuwwah Islamiyyah dengan ikatan yang kokoh. Kaum mukmin diperintahkan supaya berpegangteguh kepada tali agama Allah secara berjamaah dan dilarang bercerai-berai. Bahkan Allah SWT mengingatkan bahwa Ia-lah yang telah melimpahkan nikmat persaudaraan kepada kaum mukmin. Karena sebelum memeluk Islam, manusia senantiasa bermusuhan dan saling berperang hanya karena egoisme kesukuan, laksana berada di tepi jurang neraka. Allah SWT–lah yang telah menyelamatkan dan mempersaudarakannya dengan Islam(lih. Q.S. Ali Imran[3] : 103). Oleh karena itu, persaudaraan Islam, sungguh merupakan nikmat yang besar. Sangat disayangkan bila kaum muslim malah merobek kembali persaudaraan yang mulia tersebut hanya karena perbedaan bangsa dan etnis semata.
Nu’man bin Basyir mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Perumpamaan orang-orang yang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai dan mengasihi di antara mereka adalah bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (Muttafaqun ‘Alaih). Persaudaraan yang sangat kokoh dan indah.
Tetapi persaudaraan yang kokoh dan indah itu kini tercabik. Kaum muslim seakan kembali tersekat-sekat dalam keangkuhan egoisme kebangsaan. Mereka kini tak peduli terhadap nasib saudaranya, hanya karena mereka tidak satu etnis dan bangsa. Nasionalisme telah ‘membunuh’ persaudaraan Islam yang hakiki. Kaum muslim tercegah membantu saudara seiman, hanya karena sekat batas-batas geografis semu.
Padahal selama kita membutuhkan pertolongan Allah SWT, semestinya kita pun menolong saudara sesama muslim. Karena Rasulullah SAW mengingatkan. “Siapa saja yang meringankan beban seorang Mukmin di dunia, Allah pasti akan meringankan bebannya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, Allah pasti akan memberi dia kemudahan di dunia dan akhirat...” (HR Muslim dan at-Tirmidizi).Kaum muslim Rohingya telah memilih Islam, mereka rela menderita demi membela keyakinannya. Tugas kita sebagai saudara adalah membantunya sepenuh hati dan kemampuan.
Ada dua hal yang bisa kita lakukan. Yang Pertama, pemerintah RI harus mengutuk keras tindakan teror terhadap kaum muslim Rohingya dan mendesak pemerintah Burma untuk menghentikannya. Seraya terus melakukan aksi solidaritas untuk membantu para pengungsi dan menyelamatkan yang masih terkatung-katung di lautan lepas.
Adapun yang kedua, teror terhadap kaum muslim adalah kejadian yang terus berulang. Rohingya hanyalah salah satunya. Oleh karena itu, kaum muslim harus membangun sistem kehidupan yang menjamin ukhuwwah Islamiyyah yang hakiki. Sistem kehidupan yang telah mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar. Sistem kehidupan yang telah menyatukan antara Arab dan non Arab. Sistem kehidupan yang telah mempersaudarakan ribuan etnis selama lebih dari 13 abad. Itulah sistem kehidupan Islam, yang terwujud dalam penerapan syariah Islam secara kaffah oleh seorang khalifah.
(Husnul Aini, ST.)